Jumat, 17 November 2017

Karya Monumental Misbach Diabaikan

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Ketua Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU DKI Jakarta Misbach Yusa Biran, sangat berjasa bagi bangsa ini, kata sejarawan senior Taufik Abdullah selepas tahlilan ke-40 hari wafatnya Misbach di Taman Ismail Marzuki, beberapa hari lalu.Tahlilan ala NU itu diselenggarakan Akademi Jakarta, Dewan Kesenian Jakarta, Institut Kesenian Jakarta dan BP. Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, dan Pusat Dokumentasi HB Jassin. 

“Yang konkret saja, setidaknya ada tiga hal jasa Pak Misbach. Pertama, itu Sinematek. Itu luar biasa, yang pertama di Asia. Sinematek itu ibarat sebuah candi Borobudur. Itu jasa yang monumental!” tegasnya.  

Karya Monumental Misbach Diabaikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Karya Monumental Misbach Diabaikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Karya Monumental Misbach Diabaikan

Kedua, sambung mantan Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ini, Misbach turut memperkaya cerpen-cerpen Indonesia. Ia salah seorang cerpenis terbaik dengan humor yang tinggi. 

ArrahmahMedia.Com

“Ketiga, Misbach adalah sutradara dan penulis skenario yang baik, yang punya komitmen apa itu paling baik,” tambah Ketua Akademi Jakarta ini.   

ArrahmahMedia.Com

Senada dengan Taufik, pengamat politik dan kritikus film Salim Said yang juga hadir pada tahlilan itu menyatakan hal yang sama tentang Misbach. 

“Kalau tidak ada Pak Misbah, belum tentu Sinematek itu ada. Luar biasa, dari nol saya lihat. Saya saksikan sendiri. Saya orang pertama yang memanfaatkan Sinematek itu untuk menulis skripsi, tesis, tahun 76. Misbach juga termasuk orang yang memelopori penulisan sejarah film Indonesia,” jelasnya. 

Salim Said menyesalkan, pemerintah sekarang tidak memperhatikan jasa Misbach tersebut. Seperti diketahui, Sinematek yang menyimpan ribuan koleksi film Indonesia nyaris hancur karena kekurangan dana.

Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri juga hadir pada kesempatan itu. Ia berpendapat, bahwa rusaknya Sinematek mengisyaratkan bahwa pemerintah dan masyarakat masih menganggap bahawa kesenian masih dianggap nomor dua. 

Memang, sambung Sutardji, bangsa ini sering lupa terhadap warisan yang telah diberi warga negaranya, misalnya Chairil Anwar, Amir Hamzah, Sutan Takdir Ali Syahbana, Rendra.

“Mungkin prioritas kita sekarang ini terlalu ke sosial politik dan ekonomi. Sibuk ngomongin korupsi-korupsi. Itu benar, itu bagus. Tapi janga dilupakan prioritas untuk mengolah secara kreatif yang diberikan warga negara terhadap bangsanya. Memberantas korupsi oke. Menegakkan kultur juga harus! Jadi, seimbang.” 

Kalau tidak memperhatikan kebudayaan, sambung penulis syair O, Amuk Kapak ini, kita akan menjadi bangsa yang kosong. Akan tetapi, kita juga harus tepat dalam memperlakukan warisan budaya. 

“Bukan hanya mengelap-elap warisannya, tapi memelihara dalam arti kreatif, memperbanyak lagi, mencari inspirasi,” ujarnya. 

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nahdlatul Ulama ArrahmahMedia.Com

Arrahmah Media ArrahmahCom.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock