Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Februari 2018

Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa?

Jepara, ArrahmahMedia.Com. Santri dulu dan sekarang jelas berbeda. Karena zamannya sudah berbeda maka kiai selaku pengasuh di pesantren harus memiliki cara jitu untuk mendidik santri di zaman modern seperti saat ini. 

Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa?

Dalam hal ini, Hisyam Zamroni mengapresiasi apa yang dilakukan oleh H Taufiqul Hakim selaku pengasuh pesantren Darul Falah Bangsri Jepara, Jawa Tengah.

Apresiasi itu sampaikan usai menyimak 4 santri Darul Falah yang mempraktikkan kitab Bid’ah Hasanah dan Syiaful Ummah karya Kiai Taufiq.  M Najib Syamsuddin santri yang masih duduk di kelas 3 MI ditanyai oleh Kang Maman perihal sumber hukum Islam. “Agama atau syariat Islam mempunyai empat sumber hukum. Alquran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas,” jawab santri asal Bandung ini. 

Ketika dia diminta untuk menjelaskan dengan bahasa Jawa. “Sumbere syariat Islam-ono papat. Al-Quran lan – sunnahe Na- Bi Muhammad. Nomer telu – ijma lan papate qiyas – cekelono – kuat-kuat – kanti ikhlas,” lanjut Najib. 

Santri lain yang turut mempraktikkan ada Najwa (Garut), Syiaful (Semarang) dan Ivan (Madura). Santri-santri yang mempraktikkan kitab karya Kiai Taufiq merupakan garapan Ikatan Daiyah Muda Bangsri (Ikdamuba) yang bernaung di pesantren Darul Falah Bangsri Jepara. 

ArrahmahMedia.Com

Pembinaan santri-santri itu merupakan salah satu pembinaan bidang pendidikan yang dilakukan Ikdamuba. Dalam kegiatan Seminar Penanggulan Kenakalan Remaja yang digelar PC Lazisnu Jepara dan Ikdamuba berlangsung di Gedung NU Jepara, Kamis (21/4) ini, menurut Hisyam, Kiai Taufiq telah mereproduksi karya ulama masa silam. 

Karena objek santri saat ini berbeda sehingga kitab disertai dengan hadits atau ada dalilnya juga disertai dengan nadzam (syair). “Dengan secara tidak sadar siswa akan terbiasa jika sudah membacanya berkali-kali,” kata Wakil Ketua PCNU Jepara ini. 

Inilah yang kata Hisyam sebagai model taklim dan tikrar yang menjadikan santri akan mudah menghafalnya. Ia yang menjabat sebagai Kepala KUA Keling itu menambahkan buku bidah hasanah dan syifaul ummah yang dibagikan gratis untuk peserta seminar adalah buku saku. Buku itu, lanjutnya, bisa dengan mudah dibawa  dan dipelajari di mana saja. Ikut andilnya Kiai Taufiq dalam mengarang banyak kitab merupakan wahana untuk mengurangi dampak radikalisme dan kenakalan remaja. 

ArrahmahMedia.Com

Apalagi pihaknya sudah bekerja sama dengan LP Ma’arif NU Jepara untuk membagikan buku tentang bahaya radikalisme secara cuma-cuma. Lewat karya-karya seperti itu merupakan sebuah ciri khas dari kiai pesantren. Ia juga mendorong agar para orang tua mau memondokkan anaknya dan kiai juga harus produktif berkarya apalagi karya yang tematik sebagaimana yang dilakukan Kiai Taufiq. 

Orang tua yang mau memondokkan anaknya tegasnya bisa mengurangi dampak kenakalan remaja. Di samping itu kiai produktif menunjukkan identitasnya sebagai fail (produsen) bukan maful (konsumen). (Syaiful Mustaqim/Fathoni)   

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaSantri, Nahdlatul Ulama, RMI NU ArrahmahMedia.Com

Rabu, 31 Januari 2018

Berlangsung 3 Hari, Perkemahan Ma’arif NU Pringsewu Bertabur Lomba

Pringsewu, ArrahmahMedia.Com

Bertempat di Kompleks Gedung NU Kabupaten Pringsewu, Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Ma’arif NU menggelar Pekemahan Ma’arif Cabang (Permacab) ke-2 yang dibuka secara resmi oleh Bupati Pringsewu H. Sujadi. Pembukaan tersebut ditandai dengan upacara pembukaan dan penyematan tanda peserta perkemahan secara simbolis kepada perwakilan peserta.

Tampak hadir pada upacara pembukaan tersebut perwakilan dari Sako Pramuka Ma’arif NU Pusat, pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Provinsi dan beberapa Pengurus Ma’arif dari Kabupaten yang ada di Provinsi Lampung serta Ketua PCNU setempat beserta jajaran pengurus lainnya.

Berlangsung 3 Hari, Perkemahan Ma’arif NU Pringsewu Bertabur Lomba (Sumber Gambar : Nu Online)
Berlangsung 3 Hari, Perkemahan Ma’arif NU Pringsewu Bertabur Lomba (Sumber Gambar : Nu Online)

Berlangsung 3 Hari, Perkemahan Ma’arif NU Pringsewu Bertabur Lomba

Dalam sambutannya, H. Sujadi yang juga mustasyar PCNU Pringsewu menyampaikan ucapan selamat dan memberikan apresiasi kepada Sako Pramuka Ma’arif NU Kabupaten Pringsewu yang telah menggelar kegiatan untuk kedua kalinya ini. Ia berharap kegiatan Permacab II ini mampu menjawab tantangan perubahan zaman di mana saat ini banyak pemuda yang mengalami degradasi moral.

ArrahmahMedia.Com

Kegiatan ini akan berlangsung selama 3 hari mulai Jumat sampai dengan Ahad (7-8/10) dan diikuti oleh seluruh lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan LP Ma’arif NU Kabupaten Pringsewu. "Ada 72 sangga kerja yang masing-masing terdiri dari 8 anggota," kata Ketua Pelaksana H. Auladi Rosyad di sela-sela kegiatan pembukaan, Jumat (7/10).

ArrahmahMedia.Com

Selain berasal dari Kabupaten Pringsewu, Permacab ke-2 tahun ini juga diikuti oleh utusan Sako Pramuka Ma’arif NU dari Kabupaten Lampung Selatan dan Kota Bandarlampung.

Sementara itu menurut Ketua Sako Pramuka Ma’arif NU Kabupaten Pringsewu Mustangin, dalam kegiatan ini para peserta akan melaksanakan berbagai kegiatan seperti perlombaan di bidang kepramukaan, agama dan seni. "Perlombaan tersebut di antaranya PBB, MTQ, Syarhil Quran, Tahlil, Pionering, Pidato, Hasta Karya, Karnaval, Jelajah Alam, dan Lomba Pentas Budaya," jelasnya.

Selain perlombaan, para peserta juga mendapatkan beberapa materi ruang yang meliputi Ilmu Kepramukaan dan kesehatan. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Syariah, Nahdlatul Ulama ArrahmahMedia.Com

Senin, 29 Januari 2018

PB PMII Minta Pemerintah Lebih Serius Perhatikan Keamanan di Papua

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Penyerangan terhadap umat Islam dan pembakaran masjid di Kabupaten Tolikara Papua di saat Hari Raya Idul Fitri merupakan insiden yang sangat memprihatinkan.?

PB PMII Minta Pemerintah Lebih Serius Perhatikan Keamanan di Papua (Sumber Gambar : Nu Online)
PB PMII Minta Pemerintah Lebih Serius Perhatikan Keamanan di Papua (Sumber Gambar : Nu Online)

PB PMII Minta Pemerintah Lebih Serius Perhatikan Keamanan di Papua

PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) menilai penyerangan umat Islam dan pembakaran masjid di Kabupaten Tolikara menunjukkan bahwa pemerintah masih lemah dalam menangkal aksi-aksi intoleransi antar umat beragama.?

"Ini bukti, bahwa pemerintah tidak serius dalam menjaga keamanan dan mewujudkan toleransi antar umat beragama di Papua," ujar Ketua Umum PB PMII, Aminuddin Maruf di Jakarta, Sabtu (18/8).?

ArrahmahMedia.Com

Menurut Amin, kejadian pembakaran tersebut harus menjadi bahan evaluasi Presiden Jokowi dalam menilai kinerja kabinetnya nanti pasca lebaran.?

"Kejadian ini harusnya menjadi bahan evaluasi Presiden untuk menilai kinerja kabinetnya. Kenapa masih ada kecolongan aksi kekerasan atas nama agama di Papua," tandasnya.

ArrahmahMedia.Com

Kejadian pembakaran masjid di saat Hari Raya Idul Fitri, menurut Amin, menunjukkan bahwa keinginan pemerintah memberikan perhatian khusus kepada Papua dan daerah kawasan timur Indonesia masih belum terbukti.?

"Jaminan keamanan masyarakat dalam menjalankan ibadah itu adalah persoalan fundamental yang harus diberikan pemerintah," tandasnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Ubudiyah, Nahdlatul Ulama ArrahmahMedia.Com

Selasa, 23 Januari 2018

Ini Cara Mudah Dapatkan Lailatul Qadar

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Pengasuh Bahtsul Masail ArrahmahMedia.Com yang terhormat. Di sepuluh akhir bulan Ramadhan ini banyak orang mengharapkan mendapatkan Lailatul Qadar. Biasanya mereka meningkatkan intensitas ibadah di sepuluh terakhir bulan Ramadhan dengan harapan mendapatkan Lailatul Qadar.

Ini Cara Mudah Dapatkan Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Mudah Dapatkan Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara Mudah Dapatkan Lailatul Qadar

Namun yang ingin kami tanyakan adalah amalan apa yang sekiranya dapat mempermudah atau mempercepat kita mendapatkan Lailatul Qadar. Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Wahyu/Bandung).

Jawaban

ArrahmahMedia.Com

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Dalam kesempatan ini kami akan menjawab pertanyaan kedua saudara Wahyu dari Bandung mengenai kiat-kiat atau cara bagaimana bisa mendapatkan Lailatul Qadar.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dikatakan bahwa kita dianjurkan untuk mencari Lailatul Qadar pada malam ganjil dalam sepuluh terakhir bulan Ramadhan.

ArrahmahMedia.Com

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil dalam sepuluh terakhir di bulan Ramadhan,” (HR Bukhari).

Untuk mendapatkan Lailatul Qadar memang tidak mudah. Karenanya tidak semua orang bisa mendapatkannya. Dibutuhkan usaha keras dan tidak kenal lelah untuk selalu meningkatkan intensitas ibadah terutama pada sepuluh akhir di bulan Ramadhan sebagaimana yang dipraktikan Rasulullah SAW. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan hadits riwayat Muslim.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dari Aswad dari Aisyah ra ia berkata bahwa Nabi saw meningkat amal-ibadah pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan melebihi di waktu yang lain,” (HR Muslim).

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Rasulullah SAW mengencangkan kain bawahnya, menghidupkan malamnya dan membangungnkan keluarganya.

? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?-?: ? ? ? ?- ? ? ? ? ? ? - ? ?

Artinya, “Dari Aisyah RA, ia berkata, bahwa Rasulullah SAW ketika masuk sepuluh terakhir bulan Ramadhan, mengencangkan kain bawahnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya,” (Muttafaq ‘alaih).

Lantas apa yang dimaksud dengan mengencangkan kain bawahnya dalam hadits di atas? Menurut Ibnu Baththal, maksudnya ialah Rasulullah SAW tidak menggauli istrinya. Sedangkan yang dimaksud dengan membangunkan keluarganya adalah beliau menganjurkan dan mendorong keluarganya untuk melakukan? mengingatkan keluarganya untuk melakukan amaliah sunah dan kebajikan lainya yang bukan fardhu.

? ? ? : ? : ( ? ? ) ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? : ( ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? .

Artinya, “Sufyan Ats-Tsauri berkata maksud ‘mengencangkan kain atasnya’ dalam hadits di atas adalah Rasulullah SAW tidak melakukan hubungan badan dengan istrinya. Sedangkan pernyataan ‘Beliau (Nabi saw) membangunkan keluarganya’ dapat dipahami bahwa suami dianjurkan mendorong keluarganya untuk mengerjakan amalan sunah dan amal kebajikan lainya selain yang wajib serta menekankan kepada mereka untuk melakukan hal tersebut,” (Lihat Ibnu Baththal, Syarhu Shahihil Bukhari, Riyadl-Maktabah Ar-Rusyd, cet ke-2, 1423 H/2003 M, juz IV, halaman 159).

Lantas bagaimana yang dimaksud dengan Rasulullah SAW menghidupkan malamnya? Apakah beribadah semalam suntuk sampai pagi? Jawaban yang tersedia adalah Rasulullah SAW tidak tidur tetapi disibukkan dengan ibadah pada sebagian besar malam, bukan semalam suntuk sampai pagi. Sebab, ada riwayat dari Aisyah RA yang menyatakan bahwa ia tidak pernah mengetahui Rasulullah SAW beribadah semalam penuh sampai pagi.

(? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(dan menghidupkan malamnya) maksudnya adalah Rasulullah SAW tidak tidur di mana tidur adalah saudara kematian, dan beribadah pada sebagian besar malam bukan seluruhnya sebab ada riwayat dari Aisyah ra yang menyatakan: ‘Aku tidak pernah mengetahui Rasulullah SAW melakukan ibadah satu malam penuh sampai pagi hari,’” (Lihat, Abdurrauf al-Munawi, Faidlul Qadir, Bairut-Darul Kutub al-Ilmiyyah, cet ke-1, 1415 H/1994 M, juz V, halaman 168).

Dengan mengacu kepada penjelasan di atas maka setidaknya ada tiga amaliah yang bisa dilakukan. Amaliah itu diharapkan dapat mempermudah kita untuk mendapatkan Lailatul Qadar, yaitu pada sepuluh akhir Ramadhan pertama, untuk sementara tidak melakukan hubungan suami-istri. Kedua, meningkatkan intensitas beribadah terutama pada malam hari. Ketiga, mendorong atau meminta keluarga untuk melakukan amaliah sunah dan amal kebajikan selain yang fardhu.

Bagi para pembaca, tingkatkan ibadah serta kebajikan, lebih-lebih pada sepuluh akhir pada bulan Ramadhan.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pondok Pesantren, Nahdlatul Ulama, AlaNu ArrahmahMedia.Com

Senin, 22 Januari 2018

Radio Berideologi Aswaja di Jateng Sepakat Bentuk Wadah Gerakan

Semarang, ArrahmahMedia.Com. Pengurus radio swasta maupun komunitas yang selama ini sudah eksis menyapa pendengar di wilayah Jawa Tengah, berkumpul di Radio Fast FM Magelang Ahad (30/11). Mereka membahas berbagai hal termasuk menjajaki kemungkinan untuk membentuk wadah sebagai ajang komunikasi dan silaturahmi.

Radio Berideologi Aswaja di Jateng Sepakat Bentuk Wadah Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Radio Berideologi Aswaja di Jateng Sepakat Bentuk Wadah Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Radio Berideologi Aswaja di Jateng Sepakat Bentuk Wadah Gerakan

Pertemuan yang diprakarsai PWNU Jawa Tengah disambut sangat antusias oleh media radio maupun televisi yang selama ini telah eksis bersiaran secara santun beraqidah aswaja. Sedikitnya 34 pimpinan radio dari 37 undangan, hadir dalam pertemuan ini.

Sekretaris PWNU Jawa Tengah H Arja Imroni menyambut gembira atas kerelaan insan media radio dan televisi yang selama ini membantu NU menyiarkan ajaran aswaja. Karena, hingga kini PWNU Jawa Tengah belum mampu mendirikan media siaran radio maupun televisi seperti di NU Jawa Timur.

ArrahmahMedia.Com

"Mewakili jajaran PWNU Jawa Tengah, saya menyambut gembira dan ucapan terima kasih kepada insan radio yang dengan secara tulus membantu menyiarkan ajaran aswaja," ucap Arja yang juga pengajar UIN Walisongo Semarang.

ArrahmahMedia.Com

Mantan Anggota Komisioner KPID Jawa Tengah H Najahan Musyafa yang juga Wakil Ketua PWNU Jawa Tengah mencatat, hingga hari ini tidak kurang dari 37 radio yang terdiri dari 27 radio swasta dan 10 radio komunitas aktif bersiaran menyapa masyarakat Jawa Tengah.

Potensi besar ini, menurut Najahan, sudah seharusnya berhimpun dalam satu wadah untuk saling bersinergi baik dalam program, iklan, dan Sumber Daya Manusia (SDM).?

Pertemuan ini kemudian menyepakati sejumlah poin antara lain menyetujui pembentukan wadah jaringan radio aswaja, menugaskan tim formatur untuk menyusun pengurus dan membuat program. Mereka juga akan mengadakan pertemuan rutin di tempat masing-masing secara bergantian untuk saling mengenal radio anggota.

Hadir dalam pertemuan perdana Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah H Dian Nafi yang juga pemilik Radio Gesma FM Solo, pendiri radio Soutunna FM Purworejo KH Khalwani Nawawi, pemilik radio Fastabiq (Fast FM) Magelang KH Yusuf Chudlori dan anggota komisioner KPID Jawa Tengah Tazkiyatul Mutmainnah. (Abdul Muiz/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nahdlatul Ulama, Pahlawan, Khutbah ArrahmahMedia.Com

Senin, 25 Desember 2017

Revolusi Mental, Khayalan atau Pelaksanaan?

Oleh Gatot Arifianto



Apalagi

Yang bisa kita lakukan

Revolusi Mental, Khayalan atau Pelaksanaan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Revolusi Mental, Khayalan atau Pelaksanaan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Revolusi Mental, Khayalan atau Pelaksanaan?

Bila kata kehilangan makna

Kehidupan kehilangan sukma

Manusia kehilangan kemanusiaannya

ArrahmahMedia.Com

Agama kehilangan Tuhannya



(Penggalan sajak KH A Mustofa Bisri atau Gus Mus, "Jadi Apa Lagi?")

ArrahmahMedia.Com

Hasil-hasil survei internasional sering menunjukkan bahwa dalam hal baik, angka untuk Indonesia cenderung rendah, tetapi dalam hal buruk cenderung tinggi. Hingga saat ini, Indonesia masih mempunyai sejumlah permasalahan perlu dirampungkan. Hal tersebut barangkali tapi pasti, melatarbelakangi adanya gagasan Revolusi Mental. Namun bagaimana mewujudkannya dan siapa terlibat? Ataukah hanya sebatas khayalan politik, yang artinya, kurang lebih akan bernasib sebagaimana mimpi yang tak mampu melepaskan diri dari ilusi?

Berawal dari pemilihan calon presiden RI ke-7, Revolusi Mental mengemuka. Calon presiden nomor urut 2, Joko Widodo didampingi calon Wakil Presiden Jusuf Kalla bertekad mengangkat kembali karakter bangsa yang telah mengalami kemerosotan dengan secepat-cepatnya dan bersama-sama (revolusioner). Gayung bersambut, tak hanya politisi, artis, seniman hingga masyarakat menyambut antusias.

Dengan dua padanan kata itu, ada harapan tercipta perubahan bagi Indonesia yang berdasarkan data Tranparency International menunjukkan persepsi tentang tingkat korupsi di sektor publik, dari 177 negara dan dengan 177 skor, berada di rangking 114 dengan skor 32. Dan pada 2008 dicatat dalam Guinness Book sebagai negara dengan tingkat kehancuran hutan tercepat di antara negara-negara yang memiliki 90 persen dari sisa hutan di dunia atau menghancurkan luas hutan setara dengan 300 lapangan sepakbola setiap jamnya.

Begitu pula dengan persoalan lain meski dirampungkan Indonesia, seperti kemiskinan, pengelolaan sumber daya belum optimal, lemahnya penegakan hukum, kesenjangan sosial, peringkat dua penyumbang sampah plastik di laut, keamanan, perilaku konsumstif, hubungan eksploitatif antara kapitalis dan buruh, hingga maraknya peredaran narkoba.

Revolusi Mental Versus Pembiaran



Perjuangan, ujar W.S Rendra, adalah pelaksanaan kata-kata. Terpilih sebagai pemimpin bangsa, Presiden Joko Widodo harus mampu mengajak, menyemangati dan meyakinkan masyarakat Indonesia merealisasikan Revolusi Mental yang berkemungkinan mewujudkan harapan Presiden Sukarno: "Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita", yang menjelang 71 tahun Indonesia merdeka, masih jauh panggang dari api.



Jika Revolusi Mental adalah pola baju, seserius apa upaya ditempuh untuk mewujudkannya menjadi pakaian siap dikenakan? Ada kecemasan Revolusi Mental tidak terealisasikan dengan baik. Ini bukan persoalan pesimis. Namun bagaimana kebijakan tegas diambil untuk menerjemahkannya! Sehingga Revolusi Mental bisa pula merealisasikan konsep tiga kekuatan yang berfungsi sebagai kesaktian bangsa atau Tri Sakti, yakni "berdaulat dalam politik", "berdikari dalam ekonomi" dan "berkepribadian dalam kebudayaan".

Adakah jalan menuju "nation building" dan "character building" yang menurut Putra Sang Fajar harus diteruskan sehebat-hebatnya demi menunjang kedaulatan politik Indonesia sudah dibangun? Dengan apa? Pendidikan yang salah kaprah dipandang sebagai tugas guru dan sekolah semata? Kebijakan tegas dan jalan mewujudkan cita-cita mulia tersebut sepertinya masih remang. Yang tampak jelas justru ketidakmungkinan terjadinya Revolusi Mental melalui pembiaran banyaknya tontonan sekaligus tuntunan murahan di televisi-televisi yang meragukan mampu membangun kreativitas dan karakter anak-anak bangsa.

Mungkinkah generasi yang melulu dijejali fiksi tanpa visi, mengabaikan "character building" akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang mampu menjawab beragam persoalan bangsa dan tantangan zaman yang akan semakin besar? Mungkinkah 1.000 guru melahirkan 1.000 murid bagus jika pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa sekolah kita kalah "memikat" dengan "guru-guru elektronik" yang rajin menjejali murid-murid di luar jam belajar dengan fiksi sampah? Adakah industri televisi yang tidak bervisi untuk kemajuan bangsa yang mengutamakan suplemen kapitalisme (iklan) mampu menopang tercapainya Revolusi Mental di negeri dengan jumlah pengguna narkoba mencapai 5,9 juta orang (BNN, November 2015)?

Kondisi lama itu kini ditambah lagi dengan masifnya generasi muda menjauh dari persoalan terjadi pada bangsa Indonesia. Persoalan ketahanan pangan seolah hanya tanggung jawab petani tanpa upaya tegas menyiapkan regenerasi. Generasi bangsa Indonesia hari ini lebih akrab dengan fantasi daripada sawah adalah fakta tidak dipungkiri. Mereka lebih karib dengan games, dan terkini, keranjingan berburu monster virtual.

Mengapa mereka rela menghabiskan waktu yang belum teruji bisa menempa mereka menjadi individu berkarakter sebagaimana Sukarno, Hatta, Habibi, Gus Dur atau Mbah Sadiman yang seorang diri menghijaukan 100 hektar lahan hutan Bukit Gendol dan Bukit Ampyangan sisi tenggara lereng Gunung Lawu? Mengapa pula generasi-masyarakat Republik Indonesia yang memiliki 28,59 juta penduduk miskin (BPS, Maret 2015) dengan ikhlas justru gotong-royong menyetorkan uang untuk asing? Kenapa demikian? Barangkali ada kejenuhan massal atas beragam persoalan bangsa tak kunjung rampung.

Merujuk fakta di atas, pemerintah harus bergegas menjawab persoalan itu mengingat bukan sesuatu yang remeh bagi keberlangsungan suatu bangsa di masa mendatang. 321.752 kasus kekerasan terhadap perempuan atau sekitar 881 kasus setiap hari (Komnas Perempuan, 2015) hingga riset sebanyak 68 persen siswa SD sudah pernah ikut-ikutan mengakses situs porno adalah persolan nyata dan membutuhkan penanganan serius.

Apakah pembiaran berlangsungnya hal-hal yang berlawanan dengan pembangunan karakter mampu menopang cita-cita diharapkan? Bukankah itu merupakan kemustahilan mewujudkan harapan dan gagasan baik tengah diupayakan? Apa yang akan terjadi seumpama finasial, waktu dan energi generasi bangsa tersebut dihimpun? Bukankah akan lebih bermakna dan menjadi potensi besar untuk mendukung tercapainya pembangunan nasional?

Implementasi Tepat Wujudkan Revolusi Mental



Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata "revolusi" mengacu pada kata "perubahan" yang berakar kata "ubah". Salah satu syarat mewujudkan perubahan adalah menggambarkan keuntungan masyarakat pada masa yang akan datang supaya tercapainya taraf kehidupan lebih baik. Sesuatu yang secara konsep pada mulanya diterima akal sehat. Adapun kata mental berasal dari bahasa Latin, mens atau metis yang memiliki arti jiwa, nyawa, sukma, roh, semangat. Singkatnya, mental ialah hal-hal yang berkaitan dengan psycho atau kejiwaan yang dapat mempengaruhi perilaku individu. Mental individu yang positif, tentu akan menopang terjadinya perubahan dibutuhkan masyarakat bangsa dengan baik sebagaiamana semangat Revolusi Mental. Sebaliknya?

Amerika Serikat membangun karakter masyarakatnya menggunakan waktu dengan baik, bertahap, sederhana, tapi serius dan realistis. Salah satu melalui tontonan-tuntunan (industri perfilman) yang selalu menyatakan mereka bangsa unggul, bangsa pemenang, bukan bangsa pecundang. Bukankah pertempuran Fire Base Ripcord sejatinya dimenangkan Vietnam? Namun dengan memproduksi puluhan film-film bertemakan perang Vietnam. Dari layar lebar seperti film Rambo hingga film seri "Tour of Duty", mereka mengubah fakta menjadi fiksi yang memotivasi dan menghipnotis psikologi-"mind set" masyarakatnya dengan menyatakan diri menang melawan gerilyawan Vietnam. Dalam konteks kreatif dan fiksi, hal itu bukan sesuatu yang salah karena memang bukan fakta. Dan dari upaya-upaya itu, jelas ada dampak maslahat hendak dicapai Amerika di masa mendatang.

Bagi Amerika, kreativitas tersebut adalah kesadaran pentingnya pembangunan karakter masyarakat bangsa sebagai investasi jangka panjang yang tidak mungkin selesai seperti membuat mie instans. Suatu upaya yang diam-diam mengingatkan dua hal. Pertama pemikiran Mohammad Hatta: Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekadar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Kedua QS. Ar-Raad : 11, "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri".

So, jika 90 persen produk industri televisi kita berikut pemerintah abai terhadap kemajuan bangsa melalui pembangunan karakter generasinya. Jika pemerintah tidak memiliki kebijakan tegas untuk membangun karakter generasi bangsa, barangkali tapi pasti, kita diam-diam sepakat merayakan dengan bangga kemunduran suatu bangsa.

Jalan raya panjang memang mustahil dirampungkan seorang pekerja. Tapi ribuan pekerja hanya akan menghasilkan jalan raya dengan kualitas buruk tanpa mengindahkan kesepakatan hingga tidak adanya kontrol serius, baik dan tegas dari pemimpin di lapangan. Untuk terwujud, harapan dan optimisme perlu implementasi tepat! Revolusi Mental tidak boleh kehilangan makna oleh tontonan-tuntunan murahan dan gempuran permainan asing yang mempunyai tingkat bahaya sebagaimana narkoba. Atau memang sebagai bangsa dengan penduduk Islam mayoritas di dunia, kita keberatan memahami Al-Ashr dan Ar-Raad:11? Jika demikian, mari sederhanakan, minum kopi, teh atau wedang jahe sembari membaca sajak Sebatang Lisong yang ditulis W.S Rendra 17 Agustus 1977.

Penulis adalah Nahdliyin, bergiat di Ansor, Pergunu, Lesbumi, Sarbumusi, Gusdurian, AJI dan SIEJ. Tinggal di Lampung. Twitter @sineasastra; Facebook BPUN Waykanan.Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaNu, Nahdlatul Ulama, Daerah ArrahmahMedia.Com

Rabu, 20 Desember 2017

PPP Pecat Zarkasih Nur, Suryadharma Ali, dan Andi Ghalib

Jakarta, ArrahmahMedia.Com
Pengurus Harian Pusat DPP PPP berencana memecat atau memberhentikan sejumlah anggota PHP DPP PPP seperti Zarkasih Nur, Suryadharma Ali, Andi Ghalib, Lukman Hakim Saefuddin, dan Emron Pangkapi karena terlibat penyelenggaraan Silaturahmi Nasional (Silatnas) Kader PPP.

"Iya, rencananya begitu, dalam satu minggu ini akan ada keputusan resmi," kata Ketua Bidang Organisasi PHP DPP PPP Djuhad Mahja ketika dihubungi di Jakarta, Rabu.

Djuhad membenarkan bahwa rencana itu diambil setelah ada pertemuan bersama Ketua Umum PHP DPP PPP Hamzah Haz, wakil ketua umum Alimarwan Hanan, sekretaris umum Yunus Yosfiah, ketua bidang organisasi Djuhad Mahja, dan sekretaris bidang organisasi Rahman Syagaff di kantor DPP PPP Jalan Diponegoro 60 Jakarta Pusat, Selasa sore.

Djuhad mengatakan bahwa rencana itu akan dibahas dalam rapat pleno PHP DPP PPP untuk diambil keputusan resmi. Ia mengingatkan bahwa sebelumnya PHP DPP PPP memang akan memberikan sanksi kepada anggota PHP DPP PPP yang tetap menyelenggarakan Silatnas PPP di Jakarta 25-27 Februari lalu, karena mereka telah diingatkan untuk menghentikan atau tidak terlibat dalam penyelenggaraan Silatnas PPP. Namun, mereka yang terancam dipecat itu tetap menyelenggarakan Silatnas.

Zarkasih, Suryadharma Ali, Andi Ghalib, dan Lukman Hakim Saefuddin menduduki jabatan di jajaran Ketua PHP DPP PPP, sedangkan Emron menjabat Wakil Sekretaris.

PHP DPP PPP telah mengeluarkan edaran yang diambil dari hasil rapat pleno PHP DPP PPP bahwa Silatnas PPP tidak murni sebagai forum silaturahmi karena mempunyai agenda tersembunyi untuk menyelenggarakan muktamar.

Silatnas PPP yang juga diselenggarakan Mensos Bachtiar Chamsyah selaku Ketua Umum Parmusi (Persaudaraan Muslimin Indonesia), dan sejumlah sesepuh PPP seperti Buya Ismail Hasan Metareum, Aisyah Aminy, Barlianta Harahap, dan Tosari Wijaya, itu menghasilkan kesepakatan bersama antara lain minta kepada DPP PPP untuk mempercepat muktamar pada tahun 2005 ini, bukan 2007.

Dalam forum yang dihadiri sekitar 700 kader PPP di tingkat pusat dan daerah itu juga berkembang desakan agar Hamzah Haz mengundurkan diri dari jabatannya dan menyerahkan estafet kepemimpinan kepada generasi yang lebih muda.(ant/mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Khutbah, Nahdlatul Ulama, Pemurnian Aqidah ArrahmahMedia.Com

PPP Pecat Zarkasih Nur, Suryadharma Ali, dan Andi Ghalib (Sumber Gambar : Nu Online)
PPP Pecat Zarkasih Nur, Suryadharma Ali, dan Andi Ghalib (Sumber Gambar : Nu Online)

PPP Pecat Zarkasih Nur, Suryadharma Ali, dan Andi Ghalib

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock