Tampilkan postingan dengan label Pemurnian Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemurnian Aqidah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

Madzhab Adalah Solusi Perpecahan

Semarang, ArrahmahMedia.Com. Dalam sejarahnya, madzhab adalah solusi perpecahan yang terjadi pada umat Islam di masa lalu. Metode, cara atau manhaj dalam agama itu, muncul karena terjadi kekacauan dan instabilitas politik di masa perkembangan Islam.

”Dengan persyaratan ketat yang telah disepakati, jadilah sebuah pedoman yang disesuaikan dengan lingungan alam dan sosial tiap umat Islam. Itulah yang disebut madzhab. Ada Madzhab Maliki, Syafi’i, Hanafi dan Hambali.”

Madzhab Adalah Solusi Perpecahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Madzhab Adalah Solusi Perpecahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Madzhab Adalah Solusi Perpecahan

“Madzhab itu merupakan solusi. Dengan pedoman yang baku dalam beribadah dan bermualamah, umat Islam bisa melaksanakan agamanya secara damai dan nyaman. Tak lagi ada perang saudara karena klaim kebenaran sepihak.”

ArrahmahMedia.Com

Demikian disampaikan KH Muhammad Abbas dari Buntet Cirebon dalam Pengajian Akbar Maulid Nabi Muhammad SAW dan Harlah Nahdlatul Ulama Ke-85 yang diadakan MWC NU Kecamatan Banyumanik di Masjid Mujahidin Srondol Wetan Banyumanik, Semarang, belum lama ini.

ArrahmahMedia.Com

”Pasca terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib oleh kelompok sempalan yang mengkafirkannya, timbullah ontran-ontran. Silih berganti terjadi pemberontakan dan perang saudara. Muncul aliran-aliran dalam Islam. Ada golongan Mutazilah yang menafsirkan Al-Quran? secara mutlak dengan akal. Ada kelompok Khowarij yang berpaham fatalisme. Muncul pula golongan Qodariyah, lalu Syiah, dan seterusnya,” jelas putra dari almarhum KH Fuad Hasyim

”Aliran yang satu dengan yang lainnya suka saling mengkafirkan dan terus terlibat dalam aksi-aksi kekerasan, pembunuhan, sampai pemberontakan. Politik jadi tak stabil. Para khalifah jadi sebatas sultan dan khilafah jadi semu,? karena tak ada persatuan dan mufakat dalam Islam,” lanjut Kang Babas, demikian KH Muhammad Abbas biasa disapa.

Acar diikuti seribuan umat Islam Banyumanik dan sekitarnya. Turut hadir Rais Syuriah PCNU Kota Semarang KH Ahmad Hadlor Ihsan dan Ketua PCNU Kota Semarang H Anasom serta jajarannya, sejumlah kyai, serta aktivis organasasi underbow NU.?

Para ulama, kata Kang Babas, mencoba-coba memberi pedoman standar metode menafsirkan Al-Quran, hadits, fiqih, akhlak, dan lain-lain. ”Semuanya dimaksudkan agar tak ada lagi yang mudah mengklaim penafsirannya sendiri lalu menegasikan orang lain,” tegasnya.

Dia mengungkapkan, hasil dari musyawarah ulama, disepakati perlunya ijma’ dan qiyas, agar suatu masalah bisa diberi solusi secara tepat. Lalu dilakukan pemerincian syariat agar mudah dipakai sebagai pedoman di semua wilayah Islam, yang saat itu membentang dari Eropa Barat hingga Asia Timur. (moi)Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Tokoh, Pemurnian Aqidah ArrahmahMedia.Com

Jumat, 09 Februari 2018

Muslimat NU DKI Jakarta Tumpah di Halaman PWNU

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Pengurus Wilayah Muslimat NU DKI Jakarta memperingati hari kelahiran Nabi Muhamad SAW di halaman kantor PWNU DKI Jakarta, jalan Talang nomor 3, Jakarta Pusat Sabtu (9/2) pagi.



Muslimat NU DKI Jakarta Tumpah di Halaman PWNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU DKI Jakarta Tumpah di Halaman PWNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU DKI Jakarta Tumpah di Halaman PWNU

Sedikitnya 5000 kader muslimat NU DKI Jakarta memenuhi pekarangan kantor PWNU DKI Jakarta. Sementara puluhan mobil pribadi dan angkutan umum yang mengantar mereka, berjajar panjang di sepanjang jalan Talang.

Peringatan hari kelahiran Nabi Muhamad SAW. menghadirkan DR. Nasarudin Umar dan KH. Nur Iskandar SQ sebagai penceramah. Keduanya menjelaskan sosok Rasulullah SAW sebagai model kepemimpinan ideal.

Sejumlah tokoh DKI Jakarta juga memberikan kata sambutan acara yang melibatkan kaum ibu se-Jabodetabek. Mereka adalah Ketua PW Muslimat NU DKI Jakarta Hj. Hizbiyah Rochim, Ketua PWNU DKI Jakarta H. Djan Faridz, dan Gubernur DKI Jakarta Ir. Joko Widodo.

Dalam peringatan itu, PW Muslimat NU DKI Jakarta menyebutkan 25 nama kadernya yang mendapat hadiah umroh dari Ketua PWNU DKI Jakarta. Mereka dipilih berdasarkan atas enam kali kehadiran pengajian Muslimat NU DKI Jakarta berturut-turut di jalan Talang 3, Jakarta Pusat.

ArrahmahMedia.Com

Seorang kader Muslimat NU Murtinah bin Usman asal Kemayoran Jakarta Pusat, meninggal dunia di tempat saat mengikuti peringatan maulid itu. Atas peristiwa itu, jajaran pengurus Muslimat NU DKI Jakarta turut berduka cita.

“Semoga meninggalnya Ibu Murtinah sebagai meninggal syahid oleh Allah. Kami semua berdoa agar ia mendapat syafaat Rasulullah SAW,” kata Maghfiroh, Sekretaris PW MUslimat NU DKI Jakarta kepada ArrahmahMedia.Com, Sabtu (9/2) siang.

Usai peringatan maulid Nabi Muhamad SAW., jajaran pengurus Muslimat NU DKI Jakarta bertakziah ke tempat kediaman duka di Kemayoran.

ArrahmahMedia.Com

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pondok Pesantren, Pemurnian Aqidah ArrahmahMedia.Com

Senin, 29 Januari 2018

Sejak Belia Gus Dur Bergaul dengan Kelompok Berbeda

Jombang, ArrahmahMedia.Com. Adik kandung KH Abdurrahman Wahiid (Gus Dur), KH Salahuddin Wahid menjelaskan tentang kondisi lingkungan yang membuat kakanya menjadi sosok yang berani dan egaliter. Menurut dia, hal ini tak lepas dari cara mendidik orang tua mereka.

Sejak Belia Gus Dur Bergaul dengan Kelompok Berbeda (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejak Belia Gus Dur Bergaul dengan Kelompok Berbeda (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejak Belia Gus Dur Bergaul dengan Kelompok Berbeda

"Kami waktu kecil disekolahkan di sekolah yang muridnya kebanyakan beragama Kristen. Makanya kami sekeluarga selalu menghargai perbedaan," ujar pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang akrab disapa Gus Sholah ini.

Gus Sholah menyampaikan hal itu dalam acara bedah buku  “Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita” karya Menteri Negara Riset dan Teknologi era Gus Dur, AS Hikam, Kamis (26/12). Selain penulis buku, hadir pula sebagai narasumber Pendeta Simon Filantropa Bingki Irawan.

ArrahmahMedia.Com

Bingki Irawan dalam forum itu lebih banyak menceritakan pengalamannya selama dekat dengan Gus Dur. Yakni, ketika dirinya diajak berjunjung ke Tiongkok. Hanya saja waktu itu Bingki dimarahi oleh Gus Dur karena keluar dari acara tanpa pamit.

ArrahmahMedia.Com

Ia juga menceritakan pengalamannya ditangkap oleh Kodam V Brawijaya lantaran menggelar atraksi barongsai. Gus Dur mengecam aksi penangkapan tersebut dan membela warga Tionghoa. "Saat itu zaman orde baru, menggelar kesenian China masih tabu. Bahkan saya dianggap PKI," kenang Bingki.

Sementara itu AS Hikam mengupas tentang bukunya. Buku itu menurut As Hikam mengupas seluruh sosok Gus Dur. Adapula wawancara imajiner dengan mantan Ketua Umum PBNU itu. "Buku ini sangat ringan dan bisa dibaca oleh semua kalangan," pungkas Hikam.

Acara yang diselenggarakan di Klenteng Hok Liong Kiong Jombang ini juga menampilkan sejumlah kesenian tradisional, di antaranya tari remo dari Jombang, pembacaan puisi, atraksi bambu gila dari Ambon, serta vokal grup dari gereja.

"Acara ini untuk mendandai  empat tahun meninggalnya Gus Dur. Sekaligus untuk menggali pemikiran beliau," ujar Aan Anshori, salah satu panitia. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Makam, Quote, Pemurnian Aqidah ArrahmahMedia.Com

Kamis, 18 Januari 2018

Gerak Jalan, IPNU-IPPNU Gading Lantunkan Lagu Subbanul Wathon

Probolinggo, ArrahmahMedia.Com



Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Gading Kabupaten Probolinggo ikut ambil bagian dalam kegiatan gerak jalan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia, Selasa (22/8) sore.

Menariknya tidak hanya mengikuti gerak jalan saja, dengan semangat 45 para pelajar NU di Kecamatan Gading ini tidak henti-hentinya melantunkan lagu Subbanul Wathon di sepanjang rute yang dilaluinya. Dimana start dimulai di Desa Sentul dan finish di Lapangan Desa Wangkal Kecamatan Gading.

Gerak Jalan, IPNU-IPPNU Gading Lantunkan Lagu Subbanul Wathon (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerak Jalan, IPNU-IPPNU Gading Lantunkan Lagu Subbanul Wathon (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerak Jalan, IPNU-IPPNU Gading Lantunkan Lagu Subbanul Wathon

Abd Rohim selaku Ketua IPNU dan Laelatus Sulfiah sebagai Ketua IPPNU Kecamatan Gading turut ikut serta dalam acara ini. Dengan antusiasnya mereka selalu ingat kiprah dan jasa pejuang terdahulu dimana momen ini ? mengajak kepada seluruh santri, pelajar dan khalayak umum untuk aktif dan kreatif melanjutkan perjuangan dan cita-cita para pahlawan pendiri bangsa.?

“Generasi muda harus mampu melakukan kerja-kerja kongkrit dan positif guna mengisi kemerdekaan. Hal ini sebagaimana dulu sudah dibuktikan oleh perjuangan para kiai dan santri/pelajar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan,” kata Ketua PAC IPNU Kecamatan Gading Abd Rohim.

ArrahmahMedia.Com

Yang menarik, dalam momentum tahunan ini IPNU dan IPPNU Kecamatan Gading pertama kalinya berpartisipasi dalam memeriahkan HUT ke-72 Kemerdekaan RI. Selain lagu Subbanul Wathon, pelajar NU ini juga melantunkan yel-yel keislaman, kebangsaan dan ke-NU-an.

Selain itu, pembacaan lagu karya KH Abdul Wahab Chasbullah (1934 M) tersebut seakan menjadi isyarat bahwa perlunya mensinergikan kecintaan kita terhadap tanah air Indonesia harus senantiasa menjadi bagian integral untuk merawat keislaman dan keindonesiaan.

“Pelajar NU harus pandai dan piawai untuk membendung faham radikalisme, liberalisme, skulariame dan lain-lain yang tentunya akan merusak gerasi muda saat ini. Kedepannya, lagu ini memberikan ghirah kepada penerus kepemimpinan akan dating. Sinergitas menjaga NKRI dan kontinuitas dalam upaya menjaga Islam yang rahmatan lilalamin di bumi Nusantara,” tegas Ketua PAC IPPNU Kecamatan Gading Laelatus Sulfiah.

Keikutsertaan PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Gading dalam gerak jalan dalam rangka memperingati HUT ke-72 Kemerdekaan RI ini mendapatkan apresiasi yang positif dari Pembina PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Gading Roby Zidni Ilman. “Mari tunjukkan bahwa pelajar NU juga bisa berperan aktif untuk mengisi kemerdekaan dengan kegiatan yang positif,” katanya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pondok Pesantren, PonPes, Pemurnian Aqidah ArrahmahMedia.Com

Gus Dur Pemikir Sekaligus Praktisi

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Berbeda dengan para pemikir lain yang hanya berkutat pada level pengembangan wacana, Gus Dur mampu mengaplikasikannya pada dunia praksis. Pemikiran yang diyakini benar diejawantahkan dalam dunia aksi.



Gus Dur Pemikir Sekaligus Praktisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Pemikir Sekaligus Praktisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Pemikir Sekaligus Praktisi

Pendapat ini dikemukakan oleh pengamat politik Kacung Marijan dalam diskusi buku pemikiran dan Pemikiran dan Perjuangan Gus Dur karya Muhamin Iskandar akhir pekan lalu.

“Gus Dur yakin demokrasi dan pluralisme sangat penting untuk Indonesia, karena itu Gus Dur melakukan aksi untuk mewujudkan itu, yang lainnya juga yakin, tetapi tidak melakukannya,” katanya.

ArrahmahMedia.Com

Menurutnya, pemikiran Gus Dur yang sangat kuat adalah bagaimana membangun Indonesia yang demokratis, termasuk membangun relasi agama dan politik. Ia sangat meyakini Islam agama paripurna, tetapi memahami bahwa Islam harus kontekstual di Indonesia yang sangat plural.

ArrahmahMedia.Com

Dijelaskannya oleh Ben Andersen, salah seorang intelektual Barat menyebut Indonesia yang sangat plural ini sebagai disebut imagined community, sebuah komunitas yang dicita-citakan, yang sampai sekarang belum tercapai betul. Didalamnya ada banyak kelompok kepentingan yang bersama-sama membangun. Orang tidak saling kenal, tetapi membayangkan adanya satu komunitas yang diakui bersama.

“Bayangan apa yang dikatakan Andersen tidak jauh berbeda dengan yang dikatakan Gus Dur, meskipun lahir dari pesantren, tapi meyakini Indonesia bukan hanya milik orang pesantren atau milik umat Islam, tetapi milik bersama. Ini yang hendak dicapai, dan Gus Dur berusaha mempertahankan itu melalui aksinya, salah satunya melalui pembentukan PKB,” paparnya.

Pendirian partai ini awalnya ada yang meminta, khususnya sejumlah kiai menginginkan PKB berasaskan ahlusunnah wal jamaah, tetapi Gus Dur secara terang-terangan menolak. PKB harus menjadi partai yang inklusif, kalau aswaja berarti menjadi partai eksklusif. Ini ditiru PKS, walaupun mendua, ingin punya kader, disisi lain punya anggota. Ada pembedaan, kader eksklusif, kader inklusif sehingga ngak nyambung.

“Bagi Gus Dur keduanya bukan hal yang berbeda, kader maupun anggota yang sama-sama inklusif, ini yang agak berbeda dengan pemikiran PKS. Ini sangat tepat untuk konteks Indonesia,” imbuhnya.

Meskipun secara intelektual tak jauh beda dengan yang lainnya, tetapi Gus Dur memiliki kelebihan yang jarang dimiliki oleh orang lain sehingga pemikirannya bisa ditransformasikan pada level grassroot, yaitu kemampuannya melakukan silaturrahmi yang luar biasa. Ketika terdapat kontraversi dalam pemikirannya bisa cepat selesai karena melalui silaturrahmi ini, Gus Dur mampu menjelaskan substansi pemikiran yang dimilikinya. Ini tentu berbeda dengan para intelektual NU lain yang hanya hidup di awing-awang dan tak masuk ke level bawah sehingga pada akhirnya banyak ditentang oleh komunitas pesantren, meskipun sebenarnya tak jauh berbeda dengan Gus Dur.

Silaturrahmi Gus Dur bukan hanya kepada yang hidup, Gus Dur juga dikenal sangat rajin berziarah ke makan-makan para ulama. Tak heran, meskipun sudah meninggal, ia akhirnya mendapatkan ganjaran, warga NU tak henti-hentinya menziarahi makamnya.

Kelebihan lainnya adalah darah biru yang mengalir dalam dirinya memudahkan Gus Dur melakukan komunikasi baik dalam komunitas NU maupun di luar NU.

Sejumlah kelebihan yang jarang dimiliki oleh orang lain tersebut hanya bisa diimbangi dengan melakukan kerja kolektif. PKB atau NU bisa melakukan komunikasi secara efektif dari pusat sampai grassroots sehingga seluruh potensi bisa tersentuh.

Kacung mengibaratkan Gus Dur seperti perusahaan multinasional yang memiliki cabang dimana-mana, yang tak mungkin bisa dilakukan oleh sebuah perusahaan kecil. “Gus Dur harus dikeroyok untuk menandinginya. Kalau Gus Dur bisa sendiri, PKB dan NU harus melakukan aksi kolektif,” tandasnya.

Namun demikian, Kacung juga melihat Gus Dur bukan pribadi yang tanpa cela. Gus Dur gagal dalam mengaplikasikan sejumlah pemikiran dalam konteks praksis, salah satunya kegagalan dalam pengembangan ekonomi kerakyatan melalui BPR Nusumma, termasuk pengembangan pabrik yang berorientasi agrobisnis.

“Kegagalan ini, satu dikarenakan Gus Dur lebih pada konteks pemikiran, agama dan politik, pemikiran ekonomi mungkin tidak ada leverage yang lebih bawah, ini yang menjadikannya gagal karena tidak semua bisa ditangani langsung Gus Dur,” terangnya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kajian Sunnah, Pemurnian Aqidah ArrahmahMedia.Com

Rabu, 17 Januari 2018

Hasyim Muzadi: Pembaharuan NU tak Boleh Ubah Pemahaman Organisasi

Tanjungpinang, ArrahmahMedia.Com. Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi, menegaskan warga NU harus melakukan pembaharuan di seluruh sektor kehidupan, namun tidak mengubah pemahaman organisasi yang didirikan pada 1925 itu.

"Pemahaman yang lama boleh dipertajam, tetapi tidak diubah. Pemahaman lama yang bagus, harus dipertahankan dengan cara apapun," kata dia, saat memberi kata sambutan pada pengukuhan pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Tanjungpinang 2014-2019, di Tanjungpinang, Jumat.

Hasyim Muzadi: Pembaharuan NU tak Boleh Ubah Pemahaman Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim Muzadi: Pembaharuan NU tak Boleh Ubah Pemahaman Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim Muzadi: Pembaharuan NU tak Boleh Ubah Pemahaman Organisasi

Dia mengatakan NU terancam pengaruh negatif sehingga warga NU harus berjalan sesuai dengan rel, yaitu ajaran Islam. 

ArrahmahMedia.Com

"NU sudah memiliki pedoman, yang seharusnya dipatuhi, bukan diubah atau dirusak," katanya.

Muzadi yang juga angggota Dewan Pertimbangan Presiden mengatakan warga NU harus dapat menggunakan teknologi tinggi tapi tidak melupakan ajaran Islam. Pemikiran warga NU juga harus berkembang sesuai kebutuhan bangsa dan negara.

ArrahmahMedia.Com

"Pakai sarung, boleh, tapi pemikiran maju," ujarnya. Dia mengemukakan NU mendukung kebijakan-kebijakan yang ditetapkan pemerintah dan memberi kritikan yang konstruktif.

Contohnya, NU mendukung UU Antikorupsi yang sejalan dengan ajaran Islam. "Tidak perlu UU Islam Antikorupsi. UU Antikorupsi sekarang cukup baik," katanya.

Dia juga mengingatkan jangan ada pemikiran atau menganggap negara ini kafir sehingga harus dihancurkan, dan diganti dengan negara Islam.

"Roh NU adalah roh negara NKRI. Ini sudah terbukti," katanya. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Fragmen, Internasional, Pemurnian Aqidah ArrahmahMedia.Com

Senin, 15 Januari 2018

Buktikan Cinta Kita kepada Nabi, Bukan Omong Belaka

Jepara, ArrahmahMedia.Com. Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi menyebutkan, cinta kepada Nabi Muhammad SAW, bukan sekadar omong belaka, namun harus disertai bukti nyata. Bukti nyata ini bisa dilakukan dengan mengikutinya tindak laku Kanjeng Nabi.

Uraian itu disampaikannya saat bertaushiyah pada peringatan Maulid Nabi dan Harlah ke-131 Pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang, desa Gemiring Lor, kecamatan Nalumsari, kabupaten Jepara, Kamis (1/1) pagi.

Buktikan Cinta Kita kepada Nabi, Bukan Omong Belaka (Sumber Gambar : Nu Online)
Buktikan Cinta Kita kepada Nabi, Bukan Omong Belaka (Sumber Gambar : Nu Online)

Buktikan Cinta Kita kepada Nabi, Bukan Omong Belaka

Misal bukti nyata, kiai kharismatik asal Kudus ini menyebut seorang Badui suatu ketika menyampaikan pertanyaan saat kanjeng Nabi khutbah. Badui ini bertanya kepada Nabi perihal datangnya kiamat.

ArrahmahMedia.Com

“Kapan datangnya kiamat, Nabi?” pertanyaan itu dilontarkan 3 kali.

ArrahmahMedia.Com

Lalu, Nabi Muhammad balik bertanya terkait persiapannya menghadapi kiamat. Badui mengaku tidak punya persiapan apa-apa kecuali cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Dari jawaban itu, Nabi mengungkapkan, kelak ia bersama dengan orang yang dicintainya.

Ia menambahkan berbuat positif apapun bentuknya hendaknya dilakukan dengan niat mahabbah (cinta) Nabi. Akan berangkat mencari maisah (pangupajiwa), imbuhnya, harus diawali dengan bismillahi tawakkaltu alallah la haula wala quwwata illa billahil aliyil adhim.

“Bersedekah, menyantuni anak yatim dan membaca Alqur’an juga harus

diniati mahabbah kepada Nabi,” terangnya.

Kegiatan yang dihadiri ribuan jamaah ini bersamaan dengan pembagian raport santri Balekambang. Kegiatan dimeriahkan penampilan Balasyik Jalsah dari Jember, Jawa Timur. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pemurnian Aqidah ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock