Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

Gus Dur dan Pembelaannya Terhadap Pancasila

Judul: Gus Dur dan Negara Pancasila

Penulis: Nur Khalik Ridwan

Penerbit: Tanah Air, Yogyakarta

Gus Dur dan Pembelaannya Terhadap Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Pembelaannya Terhadap Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Pembelaannya Terhadap Pancasila

Cetakan: I, September 2010

Tebal: xvi + 168 halaman

ISBN: 979-8521-55-2

ArrahmahMedia.Com

Peresensi: Abd. Basid


Masih ingatkah kita ketika KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) wafat akhir tahun lalu? Tidak sedikit masyarakat yang ikut berduka atas wafatnya mantan presiden Republik Indonesia (RI) itu. Tidak hanya dari kalangan muslim, dari non muslim pun merasa kehilangan dan tertampar ditinggalnya.



ArrahmahMedia.Com

Banyak warisan yang ditinggalkannya dan dikenang oleh seluruh masyarakat Indonesia. Coba kita lihat, ketika Gus Dur menjadi presiden RI, beliau berani mendobrak diskriminasi pada warga Tionghoa, yang selama masa Orde Baru membelenggu mereka. Selain itu, beliau juga berani mengambil risiko untuk memberikan kebebasan beribadah kepada para pemeluk agama Konghucu. Lewat “pasukan” Banser-nya (Barisan Serbaguna Nahdatul Ulama), beliau ikut menjaga kekhusyukan dan keamanan umat Kristiani saat menjalankan ibadah Paskah dan Natal dari ancaman teror.

Gus Dur memang seorang (pemimpin) yang sangat menghargai keberagaman dalam berbagai hal, terutama keberagaman suku, agama, dan ras. Gus Dur berani mengambil risiko untuk mewujudkan keberagaman itu.

Untuk itu, menyebut Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme sangatlah tidak berlebihan. Apalagi jika kita menilik pandangan dan pembacaannya tentang Pancasila. Gus Dur merupakan segelintir tokoh muslim yang dengan lantang menolak adanya negara Islam dan mempertahankan ideologi Pancasila. Baginya, Pancasila tidak hanya sebuah nama dan lambang, melainkan ia merupakan sistem tata nilai yang berlaku bagi masyarakat Indonesia.

Dalam hal ini, Nur Khalik Ridwan lewat buku terbarunya “Gus Dur dan Negara Pancasila” berhasil membaca dan memetakan gagasan Pancasila ala Gus Dur. Di sana Nur Khalik Ridwan dengan begitu lihainya mengolah data menjadikan buku ini begitu sistematis, sehingga tidak harus mengernyitkan dahi bagi mereka yang membacanya.

Pancasila dalam perspektif Gus Dur setidaknya bisa didudukkan dalam beberapa hal. Pertama, Pancasila sebagai ideologi bangsa dan falsafah negara berstatus sebagai kerangka berpikir yang harus diikuti oleh undang-undang dan produk-produk hukum yang lain. Tata pikir seluruh bangsa, menurutnya, ditentukan oleh falsafah yang harus terus-menerus dijaga keberadaan dan konsistensinya oleh negara.

Kedua, sebagai falsafah dan ideologi negara, harus jelas dikatakan adanya tumpang tindih antara Pancasila dan sebagian sisi kehidupan beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME).

Di sini, Gus Dur berargumentasi: satu sisi, agama-agama yang ada dan kepercayaan terhadap Tuhan YME mengandung unsur-unsur universal (meskipun semuanya juga mengandung unsur-unsur eksklusif) sehingga sulit dibatasi hanya dalam konteks keindonesiaan, dan pada sisi lain, Pancasila adalah keindonesiaan itu sendiri.

Gus Dur menafsirkan bahwa hal ini langsung tampak dalam upaya Pancasila menekankan sisi kelapangan dada dan toleransi dalam kehidupan antarumat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan YME.

Meski begitu, wawasan tentang kebersamaan antar-agama dan kepercayaan terhadap Tuhan YME tidak sepenuhnya sama dengan wawasan tentang itu dalam agama-agama dan kepercayaan.

Kegigihan Gus Dur dalam membela dan mengajarkan arti penting Pancasila bagi bangsa Indonesia dinyatakan dalam pernyataan tegasnya bahwa, “Tanpa Pancasila negara akan bubar. Pancasila adalah seperangkat asas, dan ia akan ada selamanya. Ia adalah gagasan tentang negara yang harus kita miliki dan kita perjuangkan. Dan Pancasila ini akan saya pertahankan dengan nyawa saya. Tidak peduli apakah ia akan dikebiri oleh angkatan bersenjata atau dimanipulasi oleh umat Islam, atau disalahgunakan keduanya” (hal. 43).

Sebagai seorang tokoh yang sangat menjunjung tinggi Pancasila dalam hal bernegara, maka sebagai efeknya Gus Dur menolak jika bangsa ini harus menjadi negara Islam. Bagi Gus Dur negara Pancasila adalah sebuah pilihan. Islam tidak bisa dibuat dasar dalam bernegara. Dalam bernegara, Islam tidak memiliki konsep bagaimana harus dibuat dan dipertahankan. Menurut Gus Dur konsep negara Islam itu tidak ditemukan dalam Al-Qur’an dan Islam. Jika ada yang mengatakan ada, itu tidak lebih dari hanya sekedar klaim (hal. 59).

Ada dua alasan yang dipakai Gus Dur dalam mempertanggung jawabkan pernyataanya di atas, yaitu alasan empirik (fakta) dan alasan teks. Alasan empiriknya seperti halnya bahwa Islam tidak mengenal pandangan yang tegas tentang pengertian kepemimpinan. Buktinya Abu Bakar dipilih oleh dewan elit saat itu yang berbaiat kepadanya; Umar dipilih dengan penunjukan oleh Abu Bakar sebelum yang digantikan wafat; Usman dipilih oleh dewan elit saat itu yang dewan ini ditunjuk oleh Umar; dan Ali juga dipilih oleh dewan elit muslim.

Sedangkan alasan soal teks terdapat banyak ayat (baca: teks) yang dikomentari Gus Dur, di antaranya, adigium penting yang sering digunakan argumentasi oleh mereka yang mendukung adanya negara Islam. Adigium itu adalah; la islama illa bil jama’ah, wala jama’ata illa bil imarah, wa la imarata illa bit-tha’ah.

Menurut Gus Dur, adigium ini memang menyatakan adanya sebuah sistem dalam bernegara, akan tetapi sistem itu tidaklah spesifik pada sistem islami. Dengan demikian, semua sistem itu diakui oleh adigium tersebut, asalkan sistem tersebut digunakan untuk memperjuangkan berlakunya ajaran Islam dalam sebuah masyarakat.

Akhir kata, buku ini selain mengupas pandangan Gus Dur tentang Pancasila dan pentingnya negara Pancasila bagi bangsa Indonesia, juga merupakan karya otoritatif yang mengupas prisma pemikiran Gus Dur tentang ideologi bangsa. Dengan kedalaman analisis dan data menempatkan buku ini sebagai buku yang patut menjadi bahan refleksi bagi kita semua yang dewasa ini masih ada kelompok-kelompok tertentu yang masih antipasti negara Pancasila.



*Alumnus pondok pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan, Madura
Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com RMI NU, Kajian Islam, Khutbah ArrahmahMedia.Com

Jumat, 23 Februari 2018

Menag: Pulanglah WNI, Jangan Terlibat Perang di Negeri Orang

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berharap para pelajar, mahasiswa, dan warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Yaman agar mengikuti arahan Kedutaan Besar RI (KBRI) setempat dan Tim Evakuasi WNI untuk kembali ke Tanah Air.

"Berjihadlah di Tanah Air membangun peradaban, bukan di negeri orang dengan menumpahkan darah," serunya dalam siaran pers yang diterima ArrahmahMedia.Com, Ahad.

Menag: Pulanglah WNI, Jangan Terlibat Perang di Negeri Orang (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Pulanglah WNI, Jangan Terlibat Perang di Negeri Orang (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Pulanglah WNI, Jangan Terlibat Perang di Negeri Orang

Menurut Lukman, situasi keamanan di Yaman kian tak menentu, bahkan makin mencemaskan akibat konflik bersenjata yang terus memanas. Pemerintah RI bertanggungjawab atas keselamatan jiwa setiap WNI. Kewajiban negara menyelamatkan jiwa warga negara. Karenanya, WNI yang ada di Yaman diminta lebih utamakan keselamatan diri.

ArrahmahMedia.Com

WNI, lanjut Menag, tidak perlu ikut-ikutan berperang dengan niat jihad membela salah satu kelompok yang bertikai. Peperangan itu lebih karena perkara politik berebut pengaruh dan kuasa. Masih banyak medan jihad di Tanah Air yang lebih substansial yang lebih dibutuhkan bagi kemaslahatan sesama.

ArrahmahMedia.Com

"Berjihad bukan di negeri orang, apalagi dengan cara kekerasan menumpahkan darah. Berjihadlah di Tanah Air dengan membangun peradaban demi wujudkan kesejahteraan bagi sesama," tuturnya lagi. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com RMI NU, AlaNu ArrahmahMedia.Com

Rabu, 07 Februari 2018

Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa?

Jepara, ArrahmahMedia.Com. Santri dulu dan sekarang jelas berbeda. Karena zamannya sudah berbeda maka kiai selaku pengasuh di pesantren harus memiliki cara jitu untuk mendidik santri di zaman modern seperti saat ini. 

Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa?

Dalam hal ini, Hisyam Zamroni mengapresiasi apa yang dilakukan oleh H Taufiqul Hakim selaku pengasuh pesantren Darul Falah Bangsri Jepara, Jawa Tengah.

Apresiasi itu sampaikan usai menyimak 4 santri Darul Falah yang mempraktikkan kitab Bid’ah Hasanah dan Syiaful Ummah karya Kiai Taufiq.  M Najib Syamsuddin santri yang masih duduk di kelas 3 MI ditanyai oleh Kang Maman perihal sumber hukum Islam. “Agama atau syariat Islam mempunyai empat sumber hukum. Alquran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas,” jawab santri asal Bandung ini. 

Ketika dia diminta untuk menjelaskan dengan bahasa Jawa. “Sumbere syariat Islam-ono papat. Al-Quran lan – sunnahe Na- Bi Muhammad. Nomer telu – ijma lan papate qiyas – cekelono – kuat-kuat – kanti ikhlas,” lanjut Najib. 

Santri lain yang turut mempraktikkan ada Najwa (Garut), Syiaful (Semarang) dan Ivan (Madura). Santri-santri yang mempraktikkan kitab karya Kiai Taufiq merupakan garapan Ikatan Daiyah Muda Bangsri (Ikdamuba) yang bernaung di pesantren Darul Falah Bangsri Jepara. 

ArrahmahMedia.Com

Pembinaan santri-santri itu merupakan salah satu pembinaan bidang pendidikan yang dilakukan Ikdamuba. Dalam kegiatan Seminar Penanggulan Kenakalan Remaja yang digelar PC Lazisnu Jepara dan Ikdamuba berlangsung di Gedung NU Jepara, Kamis (21/4) ini, menurut Hisyam, Kiai Taufiq telah mereproduksi karya ulama masa silam. 

Karena objek santri saat ini berbeda sehingga kitab disertai dengan hadits atau ada dalilnya juga disertai dengan nadzam (syair). “Dengan secara tidak sadar siswa akan terbiasa jika sudah membacanya berkali-kali,” kata Wakil Ketua PCNU Jepara ini. 

Inilah yang kata Hisyam sebagai model taklim dan tikrar yang menjadikan santri akan mudah menghafalnya. Ia yang menjabat sebagai Kepala KUA Keling itu menambahkan buku bidah hasanah dan syifaul ummah yang dibagikan gratis untuk peserta seminar adalah buku saku. Buku itu, lanjutnya, bisa dengan mudah dibawa  dan dipelajari di mana saja. Ikut andilnya Kiai Taufiq dalam mengarang banyak kitab merupakan wahana untuk mengurangi dampak radikalisme dan kenakalan remaja. 

ArrahmahMedia.Com

Apalagi pihaknya sudah bekerja sama dengan LP Ma’arif NU Jepara untuk membagikan buku tentang bahaya radikalisme secara cuma-cuma. Lewat karya-karya seperti itu merupakan sebuah ciri khas dari kiai pesantren. Ia juga mendorong agar para orang tua mau memondokkan anaknya dan kiai juga harus produktif berkarya apalagi karya yang tematik sebagaimana yang dilakukan Kiai Taufiq. 

Orang tua yang mau memondokkan anaknya tegasnya bisa mengurangi dampak kenakalan remaja. Di samping itu kiai produktif menunjukkan identitasnya sebagai fail (produsen) bukan maful (konsumen). (Syaiful Mustaqim/Fathoni)   

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaSantri, Nahdlatul Ulama, RMI NU ArrahmahMedia.Com

Minggu, 28 Januari 2018

Dedi Mulyadi Sampaikan Kuliah Umum di UNU Indonesia

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia menggelar kuliah umum, Kamis (7/9) di Gedung Serba Guna Pegadaian Pusat Jakarta bertajuk Mendialogkan dan Meneguhkan Relasi Agama dan Budaya di Nusantara. Tahun 2017 ini, Bupati Kabupaten Purwakarta H Dedi Mulyadi didaulat sebagai pengisi kuliah umum.

Berpakaian serba putih dibalut peci hitam, Dedi Mulyadi memberikan salam dengan menyatukan kedua tangnnya kepada 500 mahasiswa UNU Indonesia beserta civitas akademika yang hadir memadati ruang acara.

Dedi Mulyadi Sampaikan Kuliah Umum di UNU Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Dedi Mulyadi Sampaikan Kuliah Umum di UNU Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Dedi Mulyadi Sampaikan Kuliah Umum di UNU Indonesia

Kang Dedi, sapaanya langsung menuju panggung utama didampingi Rektor UNU Indonesia (Unusia) Prof HM. Maksum Machfoedz dan Wakil Rektor III UNU Indonesia KH Mujib Qulyubi.

Sebelum orasi Dedi, Rektor Maksum memberikan sambutannya kepada para mahasiswa. Ia menjelaskan, kehadiran UNU Indonesia makin memperkuat eksistensi keindonesiaan karena di Unusia tidak hanya memperkuat keilmuan akademik tetapi juga kebangsaan, kebudayaan, dan cinta tanah air.

Pria yang juga Wakil Ketua Umum PBNU ini juga memotivasi para mahasiswa dengan meneriakkan slogan-slogan cinta tanah air di antaranya NU, NKRI harga mati, dan Pancasila jaya.

ArrahmahMedia.Com

Ruh kebangsaan ini, menurut Maksum, yang nantinya makin memberikan karakter kuat bagi para mahasiswa untuk mengisi setiap dispilin ilmu yang menjadi bidangnya masing-masing.

Sementara itu, Dedi Mulyadi menyoroti kuatnya tradisi dan budaya bangsa Indonesia yang menurutnya harus dikenali dan dipahami sebagai penguat peradaban Indonesia.

ArrahmahMedia.Com

Dedi yang juga menggelontorkan beasiswa kepada 20 orang pemuda di Purwarkarta untuk kuliah dan belajar Kebudayaan Islam Nusantara di Pascasarjana UNU Indonesia ini menerangkan pentingnya kajian akademik peradaban Nusantara agar bangsa Indonesia maju dengan tetap pada identitas kebangsaannya.

“Ilmu dan peradaban Nusantara itu luas dan kaya, jangan sampai kita terus-terusan bergantung pada produk bangsa luar. Menurut saya inilah pentingnya keberadaan UNU Indonesia,” ucap Dedi.

Pria yang menjadikan seni, tradisi, dan budaya lokal sebagai pondasi tata kelola pemerintahannya di Purwakarta ini mengungkapkan, bangsa Indonesia wajib belajar berbagai kekayaan tradisi dan budaya Nusantara agar bangsa dan negara ini maju dengan tidak meninggalkan ruh kebangsaannya.

“Belajarlah seni Nusantara, tradisi pengobatan orang-orang Nusantara, arsitektur Nusantara, dan berbagai keilmuan ulama-ulama Nusantara. Jika tak dipelajari, tidak akan ada yang namanya kejayaan Indonesia,” tegas Kang Dedi.

Dedi juga membawakan orasinya dengan diselingi sejumlah humor sehingga ratusan mahasiswa terlihat santai tetapi tetap fokus menyimak pemaparan dirinya. 

Usai memaparkan orasinya, Dedi Mulyadi mendapat cinderamata dari UNU Indonesia berupa lukisan dirinya. Lukisan berasal dari goresan pensil yang terlihat indah dan rapi tersebut merupakan karya dari salah seorang alumnus kampus yang dahulu bernama STAINU Jakarta ini. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com RMI NU, Budaya, Kyai ArrahmahMedia.Com

Jumat, 26 Januari 2018

PBNU Kirimkan Surat Edaran Terkait Pelaksanaan Ahlul Halli wal Aqdi

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah mengirimkan surat edaran terkait pelaksanaan hasil Munas ke-3 tentang Ahlul Halli wal Aqdi. Surat tertanggal 8 Juli 2015 itu telah dikirimkan kepada PWNU dan PCNU seluruh Indonesia.

Surat ditandatangani oleh Pj. Rais Aam PBNU KH Musthofa Bisri, Katib Aam PBNU KH Malik Madani, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Sekjen PBNU H Marsudi Syuhud.

Surat tersebut berisi empat butir kesepakatan Munas ke-3 di Jakarta yakni:

PBNU Kirimkan Surat Edaran Terkait Pelaksanaan Ahlul Halli wal Aqdi (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Kirimkan Surat Edaran Terkait Pelaksanaan Ahlul Halli wal Aqdi (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Kirimkan Surat Edaran Terkait Pelaksanaan Ahlul Halli wal Aqdi

Bahwa pemilihan Rais Aam pada Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama nanti akan dilaksanakan dengan sistem Ahlul halli wal Aqdi sebagai penerapan cara musyarawah mufakat sebagaimana dalam pasal 41 Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama. Bahwa Ahlul Halli wal Aqdi tersebut terdiri atas 9 (sembilan) orang ulama dengan kriteria sebagaimana termaktub dalam pasal 2 ayat (4) Keputusan Musyawarah Nasional Alim Ulama NU tahun 2015. Bahwa PW dan PC harus menyerahkan 9 (sembilan) nama Ahlul Halli wal Aqdi yang diusulkan pada saat pendaftaran (registrasi) peserta muktamar, sebagai bagian dari administrasi pendaftaran, sebagaimana diatur dalam pasal 5 ayat (2) Keputusan Musyawarah Nasional Alim Ulama NU tahun 2015. Bahwa PW dan PC harus memusyarahkan sembilan (9) nama yang akan diusulkan itu. Dalam surat edaran tersebut disertakan empat (4) bundel lampiran yang berisi Keputusan Musyawarah Nasional Alim Ulama NU tanggal 14-15 Juni 2015, penjelasan kronologis tentang asal muasal ahlul halli wal aqdi, 39 ulama yang diusulkan sebagai anggota ahlul halli wal aqdi dan formulir usulan 9 nama ahlul halli wal aqdi. (Red: Anam)

Penjelasan kronologis ahlul halli wal aqdi dapat diklik di sini.

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com RMI NU ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com

Kamis, 25 Januari 2018

Benarkah Islam Nusantara Jawa Sentris?

Jakarta, ArrahmahMedia.Com

PBNU melalui Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) KH Agus Sunyoto menerima kunjungan sekitar 60 warga NU dari Sulawesi Utara dan Kalimantan Utara di Masjid An-Nahdlah, Gedung PBNU, Jakarta, Senin (25/4) malam.

Benarkah Islam Nusantara Jawa Sentris? (Sumber Gambar : Nu Online)
Benarkah Islam Nusantara Jawa Sentris? (Sumber Gambar : Nu Online)

Benarkah Islam Nusantara Jawa Sentris?

Dalam sesi dialog, peserta ziarah Wali Songo tersebut melontarkan sejumlah pertanyaan, di antaranya tentang tema Islam Nusantara yang dianggap banyak pihak terlalu Jawa sentris.

Menanggapi hal tersebut Agus mengatakan, sebagian besar para Wali Songo justru tidak berasal dari Jawa. Ia mengakui bahwa fokus dakwah para wali saat itu memang di Jawa dan menjadi fenomena penyebaran yang massif, tapi bukanlah berarti Islam Nusantara menjadi bersifat Jawa sentris.

ArrahmahMedia.Com

“Harusnya ditangkap spiritnya bahwa penyebaran di Jawa berlangsung dengan pendekatan yang baik dan memiliki nilai kesejarahan yang penting. Padahal penduduk Jawa dengan watak dan struktur sosialnya saat itu dikenal sangat keras menolak Islam. Butuh 800 tahun Islam baru dapat menyebar dengan massif di Jawa," lanjutnya.

Di forum-forum lain, penulis Atlas Wali Songo ini kerap menyampaikan, jika berpijak pada catatan utusan Dinasti Tang, di Kerajaan Kalingga 674 M sudah ada saudagar dari Timur Tengah yang datang ke Jawa. Setelah itu, tidak pernah ada satu sumber pun yang menyatakan bahwa Islam diterima pribumi secara massal, kecuali setelah era Wali Songo lantaran canggihnya pendekatan budaya yang mereka lakukan.

ArrahmahMedia.Com

Agus juga mengatakan, sejarah Islam di Nusantara dan budaya lokal tak bisa dipisahkan. Islam bisa dengan mudah tersebar justru dengan pendekatan budaya yang dengan sangat cerdas dan bijak diterapkan dalam dakwah Wali Songo.

Budaya yang dimaksud, kata Agus, misalnya tradisi selamatan. Budaya ini menempel hingga kini di tengah masyarakat dan menjadi tradisi tak terpisahkan sebagai salah satu manifestasi tauhid yang hidup dalam kesadaran kolektif masyarakat.

Pertanyaan lainnya terlontar dari seorang jamaah tentang bagaimana mempertemukan akal, hati dan tindakan. Sebagaimana Kiai Agus Sunyoto melontarkan kritik pedasnya terhadap model pendidikan modern yang menjauhkan sekolah dari Tuhan, bahkan pada pelajaran-pelajaran agama sekalipun, Abdullah Wong, salah satu pengurus Lesbumi memaparkan secara runut bagaimana pengetahuan dan peradaban yang disebut modern saat ini terpelanting dan makin menjauh dari poros utamanya yakni sifat wujud Tuhan.

"Meski secara materiil kita mengalami kemajuan-kemajuan dalam berbagai bidang, tapi secara substansi sejatinya peradaban modern telah menjauh dan menjauhkan kita dari hakikat Wujud Allah sebagai awal dan akhir segala hal. Pun pengetahuan menjadi sangat kering akan nilai-nilai spiritualnya untuk menemu hakikat keberadaan. Sekolah dengan pengetahuan-pengetahuan positivistik telah menyeret kita menjadi sangat dunia dalam memandang segala sesuatu," papar Wong.

Para peserta yang merupakan jamaah Al-Hikam Cinta Indonesia asal Kalimantan Utara beserta sejumlah pengurus Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Sulawesi Utara itu berkunjung ke PBNU selepas meziarahi makam para wali yang tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Rombongan juga melakukan ziarah ke makam KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH. Hasyim Asyari di Jombang, Jawa Timur. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com RMI NU ArrahmahMedia.Com

Menpora : Di Pesantren Saya Diajarkan Kesantunan, Kedisiplinan dan Etika

Solo, ArrahmahMedia.Com -

Dalam lawatannya usai mengikuti kegiatan pelantikan PCNU Sragen, Menpora Imam Nahrawi mengunjungi Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta, Solo, Jumat (14/4).

Di pondok yang diasuh oleh KH A. Rozaq Shofawi itu, Menpora menceritakan kepada para santri sedikit tentang kisahnya ketika belajar di pesantren.

“Di Pesantren, saya diajarkan kesantunan, kedisiplinan, serta etika. Karakter tersebut menjadi pegangan penting ketika suatu saat kita diberikan amanah (jabatan,red),” tuturnya.

Menpora : Di Pesantren Saya Diajarkan Kesantunan, Kedisiplinan dan Etika (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora : Di Pesantren Saya Diajarkan Kesantunan, Kedisiplinan dan Etika (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora : Di Pesantren Saya Diajarkan Kesantunan, Kedisiplinan dan Etika

Ia pun memberikan tambahan semangat dan motivasi kepada para santri. “Apabila adik-adik diberikan amanah, maka laksanakan dengan baik. Jangan pernah takut untuk mengambil keputusan," kata dia.

Lebih lanjut, dipaparkan Menpora mengenai program kementrian yang ia pimpin, terkait dengan pesantren. “Pada penyelenggaraan Liga Santri yang lalu, ada 800 yang ikut serta. Insyaallah tahun depan, kita naikkan pesertanya jadi 1300 peserta,” ungkapnya.

Dalam kunjungannya tersebut, Menpora juga membagikan bola sepak kepada para santri. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Tokoh, Olahraga, RMI NU ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock