Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2018

Jama’ah Thariqah Al-Khidmah Kudus Gelar Rapat Kerja Daerah

Kudus, ArrahmahMedia.Com. Organisasi jamaah Thoriqoh Al-Khidmah kabupaten Kudus merupakan bagian dari jamaah Al Khidmah Surabaya yang diprakarsai oleh KH A Asrori Al Ishaqi. Al Khidmah yang mewadahi para jamaah pengamal ajaran Ahlussunnah Waljamaah dan berthoriqoh Qadiriyah wa Naqsyabandiyah ini baru saja menggelar Rapat Kerja Daerah, Ahad (6/9) di Aula Gedung PC NU Kudus.

Jama’ah Thariqah Al-Khidmah Kudus Gelar Rapat Kerja Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)
Jama’ah Thariqah Al-Khidmah Kudus Gelar Rapat Kerja Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)

Jama’ah Thariqah Al-Khidmah Kudus Gelar Rapat Kerja Daerah

H Fajar Nugroho, Wakil Ketua Al-Khidmah Kudus mengatakan, bahwa ini merupakan agenda kelanjutan setelah pemilihan pengurus bulan Juli lalu. "Rakerda ini adalah tindak lanjut dari kegiatan Musyawarah Cabang yang kami laksanakan pada 25 Juli 2015 lalu. Muscab waktu itu menghasilkan terpilihnya Ketua H Supriyanto, Wakil Ketua saya sendiri, dan Sekretaris Miftahus Surur," jelasnya.

Fajar menernakan, jamaah Al-Khidmah sendiri memiliki visi untuk mengajak masyarakat agar gemar berdzikir. Selain itu, menjadikan jamaah berakhlakul karimah dan istiqamah dalam beribadah. Harapannya kita benar-benar mampu menjadi Islam rahmatan lil alamin, dengan mengedepankan kejujuran dan tanpa kepentingan, kita khusnunniyyah dan khusnulkhuluq.

ArrahmahMedia.Com

Rakerda tersebut membahas materi program kerja masa khidmah 2015-2019, yakni bidang keorganisasian, bidang kegiatan, usaha dan dana. Di antara bidang keorganisasian menyebutkan peningkatan penataan administrasi organisasi dan administrasi kegiatan, mendaftarkan organisasi Al-Khidmah Daerah Kudus secara kelembagaan ke Pemerintah Daerah Kebupaten Kudus.

Bidang kegiatan menyebutkan bahwa pengurus thoriqoh meningkatkan kualitas dan kuantitas jamaah pada majelis Manaqib Istikomah dan majelis shalat tasbih di Masjid Agung Kudus. Juga disebutkan pelaksaan agenda majelis Haul Akbar Kabupaten Kudus yang direncanakan berlangsung pada tanggal 18 September mendatang di Alun-alun simpang tujuh.

ArrahmahMedia.Com

Rakerda yang mengusung tema "Dengan Rakerda Kita Tingkatkan Semangat Berkhidmah Demi Membahagiakan Guru-guru Kita" ini dihadiri oleh para pengurus daerah, pengurus cabang di sembilan kecamatan se-Kudus, serta Kepala Kantor Kesatuan bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kudus, Jati Soelichah. (Istahiyyah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kajian Islam ArrahmahMedia.Com

Senin, 26 Februari 2018

Gus Dur dan Pembelaannya Terhadap Pancasila

Judul: Gus Dur dan Negara Pancasila

Penulis: Nur Khalik Ridwan

Penerbit: Tanah Air, Yogyakarta

Gus Dur dan Pembelaannya Terhadap Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Pembelaannya Terhadap Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Pembelaannya Terhadap Pancasila

Cetakan: I, September 2010

Tebal: xvi + 168 halaman

ISBN: 979-8521-55-2

ArrahmahMedia.Com

Peresensi: Abd. Basid


Masih ingatkah kita ketika KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) wafat akhir tahun lalu? Tidak sedikit masyarakat yang ikut berduka atas wafatnya mantan presiden Republik Indonesia (RI) itu. Tidak hanya dari kalangan muslim, dari non muslim pun merasa kehilangan dan tertampar ditinggalnya.



ArrahmahMedia.Com

Banyak warisan yang ditinggalkannya dan dikenang oleh seluruh masyarakat Indonesia. Coba kita lihat, ketika Gus Dur menjadi presiden RI, beliau berani mendobrak diskriminasi pada warga Tionghoa, yang selama masa Orde Baru membelenggu mereka. Selain itu, beliau juga berani mengambil risiko untuk memberikan kebebasan beribadah kepada para pemeluk agama Konghucu. Lewat “pasukan” Banser-nya (Barisan Serbaguna Nahdatul Ulama), beliau ikut menjaga kekhusyukan dan keamanan umat Kristiani saat menjalankan ibadah Paskah dan Natal dari ancaman teror.

Gus Dur memang seorang (pemimpin) yang sangat menghargai keberagaman dalam berbagai hal, terutama keberagaman suku, agama, dan ras. Gus Dur berani mengambil risiko untuk mewujudkan keberagaman itu.

Untuk itu, menyebut Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme sangatlah tidak berlebihan. Apalagi jika kita menilik pandangan dan pembacaannya tentang Pancasila. Gus Dur merupakan segelintir tokoh muslim yang dengan lantang menolak adanya negara Islam dan mempertahankan ideologi Pancasila. Baginya, Pancasila tidak hanya sebuah nama dan lambang, melainkan ia merupakan sistem tata nilai yang berlaku bagi masyarakat Indonesia.

Dalam hal ini, Nur Khalik Ridwan lewat buku terbarunya “Gus Dur dan Negara Pancasila” berhasil membaca dan memetakan gagasan Pancasila ala Gus Dur. Di sana Nur Khalik Ridwan dengan begitu lihainya mengolah data menjadikan buku ini begitu sistematis, sehingga tidak harus mengernyitkan dahi bagi mereka yang membacanya.

Pancasila dalam perspektif Gus Dur setidaknya bisa didudukkan dalam beberapa hal. Pertama, Pancasila sebagai ideologi bangsa dan falsafah negara berstatus sebagai kerangka berpikir yang harus diikuti oleh undang-undang dan produk-produk hukum yang lain. Tata pikir seluruh bangsa, menurutnya, ditentukan oleh falsafah yang harus terus-menerus dijaga keberadaan dan konsistensinya oleh negara.

Kedua, sebagai falsafah dan ideologi negara, harus jelas dikatakan adanya tumpang tindih antara Pancasila dan sebagian sisi kehidupan beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME).

Di sini, Gus Dur berargumentasi: satu sisi, agama-agama yang ada dan kepercayaan terhadap Tuhan YME mengandung unsur-unsur universal (meskipun semuanya juga mengandung unsur-unsur eksklusif) sehingga sulit dibatasi hanya dalam konteks keindonesiaan, dan pada sisi lain, Pancasila adalah keindonesiaan itu sendiri.

Gus Dur menafsirkan bahwa hal ini langsung tampak dalam upaya Pancasila menekankan sisi kelapangan dada dan toleransi dalam kehidupan antarumat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan YME.

Meski begitu, wawasan tentang kebersamaan antar-agama dan kepercayaan terhadap Tuhan YME tidak sepenuhnya sama dengan wawasan tentang itu dalam agama-agama dan kepercayaan.

Kegigihan Gus Dur dalam membela dan mengajarkan arti penting Pancasila bagi bangsa Indonesia dinyatakan dalam pernyataan tegasnya bahwa, “Tanpa Pancasila negara akan bubar. Pancasila adalah seperangkat asas, dan ia akan ada selamanya. Ia adalah gagasan tentang negara yang harus kita miliki dan kita perjuangkan. Dan Pancasila ini akan saya pertahankan dengan nyawa saya. Tidak peduli apakah ia akan dikebiri oleh angkatan bersenjata atau dimanipulasi oleh umat Islam, atau disalahgunakan keduanya” (hal. 43).

Sebagai seorang tokoh yang sangat menjunjung tinggi Pancasila dalam hal bernegara, maka sebagai efeknya Gus Dur menolak jika bangsa ini harus menjadi negara Islam. Bagi Gus Dur negara Pancasila adalah sebuah pilihan. Islam tidak bisa dibuat dasar dalam bernegara. Dalam bernegara, Islam tidak memiliki konsep bagaimana harus dibuat dan dipertahankan. Menurut Gus Dur konsep negara Islam itu tidak ditemukan dalam Al-Qur’an dan Islam. Jika ada yang mengatakan ada, itu tidak lebih dari hanya sekedar klaim (hal. 59).

Ada dua alasan yang dipakai Gus Dur dalam mempertanggung jawabkan pernyataanya di atas, yaitu alasan empirik (fakta) dan alasan teks. Alasan empiriknya seperti halnya bahwa Islam tidak mengenal pandangan yang tegas tentang pengertian kepemimpinan. Buktinya Abu Bakar dipilih oleh dewan elit saat itu yang berbaiat kepadanya; Umar dipilih dengan penunjukan oleh Abu Bakar sebelum yang digantikan wafat; Usman dipilih oleh dewan elit saat itu yang dewan ini ditunjuk oleh Umar; dan Ali juga dipilih oleh dewan elit muslim.

Sedangkan alasan soal teks terdapat banyak ayat (baca: teks) yang dikomentari Gus Dur, di antaranya, adigium penting yang sering digunakan argumentasi oleh mereka yang mendukung adanya negara Islam. Adigium itu adalah; la islama illa bil jama’ah, wala jama’ata illa bil imarah, wa la imarata illa bit-tha’ah.

Menurut Gus Dur, adigium ini memang menyatakan adanya sebuah sistem dalam bernegara, akan tetapi sistem itu tidaklah spesifik pada sistem islami. Dengan demikian, semua sistem itu diakui oleh adigium tersebut, asalkan sistem tersebut digunakan untuk memperjuangkan berlakunya ajaran Islam dalam sebuah masyarakat.

Akhir kata, buku ini selain mengupas pandangan Gus Dur tentang Pancasila dan pentingnya negara Pancasila bagi bangsa Indonesia, juga merupakan karya otoritatif yang mengupas prisma pemikiran Gus Dur tentang ideologi bangsa. Dengan kedalaman analisis dan data menempatkan buku ini sebagai buku yang patut menjadi bahan refleksi bagi kita semua yang dewasa ini masih ada kelompok-kelompok tertentu yang masih antipasti negara Pancasila.



*Alumnus pondok pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan, Madura
Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com RMI NU, Kajian Islam, Khutbah ArrahmahMedia.Com

Jumat, 16 Februari 2018

Tiga Pesan Ketua PCNU di SMP-SMA Maarif 1 Pamekasan

Pamekasan, ArrahmahMedia.Com. Ketua PCNU Kabupaten Pamekasan KH Taufiq Hasyim hadir pada Tabligh Maulid Akbar dan Gema Shalawat di Desa Terrak, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, Sabtu (3/12).

Tiga Pesan Ketua PCNU di SMP-SMA Maarif 1 Pamekasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Pesan Ketua PCNU di SMP-SMA Maarif 1 Pamekasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Pesan Ketua PCNU di SMP-SMA Maarif 1 Pamekasan

Pada pidato di acara yang digelar SMP-SMA Maarif 1 Pamekasan tersebut, Kiai Taufiq menyampaikan tiga pesan penting kepada hadirin.

Pesan pertama berupa dorongan kepada SMP-SMA Maarif 1 untuk terus berada pada jalur kemajuan.?

Kiai Taufiq memberi apresiasi positif atas perkembangan lembaga tersebut yang tergolong pesat dan menjadi percontohan di Kota Gerbang Salam.

"Kedua, ajaran Islam Ahlussunnah wal-Jamaah (Aswaja) harus kita terus pupuk. Islam yang mengedepankan maslahat, meski melekat dalam setiap sendi kehidupan kita," tegas Pengasuh Pesantren Sumber Anom, Pegantenan, Pamekasan tersebut.

ArrahmahMedia.Com

Terakhir, Kiai Taufiq mengetengahkan pesan perlunya menjaga NKRI. Di negeri ini, kebebasan menjalankan ajaran agama Islam tidak dikekang. Spirit kebangsaan dan keagamaan melebur dan mengarah pada harmoni.

ArrahmahMedia.Com

"Kita mesti terus kedepankan Islam yang ramah, bukan Islam yang marah. Itu sudah dicontohkan oleh para kiai dan para pejuang kemerdekaan di negeri tercinta ini," tegasnya. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sunnah, Kajian Islam, PonPes ArrahmahMedia.Com

Rabu, 14 Februari 2018

Ketika Kiai Said Bertemu Relawan PMII di Lokasi Pengungsian

Pidie Jaya, ArrahmahMedia.Com. Kunjungan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan rombongan ke lokasi pengungsian warga terdampak gempa di Desa Mesjid Tuha, Meurudu, Pidie Jaya Rabu (14/12) lalu, juga membawa kesan khusus di benak para relawan PMII Aceh.?

Pasalnya, walau kunjungan tersebut terbilang singkat, Kiai Said dan rombongan menyempatkan berdialog dengan para relawan PMII Aceh. Tak hanya itu, Kiai Said yang datang bersama Wakil Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar dan Rais PWNU Aceh juga berkenan berfoto bersama dengan mereka.

Ketika Kiai Said Bertemu Relawan PMII di Lokasi Pengungsian (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Kiai Said Bertemu Relawan PMII di Lokasi Pengungsian (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Kiai Said Bertemu Relawan PMII di Lokasi Pengungsian

Koordinator Lapangan PMII Aceh, Muhammad Ali mengatakan, pada kesempatan tersebut, Kiai Said menyampaikan pesan kepada para kader yang menjadi relawan untuk menjaga kesehatan.

“Beliau (Kiai Said) juga mengatakan bangga kepada PMII Aceh karena dapat hadir di saat masyarakat Aceh dalam keadaan berduka,” terang Ali kepada ArrahmahMedia.Com, Kamis (15/12).

Sementara itu, para relawan PMII Aceh juga mengucapkan terima kasih kepada Kiai Said dan peran aktif PBNU atas musibah di Aceh.

ArrahmahMedia.Com

Menurut Ali, PMII Aceh telah berada di lokasi bencana dan aktif sejak hari pertama pasca-gempa. Relawan PMII Aceh berjumlah 60 orang. Mereka berasal dari sejumlah perguruan tinggi di Aceh, yaitu IAIN Langsa, Universitas Samudra (Unsam) Langsa, Universitas Islam Tamiang (UIT) Aceh Tamiang, STIKES Bina Bangsa Aceh Timur, IAIN Lhokseumawe, Universitas Gajah Puteh Takengon Aceh Tengah, UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh.

Keterlibatan mereka di lokasi pengungsian antara lain dengan membuat Sekolah Ceria, mengajar mengaji, dan partispasi di dapur umum. Atas keaktifan tersebut, Ali menyampaikan kesan bahwa selama di lokasi, kebersamaan dan kerja sama antara masyarakat dan relawan sangat baik. Setiap kegiatan yang diadakan selalu didukung penuh.

“Juga keseriusan anak-anak (terdampak gempa) dalam mengikuti kegiatan, membuat kami para relawan senang dan bisa terus menjalankan program-program yang telah kami susun,”tambah Ali.

Ali menambahkan, relawan PMII Aceh akan berada di lokasi pengungsian hingga tanggal 20 Desember mendatang. (Kendi Setiawan/Fathoni)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kajian Islam ArrahmahMedia.Com

Jumat, 19 Januari 2018

Menengok Manfaat Bekam Tanduk Sapi di Arena Muktamar NU

Jombang, ArrahmahMedia.Com. Para penyedia jasa bekam tanduk sapi memenuhi setiap sudut di arena Muktamar Ke-33 NU di Alun-alun Kota Jombang. Bekam tradisional yang digeluti oleh orang-orang asal Madura ini memanen usahanya, sebab cukup banyak pengunjung yang memanfaatkan jasa mereka.

Menengok Manfaat Bekam Tanduk Sapi di Arena Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Manfaat Bekam Tanduk Sapi di Arena Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Manfaat Bekam Tanduk Sapi di Arena Muktamar NU

Mansyur, pria asli Madura berusia 35 tahun telah puluhan tahun menyediakan jasa bekam tanduk sapi dari arena ke arena. Keahlian membekam dengan memanfaatkan tanduk sapi ini ia warisi secara turun-temurun dari keluarganya.

“Saya sudah 15 tahun menggeluti dan menyediakan jasa bekam tradisional ini. Awalnya kaku, tapi setelah belajar jadi terbiasa,” ujar Mansyur saat ditemui ArrahmahMedia.Com di sela kesibukannya membekam, Ahad (2/8) malam di Alun-alun Jombang.

ArrahmahMedia.Com

Ditanya soal perbedaan manfaat dibanding bekam biasa, Mansyur menjelaskan, bahwa bekam tanduk sapi ini merupakan terapi bekam tradisional yang reaksi khasiatnya dapat langsung dinikmati oleh pengguna.

Penuturan Mansyur diamini oleh pengguna jasa bekam bernama Sugiyanto. Pria berumur 33 tahun asal Riau ini menerangkan, bahwa setelah badannya dibekam oleh bekam tanduk sapi, manfaatnya bisa langsung dirasakan.

ArrahmahMedia.Com

“Badan saya serasa langsung enteng, enak sekali,” ucapnya.

Bekam jenis ini, selain memanfaatkan tanduk sapi, juga menggunakan minyak tradisional yang dibuat dari akar-akaran. Sedangkan agar tanduk yang digunakan dapat menempel di kulit, mereka menggunakan api dengan memanfaatkan kapas yang dililitkan ke sebuah kawat kecil. Setelah api menyala, api dimasukkan ke lubang tanduk selama dua detik saja, kemudian dengan cepat langsung ditempelkan di kulit.?

Sedangkan untuk dapat memperoleh khasiat dari bekam dari tanduk sapi ini, pengunjung harus merogoh kocek sebesar Rp 50.000 saja. Selama perhelatan Muktamar NU, Mansyur setiap hari bisa melayani hingga 10 orang. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Tokoh, Kajian Islam, PonPes ArrahmahMedia.Com

Kamis, 11 Januari 2018

Pengurus Baru PCINU Yaman Resmi Dikukuhkan

Tarim, ArrahmahMedia.Com. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Yaman menggelar pelantikan pengurus baru masa bakti 2015-2016 di Tarim, Yaman. Prosesi pengukuhan berlangsung khidmat dan dihadiri pengurus baru dan pengurus demisioner, Jumat (5/3) malam waktu setempat.

Rais syuriyah baru PCINU Yaman M Hasan Basri Hayyi mengajak kepada seluruh jajaran pengurus terlantik untuk melaksanakan amanat yang ditugaskan dengan penuh keikhlasan dan rasa tanggung jawab yang besar.

Pengurus Baru PCINU Yaman Resmi Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus Baru PCINU Yaman Resmi Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus Baru PCINU Yaman Resmi Dikukuhkan

“Sebagai pelajar sudah sepatutnya untuk memiliki kesadaran dalam berorganisasi karena NU Yaman ada di tangan kita semua selaku pemuda Nahdliyin,” tutur Hasan Bashri yang pada kesempatan itu memimpin pembacaan sumpah jabatan.

ArrahmahMedia.Com

Dalam sambutannya, ketua baru PCINU M Abdul Rahman Malik mengatakan bahwa PCINU Yaman merupakan wadah dalam melanjutkan estafet perjuangan para pendirinya, terutama Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

ArrahmahMedia.Com

“Dengan berorganisasi secara tidak langsung sesorang telah melakukan jihad fisabilillah dengan pemaknaan jihad yang lebih mutakhir, sebab di era modern ini makna jihad telah banyak mengalami perubahan sebab tuntutan keadaan,” ungkapnya.

Usai acara pelantikan, pembahasan program kerja menjadi agenda selanjutnya. Pembentukan program kerja yang dipimpin oleh ketua PCINU menghasilkan beberapa keputusan perihal serangkaian kegiatan yang akan dilaksakan dalam rentan waktu masa periode satu tahun ke depan.

Para undangan yang terdiri dari perwakilan tiap daerah dan organisasi lain juga turut hadir dalam acara tersebut. (M. Rifqon Syauqi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kajian Islam, Kyai, Lomba ArrahmahMedia.Com

Minggu, 07 Januari 2018

Bulan Syaban, Perbanyak Baca Shalawat

Purworejo, ArrahmahMedia.Com. Barangsiapa yang ingin ditinggakan derajatnya, hendaknya memperbanyak membaca shalawat. Demikian pesan yang disampaikan KH Achmad Chalwani dalam acara "An-Nawawi Bershalawat" di komplek PP An-Nawawi Berjan, Purworejo, Ahad (13/5) malam.

Dalam kitab Madza Fi Syaban, kata Kiai Chalwani, disebutkan bahwa bulan Syaban adalah bulan shalawat. "Hal ini karena ayat Al-Quran yang berkaitan dengan shalawat diturunkan oleh Allah pada bulan Syaban, yaitu: innallaha wamalaikatahu yushalluna alan nabi ya ayyuhalladzina amanu shallu alahi wasallimu tasliema," terangnya.

"Ketika Allah perintah kita shalat, Allah sendiri tidak shalat. Ketika Allah perintah zakat, Allah tidak zakat, karena zakat untuk menyucikan, sedangkan Allah dzat yang paling suci. Ketika Allah perintah puasa, Allah tidak puasa, karena puasa itu benteng, sedangkan Allah lah benteng atau pelingdung itu sendiri. Ketika Allah perintah haji sowan baitullah, Allah tidak haji karena Allah lahtuan rumah. Akan tetapi ketika Allah perintah kita bershalawat, sebelum malaikat dan manusia bershalwatat, Allah sudah bershalwat, memberikan rahmat tadzim kepada Nabi Muhammad saw," terangnya di tengah ribuan hadirin.

Bulan Syaban, Perbanyak Baca Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bulan Syaban, Perbanyak Baca Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bulan Syaban, Perbanyak Baca Shalawat

Bahkan dalam berfirman terkait shalawat ini, lanjut Kiai Chalwani, Allah menggunakan "inna" dan dengan fiil mudzari, yushalluna. Dalam ilmu gramatika Arab, kata inna digunakan ketika orang belum percaya atau masih ragu. Ini artinya shalawat bukan hanya diwajibkan, tetapi sangat diwajibkan. Sedangkan fiil mudlari berupa yushalluna, berarti Allah senantiasa bershalawat, tak pernah berhenti bershalawat, hari ini, esok dan seterusnya.

"Adapun shalawat yang paling tua adalah Shalallah ala Muhammad. Maka, shalawat ini merupakan ummu shalawat, induk dari shalawat," terangnya.

Lebih lanjut mantan DPD RI Jateng ini menerangkan, ketika Nabi Adam hendak menikah dengan Hawa. "Allah meciptakan Hawa kemudian langsung memakaikan pakaian terturup, memakai jilbab. Meski Hawa telah memakai jilbab, Nabi Adam tetap mengamati. Mohon maaf untuk para ibu, ini memang naluri lelaki, meski sudah tertutup, lelaki tetap mengamati," terangnya, disambut riuh hadirin.

ArrahmahMedia.Com

Kemudian, lanjut Kiai Chalwani, Adam ingin memegang tangan Hawa dan ditegur oleh Allah, "Belum boleh memegang sebelum menikah. Kemudian Adam konsultasi kepada penasehat hukumnya, malaikat Jibril. Jibril melamarkan dan diterima Hawa dengan syarat, yaitu membaca shalawat kepada Nabi Muhammad. Nabi Adam belum bisa membaca shalawat, kemudian Jibril bilang: qul shalallah ala Muhammad. Menikahlan Nabi Adam dengan dewi Hawa dengan "mas kawin" shalawat."

Acara An-Nawawi Bershalawat merupakan salah satu rangkaian Akhirussanah Pondok Pesantren An-Nawawi. Disela-sela bershalawat, Kiai Chalwani menyisipkan ceramah dengan berbagai tema. Tampak hadir beberapa tokoh ulama dan dewan asatidz pesantren tersebut. (Ahmad Naufa/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Kajian Islam, Doa, Aswaja ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock