Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Pra-Munas di Manado Angkat NU dan Kebhinekaan

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) dikenal sebagai salah satu miniatur keberhasilan dari pelaksanaan toleransi kehidupan beragama dengan latar belakang budaya yang beragam. Saudara-saudara kita dari pemeluk Nasrani yang mayoritas punya sikap toleran dan empati yang tinggi terhadap masyarakat Muslim yang minoritas, dan begitu pula sebaliknya, masyarakat Muslim tahu duduk soal dirinya: bagaimana bertindak dan berprilaku sebagai masyarakat yang minoritas.

Karena saling mengerti dan saling berempati inilah, masyarakat di Sulut ini hidup dalam suasana damai. Tak terjadi gejolak seperti di tempat-tempat lain. Gambaran positif inilah yang, antara lain, menjadi latar belakang Pra-Musyawarah Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas dan Konbes NU 2017) ini dilaksanakan di Kota Manado. Artinya, PBNU ingin menyerap nilai-nilai positif dari kehidupan masyarakat Sulut untuk dijadikan nilai tambah bagi kehidupan masyarakat majemuk secara nasional. Karena itu pula PBNU sengaja mengambil tema, NU dan Kebhinekaan.



Pra-Munas di Manado Angkat NU dan Kebhinekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pra-Munas di Manado Angkat NU dan Kebhinekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pra-Munas di Manado Angkat NU dan Kebhinekaan



Kegiatan Pra-Munas Konbes di Manadao diisi dengan seminar yang akan dibuka oleh Gubernur Sulut, Olly Dondokambey di Hotel Aryaduta Manado, Sabtu 11 November. Seminar menghadirkan dua pembicara utama, yaitu: KH. Said Agil Siroj (Ketua Umum PBNU) serta Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri.

ArrahmahMedia.Com





Seminar juga akan menerima masukan KH. Yahya Cholil Staquf (Katib Aam Syuriyah PBNU), serta Pendeta AWB Sumakul (Ketua Sinode Gereja Injili Minahasa), dan Yong Ohoitimur (Rektor Universitas Delasale).

ArrahmahMedia.Com

Kegiatan tersebut rencananya diikuti para utusan dari pengurus wilayah NU se-Indonesia Timur yang meliputi Provinsi Papua, Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara, NTT, Bali, Gorontalo, Sulsel, Sulteng, Sulbar dan Sultra, di samping Ormas dan FKUB se-Provinsi Sulut sendiri. Khusus untuk Sulut Pra-Munas Alim Ulama dan Konbes NU juga melibatkan para utusan dari PCNU, Badan Otonom dan Lembaga NU se-Provinsi Sulut.

Menurut Ketua PBNU Robikin Emhas yang juga Ketua Panitia Pusat Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2017, rangkaian kegiatan Pra-Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Manado merupakan kegiatan yang keempat.

Sebelumnya telah berlangsung di Zona Indonesia Tengah di Palangkaraya Kalimantan Tengah pada 20 Oktober 2017. Kegiatan Pra-Munas Alim Ulama dan Konbes NU kedua di Zona Indonesia Barat berlangsung di Lampung 3-4 November 2017.





"Manado sengaja dipilih, karena daerah ini dikenal sebagai miniatur keragaman di Indonesia," kata Robikin, Jumat (10/11).

Ditegaskan pula bahwa, keragaman atau kebhinekaan adalah suatu keniscayaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.





"Itu adalah karunia Tuhan yang harus kita pelihara. Jangan sebaliknya, kebhinekaan dirusak dan dijadikan alat mendestruksi harmoni sosial dan kehidupan berbangsa dan bernegara," imbuh Robikin.

Amin Lasena, Ketua Panitia Lokal Pra-Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Manado menyatakan, ada dua hal hingga acara kegiatan ini terselenggara di Manado. Pertama, katanya, ini adalah bentuk kepercayaan PBNU pada PWNU Sulut. Kedua, tambah Amin Lasena, karena huhungan baik NU dengan para pimpinan di Sulut.

"PWNU dan Gubernur punya visi yang sama untuk terus mempertahankan Sulut sebagai miniatur kebhinekaan. Karena itu kami mendukung sepenuhnya kepemimpinan Gubernur," ujar Amin.

Pra-Munas Alim Ulama dan Konbes NU Zona Indonesia Timur di Manado ini secara bersamaan juga berlangsung di Jawa Barat, tepatnya Purwakarta, sebagai rangkaian kegiatan Pra-Munas Alim Ulama ketiga, yang secara khusus membahas Bahtsul Masail. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Ahlussunnah, Bahtsul Masail ArrahmahMedia.Com

Selasa, 13 Februari 2018

PMII Bojonegoro Gelar Pentas Seni Bersama Anak Terminal

Bojonegoro, ArrahmahMedia.Com

Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bojonegoro, mengadakan pentas seni, Selasa (6/5/2014) malam. Kegiatan yang digelar di Terminal Rajekwesi Bojonegoro itu menutup peringatan Hari Lahir (Harlah) PMII ke-54.

Acara pentas seni itu dimeriahkan oleh sejumlah seniman dan musikalisasi di Bojonegoro, seperti penggemar Iwans Fals (Oi), Teather Giri, musik akustik anak-anak terminal dan group sholawat dari PMII Bojonegoro.

PMII Bojonegoro Gelar Pentas Seni Bersama Anak Terminal (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Bojonegoro Gelar Pentas Seni Bersama Anak Terminal (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Bojonegoro Gelar Pentas Seni Bersama Anak Terminal

Ketua panitia, Ahmad Syahid mengatakan, jika PMII tidak sekedar bisa mengkritisi pemerintah melalui demo dan melakukan pengkaderan kepada anggota. Namun, PMII juga bisa berbaur dengan siapa pun.

ArrahmahMedia.Com

"Malam ini luar biasa, mulai dari anak jalanan, anak terminal dan mahasiswa berkumpul dan belajar bersama," tandasnya.

Ketua PMII Bojonegoro, Ahmad Muhajirin mengungkapkan, dalam rangkaian Harlah PMII ke-54 tersebut pihaknya sudah menggelar banyak acara diantaranya, sarasehan dan temu alumni PMII se-Bojonegoro. Serta Pelatihan Kader Lanjutan (PKL) Nasional, Tahtimul Quran bin Nadhar, PMII Bersholawat dan pentas seni.

ArrahmahMedia.Com

"Mudah-mudahan acara demi acara yang sudah berlangsung dapat bermanfaat bagi sahabat-sahabat semuanya," ujarnya.

Ahmad Syahid menambahkan, sebetulnya acara penutupan ini akan dilakukan pada 26 April 2014. "Tetapi karena kita ditahan polisi saat melakukan aksi demo, maka kita undur malam ini," pungkasnya. (M Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Ahlussunnah ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 03 Februari 2018

Agama dan Pertentangan Makna Aksi Terorisme

Oleh Guntur Pribadi



Terlalu dangkal bila agama dipandang sebagai pemantik dari kekerasan. Apalagi memosisikan agama sebagai pembenar dari tindakan radikalisme dan terorisme, tentu adalah perspektif yang sempit. Agama yang seharusnya sebagai jalan keluar dari permasalahan tidaklah tepat disebut-sebut sebagai biang dari munculnya ekstremisme.

Agama dan Pertentangan Makna Aksi Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Agama dan Pertentangan Makna Aksi Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Agama dan Pertentangan Makna Aksi Terorisme

Namun, jika pada kenyataannya dalam banyak kasus, agama dianggap sebagai pemantik lahirnya kekerasan, maka ini sesungguhnya bukanlah bersumber pada agamanya. Melainkan, lebih tepatnya adalah merupakan tindakan pelaku yang mengatasnamakan agama.

Agama yang keberadannya menjadi sumber utama kedamaian, keadilan, dan kebahagiaan bagi pemeluknya, adalah tidak relevan kemudian dikorelasikan sebagai lahirnya tindakan radikalisme dan terorisme.

ArrahmahMedia.Com

Namun, memang tidaklah mudah pula membantah, bila ada anggapan bahwa pemahaman agama yang keliru dan jauh dari makna tujuan agama yang damai, kemudian dipandang sebagai faktor lahirnya tindakan intoleransi yang merupakan benih dari radikalisme dan ekstremisme.

Agama yang hakikinya mengajarkan kebaikan, kejujuran, kesantunan dalam hubungan manusia antara manusia dan manusia dengan lingkungan, yang terjadi justru dimaknai dalam interpertasi dan realisasi yang menyimpang. Akibatnya, tujuan utama manusia memeluk agama mengalami disorientasi: jauh dari tujuan beragama yang bermakna pada keselamatan, kemaslahatan, dan kedamaian.

ArrahmahMedia.Com

Padahal, jika dipahami dari tujuan utama setiap manusia beragama, maka tindakan kekerasan dan kerusakan, sesungguhnya bukanlah ajaran agama. Sebab, setiap agama, bila sungguh-sungguh direnungkan dengan akal sehat dan rasa kemanusiaan, agama tidaklah memerintahkan kepada pemeluknya untuk merusak, membunuh, menebar kebencian, apalagi melakukan tindakan radikalisme.

Nalar agama yang substansinya berisi nilai-nilai kebajikan dan kedamaian tidaklah relevan kemudian maknanya dibajak dalam wujud aksi radikalisme dan ekstremisme yang belakangan ini menjadi ancaman serius hampir di setiap negara-negara dunia. Justru yang terjadi adalah paradoks ketika simbol-simbol agama itu sendiri dipaksakan sebagai dalil pemantik dari aksi terorisme.

Memaksakan dalil-dalil agama dalam konteks penghalalan darah terhadap seseorang yang berbeda aliran dan ideologi juga tidaklah bisa dibenarkan begitu saja. Sebab, bila diimani nilai-nilai agama dengan nalar kasih sayang, maka tindakan teror, radikalisme, dan ekstremisme terhadap perbedaan, adalah merupakan aksi yang kontradiktif dengan tujuan hakiki agama itu sendiri yakni sebagai motivasi menebarkan kedamaian ke seluruh umat dunia.

Sekalipun hingga hari ini tidak ada penjelasan yang memuaskan akal sehat kita mengenai spirit terorisme yang terjadi, sebagai manusia yang memiliki keimanan dalam beragama tentunya kita menolak bila semangat agama dipandang dan dijadikan sebagai pemantik tindakan-tindakan destruktif.

Bila ingin disebutkan, maka aksi teror yang menyeret simbol-simbol agama secara serampangan adalah tindakan manusia yang dapat dikatakan tidaklah beragama dan juga tidak manusiawi. Mendasarkan agama sebagai motivasi dan spirit atas aksi terorisme lebih tepatnya adalah sebagai tindakan yang kehilangan akal.

Dalam Islam sendiri misalnya, seperti kita tahu, di antara tujuan hakiki agama itu sendiri dihadirkan kepada umat sebagai pembawa semangat rahmatan lil ‘alamin (kasih sayang Tuhan untuk semua manusia) (Q.S. Al-Anbiya: 107). Konsep “kasih sayang Tuhan untuk seluruh manusia” ini tidaklah terbatas. Akan tetapi, melingkupi seluruh umat di dunia.

Islam juga mengajarkan betapa pentingnya memelihara kehidupan seorang manusia yang dipandang sama halnya memelihara kehidupan manusia seluruhnya (Q.S. Al-Maidah: 32). Tak itu saja, aksi menimbulkan kebinasaan (mudarat) terhadap diri sendiri merupakan tindakan yang sangat dilarang dalam Islam (Q.S. Al-Baqarah: 195).

Berangkat dari risalah rahmatan lil ‘alamin dan pentingnya memelihara kehidupan manusia, maka sangatlah bertentangan kemudian tindakan radikalisme dan ekstremisme dilekatkan pada ajaran dan simbol-simbol agama. Sebab sangat jelas, kehadiran agama tidaklah membawa kehancuran pada manusia, melainkan menebarkan kedamaian dan kasih sayang sebagai amanah dari Tuhan.

Merespon aksi terorisme dan radikalisme yang belakangan ini mengalami penetrasinya akibat spirit dan motivasi kepentingan individu atau kelompok tertentu, maka penting kemudian menempatkan pemahaman bahwa tindakan ekstremisme yang muncul adalah sebagai akibat adanya gejala fanatik yang kehilangan akal sehat dan rasa kemanusiaan.

Dalam upaya membendung menjalarnya pemikiran dan gerakan radikal lebih luas di negeri ini, maka penting kemudian peran agama meresponnya terhadap penyimpangan-penyimpangan aksi teror yang terjadi belakangan ini. Peran tokoh dan institusi agama dalam hal adalah sangatlah strategis, terutama dalam memberikan pencerahan terhadap makna dan tema-tema agama dalam konteks kemanusiaan, kasih sayang, dan kedamaian, melalui jalur pendidikan dan gerakan dakwah.

Selain itu pula, peran pesantren sebagai agen perubahan dan pemberdayaan sosial juga tak kalah strategis dalam menekan gejala pemikiran dan gerakan intoleransi terhadap keberagaman dan perbedaan di tengah-tengah umat. Keberadaan pesantren sebagai pranata pendidikan yang dikenal memiliki kosentrasi pada pengajaran agama, sangat efektif dalam upaya menumbuhkan kesadaran beragama yang santun, moderat, toleransi, dan damai.

Segala upaya dalam membendung dan menekan penyebaran pemikiran serta gerakan intoleransi tersebut tentunya akan lebih memiliki kekuatan yang lebih luas lagi dengan melibatkan peran elemen masyarakat. Keberadaan elemen masyarakat akan menjadi kekuatan tersendiri, terutama dalam membangun opini positif terhadap keberagaman dan perbedaan.

Kita tahu, belakangan ini, kekuatan opini masyarakat telah memiliki posisinya dalam menggalang gerakan sosial. Karena itulah, memberdayakan partisipasi elemen sipil dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan dan keutuhan NKRI adalah hal yang hendaknya terus digalang melalui jalur-jalur pendidikan, dakwah, dan advokasi.

Kita tentu percaya, bahwa Tuhan menurunkan agama adalah untuk manusia. Dan manusialah yang sesungguhnya memerlukan agama sebagai media dalam mencapai kedamaian dan kebahagiaan kehidupan yang tidak saja di dunia, tapi juga di kehidupan yang diimani kelak. Karena itu, tindakan destruktif dengan alasan agama, tentunya tidaklah dapat diterima, baik itu oleh nalar manusia maupun nalar ajaran agama itu sendiri.

Penulis adalah pegiat Lembaga Bantuan Hukum dan Alumni UIN Sunan Ampel Surabaya



Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Hadits, Ahlussunnah ArrahmahMedia.Com

Kamis, 01 Februari 2018

Cyber Crime Meningkat, KPAI Desak Literasi Media Sosial Ditingkatkan

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Maraknya efek negatif di dunia maya membutuhkan keseriusan semua pihak untuk meningkatkan literasi media sosial. Dalam catatan akhir tahun 2016, KPAI mencatat kemeningkatan kasus kejahatan berbasis siber (cyber crime) mencapai 414 kasus. Angka tersebut menduduki kedudukan ketiga dalam kasus yg diadukan ke KPAI, setelah kasus Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) dan kasus keluarga dan pengasuhan alternatif. ? KPAI menegaskan ada potensi kerentanan anak dalam mengakses internet tanpa pengawasan orang tua.

Cyber Crime Meningkat, KPAI Desak Literasi Media Sosial Ditingkatkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Cyber Crime Meningkat, KPAI Desak Literasi Media Sosial Ditingkatkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Cyber Crime Meningkat, KPAI Desak Literasi Media Sosial Ditingkatkan

“Penting membangun kesadaran masyarakat untuk menggerakkan literasi media dan penggunaan media siberkata Ketua KPAI Asrorun Niam Sholeh saat menyampaikan ekspos akhir tahun 2016 di Kantor KPAI, Jakarta, Kamis (22/12).?

Ditambahkannya, orang tua diharapkan mengimbangi dengan membangun kesadaran anak dalam menggunakan telepon pintar/? Dengan adanya kesadaran anak, maka akses berbahaya di dunia siber bisa dihindarkan.

“Ketika IT menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan kita maka harus ada pengimbangan dengan literasi pemanfaatan IT secara bijak. KPAI juga mendorong Kominfo untuk memastikan daya jangkau dan kapasitas dalam memblock dan menutup situs yang tidak ramah anak, baik konten kekerasan, pornografi, ujaran kebencian, maupun terorisme,” tegasnya.

ArrahmahMedia.Com

Niam juga mendesak adanya pendekatan penindakan hukum untuk terapi kejut kepada pihak yang menjadikan sosial media tidak layak bagi anak.?

“Terlebih melakukan kejahatan yang menjadikan anak sebagai korban, contohnya kasus LGBT anak di Bogor yang mengagetkan kita semua. Perlu dilakukan pemberatan hukuman agar pelaku jera dan orang lain berpikir seribu kali untuk tindak mencontoh,” jelasnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Sholawat, Ahlussunnah, Kyai ArrahmahMedia.Com

Selasa, 30 Januari 2018

Pendeta Palti Panjaitan: Saya Termasuk Pendeta NU

Bantul, ArrahmahMedia.Com. Pendeta Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Palti Panjaitan memiliki kesan mendalam tentang sosok KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Bagi Palti, Ketua PBNU 1984-1999 ini banyak memberi pelajaran dalam sikap keberagamaannya.

Pendeta Palti Panjaitan: Saya Termasuk Pendeta NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendeta Palti Panjaitan: Saya Termasuk Pendeta NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendeta Palti Panjaitan: Saya Termasuk Pendeta NU

"Saya salah seorang pengagum Gus Dur. Saking kagumnya, semakin banyak buku-buku tentangnya. Istri saya sampai bilang, bapak pendeta atau ustadz? Saya pendeta ustadz. Saya termasuk pendeta NU," tutur Palti sedikit bercanda.

Ia menyampaikan hal itu saat dialog seputar kasus intoleransi dengan peserta Kelas Menulis Santri Yogyakarta, Kamis (22/01), di Lembaga Kajian Keislaman (LKiS) Jalan, Sorowajan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

ArrahmahMedia.Com

Palti mengungkapkan, ketika membaca buku-buku tentang Gus Dur atau keislaman, ia semakin kuat imannya. "Jadi bukan mengurangi keimanan saat saya membaca buku-buku Islami. Dulu saya tertutup, tapi saat mengalami proses akhirnya mengalami perkembangan," ungkapnya.

ArrahmahMedia.Com

Ia tidak mau menghakimi orang lain. Ketika suatu ketika ada keturunan memilih pindah agama lantaran menemukan kebenaran pada agama tersebut, maka hal itu tidak menjadi permasalahan baginya.? "Agama yang saya anut ini warisan. Ketika saya cari atau berproses, dan kebenaran misalnya ada di Islam, dan saya pindah ke Islam, maka tidak menjadi persoalan," ujarnya.

Agama baginya adalah sebuah kendaraan. Topangan baginya menuju tujuan. Namun, ini juga sering ditentang oleh beberapa temannya. Ia bahagia sekali ketika membuka diri.

"Saya harap teman-teman juga mau yakin, bahwa Allah yang kita sembah masing-masing ini, tidak menginginkan adanya kekerasan. Marilah kita menularkan budaya damai," tandasnya. (Nur Sholikhin/Mahbib)

Sumber foto: www.daserste.de

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Bahtsul Masail, Ahlussunnah ArrahmahMedia.Com

Kamis, 25 Januari 2018

Tahun Pertama, ISNU Bojonegoro Fokus Kemandirian Ekonomi

Bojonegoro, ArrahmahMedia.Com. Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) dalam tahun pertama periode kepengurusannya 2014-2017 konsentrasi menangani perihal kemandirian NU. Hal itu diungkapkan Ketua PC ISNU Bojonegoro Yogi Prana Izza pada acara Musyawarah Kerja (Musker) ISNU Bojonegoro di aula MAN 1 Bojonegoro, Ahad (6/4).

Tahun Pertama, ISNU Bojonegoro Fokus Kemandirian Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahun Pertama, ISNU Bojonegoro Fokus Kemandirian Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahun Pertama, ISNU Bojonegoro Fokus Kemandirian Ekonomi

"ISNU melihat, NU belum mempunyai kemandirian dalam semua aspek. Makanya dalam tahun pertama ini ISNU akan fokus dalam kemandirian NU, target tahun ini kemandirian ekonomi," ujar dosen STAI Sunan Giri Bojonegoro itu kepada ArrahmahMedia.Com.

Kemandirian tersebut ditunjukkan ISNU dalam semua aspek, karena dalam melaksanakan kegiatan ISNU tidak pernah minta sumbangan kemana-mana. Rencananya, dalam waktu dekat ini PC ISNU Bojonegoro akan mendirikan badan usaha.

ArrahmahMedia.Com

Menurut Yogi, dalam AD/ART, ISNU berperan membantu dan mendukung penuh NU, termasuk bersinergi dengan NU. ISNU bisa berkiprah dalam hal sumbangsih pemikiran. Pola kritikan ISNU disertai dengan tindakan, tidak hanya berbicara.

ArrahmahMedia.Com

Dosen lulusan Mesir itu menuturkan, sebelum pelaksanaan Musker pihaknya menggelar dialog interaktif bertemakan “Potensi dan Tantangan Bojonegoro Menuju 2014” dengan narasumber tokoh intelektual NU yang juga anggota ISNU Bojonegoro, yakni Imroatul Azizah dan Mudzar Fahman. Serta dipandu moderator Alfi Mufidah.

"Diharapkan sebelum raker (Musker, red) dilaksanakan, para anggota ISNU dengan diadakan dialog interaktif ini mampu membuka wacana penyusunan program kerja masing-masing komisi," terangnya.

Ditambahkan, di ISNU ada lima komisi, yakni komisi yang menangani kesehatan dan sosial; komisi pendidikan, penelitian, organisasi, dan seni; komisi ekonomi, industri, pertanian, perikanan dan kehutanan; komisi organisasi SDM, hukum dan HAM; komisi dakwah, komunikasi, informasi dan pemberdayaan perempuan. (Muhammad Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Ahlussunnah ArrahmahMedia.Com

Rabu, 17 Januari 2018

Menengok Pesantren Waria di Yogyakarta

Pondok Pesantren Waria Al-Fattah Yogyakarta berdiri dan diresmikan wakil ketua DPRD kota Yogyakarta pada 8 Juli 2008. Pesantren yang saat ini berlokasi di daerah Jagalan Kotagede Yogyakarta diawali oleh salah seorang waria bernama Maryani yang rutin mengikuti pengajian mujahadah al-Fattah di bawah bimbingan KH Hamroeli Harun di Desa Pathuk mulai tahun 1997.

Berawal dari kegelisahannya akan stigma negatif yang selalu dialamatkan kepadanya dan teman-temannya sesama waria, ia mulai mengadakan pengajian di rumahnya sebagai pembuktian bahwa mereka juga bagian dari masyarakat yang eksistensinya ingin diakui. Puncaknya, pada tahun 2008 Maryani mendirikan sebuah pondok pesantren sebagai tempat belajar agama bagi para waria setelah mendapatkan restu dari KH. Hamroeli yang sekaligus menjadi pembina atau pengasuh pondok pesantren waria ini.

Menengok Pesantren Waria di Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Pesantren Waria di Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Pesantren Waria di Yogyakarta

Dua tahun setelah berdiri, KH. Hamroeli berhenti mengajar dikarenakan beberapa alasan. Namun, kegiatan belajar mengajar ilmu agama tetap berlangsung karena sebagian ustadz tidak ikut berhenti. Pada tahun 2014, Maryani meninggal dunia. Pesantren ini tetap dikehendaki keberadaannya sehingga diputuskan untuk meneruskan perjuangan yang telah dibangun oleh Maryani. Terpilih lah Shinta Ratri sebagai ketua pondok baru yang lalu memindahkan lokasi pondok yang awalnya di daerah Notoyudan ke daerah Kotagede. KH. Abdul Muhaimin, pengasuh pondok pesantren Nurul Ummahat yang sekaligus koordinator FPUB (Forum Persatuan Umat Beragama), diminta untuk menjadi pembina dan pengasuh baru pondok pesantren waria ini.

Secara garis besar, kegiatan di pondok pesantren ini ada dua macam: kegiatan mingguan dan tahunan. Awalnya kegiatan berlangsung setiap hari Senin dan Kamis—karena itu pesantren ini disebut juga dengan Pesantren Senin Kamis. Namun setelah lokasinya pindah, kegiatan kemudian hanya dilakukan seminggu sekali, yaitu pada hari Ahad. Bentuk kegiatan mingguan ini berupa shalat berjama’ah, mengaji Al-Qur’an, dzikir, diskusi dan lain sebagainya. Kegiatan dimulai pada sore menjelang maghrib hingga setelah sholat Isya’. Adapun kegiatan tahunan yang telah dilakukan, yaitu ziarah kubur, bakti sosial, kegiatan bulan Ramadhan, syawalan, dan hari raya kurban.

ArrahmahMedia.Com

Sementara itu, saat ini jumlah santri di pesantren ini ada sekitar 30 orang. Mereka tinggal di kediaman masing-masing dan akan berkumpul di pondok sesuai dengan jadwal kegiatan pesantren yang telah ditentukan. Para santri memiliki berbagai macam profesi, mulai dari berdagang, ngamen, pengrajin, hingga ada juga yang menjadi pekerja seks komersial (PSK). Akan tetapi, mereka tetap memiliki kemauan untuk belajar agama dan beribadah sehingga kehadiran pondok pesantren ini membuat mereka merasa diterima dan mendapatkan tempat untuk belajar.

ArrahmahMedia.Com

Idris Ahmad Rifai dalam penelitiannya menyebutkan bahwa pesantren ini mendapatkan apresiasi yang tinggi dari para waria. Salah satu santri yang bernama Yeti, misalnya, mengungkapkan rasa syukurnya dengan hadirnya pesantren ini karena ia merasa mendapatkan tempat untuk beribadah dan mempelajari agama. Tanpa pesantren ini, ia dan teman-teman warianya merasa kesulitan untuk beribadah di tempat ibadah umum karena pasti akan ditolak.

Yuni Shara, salah seorang santri lainnya mengutarakan hal senada. Ia menilai bahwa kehadiran pesantren waria ini bisa mengakomodir kebutuhan para waria akan ilmu agama serta bisa menjadi ajang untuk saling bersilaturrahim.

Waria memang sering dipandang sebelah mata dan diperlakukan tidak manusiawi. Secara sederhana, waria dipahami sebagai manusia yang lahir dalam fisik laki-laki, namun memiliki kecendrungan dan kepribadian wanita sehingga mereka berpenampilan dan berperilaku layaknya wanita. Kelainan ini adakalanya sebab faktor lingkungan dan adakalanya juga bawaan lahir.

Tak sedikit yang menganggap waria sebagai makhluk rendahan bahkan terkadang dianggap lebih buruk dari sampah yang menjijikkan. Padahal, seburuk apapun para waria dalam pandangan sosial, mereka tetaplah manusia. Manusia yang selalu diperjuangkan oleh nabi harkat dan martabatnya. Toh, walaupun seseorang melakukan kesalahan, itu tidak bisa menjadi legitimasi untuk merendahkannya. Justru karena memiliki dua sisi baik dan buruk itu yang membuat seseorang disebut manusia. Tanpa keburukan, manusia tak akan pernah menjadi lebih baik dari malaikat dan kehilangan keutamaan sebagai ciptaan terbaik tuhan. Inilah salah satu alasan yang menginspirasi berdirinya pesantren yang cukup unik di Yogyakarta, yaitu Pondok Pesantren Waria Senin Kamis al-Fattah Yogyakarta.

Muhammad Itsbatul Haq, Alumni PP. Annuqayah Sumenep

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Ahlussunnah, Santri ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock