Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Belajar Toleransi Dari Gus Mus di "Pesantren BPUN" Way Kanan

Way Kanan, ArrahmahMedia.Com 

Peserta Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) yang digelar PC GP Ansor Way Kanan Lampung di Pesantren Assiddiqiyah 11 mulai 25 April 2016 mengaku bertambah wawasan dengan mengikuiti program utama Yayasan Mata Air tersebut, diantaranya memahami penghormatan akan keberagaman.

Belajar Toleransi Dari Gus Mus di Pesantren BPUN Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Toleransi Dari Gus Mus di Pesantren BPUN Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Toleransi Dari Gus Mus di "Pesantren BPUN" Way Kanan

"Setelah menyaksikan dokumentasi Gus Mus dari acara Mata Najwa yang ditonton bersama, saya semakin banyak sekali mendapat wawasan, bahkan dapat mengetahui apa itu toleransi antaragama," ujar Rio Irawan, di Gunung Labuhan, Ahad (1/5).

KH Mustofa Bisri yang akrab dipanggil Gus Mus adalah seorang ulama dan budayawan yang lahir di Rembang Jawa Tengah 10 Agustus 1944. "Dakwah yang dilakukan Gus Mus sangat baik," kata Rio lagi.

Dalam dokumentasi tersebut, Gus Mus menakutkan zaman sekarang akan kembali pada zaman Habil dan Qobil. "Semangat mengajar Gus Mus dengan dakwah memanusiakan manusia sangat luar biasa," paparnya.

ArrahmahMedia.Com

Rio menambahkan, dirinya saat ini dapat mengetahui jika Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi asli kiai-kiai dari pesantren yang memiliki semangat kebangsaan yang luas sebagaimana disampaikan Gus Mus.

Selain memberikan pelajaran ilmu akademik lima hari dalam seminggu, bimbingan ruhani istiqomah dan mengajarkan kecakapan hidup seperti ilmu jurnalistik dibimbing Ketua PC GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto. BPUN, juga mendiskusikan keteladanan dan inspirasi dari sejumlah tokoh, seperti Mooryati Soedibyo, Dian Sastrowardoyo, Jenderal Hoegeng, serta tokoh-tokoh internal NU seperti,  Hadratus Syekh Hasyim Asyari, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dan Gus Mus guna menambah wawasan dan memotivasi peserta yang dikarantina selama satu bulan penuh di pesantren asuhan Kiai Imam Murtadlo Sayuthi.

"Mars pertama GP Ansor jelas bunyinya, darah dan nyawa telah kuberikan. Apa yang kami lakukan dengan menggelar BPUN masih jauh dari larik pertama mars pemuda NU, tapi itu penegasan bahwa menjadi kader harus siap berbuat positif bagi organisasi dengan perbuatan," ujar Gatot menambahkan. (Firman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Sholawat, Meme Islam, Pesantren ArrahmahMedia.Com

Rabu, 07 Februari 2018

Sampaikan Permasalahan Papua, Forum Lintas Iman Papua Sambangi PBNU

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Rombongan dari Papua yang tergabung dalam Forum Lintas Agama menyambangi Kantor PBNU Kramat Raya, Jum’at (14/8) sore. Rombongan diterima langsung oleh Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj di kantornya lantai 3.

Dalam kunjungan rombongan yang terdiri dari sekitar 15 orang tersebut, mereka mengungkapkan berbagai persoalan yang terjadi di tanah Papua, terutama terkait dengan kesejahteraan, keadilan, dan kerukunan umat beragama menyusul insiden yang menurut mereka terparah selama 52 tahun, yakni insiden di Kabupaten Tolikara pada momen Idul Fitri Juli 2015 lalu.

Sampaikan Permasalahan Papua, Forum Lintas Iman Papua Sambangi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sampaikan Permasalahan Papua, Forum Lintas Iman Papua Sambangi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sampaikan Permasalahan Papua, Forum Lintas Iman Papua Sambangi PBNU

Imam Masjid Tolikara, KH Ali Mukhtar yang ikut mendampingi rombongan mengungkapkan, bahwa yang dibakar bukanlah masjid, tetapi ruko yang menyambar hingga ke masjid.?

ArrahmahMedia.Com

“Meski minoritas, hubungan kita sangat baik. Rumah saya yang menempel dengan masjid juga sempat diselamatkan oleh Ketua Adat setempat. Namun dia mendapat lemparan batu sehingga rumah saya pun akhirnya terbakar,” ungkapnya.

Rombongan yang terdiri dari perwakilan dari muslim Papua, Kristen Papua, Katolik Papua, dan masyarakat adat ini menyampaikan persoalan-persoalan yang sesungguhnya terjadi di tanah Papua.

ArrahmahMedia.Com

Ketua Suku dari mereka yang tidak terkonfirmasi namanya mengungkapkan, bahwa kerukunan antar-umat beragama di Papua sangatlah kuat. Karena pada dasarnya masyarakat Papua adalah masyarakat yang sangat menghargai adat dan budaya. “Karena menurut kami, adat dan budaya itu tidak terlepas dari agama,” ujarnya.

Mereka menuturkan, bangsa Papua tidak ada perpecahan. Yang membuat semuanya kacau itu karena orang-orang di luar Papua. “Setiap ada konflik, kita cukup menyelesaikannya dengan pembicaraan secara kekeluargaan, selesai, karena orang Papua semuanya bersaudara,” terangnya.

Papua damai, tambahnya, tetapi orang-orang di luar sana melalui media yang ada hantam sana-sini sehingga persoalannya jadi tidak jelas dan itu sangat merugikan bangsa Papua. “Jadi jelas, yang mengacaukan Papua itu orang-orang Non-Papua, seperti orang Kristen dari luar yang masuk ke tanah Papua, mereka menguasai Gereja dan mengajarkan paham radikal di Gereja tersebut,” ungkapnya.?

Sementara itu, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj yang mendengarkan dengan seksama penuturan mereka mengatakan, kekerasan atas nama apapun bisa terjadi di mana saja. “Tapi di Indonesia, kita bersyukur selalu bisa melokalisirnya sehingga tidak meluas secara nasional seperti yang terjadi di negara-negara Timur Tengah yang sekali terjadi konflik langsung meluas dan bertahan selama bertahun-tahun,” ujar Kang Said.

Kiai yang baru saja terpilih kembali menjadi Ketum PBNU ini menuturkan, Kanjeng Nabi Muhammad SAW sendiri jika ada seorang Muslim yang menyakiti dan membunuh Non-Muslim, maka Kata Nabi Muslim tersebut berhadapa dengan saya.

“Gus Dur sendiri yang mendapat gelar sebagai Bapak Papua oleh masyarakat Papua selalu menekankan, bahwa tidak boleh ada perpecahan dan permusuhan hanya karena alasan berbeda agama, suku, ras, pendapat maupun partai politik. Yang menjadi musuh kita bersama adalah mereka yang melanggar hukum,” tandas Kang Said. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pahlawan, Sholawat, AlaSantri ArrahmahMedia.Com

Kamis, 01 Februari 2018

Cyber Crime Meningkat, KPAI Desak Literasi Media Sosial Ditingkatkan

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Maraknya efek negatif di dunia maya membutuhkan keseriusan semua pihak untuk meningkatkan literasi media sosial. Dalam catatan akhir tahun 2016, KPAI mencatat kemeningkatan kasus kejahatan berbasis siber (cyber crime) mencapai 414 kasus. Angka tersebut menduduki kedudukan ketiga dalam kasus yg diadukan ke KPAI, setelah kasus Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) dan kasus keluarga dan pengasuhan alternatif. ? KPAI menegaskan ada potensi kerentanan anak dalam mengakses internet tanpa pengawasan orang tua.

Cyber Crime Meningkat, KPAI Desak Literasi Media Sosial Ditingkatkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Cyber Crime Meningkat, KPAI Desak Literasi Media Sosial Ditingkatkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Cyber Crime Meningkat, KPAI Desak Literasi Media Sosial Ditingkatkan

“Penting membangun kesadaran masyarakat untuk menggerakkan literasi media dan penggunaan media siberkata Ketua KPAI Asrorun Niam Sholeh saat menyampaikan ekspos akhir tahun 2016 di Kantor KPAI, Jakarta, Kamis (22/12).?

Ditambahkannya, orang tua diharapkan mengimbangi dengan membangun kesadaran anak dalam menggunakan telepon pintar/? Dengan adanya kesadaran anak, maka akses berbahaya di dunia siber bisa dihindarkan.

“Ketika IT menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan kita maka harus ada pengimbangan dengan literasi pemanfaatan IT secara bijak. KPAI juga mendorong Kominfo untuk memastikan daya jangkau dan kapasitas dalam memblock dan menutup situs yang tidak ramah anak, baik konten kekerasan, pornografi, ujaran kebencian, maupun terorisme,” tegasnya.

ArrahmahMedia.Com

Niam juga mendesak adanya pendekatan penindakan hukum untuk terapi kejut kepada pihak yang menjadikan sosial media tidak layak bagi anak.?

“Terlebih melakukan kejahatan yang menjadikan anak sebagai korban, contohnya kasus LGBT anak di Bogor yang mengagetkan kita semua. Perlu dilakukan pemberatan hukuman agar pelaku jera dan orang lain berpikir seribu kali untuk tindak mencontoh,” jelasnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Sholawat, Ahlussunnah, Kyai ArrahmahMedia.Com

Studi Komunitas, 50 Warga Puger Kunjungi NU Jombang

Jombang, ArrahmahMedia.Com. Indonesia kaya dengan budaya, adat istiadat, keyakinan, juga agama. Kendati beragam, suasana rukun menjadi hal penting di negeri ini. Hal tersebut terjadi karena antara warga memiliki solidaritas dan saling menghargai perbedaan yang ada.

Studi Komunitas, 50 Warga Puger Kunjungi NU Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Studi Komunitas, 50 Warga Puger Kunjungi NU Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Studi Komunitas, 50 Warga Puger Kunjungi NU Jombang

Ini juga yang ingin diraih dari acara anjangsana sejumlah warga Puger ke Jombang Jawa Timur. Ada tiga agenda yang dilakukan komunitas warga tersebut saat berkunjung ke kota santri ini. Yang pertama adalah ke Pengurus Cabang Lembaga Kajian dan Pengembangan Suber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Jombang, kemudian ke makam KH Abdurrahman Wahid dan diakhiri bertemu kelompok Gusdurian.

Hal ini sebagaimana disampaikan Yenny Lutfiana kepada ArrahmahMedia.Com, Sabtu (23/5). "Ke PC Lakpesdam NU Jombang rombongan belajar bagaimana mengelola dana di Credit Union (CU) yang dimiliki lembaga ini," kata Yenny, sapaan akrabnya.

ArrahmahMedia.Com

Ke makam KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, sejumlah peserta bertawassul dan mengunjungi tokoh perdamaian. "Sedangkan ke Gusdurian Jombang, kami ingin belajar bersama mengenai hidup dalam keberagaman," kata alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

ArrahmahMedia.Com

50 warga Puger Jember ini didampingi oleh PW Lakpesdam NU Jawa Timur  dalam melaksanakan program peduli. Misi program ini adalah untuk mengembangkan inklusi sosial. "Yaitu memberikan ruang dan penghargaan bagi kelompok minoritas di Indonesia termasuk minoritas agama dan kepercayaan," tandas Yenny.

Untuk di Jawa Timur, yang terpilih adalah Puger Jember. "Karena beberapa tahun terakhir ini di Puger terjadi konflik kelompok yakni antara Sunni dan Syiah," ungkap jebolan Pascasarjana Unair Surabaya ini.

Kegiatan program peduli ini atas kerja sama antara PP Lakpesdam NU dengan The Asian Foundation dan Pemerintah Australia. "Setidaknya ada 13 kota di Indonesia yang dipilih dalam program peduli ini," pungkasnya.

 

Foto: Rombongan saat mengunjungi PC Lakpesdam NU Jombang

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sholawat ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 27 Januari 2018

Tradisi Maulid Orang Indonesia di Malaysia

Ini catatan perjalanan Ustadz Fauzi Palestin yang beberapa hari lalu melakukan perjalanan ke Malaysia. Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini diundang komunitas masyarakat Indonesia yang berada di negeri Jiran tersebut. Bagaimana seru dan kekhasan yang dirasakan selama kegiatan maulid? Berikut uraiannya.

Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa bulan Rabiul awal merupakan bulan lahirnya Nabi Muhammad SAW. Mayoritas umat Islam merayakannya sebagai ekspresi bahagia dan syukur yang tak terhingga atas lahirnya Nabi yang mulia, tak terkecuali penduduk Indonesia yang berada di Malaysia bahkan tidak sedikit yang sudah menjadi warga Negara Malaysia.

Tradisi Maulid Orang Indonesia di Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Maulid Orang Indonesia di Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Maulid Orang Indonesia di Malaysia

Berdasarkan safari dakwah yang saya lakukan di beberapa tempat, seperti di kota Kemuning, Damansara, Sungai Buloh dan sebagainya, ada beberapa hal yang menjadi catatan saya:

Pertama, saya melihat warga Indonesia di negeri Jiran ini dalam merayakan maulid Nabi sangat antusias bahkan bisa dikatakan sebagai pelopor dzikra maulidir rasul. Hal ini bisa dilihat dari kekompakan dalam pelaksanaan maulid. Kalau di daerah perkotaan sebagian besar penyelenggaranya adalah orang Bawean Gresik yang sudah menjadi warga di sana.

Adapun di daerah perumahan yang masih dalam proses pembangunan, banyak digagas orang Madura. Dalam sebulan, orang Madura bisa menyelenggarakan dua bahkan tiga kali acara pengajian dalam rangka maulidir rasul.

ArrahmahMedia.Com

Kedua, orang Indonesia di Malaysia tidak sekedar menyelenggarakan seremonial yang hanya diikuti mereka yang berasal dari Indonesia, tapi juga ikut bergabung orang Melayu selaku penduduk asli. Mereka seakan dipersatukan, dan terlibat aktif dalam menyukseskan acara dan tentu saja bergabung dalam satu majlis.

Kala itu saya menceritakan betapa dahsyat ulama Indonesia hingga reputasinya yang mendunia. Ada  Syaikh Ihsan Jampes yang menyarahi kitab Minhajul Abidin menjadi Sirajut Thalibin, demikian pula Imam An-Nawawi al-Banteni yang juga mengarang kitab Al-Arbain Nawawi. Kala itu saya tidak lupa mengenalkan kewalian Syaichona Cholil Bangkalan yang dikenal umat Islam di Nusantara bahkan dunia.

Saat di Kota Damansara selepas pengajian, ternyata ada orang Melayu berkeinginan menguliahkan putranya yang sekarang sedang menghafal al-Quran di Indonesia. Yang bersangkutan sempat mencatat nomor hape saya.

Ketiga, teknis pelaksanaan maulid, demikian pula budaya yang digunakan layaknya di Indonesia, Sebagaimana di tanah air, dalam peringatan maulidir rasul yang dibaca adalah qasidah maulid al-Barzanji yang dikarang Sayyid Jakfar bin Abdul Karim. 

ArrahmahMedia.Com

Bahkan shalawat khas Indonesia seperti pembacaan Shalawat Badar karya Kiai Ali Mansur juga dikumandangkan. Dan lagu yang digunakan pun sesuai pola khas di Tanah Air yang disertai musik tradisional compang, yakni sejenis marawis.

Keempat, tidak kalah menarik pula, model berkat atau makanan untuk dibawa pulang yang mereka buat sangat unik dan bervariasi. Kalau orang Madura menggunakan buah sebagai menu pokoknya, mayoritas warga Bawean memanfaatkan aneka ragam jajan dan minuman, bahkan di dalamnya disertakan sarung, sajadah, termasuk sabun mandi. 

Menurut informasi yang saya dapat, untuk membuat satu buah berkat saja dibutuhkan biaya 500 ringgit. Dan waktu yang dibutuhkan untuk membungkus menjadi layak diberikan sampai seminggu lamanya. Itu dilakukan agar berkat terlihat menarik dan menyenangkan para tamu undangan.

Karena didesain sedemikian rupa dan ukurannya lumayan besar, untuk membawa berkat ke rumah harus memakai mobil khusus, termasuk petugas sampai dua hingga tiga orang. Berkat itupun diberikan kepada setiap undangan.

Walau berkat bukan menjadi tujuan, besarnya ukuran menjadi bukti rasa cinta mereka kepada Nabi Muhammad SAW. Kendati demikian, saat diberikan kesempatan memberikan mauidhah, saya katakana bahwa bila dikalkulasi, dana yang dikeluarkan untuk maulid tidaklah melebihi dari biaya para pecandu rokok dalam setahun. Dan para undanganpun yakni jamaah yang hadir tertawa renyah.

Kelima, khusus di Kota Kemuning Taman Wijaya, yang membuat maulid terasa berbeda adalah karena kekompakan anak muda. Saat ceramah, mereka berada di shaf paling depan. Tak hanya itu, secara khusus juga membuat berkat jumbo dengan varian isi yang sangat beragam.

Ketika saya bertanya kepada salah seorang pemuda terkait iuran yang dibutuhkan untuk membuat berkat jumbo tersebut, ternyata masing-masing dikenakan biaya 10 ringgit.

Melihat kekompakan anak-anak muda ini, saya mengurai kisah seorang pemuda di zaman Harun Al-Rasyid yang mendapatkan kenikmatan di alam kubur karena memuluskan bulan Rabiul Awal. Cerita tersebut sebagaimana ditulis Sayyid Satha dalam kitab Ianatul Thalibin.

Segala kisah ini menjadi catatan penting bahwa tradisi Indonesia bisa menjadi kegiatan keagamaan yang membahana di Malaysia. Semoga mereka tidak lupa akan tanah leluhur, terlebih dalam upaya menjaga hubungan antara kedua negara. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Tegal, Sholawat, Humor Islam ArrahmahMedia.Com

Minggu, 21 Januari 2018

IPNU-IPPNU Bener Deklarasi Perangi Narkoba

Purwrejo, NU online

Menggunakan momentum Masa Kesetian Anggota dan Kemah Pelajar, Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah menggelar deklarasi memerangi narkoba. Deklarasi tersebut diikuti oleh sekitar 250 pelajar NU se-Kecamatan Bener.

Ketua PC IPNU Kecamatan Bener Muhammad Shofiyudin mengatakan, deklarasi tersebut merupakan sebuah komitmen awal IPNU-IPPNU di tingkatan pelajar untuk melawan narkoba. “Pelajar NU jangan sampai pasif terhadap pelbagai persoalan di kalangan pelajar, harus menjadi yang terdepan,” ungkapnya.

IPNU-IPPNU Bener Deklarasi Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Bener Deklarasi Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Bener Deklarasi Perangi Narkoba

Setelah deklarasi yang berlangsung Sabtu (1/10) di Aula SMK Ma’arif NU Bener itu, diselenggarakan Seminar Anti Narkoba yang diisi oleh Kapolsek Bener AKP Kitfirul Aziz. “Kita kumpulkan semua perwakilan pelajar se-Kecamatan Bener baik dari sekolah negeri maupun swasta untuk bersama-sama menyatukan barisan,” imbuhnya.

ArrahmahMedia.Com

Menurut AKP Kitfirul Aziz, NU beserta banom-banomnya telah terbukti dalam berperan aktif dalam membangun masyarakat.

“Badan otonom NU selalu terlibat dalam membangun spiritual dan sosial masyarakat, termasuk narkoba. Maka saya harapkan, rekan-rekan dari IPNU-IPPNU meneruskan semangat positif tersebut,” pungkasnya. (Ahmad Nasuhan/Mahbib)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Budaya, Hikmah, Sholawat ArrahmahMedia.Com

Minggu, 14 Januari 2018

Matikan TV Usai Maghrib, Isi Ngaji bersama Keluarga!

Banyuwangi, ArrahmahMedia.Com

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwanyi KH Maskur Ali menyoroti fenomena kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini. Menurutnya, saat ini peran pendidikan dan keluarga untuk kelangsungan anak-anak sangat penting.

Matikan TV Usai Maghrib, Isi Ngaji bersama Keluarga! (Sumber Gambar : Nu Online)
Matikan TV Usai Maghrib, Isi Ngaji bersama Keluarga! (Sumber Gambar : Nu Online)

Matikan TV Usai Maghrib, Isi Ngaji bersama Keluarga!

Dalam beberapa bulan terakhir, angka kejahatan yang dilakukan dan melibatkan anak-anak sangat tinggi. Beberapa kasus seperti asusila di Surabaya, kata Maskur, karena dipicu renggangnya komunikasi anak dan orang tua. Untuk itu, dia berharap keluarga bisa mengambil peran di sini.

“Matikan TV usai maghrib sampai isya, isi pengajian bersama keluarga,” pinta pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Sina, Genteng itu di hadapan ribuan warga NU Banyuwangi pada puncak peringatan hari lahir NU ke -93 yang digelar PCNU Banyuwangi di Banyuwangi, akhir pekan kemarin (29/5).

ArrahmahMedia.Com

Masykur juga mengajak pengurus Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) se-Banyuwangi untuk turut serta mengdokumentasikan aset-aset NU agar tidak disalahfungsikan oleh oknum-oknum tertentu.

ArrahmahMedia.Com

“NU Banyuwangi masuk 10 besar NU Award, dan insyallah akan masuk seleksi 5 besar. Salah satu hal yang masih kurang dari NU Banyuwangi adalah pada bidang aset. NU kurang mendokumentasikan aset-asetnya. Lewat LWPNU (Lembaga Waqaf dan Pertanahan NU), silakan masjid-masjid disertifikasi atas nama lembaga NU,” ajaknya.

Peringatan harlah ke-93 NU berlangsung di Pondok Pesantren Tahfidzul Quran? Al Mubarok? asuhan H. Ahmad Hidayat yang? berlokasi di Jalan Nuri, Sawahan, Kampung Rambutan, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng. Acara kali ini mengambil tema “Menyebarkan Islam yang Damai dan Toleran”.? (Anang Lukman Afandi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sholawat, Doa ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock