Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2018

Terbukti Makar, Muskercab NU Jombang Rekomendasikan HTI Dibubarkan

Jombang, ArrahmahMedia.Com. Salah satu keputusan Sidang Pleno Musyawarah Kerja Cabang Nahdlatul Ulama (Muskercab NU) Kabupaten Jombang adalah merekomendasikan kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk mendesak kepada Pemerintah Republik Indonesia agar membubarkan organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Alasan yang dikemukakan oleh peserta Muskercab karena HTI telah jelas-jelas tidak mengakui Pancasila dan NKRI. Sikap HTI tersebut dinilai sebagai perbuatan makar terhadap negara.

Keputusan sidang Pleno yang dibacakan KH Junaidi Hidayat tersebut selanjutnya disahkan sebagai keputusan Muskercab PCNU Jombang secara resmi oleh Pimpinan Sidang, KH Dr. Isrofil Amar.

Terbukti Makar, Muskercab NU Jombang Rekomendasikan HTI Dibubarkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Terbukti Makar, Muskercab NU Jombang Rekomendasikan HTI Dibubarkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Terbukti Makar, Muskercab NU Jombang Rekomendasikan HTI Dibubarkan

PCNU Jombang juga merekomendasikan kepada Pemerintah Kabupaten Jombang untuk melarang seluruh aktifitas HTI. (Ma/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Humor Islam, AlaNu, Pesantren ArrahmahMedia.Com

Rabu, 14 Februari 2018

Belajar Toleransi Dari Gus Mus di "Pesantren BPUN" Way Kanan

Way Kanan, ArrahmahMedia.Com 

Peserta Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) yang digelar PC GP Ansor Way Kanan Lampung di Pesantren Assiddiqiyah 11 mulai 25 April 2016 mengaku bertambah wawasan dengan mengikuiti program utama Yayasan Mata Air tersebut, diantaranya memahami penghormatan akan keberagaman.

Belajar Toleransi Dari Gus Mus di Pesantren BPUN Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Toleransi Dari Gus Mus di Pesantren BPUN Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Toleransi Dari Gus Mus di "Pesantren BPUN" Way Kanan

"Setelah menyaksikan dokumentasi Gus Mus dari acara Mata Najwa yang ditonton bersama, saya semakin banyak sekali mendapat wawasan, bahkan dapat mengetahui apa itu toleransi antaragama," ujar Rio Irawan, di Gunung Labuhan, Ahad (1/5).

KH Mustofa Bisri yang akrab dipanggil Gus Mus adalah seorang ulama dan budayawan yang lahir di Rembang Jawa Tengah 10 Agustus 1944. "Dakwah yang dilakukan Gus Mus sangat baik," kata Rio lagi.

Dalam dokumentasi tersebut, Gus Mus menakutkan zaman sekarang akan kembali pada zaman Habil dan Qobil. "Semangat mengajar Gus Mus dengan dakwah memanusiakan manusia sangat luar biasa," paparnya.

ArrahmahMedia.Com

Rio menambahkan, dirinya saat ini dapat mengetahui jika Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi asli kiai-kiai dari pesantren yang memiliki semangat kebangsaan yang luas sebagaimana disampaikan Gus Mus.

Selain memberikan pelajaran ilmu akademik lima hari dalam seminggu, bimbingan ruhani istiqomah dan mengajarkan kecakapan hidup seperti ilmu jurnalistik dibimbing Ketua PC GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto. BPUN, juga mendiskusikan keteladanan dan inspirasi dari sejumlah tokoh, seperti Mooryati Soedibyo, Dian Sastrowardoyo, Jenderal Hoegeng, serta tokoh-tokoh internal NU seperti,  Hadratus Syekh Hasyim Asyari, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dan Gus Mus guna menambah wawasan dan memotivasi peserta yang dikarantina selama satu bulan penuh di pesantren asuhan Kiai Imam Murtadlo Sayuthi.

"Mars pertama GP Ansor jelas bunyinya, darah dan nyawa telah kuberikan. Apa yang kami lakukan dengan menggelar BPUN masih jauh dari larik pertama mars pemuda NU, tapi itu penegasan bahwa menjadi kader harus siap berbuat positif bagi organisasi dengan perbuatan," ujar Gatot menambahkan. (Firman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Sholawat, Meme Islam, Pesantren ArrahmahMedia.Com

Selasa, 06 Februari 2018

Dinamika Ketenagakerjaan Era Digital Harus Disikapi Optimis

Jakarta, ArrahmahMedia.Com 

Teknologi dan informasi memiliki peranan besar terhadap perkembangan ekonomi negara-negara dunia yang berdampak terhadap bidang-bidang lain, salah satunya bidang ketenagakerjaan. Untuk itu, Pemerintah Indonesia mengajak seluruh stakeholder ketenagakerjaan agar optimis dalam menyambut kedatangan era digital tersebut, bahwa implikasi era digital dapat berampak positif terhadap kondisi ketenagakerjaan Indonesia.

“Sudah saatnya secara confidence kita mengantisipasi dampak nyata apa saja kepada pekerja, kepada jenis pekerja, kepada dunia usaha, kepada pelaku bisnis, kepada pemerintah atas segala rapid atau perubahan yang sangat cepat ini yang sangat dinamis dari teknologi yang saat ini sudah terjadi,” ujar Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Ketenagakerjaan RI (Kemnaker) Indah Anggoro Putri di Kantor Kemnaker, Jakarta Selatan, Jumat (19/5).

Dinamika Ketenagakerjaan Era Digital Harus Disikapi Optimis (Sumber Gambar : Nu Online)
Dinamika Ketenagakerjaan Era Digital Harus Disikapi Optimis (Sumber Gambar : Nu Online)

Dinamika Ketenagakerjaan Era Digital Harus Disikapi Optimis

Menurutnya, Pemerintah Indonesia memiliki atensi yang besar terhadap future of work. Ke depan, bagaimana Indonesia menyikapi perubahan karakter dunia kerja ini harus dibahas bersama oleh seluruh stakeholder ketenagakerjaan.

“Dari sisi pemerintah, deregulasi sudah menjadi keharusan yang mana harus kita lakukan. Me-review aturan-aturan ketenagakerjaan secara mendetail dan spesifik. Dan itu akan memberikan masukan pada rapat-rapat koordinasi dan teknis yang akan menunjang lagi dunia usaha dan kerja di era digitalisasi,” lanjutnya.

ArrahmahMedia.Com

“Marilah kita optimis memasuki era digitalisasi ekonomi yang berdampak pada dunia kerja kita, pada jenis-jenis pekerjaan kita, hubungan kerja kita. Tapi mari kita dengan bersatu seluruh pihak kita bisa mengatasi itu semua,” pungkasnya. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com PonPes, Pesantren ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com

Minggu, 04 Februari 2018

Mbah Muchit Terbaring Sakit

Jember, ArrahmahMedia.Com. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muchit Muzadi terbaring sakit selama beberapa hari di Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya.



Mbah Muchit Terbaring Sakit (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Muchit Terbaring Sakit (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Muchit Terbaring Sakit

Mbah Muchit, panggilan akrab sesepuh NU itu sekarang diboyong ke rumah adiknya KH Hasyim Muzadi di Malang Jawa Timur.

Pada 7 Mei lalu, Mbah Muchit mengantarkan istrinya ke rumah sakit Dr. Sutomo Surabaya untuk operasi katarak. Sebagai seorang suami, tentu saja Mbah Muchit menunggu sang istri tercinta sebelum dan setelah menjalani operasi.

ArrahmahMedia.Com

Begitu operasi selesai, istri Mbah Muchit diboyong ke RSI Surabaya untuk menjalani perawatan. Namun begitu sampai di situ, bukan hanya istri Mbah Muchit dirawat, tapi dirinya sendiri langsung drop, karena kelelahan.

ArrahmahMedia.Com

“Saat menelopon saya, Bapak (Mbah Muchit) bercerita sudah menghabiskan 4 infus,” kata salah satu putri Mbah Muchit, Inayah Sya’roni, Senin (26/5) di Jember.

Inayah menegaksan, sebernarnya dirinya sangat ingin menemani ibunya di Surabaya, tapi karena kesehatannya juga kurang baik akhirnya ayahnya yang menemani sang ibu.

Menurut Inayah, Mbah Muchit telah menjalani opname di rumah sakit tersebut sudah tiga kali dalam beberapa tahun terakhir ini. Persoalannya hanya kelelahan.

Mbah Muchit sebenarnya tak punya penyakit apa-apa. ”Makannya juga lahap, tak ada pantangan. Tapi kalau kecapekan biasanya langsung drop,” katanya.

Kendati demikian, Inayah mengaku gembira karena saat ini Mbah Muchit sudah pulang dari rumah sakit, dan saat ini masih beristirahat di Malang. “Kapan pulang ke Jember, Bapak tidak memastikan. Katanya masih mau istirahat,” pungkasnya. (ary)Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pesantren ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 03 Februari 2018

Habib Prof Quraish Shihab dan Tafsir al-Mizan Syi’ah

Oleh Nadirsyah Hosen

Salah satu alasan Habib Prof Quraish Shihab dituduh beraliran Syi’ah adalah karena dalam kitab tafsir karyanya, yaitu al-Misbah (15 jilid) beliau sering merujuk kepada tafsir al-Mizan karya Muhammad Hussein Thabathabai. Bagaimana ceritanya?

Habib Prof Quraish Shihab dan Tafsir al-Mizan Syi’ah (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Prof Quraish Shihab dan Tafsir al-Mizan Syi’ah (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Prof Quraish Shihab dan Tafsir al-Mizan Syi’ah

Di lemari buku almarhum Abah saya (Prof KH Ibrahim Hosen) ada satu set komplit (21 jilid) tafsir al-Mizan. Sekitar tahun 1990 Abah saya berdecak kagum membaca ulasan dari kitab tafsir ini. Saat itu saya tanyakan kepada Abah kenapa membeli tafsir milik ulama Syi’ah. Abah menjawab, "Ini kitab tafsir bagus, Habib Quraish yang merokemendasikan dan ternyata beliau benar, isinya luar biasa". Saya bertanya, "kalau begitu saya juga boleh membacanya?" Abah mengangguk.

ArrahmahMedia.Com

Jadi kekaguman Habib Prof Quraish Shihab terhadap karya Thabathabai itu sudah sejak dulu. Itu sebabnya kitab tafsir al-Misbah banyak mengutip Tafsir al-Mizan. Tapi apakah fakta ini menjadikan Habib Prof Quraish seorang Syi’ah? Saya berpendapat, "Tidak!"

Pertama, merupakan hal wajar seorang Profesor seperti Quraish Shihab dan juga Abah saya membaca kitab lintas mazhab. Di lemari buku Abah saya juga terdapat Tafsir al-Kasyaf karya Zamakhsyari yang beraliran Mutazilah. Juga ada kitab Nailul Authar karya Syaukani yang berasal dari tradisi Syi’ah Zaidiyah dan kabarnya kemudian beralih ke mazhab Zahiri. Karya Syaukani lainnya yang saya temukan di perpustakaan Abah saya adalah kitab Irsyadul Fuhul yang mengupas Ushul al-Fiqh. Jadi, para guru besar itu memang membaca dan mengoleksi literatur dalam berbagai mazhab. Kalau gak gitu, ya bukan guru besar dong.

ArrahmahMedia.Com

Kedua, keliru besar kalau dikatakan tafsir al-Misbah hanya merujuk pada tafsir al-Mizan. Kalau kita baca dengan seksama, Habib Prof Quraish itu sangat mengagumi al-Biqai yang menulis kitab tafsir Nazm al-Durar. Karya al-Biqai ini menjadi bahan kajian disertasi Habib Prof Quraish Shihab di al-Azhar Cairo. Selain al-Biqai dan Thabathabai, beliau juga merujuk kepada Tafsir fi Zhilalil Quran karya Sayid Quthb dan al-Tahrir wa al-Tanwir karya Ibn Asyur. Jadi, paling tidak ada 4 kitab tafsir utama yang dirujuk oleh Tafsir al-Misbahnya Habib Prof Quraish Shihab: Thabathabai yang beraliran Syi’ah Imamiyah, al-Biqai yang bermazhab Syafii, Sayid Quthb ulama konservatif dari Ikhwanul Muslimin, dan Ibn Asyur ulama progresif bermazhab Maliki.

Selain keempat kitab tafsir utama di atas, Habib Prof Quraish Shihab juga merujuk kepada kitab tafsir lainnya semisal Tafsir al-Wasith karya Sayid Thantawi (mantan Grand Syekh al-Azhar) dan juga kitab tafsir klasik semisal Tafsir al-Qurtubi. Dengan kata lain, tafsir al-Misbah tidak hanya merujuk kepada tafsir Syi’ah karya Thabathabai tapi juga kitab tafsir lainnya termasuk tafsir konservatif milik Sayid Quthb. Tentu menakjubkan karya tokoh Syi’ah-Sunni, progresif dan konservatif, klasik-modern semuanya diakomodir dalam tafsir al-Misbah. Ini menunjukkan pendekatan beliau yang luas dan luwes.

Ketiga, meskipun beliau mengutip tafsir al-Mizan karya ulama Syi’ah, namun dalam beberapa pembahasan Habib Prof Quraish Shihab terang-terangan menunjukkan perbedaan pandangan beliau dengan Thabathabai. Ini sikap ilmiah beliau. Misalnya yang paling jelas dalam Surat Abasa. Sejak lama ulama Sunni berbeda pandangan dengan ulama Syi’ah mengenai apakah Nabi Muhammad yang mendapat teguran Allah dalam surat tersebut atau orang lain. Setelah menguraikan pandangan Thabathabai, beliau menulis: "Hanya saja, alasan-alasan yang dikemukakannya tidak sepenuhnya tepat". Dengan kata lain, Habib Prof Quraish Shihab berpandangan sama dengan ulama Sunni dalam surat Abasa ini. Ini bukti yang teramat jelas bahwa beliau bukan seorang Syi’ah.

Perbedaan pandangan lainnya bisa terlihat saat membahas surat al-Hujurat ayat 12. Thabathabai menganggap larangan ghibah di ayat ini hanya berlaku jika yang digunjing itu seorang Muslim sebagaimana diisyaratkan oleh kata "akh/saudara" dalam ayat ini. Dengan merujuk pada QS al-Taubah: 9 yang menegaskan persaudaran seagama itu menggunakan redaksi "ikhwanukum fid din" Habib Prof Quraish Shihab tidak menyetujui pendapat Thabathabai di atas. Dengan demikian beliau berpendapat kata "akh/saudara" dalam al-Hujurat:12 tidak hanya berlaku untuk sesama Muslim. Ini contoh bagaimana Tafsir al-Misbah berbeda pandangan dengan Tafsir al-Mizan. Dalam dunia ilmiah, hal ini wajar saja.

Dari ketiga poin di atas terbantahlah mereka yang menganggap Habib Prof Quraish Shihab sebagai Syi’ah dikarenakan beliau merujuk kepada tafsir al-Mizan ulama Syi’ah. Semoga ini bisa meluruskan fitnah keji yang terus menerus diedarkan oleh sementara pihak terhadap beliau. Semoga beliau selalu dikaruniai kesehatan dan dijaga oleh Allah dalam membina umat lewat keteladanan, kesantunan dan kedalaman ilmu beliau.

Penulis adalah Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School



Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pesantren ArrahmahMedia.Com

Rabu, 24 Januari 2018

Gus Dur Nilai Positif-Negatif Pemerintahan SBY-JK

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memberikan penilaian terhadap kinerja pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK) selama tahun 2006. Sejumlah titik positif dan negatif dibeberkan Gus Dur dalam refleksi akhir tahunnya.

Penilaian obyektif mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu meliputi bidang hukum, kerukunan antarumat beragama, ekonomi dan keamanan. Hal itu disampaikannya kepada wartawan di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (26/12).

Gus Dur Nilai Positif-Negatif Pemerintahan SBY-JK (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Nilai Positif-Negatif Pemerintahan SBY-JK (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Nilai Positif-Negatif Pemerintahan SBY-JK

Menurutnya, tahun 2006 ini merupakan tahun dengan catatan positif bagi kerukunan umat beragama. Konsep dialog antarumat beragama mulai dijalankan semua pihak untuk mencegah tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama.

“Catatan positif pemerintahan SBY-JK dalam kehidupan beragama lebih dialogis. Imbasnya tentu sangat baik, seperti kemarin, FBR (Forum Betawi Rempug: Red) bisa mengamankan Natal. Ini kan sebuah prestasi,” terang Gus Dur.

Di bidang hukum, Gus Dur menilai, pemerintah dinilai masih terkesan setengah hati dalam menetapkan kebijakan hukum. Ia mencontohkan proses penegakan hukum dalam upaya pemberantasan korupsi. “Karena itu, wajar saja bila masyarakat belum sepenuh hati bisa percaya kepada pemerintah,” tandasnya.

Tak berbeda dengan bidang hukum, menurut Gus Dur, sektor ekonomi pun dinilainya masih buram. Khususnya masalah kenaikan harga beras yang terjadi belakangan ini.

ArrahmahMedia.Com

“Permasalahan harga beras, kenapa bisa terjadi spekulasi macam itu. Nah, ini kan salah satu indikasi bahwa perekonomian kita masih buram,” ujarnya.

Secara umum, lanjut Gus Dur, hal itu disebabkan karena konsep perekonomian di negeri ini masih bertumpu pada konsep pertumbuhan. Padahal, katanya, konsep pertumbuhan ekonomi itu harus diiringi dengan konsep pemerataan dalam mewujudkan kemakmuran. “Harus ada keseimbangan antara pertumbuhan dan distribusi,” pungkasnya.

Dalam bidang keamanan, Gus Dur menyoroti perkembangan politik di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) pasca-pemilihan kepala daerah (Pilkada) beberapa waktu lalu. Menurutnya, tak ada ada yang perlu dikhawatirkan terhadap situasi keamanan di Serambi Mekah tersebut, selama Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih dipertahankan.

“Kemenanganan kelompok GAM (Gerakan Aceh Merdeka: Red) dalam Pilkada memang harus disambut baik, tapi tetap kita harus waspada. Kewajiban kita bersamalah untuk mempertahankan TNI di Aceh,” tegas Gus Dur.

ArrahmahMedia.Com

Ketua Umum Dewan Syura DPP Partai Kebangkitan Bangsa itu menyimpulkan tiga hal terhadap kepemimpinan SBY-JK. Selama tahun 2006, ia menilai hubungan kedua pemimpin itu berlangsung tidak harmonis.

Pertama, menurutnya, kepemimpinan di Indonesia masih belum pasti, penuh keragu-raguan. Kedua, masyarakat belum punya kepercayaan terhadap pemerintah. Ketiga, kebijakan pemerintah dalam banyak hal masih separuh-separuh.

Selain mengungkapkan refleksi kepemimpinan SBY-JK selama 2006, Gus Dur juga mengungkapkan prediksi pemerintahan tahun 2007. Dia menilai pemerintahan akan lebih baik jika SBY-JK tidak lagi jalan sendiri-sendiri.

Namun ada hal yang patut diwaspadai juga, yaitu adanya kepentingan-kepentingan dari golongan tertentu atau partai tertentu yang terkadang mempengaruhi proses politik di Indonesia. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pesantren, Pertandingan ArrahmahMedia.Com

Jumat, 29 Desember 2017

KOPRI PMII Subang Gelar Pelatihan Public Speaking

Subang, ArrahmahMedia.Com. Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Cabang Subang menggelar pelatihan Keterampilan berbicara di depan public (Public Speaking,red) di Gedung Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Subang. 

KOPRI PMII Subang Gelar Pelatihan Public Speaking (Sumber Gambar : Nu Online)
KOPRI PMII Subang Gelar Pelatihan Public Speaking (Sumber Gambar : Nu Online)

KOPRI PMII Subang Gelar Pelatihan Public Speaking

Acara yang diikuti oleh utusan PMII Se Jawa Barat tersebut dilakasanakan selama dua hari, yakni pada hari Sabtu-Ahad (15-16 Juni 2013).

Ketua Panitia, Gita Sugiarti menjelaskan kegiatan tersebut merupakan penjewantahan kaderisasi di tubuh badan semi otonom dari Pergerakan PMII Cabang Subang.

ArrahmahMedia.Com

“Kegiatan ini adalah bagian dari proses kaderisasi yang berjenjang, dimana setiap kader PMII harus mempunyai kemampuan berbicara dengan melakukan permainan bahasa di depan public. Terlebih, PMII sebagai agent of change (agen perubahan) harus menguasai keahlian ini karena ide dan gagasannya sudah sepatutnya menjadi konsumsi publik,” paparnya.

ArrahmahMedia.Com

Ketua KOPRI Cabang Subang, Neneng Nurhasanah menegaskan bahwa dengan kegiatan tersebut akan menjawab segala kegelisahan selama ini bahwa mahasiswi selalu dianggap kurang mahir dalam berbicara di muka umum.

“Ini akan menegaskan dan menjawab segala keresahan yang selama ini selalu menghantui mahasiswi-mahasiswi di berbagai kampus. Dengankemampuan berdialektika dan beretorika di depan umum, tentu suatu saat tidak akan dipandang sebelah mata lagi,” tegas Neneng.

Hadir sebagai pemateri diantaranya Ketua Gerakan Pemuda Ansor cabang Subang, Asep Alamsyah Heridinata, Pengurus Besar (PB) PMII Chepy Aprianto, Ketua Jaringan Kerukunan Antar Ummat Beragama (Jakatarub,red) yang juga sebagai Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Wawan Gunawan, Majelis Pembina Cabang (Mabincab) PMII Subang, Zainal Abidin, Pengurus KOPRI Jawa Barat, Ai Rahma, Evie Nafsiah, dan Yessy Fitrianti, serta dihadiri oleh Ketua Umum PMII Cabang Subang Ade Mahmudin.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pesantren, Ubudiyah, IMNU ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock