Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2018

Silaturahmi ke KPUD, PMII Probolinggo Dorong Pemilu Sukses

Probolinggo, ArrahmahMedia.Com. Dalam rangka ikut mendukung suksesnya pemilu, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Probolinggo mendatangi kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) setempat di Jalan Panglima Sudirman 440 Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (3/04).

Silaturahmi ke KPUD, PMII Probolinggo Dorong Pemilu Sukses (Sumber Gambar : Nu Online)
Silaturahmi ke KPUD, PMII Probolinggo Dorong Pemilu Sukses (Sumber Gambar : Nu Online)

Silaturahmi ke KPUD, PMII Probolinggo Dorong Pemilu Sukses

Agenda silaturahmi ini dimaksudkan untuk memberikan dorongan moral kepada Komisioner KPUD Kabupaten? Probolinggo yang baru dilantik 30 Maret 2014 kemarin.

Pagi itu kunjungan ke kantor KPUD diikuti sejumlah jajaran PC PMII Probolinggo, antara lain Ketua PC PMII Probolinggo Muhammad Towil, Sekretaris PC PMII Probolinggo Muhamat Sahidin, Ketua Bidang Kaderisasi PC PMII Probolinggo Beny Yusman, Wakil Bendahara PC PMII Probolinggo Ahmad Yani, dan Biro Kaderisasi Korp PMII Putri (Kopri) PMII Probolinggo Linda Indriyana.

ArrahmahMedia.Com

Kepada komisioner KPUD, Ketua PC PMII Probolinggo Muhammad Towil menegaskan tentang komitmen PMII yang akan mendukung penuh kerja-kerja KPU. “PMII siap membantu mensukseskan pemilu, ” katanya.

Sebagai KPU yang baru dilantik, kata Towil, KPU lumrah butuh dukungan moril. Namun, menurut Towil, PMII tetap akan melakukan kontrol sosial kepada KPUD. “KPU harus bekerja dengan optimal. Sesuai kode etik. Jika nanti dalam menjalankan tugasnya KPU terindikasi melanggar undang-undang dan kode etik, PMII siap melakukan aksi protes turun jalan di kemudian hari,” tegas Towil.

ArrahmahMedia.Com

Dalam kesempatan ini, PC PMII Probolinggo bertemu dengan empat komisioner KPUD, yakni Isfak Yulianto, Ainul Yaqin, Sugeng, dan Erfan Ghazi. Muhammad Zubaidi selaku ketua KPUD Kabupaten Probolinggo tidak bisa menemui, karena mengawal pengiriman logistik ke beberapa kecamatan setempat.

Ainul Yaqin perwakilan komisioner KPUD menyampaikan terima kasih atas dukungan moril PMII Probolinggo. Menurutnya, KPUD ke depan butuh kerja sama dari semua pemangku kepentingan yang ada demi kesuksesan pemilu.

“Terima kasih atas dukungan morilnya. Kerja sama harus preventif. Jangan menunggu kami melakukan kesalahan. (Jika) terindikasi ke sana saja, silahkan peringati kami. Inilah yang disebut mitra itu,” kata Ainul. ?

Ainul menambahkan, peran PMII Probolinggo diharapakan juga mendorong aksi pemilu damai. “Saya harap semua bekerja sama untuk pemilu bermartabat dan berkualitas,” pungkasnya.? (Beny/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pertandingan, Hikmah, Hadits ArrahmahMedia.Com

Jumat, 09 Februari 2018

Hari Buruh, Sarbumusi Ajukan Enam Tuntutan

Jakarta, ArrahmahMedia.Com?

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) menggelar istighotsah buruh dan konferensi press terkait dengan peringatan hari Buruh pada 1 Mei 2017, di gedung DPP Sarbumusi, Jalan Raden Saleh 1 No. 4 Kenari Senen Jakarta, (30/04).?

Dalam konpres tersebut, Sarbumusi mengajukan enam tuntutan, yaitu, menolak revisi UU nomor 13 tahun 2003 di tahun politik, menolak revisi UU nomor 21 tahun 2000, menolak dan melawan segala bentuk kriminalisasi terhadap para aktifis buruh dan pekerja, menolak politik upah murah, tegakkan hukum dengan tegas terhadap semua kasus-kasus ketenagakerjaan, serta menolak tenaga kerja asing (TKA) tanpa keahlian.

Hari Buruh, Sarbumusi Ajukan Enam Tuntutan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Buruh, Sarbumusi Ajukan Enam Tuntutan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Buruh, Sarbumusi Ajukan Enam Tuntutan

Sekjen DPP Sarbumusi Eko Darwanto menjelaskan kondisi buruh belum beranjak dari berbagai kasus yang belum terselesaikan. Saat ini buruh masih dianggap sebagai bagian dari proses produksi yang bisa diberhentikan kapan saja. Banyak buruh belum mendapatkan hak-haknya.

"Para pengusaha harus mempunyai kesepakatan kerjasama yang baik," ungkap Eko Darwanto.

"Isu tahun ini yang akan dibawa adalah ingin menjadikan kemitrakerjaan secara sentral," lanjut Eko.

ArrahmahMedia.Com

Masih dalam forum yang sama, Sekretaris Jenderal Sarbumusi ingin berlakukan sentralisasi ketenagakerjaan dengan menolak otonomi ketenagakerjaan sehingga pengelolaan ketenagakerjaan sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat. (Robiatul Adawiyah/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Tokoh, Pertandingan ArrahmahMedia.Com

Kamis, 25 Januari 2018

Zam-zam untuk Jamaaah Haji Dijamin Asli

Jeddah, ArrahmahMedia.Com. Apa kira-kira oleh-oleh dari Mekkah yang paling dicari? Ada dua, air zam-zam dan kurma. Karena itulah Elmazroi, perusahaan pengemasan air zam-zam untuk jamaah haji saat kepulangan, menjamin kualitas dan orisinalitas air yang ditemukan Nabi Ismail itu tidak berubah hingga sampai di Tanah Air.

Zam-zam untuk Jamaaah Haji Dijamin Asli (Sumber Gambar : Nu Online)
Zam-zam untuk Jamaaah Haji Dijamin Asli (Sumber Gambar : Nu Online)

Zam-zam untuk Jamaaah Haji Dijamin Asli

Artinya, zam-zam mereka asli.

"Kami jamin kualitas zam-zam ini karena diterima dari sumbernya yang dikelola kerajaan. Dikemas secara higenis dan aman hingga sampai ke Tanah Air," kata Ali Saieed Elmazroi, di Jeddah, Sabtu. Nama keluarganya dijadikan merek dagang zam-zam itu.

ArrahmahMedia.Com

Ali yang didampingi Manajer Marketing Elmazroi, Ujang Abdullah, menjelaskan, kualitas zam-zam itu dijamin Kerajaan Arab Saudi karena yang mengelola air zam-zam adalah pemerintah.

ArrahmahMedia.Com

"Kami hanya membayar kontainer air, sedangkan isinya gratis untuk jamaah haji," kata Ali Elmazroi.

Untuk tahun ini, Kerajaan Arab Saudi mengganti kemasan yang semulanya berbentuk jerigen kotak, maka tahun ini berbentuk galon berisi lima liter. Galon dinilai lebih kuat dan tidak tumpah.

Perusahaan itu sudah bekerja sama dengan Garuda sejak 11 tahun lalu. "Kami mampu mempersiapkan air zam-zam hingga 140.000 galon perbulan sesuai dengan kebutuhan jamaah haji Indonesia," kata pengusaha yang juga memasok air zam-zam untuk kebutuhan di tanah air.

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber  : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nahdlatul, Anti Hoax, Pertandingan ArrahmahMedia.Com

Rabu, 24 Januari 2018

Gus Dur Nilai Positif-Negatif Pemerintahan SBY-JK

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memberikan penilaian terhadap kinerja pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK) selama tahun 2006. Sejumlah titik positif dan negatif dibeberkan Gus Dur dalam refleksi akhir tahunnya.

Penilaian obyektif mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu meliputi bidang hukum, kerukunan antarumat beragama, ekonomi dan keamanan. Hal itu disampaikannya kepada wartawan di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (26/12).

Gus Dur Nilai Positif-Negatif Pemerintahan SBY-JK (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Nilai Positif-Negatif Pemerintahan SBY-JK (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Nilai Positif-Negatif Pemerintahan SBY-JK

Menurutnya, tahun 2006 ini merupakan tahun dengan catatan positif bagi kerukunan umat beragama. Konsep dialog antarumat beragama mulai dijalankan semua pihak untuk mencegah tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama.

“Catatan positif pemerintahan SBY-JK dalam kehidupan beragama lebih dialogis. Imbasnya tentu sangat baik, seperti kemarin, FBR (Forum Betawi Rempug: Red) bisa mengamankan Natal. Ini kan sebuah prestasi,” terang Gus Dur.

Di bidang hukum, Gus Dur menilai, pemerintah dinilai masih terkesan setengah hati dalam menetapkan kebijakan hukum. Ia mencontohkan proses penegakan hukum dalam upaya pemberantasan korupsi. “Karena itu, wajar saja bila masyarakat belum sepenuh hati bisa percaya kepada pemerintah,” tandasnya.

Tak berbeda dengan bidang hukum, menurut Gus Dur, sektor ekonomi pun dinilainya masih buram. Khususnya masalah kenaikan harga beras yang terjadi belakangan ini.

ArrahmahMedia.Com

“Permasalahan harga beras, kenapa bisa terjadi spekulasi macam itu. Nah, ini kan salah satu indikasi bahwa perekonomian kita masih buram,” ujarnya.

Secara umum, lanjut Gus Dur, hal itu disebabkan karena konsep perekonomian di negeri ini masih bertumpu pada konsep pertumbuhan. Padahal, katanya, konsep pertumbuhan ekonomi itu harus diiringi dengan konsep pemerataan dalam mewujudkan kemakmuran. “Harus ada keseimbangan antara pertumbuhan dan distribusi,” pungkasnya.

Dalam bidang keamanan, Gus Dur menyoroti perkembangan politik di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) pasca-pemilihan kepala daerah (Pilkada) beberapa waktu lalu. Menurutnya, tak ada ada yang perlu dikhawatirkan terhadap situasi keamanan di Serambi Mekah tersebut, selama Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih dipertahankan.

“Kemenanganan kelompok GAM (Gerakan Aceh Merdeka: Red) dalam Pilkada memang harus disambut baik, tapi tetap kita harus waspada. Kewajiban kita bersamalah untuk mempertahankan TNI di Aceh,” tegas Gus Dur.

ArrahmahMedia.Com

Ketua Umum Dewan Syura DPP Partai Kebangkitan Bangsa itu menyimpulkan tiga hal terhadap kepemimpinan SBY-JK. Selama tahun 2006, ia menilai hubungan kedua pemimpin itu berlangsung tidak harmonis.

Pertama, menurutnya, kepemimpinan di Indonesia masih belum pasti, penuh keragu-raguan. Kedua, masyarakat belum punya kepercayaan terhadap pemerintah. Ketiga, kebijakan pemerintah dalam banyak hal masih separuh-separuh.

Selain mengungkapkan refleksi kepemimpinan SBY-JK selama 2006, Gus Dur juga mengungkapkan prediksi pemerintahan tahun 2007. Dia menilai pemerintahan akan lebih baik jika SBY-JK tidak lagi jalan sendiri-sendiri.

Namun ada hal yang patut diwaspadai juga, yaitu adanya kepentingan-kepentingan dari golongan tertentu atau partai tertentu yang terkadang mempengaruhi proses politik di Indonesia. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pesantren, Pertandingan ArrahmahMedia.Com

Kamis, 11 Januari 2018

Mayoritas Anak Muda Tolak Radikalisme Agama

Solo, ArrahmahMedia.Com. Dari hasil riset yang dilakukan Seknas Gusdurian bersama INFID, diperoleh hasil yang cukup optimistis untuk masa depan anak muda Indonesia. Hasil penelitian tersebut adalah mayoritas anak muda bersikap menolak terhadap tindakan radikal dan ekstrem berbasis agama.

“Mayoritas anak muda tidak menyukai tindakan radikal dan ekstrem berbasis agama meski ada kecenderungan penurunan toleransi di kalangan anak muda,” papar Manajer Advokasi INFID Beka Ulung Hapsara pada diskusi publik ‘Sosialisasi Hasil Survei Persepsi Orang Muda dan Pemetaan Internet – Social Media, Tentang Radikalisme dan Ekstrimisme di Indonesia’ yang diselenggarakan di The Sunan Hotel Solo, Kamis (15/12).

Mayoritas Anak Muda Tolak Radikalisme Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Mayoritas Anak Muda Tolak Radikalisme Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Mayoritas Anak Muda Tolak Radikalisme Agama

Lebih lanjut dipaparkan Beka, bahwa nilai-nilai kebinnekaan masih menjadi faktor utama yang membuat anak muda? bangga akan Indonesia dan pemersatu generasi muda.

ArrahmahMedia.Com

Sementara itu, perwakilan dari Seknas Gusdurian Tata Khoiriyah, menjelaskan kegiatan ini merupakan sosialisasi hasil survei yang dilakukan pada periode 26 Oktober-26 November 2016.

ArrahmahMedia.Com

Selain melakukan survey di 6 kota, pihaknya juga melakukan pemetaan internet dan media sosial. “Secara khusus dilakukan untuk mengetahui narasi utama ekstremisme, memahami pesan-pesan kunci ekstremisme, dan mengetahui pola penyebaran pesan ekstremisme,” kata dia.

Hasil survei ini kemudian diharapkan dapat tersosialisasikan kepada aktor-aktor pemerintahan dan pimpinan organisasi kemasyarakatan di tingkat lokal, serta media massa lokal maupun nasional. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pertandingan, Pemurnian Aqidah ArrahmahMedia.Com

Selasa, 26 Desember 2017

Agama, Rohingya, dan Masa Depan Kemanusiaan

Oleh Aswab Mahasin

Sebagai sistem kepercayaan, agama hanya mempunyai kapasitas mengajak. Ada dua pilihan ketika seseorang diajak oleh agama “mempercayai” atau “mengingkari”. Secara personal, tidak ada konsekuensi logis bagi mereka yang mengingkarinya, namun bagi mereka yang meyakininya (telah sukarela menjadi penganutnya), maka ada tuntunan yang harus dijaga dan disemarakan, khususnya esensi dari nilai-nilai agama itu sendiri. Agama tidak memuat unsur paksaan, melainkan agama memuat batasan-batasan nilai, norma, aturan, dan konsep sebagai realisasi keimanan seseorang.

Agama, Rohingya, dan Masa Depan Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Agama, Rohingya, dan Masa Depan Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Agama, Rohingya, dan Masa Depan Kemanusiaan

Agama dalam catatan Karen Armstrong, “akhir abad ke-20, agama akan menjadi kekuatan yang harus dipertimbangkan. Dewasa ini, kita tengah dipertontonkan kebangkitan agama yang menyebar luas, padahal sebelumnya kisaran tahun 1950 dan 60-an oleh banyak orang, khususnya kaum sekuler cenderung menganggap agama sebagai takhayul primitif yang ditumbuh-kembangkan oleh manusia rasional dan beradab. Ada juga yang memprediksi kematian agama sudah di depan mata. Sedangkan prediksi terbaik pada saat itu, agama hanya akan menjadi aktifits privat dan marginal, yang tidak lagi dapat mempengaruhi peristiwa-peristiwa dunia.”

Sekarang ini, kembangkitan agama dipertanyakan kembali, agama yang seharusnya konsisten mengusung misi perdamaian, terlihat lebih lihai menebarkan konflik. Walaupun jumlah antara kedamaian dan konflik, lebih dominan situasi damai. Hanya saja, ketika konflik meletus atas nama agama sulit untuk dilerai, pasti berkepanjangan, dan efeknya menyebar kemana-mana.

Munculnya penganut paham radikal atau biasa dikenal juga dengan fundamentalisme merupakan salah satu bagian penyulut api konflik tersebut. Karen Amstrong berpendapat fundamentalisme adalah suatu bentuk keimanan yang bersifat sangat politis, dan sebagian orang melihatnya sebagai bahaya yang mengancam dunia dan kedamaian sipil.

Lanjutnya, fundamentalisme muncul ke permukaan di kebanyakan agama dan menjadi respon mendunia atas ketegangan kehidupan di akhir abad ke-20. Hindu radikal turun ke jalan-jalan untuk membela sistem kasta dan menentang Muslim India; kaum fundamentalisme Yahudi melakukan penghunian ilegal di Tepi barat dan Jalur Gaza serta bersumpah untuk mengusir semua orang Arab dari Tanah Suci mereka; Moral Majority yang dipimpin Jerry Falwell dan Chrsitian Right, yang menganggap Uni Soviet sebagai kerajaan setan, mencapai kekuatan yang hebat di Amerika Serikat selama tahun 1980-an. (Karen Armstrong: 2001). Selain itu, ada laskar ISIS yang mengusik kedamaian Aleppo.

ArrahmahMedia.Com

Baru-baru inikonflik atas nama agama muncul kembali, belum habis berita Israel dan Palestina, menyusul gejolak yang sedang terjadi di Myanmar, di manaumat Islam Rohingya diberangus oleh kelompok Budha Ortodok (katanya). Ini adalah tragedi kemanusiaan yang “parah”. Namun, situasi yang terjadi sekarang di Myanmar kalau kita kaji secara mendalam, seperti yang di tuliskan dalam pernyataan GP Ansor di ArrahmahMedia.Com (judul berita: Ini Pernyataan Sikap GP Ansor Terkait Nasib Rohingya, Arakan, Rakhine, Myanmar) sangat menarik.

GP Ansor dalam pernyataannya, atas dasar laporan UN Office of the High Commissioner for Human Rights (OHCHR) – 2017peristiwa kemanusiaan keji di Myanmar semenjak tahun 2013, 2016, dan menguat di tahun 2017 syarat dengan konflik geopolitik, ada tiga hal yang saya garis bawahi;

Pertama, konflik geopolitik di dasari atas pertarungan kuasa dan kekuasaan (yang tidak seimbang), di daerah Arakan-Rakhine, yang dihuni mayoritas etnis Rohingya, dengan dugaan kuat ada perebutan paksa tanah dan sumber daya, khususnya minyak dan gas (di wilayah-wilayah sekitar).

Kedua, daerah tersebut dilaporkan memiliki cadangan sebesar 1,774 triliun kaki kubik gas dan 1,569 Barel minyak, yang beberapa blok diantara jatuh tempo pada tahun 2017. GP Ansor menyatakan, fenomena minyak dan gas atau kutukan sumber daya, tidak hanya terjadi di Myanmar tetapi juga terjadi di belahan dunia yang lain. Di mana untuk menutup operasi apropriasi sumber daya. GP Ansor menyebutkan operator-operator di lapangan melakukan dengan cara menjijikan, dibungkus dengan konflik antar etnis, antar agama, antar kelompok masyarakat dengan tujuan agar akar masalahnya menjadi kabur.

ArrahmahMedia.Com

Ketiga, Menurut GP Ansor saudara-saudara kita di Rohingya sudah menjadi sasaran khusus dengan operasi terselubung (covered operation) apropriasi kapital dan sumber daya secara biadab dan terencana menyasar praktik serta simbol agama. Membenturkan antar umat beragama termasuk dengan cara membakar al-Qur’an, pemerkosaan di Masjid, mempersenjatai dan memprovokasi warga untuk juga melakukan persekusi terhadap minoritas Rohingya.

GP Ansor juga mencermati, tragedi kemanusian ini karena situaasi dimana pemeluk agama mayoritas yang sebenarnya moderat memilih diam dan bukan membantu melawan saat terjadi persekusi terhadap kaum minoritas. GP Ansor dengan tegas menyatakan, Aung San Suu Kyi, sang penerima Nobel Perdamaian, hanyalah contoh paling memuakan dari diamnya mayoritas. (untuk lebih jelas, bisa membacanya langsung link di atas).

Di lihat dari analisis panjang tersebut, pembantain keji di Rohingya memang layak untuk dikutuk sebagai bentuk kebiadan sejarah umat manusia. Logikanya, kita tidak harus memakai agama untuk mengutuk ini, sisi kemanusiaan kita pun sudah tergugah, bahwa ini adalah tindakan yang sangat tidak manusiawi.?

Khusus mengenai peristiwa Rohingya tersebut, dalam menanggapi hal ini, mungkin yang paling bijak adalah mencoba menyaring seluruh berita, dan menganalisis sebenarnya apa yang terjadi di Rohingya, karena ini bukanlah perseteruan antar kampung. Siapa saja mungkin bisa ikut campur secara lapangan.?

Tentu kita tidak bisa diam, karena ini adalah peristiwa kemanusiaan paling parah di Asia Tenggara. Namun, untuk menyelesaikan masalah konflik, hubungannya bukanlah kirim militer dan kemudian berperang, melainkan ada pendekatan yang dilakukan antar negara, berdiplomasi, mengurai konflik, dan Indonesia dalam hal ini telah melakukan tindakan tersebut, bekerja sama dengan 11 Ormas, salah satunya Nadhlatul Ulama (NU) untuk membentuk aliansi kemanusiaan, dengan fokus pada bantuan kesehatan, makanan dan perlindungan. Sekarang telah akan mengglontorkan bantuan senilai 24 Miliar untuk warga Rakhine di Myanmar dan Ormas NU dan 11 Ormas lainnya melakukan pemberdayaan terhadap warga di Rakhine.

Dengan demikian, memanjatkan doa, dan terus mendukung serta memberi masukan terhadap pemerintah atas peristiwa ini adalah hal yang paling bijak, tidak lantas melampiaskan kemarahan kita, khususnya dilatarbelakangi sentimen keagamaan, dengan menggugat salah satu agama di Indonesia, karena dianggap sebagai agama tertuduh dalam konflik di Myanmar. Mari kita urai sekarng, bagaimana agama-agama dunia, khususnya Islam dalam menyikapi berbagai perbedaannya.

Agama dan sikap kemanusiaan

Berpijak dari hal-hal di atas, agama dalam praksisnya (oleh oknum-oknum tertentu), menjadi alat pertentangan yang strategis, ia dijadikan sebagai alat penindasan. Apalagi jika agama sudah bercampur dengan aktivitas politik arogan. Rumusannya begini, begitu agama diformalkan, baik dalam bentuk pelembagaan doktrin ataupun lainnya, dengan tujuan kepentingan-kepentingan kelompok, baik kepentingan “suara Tuhan” sebagai suara kekuasaan, maupun berbagai kepentingan lain yang memanfaatkan agama, maka agama tidak lagi murni sebagai gerakan persaudaran, perdamaian, dan keselarasan. Melainkan sebagai topeng surgawi semata.?

Pada tataran berhubungan dengan Tuhan, antar semua agama tidaklah ada pertentangan, apalagi konflik yang mengakar, wilayah keTuhan hanya melahirkan perdebatan teologis semata. Konflik terlahir dari mulut manusia yang mengatasnamakan sebagai pembela Tuhan demi keteraturan dunia. Akhirnya, dunia ini seakan-akan menjadi tunggal, kalau tidak sesuai dengannya maka akan salah. Lebih parah lagi, jika agama ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan duniawi. Seperti yang dikatakan Sidney Hook, perbedaan antar-agama tidak terletak pada “nilainya”, tetapi lebih pada “kosmologinya”.

Seperti halnya ilustrasi, memakan daging anjing bagi umat agama tertentu adalah haram, bagi satu umat agama lainnya hal yang biasa. Ini sama saja kita dengan membandingan antara satu merek mobil A dengan mobil B, yang jelas-jelas pabrikan dan buku panduannya berbeda. Itu bukanlah substansi yang harus kita perdebatkan, karena kebenaran esensinya antara mobil A dan mobil B, mempunyai tujuan yang sama, yakni “keselamatan dalam berkendara”. Artinya, yang kita cari adalah keamanan dan perdamaian.

Bukan berarti dalam hal ini kita menyamaratakan agama, melainkan sebagai pijakan paradigma kita dalam berpikir, untuk meminimalisir konflik. bahwa sesungguhnya Tuhan menghendaki perbedaan, seperti halnya apa yang pernah di tuliskan oleh Muhammad Afiq Zahara dalam opininya di ArrahmahMedia.Com (Terorisme Jihad), “Diversitas, kemajemukan dan kebhinekaan merupakan ketetapan dan fitrah kehidupan. Tuhan sendiri tidak menghendaki menciptakan umat yang satu”, seperti firmanNya (Q.S. Hud [11]: 118: “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.”

Komarudin Hidayat, dalam tulisannya “Agama-agama Besar Dunia: Masalah Perkembangan dan Interelasi”, menyatakan, “Suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah (truism) bahwa bumi ini hanya satu, sementara penghuninya terkotak-kotak ke dalam berbagai suku, ras, bangsa, profesi, kultural dan agama. Membayangkan bahwa dalam kehidupan ini hanya terdapat satu agama, rasanya hanya ilusi belaka.”

Untuk menjaga masa depan kemanusiaan, yang perlu ditanamkan adalah sebuah paradigma berpikir yang utuh mengenai sebuah ajaran, kita tidak bisa larut dalam pemahaman segregatif, di mana klaim kebenaran menjadi mutlak dalam setiap agama. Padahal, esensi dari beragama bukanlah mencari “kebenaran” untuk “menyalahkan”, melainkan kebenaran itu difungsikan sebagai jalan perdamain dan menebarkan kasih sayang. Karena ketika orang merasa benar, maka di situlah ia menjadi salah.?

Agama jika dipahami secara mendalam dan komperhensif akan melahirkan sifat humanis, toleran dan menghormati orang lain. Dengan demikian, yang dibangun tidak hanya pemahaman kemajemukan semata, melainkan pemahaman yang sesuai dengan konteks kekinian, tentu diambil dari ajaran agama yang utuh. Dalam Islam sendiri kita diajarkan oleh Allah sebuah penghormatan yang besar untuk menghormati yang lain dari kita, “tidak ada paksaan dalam beragama...”, “untukmulah agammu, dan untukkulah agamaku..”, “kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu: Maka barangsiapa yang ingin beriman hendaklah berimanlah”.

Di lihat dari penggalan pesan-pesan Allah SWT tersebut, Allah mengajarkan kepada kita bahwa prinsip beragama harus merupakan sebuah pilihan bukan paksaan. Karena dasar dari keimanan selain keTuhanan adalah kemanusiaan. Dan agama menolak kekerasan sebagai prinsip sebuah tindakan. Kekerasan merupakan tindakan amoral. Moralitas agama adalah kesadaran, kesalehan, yang selalu mendorong pemeluknya untuk akrab satu sama lain.?

Dan jangan dipahami keliru, pluralisme, saling menghormati dan berdampingan dengan agama lain, lantas kita mencampuradukan ajaran-ajaran agama tersebut, saya katakan, “tidak”. Karena tentu takarannya tidak akan sama. Pastinya adalah, keyakinan kita (keimanan) terhadap Allah SWT harus terus disemarakan untuk membangun sebuah sistem berketuhanan yang mampu menajawab persoalan-persoalan kemanusiaan. Agar masa depan kemanusiaan, yang dilatarbelakangi oleh misi agama yaitu perdamaian bisa terselenggara dengan baik.

Saya tutup tulisan ini dari perkataan seorang atheis, Friedrich Nietzche, “Hidup ini hanya masalah selera”. Agama adalah pilihan selera makan, tujuan makan adalah rasa kenyang, pepatah Jawa mengatakan, “Weteng ngelih pikiran ngalih, weteng wareg pikiran jejeg”. Jadi, beragama dengan memahami segala aspeknya—mutlak sebagai gizi kehidupan kita, sehat jasmani dan rohani.

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Khutbah, Sholawat, Pertandingan ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 23 Desember 2017

Madrasah di Sumenep Kenalkan Aswaja pada Murid Baru

Sumenep, ArrahmahMedia.Com. Madrasah Sumber Payung, Desa Bataal Barat, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, memperkenalkan wawasan Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) kepada 233 murid baru tingkat madrasah tsanawiyah (MTs) dan madrasah aliyah (MA).

Madrasah di Sumenep Kenalkan Aswaja pada Murid Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah di Sumenep Kenalkan Aswaja pada Murid Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah di Sumenep Kenalkan Aswaja pada Murid Baru

Materi Keaswajaan menjadi salah satu materi Masa Orientasi Siswa Baru (MOS) yang diselenggarakan pada Rabu-Jumat (5-7/8). Tema MOS bertajuk "Budayakan Membaca. Dengan Membaca Kita Dapat Mengetahui Isi Dunia".

Wakil Kepala Bidang Kesiswaan MA Sumber Payung, Ahmad Humaidi mengatakan, materi keaswaan penting diperkenalkan kepada siswa baru agar tak mudah terkecoh dengan paham-paham baru yang juga mengaku-mengaku sebagai paham Aswaja.

ArrahmahMedia.Com

"Di tengah banjirnya informasi, murid perlu diperkenalkan wawasan keaswajaan supaya tidak mudah terbuai dengan paham-paham yang mengidentifikasi diri sebagai Aswaja, namun ajarannya tidak mencerminkan ajaran Aswaja," tuturnya kepada ArrahmahMedia.Com.

ArrahmahMedia.Com

Selain dengan memasukkan materi keaswajaan pada tiap pelaksaan MOS, kata Humaidi, materi keaswajaan telah masuk madrasah. "Di madrasah juga ada pelajaran Aswaja, baik tingkat MTs maupun MA" bebernya.

Mantan Wakil Ketua PC IPNU Kabupaten Sumenep, M Kamil Akhyari dalam pemaparannya di hadapan peserta MOS mengatakan, salah satu ciri Aswaja Nahdlatul Ulama yaitu bermadzhab dalam pemahaman keagamaan.

"Ciri bermadzhab inilah yang membedakan Aswaja NU dengan Wahabi yang juga mengaku sebagai penganut paham Aswaja," paparnya, Rabu.

Kedua, Aswaja NU mengedepankan maslahah dan persatuan demi terjaminnya kebebasan umat beragama. Seperti Islam tidak harus menjadi label negara selama nilai dan dakwah Islam bisa dijalankan dengan baik.

"Aswaja NU menganggap tidak perlu mendirikan negara Islam (khilafah islamiyah) di Indonesia seperti yang digaungkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)," jelasnya.

Ketiga, mengedepankan kesantunan dan akhlak mulia. "Aswaja NU tidak menyukai cara-cara kekerasan dalam mengatasi masalah seperti yang dilakukan teroris dan ISIS," tuturnya. (M Kamil Akhyari/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Fragmen, Pertandingan ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock