Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2018

Silaturahmi ke KPUD, PMII Probolinggo Dorong Pemilu Sukses

Probolinggo, ArrahmahMedia.Com. Dalam rangka ikut mendukung suksesnya pemilu, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Probolinggo mendatangi kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) setempat di Jalan Panglima Sudirman 440 Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (3/04).

Silaturahmi ke KPUD, PMII Probolinggo Dorong Pemilu Sukses (Sumber Gambar : Nu Online)
Silaturahmi ke KPUD, PMII Probolinggo Dorong Pemilu Sukses (Sumber Gambar : Nu Online)

Silaturahmi ke KPUD, PMII Probolinggo Dorong Pemilu Sukses

Agenda silaturahmi ini dimaksudkan untuk memberikan dorongan moral kepada Komisioner KPUD Kabupaten? Probolinggo yang baru dilantik 30 Maret 2014 kemarin.

Pagi itu kunjungan ke kantor KPUD diikuti sejumlah jajaran PC PMII Probolinggo, antara lain Ketua PC PMII Probolinggo Muhammad Towil, Sekretaris PC PMII Probolinggo Muhamat Sahidin, Ketua Bidang Kaderisasi PC PMII Probolinggo Beny Yusman, Wakil Bendahara PC PMII Probolinggo Ahmad Yani, dan Biro Kaderisasi Korp PMII Putri (Kopri) PMII Probolinggo Linda Indriyana.

ArrahmahMedia.Com

Kepada komisioner KPUD, Ketua PC PMII Probolinggo Muhammad Towil menegaskan tentang komitmen PMII yang akan mendukung penuh kerja-kerja KPU. “PMII siap membantu mensukseskan pemilu, ” katanya.

Sebagai KPU yang baru dilantik, kata Towil, KPU lumrah butuh dukungan moril. Namun, menurut Towil, PMII tetap akan melakukan kontrol sosial kepada KPUD. “KPU harus bekerja dengan optimal. Sesuai kode etik. Jika nanti dalam menjalankan tugasnya KPU terindikasi melanggar undang-undang dan kode etik, PMII siap melakukan aksi protes turun jalan di kemudian hari,” tegas Towil.

ArrahmahMedia.Com

Dalam kesempatan ini, PC PMII Probolinggo bertemu dengan empat komisioner KPUD, yakni Isfak Yulianto, Ainul Yaqin, Sugeng, dan Erfan Ghazi. Muhammad Zubaidi selaku ketua KPUD Kabupaten Probolinggo tidak bisa menemui, karena mengawal pengiriman logistik ke beberapa kecamatan setempat.

Ainul Yaqin perwakilan komisioner KPUD menyampaikan terima kasih atas dukungan moril PMII Probolinggo. Menurutnya, KPUD ke depan butuh kerja sama dari semua pemangku kepentingan yang ada demi kesuksesan pemilu.

“Terima kasih atas dukungan morilnya. Kerja sama harus preventif. Jangan menunggu kami melakukan kesalahan. (Jika) terindikasi ke sana saja, silahkan peringati kami. Inilah yang disebut mitra itu,” kata Ainul. ?

Ainul menambahkan, peran PMII Probolinggo diharapakan juga mendorong aksi pemilu damai. “Saya harap semua bekerja sama untuk pemilu bermartabat dan berkualitas,” pungkasnya.? (Beny/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pertandingan, Hikmah, Hadits ArrahmahMedia.Com

Rabu, 28 Februari 2018

Menengok Eksotisme Maroko dalam Balutan Tiga Budaya

Negeri Maghrib (matahari terbenam), ketika kita mendengar kalimat ini pastinya akan tertuju ke Afrika Utara, tepatnya Kerajaan Maroko. Yah Maroko..., sebuah negara Islam yang bermadzhab Maliki tulen di ujung barat dunia Islam. Agama Islam di negeri ini dikembangkan dengan menghargai tradisi lokal, seperti yang dilakukan oleh para dai atau Walisongo ketika menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Kini Maroko dikenal sebagai negara Arab yang gaul dengan nuansa Eropanya yang kuat, tetapi tak mau kehilangan akar tradisi Arab dan Islam. Kebebasan berpendapat dan tradisi berpikir sangat terbuka di negeri Ibnu Batutah ini. Pemerintah tidak memaksa rakyatnya untuk berpola pikir secara kaku atau seragam. 

Menengok Eksotisme Maroko dalam Balutan Tiga Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Eksotisme Maroko dalam Balutan Tiga Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Eksotisme Maroko dalam Balutan Tiga Budaya

Barangkali salah satunya adalah karena faktor penguasa Maroko saat ini, Raja Muhammad VI, seorang lulusan Eropa yang berpikiran modern. Ia bertekad untuk memodernkan Maroko, namun tetap melandaskannya kepada ajaran Islam. Wajar, jika berbagai aliran Islam banyak berkembang di negeri ini. 

ArrahmahMedia.Com

Maroko juga dijuluki dengan “Negeri Tiga Budaya”. Dikarenakan tercampurnya akulturasi tiga budaya yang kental, yaitu budaya Timur Tengah, Eropa, dan Afrika. Letak geografis Maroko yang berada di benua Afrika menjadikan Maroko berbudaya Afrika, Kebudayaan Arab Timur Tengah yang diadopsi di sini menjadikan Maroko bernuansa Negeri Timur Tengah dan letak Maroko yang berdekatan dengan Eropa, membuatnya sangat eksotis dengan nuansa Eropanya.

Dari sisi pariwisata, Maroko merupakan negeri eksotis yang kaya dengan obyek wisatanya, ada Gurun Sahara yang merupakan gurun terluas di Afrika, kemudian multaqol bahrain (pertemuan dua laut) antara laut Pasifik dan laut Mediterania, dimana tempat ini digambarkan dalam Firman Tuhan, Al-Qur’an Surat Al-Rahman ayat 19-20, ada juga kota bersejarah, Fez yang disebut kota budaya dan tentunya masih banyak yang lainnya. Maka tak heran, jika Maroko merupakan salah satu negara favorit wisatawan dunia yang sering mereka kunjungi.

ArrahmahMedia.Com

Buku yang ditulis oleh kader-kader muda NU ini, mengungkap keeksotisan Maroko dari berbagai sisi; kebudayaan, religiusitas keagamaan, sejarah ulama, pariwisata dan peluang beasiswa yang diberikan kepada pelajar-pelajar dunia, termasuk Indonesia. 

Selain versi cetak, terdapat versi ebook yang  dapat didownload di: wayangforce.co.id, getthescoop.com dan qbaca.com

Judul Buku : Maroko Negeri Eksotis di Ujung Barat Dunia Islam

Penulis: Muannif Ridwan, Hafidzul Umam, Kusnadi El Ghezwa dkk.

Editor: Ardian Syam

Penerbit: Jentera Pustaka

Cetakan: I, Januari 2014

Tebal: 295 Halaman

ISBN: 978-602-14169-8-3

Peresensi: Muannif Ridwan

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Hadits ArrahmahMedia.Com

Selasa, 27 Februari 2018

Mahasiswi Universitas NU Sidoarjo Raih Juara II Kompetisi Esei Berbahasa Inggris

Sidoarjo, ArrahmahMedia.Com - Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida), Jayanti Putri Permatasari, meraih Juara II pada ajang English Essay Competition yang diselenggarakan oleh Universitas PGRI Adi Buana Surabaya pada Sabtu 6 Mei 2017 kemarin. Jayanti Putri berhasil masuk babak final bersama enam mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Surabaya.

Awalnya ia tidak berharap dan menyangka bahwa esei yang ia tulis masuk babak final. Selain itu, ia satu-satunya wakil dari Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo.

Mahasiswi Universitas NU Sidoarjo Raih Juara II Kompetisi Esei Berbahasa Inggris (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswi Universitas NU Sidoarjo Raih Juara II Kompetisi Esei Berbahasa Inggris (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswi Universitas NU Sidoarjo Raih Juara II Kompetisi Esei Berbahasa Inggris

"Sayakan wakil UNU satu-satunya, dan harus melawan peserta dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Jawa Timur, mungkin se-Indonesia. Jadinya saya tidak berharap menang," kata Putri kepada ArrahmahMedia.Com, Selasa, (9/5).

ArrahmahMedia.Com

Eseinya berjudul Reflecting Cirebon Local Wisdom Through "Memitu" Tradition, ternyata berhasil menarik perhatian juri saat presentasi. Judul tersebut menjelaskan tentang keunikan proses upacara adat dengan pelbagai macam alasan dan filosofinya.

Selain itu, esei itu juga berisi strategi pelestarian upacara itu dengan sistem LLT (love, learn and teach). Artinya, generasi muda harus mencintai kemudian mempelajari dan mengajarkan berbagai hal mengenai Memitu.

ArrahmahMedia.Com

Memitu merupakan upacara adat menyambut kedatangan bayi yang akan dilahirkan. Upacara ini dilaksanakan pada usia kehamilan 7 bulan. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Warta, Hadits ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 03 Februari 2018

Agama dan Pertentangan Makna Aksi Terorisme

Oleh Guntur Pribadi



Terlalu dangkal bila agama dipandang sebagai pemantik dari kekerasan. Apalagi memosisikan agama sebagai pembenar dari tindakan radikalisme dan terorisme, tentu adalah perspektif yang sempit. Agama yang seharusnya sebagai jalan keluar dari permasalahan tidaklah tepat disebut-sebut sebagai biang dari munculnya ekstremisme.

Agama dan Pertentangan Makna Aksi Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Agama dan Pertentangan Makna Aksi Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Agama dan Pertentangan Makna Aksi Terorisme

Namun, jika pada kenyataannya dalam banyak kasus, agama dianggap sebagai pemantik lahirnya kekerasan, maka ini sesungguhnya bukanlah bersumber pada agamanya. Melainkan, lebih tepatnya adalah merupakan tindakan pelaku yang mengatasnamakan agama.

Agama yang keberadannya menjadi sumber utama kedamaian, keadilan, dan kebahagiaan bagi pemeluknya, adalah tidak relevan kemudian dikorelasikan sebagai lahirnya tindakan radikalisme dan terorisme.

ArrahmahMedia.Com

Namun, memang tidaklah mudah pula membantah, bila ada anggapan bahwa pemahaman agama yang keliru dan jauh dari makna tujuan agama yang damai, kemudian dipandang sebagai faktor lahirnya tindakan intoleransi yang merupakan benih dari radikalisme dan ekstremisme.

Agama yang hakikinya mengajarkan kebaikan, kejujuran, kesantunan dalam hubungan manusia antara manusia dan manusia dengan lingkungan, yang terjadi justru dimaknai dalam interpertasi dan realisasi yang menyimpang. Akibatnya, tujuan utama manusia memeluk agama mengalami disorientasi: jauh dari tujuan beragama yang bermakna pada keselamatan, kemaslahatan, dan kedamaian.

ArrahmahMedia.Com

Padahal, jika dipahami dari tujuan utama setiap manusia beragama, maka tindakan kekerasan dan kerusakan, sesungguhnya bukanlah ajaran agama. Sebab, setiap agama, bila sungguh-sungguh direnungkan dengan akal sehat dan rasa kemanusiaan, agama tidaklah memerintahkan kepada pemeluknya untuk merusak, membunuh, menebar kebencian, apalagi melakukan tindakan radikalisme.

Nalar agama yang substansinya berisi nilai-nilai kebajikan dan kedamaian tidaklah relevan kemudian maknanya dibajak dalam wujud aksi radikalisme dan ekstremisme yang belakangan ini menjadi ancaman serius hampir di setiap negara-negara dunia. Justru yang terjadi adalah paradoks ketika simbol-simbol agama itu sendiri dipaksakan sebagai dalil pemantik dari aksi terorisme.

Memaksakan dalil-dalil agama dalam konteks penghalalan darah terhadap seseorang yang berbeda aliran dan ideologi juga tidaklah bisa dibenarkan begitu saja. Sebab, bila diimani nilai-nilai agama dengan nalar kasih sayang, maka tindakan teror, radikalisme, dan ekstremisme terhadap perbedaan, adalah merupakan aksi yang kontradiktif dengan tujuan hakiki agama itu sendiri yakni sebagai motivasi menebarkan kedamaian ke seluruh umat dunia.

Sekalipun hingga hari ini tidak ada penjelasan yang memuaskan akal sehat kita mengenai spirit terorisme yang terjadi, sebagai manusia yang memiliki keimanan dalam beragama tentunya kita menolak bila semangat agama dipandang dan dijadikan sebagai pemantik tindakan-tindakan destruktif.

Bila ingin disebutkan, maka aksi teror yang menyeret simbol-simbol agama secara serampangan adalah tindakan manusia yang dapat dikatakan tidaklah beragama dan juga tidak manusiawi. Mendasarkan agama sebagai motivasi dan spirit atas aksi terorisme lebih tepatnya adalah sebagai tindakan yang kehilangan akal.

Dalam Islam sendiri misalnya, seperti kita tahu, di antara tujuan hakiki agama itu sendiri dihadirkan kepada umat sebagai pembawa semangat rahmatan lil ‘alamin (kasih sayang Tuhan untuk semua manusia) (Q.S. Al-Anbiya: 107). Konsep “kasih sayang Tuhan untuk seluruh manusia” ini tidaklah terbatas. Akan tetapi, melingkupi seluruh umat di dunia.

Islam juga mengajarkan betapa pentingnya memelihara kehidupan seorang manusia yang dipandang sama halnya memelihara kehidupan manusia seluruhnya (Q.S. Al-Maidah: 32). Tak itu saja, aksi menimbulkan kebinasaan (mudarat) terhadap diri sendiri merupakan tindakan yang sangat dilarang dalam Islam (Q.S. Al-Baqarah: 195).

Berangkat dari risalah rahmatan lil ‘alamin dan pentingnya memelihara kehidupan manusia, maka sangatlah bertentangan kemudian tindakan radikalisme dan ekstremisme dilekatkan pada ajaran dan simbol-simbol agama. Sebab sangat jelas, kehadiran agama tidaklah membawa kehancuran pada manusia, melainkan menebarkan kedamaian dan kasih sayang sebagai amanah dari Tuhan.

Merespon aksi terorisme dan radikalisme yang belakangan ini mengalami penetrasinya akibat spirit dan motivasi kepentingan individu atau kelompok tertentu, maka penting kemudian menempatkan pemahaman bahwa tindakan ekstremisme yang muncul adalah sebagai akibat adanya gejala fanatik yang kehilangan akal sehat dan rasa kemanusiaan.

Dalam upaya membendung menjalarnya pemikiran dan gerakan radikal lebih luas di negeri ini, maka penting kemudian peran agama meresponnya terhadap penyimpangan-penyimpangan aksi teror yang terjadi belakangan ini. Peran tokoh dan institusi agama dalam hal adalah sangatlah strategis, terutama dalam memberikan pencerahan terhadap makna dan tema-tema agama dalam konteks kemanusiaan, kasih sayang, dan kedamaian, melalui jalur pendidikan dan gerakan dakwah.

Selain itu pula, peran pesantren sebagai agen perubahan dan pemberdayaan sosial juga tak kalah strategis dalam menekan gejala pemikiran dan gerakan intoleransi terhadap keberagaman dan perbedaan di tengah-tengah umat. Keberadaan pesantren sebagai pranata pendidikan yang dikenal memiliki kosentrasi pada pengajaran agama, sangat efektif dalam upaya menumbuhkan kesadaran beragama yang santun, moderat, toleransi, dan damai.

Segala upaya dalam membendung dan menekan penyebaran pemikiran serta gerakan intoleransi tersebut tentunya akan lebih memiliki kekuatan yang lebih luas lagi dengan melibatkan peran elemen masyarakat. Keberadaan elemen masyarakat akan menjadi kekuatan tersendiri, terutama dalam membangun opini positif terhadap keberagaman dan perbedaan.

Kita tahu, belakangan ini, kekuatan opini masyarakat telah memiliki posisinya dalam menggalang gerakan sosial. Karena itulah, memberdayakan partisipasi elemen sipil dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan dan keutuhan NKRI adalah hal yang hendaknya terus digalang melalui jalur-jalur pendidikan, dakwah, dan advokasi.

Kita tentu percaya, bahwa Tuhan menurunkan agama adalah untuk manusia. Dan manusialah yang sesungguhnya memerlukan agama sebagai media dalam mencapai kedamaian dan kebahagiaan kehidupan yang tidak saja di dunia, tapi juga di kehidupan yang diimani kelak. Karena itu, tindakan destruktif dengan alasan agama, tentunya tidaklah dapat diterima, baik itu oleh nalar manusia maupun nalar ajaran agama itu sendiri.

Penulis adalah pegiat Lembaga Bantuan Hukum dan Alumni UIN Sunan Ampel Surabaya



Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Hadits, Ahlussunnah ArrahmahMedia.Com

Senin, 29 Januari 2018

Lomba Baca Kitab Kuning Diadakan di UIN Yogyakarta

Sleman, ArrahmahMedia.Com. Sebagai kelanjutan kegiatan pelatihan Qiro’atul Kutub atau baca kitab kuning yang diadakan Oktober lalu, Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan (BEM-J) Perbandingan Madzhab dan Hukum (PMH) Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan Lomba Qiro’atul Kutub (LQK).

LQK yang terbagi ke dalam kategori tingkat Ula dan Wushtha ini dilaksanakan selama dua hari, yaitu pada hari Rabu (12/12) untuk tingkat Wushtha dan Kamis (13/12) untuk tingkat Ula. 

Lomba Baca Kitab Kuning Diadakan di UIN Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Lomba Baca Kitab Kuning Diadakan di UIN Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Lomba Baca Kitab Kuning Diadakan di UIN Yogyakarta

Menurut keterangan Septi Karisyati, ketua panitia acara LQK, penentuan kategori dalam LQK kali ini berdasarkan pada usia serta jenjang pendidikan.

Tingkat Wushtha diperuntukkan bagi para peserta yang duduk di bangku Madrasah Aliyah ke bawah atau santri pondok pesantren yang berusia di bawah 19 tahun. Sedangkan untuk tingkat Ula ketentuan usianya adalah19-30 tahun dan berstatus sebagai mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com

Sebanyak 26 orang peserta berpartisipasi dalam LQK tingkat Ula, dari target awal sebanyak 20 orang mahasiswa di UIN. Sedangkan untuk tingkat Wushtha diikuti oleh 14 orang peserta dari berbagai Madrasah Aliyah dan pondok pesantren se Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 

Menurut Septi saat ditemui di tengah-tengah kesibukan pelaksanaan LQK, pemenang LQK dari masing-masing kategori akan diumumkan pada acara Seminar Nasional yang akan berlangsung pada Jum’at (14/12) ini. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Nur Hasanatul Hafshaniyah

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nusantara, Hadits, Humor Islam ArrahmahMedia.Com

Rabu, 24 Januari 2018

Dalil dan Bacaan Wirid Bada Shalat

Ada sebuah maqalah yang mengatakan bahwa man laysa lahu wirdun fahuwa qirdun, barang siapa yang tidak wirid, maka dia seperti monyet. Memang jika diangan-angan salah satu kewajiban manusia adalah mengingat Sang Khaliq. Apabila seseorang tidak pernah mengingat (wiid) Sang Khaliq maka orang itu bagaikan seekor monyet yang tidak tahu diri dan tidak mengerti balas budi.

Begitulah perintah Allah swt dalam suarat an-Nisa’ ayat 103 diterangkan:

فإذا قضيتم الصلاة فاذكروا الله قياما وقعودا وعلى جنوبكم

Dalil dan Bacaan Wirid Bada Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Dalil dan Bacaan Wirid Bada Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Dalil dan Bacaan Wirid Bada Shalat

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.  

Secara praktis, melatih membiasakan wirid dapat dimulai dari hal yang paling kecil dan sederhana. Misalkan dengan meluangkan waktu setelah shalat fardhu membaca istighfar sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw dalam haditsnya

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ: “كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ”. قَالَ الْوَلِيدُ فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ.

Tsauban bercerita, “Jika Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam selesai shalat beliau beristighfar tiga kali, lalu membaca “Allahumma antas salam wa minkas salam tabarokta ya dzal jalali wal ikrom”. Al-Walid (salah satu perawi hadits) bertanya kepada al-Auza’i, “Bagaimanakah (redaksi) istighfar beliau?”. “Astaghfirullah, astaghfirullah” jawab al-Auza’i.

ArrahmahMedia.Com

Atau dengan keterangan lebih lengkap bacaan dzikir setelah shalat yang paling minimal adalah:

...اَسْتَغْفِرُاللهَ اْلعَظِيْمَ (Astaghfirullahal adhim) 3x ...لاَاِلٰهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهْ لَهُ اْلمُلْكُ وَلَهُ اْلحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ         (La ilaha illallah wahdahu lasyarikalah, lahul mulku walahul hamdu yuhyi wa yumit wa huwa ‘ala kulli syaiin qadir) 3x ...اَللّهُمَّ اَجِرْنَا مِنَ النَّارِ  (allahumma ajirna minannar) 3x اَللّهُمَّ اَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ وَاِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ وَاَدْخِلْنَا اْلجَنَّةَ دَارَالسَّلاَمِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَاذَاْلجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ        (Allahumma antas salam wa minkas salam wa ilaika ya’udus salam fahayyina rabbana bis salam wa adkhilnal jannata darassalam tabarakta rabbana wa ta’alaita ya dzal jalali wal ikram)  

Kemudian setelah terbiasa hendaknya ditingkaykan dengan menambah wirid sebagaimana anjuran Rasulullah saw

وروى أبو هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال :  من سبح الله في دبر كل صلاة ثلاثا وثلاثين ØŒ وحمد الله ثلاثا وثلاثين ØŒ وكبر الله ثلاثا وثلاثين ØŒ فتلك تسعة وتسعون ØŒ وقال تمام المائة : لا إله إلا الله وحده لا شريك له ØŒ له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير ØŒ غفرت خطاياه ولو كانت مثل زبد البحر  أخرجه مسلم في صحيحه

ArrahmahMedia.Com

Bahwa Rasulullah saw pernah berkata ‘barang siapa setelah shalat membaca tasbih 33 kali, hamdalah 33 kali, takbir 33 kali, sehingga jumlahnya 99 dan menyempurnakannya dengan bacaan La ilaha illallah wahdahu lasyarikalah, lahul mulku walahul hamdu yuhyi wa yumit wa huwa ‘ala kulli syaiin qadir, Allah akan mengampuni segala dosanya walau sebanyak buih di lautan.

Artinya alangkah sempurnanya jika wirid setelah shalat di atas ditambah dengan bacaan:

سُبْحَانَ الله  Subhanallah  33x اْلحَمْدُ لله    Alhamdulillah  33x اَللهُ اَكْبَرُ    Allahu Akbar  33x  Ø§ÙÙ„اَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمُلْكُ وَلَهُ اْلحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ       (La ilaha illallah wahdahu lasyarikalah, lahul mulku walahul hamdu yuhyi wa yumit wa huwa ‘ala kulli syaiin qadir)  

 

Redaktur: Ulil Hadrawy . Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Bahtsul Masail, Hadits, AlaSantri ArrahmahMedia.Com

Kamis, 18 Januari 2018

Jubah Hitam dan Miss Jinjing di Sekitar Nabawi

Madinah, ArrahmahMedia.Com

Belanja seringkali menjadi kata pertama yang identik dengan perjalanan/touring/travelling dan pariwisata, termasuk pariwisata religius/ziarah. Belanja dengan berbagai kroniknya menjadi prioritas pembahasan bagi setiap orang yang akan bepergian atau melancong. Terutama bagi kaum hawa, tak perduli latarbelakang sosial, asal daerah maupun ideologi politik dan keagamaan. Belanja telah menjadi satu tarikan nafas dalam setiap langkah para pelancong/peziarah.

Dari sini, tempat-tempat pelancongan berkembang menjadi kawasan perbelanjaan yang terus berbenah dan berlomba memanjakan pengunjung. Dalam hal ini, tak terkecuali adalah kawasan Masjid Nabawi. Hotel-hotel mewah yang mengapit seluruh sisi Masjid Nabawi, selain menyediakan penginapan super mewah juga menawarkan wisata belanja yang memanjakan pengunjung.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock