Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Januari 2018

Donor Darah GP Ansor Waykanan Diminati Banyak Warga

Waykanan, ArrahmahMedia.Com. Antusias masyarakat kabupaten Waykanan Lampung mengikuti donor darah cukup tinggi. Aksi sosial yang digelar GP Ansor dan sejumlah institusi untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-87 berhasil mencapai 37 kantung darah sehubungan pihak Palang Merah Indonesia (PMI) kehabisan stok kantung untuk menampung darah.

Donor Darah GP Ansor Waykanan Diminati Banyak Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Donor Darah GP Ansor Waykanan Diminati Banyak Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Donor Darah GP Ansor Waykanan Diminati Banyak Warga

"Jumlah kantung darah dihasilkan pada kegiatan kami gelar bersama Komisi Pemilihan Umum (KPU), Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu), Alumni Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN), Palang Merah Indonesia (PMI), dan Gusdurian Lampung sejumlah itu kendati yang ingin donor lebih dari jumlah tersebut," ujar Ketua PAC GP Ansor Way Tuba Agung Rahadi Hidayat di Blambangan Umpu, Rabu (28/10).

Selaku koordinator kegiatan "Bakti Sosial Memperingati Hari Sumpah Pemuda dan Deklarasi Anti Golput" dengan tema "Menjaga. Mengawal. Merayakan Keberagaman", yang ditunjuk Ketua GP Ansor Gatot Arifianto, Agung mengucapkan terima kasih atas partisipasi warga daerah itu.

ArrahmahMedia.Com

"GP Ansor dan seluruh panitia menghaturkan terima kasih. Semoga amal ibadah para pedonor dinilai baik oleh Allah SWT," paparnya.

ArrahmahMedia.Com

Kasi SMA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Waykanan Ahmad Herwanto menilai upaya GP Ansor merayakan Sumpah Pemuda dengan donor darah sebagai upaya positif.

"Namun intensitasnya semoga bisa terus ditambah mengingat donor darah belum populer bagi masyarakat daerah ini. Lihat saja yang ikut donor darah, sebagian besar justru aparatur sipil negara. Ke depan bagaimana caranya agar masyarakat bisa berpartisipasi aktif," ujar warga kelurahan Blambangan Umpu itu lagi.

Humas PMI Lampung Utara Syaiful Anwar menilai upaya donor darah pada peringatan Sumpah Pemuda sangat baik. Pihaknya juga meminta maaf sehubungan kantung darah yang dibawa tidak sebanding dengan masyarakat yang ingin donor darah.

Donor darah dan deklarasi anti golput diramaikan oleh sejumlah ASN, Satpol PP, anggota pemadam kebakaran, relawan demokrasi, KNPI dan pelajar SMAN 1 Blambangan Umpu. (Syuhud Tsaqafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Tokoh, News, Anti Hoax ArrahmahMedia.Com

Jumat, 19 Januari 2018

Usai Dilantik, IPNU-IPPNU Lasem Raker Bersama

Rembang, ArrahmahMedia.Com. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Lasem periode 2013-2015 secara resmi dilantik di Gedung KPRI Handayani Kecamatan Sarang, Rembang, Jawa Tengah, Ahad (15/12).

Usai Dilantik, IPNU-IPPNU Lasem Raker Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Dilantik, IPNU-IPPNU Lasem Raker Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Dilantik, IPNU-IPPNU Lasem Raker Bersama

Pimpinan Wilayah IPNU dan IPPNU Jawa Tengah melantik pengurus PC IPNU Lasem yang diketuai Muhammad Saiful Anam, pengurus PC IPPNU Lasem yang diketuai Azizah Dewi R. Usai pelantikan, semua pengurus IPNU-IPPNU Lasem langsung mengadakan rapat kerja (raker) cabang untuk menyusun agenda kegiatan selama satu periode ke depan.?

Meski keduanya berbeda kepengurusan, IPNU dan IPPNU mengadakan rapat tersebut secara bersama-sama. Ketua panitia Rokib mengatakan, hal ini dilakukan agar program kerja yang sudah menjadi gagasan para pengurus selama ini tidak tertunda dan bisa segera dilaksanakan.

ArrahmahMedia.Com

Raker di antaranya memutuskan bahwa pembentukan dan pengembangan ranting di wilayah cabang IPNU-IPPNU Lasem menjadi program prioritas. Saiful Anam berkomitmen pihaknya akan menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh. Dia berharap, seluruh pengurus dapat bekerja secara kompak dan maksimal.

Ketua PCNU Lasem H Sholahudin Fatawi menyampaikan, IPNU dan IPPNU merupakan wadah organisasi yang menyediakan kader-kader penerus NU di masa mendatang. Menurut dia, organisasi ini merupakan tempat belajar, berfikir dan mengambil keputusan.

ArrahmahMedia.Com

Sholahudin berharap, pengurus baru dapat melanjutkan kiprah perjuangan NU. “NU sejak dulu selalu berperan aktif dalam kebangsaan baik dalam kemerdekaan, pemberontakan PKI ataupun terorisme,“ katanya.

Hadir dalam pelantikan tersebut segenap pengurus PCNU Lasem beserta badan otonom NU setempat, pimpinan komisariat dan pimpinan ranting se-cabang Lasem, perwakilan pondok pesantren, tokoh masyarakat, dan sejumlah setempat. (Sayuti/Asmu’i/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com News, Hikmah ArrahmahMedia.Com

Rabu, 17 Januari 2018

Urgensi Ilmu Nahwu dalam Penurunan Wacana Publik Keislaman

PENGANTAR REDAKSI: ArrahmahMedia.Com akan memuat pemikiran-pemikiran tentang ilmu nahwu yang dikupas oleh Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Jerman, Syafiq Hasyim. Tulisan yang direncanakan bersambung ini akan dimuat setiap hari Senin. Selamat membaca.

Nahwu, biasa dikenal oleh kalangan santri sebagai bagian ilmu alat, adalah ilmu yang sangat fundamental untuk dikuasai jika kita ingin mempelajari Islam dari literatur-literatur yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya, baik klasik maupun modern.

Urgensi Ilmu Nahwu dalam Penurunan Wacana Publik Keislaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Urgensi Ilmu Nahwu dalam Penurunan Wacana Publik Keislaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Urgensi Ilmu Nahwu dalam Penurunan Wacana Publik Keislaman

Dikatakan sebagai alat karena kegunaan ilmu adalah sebagai perangkat membaca, memahami dan memaknai dari bahasa nativenya, bahasa Arab, ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing lainnya. Kalangan antropolog menyebutkan jika penguasaan bahasa asli adalah hal sangat penting dalam memperkuat kredibilitas sebuah hasil ilmu atau hasil riset. Mereka memasukkan masalah ini sebagai bagian dari the politics of nativeness. Dengan kata lain, ilmu Nahwu adalah was?’il menuju pengetahuan yang mendekati kepada kebenaran. Kenapa saya sebut sebagai “mendekati kebenaran,” karena kebenaran Nahwiyyah adalah kebenaran pengetahuan yang bersifat aturan kebahasaan, sementara masih ada jenis kebenaran lain yang didapatkan oleh ilmu atau cara lain juga.

ArrahmahMedia.Com

Namun, jika kita beri peringkat, kebenaran yang dihasilkan oleh Nahwu adalah kebenaran yang sangat tinggi derajatnya karena dengan ilmu ini pemaknaan pertama atas sumber-sumber Islam –al-Qur’an dan Sunnah—bisa didapatkan. Meskipun sekolah-sekolah Islam juga mengajarkan

Nahwu, namun ilmu ini diajarkan secara lebih mendalam di dalam lingkungan pesantren. Itupun masing-masing pesantren melakukannya secara berbeda-beda pula. Pesantren-pesantren tradisional (salaf) biasanya mengajarkan kitab-kitab Nahwu yang tingkatannya lebih rumit dan sulit dibandingkan dengan pesantren-pesantren modern (khalaf). Kitab-kitab nahwu yang diajarkan di pesantren tradisional misalnya mulai dari al-Jur?miyyah, Imri?, lalu Alfiyyah Ibn M?lik. Sementara pesantren modern biasanya mengajarkan kitab-kitab seperti Nahwu al-W?i?, J?mi?u al-Dur?s f? al-Lughat al-?Arabiyya, dan lain-lainnya.

ArrahmahMedia.Com

Dengan kata lain, referensi-referensi Nahwu yang diajarkan di pesantren salaf –biasanya dimiliki dan diasuh oleh kyai-kyai Nahdlatul Ulama-- biasanya adalah kitab-kitab lama (klasik), sementara pesantren khalaf lebih memilih kitab-kitab Nahwa baru, atau yang terkini.

Tapi baik belajar dengan kitab lama maupun baru sejatinya yang paling penting di sini adalah kemauan untuk belajar dan berusaha menguasai ilmu ini. Jika tidak menguasai seluruhnnya, sebagianlah yang perlu dikuasasi. Meskipun ilmu Nahwu sangat penting, banyak dari kalangan kita yang sudah mendedikasikan hidupnya menjadi santri, ustadz, pendakwah dan lain sebagainya, tidak memiliki pemahaman yang cukup akan ilmu ini.

Hal yang paling menyedihkan banyak pengajar Islam publik kita, di Mushalla dan TV-TV, yang awam dengan teori-teori Nahwu. Untuk berdakwah memang tidak diwajibkan untuk menguasai Nahwu, namun dalam dakwah diwajibkan untuk menyampaikan kebenaran meskipun pahit. Menyampaikan kebenaran dengan benar adalah jika sang penyampai mengerti alatnya. Perlu diingat di sini bahwa tidak semua orang yang bisa membaca aksara Arab seperti membaca al-Qur’an menguasai ilmu ini. Mampu dan tidaknya penguasaan ilmu Nahwu ini bisa dilihat dari bagaimana dia atau mereka mampu membaca dan memaknai kitab-kitab yang dalam bahasa keseharian kaum santri disebut kitab kuning.

***

Harus diakui bahwa ilmu Nahwu memang merupakan cabang yang susah selain ilmu-ilmu lain yang sejenis seperti ?araf, Balaghah, dan Mantiq. Untuk tahu ilmu ini, butuh kejelian, hafalan yang kuat, dan analisa yang mendalam. Masih ingat bahwa kita –saya dan teman-teman—di madrasah dulu sering menghindari dan berkeluh kesah tentang betapa sulitnya memahami apalagi menerapkan ilmu Nahwu untuk membaca kitab-kitab berbahasa Arab. Ada yang hafal di luar kepala teori-teori Nahwu, namun untuk menerapkan terkadang masih sulit. Bahkan ada yang bisa menghafal kitab Nahwu Alfiyah Ibn M?lik secara sungsang (dari belakang ke depan) namun tetap saja terkadang masih memiliki kesulitan untuk menggunakannya dalam membaca teks Arab terutama yang klasik.

Sebagaimana perlu diketahui bahwa menghafal sungsang adalah salah satu cara pamer kebolehan dalam mempelajari ilmu Nahwu. Namun, belajar Nahwu tidak cukup dengan menghafal, tapi harus memahami. Kalau boleh melakukan kritik, kelemahan pembelajaran Nahwu di pesantren adalah penitikberatannya pada model hafalan, bukan pemahaman. Meskipun tujuan pertama dalam penghafalan adalah untuk menuju pemahaman, namun seringkali karena terlalu banyak “load” menghafalnya sehingga aspek memahinya terkurangi bahkan terabaikan.

Hal ini terutama terjadi pada pesantren-pesantren yang sudah mengadopsi banyak mata pelajaran di dalam sistem kurikulum mereka. Namun kesulitan menguasai ilmu Nahwu tersebut sangat sepadan dengan fungsi dan manfaat ilmu ini sendiri dimana tanpa penguasaan atasnya hampir mustahil seseorang bisa memahami al-Qur’an, Sunnah dan sumber-sumber Islam secara keseluruhan dan mendalam. Penguasaan teori-teori rumit dalam kitab-kitab Nahwu yang diajarkan di pesantren tradisional memiliki garis sejajar dengan penguasaan masalah-masalah agama yang tercantum di dalam kitab Suci dan Sunnah Nabi serta peninggalan ulama-ulama masa lalu.

Kita tahu bahwa struktur gramatik bahasa Arab yang dipakai oleh al-Qur’an tidak akan cukup dibaca dengan kitab-kitab Nahwu yang simpel seperti al-Jur?miyyah ataupun Nahw al-W?i?. Penguasaan Nahwu juga menjadi parameter kadar keulamaan seseorang. Karenanya, jangankan ketahuan membaca kitab-kitab terjemahan, karena ini tindakan pemalas, seorang santri atau bahkan ustadz kredibilitasnya bisa runtuh gara-gara hanya salah membaca harakat (tanda baca) di akhir kata (i?rab) misalnya bagaimana misalnya membaca isim alam (nama-nama benda/alam) seperti kata Ibr?him atau isim taf?l (bentuk lebih atau paling) setelah huruf jer il? (huruf yang bisa menyebabkan bacaan kasrah pada Isim) dan kasus-kasus lain.

Hal seperti ini cukup bisa dipahami karena memang memahami al-Qur’an dan Sunnah Nabi harus dilakukan bukan dengan cara main-main (hawa nafsu), tanpa ilmu, namun harus secara ilmiah. Salah satu cara yang ilmiah itu adalah jika pemahaman akan sumber-sumber utama Islam tersebut didasarkan pada tradisi keilmuan (tur?th) yang mapan yang sudah dibangun secara panjang oleh kalangan ulama masa lalu.

***

Selain ilmu Nahwu, kedudukan ilmu lain juga penting dalam mengkaji Islam, namun jika seseorang ingin menjadikan atau mengaku dirinya sebagai ahli atau ?alim dalam Islam, mau tidak mau harus mau belajar, mengenal dan menguasai ilmu Nahwu supaya pemahamannya tidak separuh-separuh dan juga tidak sesat menyesatkan. Pemahaman teks-teks agama tanpa ilmu-ilmu yang memadai bisa menjerumuskan dirinya sendiri dan juga orang lain. Bahkan menafsirkan hal-hal penting dalam Islam seperti syariah, fiqih, akidah, dengan modal bahasa Arab yang pas-pasan atau apalagi modal terjemahan dan ilmu rungon (mendengarkan) bisa menyebabkan seseorang tersebut, meskipun itu ustadz atau pun pendakwah, jatuh pada sikap liberalisme (asal-asalan) pada satu sisi dan sikap fanatisme yang berlebihan pada sisi lainnya.

Hal yang menyedihkan, dalam konteks public sphere kita, adalah kenyataan dimana tidak hanya orang awam, namun ustadz, pendakwah, dan juga para aktivis Islam masa kini tidak tahu sama sekali apalagi memahami ilmu ini. Pengetahuan Islam mereka lebih banyak tergantung pada buku-buku terjemahan yang kualitas pengalihbahasaannya seringkali sangat rendah daripada pada sumber Islam yang asli yang berbahasa Arab. Fenomena yang lebih aneh lagi yang akhir-akhir ini menggejala adalah jika ada orang yang berusaha menjelaskan Qur’an atau wacana keagamaan Islam lainnya lewat pendekatan Nahwiyyah atau keilmuan lain yang memang sangat memungkinkan terciptanya tafsir-tafsir yang berbeda-beda, mereka atau aktivis-aktivis Islam yang masih awam tersebut sering menganggap penjelasan yang njelimet, rumit dan penuh perdebatan dari pelbagai analisis kebahasaan Nahwiyyah tersebut sebagai bentuk pemahamanan liberalisme Islam.

Padahal yang terjadi adalah mereka tidak mampu atau tidak memiliki alat untuk bisa sampai pada penjelasan-penjelasan Nahwiyyah tersebut. Gejala beragama cepet saji dan ingin simplenya saja ini sudah barang tentu sangat menyedihkan untuk masa depan pengembangan Islam sebagai ilmu. Islam itu bisa bertahan, jika agama ini tidak hanya ditopang oleh praktik keagamaan umatnya, namun juga oleh argumentasi yang rasional. Bahkan bisa dikatakan, tantangan Islam terbesar pada abad ini dan mendatang adalah kemampuan umatnya untuk menyediakan argument bahwa agama ini memang ?li? li kulli zam?n wa mak?n.

Berargumen dengan Nahwu adalah salah satu upaya untuk mempertahankan keislaman. Apa yang ingin saya tekan di sini adalah secara umum, fenomena pemahaman keagamaan yang instans dan simplistik tersebut itu terkait erat dengan krisis akan tingkat pengetahuan masyarakat Islam awam dan juga aktivis-aktivisnya secara khusus atas ilmu Nahwu pada satu sisi dan juga penurunan kualitas pewacanaan Islam di ruang publik secara umum pada sisi yang lainnya. Lihat saja bagaimana media kita yang cenderung simplistik dalam dalam menyajikan program agama dengan dalih apa saja misalnya “pemurnian.”

Padahal apa yang terjadi adalah mereka lebih senang mencari penceramah agama di TV-TV mereka yang berorientasi budaya cepat saji untuk memenuhi rasa dahaga atau lapar sementara yang menghinggapi kalangan sebagaian kalangan Muslim, terutama kalangan kota. Agama hanya dibicarakan pada sisi kepentingan peningkatan “piety,” tapi melupakan sisi keilmuan.

Hasil dari model pewacanaan keagamaan Islam yang demikian adalah keluaran masyarakat yang suka menyederhanakan dan memposisikan agama laksana obat gosok (panacea). Mereka ini tidak tahu atau pura-pura tidak tahyu bahwa di dalam wacana agama ada juga ada perdebatan-perdebatan yang rumit dan sekaligus scientific yang perlu diketahui oleh masyarakat kebanyakan karena perdebatan inilah yang menjadi bagian penting dalam argumentasi agama.

Dengan mengetahui perdebatan-perdebatan Nahwiyyah, proses demokratisasi pemahaman agama juga akan terjadi di dalam masyarakat. Karenanya, apa yang bisa kita lakukan pada tradisi keagamaan Islam yang terlanju demikian seperti ini tidak ada kata lain kecuali melakukan perubahan. Intinya, jika ingin mendalam dalam penguasaan Islam, maka alatnya harus cukup dan ilmu Nahwu menduduki posisi utama dalam masalah ini. Salam.

SYAFIQ HASYIM, Rais Syuriah PCINU Jerman, Meraih Gelar Dr. Phil dari BGSMCS, FU, Berlin.

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com News, Jadwal Kajian, Humor Islam ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 13 Januari 2018

Forum Madin Jateng Susun Bahan Ajar Fiqih

Boyolali, ArrahmahMedia.Com. Perwakilan Madrasah Diniyah dari berbagai daerah di Jawa Tengah mengikuti kegiatan workshop penyusunan bahan ajar mata pelajaran Fiqih Diniyah Taklimiyah Tingkat Ula, di Semarang. Kegiatan ini diselenggarakan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah.

Forum Madin Jateng Susun Bahan Ajar Fiqih (Sumber Gambar : Nu Online)
Forum Madin Jateng Susun Bahan Ajar Fiqih (Sumber Gambar : Nu Online)

Forum Madin Jateng Susun Bahan Ajar Fiqih

Kegiatan untuk angkatan pertama ini berlangsung selama tiga hari, Senin-Rabu (21-23/4). Salah satu peserta dari Boyolali, Choirudin Ahmad mengatakan penyusunan bahan ajar ini perlu bagi Madin.

“Selama ini bahan ajar masih didasarkan pada kebijakan madin di masing-masing daerah,” ujar pengurus madrasah diniyah pesantren Miftahul Huda Cepogo itu.

ArrahmahMedia.Com

Menurutnya, adanya penyamaan bahan ajar ini dapat meningkatkan mutu pelajaran di madin, khususnya di daerah yang minim pesantren. Selanjutnya, dari penyeragaman ini juga dapat diadakan ujian bersama. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Budaya, News ArrahmahMedia.Com

Senin, 08 Januari 2018

Mencicipi Makanan Favorit Sunan Kudus

Kudus, ArrahmahMedia.Com. Selepas maghrib Selasa (5/5) tim Ekpedisi Islam Nusantara sampai di kota kretek, Kudus, Jawa Tengah. Tim langsung menuju makam pemuka agama Islam di kota tersebut, Sunan Kudus. Di situ mereka turut memperingati 100 tahun Madrasah Qudsyiyah yang didirikan KH Asnawi, salah seorang pendiri NU.

Mencicipi Makanan Favorit Sunan Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Mencicipi Makanan Favorit Sunan Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Mencicipi Makanan Favorit Sunan Kudus

Sesampai di madrasah tersebut, tim ekpedisi diminta panitia untuk mengenakan ikat kepala batik corak hitam, kuning dan putih. Dominasi warnanya ada yang kuning dan hitam. Tapi mesti ada putihnya.  

Kemudian mereka diajak ke kompleks makam Sunan Kudus. Di situ telah berkumpul orang-orang yang berikat batik juga. Tapi mereka berbaju putih berlengan panjang dan bersarung batik.

ArrahmahMedia.Com

Tim penulis, fotografi, dan video menyebar ke berbagai sudut dengan benteng-benteng berlapis. Benteng yang terbuat bata merah setinggi dua meter dengan tebal sekitar 30-40 cm. Kemudian mereka duduk bersama jamaah.

ArrahmahMedia.Com

Dari pengeras terdengar bacaan Al-Quran diikuti gemeremang jamaah lain yang tak kurang 500-600 orang. Mereka akan mengkhatamkan Al-Quran 100 kali yang diselesaikan 6 orang. Kemudian surat Al-Ikhlas 100 ribu kali.

Di salah satu bangunan, yang beratap sirap jati, beberapa orang mulai meletakkan nampan. Nampan kaleng tersebut dialasi daun pisang muda. Di atasnya diletakkan nasi putih. Di atas nasi tersebut kemudian dialasi kembali dengan daun pisang muda. Di atasnya terdiri ayam kampung utuh yang telah dimasak, acar, kereng atau tahu digoreng berkuah, kuah untuk ayam,

Ayam utuh dari kepala sampai kaki tersebut dinamakan ingkung. Cara memasaknya dikukus terlebih dahulu, kemudian dibakar. Sementara jeroannya tergantung selera, ada yang dibuang ada yang dibiarkan. Dan mesti ayam kampung. Bukan ayam ras gemuk yang pada masa hidupnya susah bergerak dan bertulang rapuh.

Konon, kata Ketua Yayasan Madrasah Qudsyiyah KH Najib Hasan, itu makanan favorit Sunan Kudus, Syekh Ja’far Shodiq, ulama yang menamakan kota tersebut sebagai Kudus yang berarti suci.  

Sampai pukul 22.16 ingkung tersebut masih berbaris rapi di tempatnya. Mereka tak bergerak dan digerakkan sama sekali di tempat Sunan Kudus menerima tamu, tempat yang mungkin sekali dia menikmati ingkung ratusan tahun lalu.

Tim Ekspedisi Nusantara yang diganjal perutnya terakhir kali siang di Demak, mulai menggeliat-geliat. Tapi belum ada tanda-tanda mencurigakan ingkung untuk bisa diganyang.

Malah kemudian pukul 22.58, di pengeras suara mulai ada bacaan-bacaan berbahasa Arab. Surat Ath-Thin sampai An-Nas dibacakan dengan langgam lambat-lambat sehingga hak-hak huruf berdasarkan tajwid, terpenuhi dengan pas. Kemudian berdoa. Doa yang panjang sampai jarum panjang melampaui angka 12.  

Selepas assalamu’alaikum pembaca doa, barulah kemudian ingkung itu boleh diganyang. Berdasarkan intruksi pengeras suara, satu nampan harus dimakan 6 orang. Sesekali, cobalah menikmati ingkung Kudus.  Tak perlu menunggu bosan ayam Mc Donald dan KFC. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com News ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 23 Desember 2017

Hasyim: Khilafah Islamiyah bukan Gerakan Agama, tapi Gerakan Politik

Jakarta, ArrahmahMedia.Com

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi meminta warga nahdliyyin (sebutan untuk warga NU) dan umat Islam pada umumnya untuk waspada atas munculnya wacana Khilafah Islamiyah yang kerap dihembuskan oleh kelompok-kelompok Islam radikal. Menurutnya, wacana tersebut pada dasarnya tidak lebih dari sekedar gerakan politik, bukannya gerakan keagamaan.

“Khilafah Islamiyah itu sebenarnya gerakan politik, bukan gerakan agama. Karena di situ lebih kental aspek politiknya daripada aspek agama, ibadah, ubudiyah-nya. Yang difokuskan itu kan sistem kenegaraan, bukan bagaimana membuat madrasah, masjid, menciptakan kesejahteraan umat, dan sebagainya,” ungkap Hasyim saat bersilaturrahim dengan para petinggi Pimpinan Pusat (PP) Lembaga Dakwah (LD) NU di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (5/9).

Hasyim: Khilafah Islamiyah bukan Gerakan Agama, tapi Gerakan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim: Khilafah Islamiyah bukan Gerakan Agama, tapi Gerakan Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim: Khilafah Islamiyah bukan Gerakan Agama, tapi Gerakan Politik

Ditegaskan Hasyim, begitu panggilan akrab Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Jawa Timur itu, sistem ketatanegaraan berikut sistem kepemimpinannya, sebagaimana tertuang dalam konsep Khilafah Islamiyah, cukuplah mengacu pada sistem yang berlaku di negara masing-masing. “Siapapun yang jadi kepala negara, yang telah diproses secara sah, baik menurut ukuran agama maupun negara, ya dia itu kholifah (pemimpin, red). Nggak usah cari model-model yang lain,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Hasyim juga mencermati tumbuh-suburnya kelompok-kelompok Islam radikal berikut gerakannya di Indonesia. Padahal, katanya, hampir di sebagian besar negara-negara di Eropa dan Timur Tengah, kelompok-kelompok Islam garis keras itu tidak menemukan tempat, bahkan dilarang hidup. “Di Eropa, Timur Tengah, seperti Yordania dan Syria, mereka (kelompok Islam radikal, red) nggak punya tempat. Tapi di Indonesia, mereka bisa hidup leluasa dan semakin merajalela,” tuturnya.

Kepada para pimpinan LDNU, mantan Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur ini mengingatkan, persoalan yang cukup mengkhawatirkan itu harus segera mendapat sikap dari NU. LDNU, katanya, sebagai sebuah wadah yang memiliki tugas mendakwahkan serta menyosoialisasikan paham Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja) ala NU, dituntut tanggungjawabnya. Jika tidak, maka NU akan terikut ke dalam arus gerakan kelompok Islam radikal itu.

Tak Mampu Bikin Masjid Sendiri

ArrahmahMedia.Com

Pengamatan Hasyim juga tak luput dari fenomena diambilalihnya sejumlah masjid milik warga nahdliyyin oleh kelompok Islam ekstrim “kanan”. Menurutnya, hal itu dilakukan karena kelompok yang kerap dengan mudah mem-bid’ah-kan bahkan mengkafirkan warga nahdliyyin itu tak mampu membangun masjid sendiri. Sehingga kemudian mengambilalih masjid-masjid yang selama ini dibangun dan dikelola oleh warga nahdliyyin berikut takmir masjid dan tradisi ritual peribadatannya.

ArrahmahMedia.Com

“Karena mereka tidak mampu membuat masjid sendiri, kemudian mengambilalih masjid milik orang lain (masjid milik warga nahdliyyin, red), terus dipidatoin di situ untuk politisasi. Kan maksudnya begitu. Yang dirugikan akhirnya kan NU,” terang Hasyim. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Habib, News ArrahmahMedia.Com

Dukung Mendukung dalam Pilgub Dibolehkan hanya Atas Nama Pribadi

Kendal, ArrahmahMedia.Com. Dukung mendukung calon gubenur dan wakil gubenur menjelang Pilgub Jateng 2008 yang akan dilaksanakan 22 Juni mendatang tidak akan merusak Khittah NU sepanjang dilakukan secara perorangan atau pribadi, bukan secara organisatoris. Warga NU yang mendukung M Adnan tentu tidak bisa dipersoalkan. Justru kalau M Adnan tidak didukung warga NU itu menjadi pertanyaan.



Dukung Mendukung  dalam Pilgub Dibolehkan hanya Atas Nama Pribadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Dukung Mendukung dalam Pilgub Dibolehkan hanya Atas Nama Pribadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Dukung Mendukung dalam Pilgub Dibolehkan hanya Atas Nama Pribadi

Demikian disampaikan KH Zuhri Ikhsan saat acara konsolidasi Tim Kemenangan Muhammad Adnan (TKMA) tingkat kabupaten Kendal di rumah makan Salsabil Brangsong, Senin (19/5) lalu.

“Orang NU yang tidak mendukung calon dari NU itu orang bodoh,” tegas kyai asal  Kaliwungu itu seperti dilaporkan oleh kontributor NU online, Fahroji.

ArrahmahMedia.Com

Sementara itu ketua TKMA kabupaten Kendal MH Mustamsikin, M.PdI yang juga wakil ketua PCNU Kendal mengatakan bahwa secara organisasi NU tetap netral. Kalau toh dalam  forum tersebut banyak hadir para ketua MWCNU se-kab. Kendal itu kapasitasnya sebagai pribadi warga NU. “Yang mengundang  bukan NU tetapi TKMA, undangannya juga bukan kepada ketua MWCNU, tetapi kepada perorangannya,” terangnya.

Dalam acara konsolidasi TKMA yang dihadiri oleh pengurus TKMA tingkat kecamatan se-Kab. Kendal itu Mustamsikin banyak menjelaskan kronologi seputar pencalonan Adnan sebagai cawagub Jateng mendampingi Bambang Sadono yang diusung oleh partai Golkar.

ArrahmahMedia.Com

Menurutnya pencalonan Adnan sudah melalui beberapa tahapan pertemuan. Mulai pertemuan Tanfidziyah PCNU se Jateng dalam Mukerwil PWNU di PP Al Itqon Tlogosari Semarang tanggal 14-15 Juli 2006 sampai dengan pertemuan PWNU dan PCNU se-Jateng di 6 eks Karesidenan Juli –Agustus 2007

Dari pertemuan-pertemuan yang jumlahnya tidak kurang dari enam kali pertemuan itu sepakat merekomendasikan H Muhammad Adnan untuk maju sebagai calon wakil Gubenur mendampingi H Bambang Sadono.  Dikatakan pula bahwa  hasil itu merupakan proses panjang yang melibatkan PWNU dan PCNU se-Jateng.

Lebih lanjut Mustamsikin juga menjeleaskan bahwa majunya Adnan berdasarkan surat PWNU Jateng No. PW. II/0589/A/XII/2007 yang isinya memberikan ijin dan rekomendasi persetujuan kepada Drs H Muhammad Adnan, MA selaku ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama jawa Tengah untuk: Pertama, maju dan mencalonkan diri dalam Pemilihan Gubenur Jawa Tengah 2008 sebagai calon wakil Gubenur. Kedua, memenuhi permintaan/menerima lamaran untuk menjadi wakil gubenur dari calon Gubenur H. Bambang Sadono melalui partai Golkar.

Dalam konsolidasi yang juga  dihadiri  Mbah Dim ( KH. Dimyati Rois )  ketua PCNU Kendal Drs HM Ali Hasan, Msi, anggota  DPR RI dari fraksi Golkar Drs H Mujib Rohmat itu farum memutuskan untuk segera melakukan konsolidari sampai ketingkat akar rumput. (fhj)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com News ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock