Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Kangen Banser yang Dulu, Banser yang Mana?

Oleh Alif Bareizy 



Sepulang dari harlah GP Ansor di Kutai Timur, teman saya mengirim screen capture lewat WhatsApp. Jagat Twitter lagi ramai soal Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Trending topic urutan satu dan dua milik Banser. Tagarnya #BanserJagaNKRI dan #Banserbubarinpengajianlagi.

Kangen Banser yang Dulu, Banser yang Mana? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kangen Banser yang Dulu, Banser yang Mana? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kangen Banser yang Dulu, Banser yang Mana?

Nama Banser memang sedang terkerek dengan berbagai aksinya. Awal mulanya, dari catatan saya, ketika Banser membubarkan pengajian Khalid Basalamah di Sidoarjo. Diikuti dengan penghalauan acara-acara HTI di banyak kota.

Ketika saya masuk ke tempat ngopi favorit saya, tiba-tiba banyak orang di ruangan yang bilang, "Wah ini, mau bubarin Felix Siauw ya?" Saya cuma bisa nyengir. Tapi belakangan orang itu baru paham, lalu mafhum.

Apa yang dilakukan Banser hanyalah ungkapan spontan atas kegelisahan jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU). Misalnya tentang peristiwa di Sidoarjo waktu itu. Penyebabnya adalah serangan agresif Ustadz Khalid Basalamah terhadap amalan Nahdliyin lewat video di Youtube. Kalangan Nahdliyin resah.

Kejadian di Sidoarjo sebenarnya bukan penolakan pertama oleh kalangan Nahdliyin. Ketika HTI ingin merongrong Pancasila dengan agenda khilafah, tentu saja NU meradang. Sudah sejak zaman baheula, NU menyatakan Pancasila adalah final dan NKRI harga mati.

ArrahmahMedia.Com

Setelah beberapa kasus pembubaran, mulailah ada yang nyeletuk kangen Banser yang dulu. Lha, Banser yang dulu itu, yang mana? Dari dulu, Banser ya begini.

Cuma belakangan sudah tidak bisa diam lagi melihat kondisi sekarang. Mulai dari gereja dibom, anti-nasionalisme, sampai tidak mau menyalatkan jenazah karena beda pilihan politik. Mosok, orang waras harus diam terus?

ArrahmahMedia.Com

Yah, walaupun banyak celotehan miring yang dialamatkan ke Banser, terutama oleh akun-akun anonim di media sosial yang entah siapa itu enggak jelas rupanya. Tapi sebenarnya ya, yang kayak gitu sudah ada sedari tahun kapan, semenjak Banser menjaga gereja, melindungi orang-orang yang ingin khusyuk beribadah.

Banser tidak bisa membayangkan kawan-kawan agama lain beribadah di bawah ancaman teror. Mungkin serupa tapi tak sama dengan kegelisahan muslim Amerika pasca terpilihnya Donald Trump sebagai presiden.

Banser mengupayakan tegaknya kebebasan beribadah di bumi pertiwi, karena ingin menyontohkan Islam yang rahmatan lil alamin dengan perbuatan. Bukan cuma ngejeplak seenteng komentar nyinyir. Itu semua demi agama dan kemanusiaan.

Dari kegiatan menjaga gereja pun sudah jatuh korban dari kalangan Banser. Tapi, seperti kata Dian Sastro, jangan kasih kendor. Sahabat Riyanto yang gugur akibat bom di Gereja Eben Haezar pada tahun 2000 menjadi inspirasi. Komentar negatif menjadi pelecut sekaligus evaluasi – kalau memang patut dijadikan bahan renungan.

Lalu, apakah simpati internal NU berkurang pada Banser dengan sikapnya tersebut? Tidak juga, malah tambah sayang. Nyatanya, rekrutmen anggota Banser terakhir di Samarinda melampaui 150 orang. Perlu diketahui, Samarinda bukanlah kantong NU seperti di Jawa.

Kalaupun ada yang kurang sreg dengan sikap Banser, ya perlu tabayun soal ini. Kalau perlu disiapkan dalil naqli dan aqli-nya. Sulit memang, karena saya sendiri mengalami kesulitan menjelaskan hal ini ketika bapak kos komplain soal gawean Banser.

Memang benar, citra Banser bagi kalangan luar NU terkesan sangar. Tapi Banser punya sisi lain yang jarang diketahui oleh kalangan luar NU. Banyak cerita, beberapa di antaranya, amat berkesan. Meski diulang beberapa kali, tetap saja bikin terpingkal sekaligus terenyuh.

Saya mengenal Banser jauh sebelum menjadi fungsionaris Ansor, malah sejak SD. Sebagai Nahdliyin sejak masih dalam rahim, saya bertemu mereka mulai dari pengajian sampai walimah pernikahan. Tugasnya sebagai pengamanan VVIP hingga parkiran.

Meski tampak gagah, tak pernah merasa ada hawa mencekam dari Banser. Justru merasa diayomi, dilindungi. Paling mentok saya plekiken, karena tak tahan asap rokok mereka.

Banser itu tidak dibayar sepeser pun. Jadi kurang pas, kalau ada adegan di film Tanda Tanya besutan Hanung Bramantyo yang tayang beberapa tahun lalu, yang mendeskripsikan Banser sebagai pekerjaan. Jangankan dibayar, sepatu lars saja beli kadang mencicil. Baju lengkap Banser pun seringkali menunggu jatah.

Apakah kegiatan Banser, misalnya pengamanan dan pengawalan, dibayar? Kalaupun ada konsumsi, malah seringnya dapat paling akhir. Tamu didahulukan. Jika yang punya hajat orang berpunya, baru mereka dapat amplopan, tapi itu tak sering.

Bahkan ada cerita, anggota Banser membawa amplop sendiri supaya istrinya tenang, karena biar dianggap bawa uang setelah bertugas. Padahal sih, tidak. Mirip-mirip kisah khalifah Umar bin Khattab bertemu ibu yang memasak batu di air mendidih untuk mengelabui anaknya yang kelaparan.

Lalu, darimana Banser mendapatkan biaya untuk penghidupan sehari-hari? Ada yang tukang panggul, buruh tani, buruh pabrik, guru, ustadz madrasah diniyah, dan lain-lainnya. Tapi ada juga yang dosen, pedagang, bahkan doktor di kalangan Banser – biasanya golongan ini yang menjadi penyumbang rokok dan jajanan.

Bayangkan saja, siang bekerja mencari nafkah, lalu malam melakukan tugasnya sebagai Banser. Bahkan kadang harus izin meninggalkan pekerjaan untuk menghadiri acara di luar kota atau diklat berhari-hari. Mereka rela berpayah-payah, padahal bisa jadi di rumahnya hanya ada beberapa liter beras.

Sampai-sampai ada guyonan dari almaghfurlah KH Hasyim Muzadi bahwa anggota Banser hanya mampu membeli rokok eceran. "Gagah begitu, rokoknya eceran."

Banyak hal lain yang menjadikan NU begitu sayang kepada Banser. Hal-hal di atas sedikit dari bejibun cerita, tak akan cukup 1.000 kata untuk menceritakannya.

Maka, saya mengaminkan doa dari Rais Syuriah PWNU Jateng KH Ubaidillah Shodaqoh, "Semoga amalmu diterima Gusti Allah dan rezekimu lancar, sehingga dapat memondokkan atau menyekolahkan anakmu sampai jadi profesor. Dan, yang jelas semoga rokokmu tidak dibeli dengan harga eceran."  

Penulis adalah alumnus DTD I PC GP Ansor Samarinda. Jajaran Satkorwil Kalimantan Timur

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaSantri, Fragmen, Cerita ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 17 Februari 2018

Penderitaan Istri Firaun dalam Mempertahankan Kebenaran

Katakan yang benar meskipun itu pahit. Sabda Rasulullah SAW ini menjiwai ketegaran Asiyah, istri Fir’aun, sejak ribuan tahun silam ketika suaminya yang angkuh itu memaksannya menanggalkan kebenaran.

Dalam ‘Uqudul Lujjain, Syekh Nawawi al-Bantani menceritakan hikayat awal keimanan Asiyah dari kesuksesan Nabi Musa AS mengalahkan tukang sihir suruhan Fir’aun. Penguasa otoriter yang mendaku dirinya sebagai Tuhan ini menantang Nabi Musa adu kebenaran dengan saling “unjuk kebolehan”.

Penderitaan Istri Firaun dalam Mempertahankan Kebenaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Penderitaan Istri Firaun dalam Mempertahankan Kebenaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Penderitaan Istri Firaun dalam Mempertahankan Kebenaran

Asiyah yang menyaksikan peristiwa tersebut akhirnya jatuh cinta pada ajaran Nabi Musa. Mukjizat telah terbentang, dan kebatilan terbukti gugur di hadapan kebenaran tauhid. Istri Fir’aun ini pun mantab menyatakan beriman.

ArrahmahMedia.Com

Fir’aun betul-betul tidak terima dengan keputusan istrinya. Ia mengikat kedua tangan dan kaki Asiyah pada empat buah tiang. Tubuhnya dipaksa menatap sengatan matahari. Fir’aun dan pengikutnya lantas meninggalkan Asiyah begitu saja bak bangkai kadal yang terkapar di atas pasir.

Penderitaan perempuan malang ini belum berakhir. Karena beberapa saat kemudian, Fir’aun memerintahkan anak buahnya melemparinya dengan batu besar. Dalam perih, Asiyah berutur, “Wahai Tuhanku, dirikanlah rumah untukku di sisimu di dalam surga.”

ArrahmahMedia.Com

Seketika itu ia melihat sebuah rumah yang terbuat dari marmer putih. Lalu nyawanya dicabut, sebelum tubuhnya ditimpa batu besar hingga ia tidak merasakan sakit.

Fir’aun dalam kisah ini memperlihatkan kezaliman yang tiada batas. Ia tak segan-segan  menyiksa, bahkan membunuh, setiap orang yang berseberangan dengan dirinya, tak terkecuali istrinya sendiri.

Perilaku Fir’aun ini juga menandai  adanya struktur kekuasaan yang hegemonik dalam kehidupan bernegara sehingga akses kritik atau berpendapat secara bebas menjadi buntu. Dalam konteks kehidupan rumah tangga, Fir’aun sedang memamerkan dominasi laki-laki atas perempuan yang menjadi faktor ketidakharmonisan dan kekerasan dalam sebuah keluarga.

Sebaliknya, Asiyah mengajarkan kepada kita semua tentang kesabaran dalam menghadapi cobaan berat. Siksaan hebat dari Fir’aun tak menggoyangkan pilihannya terhadap ajaran tauhid. Berkat ketabahan dan keteguhannya menggenggam prinsip ini, Asiyah justru mendapat perlindungan dan kemuliaan. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Halaqoh, Hikmah, Cerita ArrahmahMedia.Com

Kamis, 08 Februari 2018

Apakah Kedua Orang Tua Nabi Muhammad SAW Golongan Penghuni Neraka?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Yang terhormat redaksi Bahtsul Masail ArrahmahMedia.Com. Kami memohon penjelasan tentang hadits riwayat Muslim yang menyatakan bahwa ayah dan ibu Nabi Muhammad SAW masuk neraka. Kami memohon penjelasan hadits ini. Apakah benar di Hari Kiamat ayah dan ibu Nabi Muhammad saw masuk neraka? Terima kasih atas penjelasannya. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Hilmi Qosim Mubah)

Jawaban

Apakah Kedua Orang Tua Nabi Muhammad SAW Golongan Penghuni Neraka? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apakah Kedua Orang Tua Nabi Muhammad SAW Golongan Penghuni Neraka? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apakah Kedua Orang Tua Nabi Muhammad SAW Golongan Penghuni Neraka?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya dan pembaca yang budiman di mana pun berada. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan petunjuk-Nya untuk kita semua. Sebelum berbicara lebih jauh kita terlebih dahulu menyebutkan hadits riwayat Imam Muslim yang menunjukkan bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW termasuk penduduk neraka kelak di akhirat.

ArrahmahMedia.Com

Kita setidaknya menemukan dua hadits yang diriwayatkan di dalam kitab Jamuis Shahih Muslim terkait masalah ini. Hadits pertama diriwayatkan oleh Sahabat Anas bin Malik. Hadits kedua diriwayatkan Sahabat Abu Hurairah RA.

Hadits riwayat Anas bin Malik RA menceritakan sebagai berikut.

ArrahmahMedia.Com

? ? ?: ? ? ? ? ? ?: ? ?. ? ? ? ?: ? ? ? ? ?

Artinya, "Salah seorang sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, di manakah kini ayahku?’ Nabi Muhammad SAW menjawab, ‘Di neraka.’ Ketika orang itu berpaling untuk pergi, Nabi Muhammad SAW memanggilnya lalu berkata, ‘Sungguh, ayahku dan ayahmu berada di dalam neraka,’” (HR Muslim).

Sementara hadits riwayat Abu Hurairah RA menyebutkan sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, "Nabi Muhammad SAW menziarahi makam ibunya. Di sana Beliau SAW menangis sehingga para sahabat di sekitarnya turut menangis. Rasulullah SAW mengatakan, ‘Kepada Allah Aku sudah meminta izin untuk memintakan ampun bagi ibuku, tetapi Allah tidak mengizinkanku. Lalu Aku meminta kepada-Nya agar Aku diizinkan menziarahi makam ibuku, alhamdulillah Dia mengizinkanku," (HR Muslim).

Secara harfiah pemahaman yang kita dapati dari keterangan dua hadits di atas menujukkan bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW termasuk ke dalam penghuni neraka. Tetapi sebenarnya ulama baik dari kalangan ahli hadits maupun kalangan ahli kalam berbeda pendapat perihal ini. Di antara ulama yang memaknai hadits ini secara harfiah adalah Imam An-Nawawi. Dalam kitab Syarah Muslim yang ditulisnya menunjukkan secara jelas posisinya seperti keterangan berikut ini.

? ( ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Pengertian hadits ‘Seorang lelaki bertanya, ‘Wahai Rasulullah, di manakah kini ayahku?’ dan seterusnya, menunjukkan bahwa orang yang meninggal dalam keadaan kufur bertempat di neraka. Kedekatan kerabat muslim tidak akan memberikan manfaat bagi mereka yang mati dalam keadaan kafir. Hadits ini juga menunjukkan bahwa mereka yang meninggal dunia di masa fatrah (masa kosong kehadiran rasul) dalam keadaan musyrik yakni menyembah berhala sebagaimana kondisi masyarakat Arab ketika itu, tergolong ahli neraka. Kondisi fatrah ini bukan berarti dakwah belum sampai kepada mereka. Karena sungguh dakwah Nabi Ibrahim AS, dan para nabi lainnya telah sampai kepada mereka. Sedangkan ungkapan ‘Sungguh, ayahku dan ayahmu berada di dalam neraka’ merupakan ungkapan solidaritas dan empati Rasulullah SAW yang sama-sama terkena musibah seperti yang dialami sahabatnya perihal nasib orang tua keduanya. Ungkapan Rasulullah SAW ‘Ketika orang itu berpaling untuk pergi’ bermakna beranjak meninggalkan Rasulullah SAW.” (lihat Imam An-Nawawi, Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim Ibnil Hajjaj, Dar Ihyait Turats Al-Arabi, Beirut, Cetakan Kedua, 1392 H).

Sementara ulama lain menilai hadits ini telah dimansukh (direvisi) oleh riwayat Sayidatina Aisyah RA. Dengan demikian kedua orang tua Rasulullah SAW terbebas sebagai penghuni neraka seperti keterangan hadits yang telah dimansukh. Salah satu ulama yang mengambil posisi ini adalah Syekh Jalaluddin As-Suyuthi dalam karyanya Ad-Dibaj Syarah Shahih Muslim Ibnil Hajjaj.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW menziarahi makam ibunya dan seterusnya. Menurut Imam An-Nawawi, ‘Hadits ini terdapat pada riwayat Abul Ala bin Mahan penduduk Maghrib, tetapi tidak terdapat pada riwayat orang-orang desa kami dari riwayat Abdul Ghafir Al-Farisi. Namun demikian hadits ini terdapat di kebanyakan ushul pada akhir Bab Jenazah dan disimpan. Tetapi terkadang ditulis di dalam catatan tambahan. Hadits ini diiwayatkan Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah.’ Hemat saya jelas, Ibnu Syahin menyebutkan di dalam kitab Nasikh dan Mansukh bahwa hadits ini dan hadits yang semakna dengannya telah dimansukh oleh hadits yang menerangkan bahwa Allah menghidupkan kembali ibu Rasulullah sehingga ia beriman kepada anaknya, lalu Allah mewafatkannya kembali. Ini terjadi pada Haji Wada’. Perihal masalah ini saya telah menulis tujuh kitab,” (Lihat Abdurrahman bin Abu Bakar, Abul Fadhl, Jalaluddin As-Suyuthi, Ad-Dibaj Syarah Shahih Muslim Ibnil Hajjaj).

Kalangan ahli kalam juga membicarakan perihal ahli fatrah. Menurut kalangan Muktazilah dan sebagian ulama Maturidiyah, orang-orang ahli fatrah yang wafat dalam keadaan musyrik termasuk penghuni neraka. Karena bagi mereka, manusia tanpa diutus seorang rasul sekalipun semestinya memilih tauhid melalui daya akal yang dianugerahkan Allah kepadanya.

Sementara kalangan Asy-ari menempatkan ahli fatrah sebagai kalangan yang terbebas dari tuntutan tauhid karena tidak ada rasul yang membimbing mereka. Berikut ini perbedaan pendapat yang bisa kami himpun.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Ulama berbeda pendapat perihal ahli fatrah. Apakah kehadiran rasul yang mana saja sekalipun Nabi Adam AS yang jauh sekali dianggap cukup bahwa dakwah telah sampai (bagi masyarakat musyrik Mekkah) atau mengharuskan rasul secara khusus yang berdakwah kepada kaum tertentu? Menurut kami, yang shahih adalah pendapat kedua. Atas dasar itu, ahli fatrah selamat dari siksa neraka meskipun mereka mengubah dan mengganti keyakinan mereka, lalu menyembah berhala. Kalau ahli fatrah itu terbebas dari siksa neraka, tentu kita yakin bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW selamat dari neraka karena keduanya termasuk ahli fatrah. Bahkan keduanya termasuk pemeluk Islam berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa Allah menghidupkan keduanya setelah Nabi Muhammad SAW diangkat sebagai rasul sehingga keduanya berkesempatan mengucapkan dua kalimat syahadat. Riwayat hadits ini shahih menurut sebagian ahli hakikat. Syekh Jalaluddin As-Suyuthi menulis sejumlah kitab terkait keselamatan kedua orang tua Rasulullah SAW di akhirat. Semoga Allah membalas kebaikan Syekh Jalaluddin atas karyanya,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Al-Baijuri ala Matnis Sanusiyyah, Dar Ihya’il Kutub Al-Arabiyyah, Indonesia, Halaman 14).

Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam karyanya Nuruz Zhalam Syarah Aqidatil Awam menegaskan sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Syekh Ibrahim Al-Baijuri mengatakan, ‘Yang benar adalah bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW selamat dari siksa neraka berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa Allah SWT menghidupkan kembali kedua orang tua Rasulullah SAW sehingga keduanya beriman kepada anaknya, lalu Allah SWT mewafatkan kembali keduanya. Sebuah riwayat hadits dari Urwah dari Sayidatina Aisyah RA menyebutkan bahwa Rasululah SAW memohon kepada Allah SWT untuk menghidupkan kedua orang tuanya sehingga keduanya beriman kepada anaknya, lalu Allah SWT mewafatkan kembali keduanya. As-Suhaili berkata bahwa Allah maha kuasa atas segala sesuatu, termasuk mengistimewakan karunia-Nya dan melimpahkan nikmat-Nya kepada kekasih-Nya Rasulullah SAW sesuai kehendak-Nya,” (Lihat Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani, Syarah Nuruzh Zhalam ala Aqidatil Awam, Karya Toha Putra, Semarang, Tanpa Tahun, Halaman 27).

Dari dua pandangan ulama di atas, Penulis lebih cenderung pada pendapat yang mengatakan bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW termasuk kalangan muslim dan golongan orang-orang yang beriman. Karena sah menurut akal (ja’iz aqli) bahwa Allah SWT mengabulkan permintaan Rasulullah SAW memandang pangkat kekasih-Nya yang begitu agung dan mulia itu di sisi-Nya dan begitu luasnya kemurahan Allah itu sendiri. Wallahu a’lam bis shawab.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Saran kami jangan sampai perbedaan pendapat dalam masalah ini menyebabkan kita saling menyalahkan satu sama lain atau bahkan meremehkan ulama besar yang berbeda pendapat dengan kita. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Cerita, Kajian Sunnah, Quote ArrahmahMedia.Com

Senin, 05 Februari 2018

Khairul Anam Diharapkan Mampu Pimpin IPNU

Palembang, ArrahmahMedia.Com. Kongres XVII Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) mengamanatkan Khairul Anam HS dari Sulawesi sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU untuk masa bakti 2012-2015.

Khairul Anam Diharapkan Mampu Pimpin IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Khairul Anam Diharapkan Mampu Pimpin IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Khairul Anam Diharapkan Mampu Pimpin IPNU

"Rekan Anam diharapkan dapat memimpin IPNU dengan benar. Pemimpin artinya mengemban amanat, perjuang, dan menjunjung tinggi cita-cita bersama. IPNU organisasi pelajar, dia diserahi amanat berat," ujar aktivis IPNU dari Sumatera Utara yang tidak mau disebutkan namanya.

Pemilihan dilangsungkan di Gedung Serbaguna Asrama Haji Palembang, jalan Kolonel H. Barlian Km.9 Palembang, Selasa (4/12) pagi. Pemilihan yang diikuti secara antusias oleh peserta kongres, berakhir pada 12.30 siang.

ArrahmahMedia.Com

“Perolehan suara didominasi oleh Khoirul Anam dengan skor 281 suara. Sementara pesaing tunggalnya, Abdurrahman Fauz memperoleh suarasebanyak 127,” kata Saiful Adilin, utusan IPNU Jakarta kepada ArrahmahMedia.Com di bawah tenda pemilihan PP IPPNU, Selasa (4/12) siang.

ArrahmahMedia.Com

Menurut Saiful, dua nama tersebut lolos dalam putaran pertama. Sebelumnya, tiga nama lain sempat mengemuka seperti Idris, Murodi, dan Nahdi. Namun tiga nama terakhir gugur pada putaran pertama.

“Dari semua suara yang mendukung dua nama tersebut, tiga suara dinyatakan rusak oleh ketua presidium sidang penghitungan,” tambah Saiful.

Usai penghitungan pemilihan, Ketua Umum PP IPNU keluar dari Gedung Asrama Haji dengan disambut jabat tangan oleh sejumlah peserta kongres XVII IPNU yang hadir. Sementara itu, Ketua Presidium sidang mengumumkan tim formatur yang akan membentuk jajaran kepengurusan baru PP IPNU. 

 

Redaktur : Hamzah Sahal

Penulis    : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Cerita, Kajian, Khutbah ArrahmahMedia.Com

Selasa, 16 Januari 2018

Akhir Pekan Ini, GP Ansor Rembang Pilih Ketua Baru

Rembang, ArrahmahMedia.Com. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, akan menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) XX di Gedung Haji Kompleks Islamic Center, akhir pekan ini, Ahad (12/4).



Akhir Pekan Ini, GP Ansor Rembang Pilih Ketua Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhir Pekan Ini, GP Ansor Rembang Pilih Ketua Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhir Pekan Ini, GP Ansor Rembang Pilih Ketua Baru

Ketua Panitia Konfercab GP Ansor Rembang Abdul Rosyid menjelaskan, forum permusyawaratan tertinggi di tingkat cabang itu akan berlangsung kurang dari 24 jam.

"Konfercab kali ini akan digelar secara singkat, tidak seperti biasanya. Kali ini hanya satu hari sudah selesai dan GP Ansor Rembang sudah mempunyai Ketua Cabang yang baru,” ujar Abdul Rosyid.

Panitia juga telah mengundang pimpinan anak cabang (PAC) dari seluruh kecamatan di Kabupaten Rembang. "Memang sedikit terlambat (pelaksanaannya), tetapi saya pastikan akan dihadiri PAC (Pimpinan Anak Cabang) dari 14 kecamatan di Kabupaten Rembang,” tuturnya.

ArrahmahMedia.Com

Ada isu yang berkembang bahwa terdapat dua nama kader yang dikabarkan akan maju mencalonkan diri sebagai orang nomor satu di GP Ansor Rembang. (Ahmad Asmui/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Cerita ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 13 Januari 2018

Al-Audah ila Iktisyaf Tsauratina, Kitab Pusaka Presiden Soekarno

Oleh A. Ginanjar Sya’ban

Kitab berjudul “al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ” ini bernilai keramat. Kitab ini diterbitkan di Kairo pada tahun 1959 oleh al-Dâr al-‘Arabiyyah li al-‘Ulûm, dengan tebal 68 halaman. Saya mendapatkan salinan kitab ini dari perpustakaan Biblioteka Alexandria, Mesir.

Apa istimewanya kitab “al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ” ini?

Al-Audah ila Iktisyaf Tsauratina, Kitab Pusaka Presiden Soekarno (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Audah ila Iktisyaf Tsauratina, Kitab Pusaka Presiden Soekarno (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Audah ila Iktisyaf Tsauratina, Kitab Pusaka Presiden Soekarno

Kitab ini merupakan terjemahan dari buku berjudul “Penemuan Kembali Revolusi Kita” yang berasal dari pidato Presiden Republik Indonesia Soekarno pada hari kemerdekaan RI yang ke-14 (17 Agustus 1959).

Dalam pidatonya, Soekarno mengulas berbagai persoalan pokok dan program umum Revolusi Indonesia yang bersifat menyeluruh. Pemikiran pidato ini kemudian menjadi Garis Besar Haluan Negara pada pemerintahan Soekarno.

Pidato ini kemudian dikenal dengan sebutan “Manifesto Politik Republik Indonesia”, setelah sebelumnya Presiden Soekarno mencangkan sistem demokrasi terpimpin dalam mengatur pemerintahan. Berdasarkan Tap MPRS No. I/MPRSI1960, pidato itu kemudian ditetapkan sebagai garis-garis besar haluan negara RI dan pedoman resmi dalam perjuangan penyelesaian revolusi.

ArrahmahMedia.Com

Di kancah perpolitikan dunia Arab pada masa itu, kitab ini punya pengaruh yang sangat besar. Kitab ini berisi tentang pandangan-pandangan revolusioner Soekarno yang saat itu ditahbiskan sebagai pemimpin Asia-Afrika, penggagas “Gerakan Non-Blok”, sekaligus pengilham kemerdekaan negara-negara dunia ketiga.

Terlebih lagi Mesir, yang saat itu baru menjalani 7 (tujuh) tahun masa revolusi (Juli 1952) yang dipimpin oleh Gamal Abdel Nasser. Tokoh revolusioner Nasser yang saat itu menjadi presiden Mesir dan dijuluki “Za’îm al-‘Âlam al-‘Arabî” (Pemimpin Dunia Arab) menyatakan dirinya sebagai murid gerakan revolusi Soekarno.?

ArrahmahMedia.Com

Antara Nasser dan Soekarno terjalin hubungan persahabatan yang sangat erat. Dihitung dari tahun 1959, Presiden Soekarno sebelumnya sudah mengunjungi Mesir sebanyak 2 (dua) kali, yaitu pada 1955 dan 1958.

Keberadaan kitab ini menjadi saksi bisu jika pada masa itu Indonesia yang belum genap 17 tahun masa kemerdekaan sudah memiliki pengaruh yang besar di kancah dunia Arab, menjadi “guru” bagi para pemimpin negara-negara Arab yang saat itu baru merdeka dari penjajahan Inggris dan Prancis.

Lebih dari itu, Indonesia bahkan sudah mampu “mengekspor” ideologi, gagasan, dan kebijakan nasionalnya.

Dalam halaman terakhir kitab “al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ”, misalnya, dibuatkan glossary tentang falsafah kerakyatan dan kenegaraan Indonesia, seperti Pancasila (al-Mabâdi al-Khamsah) yang dalam bahasa Arab diterjemahkan butir-butirnya dengan; (1) al-Îmân billâh, (2) al-Insâniyyah, (3) al-Qaumiyyah al-Indûnisiyyah, (4) Siyâdah al-Sya’b, dan (5) al-‘Adâlah al-Ijtimâ’iyyah. Pancasila adalah ideologi hasil ijtihad para pediri bangsa-negara Indonesia yang memanifestasikan perpaduan nilai-nilai luhur keagamaan dan nasionalisme.

Selain Pancasila, tertulis juga tentang “al-Ta’addud fî al-Wihdah” (Bhinneka Tunggal Ika). Dijelaskan disana, bahwa Bhinneka Tunggal Ika adalah (? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?), yakni “bahwasannya Indonesia meskipun terdiri dari berbagai wilayah dan bangsa yang berbeda-beda, namun bersatu dalam kesatuan yang teguh”.

Terdapat juga falsafah hidup khas Nusantara yang diulas di glossary kitab ini, yaitu “al-Ta’âwun al-Musytarak” atau Gotong Royong.

Keberadaan kitab ini sezaman dengan kitab-kitab karangan ulama Nusantara yang ditulis dan diterbitkan di Timur Tengah pada saat itu, seperti Syaikh ‘Abd al-Qâdir al-Mandailî, Syaikh ‘Abd al-Hamîd al-Khatîb al-Minangkabâwî al-Makkî, Syaikh Muhammad Yâsîn ibn ‘Îsâ al-Fâdânî, Syaikh Marzûqî al-Batâwî, Syaikh Ihsân ibn Dahlân al-Jamfasî al-Kedîrî, dan lain-lain.

Di tahun yang sama dengan terbitnya kitab “al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ” ini (1959), seorang ulama besar Nusantara, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), diundang untuk datang ke Universitas Al-Azhar Kairo untuk menerima gelar doktor honoris causa (duktûrah al-syaraf).

?

Penulis adalah Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Meme Islam, Cerita ArrahmahMedia.Com

Selasa, 02 Januari 2018

NU Care-LAZISNU Ajak Yatim Tonton Naura & Genk Juara

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. NU Care-LAZISNU menggelar Nonton Bareng Film Naura & Genk Juara bersama Anak Yatim, Sabtu (25/11) di Bioskop XXI Pondok Indah Mall 1 Jakarta Selatan. 

Kegiatan yang bekerjasama dengan Kitacomm, sebuah perusahaan publik relation, melibatkan sedikitnya 135 anak yatim.

NU Care-LAZISNU Ajak Yatim Tonton Naura & Genk Juara (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Care-LAZISNU Ajak Yatim Tonton Naura & Genk Juara (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Care-LAZISNU Ajak Yatim Tonton Naura & Genk Juara

 

Henna Lestari, penyelenggara kegiatan mengungkapkan melalui kegiatan ini pihaknya ingin membuat anak-anak yatim melalui film yang disaksikan mereka. 

Dihubungi terpisah, Direktur NU Care-LAZISNU Syamsul Huda mengatakan, menonton Film Naura & Genk Juara, pihaknya tidak sekadar ingin memberi hiburan, namun juga edukasi.

“Soal cinta kepada sesama manusia, alam semesta dan kejujuran,” katanya.

ArrahmahMedia.Com

Naura & Genk Juara menceritakan hubungan pertemanan antara Naura, Okky, dan Bimo. Mereka mewakili sekolah dalam mengikuti kompetisi sains yang berlokasi di Situ Gunung. 

Di sana, ketiganya bertemu dengan Kipli, seorang ranger cilik yang memiliki misi menggagalkan Trio Licik, sindikat perdagangan hewan liar. 

ArrahmahMedia.Com

Film ini disutradarai Eugene Panji yang acap memproduksi film pendek dan karyanya pernah menyabetpiala citra untuk kategori film pendek.





Film Naura & Genk Juara tayang di bioskop sejak 16 November 2017. Film sempat menuai kontroversi dan dituduh melecehkan agama Islam karena terdapat adegan para penjahat mengucapkan istighfar dan doa-doa yang biasa diucapkan umat Islam. Selain itu juga terdapat karakter penjahat dengan penampilan berjenggot.

Terkait hal itu, Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Masduki Baidlowi meminta masyarakat menjaga ketenangan dan tidak terprovokasi terkait isu film. Dia meminta masyarakat tak terprovokasi melakukan tindakan negatif.

Wakil Sekjretaris Jendral PBNU itu mengungkapkan, sebelum meloloskan film drama musikal anak tersebut Lembaga Sensor Film sudah mengundang para ahli dan akademisi untuk ikut menyaksikan dan menilai film tersebut. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sejarah, Internasional, Cerita ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock