Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2018

NU Care LAZISNU Cilacap Gulirkan ‘Gocap’

Jakarta, ArrahmahMedia.Com

Untuk terus memupuk kesadaran beramal warga Nahdliyin di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, NU Care LAZISNU (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah) setempat menggulirkan Gocap atau "Gerakan Koin dan Kotak Amal NU Cilacap".

Peluncuran Gocap berlangsung pada Sabtu (28/1), di Kantor Sekretariat PCNU Cilacap. Rais Syuriah PCNU Cilacap KH Su’ada Adzkiyah dan Ketua PCNU Tanfidiyah KH Maslahudin memasukkan uang ke kotak amal NU Care LAZISNU Cilacap sebagai tanda dibukanya program ini.

NU Care LAZISNU Cilacap Gulirkan ‘Gocap’ (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Care LAZISNU Cilacap Gulirkan ‘Gocap’ (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Care LAZISNU Cilacap Gulirkan ‘Gocap’

Ketua PCNU Cilacap KH Maslahudin mengungkapkan, Gocap didukung oleh semua warga nahdliyin di Cilacap, baik di tingkat ranting maupun MWC.

ArrahmahMedia.Com

“Kita tunjukkan bahwa kita sebagai warga NU mampu hidup mandiri tanpa menggantungkan kepada orang atau kelompok lain. Dari kita oleh kita untuk kita,” kata KH Maslahudin seperti dituturkan Ketua NU LAZISNU Cilacap, Tunut Widodo kepada ArrahmahMedia.Com, Ahad (29/1).

ArrahmahMedia.Com

Tunut menyebutkan sebanyak 1.030 anggota Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (KPNU) diterjunkan untuk menyosialisasikan gerakan ini. Pada tahap awal, disebarkan 2500 buah kaleng dan 100 kotak amal. Ditarjetkan dalam semester pertama tahun ini akan mencapai 10.000 kaleng dan 200 kotak amal.

Diharapkan setiap warga yang telah menyetujui untuk menjadi donatur dengan mengambil salah satu kotak atau kaleng Gocap, akan mengisi dana infak senilai Rp.500,- (Limaratus rupiah) setiap hari. Kotak dan kaleng tersebut akan diambil oleh petugas NU Care LAZISNU sebulan sekali.

“Gocap ini akan menjadi gerakan yang masif dalam pengumpulan dana infak dan sedakah dari warga Nahdiyin di Kabupaten Cilacap,” tambah Tunut.

Sebelumnya, NU Care LAZISNU Cilacap juga menggulirkan program Infak Harian Muslim berupa kotak amal yang dititipkan di toko dan warung-warung. (Kendi Setiawan/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com IMNU, Kajian ArrahmahMedia.Com

Senin, 05 Februari 2018

Khairul Anam Diharapkan Mampu Pimpin IPNU

Palembang, ArrahmahMedia.Com. Kongres XVII Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) mengamanatkan Khairul Anam HS dari Sulawesi sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU untuk masa bakti 2012-2015.

Khairul Anam Diharapkan Mampu Pimpin IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Khairul Anam Diharapkan Mampu Pimpin IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Khairul Anam Diharapkan Mampu Pimpin IPNU

"Rekan Anam diharapkan dapat memimpin IPNU dengan benar. Pemimpin artinya mengemban amanat, perjuang, dan menjunjung tinggi cita-cita bersama. IPNU organisasi pelajar, dia diserahi amanat berat," ujar aktivis IPNU dari Sumatera Utara yang tidak mau disebutkan namanya.

Pemilihan dilangsungkan di Gedung Serbaguna Asrama Haji Palembang, jalan Kolonel H. Barlian Km.9 Palembang, Selasa (4/12) pagi. Pemilihan yang diikuti secara antusias oleh peserta kongres, berakhir pada 12.30 siang.

ArrahmahMedia.Com

“Perolehan suara didominasi oleh Khoirul Anam dengan skor 281 suara. Sementara pesaing tunggalnya, Abdurrahman Fauz memperoleh suarasebanyak 127,” kata Saiful Adilin, utusan IPNU Jakarta kepada ArrahmahMedia.Com di bawah tenda pemilihan PP IPPNU, Selasa (4/12) siang.

ArrahmahMedia.Com

Menurut Saiful, dua nama tersebut lolos dalam putaran pertama. Sebelumnya, tiga nama lain sempat mengemuka seperti Idris, Murodi, dan Nahdi. Namun tiga nama terakhir gugur pada putaran pertama.

“Dari semua suara yang mendukung dua nama tersebut, tiga suara dinyatakan rusak oleh ketua presidium sidang penghitungan,” tambah Saiful.

Usai penghitungan pemilihan, Ketua Umum PP IPNU keluar dari Gedung Asrama Haji dengan disambut jabat tangan oleh sejumlah peserta kongres XVII IPNU yang hadir. Sementara itu, Ketua Presidium sidang mengumumkan tim formatur yang akan membentuk jajaran kepengurusan baru PP IPNU. 

 

Redaktur : Hamzah Sahal

Penulis    : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Cerita, Kajian, Khutbah ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 03 Februari 2018

Seniman Tegal Gelar Tahlil Budaya

Tegal, ArrahmahMedia.Com. Sebagai penghormatan kepada tokoh budayawan ulung KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur para seniman Tegal menggelar Tahlil Budaya. Selain pembacaan Tahlil, para seniman juga mementaskan puisi, monolog, pentas musik dan dialog budaya.



Seniman Tegal Gelar Tahlil Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Seniman Tegal Gelar Tahlil Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Seniman Tegal Gelar Tahlil Budaya

“Kami punya kepentingan memperingati beliau sebagai seorang budayawan ulung,” tutur Ketua Dewan Kesenian Kota Tegal (DKT) Nur Ngudiyono dalam prakata sambutannya pada Tahlil Budaya Seniman Tegal di alun-alun Tegal Jumat (12/2) malam.

Menurut dia, Gus Dur semasa hidupnya telah membuktikan diri sebagai budayawan, seniman, sastrawan bahkan pelawak yang menggelitik. Ngudiyono bercerita, ketika jadi presiden, Gus Dur berkumpul dengan para pelawak, saat itu juga para pelawak terbahak-bahak mendengar penuturan gaya ‘guyonan’ Gus Dur. “Kalau pelawak saja bisa tertawa, apalagi kita yang bisanya cuma nonton pelawak,” ucapnya.

ArrahmahMedia.Com

Tahlil dipimpin Mutasyar PCNU Kota Tegal KH Abu Chaer Annur. Sementara pembacaan monolog oleh Penyair Asli Tegal Eko Tunas yang kini menetap di Semarang. Sedangkan pembacaan puisi oleh Dwi Eri Susanto dan Nana Eres.

Dwi Eri membaca puisi godong kembang plastik. Yang menceritakan persoalan pengekangan plurarisme. Betapa sulitnya membangun kebersamaan akibat banyaknya pengkotak-kotakan. Nana Eres lain lagi, dia bercerita tentang feminisme. Yang menceritakan betapa beratnya perjuangan menegakkan feminisme. Dan Nana pun meluapkan kegelisahannya dengan Kutulis Puisi di Pasirmu.

ArrahmahMedia.Com

Sedang Eko Tunas, memandang Gus Dur sebagai pelayan. Gus Dur menjadi pelayan publik bagi siapa saja. “Gus Dur bersahabat dengan siapa saja,” kata Eko.

Kebudayaan itu, lanjutnya, telah membangun panggung. Ekonomi adalah operanya dan Gus sebagai wali dalam kontek budaya. Eko mengingatkan, berkesenian jangan hanya sekadar jadi alat. Karena bila jadi alat, yang terjadi adalah ketika orde lama kesenian jadi alat politik, pada orde baru jadi alat ekonomi dan pada era reformasi malah jadi alat korupsi. “Jadikanlah puisi sebagai bintang kata-kata, tuk menegakan kebenaran,” tandas Eko dalam monolognya yang menggelitik.

Dalam dialog Budaya, tampil mantan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) era Presiden Gus Dur Bondan Gunawan, Ketua Majelis Agama Khonghucu Indonesia (Makin) Kota Tegal Gyong gyong dan Wali Kota Tegal H Ikmal Jaya. Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) yang dijadwalkan mengisi acara berhalangan hadir karena istrinya mengalami pendarahan.

Gyong gyong diberi kesempatan pertama oleh moderator Firdaus Muhtadi untuk menjadi kesaksian keagungan Gus Dur. Gyong gyong merasa diewongke oleh Gus Dur ketika meminta Gus Dur tanda tangan pada Grup Barongsainya. Setahun kemudian, Barongsai milik Gyong gyong menjadi juara nasional dua kali berturut-turut. “Pulpen Gus Dur, ternyata jimat juga,” seloroh Gyong gyong yang disambut dengan gerr.

Keberpihakan Gus Dur pada warga keturunan Tionghoa sangat menjadi momentum dengan penjabutan inpres nomor 14 tahun 1957. “Gus Dur berani membawa badannya untuk menjadi tameng pada hal-hal minoritas,” tandasnya.

Ikmal Jaya, yang saat itu masih menjadi Direktur PO Dewi Sri mengaku rela hati bolak-balik ke RSCM untuk sekadar mendorong kursi Roda Gus Dur. Dalam kesempatan tersebut dia senang berbincang tentang kepemimpinan. “Termasuk, untuk menjadi Wali Kota Tegal, saya meminta restu Gus Dur,” ungkapnya.

Yang menggelitik bagi Ikmal, ternyata dia dipertemukan dengan Gus Dur dalam mimpinya juga. Dalam mimpi tersebut, Ikmal disuruh ikut NU. “Gus, saya lagi nyalon Walikota Tegal bagaimana ini?” tanyanya dalam mimpi.

“Kamu harus NU,” kata Gus Dur dalam nasehat mimpinya.

Sehingga mulai saat itu, Ikmal berikrar menjadi NU. Kini, Ikmal tercatat juga sebagai Bendahara MWC NU Margadana Kota Tegal.

Dalam suatu kesempatan, lanjut Ikmal, juga mendapat nasehat Gus Dur yang hingga kini diingat dan dilaksanakan sebagai pemimpin. Gus Dur berkata ‘Le, dadio wong sing wani tur nekad lan iso ngedan. Artinya, dalam menjalankan kepemimpinan harus menjadi seorang yang berani karena benar, bertekad membaja, merealisasikan program dengan penuh kegigihan, kendati orang lain melihat kita sebagai orang gula. “Termasuk mencapai 2010 sebagai daerah yang sehat baik jasmani maupun rohani,” tandasnya.

Bondan Gunawan merasa senang bisa menghadiri undangan DKT untuk Tahlil Budaya. termasuk penataan panggung yang merakyat. “Yang namanya rakyat beneran ya… disini. Kalau digedung-gedung megah, itu rakyat-rakyatan yang hanya membicarakan rakyat,” ucapnya mengawali dialog.

Sebagai Mensesneg, dia sangat tidak mengerti alur pemikiran Gus Dur. Pasalnya, Gus Dur tidak pernah menjelaskan ucapan maupun tindakannya. “Ketika situasi dalam negeri saat itu carut marut, Gus Dur malah keliling dunia,” ceritanya.

Gus Dur saat itu, tidak menjelaskan apapun maksud perjalanannya keluar negeri. Gus Dur hanya berucap. “Siapa bilang saya mau jalan-jalan. Melihat saja gak!,” ucap Gus Dur sebagaimana diceritakan Bondan.

Setelah dipikir lebih jauh, ternyata perjalanannya membawa makna yang dalam. Ternyata Gus Dur sedang memasang strategi perang. “Gus Dur mau menunjukkan kalau situasi dalam negeri Indonesia aman dan terkendali. Wong pemimpinnya saja jalan-jalan, otomatis negaranya dalam keadaan damai,” ucap Bondan disambut gerr.

Bondan mengaku bekerja sama dengan Gus Dur lebih dari 30 tahun. Sehingga tahu sedikit tentang karakter Gus Dur kendati sulit dipahaminya. Dia mengungkapkan kalau Gus Dur lebih senang membangun lingkungan yang beraneka ragam. “Lingkungan yang beraneka ragam maka akan kuat, makanya Gus Dur terus memperjuangkan demokrasi, pluralisme,” terang Bondan.

Pembinaan tersebut, dengan jalan pendekatan kemanusiaan. Sehingga tidak ada satupun yang merasa dianaktirinkan.

Meskipun di era sekarang amat sulit untuk politik pendekantan kemanusiaan. Karena sekarang telah berkembang Plutokrasi. Yakni politik yang mengabdi karena uang. “Sangat langka politik yang mengabdi pada umat,” terangnya.

Bondan mengagumi Gus Dur karena kehebatannya yang tidak pernah marah. “Meludah didepannya saja, tidak marah,” cerita Bondan.

Kehebatan lainnya, sampai detikdetik terakhir Gus Dur Mikirin Negara. Kehebatan lainnya. Lainnya Gus Dir tidak melarang seseorang untuk berbuat apapun. “Bahkan Gus Dur rela ditabrak oleh tanaman yang ia tanam sendiri.

Termasuk perseteruan dengan Mohamin Iskandar, Gusdur menggelindingkan persoalan tersebut dengan sangat manis. Gus Dur hanya mengingatkan, “Jangan hanya tergantung pada pemimpin format. “Tapi kalau kepatusan pada ulama, mutlak hukumnya untuk dititahkan (diindahkan) (was.)Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Doa, Kajian ArrahmahMedia.Com

Selasa, 30 Januari 2018

Ini Keutamaan dan Hikmah Shalat Dhuha

Shalat dhuha termasuk salah satu dari shalat sunah yang dianjurkan. Terdapat banyak dalil, baik dari Al-Qur’an maupun hadits yang menegaskan keutamaan shalat dhuha. Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in menjelaskan sebagai berikut.

? ? ? ? "? ? ?" ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?..

Ini Keutamaan dan Hikmah Shalat Dhuha (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Keutamaan dan Hikmah Shalat Dhuha (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Keutamaan dan Hikmah Shalat Dhuha

Artinya, “Shalat dhuha disunahkan berdasarkan firman Allah SWT, ‘Bertasbih bersama dia di waktu petang dan pagi.’ Ibnu Abbas menafsirkan shalat isyraq adalah shalat dhuha. Bukhari-Muslim juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa ‘Rasulullah pernah berwasiat tiga hal kepadaku: puasa tiga hari dalam setiap bulan, shalat dhuha dua raka’at, dan witir sebelum tidur.’”

ArrahmahMedia.Com

Wasiat Nabi tersebut tidak hanya khusus bagi Abu Hurairah, tetapi berlaku untuk seluruh umat Nabi Muhammad SAW karena di dalam hadits lain disebutkan shalat dhuha memiliki banyak keutamaan dan hikmah. Di antara hikmah shalat dhuha ialah sebagai berikut.

Ampunan Dosa

Dalam hadits riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dijelaskan bahwa orang yang membiasakan shalat dhuha dosanya akan diampuni oleh Allah SWT, meskipun dosa tersebut sebanyak buih di lautan. Rasulullah bersabda sebagai berikut.

ArrahmahMedia.Com

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Siapa yang membiasakan (menjaga) shalat dhuha, dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan,” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Tidak Dianggap Orang Lalai

Setiap orang tentu tidak ingin dianggap sebagai orang lengah ataupun lalai dalam hal mencari rahmat Tuhan. Salah satu cara agar terhindar dari sifat lalai adalah mengerjakan shalat dhuha. Rasulullah bersabda sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Orang yang mengerjakan shalat dhuha tidak termasuk orang lalai,” (HR Al-Baihaqi dan An-Nasa’i).

Dhuha sebagai Sedekah

Rasulullah bersabda sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Setiap pagi, ruas anggota tubuh kalian harus dikeluarkan sedekahnya. Amar ma’ruf adalah sedekah, nahi mungkar adalah sedekah, dan semua itu dapat diganti dengan shalat dhuha dua raka’at,” (HR Muslim).

Selain tiga hikmah di atas, masih banyak hikmah shalat dhuha yang disebutkan dalam hadits Nabi. Shalat Dhuha biasanya dikerjakan ketika matahari sudah mulai naik seukuran tombak, atau kisaran jam 7 pagi, sampai tergelincirnya matahari. Minimal raka’at shalat dhuha adalah dua raka’at dan lebih utama dikerjakan sebanyak delapan raka’at. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kajian, Tegal, Anti Hoax ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 27 Januari 2018

Jejak Islam di Kamboja (3): Perjuangan Pesantren Qur’an di Phnom Penh

Phnom Penh,ArrahmahMedia.Com

Hampir dua tahun ini, Ustadz Amir mendirikan pesantren Al-Qur’an yang bernama Jami’ul Muslimin. Imam Masjid Al-Jamee’ Al-Islami itu dibantu oleh Nashirin Syamsuddin, yakni pemuda yang pernah mondok selama 5 tahun di pesantren Sabilul Mukhlasin Magelang, pada 2009 hingga 2014 lalu.

Berbeda dengan di Indonesia, istilah pondok pesantren di Kamboja lebih dikenal dengan sebutan “madrasah”. Adapun istilah santri dalam bahasa Khmer (bahasa lokal Kamboja) dinamakan konsah, sedangkan untuk istilah kiai atau ustadz disebut sebagai "tun" atau "kru", namun istilah kru maknanya lebih luas, seperti guru-guru di sekolah umum.

Jejak Islam di Kamboja (3): Perjuangan Pesantren Qur’an di Phnom Penh (Sumber Gambar : Nu Online)
Jejak Islam di Kamboja (3): Perjuangan Pesantren Qur’an di Phnom Penh (Sumber Gambar : Nu Online)

Jejak Islam di Kamboja (3): Perjuangan Pesantren Qur’an di Phnom Penh

Pesantren Jamiul Muslimin didirikan sebagai tempat untuk fokus menghafalkan Al-Quran. Tujuan pendirian pesantren ini untuk ‘menghidupkan’ lingkungan tengah kota Phnom Penh yang masyarakatnya mayoritas beragama Buddha. Santri-santri di pesantren ini hanya berjumlah 20 orang dimana rata-rata berusia di bawah 17 tahun.Mereka semua berasal dari berbagai daerah di Kamboja.

ArrahmahMedia.Com

Nashirin mengatakan, dengan bahasa Melayu yang lumayan fasih, rencananya kelak setelah khatam hafal Al-Qur’an,santri-santri remaja didikannya itu akan dikirim ke berbagai daerah Kamboja untuk menjadi ustadz. Sebenarnya banyak muslim Kamboja yang mencari lembaga pendidikan Islam semacam pesantren. Hanya saja akses serta jumlah pesantren di sana memang masih sedikit.

ArrahmahMedia.Com

Selain itu, Nashirin yang juga sebagai pembina pesantren Jamiul Muslimin itu mengaku berani menerima 100 santri, namun masalahnya tempatsekarang digunakan tidak mendukung.Di samping itu  tempat tinggal santri juga saat ini masih dalam kompleks masjid. Untuk kegiatan santri selain menghafal Al-Quran, mereka juga mendapatkan jadwal untuk menjadi imam shalat Hajat, bersih lingkungan masjid, dan sebagainya. Beberapa santri ada mempunyai kebiasaan berpuasa sunnah Senin dan Kamis.

Perkembangan Hubungan Keagamaan

Dalam topik lain,Ustadz Amir menambahkan bahwa sekitar sepuluh tahun ini sudah masuk paham Wahabi di kalangan muslim Kamboja, namunjumlah mereka tidak banyak serta tidak berani melakukan hal-hal yang tidak diinginkan oleh mayoritas muslim Kamboja yang mayoritas bermazhab Syafiiyah. Situasinya mungkin tak separah paham Wahabi di Indonesia yang sering kali meresahkan masyarakat muslim yang gemar menjalankan tradisi serta ajaran ulama Aswaja dan Wali Songo.

Saya sendiri sebenarnya penasaran tentang keberadaan makam ulama atau wali yang ada di kawasan ibu kota Phnom Penh Kamboja, namun Ustadz Amir tidak mengetahui secara pasti hal yang saya tanyakan itu.

Ia hanya menceritakan bahwa dahulu pernah hidup seorang alim yang bernama Haji Muhammad Kacik Shagid. Tokoh ini dikenal sebagai ulama yang bisa mengetahui artikicauan-kicauan burung.

Dikisahkan dahulu burung-burung biasanya memberikan informasi tertentu yang hendak disampaikan ke penduduk, dan hanya Haji Muhammad Kacik Shagid yang bisa memahami  kicauan burung. Sayangnya,ulama ini tersebut termasuk di antaranya ulama yang dibunuh oleh rezim Pol Pot. Sayangnya lagi, sosok yang punya karomah tersebut makamnya tidak ditemukan sampai sekarang.

Lebih jauh, dalam pandangan ustadz Amir hubungan muslim dengan umat Buddha di Kamboja sampai hari ini tetap terjalin dengan baik. Semenjak berakhir perang saudara yang dahulu pernah terjadi di Kamboja sebab kudeta yang terjadi beberap kali, hingga saat ini tidak ada pergesekan atau konflik antara kedua agama tersebut.

Apalagi Perdana Menteri Kamboja Han Sen juga membebaskan Muslim Kamboja untuk mendirikan masjid dan melaksanakan kegiatan keislaman, termasuk juga sekarang membolehkan anak perempuan memakai jilbab ke sekolah.

Dalam kesempatan selanjutnya, saya hendak mengunjungi kawasan KM. 7, Chrang Chromres, Phnom Penh, dimana kawasan mayoritas tersebut dihuni oleh muslim. Sebagaimana informasi dari dari Ustadz Amir, banyak jejak Islam dan aktivitas muslim Kamboja yang bisa digali lebih banyak di kawasan tersebut. (M. Zidni Nafi’, santri asal Qudsiyyah Kudus, peserta Program Pemuda Magang Luar Negeri 2017 dari Kemenpora RI)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kajian, Ubudiyah, Amalan ArrahmahMedia.Com

PBNU: Stop Kejahatan Kemanusiaan Terhadap Etnis Rohingya

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Pihak pemerintah RI, negara-negara ASEAN, dan PBB beserta UNHCR-nya harus bekerja keras meyakinkan otoritas Myanmar perihal hak-hak sipil ribuan warga etnis Rohingya. Ketiga pihak ini kalau keadaan menuntut, perlu menjatuhkan sanksi internasional dalam bentuk embargo atau sanksi lainnya terhadap otoritas Myanmar.

PBNU: Stop Kejahatan Kemanusiaan Terhadap Etnis Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Stop Kejahatan Kemanusiaan Terhadap Etnis Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Stop Kejahatan Kemanusiaan Terhadap Etnis Rohingya

Seruan ini dinyatakan Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Masudi di Jakarta, Jumat (15/5) sore.

Menurut Kiai Masdar, Pemerintah RI perlu menyiapkan langkah-langkah ke depan untuk memulangkan imigran ini yang sementara ditampung dan menuntut otoritas setempat untuk mengembalikan hak-hak sipil mereka.

ArrahmahMedia.Com

Kalau memang etnis Rohingya ini diusir karena keyakinannya, maka PBB mesti menjatuhkan sanksi keras kepada otoritas negara setempat karena telah berbuat kejahatan kemanusiaan. Janganlah karena suku, agama, atau keyakinan mendiskriminasi warga bangsa.

“Tidak boleh mendiskriminasi manusia karena keyakinannya. Ini melanggar hak paling asasi yang diakui oleh seluruh umat manusia,” kata Kiai Masdar.

ArrahmahMedia.Com

Kalau otoritas setempat tidak mau memandang etnis Rohingya karena keyakinannya, maka mereka harus melihat warga Rohingya karena kemanusiaannya. Sama juga dengan mereka yang memandangnya sebagai manusia.

“Tanyakan kepada otoritas setempat itu, apakah mereka mau diperlakukan secara sewenang-wenang?” tegas Kiai Masdar. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kajian ArrahmahMedia.Com

Jumat, 26 Januari 2018

Perjuangan Mbah Hasyim Membangun Gerakan Filantropi

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Gerakan filantropi pertama kali dilakukan pada tahun 1918 oleh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri,dan KH Masykur ? dengan menggalang 40 pengusaha. Mereka kemudian membentuk organisasi bernama Nahdlatut Tujjar.?

“Pada saat itu masyarakat sangat antusias untuk mengumpulkan dana. Karena para kiai bergerak, sehingga terkumpul dana cukup besar. Gerakan filantropi nusantara yang digerakkan oleh para kiai mampu menarik para banker,” kata Ketua PBNU HM Sulthon Fatoni saat mengisi seminar nasioanl bertema Filantropi Islam Nusantara yang diselenggarakan oleh NU Care-LAZISNU di lantai 8 Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (2/2).

Seiring berjalannya waktu, gerakan yang dihimpun oleh para kiai tersebut tercium Belanda, sehingga pihak Belanda memberlakukan peraturan tentang koperasi yang harus berizin dengan mengenakan biaya yang sangat mahal. Di samping standar dan persyaratan lain yang harus dipenuhi.?

Perjuangan Mbah Hasyim Membangun Gerakan Filantropi (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjuangan Mbah Hasyim Membangun Gerakan Filantropi (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjuangan Mbah Hasyim Membangun Gerakan Filantropi

Para kiai tidak mampu memenuhi persyaratan, termasuk dana minimal yang harus disetor ke pihak Belanda. Gerakan filantropi Nahdlatut Tujjar pada akhirnya tenggelam.

“Gerakan filantropi koperasi saat itu memang yang harus dirambah, karena zakat, sedekah, dan infaq sudah jalan,” katanya.?

Selanjutnya di awal tahun 1920, Mbah Hasyim mengutus Kiai Wahab menemui Kiai Nawawi Sidogiri untuk berkonsultasi tentang pendirian organisasi Nahdlatul Ulama (NU).?

ArrahmahMedia.Com

Dari pertemuan itu, para kiai berkumpul di Masjid Jami’ Kota Pasuruan kemudian terbesit ayat Al Qur’an Lamasjidun Ussisa ‘alat Taqwa.

“Jadi perkumpulan NU, perkumpulan para kiai kita sepakat asalkan gerakan perkumpulan ini nanti tidak berbasiskan finansial, tidak bermisi profit. Maka lahir NU,” terangnya.?

Sebagaimana ditegaskan Mbah Hasim dalam Risalah Ahlussunnah Waljamah tahun 1928 bahwa NU adalah organasiasi yang bermisi memberikan keadilan, memberikan perlindungan, meningkatkan kualitas hidup, dan mendorong agar masyarakat makmur.

“Gedung yang kita tempati ini (Gedung PBNU), bukan dari bisnis, tapi gedung ini dibangun dengan semangat filantropi. Semuanya terlibat, kaya, miskin, muslim, dan non muslim di era Gus Dur,” terang pria yang juga menjabat sebagai wakil rektor II Unusia ini. (Husni Sahal/Zunus)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kajian ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock