Rabu, 28 Februari 2018

Menengok Eksotisme Maroko dalam Balutan Tiga Budaya

Negeri Maghrib (matahari terbenam), ketika kita mendengar kalimat ini pastinya akan tertuju ke Afrika Utara, tepatnya Kerajaan Maroko. Yah Maroko..., sebuah negara Islam yang bermadzhab Maliki tulen di ujung barat dunia Islam. Agama Islam di negeri ini dikembangkan dengan menghargai tradisi lokal, seperti yang dilakukan oleh para dai atau Walisongo ketika menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Kini Maroko dikenal sebagai negara Arab yang gaul dengan nuansa Eropanya yang kuat, tetapi tak mau kehilangan akar tradisi Arab dan Islam. Kebebasan berpendapat dan tradisi berpikir sangat terbuka di negeri Ibnu Batutah ini. Pemerintah tidak memaksa rakyatnya untuk berpola pikir secara kaku atau seragam. 

Menengok Eksotisme Maroko dalam Balutan Tiga Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Eksotisme Maroko dalam Balutan Tiga Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Eksotisme Maroko dalam Balutan Tiga Budaya

Barangkali salah satunya adalah karena faktor penguasa Maroko saat ini, Raja Muhammad VI, seorang lulusan Eropa yang berpikiran modern. Ia bertekad untuk memodernkan Maroko, namun tetap melandaskannya kepada ajaran Islam. Wajar, jika berbagai aliran Islam banyak berkembang di negeri ini. 

ArrahmahMedia.Com

Maroko juga dijuluki dengan “Negeri Tiga Budaya”. Dikarenakan tercampurnya akulturasi tiga budaya yang kental, yaitu budaya Timur Tengah, Eropa, dan Afrika. Letak geografis Maroko yang berada di benua Afrika menjadikan Maroko berbudaya Afrika, Kebudayaan Arab Timur Tengah yang diadopsi di sini menjadikan Maroko bernuansa Negeri Timur Tengah dan letak Maroko yang berdekatan dengan Eropa, membuatnya sangat eksotis dengan nuansa Eropanya.

Dari sisi pariwisata, Maroko merupakan negeri eksotis yang kaya dengan obyek wisatanya, ada Gurun Sahara yang merupakan gurun terluas di Afrika, kemudian multaqol bahrain (pertemuan dua laut) antara laut Pasifik dan laut Mediterania, dimana tempat ini digambarkan dalam Firman Tuhan, Al-Qur’an Surat Al-Rahman ayat 19-20, ada juga kota bersejarah, Fez yang disebut kota budaya dan tentunya masih banyak yang lainnya. Maka tak heran, jika Maroko merupakan salah satu negara favorit wisatawan dunia yang sering mereka kunjungi.

ArrahmahMedia.Com

Buku yang ditulis oleh kader-kader muda NU ini, mengungkap keeksotisan Maroko dari berbagai sisi; kebudayaan, religiusitas keagamaan, sejarah ulama, pariwisata dan peluang beasiswa yang diberikan kepada pelajar-pelajar dunia, termasuk Indonesia. 

Selain versi cetak, terdapat versi ebook yang  dapat didownload di: wayangforce.co.id, getthescoop.com dan qbaca.com

Judul Buku : Maroko Negeri Eksotis di Ujung Barat Dunia Islam

Penulis: Muannif Ridwan, Hafidzul Umam, Kusnadi El Ghezwa dkk.

Editor: Ardian Syam

Penerbit: Jentera Pustaka

Cetakan: I, Januari 2014

Tebal: 295 Halaman

ISBN: 978-602-14169-8-3

Peresensi: Muannif Ridwan

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Hadits ArrahmahMedia.Com

Selasa, 27 Februari 2018

Mahasiswi Universitas NU Sidoarjo Raih Juara II Kompetisi Esei Berbahasa Inggris

Sidoarjo, ArrahmahMedia.Com - Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida), Jayanti Putri Permatasari, meraih Juara II pada ajang English Essay Competition yang diselenggarakan oleh Universitas PGRI Adi Buana Surabaya pada Sabtu 6 Mei 2017 kemarin. Jayanti Putri berhasil masuk babak final bersama enam mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Surabaya.

Awalnya ia tidak berharap dan menyangka bahwa esei yang ia tulis masuk babak final. Selain itu, ia satu-satunya wakil dari Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo.

Mahasiswi Universitas NU Sidoarjo Raih Juara II Kompetisi Esei Berbahasa Inggris (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswi Universitas NU Sidoarjo Raih Juara II Kompetisi Esei Berbahasa Inggris (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswi Universitas NU Sidoarjo Raih Juara II Kompetisi Esei Berbahasa Inggris

"Sayakan wakil UNU satu-satunya, dan harus melawan peserta dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Jawa Timur, mungkin se-Indonesia. Jadinya saya tidak berharap menang," kata Putri kepada ArrahmahMedia.Com, Selasa, (9/5).

ArrahmahMedia.Com

Eseinya berjudul Reflecting Cirebon Local Wisdom Through "Memitu" Tradition, ternyata berhasil menarik perhatian juri saat presentasi. Judul tersebut menjelaskan tentang keunikan proses upacara adat dengan pelbagai macam alasan dan filosofinya.

Selain itu, esei itu juga berisi strategi pelestarian upacara itu dengan sistem LLT (love, learn and teach). Artinya, generasi muda harus mencintai kemudian mempelajari dan mengajarkan berbagai hal mengenai Memitu.

ArrahmahMedia.Com

Memitu merupakan upacara adat menyambut kedatangan bayi yang akan dilahirkan. Upacara ini dilaksanakan pada usia kehamilan 7 bulan. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Warta, Hadits ArrahmahMedia.Com

Hukum Menshalatkan Jenazah Karena Bunuh Diri (2)

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Di beberapa media, baik cetak maupun elektronik kita beberapa kali menemukan berita tentang orang-orang yang melakukan bunuh diri. Mereka melakukan bunuh diri karena biasanya ada masalah yang dirasa berat. Tindakan bunuh jelas merupakan perbuatan yang keliru dan termasuk dosa besar.

Hukum Menshalatkan Jenazah Karena Bunuh Diri (2) (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Menshalatkan Jenazah Karena Bunuh Diri (2) (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Menshalatkan Jenazah Karena Bunuh Diri (2)

Yang ingin kami tanyakan pertama adalah apakah pelaku bunuh diri kekal di neraka? Pertanyaan yang kedua, apakah orang yang mati karena bunuh diri tidak dishalati? Demikian pertanyaan yang kami ajukan, atas jawabannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Ardan/Jakarta)

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

ArrahmahMedia.Com

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Dalam kesempatan kali ini kami berusaha untuk menjawab pertanyaan kedua tentang menshalati orang yang meninggal karena bunuh diri. Apakah ia tetap harus dishalati? Tentunya untuk menjawab pertanyaan ini kami akan merujuk pada penjelasan yang telah disodorkan para ulama.

Dalam kasus orang yang mati karena bunuh diri ternyata para ulama berselisih pendapat. Tetapi, menurut pendapat mayoritas ulama, jenazah tetap dishalati. Berbeda dengan mayoritas ulama adalah Umar bin Abdul Aziz yang memandang bahwa orang yang mati karena bunuh diri tidak dishalati. Pandangan Umar bin Abdul Aziz ini juga dipegangi oleh Al-Awzai.

ArrahmahMedia.Com

Sedangkan menurut Imam Ahmad bin Hanbal, seorang imam tidak perlu menshalatinya tetapi yang menshalati adalah selainnya. Pandangan Imam Ahmad bin Hanbal ini mungkin bisa dipahami bahwa tokoh masyarakat atau kiainya tidak perlu ikut menshalati, tetapi cukup jamaah atau masyarakat yang lain yang menshalatinya.

Salah satu argumen teologi yang bisa digunakan untuk mendukung pendapat mereka adalah riwayat Jabir bin Samurah yang menyatakan ada seorang laki-laki yang melakukan tindakan bunuh diri kemudian meninggal dan Nabi Muhammad SAW tidak menshalatinya. Menurut Ishaq bin Al-Hanzhali, sikap Nabi Muhammad SAW yang tidak ikut menshalati jenazah itu adalah bentuk peringatan bagi yang lain agar tidak melakukan tindakan yang sama.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Para ulama berbeda pendapat mengenai penshalatan orang yang meninggal dunia karena bunuh diri. Menurut pendapat mayoritas ulama, ia tetap dishalati. Sedang Umar bin Abdul Aziz tidak berpendapat untuk menshalatinya. Pandangan Umar bin Abdul Aziz ini juga dipegangi oleh Al-Awzai. Imam Ahmad bin Hanbal berpandapat, imam tidak perlu ikut menshalatinya, sedang yang menshalatinya adalah selain imam. Mereka berhujjah dengan riwayat dari Jabir bin Samurah yang menyatakan bahwa ada seorang laki-laki yang mati karena bunuh diri kemudian Nabi Muhammad SAW tidak menshalatinya. Menurut Al-Hanzhali, sikap Nabi Muhammad SAW yang tidak ikut menshalati jenazah itu pada dasarnya merupakan peringatan bagi yang lain agar tidak melakukan tindakan yang sama.”

Berpijak atas penjelasan ini, setidaknya dapat ditarik sebuah simpulan bahwa jenazah orang yang mati karena bunuh diri sepanjang dia adalah seorang Muslim, tetap dishalati. Sebab, dosa besar perbuatan bunuh diri tidak dengan sertamerta menyebabkan ia keluar dari Islam, sepanjang ia tidak menganggap bahwa tidakan bunuh diri adalah halal.

Adapun sikap dan pandangan Umar bin Abdul Azin dan Al-Awzai adalah cenderung tidak menshalati orang yang mati karena bunuh diri. Kecenderungan ini mesti dibaca sebagai sikap pemakruhan bagi dirinya. Inilah yang kami pahami dari keterangan yang kemukakan Ibnu Bathal dalam kitab Syarhu Shahihil Bukhari-nya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Para fuqaha` dan ulama dari kalangan Ahlusunnah sepakat bahwa orang yang mati karena bunuh diri tidak keluar dari Islam, ia tetap dishalati, dan wajib menanggung dosa akibat perbuatannya sebagaimana dikemukakan Imam Malik, dimakamkan di pemakaman orang-orang Muslim. Hanya Umar bin Abdul Aziz dan Al-Awzai yang menganggap makruh penshalatan jenazah orang yang meninggal karena bunuh diri di mana keduanya memakruhkan khusus untuk dirinya sendiri,” (Lihat Ibnu Baththal, Syarhu Shahihil Bukhari, Riyadl, Maktab Ar-Rusyd, cet ke-2, 1423 H/2003 M, juz III, halaman 349).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.



(Mahbub Ma’afi Ramdlan)Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Makam, Fragmen, Olahraga ArrahmahMedia.Com

Senin, 26 Februari 2018

Gus Dur dan Pembelaannya Terhadap Pancasila

Judul: Gus Dur dan Negara Pancasila

Penulis: Nur Khalik Ridwan

Penerbit: Tanah Air, Yogyakarta

Gus Dur dan Pembelaannya Terhadap Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Pembelaannya Terhadap Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Pembelaannya Terhadap Pancasila

Cetakan: I, September 2010

Tebal: xvi + 168 halaman

ISBN: 979-8521-55-2

ArrahmahMedia.Com

Peresensi: Abd. Basid


Masih ingatkah kita ketika KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) wafat akhir tahun lalu? Tidak sedikit masyarakat yang ikut berduka atas wafatnya mantan presiden Republik Indonesia (RI) itu. Tidak hanya dari kalangan muslim, dari non muslim pun merasa kehilangan dan tertampar ditinggalnya.



ArrahmahMedia.Com

Banyak warisan yang ditinggalkannya dan dikenang oleh seluruh masyarakat Indonesia. Coba kita lihat, ketika Gus Dur menjadi presiden RI, beliau berani mendobrak diskriminasi pada warga Tionghoa, yang selama masa Orde Baru membelenggu mereka. Selain itu, beliau juga berani mengambil risiko untuk memberikan kebebasan beribadah kepada para pemeluk agama Konghucu. Lewat “pasukan” Banser-nya (Barisan Serbaguna Nahdatul Ulama), beliau ikut menjaga kekhusyukan dan keamanan umat Kristiani saat menjalankan ibadah Paskah dan Natal dari ancaman teror.

Gus Dur memang seorang (pemimpin) yang sangat menghargai keberagaman dalam berbagai hal, terutama keberagaman suku, agama, dan ras. Gus Dur berani mengambil risiko untuk mewujudkan keberagaman itu.

Untuk itu, menyebut Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme sangatlah tidak berlebihan. Apalagi jika kita menilik pandangan dan pembacaannya tentang Pancasila. Gus Dur merupakan segelintir tokoh muslim yang dengan lantang menolak adanya negara Islam dan mempertahankan ideologi Pancasila. Baginya, Pancasila tidak hanya sebuah nama dan lambang, melainkan ia merupakan sistem tata nilai yang berlaku bagi masyarakat Indonesia.

Dalam hal ini, Nur Khalik Ridwan lewat buku terbarunya “Gus Dur dan Negara Pancasila” berhasil membaca dan memetakan gagasan Pancasila ala Gus Dur. Di sana Nur Khalik Ridwan dengan begitu lihainya mengolah data menjadikan buku ini begitu sistematis, sehingga tidak harus mengernyitkan dahi bagi mereka yang membacanya.

Pancasila dalam perspektif Gus Dur setidaknya bisa didudukkan dalam beberapa hal. Pertama, Pancasila sebagai ideologi bangsa dan falsafah negara berstatus sebagai kerangka berpikir yang harus diikuti oleh undang-undang dan produk-produk hukum yang lain. Tata pikir seluruh bangsa, menurutnya, ditentukan oleh falsafah yang harus terus-menerus dijaga keberadaan dan konsistensinya oleh negara.

Kedua, sebagai falsafah dan ideologi negara, harus jelas dikatakan adanya tumpang tindih antara Pancasila dan sebagian sisi kehidupan beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME).

Di sini, Gus Dur berargumentasi: satu sisi, agama-agama yang ada dan kepercayaan terhadap Tuhan YME mengandung unsur-unsur universal (meskipun semuanya juga mengandung unsur-unsur eksklusif) sehingga sulit dibatasi hanya dalam konteks keindonesiaan, dan pada sisi lain, Pancasila adalah keindonesiaan itu sendiri.

Gus Dur menafsirkan bahwa hal ini langsung tampak dalam upaya Pancasila menekankan sisi kelapangan dada dan toleransi dalam kehidupan antarumat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan YME.

Meski begitu, wawasan tentang kebersamaan antar-agama dan kepercayaan terhadap Tuhan YME tidak sepenuhnya sama dengan wawasan tentang itu dalam agama-agama dan kepercayaan.

Kegigihan Gus Dur dalam membela dan mengajarkan arti penting Pancasila bagi bangsa Indonesia dinyatakan dalam pernyataan tegasnya bahwa, “Tanpa Pancasila negara akan bubar. Pancasila adalah seperangkat asas, dan ia akan ada selamanya. Ia adalah gagasan tentang negara yang harus kita miliki dan kita perjuangkan. Dan Pancasila ini akan saya pertahankan dengan nyawa saya. Tidak peduli apakah ia akan dikebiri oleh angkatan bersenjata atau dimanipulasi oleh umat Islam, atau disalahgunakan keduanya” (hal. 43).

Sebagai seorang tokoh yang sangat menjunjung tinggi Pancasila dalam hal bernegara, maka sebagai efeknya Gus Dur menolak jika bangsa ini harus menjadi negara Islam. Bagi Gus Dur negara Pancasila adalah sebuah pilihan. Islam tidak bisa dibuat dasar dalam bernegara. Dalam bernegara, Islam tidak memiliki konsep bagaimana harus dibuat dan dipertahankan. Menurut Gus Dur konsep negara Islam itu tidak ditemukan dalam Al-Qur’an dan Islam. Jika ada yang mengatakan ada, itu tidak lebih dari hanya sekedar klaim (hal. 59).

Ada dua alasan yang dipakai Gus Dur dalam mempertanggung jawabkan pernyataanya di atas, yaitu alasan empirik (fakta) dan alasan teks. Alasan empiriknya seperti halnya bahwa Islam tidak mengenal pandangan yang tegas tentang pengertian kepemimpinan. Buktinya Abu Bakar dipilih oleh dewan elit saat itu yang berbaiat kepadanya; Umar dipilih dengan penunjukan oleh Abu Bakar sebelum yang digantikan wafat; Usman dipilih oleh dewan elit saat itu yang dewan ini ditunjuk oleh Umar; dan Ali juga dipilih oleh dewan elit muslim.

Sedangkan alasan soal teks terdapat banyak ayat (baca: teks) yang dikomentari Gus Dur, di antaranya, adigium penting yang sering digunakan argumentasi oleh mereka yang mendukung adanya negara Islam. Adigium itu adalah; la islama illa bil jama’ah, wala jama’ata illa bil imarah, wa la imarata illa bit-tha’ah.

Menurut Gus Dur, adigium ini memang menyatakan adanya sebuah sistem dalam bernegara, akan tetapi sistem itu tidaklah spesifik pada sistem islami. Dengan demikian, semua sistem itu diakui oleh adigium tersebut, asalkan sistem tersebut digunakan untuk memperjuangkan berlakunya ajaran Islam dalam sebuah masyarakat.

Akhir kata, buku ini selain mengupas pandangan Gus Dur tentang Pancasila dan pentingnya negara Pancasila bagi bangsa Indonesia, juga merupakan karya otoritatif yang mengupas prisma pemikiran Gus Dur tentang ideologi bangsa. Dengan kedalaman analisis dan data menempatkan buku ini sebagai buku yang patut menjadi bahan refleksi bagi kita semua yang dewasa ini masih ada kelompok-kelompok tertentu yang masih antipasti negara Pancasila.



*Alumnus pondok pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan, Madura
Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com RMI NU, Kajian Islam, Khutbah ArrahmahMedia.Com

Minggu, 25 Februari 2018

Kangen Banser yang Dulu, Banser yang Mana?

Oleh Alif Bareizy 



Sepulang dari harlah GP Ansor di Kutai Timur, teman saya mengirim screen capture lewat WhatsApp. Jagat Twitter lagi ramai soal Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Trending topic urutan satu dan dua milik Banser. Tagarnya #BanserJagaNKRI dan #Banserbubarinpengajianlagi.

Kangen Banser yang Dulu, Banser yang Mana? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kangen Banser yang Dulu, Banser yang Mana? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kangen Banser yang Dulu, Banser yang Mana?

Nama Banser memang sedang terkerek dengan berbagai aksinya. Awal mulanya, dari catatan saya, ketika Banser membubarkan pengajian Khalid Basalamah di Sidoarjo. Diikuti dengan penghalauan acara-acara HTI di banyak kota.

Ketika saya masuk ke tempat ngopi favorit saya, tiba-tiba banyak orang di ruangan yang bilang, "Wah ini, mau bubarin Felix Siauw ya?" Saya cuma bisa nyengir. Tapi belakangan orang itu baru paham, lalu mafhum.

Apa yang dilakukan Banser hanyalah ungkapan spontan atas kegelisahan jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU). Misalnya tentang peristiwa di Sidoarjo waktu itu. Penyebabnya adalah serangan agresif Ustadz Khalid Basalamah terhadap amalan Nahdliyin lewat video di Youtube. Kalangan Nahdliyin resah.

Kejadian di Sidoarjo sebenarnya bukan penolakan pertama oleh kalangan Nahdliyin. Ketika HTI ingin merongrong Pancasila dengan agenda khilafah, tentu saja NU meradang. Sudah sejak zaman baheula, NU menyatakan Pancasila adalah final dan NKRI harga mati.

ArrahmahMedia.Com

Setelah beberapa kasus pembubaran, mulailah ada yang nyeletuk kangen Banser yang dulu. Lha, Banser yang dulu itu, yang mana? Dari dulu, Banser ya begini.

Cuma belakangan sudah tidak bisa diam lagi melihat kondisi sekarang. Mulai dari gereja dibom, anti-nasionalisme, sampai tidak mau menyalatkan jenazah karena beda pilihan politik. Mosok, orang waras harus diam terus?

ArrahmahMedia.Com

Yah, walaupun banyak celotehan miring yang dialamatkan ke Banser, terutama oleh akun-akun anonim di media sosial yang entah siapa itu enggak jelas rupanya. Tapi sebenarnya ya, yang kayak gitu sudah ada sedari tahun kapan, semenjak Banser menjaga gereja, melindungi orang-orang yang ingin khusyuk beribadah.

Banser tidak bisa membayangkan kawan-kawan agama lain beribadah di bawah ancaman teror. Mungkin serupa tapi tak sama dengan kegelisahan muslim Amerika pasca terpilihnya Donald Trump sebagai presiden.

Banser mengupayakan tegaknya kebebasan beribadah di bumi pertiwi, karena ingin menyontohkan Islam yang rahmatan lil alamin dengan perbuatan. Bukan cuma ngejeplak seenteng komentar nyinyir. Itu semua demi agama dan kemanusiaan.

Dari kegiatan menjaga gereja pun sudah jatuh korban dari kalangan Banser. Tapi, seperti kata Dian Sastro, jangan kasih kendor. Sahabat Riyanto yang gugur akibat bom di Gereja Eben Haezar pada tahun 2000 menjadi inspirasi. Komentar negatif menjadi pelecut sekaligus evaluasi – kalau memang patut dijadikan bahan renungan.

Lalu, apakah simpati internal NU berkurang pada Banser dengan sikapnya tersebut? Tidak juga, malah tambah sayang. Nyatanya, rekrutmen anggota Banser terakhir di Samarinda melampaui 150 orang. Perlu diketahui, Samarinda bukanlah kantong NU seperti di Jawa.

Kalaupun ada yang kurang sreg dengan sikap Banser, ya perlu tabayun soal ini. Kalau perlu disiapkan dalil naqli dan aqli-nya. Sulit memang, karena saya sendiri mengalami kesulitan menjelaskan hal ini ketika bapak kos komplain soal gawean Banser.

Memang benar, citra Banser bagi kalangan luar NU terkesan sangar. Tapi Banser punya sisi lain yang jarang diketahui oleh kalangan luar NU. Banyak cerita, beberapa di antaranya, amat berkesan. Meski diulang beberapa kali, tetap saja bikin terpingkal sekaligus terenyuh.

Saya mengenal Banser jauh sebelum menjadi fungsionaris Ansor, malah sejak SD. Sebagai Nahdliyin sejak masih dalam rahim, saya bertemu mereka mulai dari pengajian sampai walimah pernikahan. Tugasnya sebagai pengamanan VVIP hingga parkiran.

Meski tampak gagah, tak pernah merasa ada hawa mencekam dari Banser. Justru merasa diayomi, dilindungi. Paling mentok saya plekiken, karena tak tahan asap rokok mereka.

Banser itu tidak dibayar sepeser pun. Jadi kurang pas, kalau ada adegan di film Tanda Tanya besutan Hanung Bramantyo yang tayang beberapa tahun lalu, yang mendeskripsikan Banser sebagai pekerjaan. Jangankan dibayar, sepatu lars saja beli kadang mencicil. Baju lengkap Banser pun seringkali menunggu jatah.

Apakah kegiatan Banser, misalnya pengamanan dan pengawalan, dibayar? Kalaupun ada konsumsi, malah seringnya dapat paling akhir. Tamu didahulukan. Jika yang punya hajat orang berpunya, baru mereka dapat amplopan, tapi itu tak sering.

Bahkan ada cerita, anggota Banser membawa amplop sendiri supaya istrinya tenang, karena biar dianggap bawa uang setelah bertugas. Padahal sih, tidak. Mirip-mirip kisah khalifah Umar bin Khattab bertemu ibu yang memasak batu di air mendidih untuk mengelabui anaknya yang kelaparan.

Lalu, darimana Banser mendapatkan biaya untuk penghidupan sehari-hari? Ada yang tukang panggul, buruh tani, buruh pabrik, guru, ustadz madrasah diniyah, dan lain-lainnya. Tapi ada juga yang dosen, pedagang, bahkan doktor di kalangan Banser – biasanya golongan ini yang menjadi penyumbang rokok dan jajanan.

Bayangkan saja, siang bekerja mencari nafkah, lalu malam melakukan tugasnya sebagai Banser. Bahkan kadang harus izin meninggalkan pekerjaan untuk menghadiri acara di luar kota atau diklat berhari-hari. Mereka rela berpayah-payah, padahal bisa jadi di rumahnya hanya ada beberapa liter beras.

Sampai-sampai ada guyonan dari almaghfurlah KH Hasyim Muzadi bahwa anggota Banser hanya mampu membeli rokok eceran. "Gagah begitu, rokoknya eceran."

Banyak hal lain yang menjadikan NU begitu sayang kepada Banser. Hal-hal di atas sedikit dari bejibun cerita, tak akan cukup 1.000 kata untuk menceritakannya.

Maka, saya mengaminkan doa dari Rais Syuriah PWNU Jateng KH Ubaidillah Shodaqoh, "Semoga amalmu diterima Gusti Allah dan rezekimu lancar, sehingga dapat memondokkan atau menyekolahkan anakmu sampai jadi profesor. Dan, yang jelas semoga rokokmu tidak dibeli dengan harga eceran."  

Penulis adalah alumnus DTD I PC GP Ansor Samarinda. Jajaran Satkorwil Kalimantan Timur

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaSantri, Fragmen, Cerita ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 24 Februari 2018

Jombang Bertekad Miliki Madrasah Diniyah di Tiap Desa

Jombang, ArrahmahMedia.Com



Meskipun disebut sebagai Kota Santri, tingkat kejahatan dan tindakan kurang patut dan mengarah kriminalitas di Kabupaten Jombang Jawa Timur masih tinggi. Peredaran narkoba juga cukup memprihantinkan. Belum lagi kian bertambahnya jumlah anak jalanan. Sebagai solusi, harus ada usaha untuk mendirikan madrasah diniyah atau Madin di setiap desa.

Jombang Bertekad Miliki Madrasah Diniyah di Tiap Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Jombang Bertekad Miliki Madrasah Diniyah di Tiap Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Jombang Bertekad Miliki Madrasah Diniyah di Tiap Desa

Hal tersebut disampaikan Ny Hj Mundjidah Wahab pada kegiatan wisuda hafidh di Pondok Pesantren Nurul Quran yang berlokasi di Desa Bendungrejo, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, Sabtu (2/9) malam.

"Saya saksikan sejumlah anak muda lebih memilih mengisi aktifitas di kawasan lampu merah sambil ngamen daripada bersama keluarga," kata perempuan yang juga Ketua PC Muslimat NU Jombang tersebut.

Mereka adalah generasi muda yang harusnya mengisi hidup dengan kegiatan yang bermanfaat seperti belajar dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. "Tapi yang dilakukan mereka sangat memprihatinkan," ungkap Nyai Mundjidah.

ArrahmahMedia.Com

Bagi putri pahlawan nasional, KH Abdul Wahab Hasbullah tersebut, perbaikan karakter adalah solusi agar anak muda tidak terjerumus dengan hal negatif. "Salah satunya adalah mengenalkan mereka dengan pendidikan agama layaknya di pesantren," tandas Wakil Bupati Jombang ini.

Konsekuensi sebagai Kota Santri yang melekat pada Kabupaten Jombang, maka Nyai Mundjidah akan berupaya menghadirkan madrasah diniyah (madin) di setiap desa. "Ini sebagai jawaban agar sejumlah penyakit masyarakat khususnya yang menghinggapi generasi muda bisa segera ditemukan jalan keluarnya," katanya.

Karena itu dirinya sangat salut kepada para wisudawan penghafal Al-Qur’an yang justru mengisi hari dengan aktivitas bermanfaat. "Kalianlah yang akan memberikan pencerahan kepada masyarakat," katanya.

Diharapkan kehadiran para wisudawan penghafal kalamullah tersebut nantinya bisa menyemarakkan madin yang ada di setiap desa. "Saya yakin bila upaya pendirian madin di setiap desa nantinya akan mampu menekan angka kriminalitas, khususnya para generasi muda," tandasnya. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

 

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Santri, Quote ArrahmahMedia.Com

Madzhab Adalah Solusi Perpecahan

Semarang, ArrahmahMedia.Com. Dalam sejarahnya, madzhab adalah solusi perpecahan yang terjadi pada umat Islam di masa lalu. Metode, cara atau manhaj dalam agama itu, muncul karena terjadi kekacauan dan instabilitas politik di masa perkembangan Islam.

”Dengan persyaratan ketat yang telah disepakati, jadilah sebuah pedoman yang disesuaikan dengan lingungan alam dan sosial tiap umat Islam. Itulah yang disebut madzhab. Ada Madzhab Maliki, Syafi’i, Hanafi dan Hambali.”

Madzhab Adalah Solusi Perpecahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Madzhab Adalah Solusi Perpecahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Madzhab Adalah Solusi Perpecahan

“Madzhab itu merupakan solusi. Dengan pedoman yang baku dalam beribadah dan bermualamah, umat Islam bisa melaksanakan agamanya secara damai dan nyaman. Tak lagi ada perang saudara karena klaim kebenaran sepihak.”

ArrahmahMedia.Com

Demikian disampaikan KH Muhammad Abbas dari Buntet Cirebon dalam Pengajian Akbar Maulid Nabi Muhammad SAW dan Harlah Nahdlatul Ulama Ke-85 yang diadakan MWC NU Kecamatan Banyumanik di Masjid Mujahidin Srondol Wetan Banyumanik, Semarang, belum lama ini.

ArrahmahMedia.Com

”Pasca terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib oleh kelompok sempalan yang mengkafirkannya, timbullah ontran-ontran. Silih berganti terjadi pemberontakan dan perang saudara. Muncul aliran-aliran dalam Islam. Ada golongan Mutazilah yang menafsirkan Al-Quran? secara mutlak dengan akal. Ada kelompok Khowarij yang berpaham fatalisme. Muncul pula golongan Qodariyah, lalu Syiah, dan seterusnya,” jelas putra dari almarhum KH Fuad Hasyim

”Aliran yang satu dengan yang lainnya suka saling mengkafirkan dan terus terlibat dalam aksi-aksi kekerasan, pembunuhan, sampai pemberontakan. Politik jadi tak stabil. Para khalifah jadi sebatas sultan dan khilafah jadi semu,? karena tak ada persatuan dan mufakat dalam Islam,” lanjut Kang Babas, demikian KH Muhammad Abbas biasa disapa.

Acar diikuti seribuan umat Islam Banyumanik dan sekitarnya. Turut hadir Rais Syuriah PCNU Kota Semarang KH Ahmad Hadlor Ihsan dan Ketua PCNU Kota Semarang H Anasom serta jajarannya, sejumlah kyai, serta aktivis organasasi underbow NU.?

Para ulama, kata Kang Babas, mencoba-coba memberi pedoman standar metode menafsirkan Al-Quran, hadits, fiqih, akhlak, dan lain-lain. ”Semuanya dimaksudkan agar tak ada lagi yang mudah mengklaim penafsirannya sendiri lalu menegasikan orang lain,” tegasnya.

Dia mengungkapkan, hasil dari musyawarah ulama, disepakati perlunya ijma’ dan qiyas, agar suatu masalah bisa diberi solusi secara tepat. Lalu dilakukan pemerincian syariat agar mudah dipakai sebagai pedoman di semua wilayah Islam, yang saat itu membentang dari Eropa Barat hingga Asia Timur. (moi)Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Tokoh, Pemurnian Aqidah ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock