Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Januari 2018

Lomba Baca Kitab Kuning Diadakan di UIN Yogyakarta

Sleman, ArrahmahMedia.Com. Sebagai kelanjutan kegiatan pelatihan Qiro’atul Kutub atau baca kitab kuning yang diadakan Oktober lalu, Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan (BEM-J) Perbandingan Madzhab dan Hukum (PMH) Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan Lomba Qiro’atul Kutub (LQK).

LQK yang terbagi ke dalam kategori tingkat Ula dan Wushtha ini dilaksanakan selama dua hari, yaitu pada hari Rabu (12/12) untuk tingkat Wushtha dan Kamis (13/12) untuk tingkat Ula. 

Lomba Baca Kitab Kuning Diadakan di UIN Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Lomba Baca Kitab Kuning Diadakan di UIN Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Lomba Baca Kitab Kuning Diadakan di UIN Yogyakarta

Menurut keterangan Septi Karisyati, ketua panitia acara LQK, penentuan kategori dalam LQK kali ini berdasarkan pada usia serta jenjang pendidikan.

Tingkat Wushtha diperuntukkan bagi para peserta yang duduk di bangku Madrasah Aliyah ke bawah atau santri pondok pesantren yang berusia di bawah 19 tahun. Sedangkan untuk tingkat Ula ketentuan usianya adalah19-30 tahun dan berstatus sebagai mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com

Sebanyak 26 orang peserta berpartisipasi dalam LQK tingkat Ula, dari target awal sebanyak 20 orang mahasiswa di UIN. Sedangkan untuk tingkat Wushtha diikuti oleh 14 orang peserta dari berbagai Madrasah Aliyah dan pondok pesantren se Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 

Menurut Septi saat ditemui di tengah-tengah kesibukan pelaksanaan LQK, pemenang LQK dari masing-masing kategori akan diumumkan pada acara Seminar Nasional yang akan berlangsung pada Jum’at (14/12) ini. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Nur Hasanatul Hafshaniyah

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nusantara, Hadits, Humor Islam ArrahmahMedia.Com

Rabu, 10 Januari 2018

Sambut Persaingan Kuliner, Fatayat Adakan Pelatihan Tata Boga

Tuban,ArrahmahMedia.Com. Banyak generasi muda yang mulai melupakan makanan khas Nusantara. Satu demi satu sejumlah menu andalan daerah akhirnya hilang dari peredaran. Berganti dengan makanan cepat saji yang sebenarnya kurang baik bagi kesehatan.

Sambut Persaingan Kuliner, Fatayat Adakan Pelatihan Tata Boga (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Persaingan Kuliner, Fatayat Adakan Pelatihan Tata Boga (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Persaingan Kuliner, Fatayat Adakan Pelatihan Tata Boga

Kondisi ini mengundang keprihatinan. "Padahal makanan tradisional sebagai makanan khas daerah merupakan salah satu peninggalan dari nenek moyang yang perlu dikenal, dilestarikan serta dikembangkan," kata? Hj Khoiriyah (29/9). Ketua Pimpinan Anak Cabang Fatayat NU? Widang Tuban Jawa Timur ini bahkan menandaskan bahwa makanan tidak hanya berfungsi untuk mempertahankan kesehatan, akan tetapi memiliki fungsi sosial budaya yang dapat dijual dan dipromosikan untuk keperluan peningkatan devisa negara dari sektor non migas.

Akan tetapi di era globalisasi, makanan tradisional muncul berdampingan dengan makanan modern produk negara lain dan bahkan hampir tergusur. "Berbagai faktor yang dapat menyebabkan lunturnya kecintaan akan makanan tradisional antara lain kurangnya pengenalan dan pengetahuan tentang makanan tradisional, adanya perubahan gaya hidup, perkembangan ekonomi, dan gencarnya promosi," tandas alumnus Fakultas Adab Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini.

ArrahmahMedia.Com

Sadar dengan keadaan ini nampaknya perlu dilakukan langkah-langkah sebagai upaya yang tidak sekedar melestarikan, tapi mempromosikan secara lebih gencar dengan harapan agar makanan tradisional nantinya tetap digemari masyarakat. Bahkan bila dikelola dengan baik tidak hanya member kebanggaan bagi masyarakat lokal hingga manca negara.

Apalagi Kabupaten Tuban yang terletak di pesisir pantai utara memiliki potensi besar untuk pengembangan sektor pariwisata. "Sumber daya alam yang tersedia sangat mendukung kewirausahaan bagi masyarakat, khususnya di sektor kuliner" kata alumnus Pasca Sarjana Universitas Islam Lamongan ini. Tuban yang memiliki menu kuliner beragam, dapat dikembangkan dengan baik tentunya apabila didukung kemampuan masyarakat yang memadai, lanjutnya.

ArrahmahMedia.Com

Sehingga pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan, salah satunya dengan memberikan keterampilan sebagai modal membuka sebuah usaha sesuai dengan potensi yang ada. "Hal inilah yang menggerakkan kami menyelenggarakan kegiatan ini," tandasnya.

Karenanya, semenjak Ahad hingga Senin (28-29/9) dilangsungkan pelatihan tata boga. Kegiatan yang berlangsung di kantor PAC Fatayat NU Widang Tuban ini diikuti sejumlah utusan dari pengurus ranting dan pengusaha kuliner setempat.

Kegiatan yang mengambil tema kreasi aneka masakan tradisional Nusantara ini tidak semata memberikan teori bagi peserta, juga langsung melakukan praktik bagaimana mempersiapkan menu hingga penyajian yang sesuai dengan standar layanan.

Diharapkan dengan kegiatan ini mampu meningkatkan pengetahuan mengenai berbagai masakan tradisional yang ada di Tuban. Demikian juga yang tidak kalah penting adalah melestarikan budaya tradisional bangsa melalui kuliner.

"Dari pelatihan intensif ini diharapkan akan mampu meningkatkan keterampilan di bidang kuliner dengan sumber daya lokal yang ada," katanya. Yang juga tidak dilupakan selama kegiatan peserta selalu didorong serta dimotivasi untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga melalui keterampilan di sektor kuliner.

Karena para peserta adalah utusan dari sejumlah kepengurusan ranting maupun masyarakat yang memiliki usaha kuliner, maka diharapkan mereka juga bisa menularkan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan kepada komunitas setempat. "Agar pengetahuan dan pelatihan ini bisa lebih memberikan manfaat kepada masyarakat secara lebih luas," pungkasnya. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nusantara, Aswaja ArrahmahMedia.Com

Selasa, 09 Januari 2018

Rais ‘Aam Harap PCINU Belanda Kembangkan Sertifikasi Halal di Eropa

Wageningen, ArrahmahMedia.Com

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Belanda menyelenggarakan seminar tentang “Halal Certification: Promoting Sustainability and Fairness in Halal Concept” di Wageningen University & Research, 23 Agustus 2017.

Rais ‘Aam Harap PCINU Belanda Kembangkan Sertifikasi Halal di Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais ‘Aam Harap PCINU Belanda Kembangkan Sertifikasi Halal di Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais ‘Aam Harap PCINU Belanda Kembangkan Sertifikasi Halal di Eropa

Acara yang diselenggarakan atas kerja sama dengan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Wageningen, Wageningen University & Research, dan didukung oleh Atdikbud KBRI Den Haag ini menghadirkan Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin sebagai pembicara utama (keynote speaker).

“Seminar ini dimaksudkan untuk mendiskusikan perkembangan sertifikasi halal di Indonesia dan di dunia secara umum,” ujar Rais Syuriah PCINU Belanda KH Nur Hasyim. Karena itu, seminar ini mengahdirkan pembicara dari berbagai lintas disipilin ilmu, agama, pangan, hukum, dan praktisi halal di Eropa.

ArrahmahMedia.Com

KH Ma’ruf Amin dalam ceramahnya menyampaikan materi tentang “The root of halalan tayyiban concept in Islamic tradition and its contextualisation in the modern world.”

Ia memulai dengan penjelasan tentang sejarah berdirinya lembaga sertifikasi halal di Indonesia yang dimulai sejak 1985. Ketika itu, menurutnya, terjadi keresahan di kalangan Muslim atas isu tercampurnya lemak babi dalam susu. Atas dasar ini, MUI kemudian melakukan sertifikasi halal terhadap makanan obat-obatan, dan kosmetik.

ArrahmahMedia.Com

KH Ma’ruf Amin menambahkan bahwa sertifikasi halal MUI tidak hanya dilakukan di Indonesia, tetapi di beberapa negara di Asia, Eropa, Australia dan Amerika. Selain itu, MUI memberi pengakuan terhadap lembaga-lembaga halal di dunia. Tidak kurang dari 50 lembaga halal di dunia memperoleh pengakuan dari MUI.

Sistem halal yang diterapkan MUI mengikuti paham yang paling ketat. Hal ini, menurutnya, didasarkan pada kaidah “halal itu jelas, haram itu jelas. Di antara itu, ada yang abu-abu (syubhat). Ia mencontohkan tentang perbedaan pendapat tentang status kehalalan binatang yang disembelih oleh non-Muslim.

Dalam kasus seperti ini, maka jelas bahwa MUI menganut pendapat yang lebih ketat dan hati-hati, yaitu mengharamkan.

Ia juga mengapresiasi atas terselenggaranya seminar ini dan berharap agar PCINU Belanda dapat mengambil peran untuk mengembangkan kajian sertifikasi halal di Eropa.

Katib Syuriah PCINU Belanda, M. Latif Fauzi, menyatakan bahwa “penguatan integrasi halal dan thayyib merupakan aspek terpenting yang ingin ditekankan dalam seminar ini”.

Ketika dikonfirmasi, ketua panitia seminar, Ahmad Sahri, menegaskan, tidak hanya aspek kehalalan saja, tapi keberlanjutkan (sustainability) dan kepatuhan pada standar keamananan pangan (fairness), menjadi isu penting sertifikasi halal dalam konteks masyarakat Eropa.” (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaSantri, Warta, Nusantara ArrahmahMedia.Com

Akihiro Shugo: Bisnis Kuliner Halal di Jepang Terus Meningkat

Tokyo, ArrahmahMedia.Com

Tantangan puasa 17 jam di tengah teriknya musim panas tahun ini tidak menyurutkan semangat umat Muslim Indonesia di Jepang untuk terus mengenalkan Islam pada masyarakat sekitar. Bertempat di Balai Indonesia, Sabtu (18/6) Keluarga Masyarakat Muslim Indonesia (KMII) kembali menyelenggarakan acara Pertukaran Kebudayaan Islam dengan mengangkat tema Halal untuk Semua.





Akihiro Shugo: Bisnis Kuliner Halal di Jepang Terus Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)
Akihiro Shugo: Bisnis Kuliner Halal di Jepang Terus Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)

Akihiro Shugo: Bisnis Kuliner Halal di Jepang Terus Meningkat

Industri halal yang semakin semarak di Negeri Sakura ini kian menarik perhatian masyarakat Jepang baik para penggiat bisnis kuliner maupun pariwisata.? Acara kali ini bertujuan untuk menjelaskan pengertian halal secara universal dan meluruskan beberapa pandangan masyarakat Jepang mengenai halal, bahwa halal bukan makanan yang hanya dapat dikonsumsi oleh Muslim tetapi juga makanan yang baik (thayyib) untuk dikonsumsi masyarakat umum tanpa memandang perbedaan agama dan budaya.

Pemilik Restoran Halal Ramen Ouka, Wachi Masyrik menceritakan awal mula mereka terjun ke dunia halal. “Sekitar 10 tahun lalu, teman saya (seorang Muslim) datang berkunjung ke Jepang, namun ia tidak bisa menikmati makanan tradisional Jepang. Dari situ saya tersadar, saya pun mulai mempelajari Islam enam tahun ke belakang ini dan kemudian berhasil membuka restoran halal,” ujar Wachi.

ArrahmahMedia.Com

Mengenai kondisi industri halal sekarang ini, CEO Halal Media Japan, Akihiro Shugo mengungkapkan, setiap bulan sekitar 20 restoran dan toko mendaftarkan diri di situs Halal Media Japan.

Restoran halal diprediksi akan semakin berkembang di seluruh Jepang. Beberapa pemilik restoran sempat mengutarakan kekhawatiran mereka ketika mereka memutuskan untuk tidak menjual sake (minuman berlakohol) dan daging babi.

ArrahmahMedia.Com

“Banyak yang takut omset penjualannya berkurang, namun pada kenyataannya tidak begitu berubah,” ujar Akihiro Shugo.

Lembaga pemberi sertifikat halal di Jepang juga sudah mulai bermunculan, namun masih terdapat perbedaan standar dalam penetapan halal di antara lembaga-lembaga tersebut. "Masih terus diperlukan diskusi antarlembaga halal, untuk menyamakan kriteria," ujar Said Akhtar, CEO lembaga sertifikasi halal di Jepang, Nippon Asia Halal Association (NAHA).

“Makanan halal merupakan makanan yang baik untuk semua kalangan, dari segi gizi, kebersihan dan khasiat untuk kesehatan. Saya harap banyak orang Jepang yang semakin mengerti tentang halal dan sama-sama memajukan industri halal di Jepang,” ujar pakar halal dan ketua Asosiasi Muslim Jepang yang juga pernah menjabat sebagai peneliti di Pusat Penelitian Syariah di Universitas Takushoku menutup diskusi panel.

Acara pertukaran budaya kali ini juga dimeriahkan oleh Muslim Fashion Corner, di mana masyarakat Jepang dapat mencoba mengenakan hijab, gamis, kopiah dan pakaian khas berbagai negara Muslim.

“Ternyata (mengenakan) hijab tidak panas, saya malah merasa tenang dana terjaga dengan mengenakan hijab,” ujar seorang perempuan Jepang yang mencoba mengenakan hijab untuk pertama kalinya.

Selain itu peserta juga dihibur dengan tarian tradisional yang dibawakan oleh para siswi Sekolah Republik Indonesia Tokyo. Acara kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama yang disponsori oleh perusahaan makanan dari berbagai komunitas Muslim, seperti komunitas Muslim Indonesia, Turki, Syiria, dan Pakistan yang menetap di Jepang. (Tsamara Tsani/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Syariah, Nusantara, Pendidikan ArrahmahMedia.Com

Selasa, 12 Desember 2017

Lokalisasi Dolly Akhirnya Resmi Tutup

Surabaya, ArrahmahMedia.Com. Lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara yakni Dolly dan Jarak di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya, Rabu malam, akhirnya resmi ditutup.

Lokalisasi Dolly Akhirnya Resmi Tutup (Sumber Gambar : Nu Online)
Lokalisasi Dolly Akhirnya Resmi Tutup (Sumber Gambar : Nu Online)

Lokalisasi Dolly Akhirnya Resmi Tutup

Acara yang digelar di gedung Islamic Center Surabaya itu dihadiri Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri, Gubernur Jatim Soekarwo, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Ketua DPRD Surabaya Macmud, Kapolda Jatim, Garnisun, Kapolres Surabaya, anggota DPRD, kepala SKPD Pemkot Surabaya, MUI, LSM, PSK, mucikari dan warga sekitar Dolly.

"Yang harus dipertahankan adalah sesuatu hal positif, kalau tidak positif tidak perlu dipertahankan," kata Mensos Salim Segaf Al Jufri saat memberikan sambutan di acara Deklarasi Warga Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan Untuk Alih Fungsi Wisma dan Alih Profesi Wanita Harapan.

ArrahmahMedia.Com

Menurut dia, pihaknya memberikan apresiasi kepada pihak-pihak terkait yang sudah berusaha menutup prostitusi terbesar se-Asia Tenggara yakni Dolly dan Jarak.

"Sekitar 2-3 tahun, kami bersama dengan pemda optimal untuk mengatasi permasalahan ini," katanya.

ArrahmahMedia.Com

Dalam acara tersebut dilakukan deklarasi oleh perwakilan warga yang isinya menjadi Kelurahan Putat Jaya jadi bebas prostitusi, siap beralih profesi serta meminta aparat menindak tegas terjadinya prostitusi. Setelah itu dilanjutkan dengan penandatanganan oleh 107 perwakilan warga.

Gubernur Jatim Soekarwo dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas kerja sama dalam suksesnya acara ini. Ia mengatakan masyarakat dalam bekerja harus bermartabat.

"Ini program kemanusiaan. Maka kami acc apa yang diminta Bu Wali Kota dalam soal Dolly. Pemerintah tak akan membiarkan warga keleleran. Memang dulu penghasilan banyak, namun ditutup memang berkurang," katanya.

Soal PSK akan dikembalikan ke daerah asal, pihaknya sudah koordinasi dengan bupati/wali kota di Jatim. Pihaknya telah menyiapkan APBD Jatim untuk mengentaskan mereka.

Dalam kesempatan itu diberikan bantuan dari kemensos sebesar Rp7 miliar dan, Gubernur Jatim sebesar Rp 1, 5 miliar kepada PSK serta warga terdampak lokalisasi. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Aswaja, Berita, Nusantara ArrahmahMedia.Com

Rabu, 06 Desember 2017

Fatayat NU Harus Mampu Bentengi Pemudi dari Aliran Radikal

Probolinggo, ArrahmahMedia.Com - Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi Saifullah menyatakan bahwa Fatayat NU sebagai organisasi basis pemudi NU harus bisa maju dan berkembang dalam membentengi kaum pemudi dari arus perkembangan zaman dan aliran-aliran radikal yang marak beredar akhir-akhir ini.

Hal tersebut disampaikan Kiai Abdul Hadi Saifullah dalam puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-67 Fatayat NU sekaligus peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang digelar Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Probolinggo di Gedung Djojolelono Kabupaten Probolinggo, Sabtu (29/4).

Fatayat NU Harus Mampu Bentengi Pemudi dari Aliran Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Harus Mampu Bentengi Pemudi dari Aliran Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Harus Mampu Bentengi Pemudi dari Aliran Radikal

“Saya sangat mengapresiasi pengurus Fatayat NU Kabupaten Probolinggo dengan melaksanakan Harlah Fatayat NU ke-67 yang sekaligus memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW sebagai hari ulang tahun sholat lima waktu. Insya Allah ada hikmah yang besar dibalik keduanya,” katanya.

ArrahmahMedia.Com

Lebih lanjut Kiai Abdul Hadi meminta kalau bisa PC Fatayat NU melakukan turba (turun ke bawah) ke Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan ranting secara bergiliran dengan tempat yang telah ditentukan namun harus diplanning dengan baik. ?

“Selain itu sebagai ajang belajar bersama untuk memperkuat keislaman dengan ngaji bareng penceramah. Semoga melalui kegiatan ini akan membangkitkan ghiroh para pengurus Fatayat NU untuk selalu berkiprah dalam khazanah ilmiyah, Islamiyah dan membangun peradaban,” tegasnya.

ArrahmahMedia.Com

Sementara Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Probolinggo Elysa Chandra Maya menyampaikan bahwa tujuan kegiatan ini untuk menjalin silaturrahim seluruh pengurus PC, PAC hingga Ranting Fatayat agar bisa bersambung dengan baik. “Karena hanya dengan sambungan itulah kemaslahatan ukhuwah bisa bermakna,” ungkapnya.

Lisa berharap melalui kegiatan-kegiatan Fatayat NUmampu membentuk pemimpin perempuan cerdas yang bisa mengaplikasikan Islam Nusantara dalam kehidupan bermasyarakat dengan tetap berpegang pada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

“Peningkatan ekonomi produktif melalui pelatihan-pelatihan kita bersinergi dengan instansi terkait yang harapannya dapat memberdayakan sahabat muda Fatayat NU berkreativitas dan mandiri berdaya saing sehat disegala sektor pembangunan,” tegasnya.

Kegiatan ini diikuti 700 undangan terdiri dari pengurus PC Fatayat NU mulai tingkat cabang, anak cabang hingga ranting. Serta perwakilan pengurus PCNU dan MWCNU baik pengurus lembaga dan badan otonom (banom) di Kabupaten Probolinggo.

Harlah dan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW ini diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dilanjutkan dengan pembacaan Sholawat Nahdiyyah dan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Fatayat serta Ya Ahlal Wathon. Lantunannya mampu membuat khidmat para undangan bahkan ada sebagian diantara mereka yang meneteskan air mata. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nusantara, Sunnah, AlaSantri ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 11 November 2017

Istiqomah Teguhkan Islam Rahmatan lil Alamin

10 Oktober 1983 silam, Ketua Umum PBNU KH Idham Chalid bersama Menteri Agama Munawir Syadzili berkunjung ke Kelurahan Pancoran Mas, Kota Depok di tanah seluas 800 meter persegi. Dikelilingi ribuan masa, pejabat, ulama dan habaib, kedua tokoh ini menjadi saksi langsung berdirinya Pondok Pesantren al-Awwabin, yang kelak ribuan santrinya tersebar di berbagai pelosok Indonesia.

Bermula dari keserbaterbatasan di tahun 70-an, pesantren rintisan Abuya KH Abdurrahman Nawi kini tumbuh menjadi tiga unit lembaga pendidikan sekaligus dengan tiga lokasi berbeda. Tujuan mulianya terangkum dalam pernyataan “menegakkan kalimat tauhid dan menyebarkan Islam rahmatan lil ‘alamin”.

Istiqomah Teguhkan Islam Rahmatan lil Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)
Istiqomah Teguhkan Islam Rahmatan lil Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)

Istiqomah Teguhkan Islam Rahmatan lil Alamin

Perjuangan Abuya—sapaan akrab KH Abdurrahman Nawi—ternyata tak sia-sia. Pesantren al-Awwabin berhasil mencetak banyak kader Nahdliyin yang sanggup terjun di beragam bidang profesi. Terkait dengan estafet keulamaan, sejumlah alumni telah mampu mendirikan majelis taklim, sekolah, bahkan pondok pesantren sendiri sebagai media dakwah.?

ArrahmahMedia.Com

Kepada para santrinya, Abuya selalu menasehati tentang urgensi pengutamaan akhlak dan dakwah ilmu yang bermanfaat. “Satu orang yang mendapat petunjuk dari Allah karenamu, sesungguhnya lebih baik dari dunia dan segala isinya,” demikian tuturnya.

Bagi kiai asli Betawi ini, dakwah mesti dilaksanakan dengan hati bijaksana dan ramah. Sikap ini, misalnya, tercermin pada penolakannya terhadap ekstremisme beragama, yang gemar memusuhi kelompok tak sepaham, sejak kiprahnya di dunia kepesantrenan.

ArrahmahMedia.Com

Karenanya, Pesantren Al-Awwabin dan jaringannya hingga sekarang gencar menebar karakter Islam yang ramah melalui kegiatan keaswajaan. Setiap Kamis pesantren ini pun senantiasa dipadati jamaah Muslimat NU pada acara pengajian asuhan Abuya sendiri. Sebagian alumni bahkan membentuk dan aktif dalam forum “Brigade Aswaja”, sebuah wadah penyadaran dan kajian ilmiah menghadapi tantangan ekstremisme.

Seperti pesantren pada umumnya, Pesantren Al-Awwabin tumbuh dari majelis taklim sederhana di tanah pribadi pengasuh, Jl. Tebet-Barat VII Jakarta Selatan. Setelah mengembangkan sayapnya selama empat puluh tahun, sekarang Pesantren Al-Awwabin II (khusus putri) juga berdiri di bidang tanah seluas 4 hektar di Bedahan, Sawangan, Depok.

Di samping mendalami kitab-kitab salaf dan tahfid al-Qur’an, Pesantren Al-Awwabin juga membuka sekolah formal untuk jenjang Madrasah Ibtidai’iyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA), sejak awal diresmikan Menag dan Ketum PBNU tahun 1983. Mengikuti perkembangan mutakhir, pesantren ini pun mengoperasikan radio, pendidikan teknologi informasi, seni drumband, dan lain-lain.

Menurut Ustad Fathurrahman, salah satu pimpinan pesantren, unsur materi ilmu-ilmu salaf tergolong langka di pesantren-pesantren kawasan Jabodetabek. Kecenderungan untuk menerapkan kurikulum modern menjadikan sejumlah pesantren meminggirkan kitab-kitab kuning dari disiplin umum lainnya.

Di tengarai, 70 % dari pesantren di wilayah Jabodetabek telah beralih menjadi pesantren modern. Meskipun Pesantren Al-Awwabin mengadopsi model pendidikan modern, namun ia tak mau kehilangan akar tradisi keislamannya.

“Di sini beruntung masih menggalakkan kitab-kitab salaf dalam pendidikannya,” ujar Fathurrahman kepada ArrahmahMedia.Com usai wirid sembahyang Isya’ di lingkungan pesantren.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? ? : ? Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nusantara, Olahraga ArrahmahMedia.Com

Rabu, 08 November 2017

LP Maarif NU: Pemerintah Masih Diskriminatif antara Pendidikan Negeri dan Swasta

Jakarta, ArrahmahMedia.Com - Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama (PP LP Maarif NU) mengapresiasi komitmen kuat pemerintah terhadap peningkatan pendidikan warga negaranya dengan alokasi pendidikan 20 persen anggaran pusat dan daerah sebagaimana diatur pada Bab XIII pasal 31 ayat 5 UUD 1945. Hanya saja LP Maarif NU memandang sejumlah persoalan serius dalam implementasinya.

Salah satu masalah yang dihadapi di antaranya adalah adanya perlakuan yang berbeda dari pemerintah terhadap lembaga-lembaga pendidikan yang berstatus negeri dan swasta. Setidaknya LP Maarif NU mencatat tiga dimensi diskriminasi yang saat ini masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah.

LP Maarif NU: Pemerintah Masih Diskriminatif antara Pendidikan Negeri dan Swasta (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Maarif NU: Pemerintah Masih Diskriminatif antara Pendidikan Negeri dan Swasta (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Maarif NU: Pemerintah Masih Diskriminatif antara Pendidikan Negeri dan Swasta

Pertama, LP Maarif NU melihat pembedaan dalam hal kesejahteraan. Pendapatan yang diperoleh para pendidik yang mengajar di sekolah/madrasah negeri dan berstatus sebagai pegawai negeri jauh lebih besar dari para pendidik di sekolah/madrasah swasta. Bahkan, masih banyak para pendidik yang berstatus honorer dengan penghasilan di bawah Upah Minimum Regional (UMR).

ArrahmahMedia.Com

Kedua, pembedaan dalam hal memperoleh akses peningkatan kualitas pendidik. Para pendidik di sekolah/madrasah negeri lebih banyak memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitasnya melalui pelbagai pendidikan dan pelatihan yang diselenggarakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Akses serupa tidak terjadi pada para pendidik di sekolah/madrasah swasta.

Ketiga, pembedaan pada  struktur anggaran pendidikan. Sekolah/madrasah negeri lebih memperoleh perhatian dari anggaran negara maupun anggaran daerah dalam bantuan sarana dan prasarana pendidikan.

ArrahmahMedia.Com

“Hasil pengamatan kami, 90% dari 20% APBN/APBD yang ada habis dialokasikan untuk kepentingan sekolah/madrasah negeri. Padahal, dari aspek kelembagaan, sekolah/madrasah swasta jumlahnya lebih banyak dan sebarannya jauh lebih merata hampir di seluruh pelosok negeri,” kata Ketua LP Maarif NU H Z Arifin Junaidi yang disampaikannya dalam rangka peringatan Hardiknas 2016, Senin (2/5) malam.

Dengan sebaran yang cukup merata, peran lembaga pendidikan swasta selama ini sangat signifikan dalam peningkatan akses pendidikan bagi seluruh warga negara Indonesia di seluruh pelosok negeri. Bahkan, di beberapa daerah terpencil, terluar, dan terdepan, sekolah/madrasah swasta hadir menggantikan peran pemerintah dalam menyediakan layanan pendidikan bagi masyarakat setempat terutama dalam bentuk pendidikan berciri khas Islam (madrasah).

Pelbagai pembedaan ini secara langsung berdampak pada upaya penyediaan layanan pendidikan bermutu bagi semua. Karena sekolah/madrasah swasta yang perannya sedemikian besar dalam struktur anggaran pendidikan alokasinya tidak signifikan, sangat timpang dibanding sekolah/madrasah negeri.

Padahal dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 diamanatkan bahwa tujuan dibentuknya pemerintah salah satunya adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia, tanpa terkecuali. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nusantara ArrahmahMedia.Com

Kamis, 26 Oktober 2017

Komisi Rekomendasi Usulkan Gelar Pahlawan untuk Sejumlah Kiai

Cirebon, ArrahmahMedia.Com. Konferensi Besar (Konbes) NU 2012 di Pondok Pesantren Kempek Palimanan Cirebon, Ahad (16/9), merekomendasikan usulan gelar pahlawan bagi para ulama NU. Mereka antara lain KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Abbas Buntet Cirebon dan KH Abdurrahman Wahid.

Komisi Rekomendasi Usulkan Gelar Pahlawan untuk Sejumlah Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Komisi Rekomendasi Usulkan Gelar Pahlawan untuk Sejumlah Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Komisi Rekomendasi Usulkan Gelar Pahlawan untuk Sejumlah Kiai

Kiai lainnya yang diusulkan dalam sidang komisi rekomendasi adalah Kiai Subhi Parakan Temanggung dan beberapa kyai lain yang telah nyata berjuang melawan penjajah dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Salah satu putra Kiai Wahab Hasbullah, KH Hasib Wahab yang meneruskan pengasuhan pondok pesantren Bahrul Ulum Tambah Beras Jombang, di sela sidang komisi di Munas-Konbes NU menyatakan, pengusulan gelar pahlawan itu bukan untuk meminta imbalas atas jasa mereka terhadap negara. 

ArrahmahMedia.Com

Menurutnya usulan itu lebih dimotivasi keinginan agar generasi muda sekarang bisa mengambil teladan dan punya motivasi perjuangan seperti para pendahulunya. Lebih khusus agar warga  muda NU meniru para kiainya yang telah begitu besar pengorbanannya bagi negeri yang sangat di cintainya.

ArrahmahMedia.Com

"Kita saat ini butuh inspirasi. Butuh teladan dalam nasionalisme dan kecintaan pada kemerdekaan. Sudah selayaknya ulama yang berjuang begitu luar biasa dicatat dalam sejarah sebagai pahlawan. Agar anak cucu kita kelak bisa meneladani mereka," tutur kiai Hasib yang baru datang usai menggelar Haul ke-41 Simbah KH Abdul Wahab Hasbullah di pondok pesantrennya, kemarin.

Lebih lanjut, ia menyebutkan, Kiai Wahab Hasbullah sangat layak untuk segera diberi gelar pahlawan. Sebab peran beliau yang luar biasa sejak sebelum kemerdekaan hingga menyelamatkan NKRI ketika diserbu sekutu. Dalam peristiwa 10 November 1945, ketika Surabaya dikepung Belanda dan sekutu yang dipimpin Amerika, terangnya, Kiai Wahab Hasbullah berkeliling Jawa dan Madura untuk mengundang para ulama agar berkumpul membahas situasi republik yang genting.

Hasilnya, maklumat NU yang diserukan Rais Akbar Hadrotus Syakh KH Hasyhim Asyari atau lebih terkenal dengan nama Resolusi Jihad NU, menjadi pemantik gerakan perlawanan rakyat semesta melawan sekutu di Surabaya.

"Mbah Wahab waktu itu juga mengontak seluruh komandan laskar Hizbullah dan Sabilillah untuk menyerbu sekutu setelah keluar resolusi jihad," ujarnya.

Sekedar menambahkan data, Kiai Wahab lantas menyebutkan, para kyai seperjuangan Mbah Wahab sudah diberi gelar pahlawan. Termasuk yunior beliau. Yaitu KH Abdul Wahid Hasyim dan  KH Idham Kholid untuk menyebut dua nama. PBNU, kata dia perlu segera memproses pengusulan gelar pahlawan bagi para ulama NU. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), menurutnya, juga masuk prioritas pengusulan, bersamaan dengan pengusulan nama KH Abdul Wahab Hasbullah.

"Munas ini harus menghasilkan rekomendasi hal tersebut. Usai acara ini, PBNU kami harap segera memproses usulan tersebut," pungkasnya diamini mantan ketua GP Ansor Cholid Mawardi, tokoh keraton Cirebon, Ki Ageng Macan Putih dan beberapa kiai lain. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muhammad Ichwan 

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pondok Pesantren, Nusantara, Daerah ArrahmahMedia.Com

Minggu, 10 September 2017

Lakpesdam Surabaya: Dai Harus Melek Perkembangan Kekinian

Surabaya, ArrahmahMedia.Com 



Pengurus Lakpesdam NU Surabaya, M. Najih Arromadloni berpendapat, dari sekian banyak pengguna media sosial hanya sebagian kecil yang menciptakan konten. Sisanya konsumen. Ia menyampaikan hal itu saat menjadi moderator Pelatihan Dai Zaman Now yang digelar Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Surabaya di Pena Room gedung Graha Pena Surabaya, Ahad pagi, (17/12) .

Sekitar 100 peserta Pelatihan Dai Zaman Now tidak hanya mendengarkan ceramah dari para praktisi yang ahli di bidangnya. Mereka juga diajari dan langsung praktik membuat berbagai macam design meme untuk disebarluaskan di medsos.

Lakpesdam Surabaya: Dai Harus Melek Perkembangan Kekinian (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam Surabaya: Dai Harus Melek Perkembangan Kekinian (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam Surabaya: Dai Harus Melek Perkembangan Kekinian

Ketua Lakpesdam NU Surabaya Imam Syafii, ketika membuka kegiatan itu mengatakan bahwa para dai harus menyesuaikan perkembangan zaman dalam menyampaikan dakwahnya. 

Mereka juga harus mengetahui isu-isu kekinian dengan agar tidak ketinggalan dari jamaahnya. "Karena sekarang zamannya internet dan medsos, para dai juga harus melek internet dan medsos. Jika tidak, akan ditinggal jamaahnya," jelasnya.

Saat ini, menurut Imam, jumlah pengguna internet di Indonesia sangat besar. Dari 262 juta jumlah penduduk, ada 132,7 juta pengguna internet, 106 juta pengguna medsos, dan 92 juta pemakai ponsel aktif. 

ArrahmahMedia.Com

"Para dai harus melihat realita ini sebagai medan dakwahnya yang baru sekaligus melengkapi diri mereka dengan keterampilan dan strategi yang tepat agar bisa berdakwah kepada warganet tersebut," papar Direktur Pemberitaan dan Produksi JTV ini.   

Sururi Arumbani, salah seorang pemateri, menerangkan bahwa berdakwah tidak harus berpidato atau berceramah di depan jamaah pengajian. Berdakwah juga bisa dengan cara lain yaitu berdakwa dengan cara menyebarkan meme atau nge-vlog di medsos. 

"Dakwah itu yang penting menyampaikan kebaikan (hasanah). Bukan menyebar kebencian terhadap orang lain," ujar Sururi. "Kalau semua pendakwah ingin ceramah di depan jamaah pengajian, nanti bisa rebutan panggung," sambung mantan Pemimpin Redaksi TV9 ini dengan nada guyon, sehingga membuat peserta workshop tertawa.

Pembicara lainnya, Judy Djoko Wahyono memberikan sejumlah kiat agar para dai bisa tampil mempesona di depan jamaahnya melalui gesture dan suara. Termasuk para dai yang ingin nge-vlog atau membuat video ceramahnya untuk ditampilkan di medsos. 

ArrahmahMedia.Com

"Para dai jangan hanya memikirkan what to say. Tapi juga how to say-nya," kata doktor sekaligus praktisi media yang suka dipanggil Bung Djoko ini.

Dia menegaskan ada dua faktor dalam berkomunikasi antara komunikator (pembicara) dengan komunikan (yang diajak bicara) yaitu faktor verbal dan non verbal. 

"Sekitar 80 persen keberhasilan berkomunikasi ditentukan faktor nonverbal. Pangaruh faktor verbal hanya 20 persen," jelas Direktur Radio El Bayu, Gresik, ini.

Faktor nonverbal itu, lanjut dia, di antaranya meliputi gestur dan vokal (suara). "Sementara suara terdiri dari unsur intonasi (naik turun), artikulasi (pelafalan), aksentuasi (penekanan), phrase, speed, pace (ketukan) dan power," ujarnya.

Narasumber lainnya, Arya Muhammad, mengatakan medsos sebagai media baru untuk berdakwah. Ini karena pengaruh media sosial yang sangat besar sekarang. Kalau dulu ada jargon mulutmu harimaumu. Sekarang ganti menjadi medsosmu harimaumu. "Sekarang ini, semuanya tergantung kepada apa yang disampaikan di medsos," kata Arya dari Santri Community Design.

Menurut Arya, dai dan calon dai zaman now harus melek medsos dan melek design. "Supaya mereka bisa melakukan dakwah bil lisan dan bil design," kata lulusan design grafis Universitas Negeri Malang ini.  Dia mengungkapkan, saat ini, konten dakwah di medsos dilakukan dengan menyebar meme sebanyak-banyaknya. "Mulai dari poster dakwah hingga quote ulama," tambah Arya.

 Arya mengajari peserta workshop bagaimana membuat berbagai design meme menarik dengan aplikasi corel. Mulai dari pilihan warna hingga font hurufnya. "Yang sederhana saja. Yang penting jelas. Jangan berbelit-belit," sarannya kepada peserta pelatihan yang kebanyakan mahasiswa dan sarjana tersebut.

Lakpesdam Sehari sebelumnya, di tempat dan waktu yang sama, sehari sebelumnya, mengadakan Workshop Jurnalistik dan Karya Tulis Ilmiah. Pesertanya 200 lebih siswa SMA dan mahasiswa. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nusantara ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 06 Mei 2017

KMNU IPB Kenalkan Mahasiswa Baru Ragam Keberagamaan di Kampus

Bogor, ArrahmahMedia.Com. Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Institut Pertanian Bogor (IPB) menyambut mahasiswa baru IPB dengan memberi wawasan kepada mereka tentang keberagaman ekspresi beragama di kampus setempat.

KMNU IPB Kenalkan Mahasiswa Baru Ragam Keberagamaan di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU IPB Kenalkan Mahasiswa Baru Ragam Keberagamaan di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU IPB Kenalkan Mahasiswa Baru Ragam Keberagamaan di Kampus

Seperti yang dilakukan di sekretariat KMNU IPB, Selasa (17/6). KMNU IPB menggelar serangkaian agenda guna menyambut mahasiswa baru angkatan 51 dari berbagai daerah di Pulau Jawa. Pertemuan “Saresehan dan Ramah-tamah KMNU IPB” ini juga untuk menyongsong datangnya bulan Ramadhan.

“Menyikapi perbedaan bukan dengan menentangnya mentah-mentah namun dengan menunjukkan bahwa yang berbeda akan terasa menyejukkan ketika dapat beriringan melangkah tanpa menyudutkan satu sama lain, tanpa mencederai hak-hak orang lain,” kata Ketua KMNU Ahmad Mujib.

ArrahmahMedia.Com

Acara pengenalan corak keberagamaan di kampus ini dimaksudkan untuk memberi bekal kepada mahasiswa agar tidak bingung dengan dunia baru mereka. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana perekrutan awal anggota KMNU IPB.

KMNU IPB juga mengenalkan dirinya sebagai wadah dan keluarga bagi para mahasiswa IPB yang berpaham Ahlussunnah wal Jama’ah. Diharapkan, KMNU IPB menjadi sarana berkumpul, mengembangkan potensi, serta melestarikan tradisi amaliyah yang sesuai dengan tuntunan Rosulullah SAW yang diwariskan pada para ulama.

ArrahmahMedia.Com

Forum tersebut dihadiri Steering Commitee KMNU IPB bidang pengaderan, Muhammad Zimamul Adliu; serta Ketua KMNU Ahmad Mujib. Keduanya menyampaikan materi tentang pengenalan dunia kampus dan pengenalan KMNU IPB.

Kegiatan ini juga dihadiri para orang tua wali mahasiswa baru serta berlangsung interaktif dengan adanya pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari beberapa mahasiswa menyikapi perbedaan-perbedaan tersebut. Acara ditutup dengan hikmad dengan dibacakannya shalawat Burdah yang menjadi penutup yang khas dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh KMNU IPB. (Red: Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kajian Sunnah, Nusantara, Ubudiyah ArrahmahMedia.Com

Selasa, 21 Juni 2016

Harlah ke-61 Muslimat NU Berlangsung Meriah

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Perayaan hari lahir (harlah) ke-61 Muslimat Nahdlatul Ulama hari ini, Kamis (29/3), berlangsung sangat meriah. Lebih dari 15.000 anggota Muslimat memenuhi Istora Senayan sampai-sampai banyak yang tak kebagian tempat duduk dan harus berdiri atau duduk di lantai.

Ketua Umum PP Muslimat Khofifah Indar Parawansa menjelaskan selama 61 tahun, Muslimat NU berusaha turut membangun bangsa dengan memberdayakan kaum perempuan.

Program kesetaraan gender, menurut mantan menteri pemberdayaan perempuan ini tak hanya bisa dilakukan lewat wacana saja. “Muslimat terjun langsung pada masyarakat dengan turut memberantas buta huruf, baik huruf latin maupun huruf Arab,” tuturnya.

Harlah ke-61 Muslimat NU Berlangsung Meriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah ke-61 Muslimat NU Berlangsung Meriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah ke-61 Muslimat NU Berlangsung Meriah

Khofifah menuturkan bahwa ia baru saja datang dari NTT. Banyak ibu-ibu yang dimintai cap jempol oleh suaminya yang tak tahunya adalah untuk menikah lagi. Kondisi yang sama juga dialaminya di Sulsel. Ada diantara ibu-ibu yang tak bisa membantu anaknya belajar karena tak bisa membaca. Namun setelah mengikuti program muslimat kini mereka bisa membaca running teks di TV.

Alumni Universitas Airlangga Surabaya ini menjelaskan saat ini problematika yang dihadapi oleh bangsa Indonesia masih berat. Krisis multidimensional masih belum selesai dan membutuhkan dukungan bersama untuk mengentaskannya. Ia juga meminta pemerintah untuk tidak tebang pilih dalam meberantas korupsi.

ArrahmahMedia.Com

Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh seperti Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, Gubernur DKI Sutiyoso, Menkokesra Abu Rizal Bakri, Menteri Percepatan Daerah Tertinggal Saifullah Yusuf, Menteri Koperasi dan UKM Surya Darma Ali, Wakil Ketua MPR Aksa Mahmud dan Wagub DKI Fauzi Bowo.

Kegiatan yang sekaligus memperingati maulud nabi ini mengambil tema “Membangun Bangsa Berdasarkan Persatuan, Persaudaraan, Profesionalitas dan Akhlakul Karimah”. Beberapa wilayah secara simbolis menerima peralatan jahit yang diberikan oleh Menkokesra Abu Rizal Bakri  sebagai bagian dari program peningkatan life skill hasil kerjasama dengan Depdiknas.

ArrahmahMedia.Com

Para ibu-ibu juga dihibur dengan alunan nada dari Opick serta ceramah agama oleh ustadz Jefry Al Buchori dan ustadz Ahmad al Habsy. Sutiyoso dalam sambutannya juga menawarkan para ibu-ibu Muslimat untuk melihat “Air Mancur Berjoget” di Monas yang biasanya hanya dibuka pada Sabtu dan Minggu malam.

Saat ini Muslimat sudah mengelola lebih dari 9900 TK, 11.000 Raudhatul Atfal, 4223 pendidikan anak usia dini, 131 koperasi primer, 490 program keaksaraan dan 35.000 majelis taklim di seluruh Indonesia. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nusantara, Syariah, Kiai ArrahmahMedia.Com

Selasa, 21 Juli 2015

NU ke Depan Harus Ditopang Empat Kekuatan

Jepara, ArrahmahMedia.Com. Ketua PWNU Jawa Tengah, H Abu Hafsin mengatakan, di Thailand pernah mendiskusikan kepemimpinan di Asia. Salah satu bahasan diskusi itu, kepemimpinan di Indonesia era presiden KH Abdurrahman Wahid.

NU ke Depan Harus Ditopang Empat Kekuatan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU ke Depan Harus Ditopang Empat Kekuatan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU ke Depan Harus Ditopang Empat Kekuatan

Dari hasil diskusi yang diselenggarakan Bangkok Post tersebut menghasilkan empat hal negatif bahwasanya era Gus Dur sangat rentan digulingkan.

Hal itu dikemukakan Abu Hafsin saat memberikan pengarahan dalam Bahtsul Masail PWNU Jawa Tengah pada komisi organisasi bertempat di pesantren Al-Falah desa Bakalan kecamatan Kalinyamatan kabupaten Jepara, Senin (6/1).

ArrahmahMedia.Com

Keempat hal tersebut dikatakan Abu, pada era Gus Dur tidak didukung oleh kekuatan ekonomi, birokrat, media dan konstituen. Padahal sebelum pendirian NU 1916, 2 tahun sebelumnya sudah ada Nahdlatut Tujar dan Tasywirul Afkar.

ArrahmahMedia.Com

“Sebelum NU didirikan kekuatan ekonomi dan pemikiran diperkuat agar NU tetap bertahan,” sebutnya kepada pengurus PCNU, Banom, Lajnah dan MWCNU se-Jepara yang hadir.  

Ke depan, berpijak dari hal itu NU harus memperkuat keempat komponen tersebut. “NU ke depan harus memperkuat lembaga perekonomian. Meskipun kita punya hak di pemerintahan tetapi tidak lantas manja dengan bantuan-bantuan tersebut. NU harus mandiri dalam bidang perekonomian,” paparnya.

Selanjutnya, ormas yang didirikan KH Hasyim Asyari lanjutnya harus memiliki kader politisi sebanyak-banyaknya yang punya komitmen terhadap NU dan Aswaja. Muaranya kader-kader NU yang bertebaran diharapkan menjadi tangan panjang kebijakan NU agar tetap eksis. Sedangkan di bidang media para warga NU khususnya santri harus melek media dan bisa menulis.

Selain memperkuat keempat kekuatan tersebut, Abu Hafsin juga mengetengahkan ancaman ideologi NU. Aliran-aliran yang hendak membumi hanguskan NU bebernya sudah door to door, dari rumah ke rumah.

“Semisal tradisi tahlilan oleh mereka disebutkan memang ada dalam kitab kuning (salaf, red) namun bagi mereka tidak termaktub dalam Al-Qur’an. Itu yang menjadi target “dakwah” mereka. Itu salah satu ancaman yang mesti kita waspadai,” himbaunya.

Dirinya yakin kekuatan NU kultural di desa-desa dan kampung-kampung masih eksis. Jamaah Habib Syekh dan Jamuro ditegaskannya juga menjadi salah satu penjaga Aswaja. Namun sekolah-sekolah umum yang belum terjamah NU telah dirasuki aliran-aliran tersebut.

Karenanya, siswa di sekolah imbuhnya yang merupakan kader potensial utamanya sekolah-sekolah NU perlu diselamatkan ideologinya agar tidak terjangkiti aliran-aliran salafi tersebut. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Humor Islam, Nusantara ArrahmahMedia.Com

Minggu, 05 Juli 2015

Ali Masykur Lantik ISNU Madiun

Madiun,ArrahmahMedia.Com. Ali Maskur Musa, ketua umum (PP) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU, mengukuhkan  kepengurusan ISNU Kabupaten Madiun masa bakti 2013-2013 yang digelar di komplek Pesantren Subulul Huda Kembangsawit Madiun, Kamis Siang (29/05).

Ali Masykur Lantik ISNU Madiun (Sumber Gambar : Nu Online)
Ali Masykur Lantik ISNU Madiun (Sumber Gambar : Nu Online)

Ali Masykur Lantik ISNU Madiun

Tampak hadir dalam acara tersebut, Bupati Madiun, Muhtarom, Jajaran PCNU Kab. Madiun, Gus Nizan Basari, KH Mustaqim Basari, KH Luqman Harist Dimyathi (Tremas) dan para alim ulama.

Acara pelantikan ISNU juga dirangkaikan dengan peringatan haul yang ke-19, Al Magfurlah KH Munirul Ichwan, pendiri Pesantren Subulul Huda Kembangsawit Madiun.

ArrahmahMedia.Com

Gus Nizan, sohibul bait yang juga pengasuh pesantren Subulul Huda dalam sambutanya memperkenalkan kepada tamu undangan bahwa Ali Maskur Musa adalah tokoh muda NU yang cerdas dan  tegas. AMM, nama singkatan Ali Maskur Musa juga digadang-gadang untuk memimpin Indonesia ke depan.

ArrahmahMedia.Com

Selanjutnya, selain mengambil sumpah jabatan kepada Dewan Pengurus Harian ISNUMadiun, dalam kesempatan tersebut Ali Masykur Musa juga memberikan orasi ilmiah.

Dalam orasinya yang berlangsung selama hampir satu jam tersebut, Wakil ketua BPK itu menyampaikan tentang profil ISNU sebagai rumah kembalinya para intelektual Nahdlatul Ulama. Kehadiran ISNU adalah bukan sebagai barang baru, ISNU sejatinya telah lahir sejak tanggal 19 November tahun 1999, ketika masa reformasi bergulir.

Ali Maskur Musa berharap, kehadiran ISNU Madiun benar-benar bermanfaat bagi masyarakat umumnya dan warga nahdliyin khususnya.

Pengurus ISNU Madiun yang baru dilantik merupakan kader NU pilihan yang siap berjuang melalui jalur intelektual dan akademik. 

Walaupun demikian ISNU tetap harus menjaga tradisi dan nafas Ahlussunnah wal Jamaahnya.

“Ketika sudah masuk di ISNU, para intelektual NU tetap harus melakukan rangkaian ritual seperti tahlilan, manaqiban, sholawatan dan berjanjenan,” harapnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nusantara, RMI NU, Tokoh ArrahmahMedia.Com

Rabu, 29 Oktober 2014

Peringati Harlah Ke-92, NU Semarang Siap Gelar Refleksi dan Shalat Gerhana

Semarang, ArrahmahMedia.Com. Ada yang istimewa dalam acara peringatan hari lahir (harlah) Nahdlatul Ulama (NU) ke-92 tahun ini. Tak hanya pengajian seperti biasa, namun diisi pula dengan Shalat Gerhana bulan dan ungkapan refleksi dari lima rektor perguruan tinggi.

Peringati Harlah Ke-92, NU Semarang Siap Gelar Refleksi dan Shalat Gerhana (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Harlah Ke-92, NU Semarang Siap Gelar Refleksi dan Shalat Gerhana (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Harlah Ke-92, NU Semarang Siap Gelar Refleksi dan Shalat Gerhana

Panitia Harlah NU ke-92 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang telah mengundang rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, rektor Universitas Wahid Hasyim, rektor Universitas Diponegoro (UNDIP), rektor Universitas Negeri Semarang (UNNES), dan rektor Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) untuk memberikan pidato bertema refleksi tentang kiprah NU di dunia maupun khususnya di Semarang, bertempat di ruang utama Masjid Agung Jawa Tengah jl. Gajah Raya Semarang, Rabu (31/1) mulai jam 16.00 hingga 23.00.

Para rektor dan hadirin akan diajak Salat Gerhana dan jamaah Magrib, lalu jamaah Isya, dan ditutup Mauidhoh Hasanah oleh Rois Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh.

Ketua Panitia Harlah NU ke-92 PCNU Kota Semarang Saechu Amrin menerangkan, pihaknya akan menghadirkan ribuan jamaah untuk memeriahkan acara tersebut. Dia berharap seluruh Nahdliyin Kota Semarang berbondong-bondong hadir bersama keluarga atau jamaahnya.

ArrahmahMedia.Com

"Mari kita ramaikan harlah NU kita yang istimewa ini. Ayo hadir bersama seluruh keluarga dan jamaah Anda!" ucapnya usai menutup rapat panitia di kantor PCNU Kota Semarang, kemarin. 

Saechu menambahkan, di dalam gelaran harlah tersebut para rektor akan memberikan banyak wawasan tentang perlunya warga NU waspada dan bijaksana dalam menghadapi tahun politik yang kini sedang banyak Pemilihan Kepala Daerah yang seluruhnya melibatkan tokoh-tokoh NU sebagai kontestannya.

Dilanjutkannya, para tokoh senior NU juga dijadwalkan memberikan pidato refleksi. Diantaranya mantan gubernur Jateng Ali Mufiz, ketua MUI Jateng KH Ahmad Daroji dan Ketua Badan Pengelola MAJT Noor Ahmad.

Rais Syuriyah PWNU Jateng KH Ubaidillah Sodaqoh, kata dia, akan memberikan nasehat-nasehat tentang perlunya menjaga NU dan menata barisan agar menjadi jamiyyah (organisasi) yang sesuai khittah pendiriannya. 

ArrahmahMedia.Com

"Mbah Ubed akan menyampaikan pesan agar kita bangkit dan menata NU kita. Karena menjaga NU adalah menjaga Indonesia, menghancurkan NU adalah menghancurkan Indonesia," ujarnya.

Panitia juga mengharap kehadiran para mahasiswa se-Kota Semarang. Lebih-lebih mahasiswa dari lima perguruan tinggi yang rektornya hadir sebagai narasumber, menurutnya wajib datang. 

"Kawan-kawan mahasiswa di Kota Semarang saya undang untuk hadir. Terlebih yang kuliah di UIN Walisongo, Unwahas, Undip, Unnes, Unissula, wajib hadir lho. Karena bapak-bapak kalian jadi narasumber di acara ini," pungkasnya. (Ichwan/Abdullah Alawi)


Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nusantara ArrahmahMedia.Com

Senin, 07 Januari 2008

Ribuan Jamaah Hadiri Haul KH Baedlowi Lasem

Rembang, ArrahmahMedia.Com. Ribuan jamaah dari pelbagai daerah menghadiri acara haul KH Baedlowi bin Abdul Aziz yang Ke-42, Ahad sore (2/9).?

Ribuan Jamaah Hadiri Haul KH Baedlowi Lasem (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Jamaah Hadiri Haul KH Baedlowi Lasem (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Jamaah Hadiri Haul KH Baedlowi Lasem

Haul yang digelar di pelataran Pondok Pesantren Al-Wahdah, Sumbergirang, Lasem-Rembang, Jawa Tengah, itu juga dihadiri sejumlah kiai. Diantaranya Mustasyar PBNU, KH Maemoen Zuber Sarang. Hadir pula Wakil Bupati Rembang, H Abdul Hafidz.

Dalam tausiyahnya, KH Maemoen Zuber mengatakan, bahwa KH Baedlowi merupakan penyebar tarekat Syattariyyah.?

ArrahmahMedia.Com

"Tarekat ini merupakan salah satu tarekat terpenting dalam proses islamisasi di Indonesia. Dzikir yang diajarkan oleh tarekat ini sangat cocok untuk orang awam," kata Mbah Maemun.

ArrahmahMedia.Com

”Mbah Baedlowi, ikut mengembangkan tarekat syattariyyah,” lanjut Mbah Maemoen, yang juga menantu KH Baedlowi.

Pada bagian lain, Mbah Maemoen menjelaskan hubungan antara orang yang hidup dengan orang yang sudah meninggal ibarat hubungan antara pengikal benang dengan layang-layang. "Dimana, orang hidup itu ibarat pengikal benang, sedangkan orang yang sudah meninggal ibarat layang-layang."

"Layang-layang bisa dinaikkan dengan mengendorkan benang dari pengikal benangnya. Sebaliknya, layang-layang bisa diturunkan atau dijatuhkan dengan menarik benang dari pengikal benangnya," jelasnya.

Orang yang masih hidup di dunia, lanjut Mbah Moen, bisa menaikkan arwah orang yang sudah meninggal. Sebaliknya, orang yang masih hidup juga bisa menurunkan arwah orang yang sudah meninggal.

”Jadi, meski sudah meninggal, masih ada hubungan dengan orang yang masih hidup,” tambahnya. ? ? ? ?

Dalam sejarah, KH Baedlowi memiliki peran yang cukup besar khususnya dalam upaya mempertahankan keutuhan NKRI. Salah satunya, beliau mengusulkan agar Presiden RI saat itu, Ir Soekarno diberikan gelar waliyyul al-amri ad-dharuri bi as-asyukah.?

Usulan KH Baedlowi itu terkait dengan munculnya persoalan politik di tanah air yang mempertanyakan sah tidaknya posisi Ir Soekarno sebagai presiden di Indonesia.

Akhirnya, usulan KH Baedlowi dibawa ke forum muktamar NU pada tahun 1947 di Madiun yang memutuskan bahwa Ir Soekarno adalah Kepala Negara Republik Indonesia sebagai waliyyu al-amri ad-dharuri bi as-syaukah. Artinya, pemegang pemerintahan yang bersifat darurat dengan kekuatan dan kekuasaan.

Selain KH Baedlowi bin Abdul Aziz, sejumlah masyayikh juga ikut dihauli. Antara lain Ny Hj Halimah bin Shiddiq, Ny Hj Hamdanah binti Ahmad Ke-31, KH Cholil bin Abdullah Umar Ke-13, dan Ny Hj Shofiyatun binti Abdubullah Sajjad Ke-13.

Selain itu, ada Ny Hj Roudloh binti Baedlowi, Kiai Abdul Bar bin Baedlowi, Ny Hj Afwah binti Baedlowi, Kiai Abdul Quddus bin Baedlowi, KH Abdul Halim bin Baedlowi Ny Hj Saudah binti Baedlowi, Ny Hj Fahimah binti Baedlowi, dan segenap sesepuh dan keluarga besar Pesantren Al-Wahdah, Lasem-Rembang.

Redaktur : Hamzah Sahal

Pengirim ? : Sholihin Hasan

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Anti Hoax, Kajian Sunnah, Nusantara ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock