Tampilkan postingan dengan label PonPes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PonPes. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Februari 2018

Pembangunan Nasional Harus Seiring dengan Penguatan Pancasila

Bondowoso, ArrahmahMedia.Com. Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember Moch. Eksan menegaskan pentingnya pengelola negara mengamalkan Pancasila secara konsekuen. Sebab, tanpa penguatan Pancasila, proses pembangunan negara ini tidak akan berhasil maksimal. 

"Kalau membangun negara, jangan lupa membangun kesadaran masyarakat tentang Pancasila sebagai sumber nilai dalam berbangsa. Jika tidak, maka cita-cita reformasi hanya menjadi mimpi," ujarnya saat  menjadi narasumber dalam Latihan Kader HMI II Cabang Persiapan Bondowoso-Situbondo, di aula Kodim Bondowoso, Jumat (1/12).

Pembangunan Nasional Harus Seiring dengan Penguatan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembangunan Nasional Harus Seiring dengan Penguatan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembangunan Nasional Harus Seiring dengan Penguatan Pancasila

Menurutnya, era reformasi yang pernah dielu-elukan  sebagai era kebangkitan bangsa menuju Indonesia modern, berkemajuan dengan kesejahteraan yang berkeadilan, ternyata masih jauh panggang dari api. 

Memang, katanya, empat kali Pemilu pasca reformasi dan pemilihan langsung presiden dan kepala daerah, telah membentuk postur kebijakan publik dan alokasi anggaran yang semakin pro-rakyat dan mengarah pada perwujudan  kesejahteraan yang seutuhnya. “Namun sayangnya, hal tersebut  belum menunjukkan tanda-tanda keberhasilan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang maksimal,” lanjut Eksan.

ArrahmahMedia.Com

Ironi Negara Besar

Ketidakberhasilan tersebut ditandai dengan tetap bercokolnya  IPM (Indeks Pembangunan Manusia), daya saing, dan indeks kesejahteraan rakyat Indonesia di bawah tiga negara lain di kawasan ASEAN. Indonesia “istiqamah” berada di bawah Singapura, Thailand, dan Malaysia. 

Padahal, katanya, dalam segala hal, potensi Indonesia lebih besar dari tiga negara tersebut. Terutama dari segi geografis dan demografis, luas wilayah Indonesia 53 persen dari luas wilayah ASEAN dan penduduk Indonesia 43 persen dari jumlah penduduk di kawasan ASEAN ini.

ArrahmahMedia.Com

“Potensi begitu besar ini, belum dapat mendongkrak posisi Indonesia dalam konstelasi global sebagai negara besar yang diharapkan menjadi macan ASEAN,” jelasnya.

Persoalannya,  sejak 1998 sampai sekarang, proses pembangunan nasional dilakukan tanpa disertai pembangunan ideologi negara. Alih-alih dibangun, menurut Eksan, Pancasila malah diserang habis-habisan oleh ideologi kanan maupun ideologi kiri. Pemerintah dan rakyat seolah membiarkan proses "mutilasi ideologis" terhadap Pancasila tanpa pembelaan sedikit pun. Ini terjadi lantaran takut dicap tidak reformis dan antek Orde Baru yang menggunakan Pancasila sebagai alat hegemoni kekuasaan.

Kegagalan Orde Baru dalam menghadirkan kondisi politik yang demokratis, serta kondisi ekonomi yang berkeadilan, bukanlah salah Pancasila. Namun  kesalahan rezim dalam menerapkan Pancasila secara murni dan konsekuen. "Pendek kata, kalau mau merawat Indonesia, maka wajib merawat Pancasila," ujar  mantan Dosen STAIN Jember itu. (Aryudi A Razaq/Mahbib)





Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com PonPes ArrahmahMedia.Com

Jumat, 16 Februari 2018

Tiga Pesan Ketua PCNU di SMP-SMA Maarif 1 Pamekasan

Pamekasan, ArrahmahMedia.Com. Ketua PCNU Kabupaten Pamekasan KH Taufiq Hasyim hadir pada Tabligh Maulid Akbar dan Gema Shalawat di Desa Terrak, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, Sabtu (3/12).

Tiga Pesan Ketua PCNU di SMP-SMA Maarif 1 Pamekasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Pesan Ketua PCNU di SMP-SMA Maarif 1 Pamekasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Pesan Ketua PCNU di SMP-SMA Maarif 1 Pamekasan

Pada pidato di acara yang digelar SMP-SMA Maarif 1 Pamekasan tersebut, Kiai Taufiq menyampaikan tiga pesan penting kepada hadirin.

Pesan pertama berupa dorongan kepada SMP-SMA Maarif 1 untuk terus berada pada jalur kemajuan.?

Kiai Taufiq memberi apresiasi positif atas perkembangan lembaga tersebut yang tergolong pesat dan menjadi percontohan di Kota Gerbang Salam.

"Kedua, ajaran Islam Ahlussunnah wal-Jamaah (Aswaja) harus kita terus pupuk. Islam yang mengedepankan maslahat, meski melekat dalam setiap sendi kehidupan kita," tegas Pengasuh Pesantren Sumber Anom, Pegantenan, Pamekasan tersebut.

ArrahmahMedia.Com

Terakhir, Kiai Taufiq mengetengahkan pesan perlunya menjaga NKRI. Di negeri ini, kebebasan menjalankan ajaran agama Islam tidak dikekang. Spirit kebangsaan dan keagamaan melebur dan mengarah pada harmoni.

ArrahmahMedia.Com

"Kita mesti terus kedepankan Islam yang ramah, bukan Islam yang marah. Itu sudah dicontohkan oleh para kiai dan para pejuang kemerdekaan di negeri tercinta ini," tegasnya. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sunnah, Kajian Islam, PonPes ArrahmahMedia.Com

Selasa, 06 Februari 2018

Dinamika Ketenagakerjaan Era Digital Harus Disikapi Optimis

Jakarta, ArrahmahMedia.Com 

Teknologi dan informasi memiliki peranan besar terhadap perkembangan ekonomi negara-negara dunia yang berdampak terhadap bidang-bidang lain, salah satunya bidang ketenagakerjaan. Untuk itu, Pemerintah Indonesia mengajak seluruh stakeholder ketenagakerjaan agar optimis dalam menyambut kedatangan era digital tersebut, bahwa implikasi era digital dapat berampak positif terhadap kondisi ketenagakerjaan Indonesia.

“Sudah saatnya secara confidence kita mengantisipasi dampak nyata apa saja kepada pekerja, kepada jenis pekerja, kepada dunia usaha, kepada pelaku bisnis, kepada pemerintah atas segala rapid atau perubahan yang sangat cepat ini yang sangat dinamis dari teknologi yang saat ini sudah terjadi,” ujar Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Ketenagakerjaan RI (Kemnaker) Indah Anggoro Putri di Kantor Kemnaker, Jakarta Selatan, Jumat (19/5).

Dinamika Ketenagakerjaan Era Digital Harus Disikapi Optimis (Sumber Gambar : Nu Online)
Dinamika Ketenagakerjaan Era Digital Harus Disikapi Optimis (Sumber Gambar : Nu Online)

Dinamika Ketenagakerjaan Era Digital Harus Disikapi Optimis

Menurutnya, Pemerintah Indonesia memiliki atensi yang besar terhadap future of work. Ke depan, bagaimana Indonesia menyikapi perubahan karakter dunia kerja ini harus dibahas bersama oleh seluruh stakeholder ketenagakerjaan.

“Dari sisi pemerintah, deregulasi sudah menjadi keharusan yang mana harus kita lakukan. Me-review aturan-aturan ketenagakerjaan secara mendetail dan spesifik. Dan itu akan memberikan masukan pada rapat-rapat koordinasi dan teknis yang akan menunjang lagi dunia usaha dan kerja di era digitalisasi,” lanjutnya.

ArrahmahMedia.Com

“Marilah kita optimis memasuki era digitalisasi ekonomi yang berdampak pada dunia kerja kita, pada jenis-jenis pekerjaan kita, hubungan kerja kita. Tapi mari kita dengan bersatu seluruh pihak kita bisa mengatasi itu semua,” pungkasnya. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com PonPes, Pesantren ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com

Senin, 05 Februari 2018

KH Dian Nafi’, Ahlinya Resolusi Konflik dari Solo

Tulisannya sering muncul di kolom berbagai surat kabar. Temanya begitu menyejukkan, tentang Islam Rahmatan lil Alamin, tentang keadilan. Para pembaca menjadi ikut tercerahkan dan membuat orang menjadi tertarik akan konsep Islam yang damai.

Pada Rabu sore (19/6), wartawan NU Online, Ajie Najmuddin, berkunjung ke rumahnya, di Pesantren Al-Muayyad Windan Makamhaji Kartasura Sukoharjo. Saat ditemui, Pak Dian, begitu dia biasa dipanggil, baru selesai mengatur kursi yang akan digunakan untuk acara akhirussanah RA Al-Muayyad Windan, esoknya. Ditemani suguhan lotis dan segelas teh hangat, mereka memulai pembicaraan.

Tulisan anda di media massa, banyak yang bertemakan gagasan Islam yang damai, apa tujuannya?

KH Dian Nafi’, Ahlinya Resolusi Konflik dari Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Dian Nafi’, Ahlinya Resolusi Konflik dari Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Dian Nafi’, Ahlinya Resolusi Konflik dari Solo

Saya hanya ingin menggambarkan sedikit tentang nilai-nilai yang saya dapatkan di pesantren. Tentang nilai kebenaran, keluhuran, persaudaraan dan sebagainya. Semuanya saya dapatkan dari para guru saya di pesantren.

Mengenai nilai-nilai di pesantren, bisa sedikit anda jabarkan?

Tentang kebenaran. Kebenaran ini bisa diartikan, yakni kesesuaian dengan 6 hal ini; norma, hukum, ilmu, fakta, realita, dan perikatan.

ArrahmahMedia.Com

Kesesuaian perikatan, maksudnya?

Sebagai orang indonesia, kita semestinya juga menyesuaikan diri dengan menerima Pancasila dan UUD, karena itu merupakan sebuah perjanjian atau ikatan dari para pendiri bangsa.

Selain nilai-nilai di pesantren yang anda sebutkan, anda juga menyebut sekilas tentang guru. Siapa guru yang paling menginspirasi anda?

ArrahmahMedia.Com

Alm. Kiai Umar Abdul Mannan (Pengasuh Pesantren Al-Muayyad Solo, wafat tahun 1980,-red). Beliau adalah sosok yang menginspirasi. Saya ceritakan salah satu kisah beliau, pernah suatu ketika beliau mendapat kiriman surat bertinta hitam. Diperlihatkannya surat tersebut kepada saya, isinya begitu keras dan kasar bahasanya.

Beliau bertanya, “Saya harus bagaimana?”.

Akhirnya beliau justru sowan ke sang pengirim surat. Meminta klarifikasi atas surat tersebut. dan tidak ada lagi konflik setelahnya. Inilah salah satu teladan keluhuran dari beliau.

Saat ini anda juga dikenal sebagai pemilik sebuah radio, apa motivasi anda mendirikannya?

Saya bukan pemilik, hanya mengelola. Tujuannya untuk mengembangkan sapaan kepada publik Solo Raya. Juga untuk memperkuat warga Nahdliyyin melalui media massa.

Selain itu, saya selalu memegang 3 hal ini, pun dalam mendirikan radio ini. Tiga hal yakni, untuk meraih prestasi vertikal (dapat juga dimaknai mendekat ke Tuhan), kita harus bertindak baik pula ke horizontal (sesama makhluk).

Kedua, bertindaklah inklusif jangan eksklusif. Radio ini bisa berkembang dengan bagus, karena kita merangkul semua. Bahkan pendengar kita mayoritas anak muda. Tapi di sisi lain, kita sisipi dengan siraman rohani.

Ketiga, apabila terjadi konflik senior-yunior, maka senior mesti melakukan afirmasi kepada yunior. Juga dalam setiap hal, mesti ada sinergitas dan kolaborasi antara keduanya.

 

*

M. Dian Nafi’ lahir di Sragen pada 4 April 1964. Ia adalah anak ketiga dari delapanbersaudara. Ayahnya, Kiai Haji Ahmad Djisam Abdul Mannan, merintis Pesantren An-Najah, Gondang, Sragen, Jawa Tengah, yang kini diasuh kakak iparnya. Sementara kakeknya, Kiai Haji Abdul Mannan, adalah pendiri Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Surakarta, salah satu pesantren Al-Quran yang terkenal di Solo.

Pertemuannya dengan beberapa tokoh rekonsiliasi kemudian membawanya bergabung dalam Tim Independen Rekonsiliasi Ambon (TIRA), Tim Pemberdayaan Masyarakat Pasca-Konflik (TPMPK) Maluku Utara, dan lembaga-lembaga lainnya seperti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjahmada, Pusat Studi dan Pengembangan Perdamaian (PSPP) Yogyakarta, Pusat Pemberdayaan untuk Rekonsiliasi dan Perdamaian (PPRP) Jakarta, Crisis Centre Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Common Ground Indonesia, dansebagainya. Pertemuan dan pendidikan yang diikuti di luar negeri adalah Disaster Management Training di Africa University Zimbabwe, Education in Religion for Communitiy Consultation di Agia Napa, Siprus (2001), Asia Africa People Forum di Kolombo (2003), Indonesia Pesantren Program di Amherst, Massachusetts, USA (2003), dan Summer Peace Building Institute di Harrisonburg, Virginia, USA (2005).

Saat ini, ia mengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Muayyad Windan, Makamhaji, Sukoharjo, yang merupakan pengembangan dari Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Surakarta. (Ajie Najmuddin/Red:Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nasional, PonPes, Hikmah ArrahmahMedia.Com

Jumat, 19 Januari 2018

Menengok Manfaat Bekam Tanduk Sapi di Arena Muktamar NU

Jombang, ArrahmahMedia.Com. Para penyedia jasa bekam tanduk sapi memenuhi setiap sudut di arena Muktamar Ke-33 NU di Alun-alun Kota Jombang. Bekam tradisional yang digeluti oleh orang-orang asal Madura ini memanen usahanya, sebab cukup banyak pengunjung yang memanfaatkan jasa mereka.

Menengok Manfaat Bekam Tanduk Sapi di Arena Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Manfaat Bekam Tanduk Sapi di Arena Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Manfaat Bekam Tanduk Sapi di Arena Muktamar NU

Mansyur, pria asli Madura berusia 35 tahun telah puluhan tahun menyediakan jasa bekam tanduk sapi dari arena ke arena. Keahlian membekam dengan memanfaatkan tanduk sapi ini ia warisi secara turun-temurun dari keluarganya.

“Saya sudah 15 tahun menggeluti dan menyediakan jasa bekam tradisional ini. Awalnya kaku, tapi setelah belajar jadi terbiasa,” ujar Mansyur saat ditemui ArrahmahMedia.Com di sela kesibukannya membekam, Ahad (2/8) malam di Alun-alun Jombang.

ArrahmahMedia.Com

Ditanya soal perbedaan manfaat dibanding bekam biasa, Mansyur menjelaskan, bahwa bekam tanduk sapi ini merupakan terapi bekam tradisional yang reaksi khasiatnya dapat langsung dinikmati oleh pengguna.

Penuturan Mansyur diamini oleh pengguna jasa bekam bernama Sugiyanto. Pria berumur 33 tahun asal Riau ini menerangkan, bahwa setelah badannya dibekam oleh bekam tanduk sapi, manfaatnya bisa langsung dirasakan.

ArrahmahMedia.Com

“Badan saya serasa langsung enteng, enak sekali,” ucapnya.

Bekam jenis ini, selain memanfaatkan tanduk sapi, juga menggunakan minyak tradisional yang dibuat dari akar-akaran. Sedangkan agar tanduk yang digunakan dapat menempel di kulit, mereka menggunakan api dengan memanfaatkan kapas yang dililitkan ke sebuah kawat kecil. Setelah api menyala, api dimasukkan ke lubang tanduk selama dua detik saja, kemudian dengan cepat langsung ditempelkan di kulit.?

Sedangkan untuk dapat memperoleh khasiat dari bekam dari tanduk sapi ini, pengunjung harus merogoh kocek sebesar Rp 50.000 saja. Selama perhelatan Muktamar NU, Mansyur setiap hari bisa melayani hingga 10 orang. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Tokoh, Kajian Islam, PonPes ArrahmahMedia.Com

Kamis, 18 Januari 2018

Gerak Jalan, IPNU-IPPNU Gading Lantunkan Lagu Subbanul Wathon

Probolinggo, ArrahmahMedia.Com



Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Gading Kabupaten Probolinggo ikut ambil bagian dalam kegiatan gerak jalan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia, Selasa (22/8) sore.

Menariknya tidak hanya mengikuti gerak jalan saja, dengan semangat 45 para pelajar NU di Kecamatan Gading ini tidak henti-hentinya melantunkan lagu Subbanul Wathon di sepanjang rute yang dilaluinya. Dimana start dimulai di Desa Sentul dan finish di Lapangan Desa Wangkal Kecamatan Gading.

Gerak Jalan, IPNU-IPPNU Gading Lantunkan Lagu Subbanul Wathon (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerak Jalan, IPNU-IPPNU Gading Lantunkan Lagu Subbanul Wathon (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerak Jalan, IPNU-IPPNU Gading Lantunkan Lagu Subbanul Wathon

Abd Rohim selaku Ketua IPNU dan Laelatus Sulfiah sebagai Ketua IPPNU Kecamatan Gading turut ikut serta dalam acara ini. Dengan antusiasnya mereka selalu ingat kiprah dan jasa pejuang terdahulu dimana momen ini ? mengajak kepada seluruh santri, pelajar dan khalayak umum untuk aktif dan kreatif melanjutkan perjuangan dan cita-cita para pahlawan pendiri bangsa.?

“Generasi muda harus mampu melakukan kerja-kerja kongkrit dan positif guna mengisi kemerdekaan. Hal ini sebagaimana dulu sudah dibuktikan oleh perjuangan para kiai dan santri/pelajar dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan,” kata Ketua PAC IPNU Kecamatan Gading Abd Rohim.

ArrahmahMedia.Com

Yang menarik, dalam momentum tahunan ini IPNU dan IPPNU Kecamatan Gading pertama kalinya berpartisipasi dalam memeriahkan HUT ke-72 Kemerdekaan RI. Selain lagu Subbanul Wathon, pelajar NU ini juga melantunkan yel-yel keislaman, kebangsaan dan ke-NU-an.

Selain itu, pembacaan lagu karya KH Abdul Wahab Chasbullah (1934 M) tersebut seakan menjadi isyarat bahwa perlunya mensinergikan kecintaan kita terhadap tanah air Indonesia harus senantiasa menjadi bagian integral untuk merawat keislaman dan keindonesiaan.

“Pelajar NU harus pandai dan piawai untuk membendung faham radikalisme, liberalisme, skulariame dan lain-lain yang tentunya akan merusak gerasi muda saat ini. Kedepannya, lagu ini memberikan ghirah kepada penerus kepemimpinan akan dating. Sinergitas menjaga NKRI dan kontinuitas dalam upaya menjaga Islam yang rahmatan lilalamin di bumi Nusantara,” tegas Ketua PAC IPPNU Kecamatan Gading Laelatus Sulfiah.

Keikutsertaan PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Gading dalam gerak jalan dalam rangka memperingati HUT ke-72 Kemerdekaan RI ini mendapatkan apresiasi yang positif dari Pembina PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Gading Roby Zidni Ilman. “Mari tunjukkan bahwa pelajar NU juga bisa berperan aktif untuk mengisi kemerdekaan dengan kegiatan yang positif,” katanya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pondok Pesantren, PonPes, Pemurnian Aqidah ArrahmahMedia.Com

Selasa, 02 Januari 2018

Pergunu Bali Bahas Sejumlah Problem Pendidikan Nasional

Denpasar, ArrahmahMedia.Com. PW Pergunu Bali bersama seluruh PC Pergunu se-Bali di bawah dukungan PWNU Bali mengadakan kegiatan Seminar Nasional akhir pekan lalu di Denpasar. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara PP Pergunu dengan Direktorat Kesharlindung Kemendikbud RI.?

Seminar ini diikuti lebih dari 200 orang guru se-Bali yang merupakan pengurus dan anggota PW dan PC Pergunu. Kegiatan seminar berlangsung di Gedung PWNU Jl. Pulau Demak Denpasar dengan menghadirkan Narasumber Nasional.?

Pergunu Bali Bahas Sejumlah Problem Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Bali Bahas Sejumlah Problem Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Bali Bahas Sejumlah Problem Pendidikan Nasional

Diantara narasumber yang hadir adalah PP Pergunu yang diwakili oleh Wasekjen Akhsan Ustadi) Ketua KPAI Asrorun Niam Sholeh Anggota DPR RI Komisi X Bidang Pendidikan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga I Wayan Koster, Direktorat Bimbingan Masyarakat Polda Bali AKBP M. Nur Sholikhun dengan Moderator Korwil Pergunu Indonesia Timur Lewa Karma.

Kegiatan ini merupakan refleksi atas pelbagai kejadian yang berhubungan dengan kekerasan baik yang menimpa guru maupun siswa di sekolah/madrasah. Guru sebagai profesi mulai wajib dilindungi dan juga wajib memberikan rasa aman kepada anak didik atas kriminalisasi dan layanan pembelajaran yang baik dan adil.?

ArrahmahMedia.Com

Dengan menghadirkan narasumber nasional ini para peserta bisa mendapat informasi langsung dan sekaligus menyampaikan aspirasinya kepada anggota DPR RI untuk maksud dan segala persoalan pendidikan selama ini, seperti program TPG, CPNS, Pengabdian dan kasus-kasus di yang dip roses oleh kepolisian.?

Dalam penyampaiannya, I Wayan Koster berjanji akan mendampingi dan menyampaikan sekaligus mengakomodasi usulan, masukan dan permintaan para guru pada pemerintah. Demikian pula Ketua KPAI berharap melalui seminar ini aka nada penambahan wawasan dalam proses melayani siswa, sehingga guru dan sekolah menjaid bagian yang mendukung pendidikan yang ramah anak.?

Pihak Polda juga selalu menekankan bahwa semua sama di mata hukum dan profesi guru patut untuk dilindungi sekaligus diperhatikan agar tetap terjaga dari kriminalisasi pihak-pihak yang tidak faham dengan tugas guru.

ArrahmahMedia.Com

Pada kesempatan itu pula Akhsan Ustadi juga menegaskan bahwa PP Pergunu memfasilitasi semua guru di lingkungan Pergunu untuk berkembang dan mendukung program nasional. Diantara program kerja yang sedang digalakkan oleh Pergunu adalah pemberian beasiswa guru dan santri se-Indonesia maupun mancanegara, pelatihan guru dan kegiatan pendampingan guru.?

Seminar perlindungan guru ini diikuti dengan antusias oleh peserta yang berlangsung sehari yang juga diawalai dengan kegiatan Pengukuhan pengurus PW Pergunu Bali dan Pelantikan 9 PC Pergunu se-Bali. Adapun 9 PC Pergunu se-Bali adalah PC Pergunu Badung, Bangli, Buleleng, Denpasar, Gianyar, Jembrana, Karangasem, Klungkung, dan Tabanan dengan disaksikan oleh pengurus PWNU dan pimpinan lembaga ? Banom se-Bali yang berlangsung khidmat. (Lewa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com PonPes ArrahmahMedia.Com

Kamis, 21 Desember 2017

KH Ridwan Mujahid, Pendiri NU Asal Semarang

Mengenang kembali sosok pendiri Nahdlatul Ulama (NU) asal Semarang bernama KH Ridwan Mujahid sangat dibutuhkan. Belum banyak orang mengetahui sosoknya. KH Ridwan Mujahid berasal dari Kauman Semarang. Sebagaimana disebutkan oleh Agus Tiyanto, KH Ridwan Mujahid adalah keturunan dari kiai Lasem yang sama dengan kerabat KH Makshum dan KH Baidlawi yang bersambung nasabnya hingga Mbah Sambu. Silsilah KH Ridwan Mujahid yang didapatkan Amirul Ulum dari KH Maimun Zubair dalam buku "Muassis Nahdlatul Ulama" adalah: KH Ridwan bin KH Mujahid bin KH Baidlawi bin Kiai Abdul Lathif bin Kiai Abdul Bar bin Kiai Abdul Alim bin Sayyid Abdurrahman (Mbah Sambu Lasem). Makam KH Ridwan Mujahid berada di Pemakaman Umum Bergota (tepatnya di selatan Makam KH Sholeh Darat, satu area makam keluarga H. Abu Bakar Kauman).

Dalam buku “Kemelut di NU Antara Kiai dan Politisi” karya Abdul Basith Adnan disebutkan peran besar KH Ridwan Mujahid. Jasanya dalam membentuk organisasi ulama pesantren bersama KH M Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah tidak dapat dilupakan. Ulama yang semula berkumpul untuk membahas persoalan negeri Hijaz bernama Komite Hijaz, berubah nama dengan Nahdlatul Ulama.

KH Ridwan Mujahid, Pendiri NU Asal Semarang (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ridwan Mujahid, Pendiri NU Asal Semarang (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ridwan Mujahid, Pendiri NU Asal Semarang

Usaha mengenalkan NU di Semarang bagi KH Ridwan Mujahid awalnya tidak mudah. Namun berkat ajaran Islam ahlussunnah wal jama’ah yang ditinggalkan oleh KH Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani (KH Sholeh Darat), maka NU mudah dikenal dan diikuti oleh warga Semarang. Sehingga ketika NU diresmikan pada tahun 1926, masyarakat Semarang dan sekitarnya mudah menerima dan mengakar dalam sanubari (Amirul Ulum: 2014).

KH Ridwan Mujahid adalah salah satu murid KH Sholeh Darat. Perkenalan KH Ridwan Mujahid dengan KH M Hasyim Asy’ari lebih karena keduanya merupakan murid KH Sholeh Darat saat mondok di Pesantren Darat Semarang. Maka perjuangan mendirikan NU merupakan hasil dari kerjasama para murid sesepuh ulama Nusantara semisal: KH Cholil Bangkalan, KH Sholeh Darat Semarang, KH Nawawi Banten, KH Mahfudz Termas dan ulama lainnya.

ArrahmahMedia.Com

Murid KH Sholeh Darat lainnya yang berjuang menegakkan Ahlussunnal wal Jama’ah di Semarang antara lain KH Ridwan bin Mujahid, Kiai Sya’ban bin Hasan, Kiai Thahir Mangkang, Kiai Sahli Kauman, Kiai Ali Barkan, Kiai Abdullah Sajad dan lain-lain. Anasom dalam papernya “KH Saleh bin Umar dan Pondok Pesantren Darat” menyebutkan bahwa salah satu karya KH Ridwan Mujahid Semarang adalah “I’anatul ‘Awam fi Mufhimmati Syara’ Al-Islam”.

KH Ridwan Mujahid selain dikenal sebagai Kiai yang berjuang dalam pengembangan organisasi NU juga dikenal mengembangkan dakwah di Pesantren. Salah satu muridnya yang juga bersama-sama mendirikan NU adalah KH Ma’shum Ahmad Lasem Rembang. Dengan demikian semakin nyata, bahwa perjuangan keagamaan, dakwah dan pesantren menjadi semangat yang dimiliki oleh KH Ridwan Mujahid.

ArrahmahMedia.Com

Keakraban KH Ridwan Mujahid dengan para pendiri NU lainnya sudah tidak asing. KH Ridwan Mujahid bersama ulama Jawa Tengah lainnya, KHR Asnawi Kudus dan KH Kamal Hambali Kudus turut serta hadir dalam deklarasi pendirian NU pada 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926 M di kediaman KH Abdul Wahab Chasbullah Kertopaten Surabaya.

Di antara ulama yang hadir dalam pendirian NU di Surabaya berasal dari Semarang, Kudus, Tegal, Jombang, Sidoarjo, Pasuruhan, Bangkalan Madura, Gresik, Bangil,? Mojokerto dan Mesir. Mereka antara lain: KH Abdul Wahab Chasbullah, KH M Hasyim Asy’ari, KHR Muntaha (menantu KH Cholil Bangkalan), Kiai Mas Nawawi, KHR Asnawi, KH Kamal Hambali, KH Ridwan Mujahid, KH Muhammad Zubair Gresik, Syaikh Ahmad Ghonaim Al Mishri dan lain-lain.

Oleh para pendiri NU, KH Ridwan Mujahid diamanahi sebagai Musytasyar Syuriyah dalam struktut Pengurus NU periode pertama bersama dengan: KH Muhammad Zubair Gresik, KHR Muntaha Bangkalan Madura, KH Mas Nawawi Sidogiri, Syaikh Ahmad Ghonaim Al Mishri, KHR Asnawi Kudus dan KH Kamal Hambali Kudus. Adapun Rois Akbar dipegang oleh KH M Hasyim Asy’ari dan Katib KH Abdul Wahab Chasbullah.

Keberadaan KH Ridwan Mujahid dalam struktur NU semakin membawa daya tarik bagi masyarakat Semarang. Maka KH Ridwan Mujahid mengajak KH Abdullah dan KH Showam untuk mendirikan NU Kota Semarang. Tepat tanggal 24 April 1926, pengurus NU Cabang Kota Semarang berdiri dan dilantik oleh Katib Syuriyah KH Abdul Wahab Chasbullah yang berpusat di Surabaya. Lokasi pelantikan berada di Alun-Alun Kota Semarang yang berada di depan Masjid Agung Kauman Semarang.

Keberadaan resmi NU Cabang Semarang ini menjadi titik perjuangan para Kiai dalam mengenalkan Islam ahlussunnah wal jama’ah.Dan pergerakan NU Kota Semarang menjadi ringan karena ditopang oleh murid-murid KH Sholeh Darat yang sudah lebih dulu mengenalkan ahlussunnah wal jama’ah sebelum NU lahir dan berdiri di Semarang.

Walapun sudah dilantik dan resmi berdiri di Semarang, oleh karena NU belum memiliki gedung, maka koordinasi NU masih secara tradisional dari Masjid ke Masjid. Di antara Masjid yang sering digunakan untuk koordinasi NU adalah Masjid Nahdlatul Ulama di Jomblang Kecamatan Candisari Kota Semarang. Zainul Milal Bizawie (2016) mencatat sejak 1916 sudah berdiri Madrasah Nahdlatul Wathan di Surabaya dan mempunyai Cabang di Semarang yang bernama Madrasah Akhul Wathan. Oleh Choirul Anam (2015) lokasi Madrasah Cabang Nahdlatul Wathan di Semarang berada di Jomblangan Kidul.

Dalam catatan Amirul Ulum disebutkan bahwa NU Kota Semarang hingga tahun 1950-an masih menempati sekretariat di rumah-rumah pengurus. Di antara tempat yang dijadikan bascamp koordinasi pengurus NU adalah di rumah KH Irhas (Ketua Syuriyah tahun 1950-an). Pada tahun 1970-an NU Semarang memiliki gedung di Jalan Sudirman dari hasil wakaf. Anasom menjelaskan, sejak 1992 hingga sekarang, NU Semarang menempati gedung di Jalan Puspogiwang Semarang.

Kematangan organisasi KH Ridwan Mujahid dalam berkhidmah kepada NU ditunjukkan dengan kesiapan Semarang sebagai tuan rumah Muktamar NU keempat. Muktamar NU keempat adalah pertama kalinya Muktamar yang digelar di luar Kota Surabaya. Dikisahkan bahwa dalam kegiatan Muktamar NU keempat ini, KH Ridwan Mujahib berperan kuat dalam mensukseskan.

Muktamar NU keempat digelar pada 12-15 Rabiuts Tsani 1348 H/17-20 September 1929 M di Hotel Arabistan Kampung Melayu Semarang. Muktamar di Semarang tergolong sukses karena dihadiri 1.450 peserta terdiri dari 350 Kiai, 900 pengawal Kiai dan 200 pengurus Tanfidziyah. Saat Muktamar keempat di Semarang sudah terdaftar: 63 Cabang (13 Jawa Barat, 27 Jawa Tengah dan 23 Cabang Surabaya dan Madura).

Penutupan Muktamar Semarang juga sangat meriah karena digelar di Alun-Alun Semarang dengan dihadiri 10.000 jama’ah. Muktamar Semarang dihadiri langsung oleh Rais Akbar KH M Hasyim Asy’ari dinilai sebagai tonggak awal perkenalan NU daerah-daerah di luar Surabaya (Choirul Anam: 2015).

Melihat sepak terjang yang tidak kenal lelah dari KH Ridwan Mujahid, maka semangat ini patut ditiru oleh para generasi muda saat ini dalam memperjuangkan NU. Termasuk belum terungkapnya kisah-kisah lain dari KH Ridwan Mujahid masih perlu diperdalam. Sehingga dibutuhkan waktu lagi untuk melacak kiprahnya dalam semangat mendirikan NU dan menyebarkan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

M. Rikza Chamami, Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang dan Dosen UIN Walisongo



Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pesantren, Pemurnian Aqidah, PonPes ArrahmahMedia.Com

Kamis, 07 Desember 2017

Harlah ke-14, Rektorat UIM Ziarahi Makam Pendiri Kampus

Makassar, ArrahmahMedia.Com. Segenap petinggi Rektorat Universitas Islam Makassar menziarahi sejumlah makam pendiri kampus bersangkutan. Dipimpin Rektor UIM Andi Majdah M Zain, rombongan menziarahi makam H Kalla ayah H Jusuf Kalla, Anregurutta Muhiddin Zain, Kiai Busairi, dan istri Kiai Sanusi Baco.

Harlah ke-14, Rektorat UIM Ziarahi Makam Pendiri Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah ke-14, Rektorat UIM Ziarahi Makam Pendiri Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah ke-14, Rektorat UIM Ziarahi Makam Pendiri Kampus

“Dalam harlah ke-14 UIM, kita ini ingin mengenang para pendiri dengan ziarah ini,” kata Andi Majdah M Zain.

Selain menziarahi pendiri UIM, Andi Majdah M Zain beserta rombongan bersilaturahmi dengan anak-anak yatim di panti Al-Kautsar dan Nahdiyat, Jumat (6/6).

ArrahmahMedia.Com

Tradisi ziarah kubur dan silaturahmi dengan anak yatim ini sengaja dilakukan tiap tahunnya sebagai bentuk syukur atas harlah UIM setiap tahunnya. Setiap tahun, UIM memberikan beasiswa pendidikan bagi anak yatim yang berminat melanjutkan pendidikan. (Andi M Idris/Alhafiz K)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com PonPes, Ahlussunnah ArrahmahMedia.Com

Selasa, 10 Oktober 2017

Kuliah untuk Abdi Masyarakat

Yogyakarta, ArrahmahMedia.Com. Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Nusron Wahid mengingatkan mahasiswa pada tujuan pendidikan. Pendidikan sejatinya mengarahkan alumninya untuk kembali dan mengabdi di tengah masyarakat.

Kuliah untuk Abdi Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kuliah untuk Abdi Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kuliah untuk Abdi Masyarakat

Demikian dikatakan salah seorang pendiri Pesantren kilat (sanlat) dan Bimbingan belajar pascaujian nasional (BPUN) Mata Air Nusron Wahid dalam kegiatan halal bihalal dan temu alumni se-Yogyakarta di Ruang Abdullah Sigit FIP Universitas Negeri Yogyakarta, Ahad (8/9).

“Adik-adik perlu bersyukur menjadi mahasiswa. Kalian ini kuliah mendapatkan Nobel (hadiah penghargaan), karena mendapatkan amanah untuk mengabdi kepada masyarakat. Sebagian besar, biaya kuliah kalian disubsidi oleh masyarakat melalui pemerintah,” kata Nusron di hadapan alumni Sanlat dan BPUN dari berbagai kampus di Yogya.

ArrahmahMedia.Com

Kalian, sambung Nusron, didedikasikan untuk menjadi aktivis NU. Kebanyakan sarjana NU adalah menjadi sarjana agama. Padahal kebutuhan masyarakat tidak hanya itu. Misalnya, masyarakat butuh adanya dokter. Harapan kita, warga NU juga dapat mengenyam pendidikan bermacam-macam.

Nusron Wahid berharap, kumpulan alumni Sanlat dan BPUN menjadi salamatan fiddin, keselamatan agama.

ArrahmahMedia.Com

Ia mengimbau mahasiswa untuk membuat perkumpulan Mahasiswa NU di kampus, yang kegiatannya tidak perlu berat-berat. Kegiatan misalnya diisi dengan barzanjian dan tahlilan di masjid kampus.

Nurson Wahid mengatakan, kalau orang NU pengen kuat tentu ada syaratnya; kuat dan amanah. Kuat dalam ilmu pengetahuannya, jaringannya, agamanya. Kemudian amanah.

(Nur Sholikhin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com PonPes ArrahmahMedia.Com

Selasa, 26 September 2017

Kontrak Jamiyyah Perlu Ditradisikan dalam Konferwil dan Konfercab

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Kontrak Jamiyyah yang menegaskan para calon rais syuriyah dan ketua tanfidziyah untuk tidak menggunakan NU bagi kepentingan politik praktisnya perlu menjadi tradisi dalam setiap konferwil atau konfercab maupun pemilihan pengurus ditingkat lainnya.

Kontrak jamiyyah pertama kali dilakukan dalam muktamar NU ke 31 di Asrama Haji Solo bagi calon rais aam dan ketua umum PBNU. Selanjutnya model ini ditiru dalam konferensi wilayah PWNU Jawa Timur di Ponpes Zainul Hasan Genggong Pajarakan Probolinggo 3-5 November lalu.

Kontrak Jamiyyah Perlu Ditradisikan dalam Konferwil dan Konfercab (Sumber Gambar : Nu Online)
Kontrak Jamiyyah Perlu Ditradisikan dalam Konferwil dan Konfercab (Sumber Gambar : Nu Online)

Kontrak Jamiyyah Perlu Ditradisikan dalam Konferwil dan Konfercab

Wasekjen PBNU Syaiful Bahri Anshori mengemukakan bahwa keberadaan kontrak tersebut merupakan penegasan aturan yang ada dalam AD/ART dan Peraturan Organisasi (PO) yang melarang adanya rangkap jabatan dengan jabatan politik baik di legislatif maupun di eksekutif bagi rais dan ketua terpilih.

“Ini menjadi penting terkait dengan banyaknya pengurus NU yang ditarik tarik untuk menjadi calon dalam pilkada,” katanya.

Menurut pengamatannya, fenomena ditariknya para pengurus NU ini tak hanya di daerah yang memiliki basis massa NU kuat, tetapi juga di daerah yang massa NU nya kurang banyak seperti di Sulawesi Utara.

“Kita kan tidak tahu, sejauh mana NU sebagai jamiyyah memperoleh manfaat karena sejauh ini seringkali hanya dimanfaatkan untuk kepentingan individu,” tegasnya.

ArrahmahMedia.Com

Tak heran, banyaknya tokoh NU yang ditarik ini terjadi karena para pemimpin NU memiliki jaringan dan kedekatan yang sangat kuat dengan masyarakat yang oleh para politisi dimanfaatkan suaranya bagi dukungan yang dibutuhkan dalam Pilkada.

Sejauh ini, dalam kontrak jamiyyah tersebut, belum ada aturan tegas bagi yang melanggarnya karena sifatnya baru berupa sanksi moral. “Memang belum diatur, kalau yang melanggar ya pasti tidak dipercaya lagi oleh umat dan ke depannya tidak akan dipilih kembali,” tuturnya. (mkf)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kyai, PonPes ArrahmahMedia.Com

Jumat, 17 Februari 2017

Giatkan Kembali Tiga Pilar Utama NU

Probolinggo, ArrahmahMedia.Com. A’wan PWNU Jawa Timur H Hasan Aminuddin meminta agar Nahdlatul Tujjar (Gerakan Ekonomi), Nahdlatul Ilmiah (Gerakan Keilmuan) dan Nahdlatul Wathon (Gerakan Kebangsaan) harus kembali digiatkan di dalam tubuh organisasi Nahdlatul Ulama (NU).?

Giatkan Kembali Tiga Pilar Utama NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Giatkan Kembali Tiga Pilar Utama NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Giatkan Kembali Tiga Pilar Utama NU

Hal tersebut disampaikan Hasan Aminuddin ketika menghadiri halal bihalal sekaligus pelantikan pengurus Majelis Wakil Cabang Nadhaltul Ulama (MWCNU) Kecamatan Krucil Kabupaten Probolinggo, Selasa (1/8) siang.

Menurut Hasan, NU sebagai mitra kerja pemerintah haruslah proaktif dan ikut andil dalam menyelesaikan masalah. Selain sebagai penjamin moral bangsa, ada tiga pilar utama dalam NU yang harus digiatkan kembali. Yakni, Nahdlatul Tujjar (Gerakan Ekonomi), Nahdlatul Ilmiah (Gerakan Keilmuan) dan Nahdlatul Wathon (Gerakan Kebangsaan).

“Pahami alam dan kondisinya ini, pelajari ilmu yang sesuai dengan alam ini, ? kemudian gunakan ilmu tersebut agar dapat mengolah dan memanfaatkan segala kekayaan alam disini secara maksimal. Jadilah pemain di daerah sendiri jangan menunggu orang luar,” katanya.

Menurut Hasan, gerakan ekonomi harus ditunjang dengan pemahaman dan penguasaan berbagai disiplin keilmuan yang relevan dengan kondisi geografis, terutama di Kecamatan Krucil.?

ArrahmahMedia.Com

“Ilmu kehutanan, teknik perkebunan dan agrikultural adalah ilmu yang juga harus dikuasai para generasi muda,” jelasnya.?

Kepada para pengasuh pondok pesantren Hasan menghimbau agar membekali santrinya dengan ilmu dan keterampilan, selain ilmu agama yang sedang mereka dalami.?

“Tambahkan ilmu kewiraswastaan yang bermanfaat pada santri. Adakan diklat dan kursus berbagai macam keterampilan. Karena ilmu tersebut kelak akan sangat bermanfaat,” tegasnya.

ArrahmahMedia.Com

Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah jajaran pengurus PCNU Kota Kraksaan dan MWCNU Kecamatan Krucil, baik dari pengurus lembaga maupun badan otonom (banom). Tidak ketinggalan pula sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat di Kecamatan Krucil. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com PonPes, Ulama ArrahmahMedia.Com

Minggu, 07 Februari 2016

Berjuang untuk Berhaji

Judul Buku : Wong Cilik Merindukan Haji: Kisah Menyentuh Perjuangan Orang Biasa Mewujudkan Mimpi Bersimpuh di Baitullah

Penulis: H. Ruchani Achmad

Penerbit: Pustaka Pesantren, Yogyakarta

Berjuang untuk Berhaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Berjuang untuk Berhaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Berjuang untuk Berhaji

Cetakan I: 2011

Tebal: 146 halaman

Peresensi: Abdul Halim Fathani*? ? ?

ArrahmahMedia.Com

Ibadah haji merupakan salah satu bentuk ibadah yang memiliki makna multi aspek, ritual, individual, politik psikologis dan sosial. Dikatakan aspek ritual karena haji termasuk salah satu rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan setiap muslim bagi yang mampu (istithoa), pelaksanaannya diatur secara jelas dalam al-Qur’an. Haji sebagai ibadah individual, karena keberhasilan haji sangat ditentukan oleh kualitas pribadi tiap-tiap umat Islam dalam memahami aturan dan ketentuan dalam melaksanakan ibadah haji.

ArrahmahMedia.Com

Haji juga merupakan ibadah politik, sebab mulai dari persiapan sampai pelaksanaanya, peran dan partisipasi pemerintah (Departemen Agama) sangatlah dibutuhkan. Aspek psikologis ibadah haji berarti setiap individu jamaah harus memiliki kesiapan mental yang kuat dalam menghadapi perbedaan suhu, cuaca (iklim), budaya daerah yang tentunya berbeda dengan situasi (iklim) bangsa Indonesia. Yang tidak kalah pentingnya dari ibadah haji adalah makna sosial, yaitu bagaimana para jamaah haji memiliki pengetahuan, pemahaman dan mampu serta mau mengaplikasikan pesan-pesan simbolik ajaran yang ada dalam pelaksanaan ibadah haji ke dalam konteks kehidupan masyarakat.

Syarat dan rukun ibadah haji tidak semata-mata hanya untuk kepentingan transendental (habl min-Allah) tetapi justru yang paling penting adalah dapat mengambil makna di balik simbolisasi ritualitas haji untuk membentuk kepribadian atau moralitas pergaulan antar sesama manusia. (habl min al-Naas) Dengan demikian, memahami dan menemukan makna sosial dalam ibadah haji menjadi suatu keniscayaan bagi setiap umat Islam umumnya dan para jamaah haji khususnya.

Dewasa ini, haji telah dijadikan sebagai salah satu ukuran atau parameter untuk melihat status sosial seseorang. Hal ini disebabkan orang yang berhaji dianggap sebagai orang Islam yang shaleh, karena telah menyempurnakan agamanya (baca: rukun Islam), dan secara ekonomi termasuk orang yang kaya atau lebih dari cukup (baca: cukup dari segi materi). Alasan itulah yang digunakan masyarakat kita pada umumnya untuk menilai orang yang dapat melakukan ibadah haji. Sehingga orang yang telah mampu melaksakannya dinilai sebagai orang yang telah “sempurna” agamanya. Ibarat makanan 4 sehat 5 sempurna, dikatakan belum lengkap jika belum memenuhi aspek yang ke-5, yaitu minum susu. Demikian juga rukun Islam dikatakan belum sempurna jika belum menunaikan ibadah haji. Haji berfungsi sebagai pelengkap (komplementer) dari rukun islam yang lain.

Merupakan suatu keharusan bagi individu umat Islam yang memenuhi panggilan Allah ke tanah suci Makkah-Madinah, untuk merenungkan esensi dan substansi haji di tengah simbolitas dan formalitas syarat-rukunnya. Diharapkan, dengan refleksi mendalam makna di balik itu, jamaah haji menemukan energi transformasi internal menuju terbentuknya kesalehan ritual dan sosial yang menjadi barometer kebahagiaan dunia akhirat.

Sampai sekarang, mayoritas umat ini masih terjebak dalam simbolitas syarat-rukun, tanpa mampu mengungkap makna substansial di balik itu. Maka, pasca haji tidak ada transformasi internal dalam kehidupannya. Kebanyakan orang lebih memaknai ibadah haji sebagai ibadah yang hanya penuh dengan ritual simbolik-transedental saja. Artinya, predikat haji bagi seseorang hanya dilihat dari kemampuan berangkat dan datang kembali ke Tanah Air dengan disertai oleh-oleh “khas” haji (cerita unik atau pengalaman religius) yang beraneka warna. Padahal, jika kita berfikir dan merenungkan, ibadah haji juga banyak mengandung makna sosial. Hal ini didasarkan pada substansi Islam sebagai agama rohmatan lilalamiin.

Kesalehan ritual dan sosial adalah ibarat dua mata uang logam yang tidak dapat dipisahkan. Kesalehan ritual mampu membuat orang menjadi shaleh sosial dan shaleh sosial muncul karena intensitasnya melakukan ritual. Tidak ada aspek ritual-transendental yang lepas dari orientasi sosial.? Kesalehan ritual dan sosial harus selalui terintegrasi di manapun dan kapan pun. Dalam bahasa agamanya adalah menyinergikan antara habl minallah dan habl minannaas.

Membaca ulasan penulis dalam buku ini sungguh mengharukan. Buku ini merupakan catatan perjalanan yang ditulis Ruchani Achmad sebagai “kenang-kenangan.” Secara gamblang penulis menceritakan bagaimana kehidupannya ketika sebelum berangkat haji, kemudian keadaan ketika berniat untuk berangkat haji dan pelbagai ikhtiar yang dilakukan yang akhirnya dapat berhasil untuk berangkat ke tanah suci Makkah. Selanjutnya, penulis menceritakan pengalamannya selama berada di Mekkah dan berbagai aktivitas ritual yang dilakoninya.

Melalui buku ini, kita dapat merenungkan dengan “nilai-nilai” ibadah haji sebagaimana yang telah diurai di atas. Dalam buku ini, penulis juga membagi beberapa doa yang dibacanya dalam rangka mewujudkan niatnya berangkat haji, sekaligus doa-doa yang dibaca ketika melakukan ibadah haji. Tentu tidak ada ruginya, bagi pembaca untuk meluangkan waku sejenak demi membaca buku “mengharukan” ini. Semoga kita dapat mengambil hikmah terbaik dari buku ini. Marilah kita mengikuti jejak Ruchani Achmad. Amin

* Alumnus Jurusan Matematika UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com PonPes, Doa ArrahmahMedia.Com

Jumat, 20 November 2015

Dimulai di Makam Gus Dur, Khatamkan Al-Quran 350 Ribu Kali

Jombang, ArrahmahMedia.Com. Pengurus Wilayah Jamiyatul Quro wal Hufadz (JQH) Jawa Timur menggelar khataman Al-Quran untuk meruwat bangsa Indonesia yang terus dirundung bencana.



Dimulai di Makam Gus Dur, Khatamkan Al-Quran 350 Ribu Kali (Sumber Gambar : Nu Online)
Dimulai di Makam Gus Dur, Khatamkan Al-Quran 350 Ribu Kali (Sumber Gambar : Nu Online)

Dimulai di Makam Gus Dur, Khatamkan Al-Quran 350 Ribu Kali

Khotmil Qur’an rencananya bakal dilakukan sebanyak 350 ribu kali, selama sepekan, diawali di Makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Ketua PW JQH Jatim, Fatkhurrozi Al Hafid mengatakan, acara khataman Al Quran tersebut dalam rangka mendoakan bangsa Indonesia yang saat ini banyak dirundung masalah. Mulai dari bencana alam, konflik sosial, hingga permasalahan korupsi.

ArrahmahMedia.Com

"Dengan pembacaan Al-Quran ini semoga bangsa Indonesia selalu diberi keselamatan oleh Allah SWT. Semoga bencana selalu dijauhkan. Intinya ini sebagai doa tolak balak," ujarnya ditemui disela sela pembukaan Gema Al Quran 350 ribu khataman dan doa keselamatan dan Kemaslahatan untuk bangsa dan negara, Sabtu (26/1).

ArrahmahMedia.Com

Dikatakannya, dalam kegiatan khataman ini, akan melibatkan sedikitnya seabanyak 150 penghafal Al Quran ? yang akan menghatamkan 30 juz baik dengan membaca (bin nadhor) maupun dengan hafala (bil Ghoib) saelama satu minggu kedepan.?

“Untuk hafalan Al Quran itu akan digelar selama satu minggu. Bukan hanya di Ponpes Tebuireng saja, namun terdapat 24 majelis khatmil Quran se-Jatim. Acara akan ditutup pada 3 Pebruari mendatang di Masjid Al Akbar Surabaya. "Untuk pembukaannya kita gelar hari ini di makam Gus Dur ini," ungkapnya.

Hafalan Al Quran itu akan digelar selama satu minggu. Bukan hanya di Pesantren Tebuireng saja, namun terdapat 24 majelis khatmil Quran se-Jatim. Acara akan ditutup pada 3 Pebruari mendatang di Masjid Al Akbar Surabaya. "Untuk pembukaannya kita gelar hari ini di makam Gus Dur," urainya.

Adik Gus Dur, Hj Lily Chadijah Wahid menambahkan bahwa kegiatan khotmil Quran, digelar dengan harapan bencana yang sekarang ini terus melanda bangsa Indonesia bisa segera terselesaikan. “ Agar bencana, yang melanda bangsa ini seperti korupsi, banjir serta moral permasalahan akhlak tersebut maka salah satu cara adalah kembali kepada kitab suci Al Quran,”tandasnya.

Putri pendiri JQH ini mengatakan, organisasi JQH merupakan lembaga para penghafal Al Quran yang didirikan oleh (alm) KH Wahid Hasyim, yang tak lain ayahnya. Oleh sebab itu, khataman sebanyak 350 ribu kali itu dimulai dari Tebuireng.

Setelahnya, sebanyak 24 majelis khatmil se-Jatim juga melakukan hal serupa. Acara akan ditutup di Masjid Al Akbar Surabaya, 3 Pebruari 2013. "Gerakan menghatamkan Al Quran ini kita mulai dari Jatim terlebih dulu. Setelah itu, akan dilanjutkan cabang-cabang JQH se-Indonesia. Sekali lagi, ini sebagai ruwatan terhadap kondisi Indonesia yang mengentaskan," pungkas cucu pendiri NU KH Hasyim Asyari ini.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muslim Abdurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Ulama, Warta, PonPes ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 14 November 2015

Peringati Harlah, MWCNU Kaliwates Bedah Rumah

Jember, ArrahmahMedia.Com. Dalam rangka memperingati Harlah ke-87 NU, MWCNU Kaliwates, Jember mengadakan bedah rumah di lingkungan Krajan Timur, Kelurahan Tegalbesar, Ahad (21/1). 

Peringati Harlah, MWCNU Kaliwates Bedah Rumah (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Harlah, MWCNU Kaliwates Bedah Rumah (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Harlah, MWCNU Kaliwates Bedah Rumah

Rumah tersebut adalah milik seorang janda yang ditinggal suaminya. Namanya Ibu Salim. Ia mempunyai tiga orang anak. Rumah berukuran 5 x 6 meter tersebut, direnovasi diperkirakan menelan biaya  sekitar Rp. 4 juta. 

“Itu uangnya untuk materi bangunan dan ongkos tukang. Ada material bangunan yang disumbang warga juga,” tukas Muhammad Nur, Ketua MWC NU Kaliwates.

ArrahmahMedia.Com

Menurut Muhammad Nur, sebelum melakukan bedah rumah, pihaknya melakukan survey terlebih dahulu terhadap rumah yang layak dibedah (direnovasi). Dari sekian usulan yang masuk, katanya, ternyata sangat banyak yang layak direnovasi. Namun karena dananya terbatas maka harus dilakukan skala prioritas. 

“Ada rumah layak direnovasi tapi mereka keluarganya lengkap, dalam arti ada suami, sehingga masih ada yang cari nafkah. Tapi yang ini, selain rumahnya sangat layak direhab, suaminya juga tidak ada, meninggal. Akhirnya rumah Ibu Salim itulah yang kami rehab,” tutur Muhammad Nur kepada ArrahmahMedia.Com.

ArrahmahMedia.Com

Muhammad Nur menambahkan, bedah rumah akan dijadikan program tahunan bagi MWCNU Kaliwates. Sebab, hal itu sangat menyentuh kebutuhan dasar warga NU. Dikatakannya, program bedah rumah yang dilakukan pemerintah lewat PNPM ternyata masih belum menjangkau semua rumah yang tak layak huni. 

“Itu bisa dimaklumi juga, karena rumah yang tak layak huni sangat banyak, itupun garapannya amburadul. Betapapun kecilnya, apa yang kami lakukan, saya yakin besar manfaatnya. Insyaallah ini jadi program tahunan, meksi hanya satu unit rumah,” ulasnya.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Aryudi A Razaq

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Ulama, PonPes ArrahmahMedia.Com

Minggu, 15 September 2013

Rintis Rumah Sakit, PCNU Batang Studi Banding ke RSNU Demak

Batang, ArrahmahMedia.Com. Upaya perwujudan program pembangunan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) di Batang secara bertahap mulai dilakukan. Salah satunya ialah kunjungan pengurus harian PCNU Batang ke RSNU Demak yang telah lebih dahulu beroperasi.

Rintis Rumah Sakit, PCNU Batang Studi Banding ke RSNU Demak (Sumber Gambar : Nu Online)
Rintis Rumah Sakit, PCNU Batang Studi Banding ke RSNU Demak (Sumber Gambar : Nu Online)

Rintis Rumah Sakit, PCNU Batang Studi Banding ke RSNU Demak

Kunjungan pada Selasa (14/4) ini diikuti Rais Syuriyah dan Tanfidziyah PCNU Batang. Mereka antara lain KH Manap Syair, H Sholihin, H Sidiq, H Saefudin, H Ihwanudin, KH Rasimin Abdul Azis, KH Maliki, dan Turjaun.

Menurut H Solikhin, tujuan studi banding ke PCNU Demak adalah spesifik berkaitan dengan program pembangunan RSNU Batang.

ArrahmahMedia.Com

“PCNU Demak menjadi tujuan studi banding karena sudah mempunyai rumah sakit, sehingga sebelum melangkah agar tidak salah langkah dan ada acuan jelas,” kata Solikhin.

ArrahmahMedia.Com

Setelah tahapan perataan tanah lahan yang akan dibangun rumah sakit beberapa pekan lalu, saat ini secara bertahap mulai membangun talud dan fondasi.

Ketua tim pembangunan RSNU Batang Turjaun menyampaikan bahwa ada beberapa hasil yang bisa kita bawa pulang usai kunjungan. “Kita mendapatkan informasi acuan, gambaran tentang langkah ke depan, bagaimana payung hukumnya, mekanisme perizinannya, model rekrutmen tenaga RS, suka duka pengelolaan, dan lain sebagainya”.

Turjaun berharap seluruh warga NU Batang pada khususnya dan warga Batang pada umumnya ? bersama-sama menyukseskan program besar ini.

“Peran pemerintah daerah juga sangat kami harapkan guna kelancaran proses pembangunan ke depan,” imbuh Turjaun. (M Imron/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com PonPes, Nahdlatul ArrahmahMedia.Com

Minggu, 22 Januari 2012

NU Turki Napak Tilas Nasrudin Hoja

Konya, ArrahmahMedia.Com. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Turki melalui pengurus rantingnya di Konya berkesempatan napak tilas ke makam Nasrudin Hoja, tokoh sufi yang dikenal dengan kisah-kisahnya yang kocak namun sarat makna filosofis.

NU Turki Napak Tilas Nasrudin Hoja (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Turki Napak Tilas Nasrudin Hoja (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Turki Napak Tilas Nasrudin Hoja

Makam Nasrudin Hoja terletak di AkÅŸehir, berjarak 136 Km dari pusat kota Konya. Rombongan ziarah berangkat dari Konya pukul 10.00 dan sampai di AkÅŸehir pukul 12.30 waktu setempat. Sampai di sana mereka langsung menuju makam Nasrudin Hoja, membaca tahlil dan berdoa.

“Ada dua manfaat yang dapat kita ambil saat berziarah ke makam wali. Pertama, mengingatkan kita kalau kelak kita juga akan mati menyusul mereka yang sudah duluan. Kedua, membuktikan kebenaran eksistensi seorang wali tersebut,”  kata ketua panitia acara Mulki Razka. Acara diakhiri dengan makan siang disalah satu taman di AkÅŸehir

ArrahmahMedia.Com

Menurut sejumlah sumber, sufi yang hidup di kawasan sekitar Turki pada abad-abad kekhalifahan Islam hingga penaklukan Bangsa Mongol ini merupakan seorang filosof yang bijak dan penuh dengan cita rasa humor. Meski populer, Nasarudin Hoja masih diperdebatkan keberdaannya.

Sebelumnya, PCINU Turki melakukan ziarah ke makam para aulia, antara lain Maulana Syekh Jalaluddin Rumi dan gurunya, Syamsuddin at-Tibrizi atau yang lebih dikenal dengan Semsi Tebriz, Maret 2013, bersama Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

ArrahmahMedia.Com

PCINU Turki tergolong cabang baru NU di luar negeri. Melalui musyawarah, organisasi ini dibentuk pertengahan 2012 lalu di gedung ÖNDER, tak jauh dari Blue Mosque Istanbul, Istanbul, Turki. (Hari Pebriantok/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com PonPes, Jadwal Kajian, Syariah ArrahmahMedia.Com

Kamis, 23 April 2009

Khawatirkanlah Dominasi Hawa Nafsumu

Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kalam hikmahnya mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Khawatirkanlah Dominasi Hawa Nafsumu (Sumber Gambar : Nu Online)
Khawatirkanlah Dominasi Hawa Nafsumu (Sumber Gambar : Nu Online)

Khawatirkanlah Dominasi Hawa Nafsumu

"Jangan Engkau khawatirkan ketidakjelasan jalan menuju Allah, akan tetapi yang perlu Engkau khawatirkan adalah dominasi hawa nafsu yang menggerogoti jiwamu."

Jalan untuk menuju kepada Allah sudah terang dan jelas, karena Allah SWT telah menerangkan itu semua baik melalui diturunkan kitab, diutuskan Rasul serta ditampakkan dalil-dalil.

?

Maka karena itu tidak ada yang perlu dirisaukan tentang ketidakjelasan tanda itu, namun yang perlu dirisaukan adalah dominasi hawa nafsu yang menggerogoti jiwa sehingga seseorang terhijab dari kedekatannya dengan Allah SWT.

ArrahmahMedia.Com

Setiap manusia tidak pernah lepas dari 4 kondisi dan semua itu telah dituntun jalan melalui para Rasul-nya bagaimana kita mendekatkan diri dengan Allah dalam setiap kondisi tersebut. Keempat kondisi tersebut adalah adakalanya dalam ketaatan atau maksiat, dan adakalanya dalam nikmat atau tertimpa bala.

Dalam kondisi taat dan ibadah, seorang manusia sejatinya menyadari bahwa itu semua merupakan anugerah Allah. Kita harus meyakini bahwa tidak ada daya dan upaya tanpa seizin Allah. Tidak selayaknya seseorang berbangga dengan ketaatannya hingga ia lupa bahwa itu semua merupakan anugerah Allah SWT.

Dalam kondisi maksiat, jalan yang harus ditempuh oleh seorang hamba adalah beristighfar dan taubat untuk kembali kepada Allah.

?

ArrahmahMedia.Com

Tidak selayaknya kondisi maksiat membuat seseorang putus asa karena rahmat Allah sangatlah luas, namun tidak juga berarti ia boleh terus-terusan dalam maksiat atau menunda-nunda taubat dengan berpangku kepada rahmat Allah karena kematian bisa saja datang tiba-tiba.

?

Putus asa dari rahmat Allah dan menunda-nunda taubat menunjukkan seseorang telah dikuasai oleh hawa nafsunya. Dari sisi yang lain seorang hamba Allah adakalanya dalam nikmat dan adakalanya ditimpakan bala. Dalam kondisi nikmat yang dituntut adalah bersyukur sedangkan saat tertimpa bala yang dituntut adalah bersabar.

Semua tuntunan untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam berbagai kondisi sudah terang dan jelas, tinggal lagi apakah kita menempuh jalan itu atau tidak. Maka yang perlu dikhawatirkan sebenarnya adalah pengaruh hawa nafsu yang membuat kita terhijab dan lalai dari menempuh jalan tersebut.

Syaikh Ahmad bin Hadhrawaih Al-Balkhi berkata: "Jalan sudah jelas, Kebenaran telah nampak, Sang Penyeru (Nabi) telah menyampaikan, maka tidak ada yang merasa heran setelah hal tersebut ada kecuali orang-orang yang dibutakan mata hatinya."

T. Rajudin, Santri Mudi Mesra Samalanga Aceh.

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com PonPes, Bahtsul Masail ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock