Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2018

NU Care LAZISNU Cilacap Gulirkan ‘Gocap’

Jakarta, ArrahmahMedia.Com

Untuk terus memupuk kesadaran beramal warga Nahdliyin di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, NU Care LAZISNU (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah) setempat menggulirkan Gocap atau "Gerakan Koin dan Kotak Amal NU Cilacap".

Peluncuran Gocap berlangsung pada Sabtu (28/1), di Kantor Sekretariat PCNU Cilacap. Rais Syuriah PCNU Cilacap KH Su’ada Adzkiyah dan Ketua PCNU Tanfidiyah KH Maslahudin memasukkan uang ke kotak amal NU Care LAZISNU Cilacap sebagai tanda dibukanya program ini.

NU Care LAZISNU Cilacap Gulirkan ‘Gocap’ (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Care LAZISNU Cilacap Gulirkan ‘Gocap’ (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Care LAZISNU Cilacap Gulirkan ‘Gocap’

Ketua PCNU Cilacap KH Maslahudin mengungkapkan, Gocap didukung oleh semua warga nahdliyin di Cilacap, baik di tingkat ranting maupun MWC.

ArrahmahMedia.Com

“Kita tunjukkan bahwa kita sebagai warga NU mampu hidup mandiri tanpa menggantungkan kepada orang atau kelompok lain. Dari kita oleh kita untuk kita,” kata KH Maslahudin seperti dituturkan Ketua NU LAZISNU Cilacap, Tunut Widodo kepada ArrahmahMedia.Com, Ahad (29/1).

ArrahmahMedia.Com

Tunut menyebutkan sebanyak 1.030 anggota Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (KPNU) diterjunkan untuk menyosialisasikan gerakan ini. Pada tahap awal, disebarkan 2500 buah kaleng dan 100 kotak amal. Ditarjetkan dalam semester pertama tahun ini akan mencapai 10.000 kaleng dan 200 kotak amal.

Diharapkan setiap warga yang telah menyetujui untuk menjadi donatur dengan mengambil salah satu kotak atau kaleng Gocap, akan mengisi dana infak senilai Rp.500,- (Limaratus rupiah) setiap hari. Kotak dan kaleng tersebut akan diambil oleh petugas NU Care LAZISNU sebulan sekali.

“Gocap ini akan menjadi gerakan yang masif dalam pengumpulan dana infak dan sedakah dari warga Nahdiyin di Kabupaten Cilacap,” tambah Tunut.

Sebelumnya, NU Care LAZISNU Cilacap juga menggulirkan program Infak Harian Muslim berupa kotak amal yang dititipkan di toko dan warung-warung. (Kendi Setiawan/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com IMNU, Kajian ArrahmahMedia.Com

Senin, 05 Februari 2018

Khairul Anam Diharapkan Mampu Pimpin IPNU

Palembang, ArrahmahMedia.Com. Kongres XVII Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) mengamanatkan Khairul Anam HS dari Sulawesi sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU untuk masa bakti 2012-2015.

Khairul Anam Diharapkan Mampu Pimpin IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Khairul Anam Diharapkan Mampu Pimpin IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Khairul Anam Diharapkan Mampu Pimpin IPNU

"Rekan Anam diharapkan dapat memimpin IPNU dengan benar. Pemimpin artinya mengemban amanat, perjuang, dan menjunjung tinggi cita-cita bersama. IPNU organisasi pelajar, dia diserahi amanat berat," ujar aktivis IPNU dari Sumatera Utara yang tidak mau disebutkan namanya.

Pemilihan dilangsungkan di Gedung Serbaguna Asrama Haji Palembang, jalan Kolonel H. Barlian Km.9 Palembang, Selasa (4/12) pagi. Pemilihan yang diikuti secara antusias oleh peserta kongres, berakhir pada 12.30 siang.

ArrahmahMedia.Com

“Perolehan suara didominasi oleh Khoirul Anam dengan skor 281 suara. Sementara pesaing tunggalnya, Abdurrahman Fauz memperoleh suarasebanyak 127,” kata Saiful Adilin, utusan IPNU Jakarta kepada ArrahmahMedia.Com di bawah tenda pemilihan PP IPPNU, Selasa (4/12) siang.

ArrahmahMedia.Com

Menurut Saiful, dua nama tersebut lolos dalam putaran pertama. Sebelumnya, tiga nama lain sempat mengemuka seperti Idris, Murodi, dan Nahdi. Namun tiga nama terakhir gugur pada putaran pertama.

“Dari semua suara yang mendukung dua nama tersebut, tiga suara dinyatakan rusak oleh ketua presidium sidang penghitungan,” tambah Saiful.

Usai penghitungan pemilihan, Ketua Umum PP IPNU keluar dari Gedung Asrama Haji dengan disambut jabat tangan oleh sejumlah peserta kongres XVII IPNU yang hadir. Sementara itu, Ketua Presidium sidang mengumumkan tim formatur yang akan membentuk jajaran kepengurusan baru PP IPNU. 

 

Redaktur : Hamzah Sahal

Penulis    : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Cerita, Kajian, Khutbah ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 03 Februari 2018

Seniman Tegal Gelar Tahlil Budaya

Tegal, ArrahmahMedia.Com. Sebagai penghormatan kepada tokoh budayawan ulung KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur para seniman Tegal menggelar Tahlil Budaya. Selain pembacaan Tahlil, para seniman juga mementaskan puisi, monolog, pentas musik dan dialog budaya.



Seniman Tegal Gelar Tahlil Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Seniman Tegal Gelar Tahlil Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Seniman Tegal Gelar Tahlil Budaya

“Kami punya kepentingan memperingati beliau sebagai seorang budayawan ulung,” tutur Ketua Dewan Kesenian Kota Tegal (DKT) Nur Ngudiyono dalam prakata sambutannya pada Tahlil Budaya Seniman Tegal di alun-alun Tegal Jumat (12/2) malam.

Menurut dia, Gus Dur semasa hidupnya telah membuktikan diri sebagai budayawan, seniman, sastrawan bahkan pelawak yang menggelitik. Ngudiyono bercerita, ketika jadi presiden, Gus Dur berkumpul dengan para pelawak, saat itu juga para pelawak terbahak-bahak mendengar penuturan gaya ‘guyonan’ Gus Dur. “Kalau pelawak saja bisa tertawa, apalagi kita yang bisanya cuma nonton pelawak,” ucapnya.

ArrahmahMedia.Com

Tahlil dipimpin Mutasyar PCNU Kota Tegal KH Abu Chaer Annur. Sementara pembacaan monolog oleh Penyair Asli Tegal Eko Tunas yang kini menetap di Semarang. Sedangkan pembacaan puisi oleh Dwi Eri Susanto dan Nana Eres.

Dwi Eri membaca puisi godong kembang plastik. Yang menceritakan persoalan pengekangan plurarisme. Betapa sulitnya membangun kebersamaan akibat banyaknya pengkotak-kotakan. Nana Eres lain lagi, dia bercerita tentang feminisme. Yang menceritakan betapa beratnya perjuangan menegakkan feminisme. Dan Nana pun meluapkan kegelisahannya dengan Kutulis Puisi di Pasirmu.

ArrahmahMedia.Com

Sedang Eko Tunas, memandang Gus Dur sebagai pelayan. Gus Dur menjadi pelayan publik bagi siapa saja. “Gus Dur bersahabat dengan siapa saja,” kata Eko.

Kebudayaan itu, lanjutnya, telah membangun panggung. Ekonomi adalah operanya dan Gus sebagai wali dalam kontek budaya. Eko mengingatkan, berkesenian jangan hanya sekadar jadi alat. Karena bila jadi alat, yang terjadi adalah ketika orde lama kesenian jadi alat politik, pada orde baru jadi alat ekonomi dan pada era reformasi malah jadi alat korupsi. “Jadikanlah puisi sebagai bintang kata-kata, tuk menegakan kebenaran,” tandas Eko dalam monolognya yang menggelitik.

Dalam dialog Budaya, tampil mantan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) era Presiden Gus Dur Bondan Gunawan, Ketua Majelis Agama Khonghucu Indonesia (Makin) Kota Tegal Gyong gyong dan Wali Kota Tegal H Ikmal Jaya. Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) yang dijadwalkan mengisi acara berhalangan hadir karena istrinya mengalami pendarahan.

Gyong gyong diberi kesempatan pertama oleh moderator Firdaus Muhtadi untuk menjadi kesaksian keagungan Gus Dur. Gyong gyong merasa diewongke oleh Gus Dur ketika meminta Gus Dur tanda tangan pada Grup Barongsainya. Setahun kemudian, Barongsai milik Gyong gyong menjadi juara nasional dua kali berturut-turut. “Pulpen Gus Dur, ternyata jimat juga,” seloroh Gyong gyong yang disambut dengan gerr.

Keberpihakan Gus Dur pada warga keturunan Tionghoa sangat menjadi momentum dengan penjabutan inpres nomor 14 tahun 1957. “Gus Dur berani membawa badannya untuk menjadi tameng pada hal-hal minoritas,” tandasnya.

Ikmal Jaya, yang saat itu masih menjadi Direktur PO Dewi Sri mengaku rela hati bolak-balik ke RSCM untuk sekadar mendorong kursi Roda Gus Dur. Dalam kesempatan tersebut dia senang berbincang tentang kepemimpinan. “Termasuk, untuk menjadi Wali Kota Tegal, saya meminta restu Gus Dur,” ungkapnya.

Yang menggelitik bagi Ikmal, ternyata dia dipertemukan dengan Gus Dur dalam mimpinya juga. Dalam mimpi tersebut, Ikmal disuruh ikut NU. “Gus, saya lagi nyalon Walikota Tegal bagaimana ini?” tanyanya dalam mimpi.

“Kamu harus NU,” kata Gus Dur dalam nasehat mimpinya.

Sehingga mulai saat itu, Ikmal berikrar menjadi NU. Kini, Ikmal tercatat juga sebagai Bendahara MWC NU Margadana Kota Tegal.

Dalam suatu kesempatan, lanjut Ikmal, juga mendapat nasehat Gus Dur yang hingga kini diingat dan dilaksanakan sebagai pemimpin. Gus Dur berkata ‘Le, dadio wong sing wani tur nekad lan iso ngedan. Artinya, dalam menjalankan kepemimpinan harus menjadi seorang yang berani karena benar, bertekad membaja, merealisasikan program dengan penuh kegigihan, kendati orang lain melihat kita sebagai orang gula. “Termasuk mencapai 2010 sebagai daerah yang sehat baik jasmani maupun rohani,” tandasnya.

Bondan Gunawan merasa senang bisa menghadiri undangan DKT untuk Tahlil Budaya. termasuk penataan panggung yang merakyat. “Yang namanya rakyat beneran ya… disini. Kalau digedung-gedung megah, itu rakyat-rakyatan yang hanya membicarakan rakyat,” ucapnya mengawali dialog.

Sebagai Mensesneg, dia sangat tidak mengerti alur pemikiran Gus Dur. Pasalnya, Gus Dur tidak pernah menjelaskan ucapan maupun tindakannya. “Ketika situasi dalam negeri saat itu carut marut, Gus Dur malah keliling dunia,” ceritanya.

Gus Dur saat itu, tidak menjelaskan apapun maksud perjalanannya keluar negeri. Gus Dur hanya berucap. “Siapa bilang saya mau jalan-jalan. Melihat saja gak!,” ucap Gus Dur sebagaimana diceritakan Bondan.

Setelah dipikir lebih jauh, ternyata perjalanannya membawa makna yang dalam. Ternyata Gus Dur sedang memasang strategi perang. “Gus Dur mau menunjukkan kalau situasi dalam negeri Indonesia aman dan terkendali. Wong pemimpinnya saja jalan-jalan, otomatis negaranya dalam keadaan damai,” ucap Bondan disambut gerr.

Bondan mengaku bekerja sama dengan Gus Dur lebih dari 30 tahun. Sehingga tahu sedikit tentang karakter Gus Dur kendati sulit dipahaminya. Dia mengungkapkan kalau Gus Dur lebih senang membangun lingkungan yang beraneka ragam. “Lingkungan yang beraneka ragam maka akan kuat, makanya Gus Dur terus memperjuangkan demokrasi, pluralisme,” terang Bondan.

Pembinaan tersebut, dengan jalan pendekatan kemanusiaan. Sehingga tidak ada satupun yang merasa dianaktirinkan.

Meskipun di era sekarang amat sulit untuk politik pendekantan kemanusiaan. Karena sekarang telah berkembang Plutokrasi. Yakni politik yang mengabdi karena uang. “Sangat langka politik yang mengabdi pada umat,” terangnya.

Bondan mengagumi Gus Dur karena kehebatannya yang tidak pernah marah. “Meludah didepannya saja, tidak marah,” cerita Bondan.

Kehebatan lainnya, sampai detikdetik terakhir Gus Dur Mikirin Negara. Kehebatan lainnya. Lainnya Gus Dir tidak melarang seseorang untuk berbuat apapun. “Bahkan Gus Dur rela ditabrak oleh tanaman yang ia tanam sendiri.

Termasuk perseteruan dengan Mohamin Iskandar, Gusdur menggelindingkan persoalan tersebut dengan sangat manis. Gus Dur hanya mengingatkan, “Jangan hanya tergantung pada pemimpin format. “Tapi kalau kepatusan pada ulama, mutlak hukumnya untuk dititahkan (diindahkan) (was.)Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Doa, Kajian ArrahmahMedia.Com

Selasa, 30 Januari 2018

Ini Keutamaan dan Hikmah Shalat Dhuha

Shalat dhuha termasuk salah satu dari shalat sunah yang dianjurkan. Terdapat banyak dalil, baik dari Al-Qur’an maupun hadits yang menegaskan keutamaan shalat dhuha. Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in menjelaskan sebagai berikut.

? ? ? ? "? ? ?" ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?..

Ini Keutamaan dan Hikmah Shalat Dhuha (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Keutamaan dan Hikmah Shalat Dhuha (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Keutamaan dan Hikmah Shalat Dhuha

Artinya, “Shalat dhuha disunahkan berdasarkan firman Allah SWT, ‘Bertasbih bersama dia di waktu petang dan pagi.’ Ibnu Abbas menafsirkan shalat isyraq adalah shalat dhuha. Bukhari-Muslim juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa ‘Rasulullah pernah berwasiat tiga hal kepadaku: puasa tiga hari dalam setiap bulan, shalat dhuha dua raka’at, dan witir sebelum tidur.’”

ArrahmahMedia.Com

Wasiat Nabi tersebut tidak hanya khusus bagi Abu Hurairah, tetapi berlaku untuk seluruh umat Nabi Muhammad SAW karena di dalam hadits lain disebutkan shalat dhuha memiliki banyak keutamaan dan hikmah. Di antara hikmah shalat dhuha ialah sebagai berikut.

Ampunan Dosa

Dalam hadits riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dijelaskan bahwa orang yang membiasakan shalat dhuha dosanya akan diampuni oleh Allah SWT, meskipun dosa tersebut sebanyak buih di lautan. Rasulullah bersabda sebagai berikut.

ArrahmahMedia.Com

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Siapa yang membiasakan (menjaga) shalat dhuha, dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan,” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Tidak Dianggap Orang Lalai

Setiap orang tentu tidak ingin dianggap sebagai orang lengah ataupun lalai dalam hal mencari rahmat Tuhan. Salah satu cara agar terhindar dari sifat lalai adalah mengerjakan shalat dhuha. Rasulullah bersabda sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Orang yang mengerjakan shalat dhuha tidak termasuk orang lalai,” (HR Al-Baihaqi dan An-Nasa’i).

Dhuha sebagai Sedekah

Rasulullah bersabda sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Setiap pagi, ruas anggota tubuh kalian harus dikeluarkan sedekahnya. Amar ma’ruf adalah sedekah, nahi mungkar adalah sedekah, dan semua itu dapat diganti dengan shalat dhuha dua raka’at,” (HR Muslim).

Selain tiga hikmah di atas, masih banyak hikmah shalat dhuha yang disebutkan dalam hadits Nabi. Shalat Dhuha biasanya dikerjakan ketika matahari sudah mulai naik seukuran tombak, atau kisaran jam 7 pagi, sampai tergelincirnya matahari. Minimal raka’at shalat dhuha adalah dua raka’at dan lebih utama dikerjakan sebanyak delapan raka’at. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kajian, Tegal, Anti Hoax ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 27 Januari 2018

Jejak Islam di Kamboja (3): Perjuangan Pesantren Qur’an di Phnom Penh

Phnom Penh,ArrahmahMedia.Com

Hampir dua tahun ini, Ustadz Amir mendirikan pesantren Al-Qur’an yang bernama Jami’ul Muslimin. Imam Masjid Al-Jamee’ Al-Islami itu dibantu oleh Nashirin Syamsuddin, yakni pemuda yang pernah mondok selama 5 tahun di pesantren Sabilul Mukhlasin Magelang, pada 2009 hingga 2014 lalu.

Berbeda dengan di Indonesia, istilah pondok pesantren di Kamboja lebih dikenal dengan sebutan “madrasah”. Adapun istilah santri dalam bahasa Khmer (bahasa lokal Kamboja) dinamakan konsah, sedangkan untuk istilah kiai atau ustadz disebut sebagai "tun" atau "kru", namun istilah kru maknanya lebih luas, seperti guru-guru di sekolah umum.

Jejak Islam di Kamboja (3): Perjuangan Pesantren Qur’an di Phnom Penh (Sumber Gambar : Nu Online)
Jejak Islam di Kamboja (3): Perjuangan Pesantren Qur’an di Phnom Penh (Sumber Gambar : Nu Online)

Jejak Islam di Kamboja (3): Perjuangan Pesantren Qur’an di Phnom Penh

Pesantren Jamiul Muslimin didirikan sebagai tempat untuk fokus menghafalkan Al-Quran. Tujuan pendirian pesantren ini untuk ‘menghidupkan’ lingkungan tengah kota Phnom Penh yang masyarakatnya mayoritas beragama Buddha. Santri-santri di pesantren ini hanya berjumlah 20 orang dimana rata-rata berusia di bawah 17 tahun.Mereka semua berasal dari berbagai daerah di Kamboja.

ArrahmahMedia.Com

Nashirin mengatakan, dengan bahasa Melayu yang lumayan fasih, rencananya kelak setelah khatam hafal Al-Qur’an,santri-santri remaja didikannya itu akan dikirim ke berbagai daerah Kamboja untuk menjadi ustadz. Sebenarnya banyak muslim Kamboja yang mencari lembaga pendidikan Islam semacam pesantren. Hanya saja akses serta jumlah pesantren di sana memang masih sedikit.

ArrahmahMedia.Com

Selain itu, Nashirin yang juga sebagai pembina pesantren Jamiul Muslimin itu mengaku berani menerima 100 santri, namun masalahnya tempatsekarang digunakan tidak mendukung.Di samping itu  tempat tinggal santri juga saat ini masih dalam kompleks masjid. Untuk kegiatan santri selain menghafal Al-Quran, mereka juga mendapatkan jadwal untuk menjadi imam shalat Hajat, bersih lingkungan masjid, dan sebagainya. Beberapa santri ada mempunyai kebiasaan berpuasa sunnah Senin dan Kamis.

Perkembangan Hubungan Keagamaan

Dalam topik lain,Ustadz Amir menambahkan bahwa sekitar sepuluh tahun ini sudah masuk paham Wahabi di kalangan muslim Kamboja, namunjumlah mereka tidak banyak serta tidak berani melakukan hal-hal yang tidak diinginkan oleh mayoritas muslim Kamboja yang mayoritas bermazhab Syafiiyah. Situasinya mungkin tak separah paham Wahabi di Indonesia yang sering kali meresahkan masyarakat muslim yang gemar menjalankan tradisi serta ajaran ulama Aswaja dan Wali Songo.

Saya sendiri sebenarnya penasaran tentang keberadaan makam ulama atau wali yang ada di kawasan ibu kota Phnom Penh Kamboja, namun Ustadz Amir tidak mengetahui secara pasti hal yang saya tanyakan itu.

Ia hanya menceritakan bahwa dahulu pernah hidup seorang alim yang bernama Haji Muhammad Kacik Shagid. Tokoh ini dikenal sebagai ulama yang bisa mengetahui artikicauan-kicauan burung.

Dikisahkan dahulu burung-burung biasanya memberikan informasi tertentu yang hendak disampaikan ke penduduk, dan hanya Haji Muhammad Kacik Shagid yang bisa memahami  kicauan burung. Sayangnya,ulama ini tersebut termasuk di antaranya ulama yang dibunuh oleh rezim Pol Pot. Sayangnya lagi, sosok yang punya karomah tersebut makamnya tidak ditemukan sampai sekarang.

Lebih jauh, dalam pandangan ustadz Amir hubungan muslim dengan umat Buddha di Kamboja sampai hari ini tetap terjalin dengan baik. Semenjak berakhir perang saudara yang dahulu pernah terjadi di Kamboja sebab kudeta yang terjadi beberap kali, hingga saat ini tidak ada pergesekan atau konflik antara kedua agama tersebut.

Apalagi Perdana Menteri Kamboja Han Sen juga membebaskan Muslim Kamboja untuk mendirikan masjid dan melaksanakan kegiatan keislaman, termasuk juga sekarang membolehkan anak perempuan memakai jilbab ke sekolah.

Dalam kesempatan selanjutnya, saya hendak mengunjungi kawasan KM. 7, Chrang Chromres, Phnom Penh, dimana kawasan mayoritas tersebut dihuni oleh muslim. Sebagaimana informasi dari dari Ustadz Amir, banyak jejak Islam dan aktivitas muslim Kamboja yang bisa digali lebih banyak di kawasan tersebut. (M. Zidni Nafi’, santri asal Qudsiyyah Kudus, peserta Program Pemuda Magang Luar Negeri 2017 dari Kemenpora RI)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kajian, Ubudiyah, Amalan ArrahmahMedia.Com

PBNU: Stop Kejahatan Kemanusiaan Terhadap Etnis Rohingya

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Pihak pemerintah RI, negara-negara ASEAN, dan PBB beserta UNHCR-nya harus bekerja keras meyakinkan otoritas Myanmar perihal hak-hak sipil ribuan warga etnis Rohingya. Ketiga pihak ini kalau keadaan menuntut, perlu menjatuhkan sanksi internasional dalam bentuk embargo atau sanksi lainnya terhadap otoritas Myanmar.

PBNU: Stop Kejahatan Kemanusiaan Terhadap Etnis Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Stop Kejahatan Kemanusiaan Terhadap Etnis Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Stop Kejahatan Kemanusiaan Terhadap Etnis Rohingya

Seruan ini dinyatakan Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Masudi di Jakarta, Jumat (15/5) sore.

Menurut Kiai Masdar, Pemerintah RI perlu menyiapkan langkah-langkah ke depan untuk memulangkan imigran ini yang sementara ditampung dan menuntut otoritas setempat untuk mengembalikan hak-hak sipil mereka.

ArrahmahMedia.Com

Kalau memang etnis Rohingya ini diusir karena keyakinannya, maka PBB mesti menjatuhkan sanksi keras kepada otoritas negara setempat karena telah berbuat kejahatan kemanusiaan. Janganlah karena suku, agama, atau keyakinan mendiskriminasi warga bangsa.

“Tidak boleh mendiskriminasi manusia karena keyakinannya. Ini melanggar hak paling asasi yang diakui oleh seluruh umat manusia,” kata Kiai Masdar.

ArrahmahMedia.Com

Kalau otoritas setempat tidak mau memandang etnis Rohingya karena keyakinannya, maka mereka harus melihat warga Rohingya karena kemanusiaannya. Sama juga dengan mereka yang memandangnya sebagai manusia.

“Tanyakan kepada otoritas setempat itu, apakah mereka mau diperlakukan secara sewenang-wenang?” tegas Kiai Masdar. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kajian ArrahmahMedia.Com

Jumat, 26 Januari 2018

Perjuangan Mbah Hasyim Membangun Gerakan Filantropi

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Gerakan filantropi pertama kali dilakukan pada tahun 1918 oleh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri,dan KH Masykur ? dengan menggalang 40 pengusaha. Mereka kemudian membentuk organisasi bernama Nahdlatut Tujjar.?

“Pada saat itu masyarakat sangat antusias untuk mengumpulkan dana. Karena para kiai bergerak, sehingga terkumpul dana cukup besar. Gerakan filantropi nusantara yang digerakkan oleh para kiai mampu menarik para banker,” kata Ketua PBNU HM Sulthon Fatoni saat mengisi seminar nasioanl bertema Filantropi Islam Nusantara yang diselenggarakan oleh NU Care-LAZISNU di lantai 8 Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (2/2).

Seiring berjalannya waktu, gerakan yang dihimpun oleh para kiai tersebut tercium Belanda, sehingga pihak Belanda memberlakukan peraturan tentang koperasi yang harus berizin dengan mengenakan biaya yang sangat mahal. Di samping standar dan persyaratan lain yang harus dipenuhi.?

Perjuangan Mbah Hasyim Membangun Gerakan Filantropi (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjuangan Mbah Hasyim Membangun Gerakan Filantropi (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjuangan Mbah Hasyim Membangun Gerakan Filantropi

Para kiai tidak mampu memenuhi persyaratan, termasuk dana minimal yang harus disetor ke pihak Belanda. Gerakan filantropi Nahdlatut Tujjar pada akhirnya tenggelam.

“Gerakan filantropi koperasi saat itu memang yang harus dirambah, karena zakat, sedekah, dan infaq sudah jalan,” katanya.?

Selanjutnya di awal tahun 1920, Mbah Hasyim mengutus Kiai Wahab menemui Kiai Nawawi Sidogiri untuk berkonsultasi tentang pendirian organisasi Nahdlatul Ulama (NU).?

ArrahmahMedia.Com

Dari pertemuan itu, para kiai berkumpul di Masjid Jami’ Kota Pasuruan kemudian terbesit ayat Al Qur’an Lamasjidun Ussisa ‘alat Taqwa.

“Jadi perkumpulan NU, perkumpulan para kiai kita sepakat asalkan gerakan perkumpulan ini nanti tidak berbasiskan finansial, tidak bermisi profit. Maka lahir NU,” terangnya.?

Sebagaimana ditegaskan Mbah Hasim dalam Risalah Ahlussunnah Waljamah tahun 1928 bahwa NU adalah organasiasi yang bermisi memberikan keadilan, memberikan perlindungan, meningkatkan kualitas hidup, dan mendorong agar masyarakat makmur.

“Gedung yang kita tempati ini (Gedung PBNU), bukan dari bisnis, tapi gedung ini dibangun dengan semangat filantropi. Semuanya terlibat, kaya, miskin, muslim, dan non muslim di era Gus Dur,” terang pria yang juga menjabat sebagai wakil rektor II Unusia ini. (Husni Sahal/Zunus)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kajian ArrahmahMedia.Com

Jumat, 29 Desember 2017

91 Orang Tewas Akibat Serangan Bom di Suriah

Aleppo, ArrahmahMedia.Com. Sebanyak 91 orang menjadi korban tewas akibat aksi pengeboman di wilayah yang diduduki pemberontak di Aleppo Timur, Suriah, pada Jumat (23/9), kata Hamza al-Khatib, Direktur sebuah rumah sakit di Beirut, kepada Reuters.?

Seorang sumber di kalangan militer Suriah mengatakan bahwa ada serangan baru di Aleppo bagian timur pada Kamis lalu.?

91 Orang Tewas Akibat Serangan Bom di Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)
91 Orang Tewas Akibat Serangan Bom di Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)

91 Orang Tewas Akibat Serangan Bom di Suriah

Sumber tersebut menambahkan bahwa serangan itu masih akan berlangsung untuk beberapa waktu selain adanya aksi serangan darat. (Antara/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Kajian ArrahmahMedia.Com

Rabu, 20 Desember 2017

Kasatkornas Alfa Isnaeni: Jangan Bicara Agama Kalau Tidak Paham

Jakarta, ArrahmahMedia.Com - Kepala Satuan Koordinasi Nasional (Kasatkornas) Banser H Alfa Isnaeni berpesan kepada anggota baru Banser untuk tidak membahas masalah agama di tengah masayarakat. Menurutnya, bicara agama tanpa bekal ilmu agama yang memadai hanya membuat kekacauan baru di masyarakat.

“Syukur alhamdulillah kalau sahabat sekalian ini pandai membaca kitab kuning. Tetapi kalau tidak bisa, lebih baik belajar,” kata Alfa saat menjadi inspektur upacara penutupan DTD Banser Jakarta Selatan di Kompleks Yayasan KH A Wahid Hasyim, Ciganjur, Jakarta Selatan, Ahad (27/8) pagi.

Kasatkornas Alfa Isnaeni: Jangan Bicara Agama Kalau Tidak Paham (Sumber Gambar : Nu Online)
Kasatkornas Alfa Isnaeni: Jangan Bicara Agama Kalau Tidak Paham (Sumber Gambar : Nu Online)

Kasatkornas Alfa Isnaeni: Jangan Bicara Agama Kalau Tidak Paham

Menurutnya, masalah agama adalah pertanggungjawaban dunia dan akhirat. Jangan mudah berbicara agama.

“Butuh ilmu tafsir, ilmu hadits, dan disiplin kelimuan lainnya untuk bicara agama,” kata Alfa.

ArrahmahMedia.Com

Kepada seratus lebih peserta diklatsar terpadu, ia mengingatkan kembali tugas Banser sebelum kembali ke masyarakat untuk mendakwahkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

ArrahmahMedia.Com

“Tugas sahabat adalah mendakwah Ahlusunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Tetapi ‘dakwah’ harus diartikan secara luas. Artinya, sahabat sekalian harus menghidupkan dan mengawal amaliyah Aswaja NU, yaitu tahlilan, malam Yasin, dibaan, tawasulan, ziarah, manaqib di daerah sahabat masing-masing,” kata Alfa.

Terakhir, ia mengimbau seratus lebih anggota baru Banser ini untuk mengajak anak-anak muda di sekitar sahabat masing-masing untuk masuk Diklatsar.

Sebagaimana diketahui, Diklat Terpadu Dasar (DTD) Angkatan I Satkorcab Banser pada 25-27 Agustus 2017 diadakan oleh GP Ansor Jakarta Selatan. Peserta DTD terdiri atas 112 orang. Peserta terdiri atas kalangan laki-laki dan perempuan. (Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kajian, Cerita ArrahmahMedia.Com

Jumat, 15 Desember 2017

Pengasuh Pesantren Ash-Shidiqqi Lampung Tengah Wafat

Lampung Tengah, ArrahmahMedia.Com?

Keluarga besar Nahdlatul Ulama Provinsi Lampung berduka lantaran salah seorang kiainya, KH Ahmad Zuhri wafat pada Senin (1/5) bertepatan 4 Syaban 1438 H sekitar pukul 14.40. Kiai Ahmad Zuhri yang wafat pada usia 67 tahun itu adalah Pengasuh Pesantren Ash-Shidiqqi Dusun Sragen, Kampung Mataram Ilir, Kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah.

Ribuan takziyah menjadi saksi pemakamannya di kompleks pesantren Ash-Shidiqqi, tepatnya di belakang masjid Baitush Sholihin. Iqror dan pemakaman al-maghfurlah KH Ahmad Zuhri dipimpin KH Syamsudin Thohir, sesepuh NU Kota Metro sekaligus Mustasyar PWNU Provinsi Lampung.

Pengasuh Pesantren Ash-Shidiqqi Lampung Tengah Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengasuh Pesantren Ash-Shidiqqi Lampung Tengah Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengasuh Pesantren Ash-Shidiqqi Lampung Tengah Wafat

Miftakhul Izza, salah satu alumni pesantren Ash-Shidiqqi mengatakan, informasi dari beberapa kerabat dan alumni pesantren. Ia menyebutkan bahwa almarhum beberapa bulan lalu jatuh sakit. Lalu berobatr di rumah sakit baik di Bandar Lampung hingga ke pulau Jawa.

?

"Abah Yai selama muda sudah aktif di NU mulai dari IPNU sejak di Semarang Jawa Tengah. Selain mengasuh pesantren, beliau mempunyai keistimewaan, suaranya yang merdu nan indah bahkan hingga hari ini, beliau meniru abahnya,” katanya. ?

ArrahmahMedia.Com

Di masa awal Reformasi, lanjut Wakil Sekretaris Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Lampung Tengah ini, Kiai Ahmad Zuhri pernah aktif di partai politik hingga menjadi anggota legislatif ? di DPRD Provinsi Lampung dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). (Akhmad Syarief Kurniawan/Abdullah Alawi)

?

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Hikmah, Pesantren, Kajian ArrahmahMedia.Com

Jangkrik ABRI

"Kang, Apa Sampeyan sudah dengar cerita orang Madura jual Jangkrik?" tanya D. Zawawi Imron pada saya.

"Penjual Jangkrik ada di mana-mana, bukan monopoli orang Madura, Kiai?" jawab saya.

Jangkrik ABRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangkrik ABRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangkrik ABRI

"Lho, ini istimewa, Kang. Karena yang dijual Jangkrik ABRI," tukas Zawawi.

ArrahmahMedia.Com

"Bagaimana ceritanya?" saya penasara.

"Jangkrik-jangkrik.. Jangkrik ABRI menangan, Jangkrik ABRI menangan," cerita Zawawi dengan logat Madura yang kental.

ArrahmahMedia.Com

Datang calon pembeli, dan segera berminat.

"Jangkrik ABRI? Maksud Sampeyan apa?" tanya calon pembeli.

"Jangkrik ABRI, karena menangan, Cak. Ayok beli, Jangkrik ABRI menangan," jelas penjual jangkrik.

Tak menunggu lama, orang tadi langsung beli seekor Jangkrik ABRI. Tapi seminggu kemudian, si pembeli Jangkrik ABRI balik lagi, dan langsung marah-marah.

"Cak, gimana Sampeyan, Jangkrik ABRI menangan Jangkrik ABRI menangan? Ini langsung keok, terbanting dengan Jangkrik tetanggaku.

Penjual Jangkrik ABRI tidak terima dibilang jualannya kalah. Dia minta dipertemukan dengan jangkrik yang mengalahkan Jangkrik ABRI. Ketemulah mereka.

"Mana jangkrik yang ngalahin Jangkrik ABRI?" tanya penjual.

"Ini! Ini jangkriknya" langsung nyodorin jangkrik.

"weeeehhhhh... Pantesan menang. Jangkrik teman Sampeyan pangkatnya kapten. Sementara jangkrik yang Sampeyaan beli dari saya kan cuma kopral," jelasnya (Hamzah Sahal

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kajian, Habib, Kajian Sunnah ArrahmahMedia.Com

Minggu, 03 Desember 2017

Pimpin Ansor Brebes, Abdul Haris Tekad Hidupkan Ranting

Brebes, ArrahmahMedia.Com. Abdul Haris dari desa Limbangan Kulon didaulat memimpin kepengurusan PAC GP Ansor Brebes untuk periode 2015-2018. Forum konferensi yang berlangsung di MI Al-Falah Kaligangsa Kulon, Brebes, Ahad (13/9), memintanya untuk menghidupkan beberapa ranting Ansor yang belum terbentuk.

Pimpin Ansor Brebes, Abdul Haris Tekad Hidupkan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
Pimpin Ansor Brebes, Abdul Haris Tekad Hidupkan Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

Pimpin Ansor Brebes, Abdul Haris Tekad Hidupkan Ranting

“Amanat ini, akan kami pegang teguh dan kami laksanakan dengan sekuat tenaga, pikiran, dan hati,” tutur Haris. 

Ia meminta bantuan seluruh kader Ansor sekecamatan Brebes agar bisa menggerakkan organisasi dengan baik dan membawa manfaat bagi Ansor dan Nahdliyin di kecamatan Brebes.

ArrahmahMedia.Com

Dalam agenda kepemimpinannya, Haris menyatakan fokus pada kegiatan Rijalul Ansor di setiap ranting, kaderisasi agar terbangun 23 Ranting. Sementara hingga kini baru 17 ranting yang aktif. “Kegiatan ekonomi produktif seperti perdagangan dan pengembangan usaha lainnya juga akan kami giatkan,” tekadnya.

ArrahmahMedia.Com

Konferensi dibuka Rais Syuriyah MWCNU Brebes KH Romli Zawawi. Ia mengharapkan Ansor menjadi pejuang NU di garis terdepan. Untuk itu, di dalam kiprahnya harus diniati berjuang dan beribadah. Juga harus menjaga tradisi NU yang sangat akhir-akhir mendapat tantangan tidak ringan.

Ketua panitia konferensi Nuryanto menjelaskan, kegiatan yang berlangsung dua hari juga dimeriahkan dengan Festival Rebana dan Dai Muda sekabupaten Brebes. Setelah diadakan penjurian yang cukup ketat, juara lomba Dai Muda diraih oleh Syamsul Hadi Athoillah dari dukuh Bugel Pandansari kecamatan Wanasari. Juara 2 direbut Niki Safanatul Maula dari Jatibarang. Juara 3 Hadi Syaputra dari Kaligangsa Kulon, Brebes.

Sedangkan juara 1 Festival Rebana diraih tim hadroh Nida Ansori dari Siasem Wanasari. Juara 2 tim hadroh Arrofah Kaligangsa Kulon Brebes, Juara 3 tim hadroh Nurusyifa dari Kedunguter Brebes. Para juara mendapatkan sejumlah uang pembinaan dan piala dari panitia. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Aswaja, Kajian ArrahmahMedia.Com

Rabu, 22 November 2017

Mensos Khofifah Apresiasi Prestasi Anak-anak KPM PKH

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan rasa bangga dengan prestasi anak-anak keluarga penerima manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) Kementerian Soaial di Kecamatan Sukun, Kota Malang, Jawa Timur, Ahad (12/11) lalu.

 

Mensos Khofifah Apresiasi Prestasi Anak-anak KPM PKH (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Khofifah Apresiasi Prestasi Anak-anak KPM PKH (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Khofifah Apresiasi Prestasi Anak-anak KPM PKH

Dalam seremonial penyerahan bansos PKH  itu hadir 10 anak berprestasi yang mendapat beasiswa Bidikmisi dan undangan dari beberapa perguruan tinggi. Sebanyak tujuh orang mendapat beasiswa Bidikmisi, satu orang dari jalur undangan, dan dua lainnya berprestasi di bidang organisasi kepramukaan.  

 

ArrahmahMedia.Com

“Prestasi ini sungguh membanggakan. Ini adalah bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan menjadi penghalang anak-anak meraih prestasi setinggi-tingginya di berbagai bidang,” ungkap Khofifah.

 

Mau berprestasi di bidang olahraga, pendidikan, kesenian, lakukan, dan tekuni dengan sungguh-sungguh. Pemerintah menyiapkan berbagai program termasuk bantuan sosial PKH, dan bantuan pendidikan seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk SD, SMP dan SMA serta Bidikmisi untuk S1 sedangkan untuk S2 serta S3 melalui LPDP.

“Mudah-mudahan anak-anak terus semangat mengejar pendidikan setinggi-tingginya sementara orang tua mendorong dan mendoakan putera-puterinya. Sinergitas program  ini dapat mendorong kehidupan keluarga semakin sejahtera, produktif dan mandiri," harap Khofifah.

ArrahmahMedia.Com

 

Beasiswa Bidikmisi adalah bantuan biaya pendidikan dari pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Ristek dan Dikti. 

Beasiswa ini diberikan kepada calon mahasiswa tidak mampu secara ekonomi dan memiliki potensi akademik untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi pada program studi unggulan sampai lulus tepat waktu. 

 

Sementara Beasiswa LPDP adalah beasiswa magister dan doktor dari LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Sasaran bantuan program beasiswa ini adalah Warga Negara Indonesia yang berkemampuan akademik dan kepemimpinan yang tinggi dan lolos proses seleksi untuk melaksanakan studi pada program magister dan doktor. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kajian ArrahmahMedia.Com

Minggu, 12 November 2017

Perpustakaan Bagi Santri Rofi’atul Islam

Probolinggo, ArrahmahMedia.Com. Pesantren Rofi’atul Islam yang kini diasuh KH Munir Kholili ini terus berbenah agar mutu lulusan pesantren lebih baik dari sebelumnya. Pesantren di desa Sentong kecamatan Krejengan, Probolinggo yang didirikan KH Rofi’i Samsudin tahun 1841 lalu, menyediakan perpustakaan bagi santri.

Menurut Kiai Munir, kitab klasik itu milik putranya, M Amin Qutbi Munir.

Perpustakaan Bagi Santri Rofi’atul Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Perpustakaan Bagi Santri Rofi’atul Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Perpustakaan Bagi Santri Rofi’atul Islam

“Kitab-kitab ini merupakan kitab yang diajarkan di pesantren Sarang dan Hadramaut, Yaman. Kebetulan anak saya mondok di sana,” tutur Kiai Munir, Rabu (21/5).

ArrahmahMedia.Com

Melalui perpustakaan itu, kata Kiai Munir, santri dapat meminjam berbagai macam buku baik buku agama maupun umum. Sehingga, pengetahuan santri bisa terus bertambah.

ArrahmahMedia.Com

“Perpustakaan ini disediakan agar para santri tidak kesulitan untuk mencari referensi buku-buku pelajaran,” jelasnya.

Seperti yang lain, pesantren Rofi’atul Islam menerapkan sistem pendidikan salafiyah. “Santri mulai mengikuti kegiatan sejak pukul 03.00 WIB dengan sholat Tahajjud dan sholat Subuh. Selanjutnya mengaji kitab kuning hingga pukul 07.30,” kata kiai yang juga Ketua MUI Probolinggo ini.

Pesantren ini mengutamakan pendidikan akhlak bagi para santri. Hal itu tergambar dalam usaha yang selalu menekankan pada keutamaan perilaku terpuji. “Percuma punya santri pintar, tetapi akhlaknya jelek. Apalagi tak menghormati orang tua. Itu yang tidak kami harapkan,” tegasnya.

Aktivitas santri dilanjutkan pada pukul 08.00-12.00, di mana santri belajar di madrasah diniyah. Selesai sholat Zuhur berjamaah, santri juga mendapat siraman ilmu pengetahuan dari pengasuh. “Setelah itu santri masuk ke SMP atau SMA sejak siang hingga sore hari,” tuturnya.

Pesantren ini menerapkan metode pendidikan salafiyah yang meliputi madrasah diniyah, pengajian kitab kuning, halaqah diniyah, dan tahfizhul qur’an. Kegiatan ini dilaksanakan setelah sholat Maghrib yang dilanjutkan dengan pengajian Al-Quran.

“Lalu belajar membaca kitab klasik hingga pukul 21.00. Bagi santri yang tidak sekolah pada sore hari, ada pengajian khusus pendalaman kitab klasik,” ujar Rais Syuriyah PCNU Kota Kraksaan ini. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kiai, Kajian ArrahmahMedia.Com

Selasa, 07 November 2017

Telusuri Kehidupan Wali dari Tebuireng, KH Adlan Aly

Tebuireng, ArrahmahMedia.Com. Berbicara soal Tebuireng, hampir semua orang merujuk kepada KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim atau Gus Dur. Kali ini pengurus Badan Eksekutif Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari membincangkan perjuangan salah satu kiai Tebuireng KH Adlan Aly di gedung Yusuf Hasyim lantai dua, Kamis (25/9).

Telusuri Kehidupan Wali dari Tebuireng, KH Adlan Aly (Sumber Gambar : Nu Online)
Telusuri Kehidupan Wali dari Tebuireng, KH Adlan Aly (Sumber Gambar : Nu Online)

Telusuri Kehidupan Wali dari Tebuireng, KH Adlan Aly

Mereka membedah buku baru yang mengisahkan riwayat perjuangan Kiai Adlan Tebuireng. Forum ini menghadirkan penulisnya Anang Firdaus, pengasuh pesantren Walisongo KH amir Jamiluddin sebagai narasumber.

“Pengasuh pesantren Tebuireng meminta saya menulis buku ini, menyusul buku biografi yang sebelumnya telah diterbitkan,” kata Anang yang semasa kecil pernah dibopong Kiai Adlan di hadapan 105 pelajar yang terdiri atas kalangan mahasantri, mahasiswa, dan santri.

ArrahmahMedia.Com

Dalam buku setebal 258 halaman ini, Kiai Adlan Aly digambarkan sebagai sosok yang sangat karismatik dan memiliki banyak karomah. “Air degan saja bisa buat mobil jalan,” kata moderator M Septian melontarkan kalimat pembuka.

ArrahmahMedia.Com

“Sifat Mbah Kiai yang saya kenal dan patut diteladani adalah kesabaran, keikhlasan dan kedermawanannya,” kata Kiai Jamil. (Fatim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com RMI NU, Ubudiyah, Kajian ArrahmahMedia.Com

Rabu, 01 November 2017

Pak Polisi pun Ikut Bershalawat

Solo, ArrahmahMedia.Com. Menyemarakkan Maulid Nabi Muhammad SAW, keluarga besar Polresta Surakarta juga tak mau ketinggalan. Mereka juga bershalawat.

Jajaran Polresta solo mengadakan Gelar Maulid Nabi Muhammad SAW 1434 H yang diselenggarakan bersama Jama’ah Muji Rosul (Jamuro) di halaman Mapolresta Solo, Kamis (17/1) malam. Kegiatan tersebut mengambil tema meneladani akhlak Rasulullah dalam pelaksanaan tugas Polri guna mewujudkan pelayanan prima anti-KKN dan antikekerasan.

Pak Polisi pun Ikut Bershalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pak Polisi pun Ikut Bershalawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pak Polisi pun Ikut Bershalawat

Turut hadir dalam acara tersebut, Kapolresta Solo, Kombes Pol Asjimain. Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh jamaah untuk bisa bekerjasama dalam menciptakan keamanan di Kota Solo.

ArrahmahMedia.Com

Sementara itu, tadi malam (18/1) pengajian Jamuro berlanjut di halaman Masjid Tegal Sari Laweyan Surakarta. Seperti biasa, di akhir acara KH Abdul Karim memberikan penjelasan riwayat hidup Nabi Muhammad SAW yang tertuang dalam kitab maulid al-Barzanjiy.

“Nabi Muhammad sejak kecil beliau sudah yatim piatu. Kemudian beliau diasuh oleh kakeknya yakni Abdul Muthalib yang tak berselang kemudian juga wafat. Setelah itu beliau diasuh oleh paman beliau Abu Thalib,” terang Gus Karim.

ArrahmahMedia.Com

Acara pengajian semalam dihadiri ribuan jamaah. Kegiatan gelar maulud 12 hari Jamuro ini akan digelar sampai tanggal Rabu malam (23/1) pekan depan.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Santri, Kajian ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 28 Oktober 2017

Mengapa KHR As’ad Syamsul Arifin Layak Diberi Gelar Pahlawan Nasional?

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Momen yang ditunggu-tunggu para santri akhirnya datang juga. KH Raden Asad Syamsul Arifin (1890-1990 M) Asembagus Situbondo, Jawa Timur ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Pemberian anugerah Pahlawan Nasional tersebut berlangsung di Istana Negara Jakarta, Rabu (9/11) oleh Presiden RI Joko Widodo.

Mengapa KHR As’ad Syamsul Arifin Layak Diberi Gelar Pahlawan Nasional? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengapa KHR As’ad Syamsul Arifin Layak Diberi Gelar Pahlawan Nasional? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengapa KHR As’ad Syamsul Arifin Layak Diberi Gelar Pahlawan Nasional?

“Kami, para santri beliau ikut senang dan bangga dengan penganugerahan ini,” ujar KH Abdul Moqsith Ghazali, salah seorang santri Kiai As’ad lewat keterangan tertulisnya kepada ArrahmahMedia.Com, Rabu (9/11).

Menurutnya, Kiai Asad memang pantas mendapatkan gelar ini. Beliau berperang mengusir para penjajah dari tanah air. Memimpin pasukan, keluar masuk hutan, membangun kekuatan melawan para penjajah. Para penjajah yang menguasai daerah eks keresidenan Besuki seperti Jember, Lumajang, Bondowoso dan Situbondo akhirnya bisa dipukul mundur.

“Namun, pada hemat saya, Kiai Asad layak mendapatkan gelar pahlawan bukan hanya karena ikut berperang merebut kemerdekaan, tetapi ia juga berjuang melalui pendidikan. Pesantren yang didirikan bersama ayahandanya sejak tahun 1914 telah lama menjadi lembaga pendidikan murah bahkan gratis buat masyarakat tidak mampu,” urai Kiai Moqsith yang juga Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU.

ArrahmahMedia.Com

Kini di pesantrennya tak kurang dari lima belas ribu santri yang belajar di sana, dari paling bawah seperti TK hingga perguruan tinggi. Para santri tak hanya belajar ilmu-ilmu keislaman tradisional melainkan juga ilmu-ilmu umum seperti kelautan, informatika, dan pertanian.

Tak hanya itu, lanjut Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta ini, ketika banyak ulama ragu-ragu untuk menerima Pancasila, bersama sejumlah ulama lain Kiai Asad menegaskan pentingnya merujuk Pancasila terutama untuk mengatasi soal-soal kebangsaan dan kenegaraan.

“Suatu waktu Kiai Asad bercerita bahwa dirinya menerima surat kaleng dari orang-orang yang anti Pancasila. Tapi, Kiai Asad tak menghiraukannya. Bagi Kiai Asad, Pancasila tak bertentangan dengan Islam. Bahkan, menurutnya, sila pertama Pancasila merupakan cerminan dari ajaran tauhid dalam Islam,” ungkapnya.

ArrahmahMedia.Com

Semangat berjuang membela negara dan memperbaiki pendidikan umat itu terus diinjeksikan pada para santrinya. Empat tahun menjadi santrinya, Moqsith sering mendengar ceramah-ceramahnya terkait kebangsaan dan kenegaraan, di samping soal keislaman.

Mendengar ceramah-ceramah Kiai Asad seperti membaca buku-buku sejarah. Ini karena beliau salah seorang pelaku sejarah. Namun, di ujungnya pidatonya, Kiai Asad biasanya berpesan agar kisah perjuangannya tak dituliskan.?

“Bahkan, ketika salah seorang intelektual NU menawarkan diri untuk menulis biografinya, Kiai Asad marah. Ia merasa, perjuangannya tak pantas untuk dicatat,” terang kiai yang juga pengajar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Ia menandaskan, tentu gelar kepahlawanan ini bukanlah cita-citanya. Semua gerak langkahnya hanya diniatkan untuk memperoleh Ridha Allah SWT, bukan untuk memperoleh anugerah duniawi seperti ini. Tapi, seperti dikatakan banyak orang, negara besar adalah negara yang pandai menghargai para pejuangnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Doa, Habib, Kajian ArrahmahMedia.Com

Kamis, 26 Oktober 2017

Tradisi Saparan Sebaran Apem Pengging dan Potensi Ekonomi

Jalanan di sekitar kompleks Pengging, Banyudono, Boyolali usai shalat Jum’at (25/11), terlihat ramai. Meski gerimis, dari berbagai penjuru, warga mulai berdatangan. Bahkan, sebagian dari mereka datang sejak pagi.

Sementara itu, dua gunungan apem setinggi 1,5 meter sudah disiapkan di Kantor Kecamatan Banyudono Boyolali. Dua apem inilah yang akan diarak dalam acara tradisi Saparan Sebaran Apem Kukus Keong Mas.

Tradisi Saparan Sebaran Apem Pengging dan Potensi Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Saparan Sebaran Apem Pengging dan Potensi Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Saparan Sebaran Apem Pengging dan Potensi Ekonomi

Jelang pukul 14.00 WIB, acara pun dimulai. Setelah berbagai sambutan dari pemerintah, dua gunungan apem didoakan oleh ulama setempat untuk kemudian dikirab menuju ke lokasi sebar apem.

Acara kirab, diiringi oleh rombongan berpakaian khas Keraton Surakarta dan beberapa warga yang juga ikut dengan menampilkan potensi budaya lokal. Dua gunungan kemudian berpisah, satu dibawa di depan Pasar Candirejo Pengging, lainnya diarak menuju arah Masjid Ciptomulyo.

ArrahmahMedia.Com

Begitu apem dibawa ke atas panggung, ribuan pengunjung yang sudah menanti, langsung pasang badan untuk bersiap mendapatkan apem.

ArrahmahMedia.Com

Apem mulai dilempar. Sembari mendongak ke atas, warga berebut apem yang dilempar ke arahnya. Suasana menjadi sangat riuh. Namun, kemeriahan itu tak berlangsung lama, sebab rintik hujan mulai turun. Tanpa dikomando, mereka langsung mencari tempat berteduh.

Menurut salah satu sesepuh Pengging, Sunarto, Tradisi sebar apem di kawasan Pengging ini berawal di zaman pujangga kraton Yosodipuro I, kala itu masyarakat mengeluhkan serangan hama keong mas dan tikus yang mengakibatkan gagal panen.

Oleh Yosodipuro, petani diminta untuk memasak hama keong mas dengan cara dikukus dan dibungkus dengan janur. Sejak saat itu, hama keong mas menghilang dan petani kembali bisa menikmati panen.

Wakil Bupati Boyolali, Said Hidayat, yang hadir dalam acara itu, berharap tradisi ini juga dapat menjadi potensi ekonomi bagi warga skitar. “Berkah iya, tak kalah penting ekonomi masyarakat bisa terangkat dengan adanya traisi sebaran apam ini,” kata Said. (Ajie Najmuddin)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kajian, IMNU ArrahmahMedia.Com

Rabu, 25 Oktober 2017

Pelajar NU Harus Jadi Pelopor Organisatoris

Sidoarjo, ArrahmahMedia.Com. Sebanyak 30 mahasiswa Universitas Sunan Giri (Unsuri) di Waru Sidoarjo mengikuti Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) selama tiga hari mulai dari Jumat-Ahad (30 Oktober-1 November) 2015. Melalui kaderisasi awal ini, mereka diharapkan dapat menggerakkan organisasi pelajar NU di kampus setempat.

Pelajar NU Harus Jadi Pelopor Organisatoris (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Harus Jadi Pelopor Organisatoris (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Harus Jadi Pelopor Organisatoris

Ketua PKPT IPNU Unsuri Nur Muhammad Iskandar mengatakan, selama Makesta para peserta mendapatkan materi seputar analisa diri, ke-IPNU-IPPNUan, ASWAJA, ke-NUan, keorganisasian, kepemimpinan, dan komunikasi.

"Makesta merupakan pengkaderan pertama untuk merekrut anggota IPNU-IPPNU baru yang berintelektual tinggi. Dengan Makesta ini, para anggota baru diharapkan mampu meneruskan perjuangan para pengurus seperti pada masa sebelumnya," kata Iskandar, Ahad (1/11).

ArrahmahMedia.Com

Iskandar menjelaskan, saat ini banyak mahasiswa organisatoris yang melupakan kewajibannya sebagai mahasiswa yang sesungguhnya. Maka, dalam kesempatan itu diambil tema "Mengukuhkan jiwa sosial dan akademis generasi Nahdliyin".

"Melalui tema itu, semoga IPNU-IPPNU Unsuri mampu menjadi pelopor mahasiswa yang organisatoris dan akademis di kampus Unsuri," tukas Iskandar. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kajian, Nasional ArrahmahMedia.Com

Rabu, 18 Oktober 2017

ISNU Satukan Kader Potensial NU

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) menjadi pemersatu kader NU yang tersebar di banyak tempat. Hal itu ditandai dengan masuknya kader-kader potensial NU yang kini menempati posisi-posisi penting di negeri ini dalam struktur kepengurusan pusat ISNU.

ISNU Satukan Kader Potensial NU (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU Satukan Kader Potensial NU (Sumber Gambar : Nu Online)

ISNU Satukan Kader Potensial NU

Ketua Umum Pengurus Pusat ISNU, Ali Masykur Musa mengatakan, susunan kepengurusan ISNU periode 2012-2017 mengambarkan bersatunya kader NU yang selama ini belum terkonsolidasi dengan baik untuk membesarkan dan memajukan NU.

“ISNU berniat menyatukan tulang-tulang NU yang terserak. Merangkul komponen berkualitas NU yang tak terangkum dalam struktural NU. Ternyata banyak kader-kader NU yang berkualitas, mempunyai posisi cukup penting di berbagai lembaga tinggi negara atau pun swasta yang mapan,” kata Ali Masykur Musa, kepada wartawan di kantor PBNU,  Jakarta, Ahad (22/4).

ArrahmahMedia.Com

Diantara nama-nama yang masuk dalam jajaran pengurus ISNU periode ini, adalah Irnanda Laksanawan (Deputi Menteri Negara BUMN Bidang Usaha Industri Strategis dan Manufaktur, Udoro Kasih Anggoro (Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian), Dewi Ariani (AnggotaKomisi VII DPR RI), YudiLatief (Direktur Reform Institute), M FajrulFalaakh (PakarHukum Tata Negara, Fakultas Hukum UGM).     

ArrahmahMedia.Com

Sementara itu, di jajaran dewan penasehat, terdapat nama-nama beken yang telah lama melang melintang dalam dunia politik dan aktivis NU. Antara lain As’ad Said Ali, Taufikurrahman Ruki, Idrus Marham, Suryadharma Ali, Muhaimin Iskandar, Choirul Anam, Khofifah Indar ParawansaYenni Arifah Chafsoh Wahid,Ahmad Bagdja, dan Ahmad Mubarok.     

Sedangkan di jajaran Dewan Kehormatan juga terdapat nama-nama populer. Antara lain Mahfud MD, Arief Mudatsir Mandan, Sinta Nuriyah Wahid, Aboe Amar Joesoef, Ali Maschan Moesa, Muhyidin Arubusman, Hasan Bisri, Oesman Sapta Odang, Djan Faridz, Helmy Faisal Zaini, Fauzi Bowo dan Ratu Atut Chosiyah. (selengkapnya lihat susunan kepengurusan).

ISNU akan menggelar acara pelantikan pengurus pada Selasa (24/4) mendatang, di Balai Kartini, Jakarta, yang akan dihadiri oleh Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudh dan Ketua PBNU, KH Said Aqil Siroj. “Ini akan menjadi momentum bangkitnya sarjana-sarjana NU,” kata Ali Masykur.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kajian, Tokoh ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock