Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Februari 2018

ISNU Sidoarjo Prioritaskan Pemberdayaan dan Pencerdasan Umat

Sidoarjo, ArrahmahMedia.Com. Memberdayakan dan mencerdaskan umat, merupakan program kerja yang telah dirumuskan sesuai dengan motivasi lahirnya ISNU pada muktamar Cipasung, yakni dalam rangka mengawal kebijakan NU, baik dari tingkat pusat hingga daerah, bahkan tingkat akar rumput, ranting.

Pernyataan ini ditegaskan Ketua ISNU Sidoarjo, Sholehuddin usai pelaksaan pelantikan ISNU Sidoarjo di GreenSA Inn Juanda Sidoarjo, Selasa (228/3).

ISNU Sidoarjo Prioritaskan Pemberdayaan dan Pencerdasan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU Sidoarjo Prioritaskan Pemberdayaan dan Pencerdasan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

ISNU Sidoarjo Prioritaskan Pemberdayaan dan Pencerdasan Umat

Menurutnya, pengambilan tema "ISNU, Peluang dan Tantangannya dalam Menyongsong Satu Abad Nahdlatul Ulama" dijiwai dengan semangat motto ISNU Sidoarjo yakni memberdayakan dan mencerdaskan umat. Oleh sebab itu, pihaknya mengajak seluruh banom dan lembaga NU untuk bersinergi dalam memajukan Nahdlatul Ulama.

Sholehuddin juga mengapresiasi pelaksaan pelantikan PC ISNU Sidoarjo periode 2016-2020. Pasalnya, ada hal unik yang salam ini jarang bahkan belum pernah dilakukan oleh ISNU yakni prosesi serah terima panji kebesaran ISNU dari ketua lama kepada ketua baru. Namun, kali ini serah terima itu dilakukan oleh ketua lama dr. Hidayatulloh kepada ketua baru Sholehuddin.

ArrahmahMedia.Com

"Setelah menunggu 4 bulan, PC ISNU Sidoarjo hasil Konfercab II akhirnya dilantik. Kami mengucapkan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada jajaran pimpinan daerah dan PCNU, banom dan lembaga yang berkenan hadir. Kehadiran bapak dan ibu sekalian menjadi penyemangat bagi kami para pengurus baru untuk bekerja sama dalam menjalankan program kerja yang akan dirumuskan dan ditetapkan dalam musyker usai pelantikan ini," kata kandidat doktor Universitas Negeri Sunan Ampel Surabaya (Uinsa) itu.

Ketua PCNU Sidoarjo, H. Maskhun juga mengapresiasi keberadaan ISNU Sidoarjo. Pihaknya berharap kehadiran ISNU menjadi jawaban atas kelemahan di NU yaitu pendidikan, kesehatan, dan ekonomi melaui lima prinsip. "Lima prinsip itu diantara belajar, amal, jihad, sabar, dan yakin dengan Nahdlatul Ulama," pungkasnya. (Moh Kholidun/Fathoni)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kiai ArrahmahMedia.Com

Kamis, 15 Februari 2018

Peristiwa Tsunami Bikin Romo Benny Akui Kewalian Gus Dur

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Tidak sedikit umat Islam yang menganggap kalau KH Abdurrahman Wahid sebagai wali. Manusia yang punya kemampuan spiritualitas di atas rata-rata, supranatural atau dalam bahasa pesantren populer dengan istilah khoriqul adah

Peristiwa Tsunami Bikin Romo Benny Akui Kewalian Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Peristiwa Tsunami Bikin Romo Benny Akui Kewalian Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Peristiwa Tsunami Bikin Romo Benny Akui Kewalian Gus Dur

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang merupakan guru besar ilmu tasawuf pun tak kalah menyakini terhadap kewalian kiai yang populer disapa Gus Dur tersebut. 

Namun, kehebatan Gus Dur dalam membaca peristiwa yang belum terjadi, tidak hanya diyakini dan diakui oleh umat Islam. Pasalnya, Antonius Benny Susetyo atau yang akrab disapa Romo Benny juga mengakui kemampuan spiritualitas Gus Dur. 

Saat ditemui ArrahmahMedia.Com usai mengisi Seminar Kebangsaan di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (14 /12), pria yang juga menjadi pastur ini mengatakan bahwa Gus Dur mampu membaca tanda-tanda zaman. 

Di antara yang Romo Benny ungkap, ialah tentang peristiwa tsunami yang terjadi di Provinsi Aceh. Sebuah peristiwa yang pernah mengguncang provinsi yang mempunyai julukan Serambi Mekkah dengan memakan ratusan ribu korban jiwa. 

ArrahmahMedia.Com

Menurut Romo Benny, sebelum terjadinya bencana tsunami, Gus Dur mengaku resah dan tidak bisa tidur. Keresahan itu pun disampaikan ke Romo Benny yang berisi sebuah mimpi tentang terjadinya bencana besar, namun tidak diketahui lokasi pastinya. 

ArrahmahMedia.Com

"Pulang dua hari, meletus Aceh. Itu waktu peristiwa Aceh. Artinya Gus Dur mempunyai kemampuan daya spiritual yang luar biasa," katanya bersemangat. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Humor Islam, Hikmah, Kiai ArrahmahMedia.Com

Rabu, 14 Februari 2018

PMII Bandung Gelar Aksi Seribu Lilin dan Doa Bersama untuk Rohingya

Bandung, ArrahmahMedia.Com - Dalam rangka peduli kemanusiaan PMII Kabupaten Bandung menggelar aksi seribu lilin dan doa bersama bagi korban Rohingya Myanmar di Sekretariat Kowarcam Pramuka Cabang Kabupaten Bandung Jalan Raa Wiranata Kusumah Nomor 19, Baleendah, Kabupaten Bandung, Ahad (10/9).

Acara dihadiri oleh seluruh pengurus komisariat dan rayon di bawah naungan PMII Kabupaten Bandung.

PMII Bandung Gelar Aksi Seribu Lilin dan Doa Bersama untuk Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Bandung Gelar Aksi Seribu Lilin dan Doa Bersama untuk Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Bandung Gelar Aksi Seribu Lilin dan Doa Bersama untuk Rohingya

Hamdani Haliman mengatakan aksi ini sebagai bentuk kepedulian aktivis PMII kepada warga Muslim Rohingya di Myanmar.

"Kami mengutuk tindakan kekerasan pemerintah Myanmar dalam melakukan peristiwa kemanusiaan di sana," ujarnya.

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com

Hamdani berharap semoga aksi ini mempunyai dampak yang besar kepada elemen masyarakat.

"Kita berharap dengan aksi dan doa bersama ini bisa menyelesaikan persoalan bagi masyarakat Muslim Rohingya," pungkasnya.

Rangkaian acara ini dimulai dengan refleksi orasi dari ketua cabang dan beberapa kader di bawah naungan PMII Kabupaten Bandung. Acara lalu dilanjutkan dengan beberapa pembacaan puisi, penampilan musik, dan diakhiri dengan doa bersama. (Rangga/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kiai ArrahmahMedia.Com

Rabu, 07 Februari 2018

Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo Gandeng SES Jerman

Semarang, ArrahmahMedia.Com. Dalam rangka penguatan mutu pendidikan berwawasan internasional, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menggandeng Senior Expert Service (SES) Jerman.

Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo Gandeng SES Jerman (Sumber Gambar : Nu Online)
Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo Gandeng SES Jerman (Sumber Gambar : Nu Online)

Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo Gandeng SES Jerman

Ini kali kedua SES mengirimkan tenaga ahli ke UIN Walisongo untuk menularkan ilmu kepada para dosen dan mahasiswa," kata Dekan FITK Dr H Raharjo MEd St saat menyambut kehadiran Martin Arndt PhD di Auditorium Fakultas siang ini Senin (29/8).

Martin, lanjut Raharjo, akan menularkan ilmu bahasa inggris, filsafat, teologi dan kebudayaaan untuk civitas akademika UIN Walisongo. Diharapkan kehadiran dosen tamu dari Jerman ini membawa atmosfir akademik FITK menjadi lebih baik.

ArrahmahMedia.Com

"Potensi civitas akademika kita sudah bagus dan memang perlu ditingkatkan ketrampilannya agar benar-benar membawa manfaat bagi pengembangan lembaga," kata Raharjo. Sehingga, hadirnya dosen tamu Jerman selama satu bulan ini mampu menjadi pendamping pemahaman cross culture understanding dalam pengayaan kearifan lokal yang kita miliki.

ArrahmahMedia.Com

Ketua Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Dr H Ikhrom MAg mengapreseasi hadirnya dosen tamu dari Eropa. "Ini menjadi pintu pembuka menuju UIN sebagai world university yang selalu membuka kerja sama dengan Eropa dan negara lainnya," imbuhnya. Tujuan utama menghadirkan dosen tamu juga agar membekali para dosen dengan wawasan internasional.

Kementerian Agama lewat Direktorat Pendidikan Tinggi Islam selalu mendorong agar UIN tampil di depan dalam mengawal visi world university. "FITK UIN menyambutnya dengan menjalin kerja sama dengan lembaga luar negeri terutama Jerman dalam mendampingi dosen," tegasnya.

Gerakan menjadikan kampus kelas dunia perlu dimulai secara serentak. Selain menguatkan jaringan luar negeri, SDM dosen dan mutu lulusan mahasiswa juga perlu dijaga. "Berbekal kegiatan semacam inilah, niatan pengembangan institusi itu akan terwujud," pungkasnya.

Martin Arndt merasa gembira atas sambutan UIN Walisongo yang penuh ramah. "Saya sangat senang bisa hadir di Indonesia dan berbagi ilmu dengan akademisi UIN Walisongo" ungkapnya. Ia pun siap untuk berdiskusi dan mengajar selama berada di UIN. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kiai, Halaqoh ArrahmahMedia.Com

Selasa, 06 Februari 2018

Panglima TNI: Umat Islam Jangan Terpecah Belah

Tegal, ArrahmahMedia.Com. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo meminta umat Islam di Indonesia jangan sampai terpecah belah dan berperang sendiri.

Hal itu ditegaskan Gatot ? saat Safari Ramadhan dan buka bersama di Lapangan Markas Brigade Infanteri (Brigif)/4 Dewa Ratna di Slawi, Kabupaten Tegal, Rabu (14/6).

Panglima TNI: Umat Islam Jangan Terpecah Belah (Sumber Gambar : Nu Online)
Panglima TNI: Umat Islam Jangan Terpecah Belah (Sumber Gambar : Nu Online)

Panglima TNI: Umat Islam Jangan Terpecah Belah

?

Gatot menilai, saat ini ada indikasi benih-benih perpecahan mulai muncul seiring dengan sikap saling menjelek-jelekkan dan menyalahkan satu sama lain.

"Benih-benih ini sudah mulai ada. Mari kita ingatkan teman-teman kita yang suka mencaci dan menjelekkan orang, mengkafirkan orang. Jika kita biarkan ini, negara kita bisa porak poranda," ujar Jenderal bintang empat ini.

ArrahmahMedia.Com

Orang nomor satu di jajaran TNI itu menyebutkan, setiap muslim harus rendah hati. Sifat sombong hanya milik Allah. Dalam konteks kekinian, banyak orang yang cenderung mengklaim bahwa diri dan kelompoknya adalah benar sementara yang lain salah.

Menurutnya, jika umat Islam tidak berpedoman pada nilai-nilai ini (rendah hati dan tidak menyalahkan orang lain-red), maka perang saudara tidak terelakkan. Perang saudara dan hilangnya sikap cinta tanah air inilah yang menjadi salah satu sebab negara-negara Muslim di kawasan Timur Tengah berkecamuk hingga sekarang.

Meski demikian, Jenderal kelahiran Tegal itu menyebut, Jawa Tengah merupakan daerah yang adem ayem. Di saat beberapa daerah lain sedikit bergejolak, Jawa Tengah telah menunjukkan diri bahwa masyarakatnya hidup guyup dan rukun.

ArrahmahMedia.Com

Menurut dia, hal itu tak lepas dari peran ulama yang bersinergi dengan TNI-Polri, serta semua lapisan masyarakat.

Lebih lanjut, Gatot merencanakan gerakan doa bersama seluruh elemen masyarakat yang akan digelar bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI pada 17 Agustus mendatang. Kegiatan itu dikhususkan pada khataman Al-Qur’an yang digelar di seluruh markas atau kantor satuan jajaran TNI dari Sabang sampai Merauke.

Adapun buka bersama diikuti oleh ribuan santri dari berbagai daerah. Selain itu, juga digelar santunan kepada 1.423 anak yatim.?

Kegiatan tersebut juga diikuti Pangdam IV/Diponegoro, Mayjen Tatang Sulaiman, Kapolda Irjen Condro Kirono, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Ulama Kharismatik asal Pekalongan Maulana Habib Luthfi bin Yahya, Habib Tohir Alkaf, Bupati Tegal Enthus Susmono dan tokoh-tokoh lainnya. (Hasan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kiai, Anti Hoax, Olahraga ArrahmahMedia.Com

Kamis, 25 Januari 2018

Cak Nun: Matematika Termasuk Pelajaran Agama

Kudus, ArrahmahMedia.Com. Emha Ainun Nadjib, budayawan asal Jombang melontarkan pertanyaan kepada Nea, siswi SMPN 1 Dawe, Kudus. Pertanyaan yang disampaikannya terkait mata pelajaran (Mapel) yang tergolong pelajaran agama.?

Cak Nun: Matematika Termasuk Pelajaran Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Cak Nun: Matematika Termasuk Pelajaran Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Cak Nun: Matematika Termasuk Pelajaran Agama

“Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Baca Tulis Alquran (BTA).” Begitu jawaban Nea siswi kelas 9 tersebut.?

Mendengarkan jawaban Nea, budayawan yang kerap disapa Cak Nun itu menjelaskan bahwa semua Mapel tergolong pelajaran agama. Bahkan ia menyebut Matematika juga bagian pelajaran agama dan ilmu paling suci.?

“4 dikali 5 hasilnya 20, dalam kondisi apapun,” katanya dalam Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng yang berlangsung di SMPN 1 Dawe, Kudus dalam rangka Reuni Perak 25 Tahun Alumni SMPN 1 Dawe Tahun 1991, Jumat (7/4) lalu.?

ArrahmahMedia.Com

Menurut Cak Nun di dalam kondisi hujan angin sekali pun atau politik dan sosial yang tidak stabil perkalian itu tidak berubah. Suami dari Novia Kolopaking itu mencontohkan apabila ada orang disuap dengan uang banyak juga tidak akan ada yang mau mengubah jumlah perkalian tersebut.?

“Itulah salah satu bentuk kesucian,” terangnya.?

Begitu juga lagu, lanjutnya, musik dan lagu tergolong religi atau tidak tergantung nada lagu melainkan bathin sampai kepada Allah atau tidak. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kiai, Amalan ArrahmahMedia.Com

Selasa, 16 Januari 2018

Surat Al-Ikhlas Mengandung Rahasia Luar Biasa

Jakarta, ArrahmahMedia.Com

Surat al-Ikhlas disebut sepertiga al-Quran, karena di dalam surat ke-112 ini berbicara mengenai tauhid dan adab bertauhid. Surat yang menggambarkan peradaban manusia dan bangunan kemanusiaan ini juga layak diteliti sekaligus ditulis menjadi tesis atau disertasi.

Demikian penjelasan pengasuh kajian Tasawuf Dr KH Lukman Hakim di hadapan para santri Pesantren Ciganjur dan puluhan jamaah pengajian Ramadhan di Masjid Al-Munawwaroh Jalan Warung Sila No 10 Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (1/7), malam.

Untuk Ramadhan kali ini, Pesantren Ciganjur asuhan Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengaji kitab Tasawuf berjudul al-Qashdu al-Mujarrad fi Marifati al-Ismi al-Mufrad karya Syeikh Ahmad ibn Athaillah al-Sakandari.

Surat Al-Ikhlas Mengandung Rahasia Luar Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Surat Al-Ikhlas Mengandung Rahasia Luar Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Surat Al-Ikhlas Mengandung Rahasia Luar Biasa

“Mahasiswa saya kira bisa bikin tesis atau disertasi surat Al-Ikhlas ini. Sebab isinya tentang bangunan kemanusiaan. Bahkan, kalau mau lebih teliti membacanya, akan ditemukan isu-isu kekinian. Kriminologi ada juga di situ,” ungkap Kiai Lukman.

Kiai pegiat tarekat ini juga menjelaskan, di antara keistimewaan isim mufrad Allah, bahwa di dalamnya ada banyak hal yang sangat luar biasa. “Ada rahasia hikmah pengetahuan yang sangat luhur dan agung. Ketika Allah disebut, Dia sudah huwa dulu,” ujarnya.

ArrahmahMedia.Com

Dalam Qulhuwallahu Ahad, lanjut Kiai Lukman, mengandung sastra yang sangat tinggi. “Ketinggiannya sungguh tiada tara. Ini menggambarkan bahwa ketika seseorang masuk wilayah struktur yang dipahamkan, adalah soal tauhid,” tuturnya.

Dalam semacam pemikiran filosofis, lanjut Kiai Lukman, ketika seseorang diperintah kepada hal yg di luar kemampuannya, pasti akan termangu-mangu. “Setelah tahu, ternyata Allah yaa.. Allah lalu jawab, iya. Aku nggak usah kamu cari. Lha wong Aku nggak ke mana-mana. Di situ seseorang terikat betul dalam sebuah fitrah,” ujarnya.

ArrahmahMedia.Com

Ibaratnya, tambah Kiai Lukman, manusia masuk dalam makna yang belum terkontaminasi yang lain. “Ini baru qulhuwallahu ahad, tapi dahsyatnya bukan main. Mulai alamul ghuyub hingga alam al-dzahir,” katanya.

Di wilayah ahad inilah puncak perjalanan Tauhid. Ahad itu sebagai petunjuk tunggal, itu berarti sendiri. “Berarti ya nggak ada siapa-siapa. Allah ya maha sendiri dalam apa saja. Dalam menyelesaikan persoalan hamba-Nya. Nggak ada temennya. Karena itu, Dia itu menjadi segala-galanya. Dia satu-satunya.,” ujar Kiai Lukman.

Kemudian dilanjutkan Allahu al-Shamad, tempat bergantung. Karena Dia-lah yang satu-satunya. Sayangnya, hati manusia mengingkarinya. “Hati kita saja yang nggak mau bergantung. Gitu lho.. Padahal darah yang ngalir ini saja bergantung kepada Allah,” tandasnya.

Menurut pengasuh majalah Cahaya Sufi ini, hati manusia gagal mempraktikkan ahadiyah-nya Allah. “Ya, kita gagal. Kalau Allah tempat bergantungnya makhluk, maka tak ada yang lain,” tegas Kiai Lukman.

Kiai Lukman berencana, untuk pengajian Ramadhan 1437 H akan membaca kitab tentang Gramatika Spiritual (Nahwul Qulub). “Tahun depan kita ngaji kitab yang lain ini. Kalau ngaji Nahwu, tapi maknanya tasawuf semua, pasti seru yaa,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pahlawan, Kiai, Nasional ArrahmahMedia.Com

Rakercab IPNU-IPPNU Lamongan Tanggapi Isu Pendidikan dan Narkoba

Pacet, ArrahmahMedia.Com. IPNU-IPPNU Kabupaten Lamongan menggelar Rakercab yang diselenggarakan Sabtu-Ahad (14-15/2) di Villa Al-Khusna Pacet, Mojokerto. Selain sebagai forum merencanakan program-program besar terkait perkembangan kaderisasi NU yang ada di Lamongan, dalam kegiatan ini juga menanggapi isu-isu terkait dengan pendidikan diantaranya terkait kasus bocornya soal UN tahun 2014 dan maraknya kasus Penyalahgunaan Narkoba yang ada di kalangan pendidikan baik guru maupun siswa.?

“Kami akan menyampaikan rekomendasi hasil Rakercab ini kepada Pemerintah Kabupaten Lamongan dimana kami menganggap ada yang salah dari manajemen pendidikan yang ada di Pemkab,” ungkap Gunawan Wibisono, Ketua Panitia Rakercab PC IPNU-IPPNU Lamongan.

Rakercab IPNU-IPPNU Lamongan Tanggapi Isu Pendidikan dan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakercab IPNU-IPPNU Lamongan Tanggapi Isu Pendidikan dan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakercab IPNU-IPPNU Lamongan Tanggapi Isu Pendidikan dan Narkoba

Sementara itu, Ketua PC IPNU Kabupaten Lamongan M Muhlisin menjelaskan, bahwa Rakercab ini digunakan sebagai sarana koordinasi dan konsolidasi ? Pengurus PC IPNU-IPPNU Kabupaten Lamongan terkait rekomendasi yang dihasilkan.?

ArrahmahMedia.Com

Dirinya mengungkapkan, bahwa rekomendasi ini akan segera disampaikan ke Pemerintah Kabupaten Lamongan. ? PC IPNU-IPPNU Kabupaten Lamongan juga akan mendorong Dinas Pendidikan Lamongan agar segera memperbaiki manajemen pendidikan yang ada di Lamongan.

ArrahmahMedia.Com

“Serta mendorong Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Lamongan ? dan Satreskoba Polres Lamongan agar terus ? proaktif dalam penanggulangan penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar,” ungkapnya.

Acara raker ini dibuka oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Lamongan serta Pengurus Wilayah IPNU Jawa Timur dan ditutup oleh Pengurus PC GP Ansor Lamongan. (Slamet/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kiai, Makam, Pondok Pesantren ArrahmahMedia.Com

Kamis, 11 Januari 2018

Lima Instruktur Nasional Ansor Turun ke NTB

Lombok Barat ArrahmahMedia.Com. Intruktur Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor turun daerah dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpinan pusat. Seperti halnya dilakukan oleh 5 (lima) orang instruktur di daerah NTB dalam rangka mengisi PKD PC GP Ansor Lombok Utara dan PKL Ansor NTB di tempat sama, yaitu pesantren Nurul Yaqin Kec. Pemenang Lombok Utara.

"Kami instruktur nasional berlima turun ke daerah-daerah termasuk ke NTB saat ini," kata M. Luthfi Thomafi ketua Divisi keagamaan PP Ansor Pusat kepada ArrahmahMedia.Com Jumat malam (21/05) di pesantren Darul Quran. 

Lima Instruktur Nasional Ansor Turun ke NTB (Sumber Gambar : Nu Online)
Lima Instruktur Nasional Ansor Turun ke NTB (Sumber Gambar : Nu Online)

Lima Instruktur Nasional Ansor Turun ke NTB

Masih kata Gus Lutfi sapaan akrabnya, Ansor sebagai organisasi kader maka yang perlu dilakukan dan ditingkatkan ialah kaderisasi di semua tingkatan.

"PKD dan PKL adalah merupakan kegiatan Ansor secara nasional karena itu Pimpinan Cabang maupun Pimpinan Wilayah wajib menyelenggarakan kegiatan tersebut," terangnya.

ArrahmahMedia.Com

"Kalau itu tidak dilakukan maka setatusnya (SK) bisa dicabut oleh Pimpinan Pusat," ancamnya.

ArrahmahMedia.Com

Menurut Gus Lutfi, setidaknya 3 (tiga) tujuan dalam kaderisasi ini pertama, meneguhkan komitmen dalam menyebarkan ajaran Ahlussunah wal Jamaah ala NU. Kedua, meneguhkan komimen kepada NKRI, dan ketiga, menguatkan kaderisasi.

Hadir instruktur Nasional di Antarnya M. Luthfi Thomafi, Faesal Attamimi, M. Aziz Hakim, M. Hakam Aqso, Rahmat Hidayat Pulungan, dan Rizqon Syah. (hadi/mukafi niam)   

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kiai, Sejarah, Tegal ArrahmahMedia.Com

Rabu, 10 Januari 2018

Tasawuf Semakin Relevan dalam Dunia Modern

Surabaya, ArrahmahMedia.Com. Masyarakat modern dengan segala prestasi yang dicapainya, ternyata mengalami degradasi tata nilai, moral, sosial, politik dan segala hal yang menjurus pada penurunan martabat manusia sehingga menyebabkan pengaburan terhadap nilai-nilai hakiki kehidupan. Banyak orang kemudian merasakan adanya kegersangan dan kekeringan hidup akibat pendangkalan nilai yang terus menerus terjadi disebabkan arogansi rasionalitas dan glorifikasi empirisisme yang didukung dengan kekuatan tekhnologi dan diakselerasi oleh terpaan angin kencang globalisasi. 

Prof Dr KH Said Aqil Siroj dalam pidato pengukuhan gelar guru besar ilmu tasawuf di Universitas Negeri Islam Sunan Ampel Surabaya, Sabtu (29/11) mengemukakan, munculnya berbagai krisis manusia modern sesungguhnya bersumber pada masalah makna. Modernisme dengan kemajuan tekhnologi dan pesatnya industrialisasi dapat menciptakan manusia meraih kehidupan dengan perubahan yang luar biasa. Namun, seiring dengan logika dan orientasi modern, kerja dan materi lantas menjadi aktualisasi kehidupan masyarakat dan gagasan tentang makna hidup terhancurkan. 

Tasawuf Semakin Relevan dalam Dunia Modern (Sumber Gambar : Nu Online)
Tasawuf Semakin Relevan dalam Dunia Modern (Sumber Gambar : Nu Online)

Tasawuf Semakin Relevan dalam Dunia Modern

“Implikasinya, manusia kemudian menjadi bagian mesin yang mati. Masyarakat lantas tergiring pada proses penyamaan diri dengan segala materi serta pendalaman keterbelakangan mentalitas. Manusia semakin terbawa arus deras desakralisasi, dehumanisasi, karena ia selalu disibukkan oleh pergulatan tentang subyek positif dan hal yang empiris.” 

ArrahmahMedia.Com

Ia menjelaskan, di satu sisi, modernitas menghadirkan dampak positif dalam hampir seluruh konstruk kehidupan manusia. Namun pada sisi lain, juga tidak dapat ditampik bahwa modernitas punya sisi gelap yang menimbulkan akses negatif yang sangat bias. Dampak paling krusial dari modernitas adalah terpinggirkannya manusia dari lingkar eksistensi. Manusia modern melihat segala sesuatu hanya berdasarkan pada sudut pandang pinggiran eksistensi. Sementara pandangan tentang spiritual atau pusat spritualitas dirinya terpinggirkan. 

ArrahmahMedia.Com

“Maka, meskipun secara material manusia mengalami kemajuan yang spektakuler secara kuantitatif, namun secara kualitatif dan keseluruhan tujuan hidupnya, manusia mengalami krisis yang sangat menyedihkan.”

Inilah yang kemudian pada sisi kenyataan lain, memunculkan bahwa spiritualitas semakin mendapat tempat tersendiri dalam masyarakat modern dewasa ini. Fenomena keagamaan ini sangat menarik untuk dicermati, karena akhir-akhir ini terdapat pula kecenderungan “rekonsiliasi” antara nilai sufistik dengan dunia modern. 

“Ada kecenderungan baru bahwa dimensi spiritualitas yang bersumber dari agama mulai dilirik kembali oleh masyarakat modern, karena kemajuan seperti dalam bidang iptek membuktikan bahwa problema yang muncul kemudian akibat kemajuan dunia global tetap saja belum terpecahkan. Kegagalan manusia modern, ternyata oleh banyak pengamat hampir sepakat mengatakan bahwa krisis besar melanda umat manusia tidak akan dapat diatasi dengan keunggulan iptek sendiri dan kebesaran ideologi yang dianut oleh negara-negara terkemuka.”

Ekses negatif dari modernisme telah menjadi salah satu pemicu bagi memekarnya hasrat pada spiritualitas termasuk pengkajian kembali terhadap tasawuf. Ketika seluruh kehidupan menjadi begitu melelahkan dan kebudayaan justru melahirkan kegersangan ruhaniah, terjadilah pendulum balik, spiritualitas menjadi sangat digemari oleh mereka yang dahulu menolak prinsip-prinsip rohani dalam hidup. 

“Manusia lantas menggandrungi kearifan tradisional yang menjanjikan pengembalian manusia pada fitrah dan mengembangkan hidup yang bermakna.”

“Dalam konteks ini, Saya ingin menegaskan bahwa persoalan besar yang muncul di tengah-tengah umat manusia sekarang ini berada pada satu titik yaitu krisis spiritualitas. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, dominasi rasionalisme, empirisme, dan positivisme ternyata membawa manusia kepada kehidupan modern dimana sekularisme menjadi mentalitas zaman dan karena itu spiritualisme menjadi semacam antagonisme bagi kehidupan modern.”

Hadir dalam acara tersebut Menteri Riset M Nasir, Mensos Khofifah Indar Parawansa, Menteri Desa Marwan Jakfar, Mantan Mendikbud M Nuh, Wakil Ketua Komisi Yudisial Imam Ansori Sholeh, dan lainnya. Hampir seluruh jajaran syuriyah dan tanfidziyah PBNU hadir Rais Aam KH Mustofa Bisri, Katib Aam KH Malik Madany, Waketum H Asad Said Ali dan lainnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Meme Islam, Kiai ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 06 Januari 2018

Banser Imbau Masyarakat Waspadai Gerakan Pro-Khilafah

Rembang, ArrahmahMedia.Com - Komandan Banser Satkorcab Kabupaten Rembang Zainal Arifin meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gerakan pro-khilafah. Menurutnya, gerakan ini bisa diidentifikasi dari sikap mereka yang anti-Pancasila.

Khilafah tidak sesuai dengan adat istiadat dan norma Islam di Nusantara, tegas Zainal Arifin.

Banser Imbau Masyarakat Waspadai Gerakan Pro-Khilafah (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Imbau Masyarakat Waspadai Gerakan Pro-Khilafah (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Imbau Masyarakat Waspadai Gerakan Pro-Khilafah

"Kami Ansor dan Banser mengajak segenap masyarakat yang ada di Kabupaten Rembang bersama-sama memerangi terorisme. Karena mereka menebar kejahatan dan mereka memerangi kebaikan, maka kita bersama harus perangi mereka,” kata Zainal di Rembang, Selasa (12/7).

ArrahmahMedia.Com

Ia mengaku prihatin apa yang dilakukan oleh para terorisme. Kenapa mereka rela membunuh dirinya sendiri hanya karena pemaknaan arti jihad yang keliru.

ArrahmahMedia.Com

Ia berharap adanya aksi Banser kali ini dapat menyatukan seluruh komponen masyarakat untuk terus bersama dalam upaya menanggulangi dan memerangi teroris beserta ajarannya. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kajian Sunnah, Kiai ArrahmahMedia.Com

Rabu, 20 Desember 2017

Nusron Wahid Bertabayun kepada Kiai Ma’ruf

Jakarta, ArrahmahMedia.Com?



Ketua PBNU H Nusron Wahid mengaku telah melakukan tabayun (klarifikasi) kepada Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin. Pria asal Kudus, Jawa Tengah tersebut melakukan klarifikasi dengan mendatangi kediaman Kiai Ma’ruf di Jakarta, Selasa pagi (25/10). ? ?

“Alhamdulillah, pagi ini sy silaturrahmi dan tabayyun beberapa hal dg Rois Aam PBNU KH Maruf Amin di kediamannya,” katanya melalui akun twitter pribadinya @nusronWahid1.?

Nusron Wahid Bertabayun kepada Kiai Ma’ruf (Sumber Gambar : Nu Online)
Nusron Wahid Bertabayun kepada Kiai Ma’ruf (Sumber Gambar : Nu Online)

Nusron Wahid Bertabayun kepada Kiai Ma’ruf

Ia menggungah foto yang menggambarkan pertemuan tersebut dengan penjelasan, “Suasana silaturrahmi penuh keakraban & layaknya anak dan orang tua. Tidak seperti yg dipersepsikan org selama ini.”

Menurut Nusron, kedatangannya adalah bentuk silaturahim kepada kiai yang juga Ketua Umum MUI Pusat tersebut. Silaturahim dan ukhuwwah Nahdliyyah akan terus berjalan meski ada perbedaan di antara dua belah pihak.?

Berdasarkan twitnya, secara tersurat, Nusron melakukan klarifikasi terkait perbedaan pilihan politik yang ramai diperbincangkan di media sosial. “Berbeda itu biasa. Jgn kan dlm pilihan politik, dlm ibadah banyak hal berbeda dan khilafiyyah. Tdk pernah ribut,” katanya.

ArrahmahMedia.Com

Menurutnya, dalam pertemuan itu, ia mengaku mendapatkan teladan dari Kiai Ma’ruf untuk mengambil pelajaran dan lebih dewasa dalam menghadapi perbedaan. “Pagi beliau kasih tauladan kepada saya. Indahnya,” lanjutnya.?

Pada twit-twittnya, Nusron tidak banyak memberi tahu apa yang dibicarakan Kiai Ma’ruf. Namun di ujung twit, ia menginformasikan sama-sama tidak sepakat aksi ke jalan dan sepakat untuk saling menghargai perbedaan. “Kata beliau: ‘Saya jg tdk sepakat kl ada aksi di jalan.’ Beliau juga menghargai pilihan dan sikap saya.”?

Menurut dia, dengan demikian, publik yang menganggap dia dan Kiai Ma’ruf sedang “ribut” adalah dugaan belaka. Yang menganggap begitu pasti bukan orang NU. "Saya tdk pernah ribut sama beliau, kenapa kok org lain menganggap ribut? Pasti bukan org NU," pungkasnya.? (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Kiai, IMNU ArrahmahMedia.Com

Kamis, 14 Desember 2017

Kajian Kebiri Bagi Pelaku Paedofilia Berjalan Alot

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Sejumlah pakar dan praktisi masing-masing disiplin mengutarakan pandangannya terkait wacana sanksi kebiri bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Forum kajian yang difasilitasi Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU dan PP Fatayat ini, berjalan dinamis. Selain mengaji teknis, mereka juga mengemukakan prinsip masing-masing.

Kajian Kebiri Bagi Pelaku Paedofilia Berjalan Alot (Sumber Gambar : Nu Online)
Kajian Kebiri Bagi Pelaku Paedofilia Berjalan Alot (Sumber Gambar : Nu Online)

Kajian Kebiri Bagi Pelaku Paedofilia Berjalan Alot

Dokter Roslan Yusni memaparkan kebiri dalam sejarah panjang manusia, bentuk-bentuk kebiri dalam medis. Ia juga menjelaskan kecenderungan seksual manusia. Menurutnya, kecenderungan seksual manusia yang sangat beragam tidak termasuk dalam kategori penyakit dalam medis.

“Kecenderungan seksual yang beragama mulai dari hetereseksual, biseksual, aseksual, queer, bukan penyimpangan dalam medis,” kata Roslan di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (5/11) sore.

ArrahmahMedia.Com

Menurutnya, kedokteran memunyai prinsip yang harus dipatuhi seperti mengobati penyakit orang yang baik atau jahat. “Kita tidak boleh menyakiti pasien. Kebiri itu menyakiti. Pengadilan sekalipun tidak bisa mengintervensi dokter. Kecuali kebiri diusulkan sendiri oleh pasien bersangkutan,” kata Roslan.

ArrahmahMedia.Com

Sementara Abdul Malik Haramain dari Komisi VIII DPR RI mengatakan bahwa pihaknya sudah membentuk panja untuk perlindungan anak. Berdasarkan data yang dihimpun Panja ini, kasus kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia menempati posisi tertinggi di Asia Tenggara.

Komisi VIII, kata Malik Haramain, mengajukan empat rekomendasi kepada pemerintah untuk mengatasi kejahatan seksual terhadap anak. Kita usulkan perbaikan dan penerapan regulasi, penguatan kelembagaan seperti kementerian pemberdayaan perempuan, koordinasi antarkementerian dan lembaga negara terkait, dan partisipasi perempuan.“Kita fokus pada pencegahan. Tetapi pada prinsipnya kita setuju pemberatan sanksi bagi pelaku,” kata Malik.

Salah seorang anggota Komnas HAM H Imdadun Rahmat mendukung pemberatan hukuman. Tetapi, menurutnya, pemberatan tidak berarti kejam. “Sanksi harus adil, tidak boleh merendahkan martabat kemanusiaan pelaku.”

Demikian juga Ruha Masfufah dari Komnas Perempuan. Menurut Masfufah, sanksi itu harus. Tetapi tidak tidak boleh mencederai rasa keadilan. “Saya harap wacana sanksi kebiri ini dikaji serius.”

Rais Syuriyah KH Masdar F Masudi sendiri menawarkan sanksi “cash dan carry”. Kebiri itu bisa mengambil bentuk kebiri kimiawi, menurutnya, sanksi yang selesai pasca eksekusi karena tidak membebani anggaran negara. “Pelaku dikebiri, sudah selesai, tanpa harus rehabilitasi mental pelaku,” kata Masdar. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Hikmah, Kiai, Nahdlatul ArrahmahMedia.Com

Kamis, 07 Desember 2017

Habib Luthfi dan Menhan Resmi Buka Konferensi Ulama Internasional

Pekalongan, ArrahmahMedia.Com. Konferensi Internasional Ulama Thariqah bertajuk Bela Negara resmi dibuka oleh Rais Aam Jam’iyah Alhith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya dan Menteri Pertahanan (Menhan) RI, Rabu (27/7) di Aula Gedung Djunaid Pekalongan, Jawa Tengah.?

Habib Luthfi dan Menhan Resmi Buka Konferensi Ulama Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi dan Menhan Resmi Buka Konferensi Ulama Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi dan Menhan Resmi Buka Konferensi Ulama Internasional

Dalam sambutannya, Habib Luthfi mengatakan bahwa bela negara jangan diartikan mengangkat senjata, tetapi menjalin ukhuwah dengan para ulama dan TNI-Polri juga termasuk upaya bela negara. Aparat negara akan mempu menunjukkan kekuatan laur biasa jika duduk bersama dengan para ulama.?

“Bangsa akan kuat karena terjalinnya ukhuwah antara ulama, tentara dan masyarakatnya. Bukan berarti menafikan orang lain, dalam melaksanakan kegiatan ini, kami ulama thariqah berusaha menciptakan kedamaian untuk dunia secara luas,” ujar Habib Luthfi.

Masyarakat Indonesia dan dunia dapat memperkuat negara dengan mengupayakan kebaikan dunia pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan bidang-bidang lain sehingga generasi muda sadar akan kecintaannya kepada negaranya yang penuh dengan kebaikan tersebut.

ArrahmahMedia.Com

Sementara itu, Menteri Pertahanan Riyamizard Riyacudu yang diwakili oleh Dirjen Perencanaan Pertahanan Kemenhan Marsekal Muda Muhammad Syauqi mengatakan bahwa kesadaran bela negara harus tertanam dalam diri setiap bangsa. Pemerintah bekerja sama dengan ulama mancanegara untuk mengokohkan pijakan akhlak mulia. Karena kesadaran bela negara dapat diterapkan dalam kegiatan-kegiatan keagamaan.

”Bela negara bukan wajib militer tetapi membangun kesadaran dalam diri setiap individu apapun pekerjaan dan profesinya untuk melakukan hal sebaiknya-baiknya. Kesadaran bela negara harus ditanamkan juga ke dunia internasional,” tegas Syauqi menyampaikan pesan Menhan.

Sebelumnya, Ketua Panitia Konferensi Internasional ini, Kolonel Hasbiallah Ahmad menjelaskan, konferensi ini tadinya melibatkan ulama dan intelektual sebanyak 50 orang dari 40 negara, namun saat ini yang hadir 69 orang yang hadir.

ArrahmahMedia.Com

Peran besar masyarakat Pekalongan juga antuasias dalam menyambut kegiatan ini. Mereka berharap terus dilibatkan dalam setiap kegiatan. Mereka juga menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut para tamu Allah dan orang-orang mulia.?

Kegiatan pembukaan ini diikuti oleh sekitar 5000 orang yang terdiri berbagai unsur organisasi Nahdlatul Ulama, TNI, Polri, para ulama thariqat nasional dan internasional, serta masyarakat sekitar yang memadati pelataran Komplek Gedung Djunaid.

69 ulama thariqah dari 40 negara tersebut juga secara khidmat mengikuti acara pembukaan kegiatan bertema Bela Negara: Konsep dan Urgensinya dalam Islam ini. Ulama-ulama ini duduk berjajar di bagian depan dengan memenuhi kursi dari ujung ke ujung. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kiai ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 02 Desember 2017

Ini Cara Ansor Gisting Jaya Isi Ramadhan

Way Kanan,ArrahmahMedia.Com. Kebersihan sebagian dari iman. Meneguhkan pandangan positif sejumlah pihak terhadap Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Way Kanan Lampung. Pemuda Nahdlatul Ulama (NU) daerah itu melakukan kegiatan sosial gotong-royong membersihkan lingkungan.

Ini Cara Ansor Gisting Jaya Isi Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Ansor Gisting Jaya Isi Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara Ansor Gisting Jaya Isi Ramadhan

"Selain safari ramadan akan digelar beberapa kali, kami juga melakukan gotong-royong membersihkan seputaran balai kampung sembari menunggu buka puasa," kata Ketua Ansor Ranting Gisting Jaya Nanang Yudhi Saputro, di Blambangan Umpu, Rabu (15/6).

Kegiatan tersebut diikuti kurang lebih 50 kader. Menindaklanjuti arahan Pimpinan Cabang supaya kader Ansor tidak lelah membuktikan eksistensi melalui gerakan bermanfaat dan bisa dirasakan oleh masyarakat.

ArrahmahMedia.Com

"Sebagai kader, kami selalu siap mengikuti arahan dan kebijakan Pimpinan Cabang untuk terus berbuat dan berbuat bagi organisasi. Jika tidak ada aksi, apa arti kata gerakan yang melekat pada Pemuda Ansor?" imbuh Ketua PAC Ansor Negara Batin Hozin Munir.

ArrahmahMedia.Com

Aksi bersih-bersih kader Ansor Gisting Jaya menuai tanggapan positif. Foto-foto yang diupload di media sosial Facebook oleh Budi Waluyo, kader Ansor setempat yang berprofesi sebagai perawat mendapat sejumlah like. "Bravo Pemuda Ansor," ujar I Gusti Ayu Marsih mengomentari foto Budi.

Sejumlah pihak di daerah itu mengapresiasi kiprah Ansor. Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) Agus Zulkarnain salah satunya, menilai program-program Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan konkrit, langkah demi langkah terlihat manfaatnya untuk masyarakat umum dan sangat positif.

Adapun Duta Generasi Berencana (GenRe) Mahasiswa Nasional 2013 Ponita Dewi, tak ragu menyebut Ansor sebagai? akronim dari Active, Nice, Social action and Relevant.

"Aksi bersih-bersih lingkungan tentunya merupakan gerakan yang memberi manfaat positif bagi masyarakat," pungkas Nanang. (Rudi/Abdullah Alawi)



? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kiai, Amalan ArrahmahMedia.Com

Kamis, 23 November 2017

Gerakan Hijau PKB Lebih Bersifat Kultural

Kuta, ArrahmahMedia.Com. Ketua Umum Dewan Syura PKB KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menegaskan, gerakan hijau yang dilakukan partainya murni untuk penyelamatan lingkungan, bukan gerakan politik untuk "menyerang" pemerintah.

"Jadi lebih berupa gerakan kultural. Berbeda dengan Partai Hijau yang ada di Barat yang politis, ingin jatuhkan presiden," kata Gus Dur saat berbicara dalam Deklarasi Hijau Menyelamatkan Lingkungan Bersama Gus Dur di Kuta, Bali, Selasa.

Gerakan Hijau PKB Lebih Bersifat Kultural (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Hijau PKB Lebih Bersifat Kultural (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Hijau PKB Lebih Bersifat Kultural

Sebelumnya, Senin (26/2), di tempat yang sama PKB mendeklarasikan diri sebagai "Partai Hijau" yakni partai yang menaruh kepedulian lebih pada upaya penyelamatan lingkungan hidup.

Lebih lanjut Gus Dur mengatakan, sebagai partai politik sulit bagi PKB mengelakkan tudingan bahwa yang dilakukannya tidak ditujukan untuk tujuan politis. Namun PKB harus membuktikan bahwa tidak semua yang dilakukan partai itu bertujuan politis.

Mantan presiden itu mengakui bahwa batasan antara gerakan kultural dan gerakan politik sangat samar, namun bukan berarti tidak bisa dibedakan. "Memang agak membingungkan, ketika LSM menyoroti kasus pencemaran di Buyat, itu kultural atau politis. Kalau untuk membela hak rakyat itu kultural, tapi kalau larinya mau menjatuhkan presiden tentu politis," katanya.

Oleh karena itu, Gus Dur menekankan tiga hal sebagai rambu-rambu yang harus diperhatikan PKB dalam memasuki masalah lingkungan. Pertama, PKB mesti menggali nilai-nilai budaya dan tradisi lokal yang terkait dengan pemeliharaan lingkungan. Kedua, tidak mempolitisasi isu lingkungan. Ketiga, memperhatikan kondisi Indonesia yang saat ini masih serba transisional.

ArrahmahMedia.Com

Pada kesempatan itu juga dilakukan penandatanganan Deklarasi Hijau oleh pengurus DPP dan DPW PKB, tokoh masyarakat, tokoh agama dan lain-lain. Ada enam poin di dalam deklarasi tersebut, diantaranya adalah meminta pemerintah memutus kontrak karya dengan perusahaan tambang migas dan non migas di hutan dan kawasan lindung.

Berikutnya meminta pemerintah memberlakukan jeda tebang hutan (moratorium logging) hingga 20 tahun yang diikuti dengan restorasi kawasan hutan, serta mengkaji dan mencabut semua peraturan yang berpotensi merusak lingkungan dan sumber daya alam. (ant/mad)       



Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Kiai ArrahmahMedia.Com

Kamis, 16 November 2017

Memahami Sikap PBNU

Oleh Syafiq Naqsyabandi



Sikap PBNU yang memilih kontra terhadap Aksi Bela Islam banyak membuat kalangan gagal paham. Rupanya tidak hanya kalangan Islam perkotaan yang gagal paham, tetapi juga kalangan Islam yang berasal dari lingkungan Nahdliyin (NU kultural). Umumnya mereka yang gagal paham ini merupakan kalangan Islam yang tidak dekat dengan NU struktural, meski tidak jauh dari kalangan NU kultural.

Memahami Sikap PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Memahami Sikap PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Memahami Sikap PBNU

Orang-orang yang meskipun berasal dari kalangan NU kultural, dapat terbawa isu-isu yang berembus di masyarakat jika tidak dekat dengan NU struktural. Kita semua mafhum, betapa liarnya isu (menjurus fitnah) yang berembus di masyarakat hari-hari ini. Hanya NU strukturallah yang dapat menangkis ataupun meluruskan kesimpangsiuran isu tersebut. Kedekatan seseorang dengan NU struktural, sedikit atau banyak akan mempengaruhi pemahaman seseorang dengan sikap-sikap PBNU.

Mengamini apa yang seringkali disampaikan Ahmad Baso dalam buku-bukunya, bahwa hari ini NU sedang digempur oleh wahabisme di satu sisi dan digempur oleh liberalisme di sisi lain. Isu-isu tertentu sengaja ditiupkan ke masyarakat Nahdliyin oleh kedua pihak tersebut, maupun pihak-pihak lain yang bersekutu dengan keduanya, demi menginfiltrasi NU. Nahdliyin yang awam dalam memahami prinsip-prinsip kemoderatan NU, dapat terinfiltrasi doktrin-doktrin di luar NU. Tidak heran jika kemudian Rais Aam KH Makruf Amin seringkali berpesan dalam berbagai kesempatan, “La radikaliyan wa la liberaliyan”.

ArrahmahMedia.Com

Kembali mengenai sikap PBNU terhadap Aksi Bela Islam yang terkesan melawan arus, barangkali perlu bagi kita untuk melihat kembali sikap PBNU dalam dinamika sejarah republik ini. Karena ternyata banyak juga sikap PBNU yang tidak mudah dipahami dalam berbagai peristiwa penting yang terjadi di republik ini. Contoh pertama dari sikap PBNU adalah keluarnya NU dari Masyumi pada tahun 1952. Saat itu Masyumi adalah satu-satunya partai politik bagi umat Islam, jumlah kursi Masyumi di parlemen pun termasuk yang paling banyak. Sikap PBNU yang memutuskan keluar dari Masyumi, membuat NU dituduh sebagai pemecah belah umat Islam.

ArrahmahMedia.Com

Setidaknya ada dua alasan yang membuat NU saat itu memutuskan keluar dari Masyumi. Pertama karena Masyumi mengurangi fungsi Dewan Syuro menjadi sekadar pemberi nasihat semata, padahal justru di Dewan Syuro lah duduk perwakilan NU, yakni KH Hasyim Asyari, KH Wahid Hasyim dan KH Wahab Hasbulloh. Pemangkasan fungsi Dewan Syuro ini membuat para ulama NU menjadi tidak dihargai dalam menentukan arah partai. Hal ini menimbulkan kekecewaan besar di kalangan NU. Alasan kedua adalah bergesernya posisi Menteri Agama yang sebelumnya adalah langganan KH Wahid Hasyim. Sikap NU yang memutuskan untuk keluar dari Masyumi tetaplah kontroversial sampai akhirnya sejarah membuktikan pada akhir medio 1950-an, pemimpin Masyumi melibatkan diri dalam gerakan makar PRRI/Permesta. NU membuktikan diri menjadi simbol kesetiaan umat Islam pada Republik Indonesia.

Contoh kedua dari sikap PBNU adalah bergabungnya NU dalam koalisi Nasakom di era demokrasi terpimpin. Sikap NU ini membuat para kiai NU dicerca karena bersedia duduk bersama PKI dalam pemerintahan. Saat itu kiai NU seringkali disebut-sebut sebagai kiai Nasakom. Padahal ijtihad NU untuk turut berada dalam pemerintahan adalah untuk mengawal kebijakan Presiden Soekarno supaya tidak didominasi oleh PKI. Keberadaan NU dalam pemerintahan saat itu juga untuk melindungi elemen-elemen umat Islam dari serangan PKI. Buktinya PKI pernah membujuk Presiden Soekarno untuk membubarkan HMI, tapi karena penolakan Menteri Agama yang juga Sekjend PBNU, KH Saifudin Zuhri, HMI tidak jadi dibubarkan. Pasca pecahnya peristiwa G30S, NU menjadi ormas yang paling depan dalam mengganyang PKI, kembali NU membuktikan kesetiaannya pada Republik Indonesia.

Contoh ketiga dari sikap PBNU adalah merapatnya Gus Dur sebagai Ketum Tanfidziyah PBNU kepada Jenderal LB Murdani. Seperti yang sudah diketahui, pada tahun 1984 pecah peristiwa Tanjung Priok dimana militer dibawah komando LB Murdani menembaki umat Islam dan menelan ratusan korban. Protes menyusul peristiwa tersebut terjadi di mana-mana bahkan hampir mengarah pada kerusuhan nasional. Latar belakang Jenderal LB Murdani yang bukan Islam membuat kerusuhan dipenuhi sentimen keagamaan. Ditengah-tengah susasana yang demikian, Gus Dur justru menggandeng Murdani mengunjungi pesantren-pesantren NU. Tak pelak Gus Dur mendapat hujatan dan cacian dari banyak pihak, bahkan dari warga NU sendiri. Lebih jauh Gus Dur dituduh telah murtad karena membela Murdani. Padahal, Gus Dur berpendapat langkah yang dilakukannya adalah upaya meredam represifitas aparat. Gus Dur khawatir jika tidak diredam, korban dari umat Islam akan bertambah besar.

Ketiga sikap yang sudah diuraikan di atas merupakan contoh, betapa seringkali sikap PBNU gagal dipahami oleh masyarakat. Masyarakat Nahdliyin sendiri saja bisa gagal paham, apalagi yang bukan Nahdliyin. Terlebih seringkali hanya sejarah yang bisa membuktikan kejelian sikap PBNU. Hal ini menjadi tidak mudah untuk menjelaskan mengapa PBNU justru sangat kontra terhadap aksi bela Islam, meskipun juga mendukung proses hukum terhadap terduga pelaku penista agama. Dalam seruan moral yang dikeluarkan pada 28 Oktober? 2016 yang lalu, tertangkap kesan yang sangat jelas bahwa PBNU khawatir jika arus yang ada tidak dibendung, maka kekuatan ekstrem kanan akan naik ke panggung politik nasional. Sikap PBNU tersebut bukan dalam rangka membela penista agama, tetapi lebih kepada menjaga supaya Islam moderat tetap menjadi arus utama umat Islam yang ada di Indonesia. Inilah originalitas dari beragam sikap PBNU terhadap dinamika perjalanan Republik Indonesia.

Kekhawatiran PBNU menjadi nyata tatkala tidak lama setelah sukses dan lancarnya rangkaian Aksi Bela Islam,terjadi pembubaran paksa peribadatan umat nasrani di Bandung. Kemudian merebaknya sweeping atribut natal di banyak kota. Terbaru adalah dilaporkannya Habib Rizieq oleh PMKRI. Sesama bangsa Indonesia menjadi mudah saling lapor, menjadi tiba-tiba saling berlawanan. Barangkali inilah yang disebut dengan bahaya naik panggungnya ekstrem kanan dalam perpoilitikan nasional. Naik panggungnya kalangan ekstrem bisa berujung pada konflik besar, seperti saat naik panggungnya ekstrem kiri pada awal 1965. Indonesia hanya bisa stabil jika berada di tengah-tengah, menjadi moderat, menjadi ummatan wasathan sesuai pesan Al-Baqarah ayat 143.

Penulis adalah warga NU, tinggal di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Aktif di Facebook dengan Akun Syafiq Naqsyabandi



Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kiai, Pertandingan, Bahtsul Masail ArrahmahMedia.Com

Minggu, 12 November 2017

Perpustakaan Bagi Santri Rofi’atul Islam

Probolinggo, ArrahmahMedia.Com. Pesantren Rofi’atul Islam yang kini diasuh KH Munir Kholili ini terus berbenah agar mutu lulusan pesantren lebih baik dari sebelumnya. Pesantren di desa Sentong kecamatan Krejengan, Probolinggo yang didirikan KH Rofi’i Samsudin tahun 1841 lalu, menyediakan perpustakaan bagi santri.

Menurut Kiai Munir, kitab klasik itu milik putranya, M Amin Qutbi Munir.

Perpustakaan Bagi Santri Rofi’atul Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Perpustakaan Bagi Santri Rofi’atul Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Perpustakaan Bagi Santri Rofi’atul Islam

“Kitab-kitab ini merupakan kitab yang diajarkan di pesantren Sarang dan Hadramaut, Yaman. Kebetulan anak saya mondok di sana,” tutur Kiai Munir, Rabu (21/5).

ArrahmahMedia.Com

Melalui perpustakaan itu, kata Kiai Munir, santri dapat meminjam berbagai macam buku baik buku agama maupun umum. Sehingga, pengetahuan santri bisa terus bertambah.

ArrahmahMedia.Com

“Perpustakaan ini disediakan agar para santri tidak kesulitan untuk mencari referensi buku-buku pelajaran,” jelasnya.

Seperti yang lain, pesantren Rofi’atul Islam menerapkan sistem pendidikan salafiyah. “Santri mulai mengikuti kegiatan sejak pukul 03.00 WIB dengan sholat Tahajjud dan sholat Subuh. Selanjutnya mengaji kitab kuning hingga pukul 07.30,” kata kiai yang juga Ketua MUI Probolinggo ini.

Pesantren ini mengutamakan pendidikan akhlak bagi para santri. Hal itu tergambar dalam usaha yang selalu menekankan pada keutamaan perilaku terpuji. “Percuma punya santri pintar, tetapi akhlaknya jelek. Apalagi tak menghormati orang tua. Itu yang tidak kami harapkan,” tegasnya.

Aktivitas santri dilanjutkan pada pukul 08.00-12.00, di mana santri belajar di madrasah diniyah. Selesai sholat Zuhur berjamaah, santri juga mendapat siraman ilmu pengetahuan dari pengasuh. “Setelah itu santri masuk ke SMP atau SMA sejak siang hingga sore hari,” tuturnya.

Pesantren ini menerapkan metode pendidikan salafiyah yang meliputi madrasah diniyah, pengajian kitab kuning, halaqah diniyah, dan tahfizhul qur’an. Kegiatan ini dilaksanakan setelah sholat Maghrib yang dilanjutkan dengan pengajian Al-Quran.

“Lalu belajar membaca kitab klasik hingga pukul 21.00. Bagi santri yang tidak sekolah pada sore hari, ada pengajian khusus pendalaman kitab klasik,” ujar Rais Syuriyah PCNU Kota Kraksaan ini. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kiai, Kajian ArrahmahMedia.Com

Kamis, 02 November 2017

Bagi Gus Dur, NU adalah Gerakan Spiritual

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Kata "nahdlah" dalam “nahdlatul ulama”, terinspirasi dari sebuah kalimat yang tertulis dalam kitab al-HikamLa tashhab man la yunhidluka haluhu wala yadulluka alallahi maqalu.” Janganlah berteman dengan orang yang perilaku dan kata-katanya tidak bisa membangkitkan dirimu kepada Allah. Dari kata "la? yunhidluka" (tidak membangkitkan) inilah, nama Nahdlatul Ulama (kebangkitan ulama) berasal.

Bagi Gus Dur, NU adalah Gerakan Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagi Gus Dur, NU adalah Gerakan Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagi Gus Dur, NU adalah Gerakan Spiritual

Demikian percikan pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tentang NU yang dipaparkan Syaiful Arif, pada kegiatan bertajuk “Kursus Pemikiran Gus Dur” di Pusat Studi dan Pengembangan Pesantren (PSPP), Ciputat, Sabtu (2/6) kemarin.

“NU adalah gerakan spiritual karena basis pergerakannya ada di pesantren. Sebagai lembaga pendidikan sekaligus perwujudan kultural Islam, pesantren memiliki corak keislaman fiqh-sufistik. Jadi ketaatan fiqhiyah yang dilambari oleh kedalaman tasawuf. Makanya kitab bergenre fiqh-sufistik seperti al-Hikam di atas, atau Bidayatul Hidayah karya Imam al-Ghazali merupakan kitab favorit di kalangan pesantren dan NU,” demikian Arif.?

ArrahmahMedia.Com

Dengan corak fiqh-sufistik ini, menurutnya, NU memiliki pandangan fiqhiyah yang tidak hitam-putih. Hal ini yang melahirkan pemikiran kenegaraan moderat, yang menempatkan “kaca mata fiqh” sebagai standar keabsahan persoalan politik. Pancasila misalnya diterima NU setelah yakin bahwa ideologi negara ini tidak akan mengganti agama, serta tidak ditempatkan sebagai agama. Maka, Pancasila kemudian ditempatkan sebagai landasan konstitusi sementara Islam tetap diposisikan sebagai akidah. Pemikiran yang strategis seperti ini tentu tidak mungkin dicetuskan oleh kalangan puritan yang melulu berpegang pada hukum Islam, minus spiritualitas Islam.

ArrahmahMedia.Com

Syaiful Arif yang merupakan alumni Pesantren Ciganjur serta penulis buku "Gus Dur dan Ilmu Sosial Transformatif (2009)" ini menjelaskan “wasiat” Gus Dur bagi masa depan NU. Dalam hal ini Gus Dur menyatakan, “NU harus mampu merumuskan konsensus nasional yang baru tentang posisi Islam dalam kehidupan berbangsa. Caranya melalui pengintegrasian perjuangan Islam ke dalam perjuangan nasional, dengan menempatkan perjuangan Islam dalam konteks demokratisasi jangka panjang."

Untuk peran ini, NU memiliki dua modal besar, yakni kekayaan kultural dan pengalaman politik yang beragam. Ketidakmampuan untuk menggunakan dua modal tersebut, akan menempatkan NU pada pinggiran sejarah dan irrelevansi dirinya secara bertahap”. Wasiat ini termaktub dalam tulisan Gus Dur: NU dan Islam di Indonesia Dewasa ini? yang pernah dimuat di Jurnal Prisma (April 1984).

Kursus Pemikiran Gus Dur yang sudah berjalan enam kali ini dilaksanakan setiap sabtu jam 13.00 WIB di PSPP, Jl. Kertamukti Gg. H. Nipan 107, Pisangan Ciputat. Kursus ini akan berlangsung selama sembilan kali, dan bermuara pada perumusan silabus mata kuliah Gus Dur. Dengan silabus ini, mata kuliah Gus Dur akan diajarkan di perguruan tinggi agar pemikiran mantan Ketua Umum PBNU ini tidak lenyap ditelan sejarah.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muhammad Idris Mas’udi?

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kiai, Bahtsul Masail, IMNU ArrahmahMedia.Com

Minggu, 29 Oktober 2017

Rais Aam PBNU Buka Pengajian Rutin Tafsir Al-Ibriz

Rembang, ArrahmahMedia.Com. Pejabat Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Ahmad Mustofa Bisri, Jumat (15/8) pagi, mengawali kembali pengajian rutin di aula pesantren Raudhotut Tholibin, Leteh, Rembang. Pengajian yang digelar setiap hari Selasa dan Jumat itu mulai ramai diikuti ribuan warga Nahdlatul Ulama sekabupaten Rembang.

Rais Aam PBNU Buka Pengajian Rutin Tafsir Al-Ibriz (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam PBNU Buka Pengajian Rutin Tafsir Al-Ibriz (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam PBNU Buka Pengajian Rutin Tafsir Al-Ibriz

Menurut Wakil Ketua PCNU Rembang H Bisri Adib Hattani, pengajian itu kembali dibuka dan digelar setelah libur puasa. Sementara pada bulan Ramadhan lalu, pengajian tafsir Al-Ibriz untu sementara digantikan dengan ngaji pasan (pengajian setiap bulan Ramadhan).

"Pengajian ini memang kembali digelar dan dibuka secara langsung KH Ahmad Mustofa Bisri semenjak libur bulan puasa 1435 H, di mana aula dialihfungsikan sebagai kegiatan bulan Ramadhan dengan kajian kitab Riyadhus Sholihin,” kata pria yang lazim disapa Gus Adib.

ArrahmahMedia.Com

Pengajian ini, kata Gus Adib, disiarkan langsung oleh Mataair Radio dengan frekuensi 105,1 MH.

ArrahmahMedia.Com

Sementara Samiran menjelaskan, dirinya sering mengikuti pengajian itu sejak tahun 2000. Hingga sekarang, ia secara istiqomah mengikuti pengajian meski banyak kesibukannya di luar itu. Menurutnya pengajian yang membacakan kitab karya simbah KH Bisri Mustofa itu selalu ramai diikuti para jamaah meski telah lama dikaji sejak pada zamannya.

"Kitab ini selalu ramai jamaah mas, sejak jaman penulisnya. Masyarakat tak pernah bosan mengikuti pengajian rutinan ini. Karena kita sudah menjadwalkannya setiap Selasa dan Jumat,” tandas Samiran, salah satu jamaah pengajian tafsir Al-Ibriz. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kiai, AlaNu ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock