Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Maret 2018

Serukan Ranting Ansor Peringati Maulid Nabi

Probolinggo, ArrahmahMedia.Com. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo menyerukan kepada semua pengurus jajaran ranting di wilayah kerja kecamatan untuk mengikuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan mengisinya dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi warga nahdliyin.

Serukan Ranting Ansor Peringati Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Serukan Ranting Ansor Peringati Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Serukan Ranting Ansor Peringati Maulid Nabi

“Agungkanlah peringatan hari kelahiran Baginda Rasulullah SAW ini dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini merupakan tradisi dari pendiri NU. Tradisi NU ini harus terus dipertahankan oleh pemuda Ansor. Oleh karenanya, pemuda itu harus banyak belajar dari orang yang lebih tua,” ujar Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Dringu Mahfud Hidayatullah kepada ArrahmahMedia.Com, Selasa (22/1).

Menurut Mahfud, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak hanya dilakukan oleh masyarakat yang ada di perkotaan saja tetapi juga dilakukan warga nahdliyin di pelosok-pelosok desa. Momentum bersejarah tersebut bahkan diperingati dengan sangat menarik. Masyarakat desa biasanya membawa makanan, kue dan buah-buahan yang kemudian dikumpulkan di musholla maupun masjid setempat.

ArrahmahMedia.Com

“Biasanya setelah terkumpul semua, selanjutnya dilakukan pembacaan sholawat Nabi (srakalan) secara bersama-sama. Masyarakat di desa mempercayai pada saat pembacaan tersebut, ruh Nabi Muhammad SAW akan hadir untuk memberikan rahmat,” jelasnya.

ArrahmahMedia.Com

Tidak berhenti sampai disitu saja, sebab setelah prosesi pembacaan sholawat Nabi Muhammad SAW selesai tandas Mahfud, barang bawaan tadi ditukar dengan barang bawaan tetangga sekitar untuk dimakan bersama-sama.

“Disitulah tercipta tali silaturahim antar sesama warga nahdliyin. Tanpa melihat status, mereka makan bersama-sama dalam satu wadah. Dan tradisi itu tidak bisa dihilangkan karena itu tradisi NU,” terangnya.

Untuk tahun ini, PAC GP Ansor Kecamatan Dringu berencana akan memberikan santunan kepada fakir miskin, anak yatim dan kaum dhuafa. Santunan tersebut akan diwujudkan dalam bentuk pakaian maupun makanan tergantung porsi kebutuhan dari masing-masing warga nahdliyin.

“Santunan ini diberikan sebagai bentuk kepedulian pemuda Ansor Kecamatan Dringu kepada warga yang sangat membutuhkan. Harapannya, santunan ini dapat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” tandasnya.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Fragmen, Pondok Pesantren ArrahmahMedia.Com

Selasa, 27 Februari 2018

Hukum Menshalatkan Jenazah Karena Bunuh Diri (2)

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Di beberapa media, baik cetak maupun elektronik kita beberapa kali menemukan berita tentang orang-orang yang melakukan bunuh diri. Mereka melakukan bunuh diri karena biasanya ada masalah yang dirasa berat. Tindakan bunuh jelas merupakan perbuatan yang keliru dan termasuk dosa besar.

Hukum Menshalatkan Jenazah Karena Bunuh Diri (2) (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Menshalatkan Jenazah Karena Bunuh Diri (2) (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Menshalatkan Jenazah Karena Bunuh Diri (2)

Yang ingin kami tanyakan pertama adalah apakah pelaku bunuh diri kekal di neraka? Pertanyaan yang kedua, apakah orang yang mati karena bunuh diri tidak dishalati? Demikian pertanyaan yang kami ajukan, atas jawabannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Ardan/Jakarta)

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

ArrahmahMedia.Com

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Dalam kesempatan kali ini kami berusaha untuk menjawab pertanyaan kedua tentang menshalati orang yang meninggal karena bunuh diri. Apakah ia tetap harus dishalati? Tentunya untuk menjawab pertanyaan ini kami akan merujuk pada penjelasan yang telah disodorkan para ulama.

Dalam kasus orang yang mati karena bunuh diri ternyata para ulama berselisih pendapat. Tetapi, menurut pendapat mayoritas ulama, jenazah tetap dishalati. Berbeda dengan mayoritas ulama adalah Umar bin Abdul Aziz yang memandang bahwa orang yang mati karena bunuh diri tidak dishalati. Pandangan Umar bin Abdul Aziz ini juga dipegangi oleh Al-Awzai.

ArrahmahMedia.Com

Sedangkan menurut Imam Ahmad bin Hanbal, seorang imam tidak perlu menshalatinya tetapi yang menshalati adalah selainnya. Pandangan Imam Ahmad bin Hanbal ini mungkin bisa dipahami bahwa tokoh masyarakat atau kiainya tidak perlu ikut menshalati, tetapi cukup jamaah atau masyarakat yang lain yang menshalatinya.

Salah satu argumen teologi yang bisa digunakan untuk mendukung pendapat mereka adalah riwayat Jabir bin Samurah yang menyatakan ada seorang laki-laki yang melakukan tindakan bunuh diri kemudian meninggal dan Nabi Muhammad SAW tidak menshalatinya. Menurut Ishaq bin Al-Hanzhali, sikap Nabi Muhammad SAW yang tidak ikut menshalati jenazah itu adalah bentuk peringatan bagi yang lain agar tidak melakukan tindakan yang sama.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Para ulama berbeda pendapat mengenai penshalatan orang yang meninggal dunia karena bunuh diri. Menurut pendapat mayoritas ulama, ia tetap dishalati. Sedang Umar bin Abdul Aziz tidak berpendapat untuk menshalatinya. Pandangan Umar bin Abdul Aziz ini juga dipegangi oleh Al-Awzai. Imam Ahmad bin Hanbal berpandapat, imam tidak perlu ikut menshalatinya, sedang yang menshalatinya adalah selain imam. Mereka berhujjah dengan riwayat dari Jabir bin Samurah yang menyatakan bahwa ada seorang laki-laki yang mati karena bunuh diri kemudian Nabi Muhammad SAW tidak menshalatinya. Menurut Al-Hanzhali, sikap Nabi Muhammad SAW yang tidak ikut menshalati jenazah itu pada dasarnya merupakan peringatan bagi yang lain agar tidak melakukan tindakan yang sama.”

Berpijak atas penjelasan ini, setidaknya dapat ditarik sebuah simpulan bahwa jenazah orang yang mati karena bunuh diri sepanjang dia adalah seorang Muslim, tetap dishalati. Sebab, dosa besar perbuatan bunuh diri tidak dengan sertamerta menyebabkan ia keluar dari Islam, sepanjang ia tidak menganggap bahwa tidakan bunuh diri adalah halal.

Adapun sikap dan pandangan Umar bin Abdul Azin dan Al-Awzai adalah cenderung tidak menshalati orang yang mati karena bunuh diri. Kecenderungan ini mesti dibaca sebagai sikap pemakruhan bagi dirinya. Inilah yang kami pahami dari keterangan yang kemukakan Ibnu Bathal dalam kitab Syarhu Shahihil Bukhari-nya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Para fuqaha` dan ulama dari kalangan Ahlusunnah sepakat bahwa orang yang mati karena bunuh diri tidak keluar dari Islam, ia tetap dishalati, dan wajib menanggung dosa akibat perbuatannya sebagaimana dikemukakan Imam Malik, dimakamkan di pemakaman orang-orang Muslim. Hanya Umar bin Abdul Aziz dan Al-Awzai yang menganggap makruh penshalatan jenazah orang yang meninggal karena bunuh diri di mana keduanya memakruhkan khusus untuk dirinya sendiri,” (Lihat Ibnu Baththal, Syarhu Shahihil Bukhari, Riyadl, Maktab Ar-Rusyd, cet ke-2, 1423 H/2003 M, juz III, halaman 349).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.



(Mahbub Ma’afi Ramdlan)Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Makam, Fragmen, Olahraga ArrahmahMedia.Com

Minggu, 25 Februari 2018

Kangen Banser yang Dulu, Banser yang Mana?

Oleh Alif Bareizy 



Sepulang dari harlah GP Ansor di Kutai Timur, teman saya mengirim screen capture lewat WhatsApp. Jagat Twitter lagi ramai soal Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Trending topic urutan satu dan dua milik Banser. Tagarnya #BanserJagaNKRI dan #Banserbubarinpengajianlagi.

Kangen Banser yang Dulu, Banser yang Mana? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kangen Banser yang Dulu, Banser yang Mana? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kangen Banser yang Dulu, Banser yang Mana?

Nama Banser memang sedang terkerek dengan berbagai aksinya. Awal mulanya, dari catatan saya, ketika Banser membubarkan pengajian Khalid Basalamah di Sidoarjo. Diikuti dengan penghalauan acara-acara HTI di banyak kota.

Ketika saya masuk ke tempat ngopi favorit saya, tiba-tiba banyak orang di ruangan yang bilang, "Wah ini, mau bubarin Felix Siauw ya?" Saya cuma bisa nyengir. Tapi belakangan orang itu baru paham, lalu mafhum.

Apa yang dilakukan Banser hanyalah ungkapan spontan atas kegelisahan jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU). Misalnya tentang peristiwa di Sidoarjo waktu itu. Penyebabnya adalah serangan agresif Ustadz Khalid Basalamah terhadap amalan Nahdliyin lewat video di Youtube. Kalangan Nahdliyin resah.

Kejadian di Sidoarjo sebenarnya bukan penolakan pertama oleh kalangan Nahdliyin. Ketika HTI ingin merongrong Pancasila dengan agenda khilafah, tentu saja NU meradang. Sudah sejak zaman baheula, NU menyatakan Pancasila adalah final dan NKRI harga mati.

ArrahmahMedia.Com

Setelah beberapa kasus pembubaran, mulailah ada yang nyeletuk kangen Banser yang dulu. Lha, Banser yang dulu itu, yang mana? Dari dulu, Banser ya begini.

Cuma belakangan sudah tidak bisa diam lagi melihat kondisi sekarang. Mulai dari gereja dibom, anti-nasionalisme, sampai tidak mau menyalatkan jenazah karena beda pilihan politik. Mosok, orang waras harus diam terus?

ArrahmahMedia.Com

Yah, walaupun banyak celotehan miring yang dialamatkan ke Banser, terutama oleh akun-akun anonim di media sosial yang entah siapa itu enggak jelas rupanya. Tapi sebenarnya ya, yang kayak gitu sudah ada sedari tahun kapan, semenjak Banser menjaga gereja, melindungi orang-orang yang ingin khusyuk beribadah.

Banser tidak bisa membayangkan kawan-kawan agama lain beribadah di bawah ancaman teror. Mungkin serupa tapi tak sama dengan kegelisahan muslim Amerika pasca terpilihnya Donald Trump sebagai presiden.

Banser mengupayakan tegaknya kebebasan beribadah di bumi pertiwi, karena ingin menyontohkan Islam yang rahmatan lil alamin dengan perbuatan. Bukan cuma ngejeplak seenteng komentar nyinyir. Itu semua demi agama dan kemanusiaan.

Dari kegiatan menjaga gereja pun sudah jatuh korban dari kalangan Banser. Tapi, seperti kata Dian Sastro, jangan kasih kendor. Sahabat Riyanto yang gugur akibat bom di Gereja Eben Haezar pada tahun 2000 menjadi inspirasi. Komentar negatif menjadi pelecut sekaligus evaluasi – kalau memang patut dijadikan bahan renungan.

Lalu, apakah simpati internal NU berkurang pada Banser dengan sikapnya tersebut? Tidak juga, malah tambah sayang. Nyatanya, rekrutmen anggota Banser terakhir di Samarinda melampaui 150 orang. Perlu diketahui, Samarinda bukanlah kantong NU seperti di Jawa.

Kalaupun ada yang kurang sreg dengan sikap Banser, ya perlu tabayun soal ini. Kalau perlu disiapkan dalil naqli dan aqli-nya. Sulit memang, karena saya sendiri mengalami kesulitan menjelaskan hal ini ketika bapak kos komplain soal gawean Banser.

Memang benar, citra Banser bagi kalangan luar NU terkesan sangar. Tapi Banser punya sisi lain yang jarang diketahui oleh kalangan luar NU. Banyak cerita, beberapa di antaranya, amat berkesan. Meski diulang beberapa kali, tetap saja bikin terpingkal sekaligus terenyuh.

Saya mengenal Banser jauh sebelum menjadi fungsionaris Ansor, malah sejak SD. Sebagai Nahdliyin sejak masih dalam rahim, saya bertemu mereka mulai dari pengajian sampai walimah pernikahan. Tugasnya sebagai pengamanan VVIP hingga parkiran.

Meski tampak gagah, tak pernah merasa ada hawa mencekam dari Banser. Justru merasa diayomi, dilindungi. Paling mentok saya plekiken, karena tak tahan asap rokok mereka.

Banser itu tidak dibayar sepeser pun. Jadi kurang pas, kalau ada adegan di film Tanda Tanya besutan Hanung Bramantyo yang tayang beberapa tahun lalu, yang mendeskripsikan Banser sebagai pekerjaan. Jangankan dibayar, sepatu lars saja beli kadang mencicil. Baju lengkap Banser pun seringkali menunggu jatah.

Apakah kegiatan Banser, misalnya pengamanan dan pengawalan, dibayar? Kalaupun ada konsumsi, malah seringnya dapat paling akhir. Tamu didahulukan. Jika yang punya hajat orang berpunya, baru mereka dapat amplopan, tapi itu tak sering.

Bahkan ada cerita, anggota Banser membawa amplop sendiri supaya istrinya tenang, karena biar dianggap bawa uang setelah bertugas. Padahal sih, tidak. Mirip-mirip kisah khalifah Umar bin Khattab bertemu ibu yang memasak batu di air mendidih untuk mengelabui anaknya yang kelaparan.

Lalu, darimana Banser mendapatkan biaya untuk penghidupan sehari-hari? Ada yang tukang panggul, buruh tani, buruh pabrik, guru, ustadz madrasah diniyah, dan lain-lainnya. Tapi ada juga yang dosen, pedagang, bahkan doktor di kalangan Banser – biasanya golongan ini yang menjadi penyumbang rokok dan jajanan.

Bayangkan saja, siang bekerja mencari nafkah, lalu malam melakukan tugasnya sebagai Banser. Bahkan kadang harus izin meninggalkan pekerjaan untuk menghadiri acara di luar kota atau diklat berhari-hari. Mereka rela berpayah-payah, padahal bisa jadi di rumahnya hanya ada beberapa liter beras.

Sampai-sampai ada guyonan dari almaghfurlah KH Hasyim Muzadi bahwa anggota Banser hanya mampu membeli rokok eceran. "Gagah begitu, rokoknya eceran."

Banyak hal lain yang menjadikan NU begitu sayang kepada Banser. Hal-hal di atas sedikit dari bejibun cerita, tak akan cukup 1.000 kata untuk menceritakannya.

Maka, saya mengaminkan doa dari Rais Syuriah PWNU Jateng KH Ubaidillah Shodaqoh, "Semoga amalmu diterima Gusti Allah dan rezekimu lancar, sehingga dapat memondokkan atau menyekolahkan anakmu sampai jadi profesor. Dan, yang jelas semoga rokokmu tidak dibeli dengan harga eceran."  

Penulis adalah alumnus DTD I PC GP Ansor Samarinda. Jajaran Satkorwil Kalimantan Timur

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaSantri, Fragmen, Cerita ArrahmahMedia.Com

Selasa, 20 Februari 2018

Presiden Palestina Tegaskan Masjid al-Aqsa agar Kembali ke Status Quo

Ramallah, ArrahmahMedia.Com - Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada Selasa (25/7) menegaskan bahwa situasi di Masjid Al-Aqsha di Jerusalem Timur agar dikembalikan ke status quo sebelum 14 Juli 2017.

"Takkan ada perubahan dalam posisi Palestina," kata Abbas dalam pertemuan darurat di Ramallah, Tepi Barat Sungai Jordan, sebagaimana dikutip Xinhua, Rabu pagi.

Presiden Palestina Tegaskan Masjid al-Aqsa agar Kembali ke Status Quo (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Palestina Tegaskan Masjid al-Aqsa agar Kembali ke Status Quo (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Palestina Tegaskan Masjid al-Aqsa agar Kembali ke Status Quo



(Baca: Situasi Masjid al-Aqsa Memanas, PBB Keluarkan Kecaman)


ArrahmahMedia.Com

Pertemuan tersebut dihadiri oleh pejabat senior dari Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Partai Fatah dan unit keamanan Palestina, demikian laporan kantor berita resmi Palestina, WAFA.

"Semua tindakan yang dilakukan terhadap Masjid Al-Aqsha setelah 14 Juli mesti dibatalkan dan diakhiri," kata Abbas.

Ia menambahkan, "Situasi di Jerusalem harus kembali normal, lalu kami akan melanjutkan hubungan antara kami dan Israel."

ArrahmahMedia.Com

Abbas menyatakan rakyat Jerusalem telah bangkit sebagai kesatuan untuk menolak semua tindakan yang dilakukan oleh penguasa Yahudi dan Palestina akan mendukung mereka.

"Apa yang telah kami putuskan ialah membekukan kerja sama keamanan (dengan Israel) dan ini masih sah, untuk membela kesucian kami juga masih sah. Kami ingin mempelajari apa yang terjadi dari hari itu sampai sekarang, untuk melihat apa yang bisa kami lakukan," ia menambahkan.

Pada 14 Juli, tiga pria Arab-Israel yang bersenjata menembak hinggga tewas dua polisi Israel, kemudian pasukan polisi balas-menembak pria bersenjata itu dan menewaskan mereka. Serangan tersebut terjadi di halaman Masjid Al-Aqsha.

Setelah serangan itu, penguasa Israel menutup masjid tersebut dan belakangan memasang pintu elektronik serta kamera di pintu masuk masjid itu.

Tindakan tersebut memancing protes oleh umat Muslim, yang menolak memasuki masjid itu melalui gerbang tersebut. (Antara/Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaNu, Fragmen ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 03 Februari 2018

Gus Dur Nyatakan Siap Jadi Capres

Jakarta, ArrahmahMedia.Com

Ketua Umum Dewan Syura DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyatakan siap maju sebagai calon presiden pada pemilihan presiden 2009 mendatang. Hanya saja, katanya, ia akan maju jika diperintahkan lima orang kiai sepuh.

"Saya siap jika diperintahkan oleh orang-orang tua. Ada lima orang, tapi saya tidak mau menyebut nama," kata Gus Dur kepada wartawan di Jakarta, Selasa (18/9) kemarin.

Gus Dur Nyatakan Siap Jadi Capres (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Nyatakan Siap Jadi Capres (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Nyatakan Siap Jadi Capres

Ia mengatakan, salah seorang dari lima kiai sepuh, yang disebutnya berusia antara 75-93 tahun, telah memintanya maju, namun ia menunggu perintah dari kiai yang lain.

ArrahmahMedia.Com

Gus Dur sendiri menyatakan siap jadi presiden karena memiliki konsep-konsep untuk mengatasi kesulitan atau krisis yang dialami bangsa Indonesia.

ArrahmahMedia.Com

Ditanya apakah sudah berkonsultasi dengan DPP PKB terkait kesiapannya maju sebagai capres, Gus Dur menyatakan belum.

Namun, lanjut Gus Dur, karena ia adalah Ketua Umum Dewan Syura PKB, maka

pernyataannya bisa juga dianggap sebagai pernyataan PKB. (rif)Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Jadwal Kajian, Fragmen ArrahmahMedia.Com

Jumat, 02 Februari 2018

Dayah, Sebutan Legendaris Pesantren di Aceh

Bireuen, ArrahmahMedia.Com. Sebagai wilayah pertama di Asia Tenggara yang menerima kehadiran Islam sejak abad pertama hijriyah, Aceh merupakan kawasan yang masyarakatnya memiliki karakteristik yang unik. Keunikan karakteristik ini disebabkan kuatnya pengaruh Islam dalam proses pembentukan rakyat Aceh. Bahkan, Islam menjadi asas pembinaan budaya itu sendiri.

“Benteng yang paling berjasa dalam proses pertahanan budaya masyarakat Aceh adalah lembaga pendidikan yang disebut Dayah,” ujar Teungku Haji Hasanoel Bashri HG, salah satu ulama kenamaan asal Samalanga Bireuen, saat ditemui belum lama ini.

Dayah, Sebutan Legendaris Pesantren di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Dayah, Sebutan Legendaris Pesantren di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Dayah, Sebutan Legendaris Pesantren di Aceh

Menurut tokoh yang akrab disapa Abu MUDI ini, kata “Dayah” merupakan kutipan dari bahasa Arab “Zawiyah” yang berarti majelis pengajian. Kata itu kemudian berubah sesuai dengan dialek bahasa Aceh menjadi dayah. Dalam perkembangan selanjutnya, lanjut Abu MUDI, dayah dalam terminologi orang Aceh menjelma sebuah lembaga pendidikan Islam yang berperan aktif membina keteguhan keimanan, akhlak, dan keilmuan masyarakat.

ArrahmahMedia.Com

“Selain sebagai pusat pendidikan Islam, Dayah juga tempat para ulama menetap, di mana dalam masyarakat aceh ulama merupakan tempat bertanya dan meminta kepastian hukum agama yang merupakan sendi-sendi kehidupan masyarakat,” ujar Abu MUDI.

ArrahmahMedia.Com

Pengasuh Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Ma’hadal Ulum Diniyyah Islamiyyah Mesjid Raya (MUDI Mesra) ini bercerita, di masa kejayaan Kerajaan Islam Aceh Darussalam, saat kesultanan dijabat Sultan Iskandar Muda, dayah menjadi lembaga pendidikan resmi yang mencetak aparatur pemerintahan kerajaan. Fakta ini terus berlanjut hingga masa invasi kolonial Belanda.

“Ulama lalu menjadikan dayah sebagai basis perjuangan melancarkan gerakan jihad melawan penjajah. Pada masa itu, peran ulama meluas hingga ranah politik. Masa-masa kolonial Belanda di Aceh merupakan masa berperan penuhnya ulama terutama setelah tertawannya sultan. Ulama tidak hanya berperan sebagai pemimpin agama, tapi juga pemimpin politik dan militer sekaligus,” tuturnya.

Setelah kemerdekaan, tambah Abu MUDI, peran dayah diganti oleh sekolah-sekolah yang didirikan pemerintah sesuai dengan perkembangan masa dan kebutuhan. Dalam kondisi ini, dayah sebagai lembaga pendidikan tertua tetap mampu eksis di bawah asuhan ulama. “Sistem pendidikan dayah yang tidak memungut biaya pendidikan menjadikannya lebih akrab dengan masyarakat kelas bawah,” ujarnya bangga.

Kini, dayah dihadapkan kepada tantangan modernisasi dan globalisasi yang sejak zaman penjajahan hingga sekarang tidak dapat dihindari. Fenomena ini,  bagi Abu MUDI, telah mengikis budaya islami masyarakat, terutama generasi muda. “Di sinilah peran dayah terbukti mampu memberikan basis moral islami yang kuat bagi generasi muda sehingga mereka memiliki filter dalam menghadapi arus modernisasi,” ujarnya.

Abu MUDI menyebut, kesadaran masyarakat akan fakta tersebut telah menguatkan komitmen para ulama untuk terus melestarikan eksistensi lembaga dayah. Komitmen tersebut diikuti masyarakat dengan menitipkan anak mereka agar turut mengecap pendidikan dayah. “Saya yakin, dayah sebagai satu warisan kebudayaan Islam yang melegenda di masa silam, terus berkembang pada masa kini hingga yang akan datang,” tegasnya. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Bahtsul Masail, Fragmen ArrahmahMedia.Com

Pergunu Jabar Minta Pemerintah Masukkan Materi Anti-LGBT di Kurikulum

Bandung, ArrahmahMedia.Com - Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Barat berharap pemerintah mengambil langkah pencegahan melalui kurikulum berkaitan dengan propaganda Lesbi, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Pasalnya pendidikan cukup efektif dalam menangkal fenomena LGBT ini baik di dunia pendidikan maupun di masyarakat secara luas.

Demikian disampaikan Sekretaris Pergunu Jawa Barat H Saepuloh di Kantor PWNU Jawa Barat Jalan Terusan Galunggung Nomor 09 Bandung, Kamis (25/02).

Pergunu Jabar Minta Pemerintah Masukkan Materi Anti-LGBT di Kurikulum (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Jabar Minta Pemerintah Masukkan Materi Anti-LGBT di Kurikulum (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Jabar Minta Pemerintah Masukkan Materi Anti-LGBT di Kurikulum

Lebih lanjut H Saepuloh menyatakan bahwa Pergunuu Jawa Barat berharap pemerintah memasukkan masalah serius ini ke dalam kurikulum nasional untuk memberikan pemahaman yang benar tentang LGBT kepada siswa.

“Dengan demikian diharapkan pelajar dan mahasiswa bisa memahami dengan betul bahwa LGBT bukan merupakan perilaku yang normal melainkan perilaku yang menyimpang bahkan bertentangan dengan norma agama, sosial, dan budaya Indonesia,” tutur H Saepuloh

ArrahmahMedia.Com

Ia mengimbau guru-guru yang tergabung dalam Pergunu untuk terlibat aktif mengamati sikap dan perilaku peserta didik dalam proses pembelajaran.

ArrahmahMedia.Com

Jika ada indikasi penyimpangan terutama ke arah LGBT, peserta didik ini harus segera didampingi dengan memberikan layanan konseling yang berkesinambungan. (Awis Saepuloh/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Fragmen, AlaNu, Tegal ArrahmahMedia.Com

Rabu, 24 Januari 2018

Kang Said Dukung Warga Indramayu Tolak Jenazah Teroris

Jakarta, ArrahmahMedia.Com - Menyikapi pro kontra di tengah masyarakat terkait penolakan terhadap jenazah Teroris, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyatakan dukungan atas langkah masyarakat yang menolak terhadap jenazah tersebut.

Demikian disampaikan oleh Kang Said di sela acara Haul Kiai Newes, sesepuh Desa Kedungwungu, Kecamatan Krangkeng, Indramayu, Jumat (22/1) malam.

Kang Said Dukung Warga Indramayu Tolak Jenazah Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said Dukung Warga Indramayu Tolak Jenazah Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said Dukung Warga Indramayu Tolak Jenazah Teroris

"Siapa pun yang melakukan tindakan yang menimbulkan rasa takut pada orang lain, teror, menganggu orang banyak, maka sudah semestinya jenazahnya ditolak oleh masyarakat. Mereka adalah teroris," ujar Kang Said.

ArrahmahMedia.Com

Teroris bukan hanya menganggu, menakut-takuti, membunuh orang lain dan membunuh diri dengan mengaburkan pemahaman beragama. Teroris juga sekaligus merusak ideologi dalam beragama dan merongrong keutuhan NKRI," tutur Kang Said.

Terkait adanya pihak yang menyerukan untuk mengedepankan rasa kemanusiaan, mereka memprotes langkah masyarakat yang menolak jenazah teroris. Merespon hal itu, Kang Said menegaskan, "Kita menghormati kemanusiaan, tetapi kemanusiaan kita berikan kepada orang-orang yang mengedepankan kemanusiaan. Sedangkan teroris jelas-jelas tidak punya rasa kemanusiaan dan sedikit pun tanpa rasa kemanusiaan. Untuk apa kita melakukan kemanusiaan pada orang yang sama sekali tidak berprikemanusiaan," imbuhnya.

Sebagaimana diberitakan oleh media, Ahmad Muhazzan (26) adalah jenazah teroris yang paling keras ditolak oleh masyarakat asal kampung kelahirannya di Indramayu.

ArrahmahMedia.Com

"Langkah masyarakat Kedungwungu Indramayu ini sangat tepat dengan tegas menolak jenazah teroris," ujar Kang Said. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Fragmen, Aswaja, Warta ArrahmahMedia.Com

Minggu, 21 Januari 2018

Ini Kenangan dan Harapan Anggota IPNU Tahun 1968

Boyolali, ArrahmahMedia.Com -

KH Habib Ihsanudin dikenal sebagai ulama sepuh di daerahnya. Ketika ArrahmahMedia.Com berkunjung ke kediamannya beberapa waktu yang lalu, Ketua PCNU Boyolali 1980-an tersebut, menyambut kami dengan ramah.

Setelah berbincang sejenak, sejurus kemudian ia masuk ke dalam. Rupanya ia mengambil sebuah buku. Ia pun mulai membuka beberapa lembar. Lalu berhenti pada satu halaman. Ia memperlihatkan foto hitam putih; seorang pemuda yang berbadan tegap dan berseragam lengkap dengan baret.

Ini Kenangan dan Harapan Anggota IPNU Tahun 1968 (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Kenangan dan Harapan Anggota IPNU Tahun 1968 (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Kenangan dan Harapan Anggota IPNU Tahun 1968

“Foto ini ketika saya masih aktif di Corps Brigade Pembangunan (CBP) IPNU pada tahun 1965,” terang KH Habib Ihsanudin.

Kiai Habib yang kini mengasuh sebuah pesantren di daerah Doglo, Boyolali, Jawa Tengah, mengenang kala itu, ia didapuk sebagai Komandan CBP IPNU Boyolali.

CBP merupakan salah satu badan semi-otonom IPNU, yang dibentuk bersamaan dengan lahirnya “Doktrin Pekalongan” yang ditetapkan pada Konferensi Besar IPNU di Pekalongan pada tanggal 25-31 Oktober 1964.

ArrahmahMedia.Com

Pada 1965, Habib Ihsanudin muda, mengikuti latihan yang dipusatkan di Cebongan, Yogyakarta. Selama sepuluh hari, ia bersama kader CBP lainnya ditempa jasmani dan rohaninya agar menjadi pemimpin yang bertanggung jawab.

“Saya masih ingat salah satu pelatihnya yakni Pak Katamso, Danrem DIY (yang kemudian menjadi salah satu Pahlawan Revolusi,-red),” ungkapnya.

Pada tahun 1966, ia terpilih menjadi Ketua PC IPNU Kabupaten Boyolali hingga tahun 1968. Organisasi itu menjadi pintu awal pengabdiannya di NU. Setelah itu, ia sempat mengemban amanah sebagai Ketua PC GP Ansor Boyolali (1968-1973). Kemudian menjadi Ketua Tanfidziyah PCNU Boyolali (1977-1985).

Bahkan hingga kini, di sela kesibukannya mengasuh para santri, dirinya masih ikut mengabdi bersama NU sebagai Mustasyar NU Boyolali.

ArrahmahMedia.Com

Ia memiliki harapan khusus untuk para generasi muda NU di masa kini. “Saya pribadi, memiliki cita-cita seperti KH Idham Chalid, yang diibaratkan seperti sedang menulis buku yang isinya 1000 lembar, bahkan lebih. Anda halaman 1 sampai 100, anak Anda 101 sampai 200, dan seterusnya. ini gambaran supaya ada regenerasi, ada yang meneruskan perjuangan ini,” kata dia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Fragmen, Lomba ArrahmahMedia.Com

Rabu, 17 Januari 2018

Hasyim Muzadi: Pembaharuan NU tak Boleh Ubah Pemahaman Organisasi

Tanjungpinang, ArrahmahMedia.Com. Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi, menegaskan warga NU harus melakukan pembaharuan di seluruh sektor kehidupan, namun tidak mengubah pemahaman organisasi yang didirikan pada 1925 itu.

"Pemahaman yang lama boleh dipertajam, tetapi tidak diubah. Pemahaman lama yang bagus, harus dipertahankan dengan cara apapun," kata dia, saat memberi kata sambutan pada pengukuhan pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Tanjungpinang 2014-2019, di Tanjungpinang, Jumat.

Hasyim Muzadi: Pembaharuan NU tak Boleh Ubah Pemahaman Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim Muzadi: Pembaharuan NU tak Boleh Ubah Pemahaman Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim Muzadi: Pembaharuan NU tak Boleh Ubah Pemahaman Organisasi

Dia mengatakan NU terancam pengaruh negatif sehingga warga NU harus berjalan sesuai dengan rel, yaitu ajaran Islam. 

ArrahmahMedia.Com

"NU sudah memiliki pedoman, yang seharusnya dipatuhi, bukan diubah atau dirusak," katanya.

Muzadi yang juga angggota Dewan Pertimbangan Presiden mengatakan warga NU harus dapat menggunakan teknologi tinggi tapi tidak melupakan ajaran Islam. Pemikiran warga NU juga harus berkembang sesuai kebutuhan bangsa dan negara.

ArrahmahMedia.Com

"Pakai sarung, boleh, tapi pemikiran maju," ujarnya. Dia mengemukakan NU mendukung kebijakan-kebijakan yang ditetapkan pemerintah dan memberi kritikan yang konstruktif.

Contohnya, NU mendukung UU Antikorupsi yang sejalan dengan ajaran Islam. "Tidak perlu UU Islam Antikorupsi. UU Antikorupsi sekarang cukup baik," katanya.

Dia juga mengingatkan jangan ada pemikiran atau menganggap negara ini kafir sehingga harus dihancurkan, dan diganti dengan negara Islam.

"Roh NU adalah roh negara NKRI. Ini sudah terbukti," katanya. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Fragmen, Internasional, Pemurnian Aqidah ArrahmahMedia.Com

Senin, 08 Januari 2018

Slamet Effendy Yusuf dan Harapannya kepada Generasi Muda

Telah menjadi sebuah hal yang wajar jika orang tua memiliki dan menaruh harapan besar kepada generasi muda untuk meneruskan perjuangan memajukan masyarakat melalui perannya dalam sebuah organisasi. Hal inilah yang senantiasa didengungkan oleh KH Slamet Effendy Yusuf dalam setiap kesempatan dia berinteraksi dengan para generasi dibawahnya.

Dalam sebuah kesempatan setelah rapat dengan para Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), tak lama setelah pelantikan PBNU periode 2015-2020 dilaksanakan, Wakil Ketua Umum PBNU tersebut turun melalui lift bersama salah satu intelektual muda NU yang saat ini menjabat salah satu Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU), Dr Abdul Moqsith Ghazali. Adapun penulis saat itu sedang berupaya mewawancarainya terkait visi NU setelah terbentuk kepengurusan baru.

Slamet Effendy Yusuf dan Harapannya kepada Generasi Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Slamet Effendy Yusuf dan Harapannya kepada Generasi Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Slamet Effendy Yusuf dan Harapannya kepada Generasi Muda

Saat naik lift, pria kelahiran Purwokerto, 12 januari 1948 ini berpesan kepada Abdul Moqsith Ghazali dan seluruh generasi muda NU agar bekerja keras dalam mengurus organisasi dengan merekam, menulis, dan mendokumentasikan hal-hal yang terkait dengan visi, ide, maupun pemikiran di organisasi sebagai warisan yang bersifat terus-menerus untuk generasi ke depannya.

ArrahmahMedia.Com

Menurut Ketua PMII Cabang Yogyakarta (1972-1972) ini, generasi muda harus senantiasa merasa gelisah jika kondisi organisasi tidak sesuai harapan. Selanjutnya kaum muda tergerak untuk memperbaikinya dengan mengonsolidasikan kader-kader lain. Hal ini dia lakukan saat menjadi salah satu tim perumus khittah 1926 pada tahun 1983 bersama H Abdurrahman Wahid, HM Said Budairy, dr Fahmi D Saifuddin, Ahmad Bagja, H Mahbub Djunaidi, dan lain-lain. 

ArrahmahMedia.Com

Khittah NU tersebut hingga sekarang menjadi keteguhan prinsip bagi NU untuk tidak berpolitik praktis dan konsisten dengan menjalankan politik kerakyatan, politik kebangsaan, dan etika berpolitik sesuai dengan konsep politik tingkat tinggi ala NU yang digagas oleh KH MA Sahal Mahfudz, Rais Aam PBNU 2000-2014.

Pesan-pesan Ketua GP Ansor periode 1985-1995 ini juga dilontarkan saat memberi sambutan dalam acara serah terima kepengurusan PP Lakpesdam NU pada 11 Oktober 2015 lalu di Tebet, Jakarta Selatan. Saat itu, sarjana IAIN Sunan Kalijaga ini mengingatkan, bahwa Lakpesdam merupakan produk pemikiran progresif yang digagas oleh dirinya bersama tim perumus Khittah 1926. Kiai Slamet menjelaskan, Lembaga kajian di NU tersebut Lahir dari pemahaman, bahwa kualitas SDM generasi NU harus ditingkatkan untuk menjaga Khittah 1926 agar tetap berjalan menjadi prinsip organisasi. 

Dalam kesempatan tersebut, lulusan Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) ini juga terus mendorong kemajuan lembaga-lembaga di NU agar berjalan maksimal dalam mewujudkan kemaslahatan umat. Sehingga menurutnya, lembaga-lembaga di NU harus terus saling bersinergi dan melengkapi. “Tularkan model-model pengorganisasian yang baik di NU,” tuturnya saat itu.

Kini, Kiai Slamet telah meninggalkan kita semua. Namun demikian, bangsa Indonesia dan warga NU khususnya akan terus mengenang pemikiran, pengabdian, perjuangan, dan jasa-jasanya untuk masyarakat, bangsa, dan negara. 

Kiai Slamet meninggal dunia di usia 67 tahun pada Rabu, 2 Desember 2015 di Bandung, Jawa Barat sekitar pukul 23.00 WIB saat mengikuti rangkaian kegiatan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI di Hotel Ibis Styles, Jl Braga Bandung. Dia meninggalkan istri bernama Drs Siti Aniroh. KH Slamet Effendy Yusuf adalah putera pertama dari 4 bersaudara dari pasangan KH Azhari Yusuf dan Hj Umi Kulsum.

Organisasi dan karir Drs KH Slamet Effendy Yusuf, MSi:

1. Ketua Anak Cabang IPNU Kecamatan Ajibarang, Purwokerto

2. Anggota Front Pancasila/Kesatuan Aksi Pengganyangan Gestapu, KAPPI Purwokerto

3. Ketua Dewan Mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta (1973-1975)

4. Ketua PMII Cabang Yogyakarta (1972-1973)

5. Ketua Umum GP Ansor dua periode (1985-1995)

6. Ketua Departemen Pemuda DPP Golkar (1988-1993)

7. Pemimpin Redaksi Majalah ARENA (1975-1978)

8. Wartawan harian umum Pelita (1977-1998)

9. Ikut mendirikan dan memimpin majalah Forum Keadilan (1989) 

10. Anggota MPR-RI (1988-1993)

11. Anggota DPR-RI sejak 1992

12. Ketua Yayasan Islam Duta Yumika, Purwokerto

13. Ketua Yayasan Pendidikan Fajar Dunia, Jakarta

14. Ketua Komisi Kerukunan Antar Umat Beragama MUI Pusat

15. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) (2010-2015)

16. Wakil Ketua Umum PBNU (2015)

17. Wakil Ketua Umum MUI Pusat (2015)

(Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Fragmen ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 23 Desember 2017

Madrasah di Sumenep Kenalkan Aswaja pada Murid Baru

Sumenep, ArrahmahMedia.Com. Madrasah Sumber Payung, Desa Bataal Barat, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, memperkenalkan wawasan Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) kepada 233 murid baru tingkat madrasah tsanawiyah (MTs) dan madrasah aliyah (MA).

Madrasah di Sumenep Kenalkan Aswaja pada Murid Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah di Sumenep Kenalkan Aswaja pada Murid Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah di Sumenep Kenalkan Aswaja pada Murid Baru

Materi Keaswajaan menjadi salah satu materi Masa Orientasi Siswa Baru (MOS) yang diselenggarakan pada Rabu-Jumat (5-7/8). Tema MOS bertajuk "Budayakan Membaca. Dengan Membaca Kita Dapat Mengetahui Isi Dunia".

Wakil Kepala Bidang Kesiswaan MA Sumber Payung, Ahmad Humaidi mengatakan, materi keaswaan penting diperkenalkan kepada siswa baru agar tak mudah terkecoh dengan paham-paham baru yang juga mengaku-mengaku sebagai paham Aswaja.

ArrahmahMedia.Com

"Di tengah banjirnya informasi, murid perlu diperkenalkan wawasan keaswajaan supaya tidak mudah terbuai dengan paham-paham yang mengidentifikasi diri sebagai Aswaja, namun ajarannya tidak mencerminkan ajaran Aswaja," tuturnya kepada ArrahmahMedia.Com.

ArrahmahMedia.Com

Selain dengan memasukkan materi keaswajaan pada tiap pelaksaan MOS, kata Humaidi, materi keaswajaan telah masuk madrasah. "Di madrasah juga ada pelajaran Aswaja, baik tingkat MTs maupun MA" bebernya.

Mantan Wakil Ketua PC IPNU Kabupaten Sumenep, M Kamil Akhyari dalam pemaparannya di hadapan peserta MOS mengatakan, salah satu ciri Aswaja Nahdlatul Ulama yaitu bermadzhab dalam pemahaman keagamaan.

"Ciri bermadzhab inilah yang membedakan Aswaja NU dengan Wahabi yang juga mengaku sebagai penganut paham Aswaja," paparnya, Rabu.

Kedua, Aswaja NU mengedepankan maslahah dan persatuan demi terjaminnya kebebasan umat beragama. Seperti Islam tidak harus menjadi label negara selama nilai dan dakwah Islam bisa dijalankan dengan baik.

"Aswaja NU menganggap tidak perlu mendirikan negara Islam (khilafah islamiyah) di Indonesia seperti yang digaungkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)," jelasnya.

Ketiga, mengedepankan kesantunan dan akhlak mulia. "Aswaja NU tidak menyukai cara-cara kekerasan dalam mengatasi masalah seperti yang dilakukan teroris dan ISIS," tuturnya. (M Kamil Akhyari/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Fragmen, Pertandingan ArrahmahMedia.Com

Ribuan Santri Hadiri Haflah Tilawah Al-Qur’an NU Sulsel

Makassar, ArrahmahMedia.Com. Ribuan santri dari sejumlah Pondok Pesantren Penghafal Al-Qur’an di Sulawesi Selatan berkumpul di Masjid Al Markaz Al Islami Makassar, Ahad (16/12). Mereka menyimak lantunan ayat suci Al-Qur’an ang disampaikan beberapa qari’ dan qariah nasional maupun internasional.

Ribuan Santri Hadiri Haflah Tilawah Al-Qur’an NU Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Santri Hadiri Haflah Tilawah Al-Qur’an NU Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Santri Hadiri Haflah Tilawah Al-Qur’an NU Sulsel

Tampak hadir pula ribuan kader dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Sulawesi Selatan, Pengurus Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan, Pengurus GP Ansor Sulsel, dan beberapa aktifis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.

Lantunan ayat suci Al-Qur’an ang disampaikan beberapa qari’ dan qariah nasional maupun internasional antara lain Hasan Basri, Qari’ terbaik Internasional di Mekah tahun 1982 silam yang sekarang menjadi imam masjid Al Markaz.

ArrahmahMedia.Com

Pagelaran dengan menyimak lantunan Al-Qur’an tersebut juga dihadiri mantan menteri Agama RI yang juga sbagai qari’ Internasional Prof Dr Said Agil Husin Al Munawwar, yang juga salah satu pengisi acara. 

Hasan Basri melagukan Qur’an bersama beberapa Qari’ lainnya, yakni Muhammmad Ali, Qari’ terbaik Internasional di Libya tahun 1996, Fadhlan Zainuddin Qari terbaik Internasional di Iran 1999, H. Fachruddin Sarumpaet, Qari’ terbaik Internasional di Mesir tahun 2003. Ada juga satu qariah yang menjadi terbaik di Indonesia tahun 2012, yakni Annisaul Malicha, dan Qari’ Sulsel Dr. Mustamin Arsyad.

ArrahmahMedia.Com

Pagelaran yang juga disebut haflah tilawah tersebut, diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Selatan. Ribuan santri yang hadir datang dari Pesantren Nahdlatul Ulum asuhan AG. HM. Sanusi BAco, Lc, Pesantren Ilmu Alqur’an Almusawwirah Tallo binaan KH Syawir Dahlan, Pesantren Annahdlah UP binaan AG. H. Muh. Harisah AS, Pesantren Hasyim Asy’ari Makassar, DDI AD Mangkoso Barru, Pesantren As’adiyah Sengkang, Pesantren Amin Syam Barru, serta sejumlah pesantren lainnya.

“Kita semua sering mendengarkan nyanyian dari berbagi event ada Indonesian Idol dan Dangdut mendadak, tetapi kami dari NU coba menawarkan dan mendengarkan lantunan Ayat Suci Al-Qur’an dari para jawara tilawah Internasional maupun nasional. Namanya sima’an,”jelas Ketua Panitia Ust. Maskur Yusuf Ketua Jam’iyyatul qurra wal huffazh NAhdlatul Ulama Sulawesi Selatan.

Disisi lain harapan dari terselenggaranya acara ini adalah mendorong semangat para santri untuk menjadi penghafal qur’an dan qari’ yang terampil dan hebat dalam melantunkan ayat Alqur’an. Selain dihadiri para santri, PWNU juga mengundang warga NU se-Sulawesi Selatan, serta sejumlah masyarkat lainnya, agar bisa menarik mereka mendaftarkan anaknya bersekolah di pondok pesantren.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Andi Muhammad Idris

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Fragmen, Jadwal Kajian, IMNU ArrahmahMedia.Com

Jumat, 22 Desember 2017

IPNU-IPPNU Unnes Buka Lomba Esai untuk Mahasiswa Se-Jawa

Semarang, ArrahmahMedia.Com

Dalam rangka menyongsong bulan Muharram serta meramaikan Hari Santri Nasional, Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Universitas Negeri Semarang (Unnes) akan mengadakan lomba esai tingkat mahasiswa se-Pulau Jawa.

IPNU-IPPNU Unnes Buka Lomba Esai untuk Mahasiswa Se-Jawa (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Unnes Buka Lomba Esai untuk Mahasiswa Se-Jawa (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Unnes Buka Lomba Esai untuk Mahasiswa Se-Jawa

Kegiatan perdana ini mengambil tema “Inovasi Muslim untuk Dunia” dengan enam subtema, yakni teknologi, ekonomi, pendidikan, sosial budaya, lingkungan, dan politik. Pendaftaran lomba tersebut dibuka mulai 10 Agustus hingga 20 September 2016.

Proses registrasi dapat dilakukan melalui pesan singkat (SMS) ke Dani Puspitasari (085600570393) dengan format Nama_Perguruan Tinggi_3 Kata Awal Judul Esai. Untuk mengikuti lomba esai, peserta dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp35 ribu per karya.

ArrahmahMedia.Com

Peserta merupakan mahasiswa D3 atau S1 dari perguruan tingi negeri atau swasta di Jawa. Peserta diperbolehkan mengirim maksimal dua karya untuk dilombakan.

Zainuddin, selaku panitia kegiatan tersebut menuturkan bahwa tujuan kegiatan tersebut adalah untuk memberikan sarana berkreasi bagi mahasiswa. "Lomba ini menjadi ajang mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk meningkatkan daya intelektualitas dan kreativitas dengan memberikan gagasan bagi peradaban Islam dunia," tuturnya.

ArrahmahMedia.Com

Informasi lebih lanjut berkenaan dengan lomba tersebut dapat menghubungi ke 085600570393 (Dani Puspitasari) dan 089689310963 (Zaenuddin) atau mengunjungi portal resmi penyelenggara di http://ipnuippnuunnes.or.id.

Hadiah lomba esai tersebut adalah Rp1 juta (Juara 1), Rp750 ribu (Juara 2), dan Rp500 ribu (Juara 3). Selain itu seluruh peserta juga akan mendapatkan e-sertifikat dari panitia. (Mazid Maulana/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Halaqoh, Fragmen, Makam ArrahmahMedia.Com

Senin, 04 Desember 2017

Fatayat NU Bondowoso Luncurkan Air Kemasan Fatayat Water

Bondowoso, ArrahmahMedia.Com - Pengurus harian Fatayat NU Bondowoso menggelar khataman Al-Quran yang diikuti sebagian pengurus anak cabang dan cabang Fatayat NU di Musholla Kantor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bondowoso, Kamis (16/6) pagi. Khataman ini mengawali pengemasan air mineral berlabel Fatayat NU.

Ketua Fatayat NU Bondowoso Nurdiana Khalidah mengatakan, hari ini kebetulan pengemasan perdana untuk air minum dalam kemasan yang berlabel Fatayat.

Fatayat NU Bondowoso Luncurkan Air Kemasan Fatayat Water (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Bondowoso Luncurkan Air Kemasan Fatayat Water (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Bondowoso Luncurkan Air Kemasan Fatayat Water

“Kita bekerja sama dengan Kantor PDAM. Kita terima jadi dari PDAM. Ini kita bayar kepada PDAM sesuai dengan kesepatan yang kita tanda tangani kemarin," jelas Nurdiana di depan Musholla.

ArrahmahMedia.Com

Pihaknya berharap dengan keberkahan Al-Quran semoga air ini juga menjadi sekedar air biasa, selain itu juga ada kandungan Al-Quran atau bacaan Al-Quran.

"Ini juga bisa dikatakan air khotmil Quran Fatayat NU," katanya.

Sekarang masih sekitar 150 kemasan karton. Pesanan sudah hampir 1000 untuk di kalangan internal kita. Hanya di kalangan Fatayat. Jadi belum keluar untuk pasaran masih belum, mungkin tanggal 22 bisa didistribusikan," kata Nurdiana. (Ade Nurwahyudi/Alhafiz K)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pendidikan, Fragmen ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 25 November 2017

GP Ansor Bondowoso Gelar Diklatsar Banser

Bondowoso, ArrahmahMedia.Com. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Bondowoso menggelar Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Barisan Serbaguna (Banser) Ansor dengan tema “Meneguhkan kesetian benteng ulama sebagai minifestasi cinta Nabi Muhammad SAW dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)”.

GP Ansor Bondowoso Gelar Diklatsar Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Bondowoso Gelar Diklatsar Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Bondowoso Gelar Diklatsar Banser

Kegiatan yang berlanngsung di Lahan Hutan Perhutani Jl. Gunung Purnama Desa Tanggulangan, Kecamatan Tegalampel, Sabtu-Minggu (9-10/1) tersebut diikuti 46 orang dari 20 Pimpinan Anak Cabang (PAC) se-Kabupaten Bondowoso.

Ketua GP Ansor Bondowoso muzammil menyampaikan, pendidikan dan pelatihan dasar (Diklatsar) Banser pertama kali pada kepengurusan 2014-2018 tersebut khusus untuk peserta yang baru masuk Banser.

ArrahmahMedia.Com

"Allamdulillah berkat kerja keras kebersamaan Pimpinan Cabang dan Satuan Koordinator Cabang Banser (Satkorcab) Banser, akhirnya kegiatan diklatsar pertama ini? bisa terselenggara," kata dia.

Menjadi anggota Banser, kata dia, ada yang semangat, ada yang paling semangat, terlalu semangat sampai umurnya 50-60 tahun tidak mau pensiun karena itu ia bangga menjadi Banser.

ArrahmahMedia.Com

Ia juga mengimbau bagi Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor yang telah habis SK-nya pada 2015 lalu, untuk segara malaksanakan konferancab. Menurutnya, masih ada 7 PAC belum melaksanakannya.

Pada kegiatan tersebut perserta pendidikan dan pelatihan dasar mendapatkan kaos, sepasang sepatu PDL dan sertifikat.

Hadir pada pembukaan, Sekeretaris PCNU Bondowoso H. Sainudin, Dandim 0822 Bondowoso Letnan Kolonel Arh. Sudrajat, Ketua Majelis Zikir Shalawat Rijalul Ansor Bondowoso Junaidi, Kasat (Satkorcab) Banser Susilo. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Humor Islam, Fragmen ArrahmahMedia.Com

Jumat, 24 November 2017

Jika Masuk NU, Niati untuk Perbaiki Diri

Jember, ArrahmahMedia.Com - Kalau mau menjadi anggota NU, niatilah? untuk? mencari ridlo Allah. Jangan berniat? mencari? sesuatu selain itu. Sebab, ketika berniat mencari sesuatu, pasti tidak akan didapat.? Hal tersebut dikemukakan Ketua PCNU Jember, KH Abdulah Syamsul Arifin dalam sebuah acara? pengajian Aswaja di Kaliwates,? belum lama ini.

Menurutnya, jika berniat mencari keuntungan duniawi lewat NU, biasanya tidak akan pernah tercapai. Sebab, NU bukan lembaga profit. "Tapi jangan khawatir jika bekerja untuk NU dengan ikhlas, keuntungan dunia pasti mengikuti. Itu namnya barokah. Ini fakta," terang Gus Aab, sapaan akrabnya Rabu (31/8).

Jika Masuk NU, Niati untuk Perbaiki Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jika Masuk NU, Niati untuk Perbaiki Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jika Masuk NU, Niati untuk Perbaiki Diri

Ia lalu menceritakan sisi barokah NU yang dia rasakan sebagai Ketua NU. Dikatakannya, dalam menghadiri undangan apa pun yang atas nama NU, ia mengaku tak pernah menggunakan kas NU, tapi uang pribadi.

Namun, lanjutnya, uang tersebut pasti diganti oleh Allah di tempat lain dengan cara yang lain pula. "Saya misalnya diundang ke kantor PWNU Jawa Timur, saya pakai uang sendiri untuk ongkos,? tapi pulangnya insyaallah saya dapat lebih banyak dari ongkos yang saya keluarkan, karena saya masih mampir di sekian tempat untuk mengisi pengajian," tukasnya sambil tersenyum.

ArrahmahMedia.Com

Dekan Fakultas Tarbiyah? IAIN Jember itu lalu menyinggung kata-kata bijak yang sering diucapkan almarhum KH Muchit Muzadi terhadap pengurus NU. Katanya, kalau masuk atau menjadi pengurus NU, jangan berkata ingin membesarkan NU. NU tidak perlu dibesarkan. Sebab,? NU sudah besar.

"Yang penting? kita masuk NU, niat? dandani awak. Ingin membenahi diri. Karena di NU kita berkumpul dengan ulama dan orang? saleh. Itu? kata Kiai Muchit.? Jadi, dengan masuk NU, niat utama kita memperbaiki diri dulu.? Lebih dari itu, NU menjadi kontrol sosial bagi kita. Kita jadi malu untuk berbuat yang tidak-tidak, apalagi pengurus," terangnya. (aryudi a razak/ abdullah alawi)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaNu, Fragmen ArrahmahMedia.Com

Rabu, 08 November 2017

Haul, Wujud Bakti kepada Orang Tua

Jepara, ArrahmahMedia.Com. Dalam rangka memperingati Harlah ke-92, Majelis Wakil Cabang Nahdhatul Ulama (MWCNU) Kalinyamatan, Jepara, Jawa Tengah menyelenggarakan haul massal yang digelar di Gedung MWCNU setempat, Jumat (8/5).

Haul, Wujud Bakti kepada Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul, Wujud Bakti kepada Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul, Wujud Bakti kepada Orang Tua

Kegiatan yang diikuti ribuan jamaah ini menghadirkan penceramah dari Grobogan, KH Mahyan Ahmad. Hadir juga Ketua MWCNU Kalinyamatan, KH Muhsinin dan Ketua PCNU Jepara, KH Asyhari Samsuri.

Dalam penyampaian mauidhoh hasanahnya, Kiai Mahyan yang sering ceramah di Korea, Tiongkok dan Hongkong ini menjelaskan tentang pentingnya pelaksanaan haul? sebagai wujud dari birrul walidain serta berbuat baik kepada orang tua.

ArrahmahMedia.Com

Haul menika gawe bungah atine wong tua (haul membuat hati orang tua senang),” jelasnya.

ArrahmahMedia.Com

Menurut Mahyan, bentuk bakti kepada kedua orang tua bisa dilakukan meski mereka telah tiada. Karena itu, kepada orang tua atau leluhur yang telah tiada harus sering-sering didoakan.

“Sebelum panjenengan menziarahi para wali, panjenengan terlebih dahulu menziarahi orang tua yang telah mendahului,” pesannya kepada ribuan hadirin.

Sementara, wujud bakti kepada kedua orang tua yang masih hidup bisa dilakukan dengan meminta maaf jika bersalah tanpa menunggu hari raya. Harapannya, dengan ridlo orang tua akan menjadi berkah hidup.

Pengasuh pesantren Tahfidzul Quran ini juga menjelaskan tentang orang yang akan celaka di akhirat yakni orang selalu menyakiti perasaan orang tua, orang yang kaya tapi pelit dan orang yang memutus tali silaturahim.

Wong kang nglarakno atine wong tuo, meski apal Alquran, kaji bolak-balek lan ilmune sundul langit besok ora bakal mambu apa meneh mlebu swargane Allah Swt (Orang yang menyakiti hati orang tua meski hafal Alquran berkali-kali dan ilmunya banyak maka tidak akan mencium bau surga, sehingga masuk surga pun mustahil,” jelasnya. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Fragmen ArrahmahMedia.Com

Selasa, 24 Oktober 2017

KH Syaroni: Ciri Haji Mabrur, Tidak Berbuat Maksiat

Kudus, ArrahmahMedia.Com. Haji mabrur adalah sebuah impinan setiap orang dalam menunaikan ibadah di tanah suci Makkah. Menurut Mustasyar PBNU KH Syaroni Ahmadi, di antara tanda kemabruran seseorang adalah bertambahnya kebaikan dalam diri penyandang predikat tersebut. Orang yang hajinya mabrur tidak akan mengulang perbuatan maksiat.

KH Syaroni: Ciri Haji Mabrur, Tidak Berbuat Maksiat (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Syaroni: Ciri Haji Mabrur, Tidak Berbuat Maksiat (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Syaroni: Ciri Haji Mabrur, Tidak Berbuat Maksiat

"Tetapi meraih haji mabrur itu sulit, makanya butuh kehati-hatian dan ketelitian. Kalau masih berbuat kemaksiatan berarti hajinya tidak mabrur," katanya pada saat memberikan tausiyah pada Walimatus Safar di kediaman alumni IPNU Andoko Desa Demaan Kota Kudus, Jawa Tengah, (28/8).

? Mengutip sebuah hadits Nabi, KH Syaroni menegaskan bahwa tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali pasti masuk surga. Oleh karenanya, haji mabrur mesti menjadi tujuan para calon haji.

ArrahmahMedia.Com

"Apalagi untuk bisa berangkat haji, daftarnya harus antre puluhan tahun lamanya. Sangat eman (sayang sekali) bila tidak meraih haji mabrur," tandas ulama kharismatik asal Kudus ini.

Pernyataan senada disampaikan Ketua Kelompok Bimbingan Ibadah Haji Nahdlatul Ulama (KBIHNU) Kudus H. Shodiqun. Dikatakan, KBIHNU akan berusaha membantu membimbing jamaahnya mulai dari manasik haji hingga mendampingi di tanah suci.

ArrahmahMedia.Com

" Harapannya, jamaah bisa menunaikan rukun dan wajib haji secara benar dan tertib sehingga betul-betul pulang ke tanah air nantinya menyandang haji mabrur," katanya kepada ArrahmahMedia.Com di sela-sela Musyawarah Kerja Cabang NU Kudus, Ahad (31/8). (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Fragmen ArrahmahMedia.Com

Kamis, 19 Oktober 2017

Ketum PBNU: Pelajar NU Harus Konsisten Bersikap Moderat

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj berpesan agar kader Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) konsisten dalam bersikap moderat (tawasuth). Berada di tengah-tengah, tidak ekstrem kanan maupun ekstrem kiri.?

Ketum PBNU: Pelajar NU Harus Konsisten Bersikap Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU: Pelajar NU Harus Konsisten Bersikap Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU: Pelajar NU Harus Konsisten Bersikap Moderat

Demikian disampaikan Ketum PBNU saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakerrnas) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Jumat (23/12) di Gedung Serbaguna Pondok Pesantren ats-Tsaqafah Ciganjur Jakarta Selatan.?

"Tawasuth adalah sikap yang memerlukan kecerdasan dan keberanian. Seperti telah dicontohkan Imam Syafi’i dalam bidang fiqh, Abu Musa Al-Asyari dalam bidang tauhid, Imam Ghazali dalam bidang akhlak dan Hadratusysekh KH M Hasyim Asyari dalam bidang kenegaraan," terangnya.?

Ia menjelaskan, Muhammad bin Idris Asy-Syahfii atau Imam Syafi’i berjasa meletakkan pemikiran tawasuth dalam fiqh. Imam Syafii meletakkan dasar penetapan hukum itu dua, yakni adillah naqliyah dan adillah aqliyyah.?

"Adillah naqliyah, yakni dalil-dalil syariat yang ada dalam Al-Quran dan hadits. Kedua, hujjah aqliyah. Dalil-dalil secara akal yang diambil dengan proses ijma (akal kolektif) dan qiyas (akal personal)," jelas pengasuh Pesantren ats-Tsaqfah tersebut.

ArrahmahMedia.Com

Jadi, imam Syafi’i tidak hanya mempertimbangkan dalil nash saja, tapi juga dalil hasil pemikiran.?

Tokoh berikutnya adalah Abdullah bin Qais bin Sulaim al-Asyari atau dikenal Abu Musa al-Asyari. Ia meletakkan pemikiran tawasuth dalam bidang tauhid. Produknya adalah ilmu kalam, salah satunya sifat 20.?

"Bbeberapa sifat 20 disebutkan dalam Al-Quran. Tapi Al-Asyari tidak menjadikan sifat-sifat itu sebagai sifat yang pertama. Justru, sifat 20 yang pertama adalah wujud, yang tidak ada dalam Al-Quran," paparnya.

ArrahmahMedia.Com

Alasannya, untuk apa sifat-sifat sama (Maha Mendengar), bashar (Maha Melihat), dan yanng lainnya kalau tidak ada wujud.?

Ulama yang bisa tawasut lainnya adalah Abu Hamid Muhammad aGhazali. Imam Ghazali adalah orang cerdas dalam akhlak Kita berakhlak dengan tengah. Syariat dijalankan dengan baik, hakikat diterapkan dalam hati secara khusuk.?

Sementara Hadratusysyekh KH Hasyim Asyari juga cerdas dalam menyandingkan Islam dan nasionalisme.

"Memelihara Indonesia juga memerlukan kecerdasan, dalam menjaga NU juga memerlukan kecerdasan. Agar indonesia menjadi negara moderat dan toleran," tegas guru besar bidang tasawuf tersebut. (Suhendra/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Tegal, Fragmen ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock