Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2018

Terbukti Makar, Muskercab NU Jombang Rekomendasikan HTI Dibubarkan

Jombang, ArrahmahMedia.Com. Salah satu keputusan Sidang Pleno Musyawarah Kerja Cabang Nahdlatul Ulama (Muskercab NU) Kabupaten Jombang adalah merekomendasikan kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk mendesak kepada Pemerintah Republik Indonesia agar membubarkan organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Alasan yang dikemukakan oleh peserta Muskercab karena HTI telah jelas-jelas tidak mengakui Pancasila dan NKRI. Sikap HTI tersebut dinilai sebagai perbuatan makar terhadap negara.

Keputusan sidang Pleno yang dibacakan KH Junaidi Hidayat tersebut selanjutnya disahkan sebagai keputusan Muskercab PCNU Jombang secara resmi oleh Pimpinan Sidang, KH Dr. Isrofil Amar.

Terbukti Makar, Muskercab NU Jombang Rekomendasikan HTI Dibubarkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Terbukti Makar, Muskercab NU Jombang Rekomendasikan HTI Dibubarkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Terbukti Makar, Muskercab NU Jombang Rekomendasikan HTI Dibubarkan

PCNU Jombang juga merekomendasikan kepada Pemerintah Kabupaten Jombang untuk melarang seluruh aktifitas HTI. (Ma/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Humor Islam, AlaNu, Pesantren ArrahmahMedia.Com

Rabu, 14 Februari 2018

Belajar Toleransi Dari Gus Mus di "Pesantren BPUN" Way Kanan

Way Kanan, ArrahmahMedia.Com 

Peserta Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) yang digelar PC GP Ansor Way Kanan Lampung di Pesantren Assiddiqiyah 11 mulai 25 April 2016 mengaku bertambah wawasan dengan mengikuiti program utama Yayasan Mata Air tersebut, diantaranya memahami penghormatan akan keberagaman.

Belajar Toleransi Dari Gus Mus di Pesantren BPUN Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Toleransi Dari Gus Mus di Pesantren BPUN Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Toleransi Dari Gus Mus di "Pesantren BPUN" Way Kanan

"Setelah menyaksikan dokumentasi Gus Mus dari acara Mata Najwa yang ditonton bersama, saya semakin banyak sekali mendapat wawasan, bahkan dapat mengetahui apa itu toleransi antaragama," ujar Rio Irawan, di Gunung Labuhan, Ahad (1/5).

KH Mustofa Bisri yang akrab dipanggil Gus Mus adalah seorang ulama dan budayawan yang lahir di Rembang Jawa Tengah 10 Agustus 1944. "Dakwah yang dilakukan Gus Mus sangat baik," kata Rio lagi.

Dalam dokumentasi tersebut, Gus Mus menakutkan zaman sekarang akan kembali pada zaman Habil dan Qobil. "Semangat mengajar Gus Mus dengan dakwah memanusiakan manusia sangat luar biasa," paparnya.

ArrahmahMedia.Com

Rio menambahkan, dirinya saat ini dapat mengetahui jika Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi asli kiai-kiai dari pesantren yang memiliki semangat kebangsaan yang luas sebagaimana disampaikan Gus Mus.

Selain memberikan pelajaran ilmu akademik lima hari dalam seminggu, bimbingan ruhani istiqomah dan mengajarkan kecakapan hidup seperti ilmu jurnalistik dibimbing Ketua PC GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto. BPUN, juga mendiskusikan keteladanan dan inspirasi dari sejumlah tokoh, seperti Mooryati Soedibyo, Dian Sastrowardoyo, Jenderal Hoegeng, serta tokoh-tokoh internal NU seperti,  Hadratus Syekh Hasyim Asyari, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dan Gus Mus guna menambah wawasan dan memotivasi peserta yang dikarantina selama satu bulan penuh di pesantren asuhan Kiai Imam Murtadlo Sayuthi.

"Mars pertama GP Ansor jelas bunyinya, darah dan nyawa telah kuberikan. Apa yang kami lakukan dengan menggelar BPUN masih jauh dari larik pertama mars pemuda NU, tapi itu penegasan bahwa menjadi kader harus siap berbuat positif bagi organisasi dengan perbuatan," ujar Gatot menambahkan. (Firman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Sholawat, Meme Islam, Pesantren ArrahmahMedia.Com

Selasa, 06 Februari 2018

Dinamika Ketenagakerjaan Era Digital Harus Disikapi Optimis

Jakarta, ArrahmahMedia.Com 

Teknologi dan informasi memiliki peranan besar terhadap perkembangan ekonomi negara-negara dunia yang berdampak terhadap bidang-bidang lain, salah satunya bidang ketenagakerjaan. Untuk itu, Pemerintah Indonesia mengajak seluruh stakeholder ketenagakerjaan agar optimis dalam menyambut kedatangan era digital tersebut, bahwa implikasi era digital dapat berampak positif terhadap kondisi ketenagakerjaan Indonesia.

“Sudah saatnya secara confidence kita mengantisipasi dampak nyata apa saja kepada pekerja, kepada jenis pekerja, kepada dunia usaha, kepada pelaku bisnis, kepada pemerintah atas segala rapid atau perubahan yang sangat cepat ini yang sangat dinamis dari teknologi yang saat ini sudah terjadi,” ujar Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Ketenagakerjaan RI (Kemnaker) Indah Anggoro Putri di Kantor Kemnaker, Jakarta Selatan, Jumat (19/5).

Dinamika Ketenagakerjaan Era Digital Harus Disikapi Optimis (Sumber Gambar : Nu Online)
Dinamika Ketenagakerjaan Era Digital Harus Disikapi Optimis (Sumber Gambar : Nu Online)

Dinamika Ketenagakerjaan Era Digital Harus Disikapi Optimis

Menurutnya, Pemerintah Indonesia memiliki atensi yang besar terhadap future of work. Ke depan, bagaimana Indonesia menyikapi perubahan karakter dunia kerja ini harus dibahas bersama oleh seluruh stakeholder ketenagakerjaan.

“Dari sisi pemerintah, deregulasi sudah menjadi keharusan yang mana harus kita lakukan. Me-review aturan-aturan ketenagakerjaan secara mendetail dan spesifik. Dan itu akan memberikan masukan pada rapat-rapat koordinasi dan teknis yang akan menunjang lagi dunia usaha dan kerja di era digitalisasi,” lanjutnya.

ArrahmahMedia.Com

“Marilah kita optimis memasuki era digitalisasi ekonomi yang berdampak pada dunia kerja kita, pada jenis-jenis pekerjaan kita, hubungan kerja kita. Tapi mari kita dengan bersatu seluruh pihak kita bisa mengatasi itu semua,” pungkasnya. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com PonPes, Pesantren ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com

Minggu, 04 Februari 2018

Mbah Muchit Terbaring Sakit

Jember, ArrahmahMedia.Com. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muchit Muzadi terbaring sakit selama beberapa hari di Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya.



Mbah Muchit Terbaring Sakit (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Muchit Terbaring Sakit (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Muchit Terbaring Sakit

Mbah Muchit, panggilan akrab sesepuh NU itu sekarang diboyong ke rumah adiknya KH Hasyim Muzadi di Malang Jawa Timur.

Pada 7 Mei lalu, Mbah Muchit mengantarkan istrinya ke rumah sakit Dr. Sutomo Surabaya untuk operasi katarak. Sebagai seorang suami, tentu saja Mbah Muchit menunggu sang istri tercinta sebelum dan setelah menjalani operasi.

ArrahmahMedia.Com

Begitu operasi selesai, istri Mbah Muchit diboyong ke RSI Surabaya untuk menjalani perawatan. Namun begitu sampai di situ, bukan hanya istri Mbah Muchit dirawat, tapi dirinya sendiri langsung drop, karena kelelahan.

ArrahmahMedia.Com

“Saat menelopon saya, Bapak (Mbah Muchit) bercerita sudah menghabiskan 4 infus,” kata salah satu putri Mbah Muchit, Inayah Sya’roni, Senin (26/5) di Jember.

Inayah menegaksan, sebernarnya dirinya sangat ingin menemani ibunya di Surabaya, tapi karena kesehatannya juga kurang baik akhirnya ayahnya yang menemani sang ibu.

Menurut Inayah, Mbah Muchit telah menjalani opname di rumah sakit tersebut sudah tiga kali dalam beberapa tahun terakhir ini. Persoalannya hanya kelelahan.

Mbah Muchit sebenarnya tak punya penyakit apa-apa. ”Makannya juga lahap, tak ada pantangan. Tapi kalau kecapekan biasanya langsung drop,” katanya.

Kendati demikian, Inayah mengaku gembira karena saat ini Mbah Muchit sudah pulang dari rumah sakit, dan saat ini masih beristirahat di Malang. “Kapan pulang ke Jember, Bapak tidak memastikan. Katanya masih mau istirahat,” pungkasnya. (ary)Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pesantren ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 03 Februari 2018

Habib Prof Quraish Shihab dan Tafsir al-Mizan Syi’ah

Oleh Nadirsyah Hosen

Salah satu alasan Habib Prof Quraish Shihab dituduh beraliran Syi’ah adalah karena dalam kitab tafsir karyanya, yaitu al-Misbah (15 jilid) beliau sering merujuk kepada tafsir al-Mizan karya Muhammad Hussein Thabathabai. Bagaimana ceritanya?

Habib Prof Quraish Shihab dan Tafsir al-Mizan Syi’ah (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Prof Quraish Shihab dan Tafsir al-Mizan Syi’ah (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Prof Quraish Shihab dan Tafsir al-Mizan Syi’ah

Di lemari buku almarhum Abah saya (Prof KH Ibrahim Hosen) ada satu set komplit (21 jilid) tafsir al-Mizan. Sekitar tahun 1990 Abah saya berdecak kagum membaca ulasan dari kitab tafsir ini. Saat itu saya tanyakan kepada Abah kenapa membeli tafsir milik ulama Syi’ah. Abah menjawab, "Ini kitab tafsir bagus, Habib Quraish yang merokemendasikan dan ternyata beliau benar, isinya luar biasa". Saya bertanya, "kalau begitu saya juga boleh membacanya?" Abah mengangguk.

ArrahmahMedia.Com

Jadi kekaguman Habib Prof Quraish Shihab terhadap karya Thabathabai itu sudah sejak dulu. Itu sebabnya kitab tafsir al-Misbah banyak mengutip Tafsir al-Mizan. Tapi apakah fakta ini menjadikan Habib Prof Quraish seorang Syi’ah? Saya berpendapat, "Tidak!"

Pertama, merupakan hal wajar seorang Profesor seperti Quraish Shihab dan juga Abah saya membaca kitab lintas mazhab. Di lemari buku Abah saya juga terdapat Tafsir al-Kasyaf karya Zamakhsyari yang beraliran Mutazilah. Juga ada kitab Nailul Authar karya Syaukani yang berasal dari tradisi Syi’ah Zaidiyah dan kabarnya kemudian beralih ke mazhab Zahiri. Karya Syaukani lainnya yang saya temukan di perpustakaan Abah saya adalah kitab Irsyadul Fuhul yang mengupas Ushul al-Fiqh. Jadi, para guru besar itu memang membaca dan mengoleksi literatur dalam berbagai mazhab. Kalau gak gitu, ya bukan guru besar dong.

ArrahmahMedia.Com

Kedua, keliru besar kalau dikatakan tafsir al-Misbah hanya merujuk pada tafsir al-Mizan. Kalau kita baca dengan seksama, Habib Prof Quraish itu sangat mengagumi al-Biqai yang menulis kitab tafsir Nazm al-Durar. Karya al-Biqai ini menjadi bahan kajian disertasi Habib Prof Quraish Shihab di al-Azhar Cairo. Selain al-Biqai dan Thabathabai, beliau juga merujuk kepada Tafsir fi Zhilalil Quran karya Sayid Quthb dan al-Tahrir wa al-Tanwir karya Ibn Asyur. Jadi, paling tidak ada 4 kitab tafsir utama yang dirujuk oleh Tafsir al-Misbahnya Habib Prof Quraish Shihab: Thabathabai yang beraliran Syi’ah Imamiyah, al-Biqai yang bermazhab Syafii, Sayid Quthb ulama konservatif dari Ikhwanul Muslimin, dan Ibn Asyur ulama progresif bermazhab Maliki.

Selain keempat kitab tafsir utama di atas, Habib Prof Quraish Shihab juga merujuk kepada kitab tafsir lainnya semisal Tafsir al-Wasith karya Sayid Thantawi (mantan Grand Syekh al-Azhar) dan juga kitab tafsir klasik semisal Tafsir al-Qurtubi. Dengan kata lain, tafsir al-Misbah tidak hanya merujuk kepada tafsir Syi’ah karya Thabathabai tapi juga kitab tafsir lainnya termasuk tafsir konservatif milik Sayid Quthb. Tentu menakjubkan karya tokoh Syi’ah-Sunni, progresif dan konservatif, klasik-modern semuanya diakomodir dalam tafsir al-Misbah. Ini menunjukkan pendekatan beliau yang luas dan luwes.

Ketiga, meskipun beliau mengutip tafsir al-Mizan karya ulama Syi’ah, namun dalam beberapa pembahasan Habib Prof Quraish Shihab terang-terangan menunjukkan perbedaan pandangan beliau dengan Thabathabai. Ini sikap ilmiah beliau. Misalnya yang paling jelas dalam Surat Abasa. Sejak lama ulama Sunni berbeda pandangan dengan ulama Syi’ah mengenai apakah Nabi Muhammad yang mendapat teguran Allah dalam surat tersebut atau orang lain. Setelah menguraikan pandangan Thabathabai, beliau menulis: "Hanya saja, alasan-alasan yang dikemukakannya tidak sepenuhnya tepat". Dengan kata lain, Habib Prof Quraish Shihab berpandangan sama dengan ulama Sunni dalam surat Abasa ini. Ini bukti yang teramat jelas bahwa beliau bukan seorang Syi’ah.

Perbedaan pandangan lainnya bisa terlihat saat membahas surat al-Hujurat ayat 12. Thabathabai menganggap larangan ghibah di ayat ini hanya berlaku jika yang digunjing itu seorang Muslim sebagaimana diisyaratkan oleh kata "akh/saudara" dalam ayat ini. Dengan merujuk pada QS al-Taubah: 9 yang menegaskan persaudaran seagama itu menggunakan redaksi "ikhwanukum fid din" Habib Prof Quraish Shihab tidak menyetujui pendapat Thabathabai di atas. Dengan demikian beliau berpendapat kata "akh/saudara" dalam al-Hujurat:12 tidak hanya berlaku untuk sesama Muslim. Ini contoh bagaimana Tafsir al-Misbah berbeda pandangan dengan Tafsir al-Mizan. Dalam dunia ilmiah, hal ini wajar saja.

Dari ketiga poin di atas terbantahlah mereka yang menganggap Habib Prof Quraish Shihab sebagai Syi’ah dikarenakan beliau merujuk kepada tafsir al-Mizan ulama Syi’ah. Semoga ini bisa meluruskan fitnah keji yang terus menerus diedarkan oleh sementara pihak terhadap beliau. Semoga beliau selalu dikaruniai kesehatan dan dijaga oleh Allah dalam membina umat lewat keteladanan, kesantunan dan kedalaman ilmu beliau.

Penulis adalah Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School



Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pesantren ArrahmahMedia.Com

Rabu, 24 Januari 2018

Gus Dur Nilai Positif-Negatif Pemerintahan SBY-JK

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memberikan penilaian terhadap kinerja pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK) selama tahun 2006. Sejumlah titik positif dan negatif dibeberkan Gus Dur dalam refleksi akhir tahunnya.

Penilaian obyektif mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu meliputi bidang hukum, kerukunan antarumat beragama, ekonomi dan keamanan. Hal itu disampaikannya kepada wartawan di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (26/12).

Gus Dur Nilai Positif-Negatif Pemerintahan SBY-JK (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Nilai Positif-Negatif Pemerintahan SBY-JK (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Nilai Positif-Negatif Pemerintahan SBY-JK

Menurutnya, tahun 2006 ini merupakan tahun dengan catatan positif bagi kerukunan umat beragama. Konsep dialog antarumat beragama mulai dijalankan semua pihak untuk mencegah tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama.

“Catatan positif pemerintahan SBY-JK dalam kehidupan beragama lebih dialogis. Imbasnya tentu sangat baik, seperti kemarin, FBR (Forum Betawi Rempug: Red) bisa mengamankan Natal. Ini kan sebuah prestasi,” terang Gus Dur.

Di bidang hukum, Gus Dur menilai, pemerintah dinilai masih terkesan setengah hati dalam menetapkan kebijakan hukum. Ia mencontohkan proses penegakan hukum dalam upaya pemberantasan korupsi. “Karena itu, wajar saja bila masyarakat belum sepenuh hati bisa percaya kepada pemerintah,” tandasnya.

Tak berbeda dengan bidang hukum, menurut Gus Dur, sektor ekonomi pun dinilainya masih buram. Khususnya masalah kenaikan harga beras yang terjadi belakangan ini.

ArrahmahMedia.Com

“Permasalahan harga beras, kenapa bisa terjadi spekulasi macam itu. Nah, ini kan salah satu indikasi bahwa perekonomian kita masih buram,” ujarnya.

Secara umum, lanjut Gus Dur, hal itu disebabkan karena konsep perekonomian di negeri ini masih bertumpu pada konsep pertumbuhan. Padahal, katanya, konsep pertumbuhan ekonomi itu harus diiringi dengan konsep pemerataan dalam mewujudkan kemakmuran. “Harus ada keseimbangan antara pertumbuhan dan distribusi,” pungkasnya.

Dalam bidang keamanan, Gus Dur menyoroti perkembangan politik di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) pasca-pemilihan kepala daerah (Pilkada) beberapa waktu lalu. Menurutnya, tak ada ada yang perlu dikhawatirkan terhadap situasi keamanan di Serambi Mekah tersebut, selama Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih dipertahankan.

“Kemenanganan kelompok GAM (Gerakan Aceh Merdeka: Red) dalam Pilkada memang harus disambut baik, tapi tetap kita harus waspada. Kewajiban kita bersamalah untuk mempertahankan TNI di Aceh,” tegas Gus Dur.

ArrahmahMedia.Com

Ketua Umum Dewan Syura DPP Partai Kebangkitan Bangsa itu menyimpulkan tiga hal terhadap kepemimpinan SBY-JK. Selama tahun 2006, ia menilai hubungan kedua pemimpin itu berlangsung tidak harmonis.

Pertama, menurutnya, kepemimpinan di Indonesia masih belum pasti, penuh keragu-raguan. Kedua, masyarakat belum punya kepercayaan terhadap pemerintah. Ketiga, kebijakan pemerintah dalam banyak hal masih separuh-separuh.

Selain mengungkapkan refleksi kepemimpinan SBY-JK selama 2006, Gus Dur juga mengungkapkan prediksi pemerintahan tahun 2007. Dia menilai pemerintahan akan lebih baik jika SBY-JK tidak lagi jalan sendiri-sendiri.

Namun ada hal yang patut diwaspadai juga, yaitu adanya kepentingan-kepentingan dari golongan tertentu atau partai tertentu yang terkadang mempengaruhi proses politik di Indonesia. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pesantren, Pertandingan ArrahmahMedia.Com

Jumat, 29 Desember 2017

KOPRI PMII Subang Gelar Pelatihan Public Speaking

Subang, ArrahmahMedia.Com. Korp Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Cabang Subang menggelar pelatihan Keterampilan berbicara di depan public (Public Speaking,red) di Gedung Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Subang. 

KOPRI PMII Subang Gelar Pelatihan Public Speaking (Sumber Gambar : Nu Online)
KOPRI PMII Subang Gelar Pelatihan Public Speaking (Sumber Gambar : Nu Online)

KOPRI PMII Subang Gelar Pelatihan Public Speaking

Acara yang diikuti oleh utusan PMII Se Jawa Barat tersebut dilakasanakan selama dua hari, yakni pada hari Sabtu-Ahad (15-16 Juni 2013).

Ketua Panitia, Gita Sugiarti menjelaskan kegiatan tersebut merupakan penjewantahan kaderisasi di tubuh badan semi otonom dari Pergerakan PMII Cabang Subang.

ArrahmahMedia.Com

“Kegiatan ini adalah bagian dari proses kaderisasi yang berjenjang, dimana setiap kader PMII harus mempunyai kemampuan berbicara dengan melakukan permainan bahasa di depan public. Terlebih, PMII sebagai agent of change (agen perubahan) harus menguasai keahlian ini karena ide dan gagasannya sudah sepatutnya menjadi konsumsi publik,” paparnya.

ArrahmahMedia.Com

Ketua KOPRI Cabang Subang, Neneng Nurhasanah menegaskan bahwa dengan kegiatan tersebut akan menjawab segala kegelisahan selama ini bahwa mahasiswi selalu dianggap kurang mahir dalam berbicara di muka umum.

“Ini akan menegaskan dan menjawab segala keresahan yang selama ini selalu menghantui mahasiswi-mahasiswi di berbagai kampus. Dengankemampuan berdialektika dan beretorika di depan umum, tentu suatu saat tidak akan dipandang sebelah mata lagi,” tegas Neneng.

Hadir sebagai pemateri diantaranya Ketua Gerakan Pemuda Ansor cabang Subang, Asep Alamsyah Heridinata, Pengurus Besar (PB) PMII Chepy Aprianto, Ketua Jaringan Kerukunan Antar Ummat Beragama (Jakatarub,red) yang juga sebagai Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Wawan Gunawan, Majelis Pembina Cabang (Mabincab) PMII Subang, Zainal Abidin, Pengurus KOPRI Jawa Barat, Ai Rahma, Evie Nafsiah, dan Yessy Fitrianti, serta dihadiri oleh Ketua Umum PMII Cabang Subang Ade Mahmudin.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pesantren, Ubudiyah, IMNU ArrahmahMedia.Com

Kamis, 21 Desember 2017

KH Ridwan Mujahid, Pendiri NU Asal Semarang

Mengenang kembali sosok pendiri Nahdlatul Ulama (NU) asal Semarang bernama KH Ridwan Mujahid sangat dibutuhkan. Belum banyak orang mengetahui sosoknya. KH Ridwan Mujahid berasal dari Kauman Semarang. Sebagaimana disebutkan oleh Agus Tiyanto, KH Ridwan Mujahid adalah keturunan dari kiai Lasem yang sama dengan kerabat KH Makshum dan KH Baidlawi yang bersambung nasabnya hingga Mbah Sambu. Silsilah KH Ridwan Mujahid yang didapatkan Amirul Ulum dari KH Maimun Zubair dalam buku "Muassis Nahdlatul Ulama" adalah: KH Ridwan bin KH Mujahid bin KH Baidlawi bin Kiai Abdul Lathif bin Kiai Abdul Bar bin Kiai Abdul Alim bin Sayyid Abdurrahman (Mbah Sambu Lasem). Makam KH Ridwan Mujahid berada di Pemakaman Umum Bergota (tepatnya di selatan Makam KH Sholeh Darat, satu area makam keluarga H. Abu Bakar Kauman).

Dalam buku “Kemelut di NU Antara Kiai dan Politisi” karya Abdul Basith Adnan disebutkan peran besar KH Ridwan Mujahid. Jasanya dalam membentuk organisasi ulama pesantren bersama KH M Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah tidak dapat dilupakan. Ulama yang semula berkumpul untuk membahas persoalan negeri Hijaz bernama Komite Hijaz, berubah nama dengan Nahdlatul Ulama.

KH Ridwan Mujahid, Pendiri NU Asal Semarang (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ridwan Mujahid, Pendiri NU Asal Semarang (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ridwan Mujahid, Pendiri NU Asal Semarang

Usaha mengenalkan NU di Semarang bagi KH Ridwan Mujahid awalnya tidak mudah. Namun berkat ajaran Islam ahlussunnah wal jama’ah yang ditinggalkan oleh KH Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani (KH Sholeh Darat), maka NU mudah dikenal dan diikuti oleh warga Semarang. Sehingga ketika NU diresmikan pada tahun 1926, masyarakat Semarang dan sekitarnya mudah menerima dan mengakar dalam sanubari (Amirul Ulum: 2014).

KH Ridwan Mujahid adalah salah satu murid KH Sholeh Darat. Perkenalan KH Ridwan Mujahid dengan KH M Hasyim Asy’ari lebih karena keduanya merupakan murid KH Sholeh Darat saat mondok di Pesantren Darat Semarang. Maka perjuangan mendirikan NU merupakan hasil dari kerjasama para murid sesepuh ulama Nusantara semisal: KH Cholil Bangkalan, KH Sholeh Darat Semarang, KH Nawawi Banten, KH Mahfudz Termas dan ulama lainnya.

ArrahmahMedia.Com

Murid KH Sholeh Darat lainnya yang berjuang menegakkan Ahlussunnal wal Jama’ah di Semarang antara lain KH Ridwan bin Mujahid, Kiai Sya’ban bin Hasan, Kiai Thahir Mangkang, Kiai Sahli Kauman, Kiai Ali Barkan, Kiai Abdullah Sajad dan lain-lain. Anasom dalam papernya “KH Saleh bin Umar dan Pondok Pesantren Darat” menyebutkan bahwa salah satu karya KH Ridwan Mujahid Semarang adalah “I’anatul ‘Awam fi Mufhimmati Syara’ Al-Islam”.

KH Ridwan Mujahid selain dikenal sebagai Kiai yang berjuang dalam pengembangan organisasi NU juga dikenal mengembangkan dakwah di Pesantren. Salah satu muridnya yang juga bersama-sama mendirikan NU adalah KH Ma’shum Ahmad Lasem Rembang. Dengan demikian semakin nyata, bahwa perjuangan keagamaan, dakwah dan pesantren menjadi semangat yang dimiliki oleh KH Ridwan Mujahid.

ArrahmahMedia.Com

Keakraban KH Ridwan Mujahid dengan para pendiri NU lainnya sudah tidak asing. KH Ridwan Mujahid bersama ulama Jawa Tengah lainnya, KHR Asnawi Kudus dan KH Kamal Hambali Kudus turut serta hadir dalam deklarasi pendirian NU pada 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926 M di kediaman KH Abdul Wahab Chasbullah Kertopaten Surabaya.

Di antara ulama yang hadir dalam pendirian NU di Surabaya berasal dari Semarang, Kudus, Tegal, Jombang, Sidoarjo, Pasuruhan, Bangkalan Madura, Gresik, Bangil,? Mojokerto dan Mesir. Mereka antara lain: KH Abdul Wahab Chasbullah, KH M Hasyim Asy’ari, KHR Muntaha (menantu KH Cholil Bangkalan), Kiai Mas Nawawi, KHR Asnawi, KH Kamal Hambali, KH Ridwan Mujahid, KH Muhammad Zubair Gresik, Syaikh Ahmad Ghonaim Al Mishri dan lain-lain.

Oleh para pendiri NU, KH Ridwan Mujahid diamanahi sebagai Musytasyar Syuriyah dalam struktut Pengurus NU periode pertama bersama dengan: KH Muhammad Zubair Gresik, KHR Muntaha Bangkalan Madura, KH Mas Nawawi Sidogiri, Syaikh Ahmad Ghonaim Al Mishri, KHR Asnawi Kudus dan KH Kamal Hambali Kudus. Adapun Rois Akbar dipegang oleh KH M Hasyim Asy’ari dan Katib KH Abdul Wahab Chasbullah.

Keberadaan KH Ridwan Mujahid dalam struktur NU semakin membawa daya tarik bagi masyarakat Semarang. Maka KH Ridwan Mujahid mengajak KH Abdullah dan KH Showam untuk mendirikan NU Kota Semarang. Tepat tanggal 24 April 1926, pengurus NU Cabang Kota Semarang berdiri dan dilantik oleh Katib Syuriyah KH Abdul Wahab Chasbullah yang berpusat di Surabaya. Lokasi pelantikan berada di Alun-Alun Kota Semarang yang berada di depan Masjid Agung Kauman Semarang.

Keberadaan resmi NU Cabang Semarang ini menjadi titik perjuangan para Kiai dalam mengenalkan Islam ahlussunnah wal jama’ah.Dan pergerakan NU Kota Semarang menjadi ringan karena ditopang oleh murid-murid KH Sholeh Darat yang sudah lebih dulu mengenalkan ahlussunnah wal jama’ah sebelum NU lahir dan berdiri di Semarang.

Walapun sudah dilantik dan resmi berdiri di Semarang, oleh karena NU belum memiliki gedung, maka koordinasi NU masih secara tradisional dari Masjid ke Masjid. Di antara Masjid yang sering digunakan untuk koordinasi NU adalah Masjid Nahdlatul Ulama di Jomblang Kecamatan Candisari Kota Semarang. Zainul Milal Bizawie (2016) mencatat sejak 1916 sudah berdiri Madrasah Nahdlatul Wathan di Surabaya dan mempunyai Cabang di Semarang yang bernama Madrasah Akhul Wathan. Oleh Choirul Anam (2015) lokasi Madrasah Cabang Nahdlatul Wathan di Semarang berada di Jomblangan Kidul.

Dalam catatan Amirul Ulum disebutkan bahwa NU Kota Semarang hingga tahun 1950-an masih menempati sekretariat di rumah-rumah pengurus. Di antara tempat yang dijadikan bascamp koordinasi pengurus NU adalah di rumah KH Irhas (Ketua Syuriyah tahun 1950-an). Pada tahun 1970-an NU Semarang memiliki gedung di Jalan Sudirman dari hasil wakaf. Anasom menjelaskan, sejak 1992 hingga sekarang, NU Semarang menempati gedung di Jalan Puspogiwang Semarang.

Kematangan organisasi KH Ridwan Mujahid dalam berkhidmah kepada NU ditunjukkan dengan kesiapan Semarang sebagai tuan rumah Muktamar NU keempat. Muktamar NU keempat adalah pertama kalinya Muktamar yang digelar di luar Kota Surabaya. Dikisahkan bahwa dalam kegiatan Muktamar NU keempat ini, KH Ridwan Mujahib berperan kuat dalam mensukseskan.

Muktamar NU keempat digelar pada 12-15 Rabiuts Tsani 1348 H/17-20 September 1929 M di Hotel Arabistan Kampung Melayu Semarang. Muktamar di Semarang tergolong sukses karena dihadiri 1.450 peserta terdiri dari 350 Kiai, 900 pengawal Kiai dan 200 pengurus Tanfidziyah. Saat Muktamar keempat di Semarang sudah terdaftar: 63 Cabang (13 Jawa Barat, 27 Jawa Tengah dan 23 Cabang Surabaya dan Madura).

Penutupan Muktamar Semarang juga sangat meriah karena digelar di Alun-Alun Semarang dengan dihadiri 10.000 jama’ah. Muktamar Semarang dihadiri langsung oleh Rais Akbar KH M Hasyim Asy’ari dinilai sebagai tonggak awal perkenalan NU daerah-daerah di luar Surabaya (Choirul Anam: 2015).

Melihat sepak terjang yang tidak kenal lelah dari KH Ridwan Mujahid, maka semangat ini patut ditiru oleh para generasi muda saat ini dalam memperjuangkan NU. Termasuk belum terungkapnya kisah-kisah lain dari KH Ridwan Mujahid masih perlu diperdalam. Sehingga dibutuhkan waktu lagi untuk melacak kiprahnya dalam semangat mendirikan NU dan menyebarkan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

M. Rikza Chamami, Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang dan Dosen UIN Walisongo



Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pesantren, Pemurnian Aqidah, PonPes ArrahmahMedia.Com

Jumat, 15 Desember 2017

Pengasuh Pesantren Ash-Shidiqqi Lampung Tengah Wafat

Lampung Tengah, ArrahmahMedia.Com?

Keluarga besar Nahdlatul Ulama Provinsi Lampung berduka lantaran salah seorang kiainya, KH Ahmad Zuhri wafat pada Senin (1/5) bertepatan 4 Syaban 1438 H sekitar pukul 14.40. Kiai Ahmad Zuhri yang wafat pada usia 67 tahun itu adalah Pengasuh Pesantren Ash-Shidiqqi Dusun Sragen, Kampung Mataram Ilir, Kecamatan Seputih Surabaya, Kabupaten Lampung Tengah.

Ribuan takziyah menjadi saksi pemakamannya di kompleks pesantren Ash-Shidiqqi, tepatnya di belakang masjid Baitush Sholihin. Iqror dan pemakaman al-maghfurlah KH Ahmad Zuhri dipimpin KH Syamsudin Thohir, sesepuh NU Kota Metro sekaligus Mustasyar PWNU Provinsi Lampung.

Pengasuh Pesantren Ash-Shidiqqi Lampung Tengah Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengasuh Pesantren Ash-Shidiqqi Lampung Tengah Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengasuh Pesantren Ash-Shidiqqi Lampung Tengah Wafat

Miftakhul Izza, salah satu alumni pesantren Ash-Shidiqqi mengatakan, informasi dari beberapa kerabat dan alumni pesantren. Ia menyebutkan bahwa almarhum beberapa bulan lalu jatuh sakit. Lalu berobatr di rumah sakit baik di Bandar Lampung hingga ke pulau Jawa.

?

"Abah Yai selama muda sudah aktif di NU mulai dari IPNU sejak di Semarang Jawa Tengah. Selain mengasuh pesantren, beliau mempunyai keistimewaan, suaranya yang merdu nan indah bahkan hingga hari ini, beliau meniru abahnya,” katanya. ?

ArrahmahMedia.Com

Di masa awal Reformasi, lanjut Wakil Sekretaris Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Lampung Tengah ini, Kiai Ahmad Zuhri pernah aktif di partai politik hingga menjadi anggota legislatif ? di DPRD Provinsi Lampung dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). (Akhmad Syarief Kurniawan/Abdullah Alawi)

?

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Hikmah, Pesantren, Kajian ArrahmahMedia.Com

Minggu, 10 Desember 2017

Khofifah Tegaskan Pentingnya Medsos untuk Syiar Muslimat NU

Bogor, ArrahmahMedia.Com. Melihat maraknya pemanfaatan media sosial (medsos) untuk tujuan-tujuan negatif, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Hj Khofifah Indar Parawansa mendorong kepada para kader agar medsos dimaksimalkan untuk syiar kebaikan.

Khofifah Tegaskan Pentingnya Medsos untuk Syiar Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Tegaskan Pentingnya Medsos untuk Syiar Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Tegaskan Pentingnya Medsos untuk Syiar Muslimat NU

Menteri Sosial RI ini tidak memungkiri, tak sedikit ibu-ibu Muslimat yang mempunyai persepsi bahwa menyebar kebaikan di medsos termasuk pamer atau riya.

“Kebaikan yang disebar di medsos bukan riya atau pamer, tetapi bagian dari syiar kebaikan Muslimat NU,” tegas Khofifah dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Muslimat NU, Ahad (26/30 di Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Khofifah memandang, Muslimat NU yang saat ini telah mempunyai sejumlah perangkat organisasi di berbagai bidang seperti koperasi, pendidikan, dakwah, dan kesehatan bisa menjadi ladang syiar. Apalagi semua perangkat itu telah berjalan dengan baik di berbagai daerah.

Perempuan kelahiran Surabaya 51 tahun yang lalu ini juga menerangkan, saat ini dakwah tidak bisa hanya dilakukan di dunia nyata, tetapi juga dunia maya. Dia menyebut langkah ini dengan sebutan dakwah bil IT, dakwah dengan memanfaatkan teknologi informasi.

ArrahmahMedia.Com

Untuk memperkuat pola dakwah di media sosial, dalam kesempatan Rapimnas tersebut, Muslimat NU menghadirkan Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Industri Kreatif dari Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Irfan Wahid.

ArrahmahMedia.Com

Dia mengungkapkan rumus “Prabu Kreatif” (Praktis, Menghibur, Kredibel, dan Inspiratif). Dengan formula tersebut, menurut Irfan, konten yang disusun Muslimat NU akan menjadi juara di media sosial.

Terkait hal ini, Khofifah mengatakan, berbagai inovasi dan inisiatif telah dilakukan para ibu-ibu Muslimat NU di berbagai pelosok tanah air, namun diseminasi informasi mengenai hal ini masih belum maksimal.?

"Saya ingin menegaskan pemahaman kepada ibu-ibu, menyampaikan program kerja dan kegiatan di wilayah masing-masing lewat media sosial itu bukan riya atau pamer. Kalau ibu-ibu mengikuti rumus? Prabu Kreatif tadi, maka saya yakin konten yang ibu sebarkan pasti bermanfaat bagi masyarakat," ujar Kofifah optimistis. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pesantren, Olahraga, Kajian Islam ArrahmahMedia.Com

Kamis, 07 Desember 2017

Bidang Ekonomi Menjadi Fokus Garapan Muslimat

Pamekasan, ArrahmahMedia.Com. Ketua Pimpinan Pusat Muslimat NU Dr Hj Srimulyati menegaskan, bidang ekonomi merupakan salah satu fokus garapan Pimpinan Pusat Muslimat NU, di samping bidang lainnya. Semua mengarah pada visi Muslimat dalam pemberdayaan perempuan.

Bidang Ekonomi Menjadi Fokus Garapan Muslimat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bidang Ekonomi Menjadi Fokus Garapan Muslimat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bidang Ekonomi Menjadi Fokus Garapan Muslimat

Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan diklat fasilitasi pendidikan kompetensi aplikatif melalui kursus pengolahan hasil laut (ikan), Senin (1/12). Kegiatan yang ditempatkan di aula SMKN 3 Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur tersebut bekerja sama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (KDPDTT) RI dan direncanakan bakal berlangsung hingga Kamis (4/12) mendatang.

“Renstra Muslimat Pusat, diharapkan juga bisa diejawantahkan ke dalam tubuh Muslimat Cabang dan Anak Cabang. Sekalipun Pamekasan sudah tidak lagi tertinggal, pembinaan masih terus berlangsung. Utamanya di bidang sektor ekonomi. Kita akan terus berupaya supaya lebih baik dari sebelum-sebelumnya,” terangnya.

ArrahmahMedia.Com

Pada kesempatan yang sama, pejabat KDPDTT Dr Eko Rahmadi menegaskan, saat ini pihaknya masih punya misi 50 daerah kabupaten/kota tertinggal menjadi tidak tertinggal atau maju. Dan pihaknya mengakui, peran serta Muslimat NU sangat vital. Karenanya, Muslimat NU telah melakukan MoU dengan KDPDTT.

ArrahmahMedia.Com

“Kursus ini menekankan pendidikan aplikatif berdasarkan kompetensi. Pademawu dan Tlanakan merupakan kecamatan yang dekat dengan laut dan banyak masyarakatnya yang jadi nelayan. Pendidikan dan keterampilan, diharapkan bisa meningkatkan keahlian ibu-ibu mengolah bahan dasar hasil laut. Mohon untuk nantinya dicoba atau hasil pelatihan ini dipraktikkan langsung,” tandasnya.

Bupati Pamekasan Achmad Syafii, tampak sangat mengapresiasi kursus yang diyakini banyak manfaatnya itu. Menurutnya, sangat benar pemerintah RI menjalin kerja sama dengan Muslimat. Muslimat merupakan organisasi perempuan terbesar di Indonesia. Dan, perannya sudah nyata.

“Di Pamekasan saja, dalam melek huruf, peran serta Muslimat sangat besar. Sehingga, buta huruf dapat ditekan sedemikian rupa. Presiden kita mencanangkan penguatan maritim. Ini potensi yang selama ini diabaikan. Indonesia ini terluas maritim nomor 2 sedunia. Potensi laut sangat besar. Untuk itu, kursus yang nantinya memanfaatkan potensi laut ini, sangat besar manfaatnya,” tukasnya. (Hairul Anam/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pertandingan, Pesantren ArrahmahMedia.Com

Senin, 04 Desember 2017

Tertimpa Pohon Tumbang, Madin Nurul Jadid Lakukan Perbaikan

Sragen, ArrahmahMedia.Com. Usai disapu angin puting beliung dan tertimpa pohon tumbang, Madrasah Diniyyah Nurul Jadid dusun Karangatengah desa Toro Kacangan kecamatan Sumberlawang, Sragen saat ini tengah melakukan perbaikan gedung tempat belajar para santri.

Tertimpa Pohon Tumbang, Madin Nurul Jadid Lakukan Perbaikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tertimpa Pohon Tumbang, Madin Nurul Jadid Lakukan Perbaikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tertimpa Pohon Tumbang, Madin Nurul Jadid Lakukan Perbaikan

Menurut pengasuh Madin Nurul Jadid Maryono, puting beliung telah menyapu pepohonan di sekitar madin. Pepohonan tumbang itu kemudian menimbun tempat belajar santri.

“Peristiwa itu terjadi sekitar akhir April lalu. Saat ini sudah mulai diperbaiki lagi. Alhamdulillah sudah ada donatur dari teman media sosial Facebook 300 ribu,” ujar Maryono yang juga pengurus Ansor Sragen kepada ArrahmahMedia.Com, Jum’at (16/5).

ArrahmahMedia.Com

Madin yang berlokasi dipinggir jalan raya Solo-Purwodadi ini memberikan fasilitas pendidikan gratis bagi seluruh santri. Lembaga pendidikan ini kini menampung 120 santri yang terdiri dari santri kurang mampu serta anak yatim.

ArrahmahMedia.Com

Robohnya bangunan tempat belajar, kegiatan belajar-mengajar para santri sempat sedikit terkendala terutama untuk menyediakan tempat baru sambil menunggu perbaikan tempat belajar sebelumnya.

Di kompleks madin terdapat pesantren dan TK serta PAUD. Namun pengurus kini tengah merintis pembangunan keduanya. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pesantren ArrahmahMedia.Com

Jumat, 01 Desember 2017

Panitia Konferwil NU Sulsel Terbentuk

Makassar, ArrahmahMedia.Com. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Sulawesi Selatan tengah mempersiapkan hajatan 5 tahun sekali yakni Konferensi Wilayah (Konferwil) NU Sulsel.

Panitia Konferwil NU Sulsel Terbentuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Panitia Konferwil NU Sulsel Terbentuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Panitia Konferwil NU Sulsel Terbentuk

Panitia Konferwil pun terbentuk dalam rapat lengkap Syuriyah dan Tanfidziyah PWNU Sulsel beserta para Ketua Lajnah-Lembaga dan Badan Otonom NU di kediaman Rais Syuriyah PWNU Sulsel DR. AGH. M. Sanusi Baco, Lc, Senin (11/3).

Sebelum diadakannya rapat, Pengurus Tanfidziyah meminta terlebih dahulu nasehat dan petunjuk Rais Syuriyah PWNU Sulsel demi kelancaran dan kemudahan proses konferwil 12 NU Sulsel. Rais Syuriyah menekankan perlunya sikap ikhlas mengurus NU dan meminta ketika panitia terbentuk bekerja sama-sama, agar pekerjaan berat bisa menjadi lebih mudah.

ArrahmahMedia.Com

Setelah diadakan diskusi antara pengurus tanfidziyah dan meminta persetujuan pengurus Syuriyah terpilihlah Drs. H. Abd. Rauf Assegaf, M.Pd sebagai Ketua Panitia dan Amiruddin Aminullah, SH.I, MH.I sebagai Sekretaris Panitia. Sebelumnya Prof. DR. H. Arfin Hamid, MH terpilih sebagai Ketua Steering Committee untuk mengawal jalannya persidangan Konferwil nanti. 

Pada hari itu pula diputuskan Konferwil ke-12 NU Sulsel akan diselenggarakan pada tanggal 29 – 31 Maret 2012 di Kab. Pangkep yg bertempat di Pondok Pesantren Padallampe Dahrul Mukhlisin. Pemilihan tempat ini didasarkan oleh kesepakatan pengurus melihat NU berasal dari Pesantren dan kembali juga mesti harus di Pesantren.

ArrahmahMedia.Com

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Andy Muhammad Idris 

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pesantren, Pendidikan, Hadits ArrahmahMedia.Com

Selasa, 28 November 2017

Perdebatan Dasar Negara Indonesia Tak Kunjung Usai

"Ringkasnya, Al-Qur’an tampaknya tidak tertarik pada teori khas tentang negara yang harus diikuti oleh umat Islam. Perhatian utama Al-Qur’an ialah agar masyarakat ditegakkan atas keadilan dan moralitas.” (hal. 24)

Saya kira buku yang ditulis Syafii Ma’arif ini menjadi rujukan penting terkait dengan perdebatan panjang penetapan dasar negara Indonesia. Bukan hanya itu, Buya Syafii juga menarik ke belakang hingga zaman Nabi Muhammad, Khulafaur Rasyidin, dan zaman kekhalifahan Islam. Ia menyoroti satu per satu rangkaian peristiwa politik mulai dari zaman nabi hingga saat ini, khususnya apa yang terjadi di Indonesia.

Perdebatan Dasar Negara Indonesia Tak Kunjung Usai (Sumber Gambar : Nu Online)
Perdebatan Dasar Negara Indonesia Tak Kunjung Usai (Sumber Gambar : Nu Online)

Perdebatan Dasar Negara Indonesia Tak Kunjung Usai

Buku ini terbagi menjadi 4 bab. Bab pertama adalah pendahuluan. Pada bab ini, ia menguraikan poin-poin di bab 2, 3, dan 4. Selain itu, alasan melakukan studi tentang Islam dan Pancasila sebagai sebagai dasar negara juga dijelaskan di bab ini, yaitu ia merasa belum adanya studi yang agak lengkap tentang masalah dasar negara Indonesia.

ArrahmahMedia.Com

Bab kedua adalah tentang Islam dan Cita-cita politik. Di sini, ia dengan tegas mengatakan bahwa Al-Qur’an tidak memberikan pola pasti dalam mengelola negara yang harus diikuti oleh umat Islam. Umat Islam bebas menentukan model yang mana, asal asas syuro (musyawarah) harus diterapkan di dalamnya. Karena asas syuro ini lah yang menjadi inti dari Al-Qur’an dalam hal mengatur suatu negara.

Praktik syuro (musyawarah) pertama adalah pertemuan di Balai Banu Saidah untuk menentukan pengganti (khalifah) Nabi Muhammad. Pertemuan ini melibatkan semua pihak; perwakilan dari Muhajiri dan Ansar. Setelah perdebatan yang panjang, maka terpilihlah sahabat Abu Bakar sebagai khalifah.

ArrahmahMedia.Com

Namun sayang, praktik syuro (musyawarah) ini tidak berkembang pada zaman dinasti-dinasti Islam setelahnya. Mereka ‘mengaku’ sebagai kerajaan Islam, tetapi menggunakan sistem monarki dalam pergantian pemimpinnya, bukan pola musyawarah sebagaimana yang diajarkan oleh Al-Qur’an.

Bab tiga membahas tentang Islam Indonesia pada abad ke-20. Di bab ini, ia mencoba menguraikan peran dan kontribusi organisasi Islam modern yang bercorak sosio-kegamaan seperti Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, organisasi Islam tradisional seperti NU, dan organisasi Islam politik seperti Sarekat Islam pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Perlawanan umat Islam kepada penjajah dijelaskan secara rinci dan detil pada bab ini. Ia juga menyinggung permbentukan Masyumi –sebuah partai yang menjadi payung besar ormas Islam- dan perpecahannya hingga membuat ormas Islam itu berjalan sendiri-sendiri.

Bab terakhir, Islam dan Dasar Negara Indonesia. Penulis buku ini menilai, meskipun para pengusung negara Islam tersebut banyak bicara tentang negara yang berdasakan Islam, namun mereka belum berhasil menyusun karya sistematis dan ilmuah tentang konsep negara Islam yang mereka cita-citakan. Mereka yang ingin menjadikan agama Islam sebagai dasar negara Indonesia memandang bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah umat Islam dan Islam jauh lebih unggul dijadikan sebagai dasar negara daripada Pancasila ataupun ideologi lainnya. Maka dari itu, mereka menganggap Islam perlu diterapkan sebagai dasar di negara ini. Pada bab ini pula, penulis buku mengupas tuntas tentang konsep negara Islam yang digagas oleh M. Natsir, Zainal Abidin Ahmad, dan Muhammad Asad.

Antara mereka yang menjadi pendukung Pancasila dan yang mendukung Islam sebagai dasar negara saling serang. Bagi mereka yang mendukung Islam sebagai dasar negara menilai bahwa Pancasila itu sekuler karena sila-sila di dalamnya bukan berasal dari Allah, prinsip-prinsip Pancasila tidak memiliki kebulatan dan kesatuan yang logis, dan lainnya. Sementara yang pendukung Pancasila menolak bahwa Pancasila tidak memiliki kesatuan logika. Mereka juga menolak kalau Pancasila itu adalah sekuler karena mereka menganggap sumber pertama Pancasila adalah Islam.

Meski sudah disetujui bersama dalam sidang BPUPKI tentang Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, namun nyatanya kelompok yang ingin menjadikan Islam sebagai dasar negara masih saja terus ada hingga saat ini.

Sebetulnya, buku ini sudah pernah diterbitkan pada tahun 1985 dan tahun 2006. Namun pada tahun 2017 ini, penerbit Mizan kembali menerbitkan buku ini. Saya rasa ini hal yang bagus dan perlu agar bisa menjadi referensi mengingat semakin maraknya kelompok yang ingin merobohkan pondasi Negara Indonesia.? ?

Pada kata pengantar, Buya Syafii menuturkan bahwa perdebatan soal Islam dan Pancasila sebagai ideologi Negara Indonesia adalah perkara yang sudah usang dan kedaluarsa. Lebih baik, energi yang terkurang untuk perdebatan tersebut diarahkan untuk menyelesaikan segala permasalahan mendasar bangsa ini dan untuk membangun Indonesia yang lebih baik dan sejahtera.

Saya kira buku ini sangat bagus sekali karena kaya akan referensi. Selamat membaca.

Identitas buku

Judul? ? ? ? ? ? ? ? : Islam dan Pancasila Sebagai Dasar Negara

Penulis? ? ? ? ? ? : Ahmad Syafii Maarif

Penerbit? ? ? ? : Mizan

Cetakan? ? ? ? ? : I, Maret? 2017

Tebal? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : 312 hlm

ISBN? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : 978-602-441-015-5

Peresensi? ? ? : A Muchlishon Rochmat



Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pesantren, Lomba ArrahmahMedia.Com

Minggu, 26 November 2017

Kebijakan Pemerintah Harus Tegas

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Terjadinya penyiksaan maupun pembunuhan terhadap TKI di luar negeri yang menimpa Sumiati, Haryatin, Kikim Komalasari dan lain-lain menunjukkan jika kebijakan yang dibuat pemerintah tidak tegas sehingga tidak efektif. Ini memalukan dan merendahkan harkat dan martabat banagsa Indonesia.

“Kebijakan yang dibuat harus tegas dan seefektif mungkin agar majikan TKI di luar negeri itu tidak seenaknya melakukan pelanggaran HAM sampai TKI ini cacat bahkan meninggal dunia,”tandas Ketua PBNU Kacung Marijan pada ArrahmahMedia.Com di Jakarta, Jumat (19/11).

Kebijakan Pemerintah Harus Tegas (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebijakan Pemerintah Harus Tegas (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebijakan Pemerintah Harus Tegas

Yang pasti menurut guru besar Universitas Airlangga Surabaya ini, peristiwa Ini bukan yang pertama kali terjadi, melainkan sudah sering terjadi. Baik di Saudi Arabia, Malaysia dan Negara-negara lain. Kasus ini menunjukkan kebijakan perlindungan terhadap TK di luar negeri ini masih lemah dan belum efektif.

ArrahmahMedia.Com

Sementara Indonesia dalam posisi subordinat di negara-negara tersebut. Sementara dari sisi sumber daya manusia (SDM), TKI yang dikirim tersebut kurang bagus dan tidak profesional. “Ke depan hal itu harus diperhatikan dengan memprioritaskan mereka yang terampil dan lebih professional,”tutur Kacung mengingatkan.

Penyiksaan terhadap TKI di Arab Saudi belum juga berakhir. Dua kasus terakhir menimpa Sumiati asal Dompu NTB, Haryatin asal Blitar Jatim, dan Kikim Komalasari asal Cianjur Jabar, yang tewas dibunh majikannya tiga hari menjelang hari raya idul Adha 1431 H di kota Abha, Saudi Arabia.

ArrahmahMedia.Com

Sedangkan Sumiati, mungkin masih lebih beruntung, nyawanya masih bisa diselamatkan dan kini dalam kondisi sudah membaik. Sumiati menderita luka parah di sekujur tubuhnya, bahkan sebagian bibirnya digunting majikannya. Saat ini, Sumiati sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit King Fahd, Madinah

Dalam merespon kasus pelanggaran HAM berat tersebut, selain mengadili pelaku sampai ke pengadilan, pemerintah juga akan melakukan kesepakatan(MoU) dengan pemerintah Arab Saudi dll dalam melindungi TKI tersebut. Bahkan para TKI di luar negeri itu nanti akan dilengkapi HP untukmelakukan komunikasi dengan KJRI (konsulat jenderal Republik Indonesia) maupun Kedubes RI setempat.(amf)Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pesantren ArrahmahMedia.Com

Jumat, 10 November 2017

50 Tim Ikuti Festival Shalawat Al Banjari

Surabaya, ArrahmahMedia.Com. Pada Ahad (22/11), Remaja Masjid Baiturrochman Gunung Anyar Lor Surabaya mengadakan pagelaran Festival Muharram 1437 H Shalawat Al Banjari se-Gerbangkertosusila (Gresik-Bangkalan-Mojokerto-Surabaya-Sidoarjo-Lamongan) yang diikuti oleh 50 peserta sebagaimana batasan kuota dari panitia.?

50 Tim Ikuti Festival Shalawat Al Banjari (Sumber Gambar : Nu Online)
50 Tim Ikuti Festival Shalawat Al Banjari (Sumber Gambar : Nu Online)

50 Tim Ikuti Festival Shalawat Al Banjari

"Tahun ini menjadi penyelenggaraan pertama," ungkap Ahmad Rowi, salah satu panitia.

Dalam lomba kali ini, tak ada pembagian kelas tertentu atau bisa disebut perlombaan rebana untuk kategori umum. Perlombaan ini memperebutkan tiga tim terbaik, vokal dan penerbang terbaik. Ketiga tim terbaik tadi diganjar dengan hadiah sebesar Rp2.500.000,- untuk juara pertama dan Rp1.500.000,- serta Rp1.000.000,- untuk peraih juara kedua dan ketiga.?

ArrahmahMedia.Com

Selain lomba Shalawat Al Banjari, ada juga bazar yang diadakan oleh pihak sponsor.?

"Harapannya, festival ini dapat terselenggara setahun sekali," pungkasnya.

ArrahmahMedia.Com

Para penonton memadati halaman masjid untuk melihat pagelaran lomba shalawat banjari ini secara langsung. Alasan mereka menonton secara langsung beragam. Mulai dari mengusir kebosanan, rasa penasaran dan masih ada alasan lainnya.(Hanan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pesantren, Meme Islam ArrahmahMedia.Com

Senin, 06 November 2017

Pokok Pikiran Kebangsaan KH Sahal Mahfudh

Para pendiri bangsa ini bercita-cita membangun bangsa ini secara utuh melalui seluruh batang tubuh Undang Undang Dasar 1945. Tujuan pembangunan bangsa ini adalah mewujudkan cita-cita sesuai yang diamanatkan oleh UUD 1945.

Dinamika yang muncul pada proses penyelenggaraan pembangunan ini dapat dianggap wajar apabila masih dalam bingkai tujuan itu. Akan tetapi ada beberapa persoalan yang akhir-akhir ini meresahkan pikiran saya –dan oleh karena itu patut didiskusikan bersama,? yakni:

Pokok Pikiran Kebangsaan KH Sahal Mahfudh (Sumber Gambar : Nu Online)
Pokok Pikiran Kebangsaan KH Sahal Mahfudh (Sumber Gambar : Nu Online)

Pokok Pikiran Kebangsaan KH Sahal Mahfudh

1. Ketatanegaraan

Otonomi daerah banyak mengalami komplikasi dan menjadi rawan terhadap konflik lokal dan politik uang sebagai akibat dari kebijakan one man one vote. Tidak semua persoalan ? –seperti agraria– patut untuk diserahkan kepada daerah, pusat seharusnya mempunyai kewenangan yang cukup besar mengatur hal-hal strategis bangsa.

ArrahmahMedia.Com

Kedudukan dan fungsi MPR sebagai lembaga tertinggi negara perlu diperjelas kembali, diantaranya dengan mengangkat kelompok tertentu –seperti kelompok adat dan minoritas lain– yang sulit terwakili dengan sistem pemilihan yang berlaku saat ini.

2. Ekonomi

ArrahmahMedia.Com

Walaupun globalisasi ekonomi sudah menjadi keniscayaan, perekonomian nasional semestinya tidak serta merta diserahkan kepada mekanisme pasar secara total. Pengalaman selama ini membuktikan bahwa kekuatan modal dan korporasi tidak membawa manfaat secara nyata dan merata kepada masyarakat. Negara seharusnya memperjelas kebijakan tentang perkoperasian dengan aturan yang lebih tegas dan berpihak. Negara harus diingatkan bahwa koperasi sebagai soko guru ekonomi tidak hanya sebatas jargon, tetapi harus menjadi semangat pengendalian perekonomian nasional.

3. Kebudayaan

Semangat kebangsaan (ukhuwah wathoniyah) harus secara terus menerus diperkuat kembali dengan cara apapun, baik melalui organisasi kemasyarakatan formal maupun non formal. Negara harus mempunyai strategi pengaturan masyarakat yang tegas dan kongkrit yang merujuk kepada Pancasila dan UUD 1945, sehingga ruang gerak dan pemikiran untuk mengubah asas dan dasar negara ini tidak semakin meluas. Negara harus menghidupkan kembali semangat gotong-royong (ta’awun) di level masyarakat sebagai gerakan pembanding terhadap perilaku hedonis, konsumtif, dan individualis yang telah menjadi perilaku sebagian masyarakat Indonesia.

Dengan demikian aspirasi untuk meninjau perubahan UUD 1945 secara selektif layak digulirkan untuk menyalakan kembali semangat berbangsa dan bernegara serta nasionalisme yang akhir-akhir ini cenderung redup, tentu saja dengan cara-cara yang arif dan memperhatikan kepentingan bangsa.

Pati, 7 Mei 2012

HMA. Sahal Mahfudh

?

*Disampaikan dalam roundtable discussion Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD), 8 Mei 2012 di kampus Universitas Diponegoro, Semarang.

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pesantren ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 04 November 2017

Hasil Zakat Infaq Shadaqah Tidak Boleh Mengendap

Pringsewu, ArrahmahMedia.Com

Ketua Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Pringsewu Khairuddin mengharapkan kepada para pengurus takmir masjid dan mushala agar mengelola dan menyalurkan perolehan zakat infaq shadaqah (ZIS) sesegera mungkin.

Hasil Zakat Infaq Shadaqah Tidak Boleh Mengendap (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasil Zakat Infaq Shadaqah Tidak Boleh Mengendap (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasil Zakat Infaq Shadaqah Tidak Boleh Mengendap

"Jangan sampai ZIS dari para muzakki mengendap sehingga tidak bermanfaat," katanya saat mengadakan Sosialisasi LAZISNU Kabupaten Pringsewu kepada Takmir Masjid dan Mushala di Kecamatan Pringsewu, Ahad (26/6).

Menurutnya, ketika ZIS tersebut tidak segera disalurkan maka manfaat dan pahalanya tidak dapat diperoleh oleh muzakkinya. "Mari segera salurkan, masih banyak yang membutuhkan dari ZIS tersebut," tuturnya.

ArrahmahMedia.Com

Jika kesulitan dalam penyalurannya, ia mengatakan bahwa LAZISNU Kabupaten Pringsewu siap bekerja sama dalam pengelolaan. "LAZISNU sudah memiliki 4 sektor sasaran dalam pemanfaatan ZIS yaitu di bidang pendidikan, sosial, ekonomi dan Kemandirian umat," jelasnya.

ArrahmahMedia.Com

Khairuddin menambahkan bahwa LAZISNU Kabupaten sudah memberikan kemudahan bagi yang akan menyetorkan zakat infaq dan shadaqahnya. "Ada 3 mekanisme penyetoran ZIS ke LAZISNU Kabupaten Pringsewu. Pertama, dengan menyetorkan langsung ke kantor LAZISNU Kabupaten Pringsewu yang berada di Lantai 3 Gedung PCNU Kabupaten Pringsewu," jelasnya.

Yang kedua lanjutnya melalui Rekening Lazisnu Kab Pringsewu pada BRI Cabang Pringsewu dengan nomor 035801016988536 untuk zakat dan di nomor 035801016989532 untuk infaq dan shadaqah.

"Mekanisme yang ketiga dengan menggunakan fasilitas layanan Jemput ZIS dengan menelpon atau SMS di nomor 081369718849," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Lomba, Doa, Pesantren ArrahmahMedia.Com

Kamis, 26 Oktober 2017

Ratusan Anggota GP Ansor Subang Dibaiat di Pesantren

Subang, ArrahmahMedia.Com. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Subang, Jawa Barat, menggelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) dan Pendidikan Latihan Dasar (Diklatsar) Barisan Ansor Serbaguna (Banser).

Acara yang dipusatkan di Pondok Pesantren Nurul Anwar, Kelurahan Dangdeur, Subang tersebut diikuti oleh 150 delegasi dari sejumlah Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor di seluruh Kabupaten Subang. Mereka mengikuti kegiatan tersebut sejak hari Jumat-Ahad (20-22/11/2015). Bertindak sebagai pembaiat KH. Zezen Zainal, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Anwar Subang.

Ratusan Anggota GP Ansor Subang Dibaiat di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Anggota GP Ansor Subang Dibaiat di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Anggota GP Ansor Subang Dibaiat di Pesantren

Panitia Pelaksana Ade Mahmudin mengatakan, sejak kelahirannya, GP Ansor diwarnai oleh semangat perjuangan, nasionalisme, pembebasan, dan epos kepahlawanan.

ArrahmahMedia.Com

"GP Ansor terlahir dalam suasana keterpaduan antara kepeloporan pemuda pasca Sumpah Pemuda, semangat kebangsaan, kerakyatan, dan sekaligus spirit keagamaan," ujar Ade usai penutupan PKD dan Diklatsar Banser, Ahad (22/11/2015).

Dikatakan, dengan semangat perjuangan itulah kemudian mampu diaktualisasikan dalam bentuk pemikiran dan sikap GP Ansor dalam konteks kekinian, yakni semangat bela negara. "Jadi kalau bicara soal bela negara, GP Ansor sudah lama menjewantahkannya dalam bentuk kegiatan kaderisasi PKD dan Diklatsar," katanya.

ArrahmahMedia.Com

Sementara, Ketua PC GP Ansor Kabupaten Subang, Asep Alamsyah Heridinata menegaskan, kegiatan kaderisasi di GP Ansor ini rutin digelar setiap tahunnya. "Saat ini sudah memasuki tahun ke tiga kita laksanakan PKD dan Diklatsar. Artinya, kader-kader Ansor dan Banser sudah merumput di tingkatan grashroot hingga seluruh kecamatan di Kabupaten Subang," kata Asep.

Ia mengatakan, kendati saat ini menjelang pelaksanaan Kongres Ansor yang akan digelar pada Rabu (25/11/2015) di Jogjakarta mendatang, urusan kaderisasi menjadi hal yang sangat prioritas sebagai tanggungjawab pemimpinan organisasi.

"Tapi alhamdulillah, kita akhirnya bisa menggelar kaderisasi GP Ansor dengan lancar, kendati sebentar lagi GP Ansor akan menghelat hajat besar, yakni Kongres di Jogjakarta," ujarnya.

Dikatakannya, ratusan kader Ansor dan Banser ini akan diberikan kesempatan untuk mengembangkan sayap di tingkat kecamatan. "Karena persyaratan untuk menjadi anggota dan pengurus Ansor di tingkat kecamatan harus ikut PKD terlebih dahulu. Dan syarat untuk menjadi anggota Banser (Barisan Ansor Serbaguna) itu harus Diklatsar terlebih dahulu," pungkasnya. (Red: Mahbib)

Foto: Suasana saat pembaiatan

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Amalan, Pendidikan, Pesantren ArrahmahMedia.Com

Minggu, 22 Oktober 2017

Silatnas Kokohkan Komitmen Alumni IPNU

Semarang, ArrahmahMedia.Com. Silaturrahim Nasional (Silatnas) Majelis Alumni IPNU yang berlangsung Jum’at-Sabtu (22-23/3) lalu telah mengokohkan komitmen bersama antar Alumni dari berbagai daerah. 

Salah satu komitmen tersebut adalah membangun jejaring komunikasi alumni serta merawat kebersamaan kader IPNU.

Silatnas Kokohkan Komitmen Alumni IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Silatnas Kokohkan Komitmen Alumni IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Silatnas Kokohkan Komitmen Alumni IPNU

Sekjen Presidum Majelis Alumni Asrorun Ni’am mengatakan pertemuan silaturrahim alumni IPNU ini sangat penting diadakan dalam rangka untuk kepentingan jual beli gagasan dan pemikiran. 

“Dari silaturrahim ini bisa menjadi silatul fikri kemudian menjadi silatul qolbi. Oleh karenanya majelis merekomendasikan diadakan pertemuan reguler,” ujarnya membacakan kesimpulan akhir keputusan Silatnas.

ArrahmahMedia.Com

Alumni berkomitmen bahwa Majelis Alumni sebagai tempat bertemunya potensi kader dengan  ragam yang perlu didesain menjadi kekuatan yang menginspirasi antar alumni. 

“Ibaratnya tempat pot bunga yang ditanami dengan ragam tanaman. Setelah dilakukan perawatan bersama menjadi pemandangan yang baik dan indah,” jelas Ni’am. 

Komitmen lainnya, katanya, mengokohkan jejaring komunikasi alumni untuk memperkuat jalur distribusi dan merawat kader. Disamping itu, Majelis Alumni juga menjadi  bagian dari upaya mengelola dan resolusi konflik supaya menjadi bersatu di dalam kebersamaan. 

ArrahmahMedia.Com

“Meskipun resolusi konflik ini perlu adanya ‘panjang usus’ dan komitmen mengedepankan kebersamaan, harus tetap dilakukan,” tandas Ni’am. 

Para alumni juga berkomitmen mengoptimalkan fungsi majelis Alumni sebagai mengawal institusi proses pengkaderan IPNU. Dengan demikian keberadaannya, tidak  hanya untuk kepentingaan individual alumni melainkan kepentingan kaderisasi IPNU yang sedang berjalan.

Silatnas yang berakhir Sabtu (23/3) siang, juga memberikan rekomendasi eksternal. Diantaranya mendorong kontribusi pemikiran yang konkrit dengan potensi yang dimiliki untuk menjawab tantangan yang semakin modern. 

“Majelis Alumni juga mendorong dan  memfasilitasi IPNU dalam melayani dan mendekatkan layanan sesuai kebutuhan dan keinginan pelajar,” katanya.

Kepada PBNU, Majelis mengingatkan kembali komitmen untuk tetap melakukan gerakan kembali kepadda pesantren sebagaimana yang digariskan dalam program NU 2010-2015. 

“Majelis Alumni juga mendorong PBNU dengan sarjana dan para alumni untuk membangun kohesi dan militansi serta peningkatan NU. Terutama melakukan operasionalisasi konsepsi Aswaja di sekolah/madrasah sehingga NU menjadi kuat,” katanya.

Diakhir acara, majelis Alumni IPNU menetapkan  pertemuan silaturrahim akan digelar lagi bulan Februari 2014 mendatang di Banyuwangi Jawa Timur.satu tahun sekali.

“Setelah bupati Banyuwangi Mas Abdullah Azwar Anas yang mantan Ketua umum PP IPNU menawari tempat silaturrahim, majelis menyepakati  tahun depan di sana,” kata Ni’am. 

 

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Anti Hoax, Pesantren ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock