Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Februari 2018

Tiga Pesan Ketua PCNU di SMP-SMA Maarif 1 Pamekasan

Pamekasan, ArrahmahMedia.Com. Ketua PCNU Kabupaten Pamekasan KH Taufiq Hasyim hadir pada Tabligh Maulid Akbar dan Gema Shalawat di Desa Terrak, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, Sabtu (3/12).

Tiga Pesan Ketua PCNU di SMP-SMA Maarif 1 Pamekasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Pesan Ketua PCNU di SMP-SMA Maarif 1 Pamekasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Pesan Ketua PCNU di SMP-SMA Maarif 1 Pamekasan

Pada pidato di acara yang digelar SMP-SMA Maarif 1 Pamekasan tersebut, Kiai Taufiq menyampaikan tiga pesan penting kepada hadirin.

Pesan pertama berupa dorongan kepada SMP-SMA Maarif 1 untuk terus berada pada jalur kemajuan.?

Kiai Taufiq memberi apresiasi positif atas perkembangan lembaga tersebut yang tergolong pesat dan menjadi percontohan di Kota Gerbang Salam.

"Kedua, ajaran Islam Ahlussunnah wal-Jamaah (Aswaja) harus kita terus pupuk. Islam yang mengedepankan maslahat, meski melekat dalam setiap sendi kehidupan kita," tegas Pengasuh Pesantren Sumber Anom, Pegantenan, Pamekasan tersebut.

ArrahmahMedia.Com

Terakhir, Kiai Taufiq mengetengahkan pesan perlunya menjaga NKRI. Di negeri ini, kebebasan menjalankan ajaran agama Islam tidak dikekang. Spirit kebangsaan dan keagamaan melebur dan mengarah pada harmoni.

ArrahmahMedia.Com

"Kita mesti terus kedepankan Islam yang ramah, bukan Islam yang marah. Itu sudah dicontohkan oleh para kiai dan para pejuang kemerdekaan di negeri tercinta ini," tegasnya. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sunnah, Kajian Islam, PonPes ArrahmahMedia.Com

Rabu, 07 Februari 2018

IPNU-IPPNU Gondanglegi Rayakan Harlah NU dengan Pelatihan Jurnalistik

Malang, ArrahmahMedia.Com

Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, mengadakan pelatihan jurnalistik di Gedung Aula MA Khairuddin, Jalan Murcoyo 1 Gondanglegi, Kabupaten Malang.

IPNU-IPPNU Gondanglegi Rayakan Harlah NU dengan Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Gondanglegi Rayakan Harlah NU dengan Pelatihan Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Gondanglegi Rayakan Harlah NU dengan Pelatihan Jurnalistik

Kegiatan yang berlangsung Ahad (31/1) ini dihadiri oleh pengurus Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) Gondanglegi, kepala MA Khairuddin, para pengurus Pimpinan Ranting se-Kecamatan Gondanglegi dan para pelajar tingkat SLTA/sederajat se-Gondanglegi.

“Kegiatan ini merupakan program kerja awal di tahun ini di bidang Departemen Litbang dan Media IPNU-IPPNU Kecamatan Gondanglegi masa khidmah 2015-2017,” kata ketua pelaksana, Muhammad Fathoni.

ArrahmahMedia.Com

IPNU-IPPNU Gondanglegi menggelar kegiatan ini untuk mengembangkan kreativitas pelajar-pelajar NU dalam mengasah bakat dalam penulisan berita, karya ilmiah, artikel dan lain-lain.

ArrahmahMedia.Com

Pelatihan jurnalistik yang mengusung tema "Mencetak Kader-Kader Jurnalis yang Berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah" ini dirangkai dengan tasyakuran dan doa bersama dalam rangka hari lahir (harlah) ke-90 NU yang jatuh pada 31 Januari 2016.

Ketua PAC IPNU Gondanglegi HasanuddinKhozin mengapresiasi panitia yang telah menyukseskan kegiatan ini. “Semoga pelajar NU Gondanglegi ke depannya bisa lebih bermanfaat bagi agama bangsa dan negara,” tuturnya.

Hasan menambahkan, untuk program kegiatan IPNU-IPPNU Gondanglegi selanjutnya adalah makesta akbar yang akan dilaksanakan di Desa Ganjaran dan diikuti semua pimpinan ranting se-Kecamatan Gondanglegi. (Ansori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pahlawan, Sunnah ArrahmahMedia.Com

Jumat, 02 Februari 2018

Cara Jitu Cegah Politisasi Masjid

Solo, ArrahmahMedia.Com. Ratusan masjid yang tersebar di sebelas kelurahan se-Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah, diimbau untuk ikut mewaspadai praktik politisasi masjid. Hal ini dilakukan, mengingat pada momentum pilpres, rawan terjadi kampanye capres pada saat dilaksanakan khutbah atau ceramah.

Cara Jitu Cegah Politisasi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Jitu Cegah Politisasi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Jitu Cegah Politisasi Masjid

“Ramadhan merupakan bulan yang sangat rawan dijadikan ajang politisasi. Jangan sampai bulan penuh hikmah ini dinodai dengan politik,” tutur Anggota Panitia Pengawas Pemilu Kecamatan (Panwascam) Laweyan, Arif Nuryanto, Sabtu (28/6).

Melalui imbauan ke sejumlah masjid tersebut, pihaknya berharap pengurus masjid untuk jeli dalam mencari khotib dan penceramah yang akan mengisi sejumlah kegiatan keagamaan.

ArrahmahMedia.Com

“Agar tidak kecolongan, kalau perlu takmir masjid boleh menanyakan terlebih dulu isi materi ceramah atau khotbah sebelum naik ke mimbar masjid,” terang Arif.

ArrahmahMedia.Com

Arif menyarankan, jika kedapatan isi ceramah berbau kampanye, takmir bisa langsung menganti khotib atau penceramah.

Selain itu, dalam imbauan yang berentuk surat edaran itu juga disebutkan melarang pihak masjid menerima sumbangan atau apapun yang berbau kampanye. Semisal, ajakan buka bersama yang berujung kampanye.

“Ini sesuai dengan aturan KPU, yang disebutkan adanya larangan untuk berkampanye di tempat ibadah,” jelasnya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Khutbah, Sunnah, Jadwal Kajian ArrahmahMedia.Com

Kamis, 25 Januari 2018

Saran NU Terkait Skandal "Panama Papers"

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Beberapa waktu ini publik dikejutkan dengan pemberitaan tentang adanya sejumlah tokoh nasional dan ratusan perusahaan yang masuk dalam daftar Panama Papers. Panama Papers yang berisi kumpulan 11, 5 juta dokumen rahasia yang dibuat oleh Mossack Fonseca,? perusahaan? penyedia jasa asal Panama. Dokumen tersebut berisi informasi rinci mengenai lebih dari 214.000 perusahaan luar negeri, termasuk identitas pemegang saham dan para direkturnya.?

Mossack Fonseca sebagai penyedia jasa pembentukan perusahaan di negara lain, pengelolaan perusahaan luar negeri, dan manajemen aset. Perusahaan ini juga ? membantu klien membentuk perusahaan dalam yurisdikasi bebas pajak (offershore). Dengan demikian perusahaan yang menjadi klien Mossack Fonseca berupaya menghindari pembayaran pajak.?

Saran NU Terkait Skandal Panama Papers (Sumber Gambar : Nu Online)
Saran NU Terkait Skandal Panama Papers (Sumber Gambar : Nu Online)

Saran NU Terkait Skandal "Panama Papers"

Di Indonesia, pajak adalah hal penting sebagai wujud keadilan sosial. Selain itu pajak juga berfungsi sebagai anggaran atau penerimaan (budgetair). Pajak merupakan salah satu sumber dana yang digunakan pemerintah dan bermanfaat untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran. Penerimaan negara dari sektor perpajakan dimasukkan ke dalam komponen penerimaan dalam negeri pada APBN.

Lantas bagaimana bila ada atau bahkan banyak perusahaan besar yang tidak membayar pajak? Tentu akan sangat merugikan negara.

Dihubungi ArrahmahMedia.Com pada Rabu (6/4), pengamat ekonomi yang juga Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Berly? Martawardaya, mengatakan, rekening offshore (perusahaan bebas pajak) dan shell company (perusahaan cangkang) belum tentu ilegal dan melanggar hukum. "Jadi untuk memastikan apakah sebuah perusahaan atau seseorang terlibat atau masuk dalam Panama Papers atau tidak, harus dimulai dengan asas praduga tak bersalah," ujarnya. Pemerintah hendaknya meminta perusahaan atau nama yang terkait, untuk melaporkan transaksi yang dilakukan.

ArrahmahMedia.Com





Selain itu juga membuat surat ke pemerintah Panama, meminta detail transaksi dan data keuangan. Apabila ada pajak terutang yang belum dibayar harus dibayarkan, termasuk dendanya bila ada. "Kalau ada yang illegal, dalam hal ini pencucian uang, misalnya, sudah tentu perlu diajukan ke pengadilan,"? lanjut Berly.

ArrahmahMedia.Com

Dia menambahkan untuk mengetahui sebuah perusahaan atau nama seseorang termasuk dalam Panama Papers atau tidak, ? ada tiga kemungkinan. Pertama, ? legal dan beres pajak, ini tidak masalah. Kedua, legal dan belum beres pajaknya, harus diminta agar melunasi dan sanksi jika ada. Ketiga, perusahaan ilegal, harus dikenai sanksi dan tuntutan ke pengadilan.

Ditanya bagaimana kaitannya dengan gini ratio, Berly mengatakan bila perusahaan melakukan pengecilan kekayaan pada saat survei atau pelaporan pajak, maka gini ratio yang sebenarnya mustinya sedikit akan naik.?

Panama Papers barangkali hanyalah salah satu cara penghindaran masyarakat atau perusahaan dari kewajiban membayar pajak. Upaya-upaya penghindaran dari kewajiban membayar pajak sangat mungkin dilakukan dengan jalan lain. Oleh karena itu, pria kelahiran Jakarta, 6 Juli 1976 yang juga menjabat sebagai Ketua Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) ini menyarankan, apa yang bisa dilakukan Pemerintah Indonesia adalah mewajibkan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) bagi lulusan Diploma atau Sarjana, dan sanksi yang tegas bagi mereka yang tidak membayar pajak. (Kendi Setiawan/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sunnah ArrahmahMedia.Com

Kamis, 11 Januari 2018

Harlah Ke-91 NU di Mata Khofifah

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa mendaraskan renungannya dalam memperingati momen Hari Lahir (Harlah) ke-91 Nahdlatul Ulama (NU), Selasa (31/1). Ia mengingatkan sejumlah pesan kiai dan gurunya yang selama ini dijadikan pijakan dirinya sebagai Nahdliyin.

“Sahabat, hari ini 91 tahun NU. Ini sebagian renungan saya. Saya terlahir dari rahim NU. Saya tumbuh kembang dan dibesarkan dalam tradisi dan pemikiran NU,” ujar Khofifah mengawali kalimat renungannya.

Menteri Sosial RI ini mengungkapkan, dirinya berikhtiar untuk berjuang dan melayani masyarakat dan membangun bangsa ini melalui metode dan pemahaman keagamaan dan kebangsaan yang diajarkan guru-gurunya yang sebagian besar adalah tokoh NU yang juga tokoh bangsa seperti Gus Dur.

Harlah Ke-91 NU di Mata Khofifah (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah Ke-91 NU di Mata Khofifah (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah Ke-91 NU di Mata Khofifah

“Saya diajarkan oleh Kiai Muchith Muzadi untuk menempatkan NU seperti mobil plat hitam. Bukan mobil plat kuning yang bisa disewa siapa saja dan bisa ditumpangi serta berhenti dimana saja,” tutur perempuan kelahiran Surabaya 51 tahun lalu ini.

Bukan juga mobil plat merah, kata Khofifah, amanah para gurunya ia sering posting di sejumlah kanal media sosial sejak dirinya memakai smartphone sampai saat ini. “Sebagai pengingat saya dalam melayari kehidupan,” ungkapnya.

ArrahmahMedia.Com

Menurutnya, Hari ini NU berkembang pesat. Kader NU sukses di area akademik, NU telah memiliki banyak perguruan tinggi atas nama NU. Saat ini NU juga memiliki banyak rumah sakit, dan kader NU banyak yang sukses di medan politik.?

Yang lebih spektakuler bagi bangsa Indonesia, imbuh Khofifah, NU telah mendidik anak bangsa dengan sikap moderasi, toleran, dan keseimbangan terutama melalui pendidikan di berbagai pesantren yang sebagian di antaranya sudah berusia lebih satu abad.

“Di bidang ekonomi agaknya NU masih harus terus bekerja keras. Saya bangga dan bersyukur terlahir dan tumbuh kembang di jamiyah NU. Semoga berkah dan maslahah,” tandas Khofifah. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Sunnah, Meme Islam, Pondok Pesantren ArrahmahMedia.Com

Selasa, 09 Januari 2018

Kiai Mustofa Aqil: Allah Hormat kepada Nabi, Umatnya Harus Lebih Hormat

Tegal, ArrahmahMedia.Com. Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Mustofa Aqil Siroj mengemukakan, mengapa umat Islam harus lebih menghormati Nabi Muhammad SAW karena hal itu merupakan perintah Allah SWT dan Allah juga sangat menghormati Nabi SAW. 

Kiai Mustofa Aqil: Allah Hormat kepada Nabi, Umatnya Harus Lebih Hormat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Mustofa Aqil: Allah Hormat kepada Nabi, Umatnya Harus Lebih Hormat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Mustofa Aqil: Allah Hormat kepada Nabi, Umatnya Harus Lebih Hormat

Demikian dijelaskan KH Mustofa Aqil di hadapan warga Nahdliyin saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nurul Amal Desa Kertayasa, Kecamatan Kramat Kabupaten Tegal, Jawa Tengah pekan lalu.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Kempek Cirebon itu, dalam Al-Quran Allah bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW dan memerintahkan pada para malaikat juga pada orang yang beriman untuk melakukan itu.

"Tidak satu pun dalam Al-Quran, Allah memanggil Nabi SAW dengan menyebutkan namanya, tetapi selalu memakai pangkatnya. Seperti yaa ayyuhannabi, yaa ayyuharrasul," terangnya.

Hal itu, lanjutnya, menunjukan penghormatan Allah kepada Rasulullah Muhammad SAW. "Sementara kepada Nabi yang lain tidak demikian," pungkasnya. (Hasan/Fathoni)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Ubudiyah, Sunnah ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com

Selasa, 02 Januari 2018

Pameran “Matja” NU, Menyatunya Hati Pecinta Keindahan

Yogyakarta,ArrahmahMedia.Com. Pameran “Matja”; Membaca Seni Wali-wali Nusantara yang berlangsung 27-30 Juli Jogjakarta Nasional Museum (JNM) diikuti 50 perupa. Mereka berlatar belakang gaya, organisasi, latar belakang yang berbeda dan tentu saja menampilkan buah karya yang beragam.

Menurut D Zawawi Imron, pada pembukaan pameran di halaman JNM Senin malam (27/7), mereka disatukan oleh hati yang sama-sama mencintai keindahan dan mereka berkeyakinan bahwa hidup itu sangat indah. “Tuhan maha indah dan sangat mencintai keindahan,” kata penyair berjuluk Celurit Emas tersebut. ?

Pameran “Matja” NU, Menyatunya Hati Pecinta Keindahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pameran “Matja” NU, Menyatunya Hati Pecinta Keindahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pameran “Matja” NU, Menyatunya Hati Pecinta Keindahan

Ia menukil dalil yang diucapkan seorang filosof Lebanon yang mengatakan, barangsiapa dalam dirinya tidak mempunyai rasa keindahan, ia tidak bisa melihat hukum semesta itu sesuatu yang indah. Padahal dalam diri manusia diberi onderdil, piranti, untuk melihat keindahan. ”Itu penting dan harus diberi hak untuk hidup,” katanya.

ArrahmahMedia.Com

Jika akal kita harus digunakana untuk berpikir, lanjut dia, maka kalbu kita, intuisi kita, harus diberi hak juga untuk untuk menikmati keindahan yang diberikan Tuhan di dunia ini.

Dalam tradisi pesantren, kata dia, keindahan itu dibagi dua. Ada keindahan mata kepala, ada keindahan mata batin. Orang pesantren diajarkan untuk tidak hanya melihat keindahan mata kepala saja, tapi jugamata batin.

ArrahmahMedia.Com

“Keindahan subtansial bukan sekadar mawar merah yang tersiram embun di pagi hari, tapi mungkin juga seperti kata Luthfi Al-Manfaluti, seekor katak yang melompat di selokan kotor pun adalah keindahan bagi seorang yang melihat dengan mata batinnya, bahwa pada lompatan katak itu, ada kekuasaan Tuhan yang maha indah,” jelasnya.

Sementara sumber keindahan itu tidak keluar dari hati yang biasa, melainkan hati yang bersih dan jernih, hati yang bisa rumongso, yang tidak punya waktu untuk membenci, bermusuhan, memfitnah kepada orang lain.

Hati yang seperti itu merupakan sumber energi positif yang bisa melahirkan keindahan kedamaian sehingga dunia dalam keadaan indah. Jika semua tiap orang memiliki hati semacam itu, satu aku akan berdamai dengan aku yang lain. Kemudian aku yang lain itu berdamai pula dengan aku, aku, aku yang lain.

“Yang terbentuk kemudian adalah kita, yang seperti kata Sutardji Calzoum Bachri: yang tertusuk padamu, berdarah padaku,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sunnah ArrahmahMedia.Com

Kamis, 07 Desember 2017

Dialog Agama, Wacana Perdamaian Antar Umat Beragama

Prof Dr Mariam Ait Ahmed adalah aktifis perempuan dari Maroko yang sangat terkenal. Beliau juga dikenal sebagai pakar perbandingan agama dan pemikiran Islam kontemporer. Saat ini beliau menjabat sebagai ketua riset dan pengembangan studi masa depan dan ketua jurusan perbandingan agama dan dialog peradaban serta ketua Asosiasi Persaudaraan Maroko-Indonesia.

Berikut ini petikan wawancaranya dengan Abdul Haq bin Rahmun:

Dialog Agama, Wacana Perdamaian Antar Umat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
Dialog Agama, Wacana Perdamaian Antar Umat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

Dialog Agama, Wacana Perdamaian Antar Umat Beragama

Bagaimana pendapat anda mengenai gambaran Islam di tengah-tengah revolusi dunia Arab?

ArrahmahMedia.Com

Salah satu hasil utama revolusi Arab saat ini adalah kembalinya  kontroversi dunia Internasional tentang Islam bukan sebagai agama akan tetapi sebagai pergerakan. Baik itu yang berhubungan dengan peranan yang memicu revolusi itu sendiri, atau pun masa depan politik dan pergerakan saat ini. Ada indikasi bahwa kekuatan Islam yang tumbuh dalam revolusi Arab mempengaruhi  para sekuler, liberal secara internal dan Barat dalam tingkatan  internasional yang berdampak kembalinya obsesi Islam phobia, kekhawatiran dan ketakutan sebagai hasil dari pada revolusi Arab, hal ini dijelaskan sebagian dari pada mereka dalam berbagai forum sebagai musuh demokrasi, perempuan, seni, kebebasan agama dan budaya.

Ada konflik intelektual antara agama dan ideologi, sementara Islam dijadikan sebagai target utama. Bagaimana umat Islam dapat memberikan peranan dalam berdialog dengan Barat tanpa fanatisme?.

ArrahmahMedia.Com

Saat ini Islam tentunya memainkan peranan yang dominan dalam perdebatan politis, kontroversi dalam ruang lingkup ideologi sejarah dan konflik agama dengan pihak-pihak yang berbeda. Baik itu di dalam maupun di luar daerah. Kontroversi antara skeptisme dan intimidasi menimbulkan kritikan terhadap kebijakan ajaran Islam untuk “mengkritik prinsip-prinsip agama secara global” dengan mengadopsi kebijakan yang inklusif dan menggapai pemberdayaan antara kontroversi ideologi.

Terdapat pertanyaan, bagaimana mungkin peradaban dikatakan sebagai produk budaya Islam yang jauh dari aksi dan reaksi yang terlahir dari fanatisme yang berkembang dalam corak fikir orang Barat. Dalam tahapan ini kita dituntut untuk mengaktifkan kembali segala komponen dialog peradaban yang seimbang, serta pemurnian mental masa depan dari keterbelakangan berlebihan yang mengasingkan mereka dari peranan kompetisi politik internal dan peradaban internasional. Hal tersebut dilakukan dengan mengambil jalan dialog yang mengedepankan pengetahuan, keilmuan, dan teknis, serta pengembangan sistem pendidikan dan pengajaran yang membentuk moral manusia, dan merencanakan program diplomasi organisasi dan sosial kemasyarakatan juga pengembangan media di tingkat regional maupun internasional. Disamping menjalin hubungan yang lebih erat antara pribadi dengan organisasi kebudayaan dan universitas-universitas di Barat dan Timur.

Baru-baru ini ada orang yang mencoba mendistorsi Islam dan mencorengnya, tetapi  dunia Arab dan Islam dengan tergesa membalasnya dengan kekerasan dan pertumpahan darah seperti yang baru-baru ini terjadi di Libya, yang menyebabkan terbunuhnya duta besar Amerika. Bagaimana pendapat anda tantang perilaku seperti itu yang menyebabkan bencana dan kedengkian?. Saat ini ketika orang Barat melihat kita, bahwasanya Muslim adalah orang terbelakang, barbar, dungu, biadab dan teroris. Itu memang tanggapan yang kita prediksikan, sementara sebagian dari kita terlihat melakukan kekerasan di jalan-jalan. Bahkan aksi tersebut sudah sampai kepada pembunuhan orang-orang tidak bersalah seperti yang terjadi di Libya dan membakar instansi- instansi pemerintah dan kedutaan. Dalam Islam kita memiliki keyakinan “bahwa setiap orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” seperti halnya kita menolak penghakiman universal terhadap seluruh umat Islam setelah peristiwa 11 September. Dan penetapan mereka terhadap kita akan perbuatan yang tidak dilakukan oleh kita. Sebagaimana diri kita sendiri tidak akan dapat menghakimi seluruh orang yang melakukan penyimpangan di rumahnya sendiri. Akan tetapi, kita kembalikan urusannya kepada hukum pidana yang berlaku. Saya mengira bahwa kekerasan dan tindakan emosional akan dapat menyeret kita ke masa depan yang penuh dengan peperangan antar agama, keyakinan, madzhab dan golongan. Sebagaimana yang baru-baru ini dirasakan orang Islam di Burma dengan Budha, sampai batasan membunuh manusia hidup-hidup yang disandarkan pada agama dan sekte. Nah, apakah kita akan ikut bergerak dalam proyek pembuatan film dan menyalakan sumbu perpecahan antara Koptik dan Muslim yang hidup damai di Mesir, dengan alasan mereka berkontribusi dalam pembuatan film!!!

Kita dalam ajaran Islam yang jauh dari kepentingan tertentu selalu ikut perintah Tuhan kepada kita ”katakan wahai ahli kitab marilah kita berpegang teguh kepada satu kalimat” yang dimulai dengan ajakan terhadap agama dan mengadakan dialog yang jauh dari perpecahan dan kekerasan. Saat ini, bahkan lebih dari sebelumnya, kita sangat perlu dengan dialog antar agama dan budaya untuk memperbaiki kembali dialog antara agama dan kebudayaan yang pernah terjadi, untuk mengembalikan apa yang hilang dari kedua belah pihak. Orang lain bukanlah satu-satunya dan tidak absolut, melainkan juga memiliki keberagaman, kontroversi, juga persilangan pendapat. Mereka juga memiliki orang-orang cendekia yang melakukan dialog dengan cendekiawan kita. Mereka juga memiliki orang-orang dungu dan fanatik, yang kadang selalu bertabrakan dengan yang sama-sama dungu dari semua penjuru dunia.

Apakah landasan Islam terhadap dialog agama, pentingnya dialog serta tujuannya? Yang dianggap sebagai asas untuk bertukar pengetahuan mendalam yang menjadikan kritikan yang membangun, jauh dari menjatuhkan dan menghina-hina. Sehingga dialog dan kritik bisa saling melengkapi bukan malah menimbulkan pertentangan?. Dalam konteks ini kita harus menentukan sikap kita akan dialog dan menyesuaikan dengan metode yang diajarkan Islam, tidak melalui perubahan situasi politik untuk mendeklarasikan penolakan atau penerimaan terhadap tekanan global. Dengan kata lain apakah kita berdialog dengan yang lain sesuai dengan metode  yang diajarkan Islam yang bersandarkan asas-asas dialog antara agama secara teoritis dan praktis, dan mengetahui perbedaan kebudayaan dan pengetahuan tentang berbagai peradaban, atau kita berdialog dengan menjustifikasi lawan kita ketika mereka tidak sejalan dengan kita dan memprovokasinya?

Saya telah membahas topik ini secara terperinci dalam buku saya yang berjudul “Dialetika Dialog: Wacana Islam Kontemporer” sebagai upaya menjalin dialog antara penganut agama Islam dengan yang lainnya dengan cara yang benar. Yang disandarkan kepada konteks Al-Quran dan Hadits yang jauh dari unsur politik dan propaganda yang menjadikan dialog agama sebagai tujuan  massa tertentu.  Saya jelaskan di dalam buku saya tentang anjuran dialog sebagaimana yang ada dalam ajaran Islam dialog antara agama dan budaya. Dari realitas sejarah, saya menyaksikan akan  lembaran yang begitu indah tentang peradaban kehidupan kita dengan non Muslim, jauh dari manipulasi dan kepentingan budaya Barat yang mana dialog dijadikan bagian dari agenda mereka.

Saya jelaskan dan saya tegaskan dalam buku saya bahwa pandangan terhadap fakta tatanan dunia saat ini, visi dan misi ke depannya sampai kepada keraguan akan kemampuan untuk berhasil berdasarkan berbagai konferensi terhadap dialog agama. Kerja sama internasional merupakan salah satu solusi terhadap problematika kita saat ini.

Terdapat berbagai sebab ketegangan terhadap aturan atau tatanan yang ada ialah karena kesombongan etnis, fanatisme agama yang  merupakan hasil dari ketidaktahuan akan agama, budaya dan peradaban lain, dan dibalik semua itu menyebabkan krisis yang harus diatasi dengan dialog, saling mengenal, dan adanya akulturasi, sehingga jauh dari pada pemberangusan dan pengingkaran terhadap yang lain, dan tidak mau menerima perbedaan budaya yang  ada. Salah satu solusinya yakni dengan berdialog secara terbuka dan dengan kemitraan, dengan demikian akan membentuk manusia dengan peradaban.

Islam dijadikan sebagai target pelecehan sebagai mana yang terjadi belakangan ini melalui film Amerika Kebebasan Islam  dan kartun dalam majalah Perancis, Sebagaimana yang telah terjadi masa lalu terdapat pelecehan terhadap Islam dalam sebagian buku-buku sastra bahkan ada yang menawarkan untuk membakar Al Quran, jadi langkah apa yang paling tepat untuk menanggapi penghinaan tersebut dengan cara membangun peradaban?. Lebih tepat untuk para pengacara Muslim di Barat dan para pemikir untuk mengangkat masalah ini melalui jalan hukum, para wartawan  dengan media, penulis dengan  bukunya, dan perfilman dengan produksi, mereka bersama-sama meminta maaf terhadap apa yang menyakiti  jutaan umat Islam, dan jaminan perlindungan akan keamanan jiwa serta kebebasan beragama milyaran umat Islam, perkara ini ketika diselesaikan dengan jalur hukum,  mendorong opini umum untuk mengikuti perkembangan kasus dan penyebabnya, khususnya saat ini dengan berbagai media informasi mengajak kepada penyelesaian masalah fanatik agama dan ajakan kepada perdamaian dengan perjanjian dan menepiskan  hal-hal yang berbau pelecehan agama dan menghormati para penganut agama samawi.

Saya fikir dengan cara ini akan dapat  memberikan kekuatan bagi umat Islam dalam keyakinan dan perlindungan agama mereka, saat ini kita dalam kondisi dua pilihan, menuntut balik dengan kekerasan dan menyukseskan proyek orang-orang yang fanatik di Barat. Tentu hal ini akan sangat membahayakan terhadap agama kita, atau mencari langkah yang efektif dengan membantah apa yang dituduhkan golongan fanatik di Barat, dan memberikan pemahaman kepada para cendekia akan kesantunan agama ini,  menepiskan praduga mereka untuk memproduksi sebuah film untuk skala internasional, dan ini mengarah kepada capaian masa depan untuk dunia Islam dalam peradaban umat, dengan logika berfikir yang benar, dengan adanya timbal balik kemaslahatan kita dalam media-media elektronik dan komunikasi dunia internasional.

Dialetika dialog wacana Islam kontemporer  yang merupakan ruang lingkup anda dalam dunia akademik itu, apa konteks, syarat dan metode dalam dialog antara agama?. Ajakan terhadap dialog antara agama, dari orang Islam sangat erat kaitannya dengan pertukaran antar wacana. Dialog dan kritik dalam membentuk wacana masa depan dunia Islam kontemporer, berawal dari pertanyaan apakah definisi dan batasan dalam pembentukan wacana yang realistis dan efektifitasnya dalam pemikiran Islam kontemporer?

Pertama harus dengan membedakan antara tiga tahapan dialog antara pengikut agama yang berbeda, yaitu gesekan yang ada dalam kehidupan sehari-hari, pertemuan dalam kesempatan-kesempatan atau kepentingan bersama, dan wacana yang mengarah kepada kesulitan tiap golongan. Bukan berarti segala gesekan, pertemuan atau wacana antara umat Islam tentang agama yang berbeda termasuk dialog antara agama, terkadang gesekan akan menghasilkan bentrokan, terkadang pertemuan menyebabkan pada penolakan, dan wacana kadang berdampak pada kesalahpahaman jika ketiga syarat dan rukun dialog itu sendiri tidak terpenuhi, yakni:

Dialog kehidupan, apa yang ada dalam realitas saat ini bahwa agama bermacam-macam, yang dibangun atas pondasi kehidupan bersama dalam masyarakat yang didalamnya terdapat syarat- syarat tertentu yang memberikan aturan pertemuan antara orang Islam.

Dialog kemanusiaan, yakni dengan menanamkan nilai moralitas antara umat beragama untuk menggapai keadilan sosial dan mengangkat hak asasi manusia dan menolak perjualbelian manusia, pelecehan seksual, perang senjata, kemiskinan dan polusi. Tahapan ini sangat penting khususnya dalam menyingkap moralitas dan nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam setiap agama karena setiap agama berusaha untuk melindungi atau  membela haknya.

Dialog agama, yang mana para pemuka agama atau pakarnya saling bertemu untuk bertukar pendapat dengan metode yang tepat tentang kepercayaan agama mereka. Dengan saling menghormati satu sama lain.

Apa pendapat anda mengenai hambatan dan keterbelakangan dalam membentuk peradaban. Apakah semua itu diperlukan pengetahuan terhadap kasus-kasus dan problematika internal, dan perkembangan sejarah peradaban dunia Arab dan Islam, dan mengaitkannya dengan kepentingan agama, budaya, ekonomi, politik dengan ketentuan yang berlaku saat ini?. Saya kira keluarnya para pemikir Arab dari kekangan, emosional dan keadaan psikologis keluarga, menuntut kita saat ini dengan revolusi komunikasi universal. Pengkaderan para pemuda ikut berpartisipasi merevitalisasi peradaban dengan kemauan sebagai syarat utama, dan membekali mereka dengan pengetahuan  mendalam akan diri dan pengetahuan untuk mengakses pondasi dan prinsip-prinsip intelektual, filsafat, agama, politik, dan ekonomi, Karena pijakan menuju langkah ke depan merupakan keseimbangan kemaslahatan yang berhubungan dengan intelektual dan peradaban lain, yang menuntut dasar kemampuan pengetahuan komponen diri, dan kemampuan menanamkan keotentikan nilainya, yang tidak dapat terpengaruh oleh situasi peristiwa.

Mungkin kita dapat bekerja melalui kebijakan dan kepentingan dan membangun pusat-pusat pendidikan dalam rangka mencari agenda budaya, dan mempersiapkan strategi ke depan yang efektif dalam rangka mengeksplorasi wacana dunia Islam kontemporer untuk peradaban kita yang berinteraksi dengan realitas agama, budaya, kepercayaan yang bertentangan dengan arus dunia?

Ini semua pertanyaan yang kita miliki untuk dipikirkan secara dalam dan detail guna membangun dialog masa depan untuk peradaban kita dengan pondasi agama dan perjalanan sejarah, tidak dikaitkan dengan polemik dan peristiwa yang ada, mengakhiri kekerasan dan kembali menerima dengan terbuka pemahaman peradaban silam dan dialog agama harus kita bina, karena kita diperintahkan “wahai ahli kitab kemarilah” dan menerapkan metode dialog Al-Quran “Ajaklah kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan mauidoh hasanah dan berdebatlah dengan cara terbaik” yang mana disyaratkan dialog dengan akal dan pikiran, bukan dengan emosi dan menyandarkan hukum terhadap prasangka, aksi dan reaksi.

Pada akhirnya permasalahan terarah untuk membentuk kesatuan pikiran, dan menguatkan identitas agama dan budaya kita, dan mengangkat sejarah serta peradaban kita. Dan memperbaiki  konflik-konflik serta tantangan- tantangan yang kita hadapi untuk memberi pencerahan di masa depan yang mengangkat keberadaan kita, sebagai jati diri dan afiliasi dalam perubahan dunia dibekali dengan revolusi komunikasi, dan informasi untuk menuju pada keterbukaan dan interaksi budaya.

Diterjemahkan oleh Dewi Anggraeni (mahasiswi S2 Univ. Hassan Tsani, Casablanca-Maroko)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sunnah ArrahmahMedia.Com

Rabu, 06 Desember 2017

Fatayat NU Harus Mampu Bentengi Pemudi dari Aliran Radikal

Probolinggo, ArrahmahMedia.Com - Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi Saifullah menyatakan bahwa Fatayat NU sebagai organisasi basis pemudi NU harus bisa maju dan berkembang dalam membentengi kaum pemudi dari arus perkembangan zaman dan aliran-aliran radikal yang marak beredar akhir-akhir ini.

Hal tersebut disampaikan Kiai Abdul Hadi Saifullah dalam puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-67 Fatayat NU sekaligus peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang digelar Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Probolinggo di Gedung Djojolelono Kabupaten Probolinggo, Sabtu (29/4).

Fatayat NU Harus Mampu Bentengi Pemudi dari Aliran Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Harus Mampu Bentengi Pemudi dari Aliran Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Harus Mampu Bentengi Pemudi dari Aliran Radikal

“Saya sangat mengapresiasi pengurus Fatayat NU Kabupaten Probolinggo dengan melaksanakan Harlah Fatayat NU ke-67 yang sekaligus memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW sebagai hari ulang tahun sholat lima waktu. Insya Allah ada hikmah yang besar dibalik keduanya,” katanya.

ArrahmahMedia.Com

Lebih lanjut Kiai Abdul Hadi meminta kalau bisa PC Fatayat NU melakukan turba (turun ke bawah) ke Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan ranting secara bergiliran dengan tempat yang telah ditentukan namun harus diplanning dengan baik. ?

“Selain itu sebagai ajang belajar bersama untuk memperkuat keislaman dengan ngaji bareng penceramah. Semoga melalui kegiatan ini akan membangkitkan ghiroh para pengurus Fatayat NU untuk selalu berkiprah dalam khazanah ilmiyah, Islamiyah dan membangun peradaban,” tegasnya.

ArrahmahMedia.Com

Sementara Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Probolinggo Elysa Chandra Maya menyampaikan bahwa tujuan kegiatan ini untuk menjalin silaturrahim seluruh pengurus PC, PAC hingga Ranting Fatayat agar bisa bersambung dengan baik. “Karena hanya dengan sambungan itulah kemaslahatan ukhuwah bisa bermakna,” ungkapnya.

Lisa berharap melalui kegiatan-kegiatan Fatayat NUmampu membentuk pemimpin perempuan cerdas yang bisa mengaplikasikan Islam Nusantara dalam kehidupan bermasyarakat dengan tetap berpegang pada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

“Peningkatan ekonomi produktif melalui pelatihan-pelatihan kita bersinergi dengan instansi terkait yang harapannya dapat memberdayakan sahabat muda Fatayat NU berkreativitas dan mandiri berdaya saing sehat disegala sektor pembangunan,” tegasnya.

Kegiatan ini diikuti 700 undangan terdiri dari pengurus PC Fatayat NU mulai tingkat cabang, anak cabang hingga ranting. Serta perwakilan pengurus PCNU dan MWCNU baik pengurus lembaga dan badan otonom (banom) di Kabupaten Probolinggo.

Harlah dan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW ini diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dilanjutkan dengan pembacaan Sholawat Nahdiyyah dan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Fatayat serta Ya Ahlal Wathon. Lantunannya mampu membuat khidmat para undangan bahkan ada sebagian diantara mereka yang meneteskan air mata. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nusantara, Sunnah, AlaSantri ArrahmahMedia.Com

Kamis, 23 November 2017

Ngaji Falak, Pesantren Al-Falah Hadirkan Tim Ahli dari UIN Walisongo

Salatiga, ArrahmahMedia.Com - Dalam rangka kegiatan Ramadhan Santri, PPTI Al-Falah Kabupaten Salatiga mengadakan Pelatihan Ilmu Falak dengan narasumber dari CSSMoRA UIN Walisongo Semarang. Kegiatan yang berlangsung akhir pecan, Sabtu-Ahad (18-19/6) diikuti sebanyak 70 peserta yang terdiri atas santri Al-Falah dan santri umum.

Pengasuh Pesantren Al-Falah Ibu Nyai Hj Latifah Zoemri menyambut baik kegiatan ini. Ia berharap setiap tahunnya diadakan even seperti ini agar santri termotivasi untuk lebih semangat dalam menimba ilmu, tidak hanya ilmu agama tetapi juga ilmu umum lain yang porsinya sama penting.

Ngaji Falak, Pesantren Al-Falah Hadirkan Tim Ahli dari UIN Walisongo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngaji Falak, Pesantren Al-Falah Hadirkan Tim Ahli dari UIN Walisongo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ngaji Falak, Pesantren Al-Falah Hadirkan Tim Ahli dari UIN Walisongo

Dalam rangkaian kegiatan, sebanyak delapan sesi materi disampaikan secara gabungan. Peserta mengkaji materi pengenalan kalkulator, menghitung sudut, penentuan arah kiblat dan dengan observasi bulan.

Pada setiap materinya, peserta tidak hanya diberi teori yang harus mereka catat. Tetapi peserta juga diharuskan praktik secara langsung dengan peralatan yang sudah disiapkan oleh tim narasumber. Mereka juga belajar menggunakan teodolit, alat ukur sudut tengah dan mendatar untuk menentukan jarak dan tinggi sesuatu.

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com

Tim narasumber Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMoRA) dengan sangat telaten menjelaskan materi yang belum dipahami peserta. Dari setiap pertanyaan yang diajukan peserta, mereka jawab dengan penuh kesabaran meskipun tengah berpuasa.

Tim yang beranggotakan sebanyak 12 orang ini termasuk Siti Nur Halimah yang merupakan puteri bungsu KH Zoemri RWS, pendiri PPTI Al-Falah. Mereka adalah mahasiswa program studi Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang.

Peserta tampak antusias mengikuti jalannya kegiatan, apalagi pada kegiatan terakhir yaitu observasi bulan. Dengan teleskop, peserta bisa melihat keindahan bulan dan planet saturnus. Dari pesan dan kesan yang disampaikan Latifah sebagai perwakilan peserta, dia menyampaikan rasa syukur karena mengikuti kegiatan pelatihan. Pasalnya dalam pelatihan ini ada banyak sekali ilmu, pengalaman dan pengetahuan yang didapat.

“Yang biasanya hanya manut ke mana arah kiblat, dengan mengikuti pelatihan ini jadi bisa menentukan sendiri arah kiblat di manapun dengan ukuran yang jelas,” tambahnya.

Peserta berharap agar pelatihan ini dilanjutkan lagi pada waktu yang akan datang dengan materi yang lebih dalam dan lebih menyenangkan. (Evie Yunianti/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sunnah ArrahmahMedia.Com

Senin, 06 November 2017

Pekan Depan, Muktamar Ke-33 NU Diluncurkan di Surabaya

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Muktamar Ke-33 NU secara resmi diluncurkan hari Sabtu pada 14 Maret di Surabaya. Peluncuran muktamar pekan depan itu sekaligus mengawali rangkaian agenda-agenda pra-muktamar NU yang akan diadakan di sejumlah daerah.

“Panitia pusat dan panitia lokal setuju meluncurkan Muktamar Ke-33 NU pada pekan depan di Surabaya,” ujar Ketua panitia Muktamar Ke-33 NU H Imam Aziz di Jakarta, Jumat (6/3) sore.

Pekan Depan, Muktamar Ke-33 NU Diluncurkan di Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Pekan Depan, Muktamar Ke-33 NU Diluncurkan di Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Pekan Depan, Muktamar Ke-33 NU Diluncurkan di Surabaya

Peluncuran ini sekaligus menyempurnakan persiapan panitia dan kesiapan lokasi muktamar di empat pesantren di Jombang. Panitia juga sudah membuat jadwal diskusi pemantapan materi yang akan dibahas di forum muktamar.

ArrahmahMedia.Com

“Alhamdulillah, dewan juri sayembara logo Muktamar Ke-33 NU sudah muttafaq alaih menyeleksi 349 logo yang masuk ke meja panitia. Mereka lalu menetapkan sebuah logo karya Zamzami Almakki yang dinilai mewakili semangat muktamar NU kali ini,” kata H Imam yang menyebut H Slamet sebagai anggota dewan juri sayembara logo muktamar NU. (Alhafiz K)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pemurnian Aqidah, Sunnah, Warta ArrahmahMedia.Com

Rabu, 01 November 2017

Surat Cinta Buat Mamah Dedeh Tentang Etika Berfatwa dan Dokter Hewan

Assalaamu‘alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh. Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Wa ba’du...

Rasulullah saw bersabda:?

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Surat Cinta Buat Mamah Dedeh Tentang Etika Berfatwa dan Dokter Hewan (Sumber Gambar : Nu Online)
Surat Cinta Buat Mamah Dedeh Tentang Etika Berfatwa dan Dokter Hewan (Sumber Gambar : Nu Online)

Surat Cinta Buat Mamah Dedeh Tentang Etika Berfatwa dan Dokter Hewan

“Kalau orang diberi fatwa oleh seseorang tanpa didasari ilmu, maka dosanya ditanggung oleh yang berfatwa.”

Mengenai orang-orang yang sembrono dalam berfatwa, Ibnu Sholah mengutip ayat al-Qur’an:

ArrahmahMedia.Com

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ?

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta Ini adalah halal dan ini haram, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung, sedikit keuntungan yang didapat, tapi mereka mendapat siksa yang pedih.”

ArrahmahMedia.Com

Lalu Ibnu Sholah memberikan komentar:?

? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?

Apa yang diterangkan oleh ayat ini mencakup orang yang melenceng di dalam berfatwa sehingga mengatakan halal terhadap sesuatu yang haram atau sebaliknya dan semisalnya.

Ibnu Qoyyim dalam I’lamu al-Muwaqqi’iin meriwayatkan tentang Ahmad bin Hanbal yang ditanya maksud dari hadits:

? ? ? ? ? ?

“Yang paling berani menjawab pertanyaan keagamaan di antara kalian adalah yang paling berani masuk neraka.”

Imam Ahmad menjelaskan bahwa maksud dari hadits tersebut adalah orang yang berfatwa tanpa didasari keilmuan yang mumpuni. Ketika beliau ditanya tentang fatwa yang keluar kepada masyarakat dari seseorang tanpa didasari ilmu yang mumpuni, beliau menjawab: “Dosanya ditanggung oleh yang berfatwa.”

Hadits di atas diriwayatkan oleh Al-Darimiy dalam sunannya, tetapi hadits tersebut mu’dhol, karena terputus pada Ubaidillah bin Abi Ja’far yang seorang tabi’ tabi’in dan meninggal pada 136 H. Namun demikian hadits ini banyak diketahui para ulama dan makna dari hadits ini sahih, sehingga merekapun membahas maksudnya.

Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Barang siapa menjawab semua pertanyaan keagamaan yang diajukan kepadanya, dia adalah orang gila.”

Atho’ ibn al-Sa’ib dari kalangan tabi’in mengatakan bahwa orang-orang dulu gemetaran badannya ketika menjawab pertanyaan agama (memberikan fatwa).

Sufyan ibnu Uyainah mengatakan: “Orang yang paling berani berfatwa (menjawab pertanyaan keagamaan adalah orang yang paling bodoh.”

Abdurrahman bin Abu Laila mengaku pernah bertemu dengan seratus dua puluh orang sahabat nabi dari kalangan Ansor. Menurut pengamatannya, jika salah satu dari para sahabat itu ditanya suatu pertanyaan, maka ia akan mengalihkan ke temannya untuk menjawabnya, demikian seterusnya sampai kembali kepada orang pertama yang ditanya.

Al-Atsram sering mendengar imam Ahmad bin Hanbal mengatakan “Aku tidak tahu jawabannya”, ketika ditanya suatu permasalahan, padahal permasalahan itu sudah banyak dibahas orang (tidak dianggap permasalahan yang sulit).

Ibnu Abbas mengingatkan, jika orang sudah “gengsi” untuk mengatakan “saya tidak tahu”, maka sesungguhnya orang itu telah hancur.

Menurut Imam Al-Syafi’i, Sufyan ibnu Uyainah adalah orang yang sangat kompeten dan termasuk sebagian orang yang paling memenuhi syarat untuk berfatwa, meskipun demikian, Ibnu Uyainah terkenal paling tidak berani (hati-hati) menjawab pertanyaan keagamaan.

Imam Syafi’i apabila ditanyai pertanyaan keagamaan atau dimintai fatwa, beliau menimbang-nimbang dengan serius, apakah sebaiknya beliau jawab atau tidak.

Dari Al-Haitsam bin Jamil, dia berkata: Aku lihat Imam Malik bin Anas ditanyai empat puluh delapan pertanyaan maka dalam tiga puluh dua pertanyaan di antaranya beliau mengatakan: "Aku tidak tahu."

Padahal Imam Malik dikenal dengan gelarnya ‘Alimu al-Madinah, orang paling pandai di kota Madinah pada masanya.

Dan diriwayatkan dari Imam Malik juga bahwasanya beliau pernah ditanya sekitar lima puluh pertanyaan dan satupun beliau tidak berani menjawabnya, dan beliau pernah mengatakan: "Barang siapa mau menjawab suatu pertanyaan maka sebelumnya hendaklah dia menyodorkan dirinya ke surga dan neraka lalu berfikir kalau menjawab pertanyaan tersebut maka kira-kira bagaimana nasibnya di akhirat, baru setelah itu silakan dia menjawab."

Diriwayatkan juga dari Imam Malik bahwa suatu saat beliau pernah ditanya tentang permasalahan tapi beliau menjawab: "Tidak tahu", lalu yang bertanya itu berkata kepadanya: "Sesungguhnya pertanyaan ini kan masalah sepele dan mudah." Beliau marah dan berkata: "Tidak ada perkara mudah dalam urusan ilmu (agama), tidakkah kamu mendengar firman Allah: “Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat."

? ? ? ? ?

Imam Malik juga berkata: “Kalau para sahabat saja merasa berat menjawab pertanyaan-pertanyaan dan tidak berani menjawab persoalan sebelum berkonsultasi dengan sahabat lain padahal mereka dianugerahi oleh Allah dengan kemampuan dan petunjuk, juga disertai kesucian jiwa, lalu bagaimana dengan kita yang banyak kesalahan dan dosa?"

Dari Said bin Al-Musayyab ra, sesungguhnya beliau hampir tidak pernah berfatwa atau mengucapkan suatu perkara agama kecuali beliau berdoa: "Ya Allah selamatkanlah aku dan selamatkan orang-orang dariku."

Dari Basyar bin Al-Harits, beliau berkata: "Barang siapa masih merasa senang (bangga) jika ditanyai (persoalan agama) maka dia itu tidak berhak dan tidak layak dimintai fatwa."

Dari Malik, beliau berkata: "Aku diberitahu oleh seorang laki-laki bahwa dia pernah bertamu ke rumah Rabiah bin Abi Abdirrahman dan menjumpai Rabiah sedang menangis, maka dia bertanya: Kenapa anda menangis? Ia takut dan khawatir atas tangisan syaikh Rabiah maka dia bertanya lagi kepada beliau: Apakah anda terkena musibah? Beliau menjawab: Tidak, tapi aku menangis karena banyak orang-orang bodoh (dianggap ulama) dan dimintai fatwa sehingga muncullah kerusakan yang sangat besar di kalangan umat Islam." Rabiah kemudian melanjutkan: "Sungguh di antara orang-orang yang berani berfatwa ini lebih layak masuk penjara daripada para pencuri."

Diriwayatkan dari Makhul dan Imam Malik ra, sesungguhnya mereka tidak pernah menjawab pertanyaan keagamaan kecuali sebelumnya mengucapkan: "? ? ? ? ? ?"

Ibnu Sholah mengatakan bahwa sebaiknya siapapun yang akan menjawab pertanyaan keagamaan hendaklah mengucapkan apa yang diucapkan oleh Imam Malik di atas. Adapun Imam Abu Hanifah terkenal dengan perkataanya:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Jika bukan karena kesadaran bahwa meninggalnya ulama akan menghilangkan ilmu, maka aku tidak akan pernah berfatwa, mereka enak sedangkan aku yang harus beresiko menanggung dosa.”

Ibnu Qoyim juga menyebutkan bahwa Ibnu Abbas pernah mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Barang siapa berfatwa tentang suatu permasalahan padahal dia tidak menguasai hal itu, maka dosanya harus ditanggung olehnya.

Al-Khatib meriwayatkan Bahwa Malik pernah berkata: "Aku tidak berani berfatwa (menjawab pertanyaan-pertanyaan keagamaan) sebelum aku dianggap dan diakui oleh tujuh puluh orang bahwa aku memenuhi syarat untuk menjawab."

Malik juga berkata: Aku tidak berani berfatwa sehingga aku bertanya kepada orang yang lebih berilmu dariku dengan tujuan untuk mengetahui apakah orang itu berpendapat bahwa aku layak menjawab pertanyaan keagamaan."?

Beliau juga penah bekata: "Tidak sepatutnya seseorang menganggap dirinya memenuhi syarat untuk melakukan suatu hal sebelum dia berkonsultasi dan menanyakan kepada orang yang lebih berilmu tentang hal itu apakah dirinya layak atau tidak."

Adab para ulama besar yang benar-benar menguasai ilmu-ilmu agama secara mendalam sebagaimana disebutkan diatas nampaknya tidak lagi diperhatikan oleh para penceramah pada zaman ini. Yang dipertontonkan oleh kebanyakan para dai pada saat ini justru merupakan kebalikan dari adab-adab yang diajarkan oleh para ulama.

Yang juga perlu diperhatikan dari sikap dan adab para ulama tersebut adalah bahwa kehati-hatian mereka dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan keagamaan bukan merupakan sikap berlepas tangan atau meninggalkan kewajiban mereka untuk menyampaikan ajaran Islam. Para ulama itu diketahui telah mengabdikan hidupnya untuk menelaah dan mempelajari secara mendalam sumber-sumber ajaran Islam untuk kemudian dijadikan landasan dalam menjawab berbagai macam persoalan umat Islam yang membutuhkan jawaban.

Beribu-ribu halaman buku menampung hasil ijtihad para ulama yang benar-benar faqih tersebut. Ratusan bahkan ribuan permasalahan dalam agama yang memerlukan penjelasan telah mereka teliti dan berikan jawabannya dengan didasarkan pada ayat-ayat dan hadis-hadis serta atsar dari para sahabat.

Jasa mereka sangat besar kepada umat Islam dalam urusan agama. Meskipun dalam kehati-hatian sikap mereka ada kesan lambat dalam memberikan jawaban namun mereka terbukti telah menjadi pencerah dan pembimbing umat. Berkaca dari sikap para ulama tersebut dan bukti nyata sumbangan ilmu yang bermanfaat dari mereka untuk umat Islam, maka alasan beberapa orang yang tergesa-gesa ingin kelihatan hebat dan dipandang alim dalam ilmu agama sehingga bertindak sembrono dalam urusan fatwa menjadi jelas, bahwa hal itu tidak bisa diterima dan tidak sejalan dengan adab Islam yang benar.

Hadits nabi yang menyuruh kita untuk menampaikan ajaran dari beliau walau satu ayat adalah sebuah perintah. Sebagai perintah-perintah lain dalam agama, perintah untuk tabligh inipun juga disertai dengan tata cara dan etika tertentu. Menjalankan perintah agama tanpa mempelajari dulu tata cara dan etikanya, bisa menjerumuskan kita kepada kerusakan dan kehancuran.

Mantan mufti Mesir Syaikh Ali Jumah dalam bukunya Al-Mutasyaddidun mengingatkan bahwa seorang penceramah tidak otomatis boleh menjadi seorang mufti. Tidak semua penceramah atau orang yang pandai berpidato adalah orang alim yang faqih dan memenuhi syarat untuk dimintai fatwa atau ditanya tentang permasalahan keagamaan.

Untuk menjadi seorang mufti, diperlukan banyak sekali perangkat. Banyak syarat yang harus dipenuhi seseorang untuk bisa menjadi mufti dan boleh menjawab pertanyaan-pertanyaan keagamaan.

Berikut ini syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang mufti, sebagaimana diringkas oleh Imam Al-Syafi’i sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Khatib:

“Tidak ada yang boleh berfatwa tentang agama Allah kecuali yang mengetahui tentang kitab Allah lengkap dengan nasikh dan mansukhnya, muhkan dan mutasyabihatnya, tafsirnya, waktu nuzulnya, Makkiyah dan Madaniyahnya, dan apa yang dimaksudkannya. Setelah itu dia juga harus menguasai urusan hadis nabi dengan pengetahuan yang sama dengan pengetahuan terhadap AL-Qur’an. Ia juga harus mengerti bahasa Arab, mmahami syi’ir-syi’ir Arab. Mengetahui seluruh ayat Al-Quran dan hadis-hadis yang diperlukan untuk membahas suatu permasalahan tertentu, kemudian menggunakannya secara benar. Ia juga harus mengetahui perbedaan pendapat antara para ulama dari berbagai negeri. Dan terakhir ia harus “berbakat”.

Imam Nawawi menambahkan mutayaqqidh; waspada, yaitu memahami permasalahan-permasalahan umat beserta keadaanya.

Para Ulama Al-Azhar, di antaranya Dr. ‘Ala’udin al-Za’tari mengatakan: “Seseorang secara syar’i dilarang atau diharamkan memberikan jawaban atas pertanyaan keagamaan dengan mengiran-ngira jawaban menggunakan nalarnya saja tanpa beristidlal atau mencari tahu dalil maupun hasil ijtihad ulama yang valid, apalagi mengeluarkan jawaban yang malah bertentangan dengan nash-nash yang memiliki dalalah qoth’i, yaitu nash yang mengandung hukum yang jelas dan pasti. Dilarang juga memberikan jawaban yang bertentangan dengan Ijma’ atau konsensus para ulama ataupun bertentangan dengan kaidah-kaidah ushul yang disarikan dari nash.

Maka penguasaan ilmu agama dan mempelajari hasil-hasil ijtihad para ulama adalah kewajiban mutlak bagi seorang mufti.”

Beberapa perkataan ulama di atas hanya saya kutip tanpa saya jelaskan panjang lebar, karena tulisan inipun sudah terlalu panjang. Tetapi tentu Mamah bisa dengan mudah memahami maksud dari pernyataan dan contoh perilaku para ulama yang saya kutip di atas.

Sekarang izinkan saya mennyampaikan keberatan saya atas gaya tanya jawab keagamaan yang dijawab secara langsung di tempat pengajian, apalagi disiarkan oleh televisi. Keberatan ini bukan hanya soal fatwa Ibu tentang dokter hewan Muslim, yang memang sangat perlu anda pelajari. Tetapi juga tentang gaya pengajian Ibu di televisi yang menyertakan sesi tanya jawab.?

Merujuk pada paparan saya di atas, maka pengajian model seperti itu meskipun kelihatannya Islami, tetapi sangat banyak mengandung bahaya. Baik bahaya untuk para penonton, maupun bagi penceramah yang merangkap sebagai mufti on the spot.

Alangkah baiknya kalau pertanyaan-pertanyaan yang diajukan jama’ah itu ditampung dulu, kemudian ditela’ah dan dipelajari dengan sungguh dengan menggunakan rujukan kitab-kitab yang terpercaya, baru dijawab pada edisi berikutnya.

Akan lebih baik lagi, jika memang belum memenuhi syarat untuk berfatwa, maka kita mengutip saja hasil fatwa para ulama, baik ulama zaman dulu atau kontemporer mengenai permasalahan yang ditanyakan, dengan penjelasan rinci, menurut ulama A begini, B begini, dan seterusnya.

Dan akan lebih selamat lagi kalau ceramah keagamaan diisi saja dengan nasihat-nasihat tentang kebaikan yang diajarkan agama secara umum, bukan tentang masalah-masalah yang memerlukan kemampuan khusus untuk membahasnya.

Ingatlah, para ulama mengatakan bahwa orang yang menjawab pertanyaan keagamaan itu ibarat "penanda-tangan atas nama Allah". Menurut Ibnu al-Munkadir, karena posisi mufti itu layaknya penghubung antara Allah dan makhluk, maka ia harus benar-benar berilmu.

Dari Abi Hasin Al-Asadi, dia berkata: "Sesungguhnya salah satu dari kalian ada yang berani berfatwa dalam suatu permasalahan yang jika hal itu ditanyakan kepada Umar bin Khattab maka beliau akan mengumpulkan para sahabat yang ikut dalam perang Badar (untuk menjawabnya)."

Kepada para pemilik stasiun televisi, tolong jangan rusak umat Islam dengan acara yang seolah-olah Islami tetapi justru bertentangan dengan etika yang digariskan oleh para ulama sejak zaman salafus shaleh.

Jangan lakukan hal-hal yang mendegradasi keluhuran agama. Bisnis dan agama tidak harus bertentangan, tapi bisnis jangan juga merusak etika agama.

Kepada MUI dan ormas-ormas Islam yang banyak mewadahi kaum Muslimin Indonesia, tolong buatlah imbauan dan maklumat mengenai permasalahan ini.

Kepada pemerintah Republik Indonesia, tolong bicarakan permasalahan ini dengan MUI dan ormas-ormas Islam, agar kehidupan beragama menjadi semakin baik.

Akhirul Kalam, kebenaran mutlak hanya milik Allah. Semoga kita semua dijaga oleh Allah dari kesesatan.

Wallahu al-muwaffiq ilaa aqwami al-thoriq, Wassalaamu ‘Alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh.

Dari seorang Muslim biasa dengan laqob Alex Ramses.

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Internasional, Sunnah ArrahmahMedia.Com

Kamis, 05 Oktober 2017

Ustadz “Jama’ah oh jamaah” Sampaikan Hikmah Tahun Baru Islam

Makassar, ArrahmahMedia.Com. Pondok Pesantren Annahdlah Makassar menggelar peringatan tahun baru Islam 1 Muharram 1436 H yang dilaksanakan Senin (27/10) kemarin di Masjid Nurul Ihsan Kelurahan Layang Kecamatan Bontoala. Ustadz Nur Maulana dalam kesempatan itu menyampaikan hikmah tahun baru Islam.

Ustadz “Jama’ah oh jamaah” Sampaikan Hikmah Tahun Baru Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Ustadz “Jama’ah oh jamaah” Sampaikan Hikmah Tahun Baru Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Ustadz “Jama’ah oh jamaah” Sampaikan Hikmah Tahun Baru Islam

Acara ini dirangkaikan dengan silaturrahim antar alumni mulai dari angkatan pertama hingga angkatan ke-25, orang tua santri, guru, dan jamaah. Ustadz Nur Maulana yang dikenal sebagai Ustadz Jamaah yang sangat populer di salah satu stasiun televisi swasta nasional juga merupakan alumni Pesantren Annahdlah.

Kegiatan ini bertujuan untuk memupuk rasa kecintaan terhadap Annahdlah sebagai benteng Ahlussunnah wal Jamaah di Sulawesi Selatan, menumbuhkan rasa memiliki terhadap Annahdlah, dan perlu adanya keterikatan secara emosional orang tua, santri, guru, dan alumni saling mengenal satu sama lain, ungkap Gurutta Kiai Afifuddin Harisah, pemimpin pesantren Annahdlah di hadapan ribuan jamaah.

ArrahmahMedia.Com

Alhamdulillah, saat ini Annahdlah sedang membangun 3 lantai gedung belajar untuk pemenuhan sarana belajar bagi santri untuk bisa lebih baik dan tentunya gedung ini akan menjadi pusat kaderisasi bagi santri dalam menuntut ilmu pengetahuan, tambahnya.

Ustadz Maulana yang menyapaikan hikmah tahun baru Islam mengatakan, hijrah mempunyai dua dimensi. Hijrah fisik berarti perpindahan dari suatu tempat ke tempat yang lebih baik. Sementara hijrah non fisik yakni perpindahan dari sikap yang buruk ke sikap yang lebih baik.

ArrahmahMedia.Com

Tampak hadir Syekhul Mahad Anregurutta  KH Baharuddin HS yang juga Rais Syuriyah PCNU Makassar, Pengurus Yayasan Annahdlah, Ketua Ikatan Alumni Ponpes Annahdlah Firdaus Dahlan,

Dalam kegiatan ini pula, santri, alumni, orang tua, guru dan jamaah berhasil mengumpulkan dana untuk pembangunan Gedung kurang lebih 50 juta. Hal ini sebagai bentuk tanggung jawab sebagai santri melanjutkan apa yang dicita-citakan Allahu Yarham Anregurutta KH Muh Harisah sebagai Pendiri Pesantren Annahdlah Makassar.

“Dulu Gurutta Harisah sering mengajarkan kita untuk mejadi dermawan dan mengajarkan pada orang lain menjadi dermawan, kalimatyang beliau sering ucapkan, pangajari tauwe mancaji malabo (ajarkan orang agar menjadi dermawan),” kata Gurutta Kiai Afifuddin Harisah. (Andy Muhammad Idris/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com News, Sunnah ArrahmahMedia.Com

Rabu, 23 Agustus 2017

Siapkan MTQ Internasional, JQH NU Studi Banding ke Mesir

Jakarta, ArrahmahMedia.Com

Pengurus Pusat Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffazh (JQH) Nahdlatul Ulama akan menyelenggarakan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Antar Pondok Pesantren VII dan MTQ Internasional I antar lembaga-lembaga Al-Qur’an di Pontianak Kalimantan Timur pada Oktober 2011 mendatang.

Khusus untuk persiapan MTQ Internasional I, PP JQH NU akan mengadakan studi banding ke Mesir pada saat diberlangsungkannya MTQ Internasional di sana, pada 29 Agustus hingga 5 September 2010 mendatang.

Siapkan MTQ Internasional, JQH NU Studi Banding ke Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)
Siapkan MTQ Internasional, JQH NU Studi Banding ke Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)

Siapkan MTQ Internasional, JQH NU Studi Banding ke Mesir

Rombongan yang akan berangkat ke Mesir antara lain Ketua Umum PP JQH KH A. Muhaimin Zen, Pengurus PP JQH Hj. Khadijatus Sholihah, Sekretaris PW JQH Kaltim Muhammad Zuraini Ikhsan, dan Bendahara PW JQH Kaltim Hj. Sri Wahyuni.

ArrahmahMedia.Com

Menurut Ketua Umum PP JQH KH Muhaimin Zen, rombongan akan berangkat ke mesir pada Sabtu, 28 Agustus dan akan mengikuti pelaksanaan JQH hingga usai. Selain memimpin studi banding, dirinya juga bertindak sebagai pembina peserta MTQ Internasional Mesir dari Indonesia.

Adapun materi studi banding yang dilakukan meliputi sistem penyelenggaraan, sistem rekrutmen peserta, sistem perhakiman, tata tertib peserta, pedoman standar peraturan kejuaraan serta hak dan kewajiban peserta.

?

ArrahmahMedia.Com

“Untuk keperluan studi banding itu kami akan bekerjasama dengan KBRI setempat dan PCINU di Mesir,” kata Muhaimin Zen di kantor PP JQH, lantai 4 PBNU Jakarta, Senin (23/8).

Diharapkan studi banding atas pelaksanaan MTQ Internaional di Mesir ini dapat menjadi pelajaran penting dalam pelaksanaan MTQ Internasional yang dilaksanakan PP JQH di Kaltim tahun depan.

Selain ke Mesir, rencananya PP JQH dan PW JQH Kaltim juga akan mengadakan studi banding atas pelaksanaan MTQ Internasional di empat negara, yakni Arab Saudi, Jordan, Libya, dan Malaysia. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pesantren, Sunnah, Quote ArrahmahMedia.Com

Kamis, 06 Juli 2017

“Kampung Shalawat” dari Sukoharjo

Sukoharjo, ArrahmahMedia.Com. Apabila Solo mengklaim dirinya sebagai Kota Shalawat, maka warga Kampung Mloyo Ngasinan Bulu Kabupaten Sukoharjo, menyebut daerahnya sebagai ‘Kampung Shalawat’. Memang sah-sah saja mereka menjuluki dengan nama tersebut. Namun, tentu ada yang mendasarkan penamaan itu.

Salah seorang warga, Fisal, menuturkan sebutan ‘Kampung Shalawat’ berawal dari sebuah usul seorang tokoh agama setempat, Ustad Muhammad Rafi Bardi. “Sekitar tahun 2011, Pak Bardi yang memberikan nama tersebut,” ungkapnya saat dihubungi ArrahmahMedia.Com, Ahad (22/9).

“Kampung Shalawat” dari Sukoharjo (Sumber Gambar : Nu Online)
“Kampung Shalawat” dari Sukoharjo (Sumber Gambar : Nu Online)

“Kampung Shalawat” dari Sukoharjo

Saat dikonfirmasi, Pak Bardi, begitu sapaannya membenarkan keterangan yang disampaikan oleh Fisal. “Karena setiap hari, warga kami biasa mengamalkan untuk membaca 2000 shalawat,” papar Bardi.

ArrahmahMedia.Com

Di samping itu, Bardi menambahkan di kampungnya juga rutin diselenggarakan kegiatan shalawat. “Paling tidak setiap Minggu kita adakan acara pembacaan shalawat,” katanya.

Secara bergilir setiap minggunya dibaca berbagai macam kitab maulid, seperti al-Barzanji, Simtuddurar, dan Burdah. Kegiatan tersebut ternyata mendapat respon positif dari warga. Ratusan warga antusias mengikuti setiap kegiatan shalawat yang diadakan.

ArrahmahMedia.Com

Bardi menuturkan, kini ia bersama warga tengah membangun sebuah gedung, yang kelak akan diberi nama gedung shalawat. “Sementara ini kegiatan terpusat di Masjid Nur Hidayah, selain juga berkeliling dari rumah ke rumah,” jelasnya.

Kegiatan shalawat di kampung Mloyo ini juga tak lepas dari peran para habaib, diantaranya Habib Noval al-Idrus, Habib Syarif Mulachela, Habib Muhammad al-Habsyi dan lainnya. Secara bergantian, mereka mengisi kajian rohani kepada warga.

Namun, upaya warga ‘Kampung Shalawat’ untuk memperbanyak pujian kepada Nabi Muhammad saw. ini ternyata tak luput pula dari tantangan. Beberapa kelompok yang tidak suka dengan kegiatan mereka ini, bahkan pernah datang untuk menghentikan kegiatan shalawatan. Namun, oleh Badir oknum tersebut kemudian diajak bertemu untuk menjelaskan argumennya. “Kita tidak usah takut dengan mereka,” tegasnya.

Bagi Badir dan warga ‘Kampung Shalawat’ lainnya, berbagai ancaman dan tantangan yang datang merupakan hal yang biasa terjadi. Namun, tak menyurutkan langkah mereka untuk tetap menyuarakan shalawat nabi dan dakwah di daerah pelosok Sukoharjo bagian selatan itu. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Meme Islam, Nahdlatul, Sunnah ArrahmahMedia.Com

Minggu, 05 Maret 2017

Gusdurian Lombok Gelar Halaqah Antikorupsi di Pesantren

Lombok Barat, ArrahmahMedia.Com

Jaringan Gusdurian Lombok menggelar halaqah bertema “Siasat Pesantren dan Nahdliyin dalam Menghindari Jebakan Korupsi” di Pondok Pesantren Al-Halimy Desa Sesela, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat, Rabu (13/4).

Hadir sebagai pembicara Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian Alissa Wahid, mantan wakil ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto, Direktur Dikyanmas KPK Sujanarko.

Gusdurian Lombok Gelar Halaqah Antikorupsi di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Gusdurian Lombok Gelar Halaqah Antikorupsi di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Gusdurian Lombok Gelar Halaqah Antikorupsi di Pesantren

Koordinator Jaringan Gusdurian Lombok Fairuz Zabadi menyebutkan, pondok pesanten di Lombok Barat menjadi pilihan tempat acara lantaran banyaknya lembaga pendidikan Islam itu di Lombok Barat. Pemerintahan Lombok Barat juga mempunyai rekam jejak yang kelam. Dua kali berturut-turut bupati Lombok Barat terjerat kasus korupsi.

ArrahmahMedia.Com

Alissa mengatakan, pesantren memiliki kontribusi tinggi terhadap pembanguan bangsa di banding sekolah-sekolah negeri yang satu desa hanya ada satu SD. Apalagi sekolah model dengan biaya mahal, menurut adik kandung putri Gus Dur ini, tidak semua masyarakat bisa mengakses karena mahal.

ArrahmahMedia.Com

"Oleh karena itu, pesantren penting mengetahui haknya di negara namun harus tidak terjebak dengan permainan koruptor," harapnya.

Alissa juga banyak menyanpaikan seputar komitmen almarhum Gus Dur dalam melawan dan memberantas korupsi. Gerakan antikorupsi berbasis pesantren, menurutnya, penting dilakukan warga NU khususnya di Lombok Barat.

Turut hadir Pengasuh Pondok Pesantren Al-Halimy TGH Munajib Khalid, perwakilan badan otonom NU, lembaga NU, dan puluhan perwakilan dari pesantren se-Lombok Barat. (Hadi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Khutbah, Doa, Sunnah ArrahmahMedia.Com

Minggu, 05 April 2015

Juara I Region Jatim II, Kesebelasan DaTa Boyong Trofi Walikota Kediri

Kediri, ArrahmahMedia.Com - Setelah melalui perjuangan yang melelahkan, kesebelasan Pesantren Darut Taibin (DaTa) asal Tulunggung memenangi babak final Liga Santri Nusantara (LSN) Regional Jatim II di Stadion Brawijaya, Rabu (31/8). Kesebelasan DaTa menjadi juara setelah tim asal Kota Marmer itu berhasil melibas kesebelasan Pesantren An-Nur 2 Turen Malang dengan skor 3-0.

Dengan demikian kesebelasan DaTa melaju ke putaran level nasional antardaerah LSN.

Juara I Region Jatim II, Kesebelasan DaTa Boyong Trofi Walikota Kediri (Sumber Gambar : Nu Online)
Juara I Region Jatim II, Kesebelasan DaTa Boyong Trofi Walikota Kediri (Sumber Gambar : Nu Online)

Juara I Region Jatim II, Kesebelasan DaTa Boyong Trofi Walikota Kediri

Tiga gol diciptakan oleh Tozzario Afandi pada menit ke-21, Nando Hendra J pada menit ke-42, dan M Alim Alfin di menit ke-62 melalui titik penalti.

Sementara kesebelasan An-Nur 2 Turen Malang harus puas menempati posisi II karena ditaklukkan Dwiki Fauzi dan kawan-kawan. Sedangkan juara III direbut oleh kesebelasan Quen Al-Falah Ploso Mojo Kediri setelah mengalahkan kesebelasan Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan Jombang dengan skor 4-0.

ArrahmahMedia.Com

Pada babak pertama kesebelasan DaTa bermain taktis dengan umpan-umpan pendek. Kekompakan untuk saling bagi bola teratur rapi. Beberapa kali peluang tercipta di mulut gawang. Namun pertahanan belakang kesebelasan An-Nur juga tidak bisa diremehkan. Terbukti bola yang? masuk wilayahnya langsung disapu bersih. Kesebelasan An-Nur seperti diintruksikan main ‘aman-aman saja’.

Strategi An-Nur diketahui oleh Agus pelatih kesebelasan DaTa. Agus mengintruksikan asuhannya agar membawa bola dengan menyisir ke pinggir terlebih dulu. Baru bila ada kesempatan langsung? gebrak ke depan dan ternyata strateginya ini berhasil. Setidaknya ada 3 peluang gol bisa masuk. Namun pemain depan kurang? tajam. Hanya satu gol yang bisa tercipta melalui Tozzario Afandi di menit ke-21. Hingga turun minum posisi tetap 1-0 untuk Dwiki dan kawan-kawan.

ArrahmahMedia.Com

Kesebelasan DaTa tidak mengubah taktik di awal-awal babak kedua. Bahkan intensitas serangan ditingkatkan sehingga para pemain An-Anur harus jatuh bangun membendung serangan pemain DaTa. Karena memang lebih unggul di teknik, pada menit ke-42 Nando Hendra? J melesatkan bola ke gawang An-Nur sehingga Rizki Ananda (penjaga gawang) harus memungut bola di jala gol pal.

Di menit-menit tersebut, tampak kedua tim sama-sama kehabisan stamina. Terbukti serangan-serangan tajam sudah mulai turun. Namun kesebelasan DaTa berhasil menambah gol setelah mendapat hadiah penalti dari wasit karena pelanggaran pemain belakang Anu-Nur. Hadiah penalti diberikan. M Alim Alfin sukses mengesekusi bola bundar itu ke gawang An-Nur. Semakin kuatlah posisi tim DaTa untuk menjadi juara dengan tambahnya satu gol dari M Alim tersebut.

Hingga peluit panjang wasit berbunyi kedudukan masih tetap 3-0 untuk tim DaTa. “Alhamdulilah anak-anak? bermain taktis dan kompak. Terlihat kerja sama anak-anak sangat baik,” ujar Ahmad Syafii, manajer kesebelasan DaTa usai pertandingan.

Atas keberhasilan itu maka Kesebelasan Pesantren DaTa berhak? atas Trophi Walikota Kediri yang? kemarin diserahkan? oleh Wakil Walikota Kediri,Ibu Hj. Lilik Muhibbah,yang didampingi seluruh panitia dan penyelenggara.

Kemenengan itu disambut luar biasa oleh pemain, official, dan sporter dari kesebelasan DaTa. Mereka langsung beramburan memeluk para pemain.

Sementara Quen Al-Falah meski hanya merebut juara III tetap bermain ngotot. Terbukti? pada menit ke-2 sudah menyarangkan bola ke gawang Darul Ulum melalui kaki Wildanun. Kemudian belum sampai 9 menit berlangsung kesebelasan Quen menambah satu gol lagi melalui Sulthan Abdul Kahfi pada menit 11. Hingga babak pertama berakhir kedudukan masih tetap 2-0.

Pada babak kedua Quen Al-Falah menambah dua gol. Gol ini tercipta melalui kaki Prasetya pada? menit ke-51 dan Ahmad? Lutfan pemain pengganti pada menit ke-67. Dengan itu kesebelasan Quen unggul dengan skor 4-0 atas Darul Ulum. Ia berhasil menempati posisi juara III. (Imam Kusnin Ahmad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Ahlussunnah, Sunnah, Doa ArrahmahMedia.Com

Minggu, 22 Maret 2015

Tanggung Jawab Kebangsaan NU

Oleh Wahyu Iryana



Mencermati jejak perjalanan Nahdlatul Ulama (NU), tidak bisa dipisahkan dari jasa para ulama kharismatik seperti KH Challil (Bangkalan, Madura), KH Muhammad Hasyim Asy’ari, KH Bisri Syansuri, KH Abdul Wahab Chasbullah (Jombang), KH Abdul Halim, KH Abbas (Cirebon), KH Abdullah Faqih (Gresik), KH Dahlan Abdul Qohar (Kertosono), KH R Asnawi (Kudus), KH Nahrowi, KH Alwi Abdul Aziz (Malang), dan beberapa ulama lainnya yang berjasa memberikan sumbangsih pemikiran lahirnya NU di Surabaya 16 Rajab 1344/31 Januari 1926. Para kiai juga sepakat membentuk Komite Hijaz untuk membendung gerakan Wahabi yang gemar melakukan aksi pembongkaran makam-makam para penyebar Islam terdahulu, termasuk makam Nabi Muhammad Saw yang berhasil digagalkan atas peran serta para tokoh NU yang membentuk Komite Hijaz tersebut.

Tanggung Jawab Kebangsaan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanggung Jawab Kebangsaan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanggung Jawab Kebangsaan NU

Momentum kelahiran NU sebagai organisasi religius, sosial, kemasyarakatan memiliki tujuan mulia yakni membina masyarakat Islam berdasarkan paham Ahlusunnah wal Jama’ah. Hal ini sesuai dengan amanat organisasi Pasal 3 ayat a dan b (Statuten Perkoempulan Nadlatoel Oelama 1926, HBNO, Surabaya, 1344 H).

ArrahmahMedia.Com

Harus diakui dalam catatan panjang sejarah NU tidak bisa dipisahkan dari semangat perjuangan bangsa Indonesia, sebagai contoh ketika pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Wakil NU yang duduk di BPUPKI dan PPKI yakni KH Wahid Hasyim ikut merumuskan dasar-dasar negara dan aturan tata nilai kebangsaan, termasuk juga seruan KH Hasyim Asy’ari tentang resolusi jihad mempertahankan NKRI pada tanggal 22 Oktober 1945 melawan Belanda yang datang kembali ke Tanah Air, begitu pun kiprah Gus Dur sebagai guru bangsa telah menelurkan berbagai aksi positif untuk kemajuan dan kesejahtraan umat manusia dalam bingkai perdamaian. Itulah sedikit bukti andilnya NU dalam membidani adanya Indonesia.

ArrahmahMedia.Com

Semangat Kebangsaan



Setiap organisasi pasti memiliki identitas nasional sebagai wujud kesadaran berbangsa, begit pun NU sampai detik ini masih tetap di garda depan untuk menyerukan dan mempertegas eksistensi kedirian jati diri bangsa yang beragam dalam naungan Bhinneka Tunggal Ika. Sebagai organisasi besar NU dituntut mampu memberi kontribusi lebih kepada bangsa yang sedang dirundung berbagai problem-problem yang mendasar seperti korupsi, akhlak dan moral para pemimpin, banjir, pemerataan pembangunan yang tak kunjung bersua, kemiskinan, pengangguran dan sebagainya. Idealnya yang menjadi ukuran besar dan kecilnya organisasi bukan pada kuantitas, namun dalam kualitas. Yang besar dan berkualitas dengan sendirinya akan unggul, tetapi yang harus kita pahami adalah yang kecil dan berkualitas pun akan mampu mengalahkan yang besar tapi tidak berkualitas. Namun, selama manusia hidup bersuku-suku dan berbangsa-bangsa selama itu pula corak budaya dan keragaman akan terus hidup berdampingan. ?

Di era modern ini agaknya makin sedikit rakyat Indonesia yang berpikir tentang semangat nasionalisme. Manusia Indonesia sekarang disibukkan dengan bagaimana mencari pekerjaan tetap, mengakhiri kemiskinan, kesejahteraan hidup yang layak, terbebas dari banjir dan macet, atau bahkan bagaimana cara memenangkan pemilu dengan menghalalkan berbagai cara. Setelah Indonesia merdeka, selama hampir lebih dari enam dekade, semangat kebangsaan kita lebih condong pada menuntut persamaan keanggotaan kewarganegaraan dari semua kelompok etnis dalam satu nation.

Banyak faktor yang memperkuat lunturnya semangat kebinekaan kita. Pada satu sisi, mereka merasa pesimis lantaran memandang begitu banyaknya persoalan yang menimpa bangsa setahun terakhir ini. Pertikaian dan kekerasan seakan sudah menjadi keseharian masyarakat. Sedemikian mengkhawatirkannya, bahkan untuk persoalan sepele seperti percekcokan mulut acapkali berbuntut panjang hingga mengorbankan jiwa manusia. Malah yang lebih dahsyat, sebagaimana yang diberitakan di belbagai media, kasus pemerkosaan yang semakin merajala.

Sisi lain, sikap ketidakpercayaan publik terbentuk ketika memandang segenap upaya pemerintah yang tidak juga membuahkan hasil. Baik dalam persoalan politik, maupun perekonomian penanganan pemerintah masih belum memuaskan. Kini sulit rasanya untuk mengagung-agungkan berbagai kelebihan yang dimiliki oleh pemerintahan sekarang.

Terhadap keberadaan pemerintah saat ini, Bastian Nainggolan pernah menulis bahwa masyarakat yang percaya perbaikan akan terjadi apabila pemerintah punya kekuatan dan kewibawaan, terpilah menjadi dua bagian, yaitu mereka yang tidak lagi memiliki kesabaran dan yang masih menyimpan rasa optimis terhadap pemerintah saat ini. Bagi mereka yang hilang kesabarannya, beranggapan tidak ada lagi yang dapat diharapkan dari pemerintah saat ini. Pemecahan masalah ini, pergantian pucuk pimpinan perlu dilakukan. Sebaliknya, sebagian kalangan lainnya masih tetap yakin dengan segenap kemampuan yang dimiliki oleh pemerintahan saat ini. Sekalipun apa yang dihasilkan setahun terakhir dianggap belum memadai, semua itu masih dapat dimaklumi mengingat betapa peliknya persoalan yang dihadapi.

Kedua, mereka yang sejak semula beranggapan bahwa kunci dari segenap persoalan berada dalam masyarakat itu sendiri. Pandangan seperti ini terjadi, mengingat selama bangsa ini memerdekakan diri, tidak pernah sekalipun pemerintahan yang terpilih mampu membawa kesejukan bagi masyarakatnya. Setiap memulai sebuah pemerintahan acapkali harapan muncul. Namun, sayangnya, dalam perjalanannya sebanyak itu pula ketidakpuasan yang diberikan. Oleh karena itu, bagi kalangan ini, kekhawatiran dan pesimisme dalam menyongsong tahun yang akan datang mereka hadapi dengan berbagai upaya untuk memperkuat kondisi internal mereka. Tidak menjadi soal, apakah pemerintah saat ini harus diganti atau tidak.

Meminjam bahasa Imam B Prasodjo yang mengatakan bila bangsa ini masih ingin bertahan hidup, kita harus melakukan upaya kolektif untuk melakukan penanggulangan masalah secara bersama-sama. Di tiap-tiap komunitas, perlu digalang pembentukan "unit-unit reaksi cepat" untuk mengatasi berbagai masalah yang ada. Berbagai kelompok mediasi harus ditumbuhkan untuk mengatasi konflik yang muncul. Asosiasi orangtua murid, pemuda, seniman, wartawan dan lain-lain perlu segera diaktifkan untuk mempercepat terciptanya komunitas responsif di lingkungannya masing-masing. Dalam situasi semacam ini, kita pun dapat menimba hikmah kata-kata John F Kennedy: "Ask not what your country can do for you, but ask what you can do for your country."

Di tahun politik sekarang ini NU kembali diuji, dengan tawaran-tawaran manis oleh para calon pejabat publik, untuk mendukung salah satu calon. Mampukah NU dapat keluar dari jalan yang berair itu ataukah terjebak kembali dalam lautan air yang menggunung karena centang berenang? Menilik sejarah perjalan politik negeri ini, dalam catatan pemilu tahun 1955, NU sebagai salah satu kontestan politik mampu meraih simpati masyarat, dan masuk lima besar partai pemenang pemilu. Namun dalam perjalan politiknya lagi-lagi NU hanya dijadikan kuda tunggangan ke puncak tahta. Disadari atau tidak, sampai detik ini NU masih menjadi magis bagi para calon pejabat untuk naik ke puncak kekuasaan, entah karena dalih jumlah massa yang banyak atau karena menginginkah keberkahan doa dari para kiai, yang jelas hal ini harus disikapi lebih dalam dan jernih lagi agar NU tidak terperosok kelubang yang sama.

Penulis adalah Dosen UIN Bandung. Pengurus Wilayah LTN PWNU Jawa Barat 2011-2016.



Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sunnah, Amalan ArrahmahMedia.Com

Selasa, 03 Desember 2013

Jum’at Sehat Pelajar MTs Maarif NU Fajaresuk

Pringsewu, ArrahmahMedia.Com. Pihak MTs Maarif Fajaresuk kabupaten Pringsewu membuat program olah raga bersama setiap Jumat pagi. Pihak sekolah mewajibkan setiap pelajar dan guru untuk turut serta dalam program ini. Mereka menilai penting kesehatan jasmani di samping kesehatan mental.

Jum’at Sehat Pelajar MTs Maarif NU Fajaresuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Jum’at Sehat Pelajar MTs Maarif NU Fajaresuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Jum’at Sehat Pelajar MTs Maarif NU Fajaresuk

Menurut Kepala MTs Maarif NU Fajaresuk Auladi Rosyad,  kegiatan olah raga tersebut rutin dilaksanakan setiap jumat pagi. Jenis olahraga yang dilakukan bervariasi setiap pekannya di antaranya senam santri, senam pramuka, dan jogging. 

Rosyad menambahkan, kegiatan olah raga ini membantu kebugaran siswa dalam bentuk olahraga tetapi juga menciptakan suasana senang dan ceria. Sehingga, para pelajar memiliki motivasi tinggi dalam belajar.

ArrahmahMedia.Com

Para pelajar juga diajak peduli lingkungan dengan melaksanakan kerja bakti membersihkan lingkungan bersama. "Dengan kerja bakti membersihkan lingkungan madrasah, diharapkan tercipta lingkungan yang sehat," kata Rosyad, Jumat (27/2).

Waka Kurikulum MTs Maarif Fajaresuk Indra Pramayoga mengatakan, perkembangan madrasah dari tahun ke tahun meningkat pesat. Barometer peningkatan ini dapat dilihat dari jumlah murid yang tiap tahunnya mengalami peningkatan luar biasa sampai dengan 100%.

ArrahmahMedia.Com

"Alhamdulillah para orang tua mempercayakan pendidikan anaknya di madrasah kami. Kepercayaan ini akan kami jaga dengan meningkatkan kualitas, sarana dan prasarana madrasah," ujar Indra.

Indra menjelaskan, untuk mendukung hal tersebut beberapa sarana sudah mulai direalisasikan. Salah satunya adalah pengadaan jaringan internet untuk keperluan proses pembelajaran Teknologi dan Informasi. Di samping itu pembangunan ruang lokal juga terus dalam proses penyelesaian untuk mempersiapkan siswa baru tahun pelajaran yang akan datang. (M Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sunnah, AlaSantri, Pendidikan ArrahmahMedia.Com

Jumat, 13 September 2013

Gus Dur Ingin Nikahi Perempuan Satu Bus?

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) diprotes oleh seorang penceramah di televisi gara-gara ada rombongan ibu-ibu pengajian satu bus yang mencium tangan Gus Dur saat sowan atau bersilaturrahim ke kediamannya di Pondok Pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan.

”Itu ada ulama tapi koq bersalaman dengan perempuan, kan bukan muhrim,” kata penceramah itu. ”Mestinya dia memberikan pelajaran yang baik kepada ummat,” katanya agak kesal.

Gus Dur Ingin Nikahi Perempuan Satu Bus? (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Ingin Nikahi Perempuan Satu Bus? (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Ingin Nikahi Perempuan Satu Bus?

Gus Dur tertawa saja mendengar itu. ”Memangnya perempuan satu bus mau saya nikahi semua, hehehe,” katanya.

”Masa bersalaman aja nggak boleh, lagian saya kan tidak lihat satu-satu orang yang datang,” kata Gus Dur. (anam)Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com IMNU, Sunnah ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock