Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Februari 2018

Kapolda Lampung Rogoh Kocek Pribadi Demi Liga Santri

Bandar Lampung, ArrahmahMedia.Com - Kapolda Lampung Brigjend (Pol) Ike Edwin menyambut baik kegiatan Liga Santri Nusantara. Pada pembukaan kegiatan, Senin (19/9), Ike yang juga Perdana Menteri Kepaksian Skala Brak, Lampung Barat berkenan melakukan tendangan pertama.

Di pengujung acara, Ike secara pribadi menjanjikan hadiah tambahan berupa uang pembinaan, juara pertama Rp5 juta, juara kedua Rp4 juta, dan juara ketiga Rp3 juta.

Kapolda Lampung Rogoh Kocek Pribadi Demi Liga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolda Lampung Rogoh Kocek Pribadi Demi Liga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolda Lampung Rogoh Kocek Pribadi Demi Liga Santri

"Ia mengapresiasi kegiatan tersebut dengan memberikan hadiah itu, bahkan diserahkan kontan kepada panitia," ujar Ketua Hipsi Lampung H Karim di Stadion Utama Pahoman Bandar Lampung, Kamis (22/9).

Sementara Pesantren Daarul Ulum Tanggamus melawan Pesantren Riyadhatul Ulum, Lampung Timur di babak final. Tanggamus unggul 1-0 atas Lampung Timur.

ArrahmahMedia.Com

Babak pertama pertandingan berjalan seimbang. Di babak kedua, menit ke-15 tim Tanggamus melalui penyerang Habib Fauzi Rahman mencetak gol perdana yang disambut gempita suporter dengan tabuhan rancak genderang dan teriakan senang.

ArrahmahMedia.Com

"Kami berlatih selama empat bulan sebelum kegiatan," ujar Rudi Hartono, pelatih kesebelasan Lampung Timur. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Khutbah, Ulama ArrahmahMedia.Com

Jumat, 26 Januari 2018

Yenny Wahid: Kiprah NU Semakin Diakui Masyarakat

Lombok Barat, ArrahmahMedia.Com. Putri kedua KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Yenny Zannuba Arifah Chafsoh Rahman atau yang dikenal Yenny Wahid mengungkapkan, kiprah dan perjuangan Nahdlatul Ulama (NU) saat ini semakin diakui oleh masyarakat.

Yenny Wahid: Kiprah NU Semakin Diakui Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Yenny Wahid: Kiprah NU Semakin Diakui Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Yenny Wahid: Kiprah NU Semakin Diakui Masyarakat

Hal itu disampaikan oleh Yanny Wahid ketika menyambangi proses Sidang Komisi Rekomendasi Musyawarah Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2017 di Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel, Lombok Barat, NTB, Jumat (24/11).

Yenny melihat, antusiasme masyarakat Lombok dalam menyambut Munas dan Konbes ini menunjukkan alasan bahwa kiprah NU semakin diakui.

“Selain itu, dukungan pemerintah daerah dalam penyelenggaraan Munas ini menunjukkan hal yang sama,” ujarnya.

ArrahmahMedia.Com

Masyarakat, menurut Yenny, tidak memungkiri perjuangan dan jasa NU untuk agama, bangsa, dan negara. Apalagi jika sudah terkait kepentingan umat dan masyarakat banyak.

“Perjuangan NU untuk kemaslahatan umat luar biasa,” ungkapnya.

ArrahmahMedia.Com

Dalam perhelatan Munas dan Konbes NU yang berlangsung 23-25 November 2017 ini, masyarakat Lombok juga diingatkan dengan sosok Gus Dur.

Hal ini terlihat di beberapa sudut Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat tempat dimana lima pesantren berada sebagai lokasi Munas, baliho Gus Dur terpampang dengan pesan yang lugas, “Menjadi Gus Dur, Menjadi Indonesia”. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Ulama ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 20 Januari 2018

Aspegnu Jalin Kerjasama dengan Garuda Food

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Asosiasi Petani Garam Nusantara (Aspegnu), sebuah asosiasi petani garam Nahdlatul Ulama, akan menandatangani kesepakatan bersama (MoU) dengan PT Garuda Food. Kesepakatan tersebut akan berlangsung di Pati, Jawa Tengah, pada 24 November nanti.

Aspegnu Jalin Kerjasama dengan Garuda Food (Sumber Gambar : Nu Online)
Aspegnu Jalin Kerjasama dengan Garuda Food (Sumber Gambar : Nu Online)

Aspegnu Jalin Kerjasama dengan Garuda Food

Hal tersebut mengemuka pada konferensi pers yang digelar Komite Garam PBNU di gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (22/11). Komite Garam adalah semacam syuriyah dari Aspegnu.

Ketua Komite Garam PBNU Prof. Rokhmin Dakhuri mengatakan, Aspegnu adalah tindak lanjut dari Kongres Garam Rakyat yang digelar di Madura, awal Juli 2012 lalu. Tujuannya adalah mensejahterakan petani garam.

ArrahmahMedia.Com

Pada kesempatan itu, Dian Astriana, perwakilan dari Garuda Food, mengatakan pihaknya membutuhkan 30 ton garam per hari dan 400 ton per tahun. Kebutuhan itu dipenuhi berbagai suplayer yang telah menjadi langganan Garuda Food.

“Pihak kami siap untuk menerima suplai garam dari petani garam yang tergabung di Aspegnu karena sudah lama bekerjasama dengan NU,” katanya.

ArrahmahMedia.Com

Pada pertemuan itu, belum menyebutkan harga, dan jumlah garam yang akan diterima PT Garuda Food. Hal itu akan akan ditentukan pada penandatangan MoU nanti.

Konferensi pers yang dipandu anggota Komite Garam PBNU, Ahmad Solechan, tersebut dihadiri belasan wartawan beragam media. Hadir pula pada salah seorang Ketua PBNU KH Mochammad Maksum Machfoedz dan Sekretaris PP Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama, Mustolihin Majid.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Ulama, Khutbah ArrahmahMedia.Com

Jumat, 19 Januari 2018

Harlah Ke-1 KMNU UII Gelar Tasyakuran

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Keluarga Mahasiswa Nahdlatul ‘Ulama Universitas Islam Indonesia (KMNU UII) mengadakan khataman Al-Quran 30 juz di pesantren Daarul Yatama Maguwoharjo Sleman, Yogyakarta. Mereka memperingati tasyakuran tahun pertama KMNU di UII.

Tasyakuran diisi dengan silaturahmi antara aktivis KMNU UII, UGM, UNY, dan anak yatim dan santri Daarul Yatama, Ahad (8/11) kemarin.

Harlah Ke-1 KMNU UII Gelar Tasyakuran (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah Ke-1 KMNU UII Gelar Tasyakuran (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah Ke-1 KMNU UII Gelar Tasyakuran

Tampak hadir Fatchur Rahman, Ahmad Nur Shobah dari MPO KMNU Pusat, dan Koordinator BPH Regional 2 KMNU Muhammad Dliyaudin.

ArrahmahMedia.Com

Peringatan ini diawali dengan ziarah makam KH Mufid Mas’ud selaku pendiri pesantren Sunan Pandanaran.

ArrahmahMedia.Com

Ketua KMNU UII Mazdan Maftukha menyampaikan bahwa lahirnya KMNU merupakan sebuah komunitas yang mengatasnamakan “keluarga”, bukan karena embel-embel Islamnya tapi karena ada “ulama” di situ. KMNU tidak hanya yang berlatar belakang NU, melainkan yang berlatar depan NU juga. Memandang jauh ke depan dengan nama NU, sebuah tantangan bagi mahasiswa untuk berkancah di dunia yang lebih luas.

Nur Shobah berpesan bahwa tujuan KMNU itu bukan untuk menguasai kampus, tetapi untuk menjalankan tradisi Aswaja.

“Kita membawa nama NU, jadi harus siap tanggung jawab dunia akhirat,” kata Shobah.

Tasyakuran diakhiri dengan makan bersama dan jabat tangan oleh hadirin. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Daerah, Olahraga, Ulama ArrahmahMedia.Com

Kamis, 18 Januari 2018

Jubah Hitam dan Miss Jinjing di Sekitar Nabawi

Madinah, ArrahmahMedia.Com

Belanja seringkali menjadi kata pertama yang identik dengan perjalanan/touring/travelling dan pariwisata, termasuk pariwisata religius/ziarah. Belanja dengan berbagai kroniknya menjadi prioritas pembahasan bagi setiap orang yang akan bepergian atau melancong. Terutama bagi kaum hawa, tak perduli latarbelakang sosial, asal daerah maupun ideologi politik dan keagamaan. Belanja telah menjadi satu tarikan nafas dalam setiap langkah para pelancong/peziarah.

Dari sini, tempat-tempat pelancongan berkembang menjadi kawasan perbelanjaan yang terus berbenah dan berlomba memanjakan pengunjung. Dalam hal ini, tak terkecuali adalah kawasan Masjid Nabawi. Hotel-hotel mewah yang mengapit seluruh sisi Masjid Nabawi, selain menyediakan penginapan super mewah juga menawarkan wisata belanja yang memanjakan pengunjung.

Rabu, 17 Januari 2018

GP Ansor Sumenep Ingatkan KH Raden Asnawi Kudus

Sumenep, ArrahmahMedia.Com. Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Sumenep, Jawa Timur meneguhkan wasiat salah seorang pendiri yang juga mustasyar pertama NU, KH Raden Asnawi Kudus.

GP Ansor Sumenep Ingatkan KH Raden Asnawi Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Sumenep Ingatkan KH Raden Asnawi Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Sumenep Ingatkan KH Raden Asnawi Kudus

Demikian ditegaskan Ketua PC GP Ansor Sumenep M Muhri Zaen pada pelantikan PAC GP Ansor Kecamatan Kota di Masjid Raudlatur Rahman, Desa Kacongan, Kecamatan Kota, Sumenep, Selasa (5/1) malam. Pelantikan ini juga dikemas dengan tasyakuran Maulid Nabi.

"Bercerminlah pada kaca benggala, wajahmu bagus atau tidak. Ketika kamu melihat ada orang salah, kamu menyalahkan (dan) menjelekkan. (seharusnya) kamu malu mengaku jempolan, (padahal) mengajimu kurang fasih dan amburadul," kata M Muhri Zaen menirukan wasiat KH Raden Asnawi Kudus.

ArrahmahMedia.Com

Ketua Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Kecamatan Sumenep Hanto Sudarto menyatakan sangat berterima kasih kepada PC GP Ansor Sumenep. Menurutnya, wasiat KH Raden Asnawi Kudus menjadi cambuk baginya untuk selalu berbenah diri sebelum membenahi orang lain.

"Wasiat tersebut bisa dianalogikan supaya kita tidak seperti lilin, menerangi sekitar tapi dirinya terbakar," terangnya. (Hairul Anam/Mahbib)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Humor Islam, Ulama, Warta ArrahmahMedia.Com

Selasa, 16 Januari 2018

Hari Libur, Pelajar NU Tasik Bahas Paham Trasnasional

Tasikmlaya, ArrahmahMedia.Com - Pelajar NU Tasikmalaya mengisi masa libur akhir pekan dengan membicarakan tentang peran kaum muda khususnya pelajar dan NKRI serta konsep negara di Gedung PCNU Kabupaten Tasikmalaya, Ahad (5/03). Mereka juga melakukan pemetaaan gerakan radikal.

Perkumpulan ini langsung dipimpin oleh Wakil Sekretaris PCNU Kabupaten Tasikmlaya Aa Fuad Muchlis. Ia sedikit memaparkan materi sebagai pengantar diskusi. Ia menyinggung paham-paham transnasional yang sudah tidak laku di negara asalnya.

Hari Libur, Pelajar NU Tasik Bahas Paham Trasnasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Libur, Pelajar NU Tasik Bahas Paham Trasnasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Libur, Pelajar NU Tasik Bahas Paham Trasnasional

Ia menyebut salah satunya HTI. “Di Yordania tempat kelahirannya sudah tak laku, tetapi mau-maunya kita terima. Para ulama NU telah memutuskan bahwa Pancasila sudah final dan kita rekan-rekanita Pelajar NU sebagai penjaga ulama. Apa yang telah disepakati oleh panutan kita salah satunya adalah NKRI.”

Ajengan yang pernah belajar langsung kepada Rais Aam PBNU 1994-1999 KH Ilyas Ruhiat ini menekankan para kader muda ini untuk terus belajar dan membaca. “Karena itu tugas kita dan ciptakan kaderisasi yang luar biasa di tubuh IPNU-IPPNU. Pelajar NU masa kini adalah NU di masa yang akan datang. Masa depan NU dan masa depan NKRI berada pada pundak kalian,” jelasnya.

ArrahmahMedia.Com

Keta IPNU Kabupaten Tasikmalaya Alimudin mengatakan, pertemuan ini akan rutin setiap Ahad. “Jika kali ini hanya pelajar NU, minggu selanjutnya seluruh KBNU (Keluarga Besar NU) khususnya anak mudanya yang termasuk banom NU. Mereka akan meramaikan Gedung Kebanggan warga Nahdliyyin Kabupaten Tasikmalaya ini dengan majlis ilmu setiap minggunya.” (Husni Mubarok/Alhafiz K)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pondok Pesantren, Ulama, Daerah ArrahmahMedia.Com

Kamis, 11 Januari 2018

Kang Said: Kembangkan Pemahaman Agama

Rembang, ArrahmahMedia.Com. Ketua Umum PBNU KH Said Agil Siroj mengajak warga NU mengembangkan peradaban, intelektualitas, budaya, harkat hidup dan pola pikir yang bernafaskan pemahaman agama. Karena ini menjadi misi utama NU dalam membawa ilmu pengetahuan, peradaban dan kemanusiaan.

Kang Said: Kembangkan Pemahaman Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Kembangkan Pemahaman Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Kembangkan Pemahaman Agama

“Tidak semua umat NU menjadi aktifis di luar rumah seperti menjadi seorang politisi atau PNS tetapi harus ada yang diam, anteng di rumah untuk mendalami, memperluas pemahaman agama (liyatafaqqohu fiddiin),” ujarnya saat menutup Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) NU Jawa Tengah di Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang, Sabtu (30/3) malam.

Kang Said menjelaskan Islam bukan hanya membawa doktrin aqidah, rukun iman, syariat ? melainkan juga membawa ilmu pengetahuan, peradaban, dan kemanusiaan.?

ArrahmahMedia.Com

“Bagi warga NU masalah aqidah dan syariat sudah tidak ada lagi perbedaan, namun yang menjadi misi utama NU hingga kini adalah bagaimana Nahdliyin bisa menjadi pintar, intelek, berpendidikan dan semuanya menjadi ulama,” tandasnya.?

ArrahmahMedia.Com

Ia menandaskan pemahaman agama harus dikembangkan yang kontekstual sesuai tantangan dan kebutuhan sekarang. “Meski kita (santri, kiai) masih menerjemahkan kitab salaf dengan bahasa jawa utawi, iki-iku namun harus sudah menggunakan alat canggih laptop,”ucapnya berseloroh.

Berbicara ilmu peradaban, terang dia, tidak hanya memperoleh ilmu agama di pesantren. Tetapi perangkat-perangkat modern harus dikuasai untuk mendukung pemahaman belajar ilmu agama.

“Ini semua sebagai upaya memperluas ilmu pengetahuan termasuk juga sistem belajar, diskusi, ? bermusyawarah diperbaharui sehingga otak kita menjadi cerdas sesuai perintah Allah, liyatafaqqohu fiddin,” tegas Kang Said.

Ia juga mengajak warga NU mengembangkan misi dakwahnya tidak hanya di lingkungan pesantren saja tapi harus diperluas ke tempat lain.

Begitu juga, kata dia, Nahdliyin bisa memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan misi dakwah.?

“Manfaatkan media jejaring sosial seperti facebook atau twitter untuk berdakwah,” pinta Kang Said.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Warta, Ulama ArrahmahMedia.Com

Rabu, 03 Januari 2018

Gerakan Nasional “Ayo Mondok” Diluncurkan

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Pemukulan bedug oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Senin (1/6) di aula kantor PBNU Jakarta, menandai diluncurkannya Gerakan Nasional “Ayo Mondok” yang dimotori oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI).

Koordinator Gerakan Nasional “Ayo Mondok, Pesantrenku Keren” KH Lukman Harits Dimyati mengatakan, gerakan ini adalah bentuk kepedulian kalangan pesantren yang tergabung dalam RMI terhadap fenomena dunia pendidikan yang gagal menanamkan pendidikan karakter kepada pelajar dan mahasiswa.

Gerakan Nasional “Ayo Mondok” Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Nasional “Ayo Mondok” Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Nasional “Ayo Mondok” Diluncurkan

Menurutnya, secara moral, hanya pesantren yang bisa menyelamatkan generasi muda dari kencenderungan-kecenderungan pendidikan yang merusak. Perilaku yang baik hanya bisa dilakukan dengan pembiasaan secara terus menerus untuk bersikap baik.

ArrahmahMedia.Com

“Pembiasaan selama 24 jam dengan pengawasan, pembinaan dan pendampingan terus menerus adalah bentuk pendidikan karakter yang sudah lama dilakukan di pesantren, jauh sebelum isu pendidikan karakter muncul,” katanya.

ArrahmahMedia.Com

KH Sad Aqil Siroj mengatakan, gerakan Ayo Mondok ini merupakan “action” dari gerakan “Kembali ke Pesantren” yang dicanangkannya sejak Muktamar NU di Makassar 2010 lalu.

“Omong kosong kalau kita ngomong kembali ke khittah kalau tidak kembali ke pesantren. Kembali ke pesantren bisa dalam artian fisik yakni mondok, atau dalam pengertian kembali kepada nilai, akhlaq dan jati diri pesantren,” katanya.

Hadir dalam acara peluncuran Gerakan Nasional “Ayo Mondok” Ketua PP RMI Amin Haedari, Sekjen Miftah Fakih dan para pengurus PP RMI, Ketua RMI Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozien dan Ketua RMI Jawa Timur KH Reza Ahmad Zahid, serta para pengurus lembaga dan badan otonom di lingkungan PBNU. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Ubudiyah, Halaqoh, Ulama ArrahmahMedia.Com

Senin, 01 Januari 2018

Gus Dur, Figur yang Tak Mau Dianggap Orang Suci

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Penulis biografi Gus Dur Greg Barton menilai sosok Gus Dur setelah bergaul dengannya, meneliti dan mengamati sikap dan perilakunya, merupakan orang yang tidak mau dianggap suci. Ia orang yang rendah hati. Ini terkait dengan prinsip tasawuf yang dipegangnya yang menekankan pada hati nurani dan keikhlasan.

“Sebenarnya disiplin agama bagi Gus Dur sangat penting, tetapi dia tidak mau kelihatan sebagai orang suci, dia orang yang sok tidak suci atau tidak serius,” katanya.

Gus Dur, Figur yang Tak Mau Dianggap Orang Suci (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur, Figur yang Tak Mau Dianggap Orang Suci (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur, Figur yang Tak Mau Dianggap Orang Suci

Gus Dur merupakan orang yang sama sekali tidak mau memberi kesan positif di depan orang untuk mencari pendapat yang baik, sikapnya cuek saja terhadap pendapat orang lain. Gus Dur sering dianggap kurang serius dan tidak disiplin. Kalau ada orang menganggap ia tidak sholat, ia tidak peduli dengan hal itu. 

ArrahmahMedia.Com

Salah satu kemampuan luar biasa yang dimiliki Gus Dur adalah intelektualitasnya dan memiliki daya ingatan yang sangat tajam. Greg Barton tidak berani berkomentar terkait dengan kemampuan spiritual Gus Dur. Tentang sikapnya yang tidak mau dianggap sok alim ini, Gus Dur selalu menolak untuk menjawab pertanyaan yang diajukannya.

ArrahmahMedia.Com

“Beliau sangat rendah hati dan tidak mau kelihatan orang suci dan orang luar biasa. Beliau ingin dianggap seperti orang biasa saja,” katanya.

Ada banyak paradoks dalam diri Gus Dur. Ia merupakan orang yang rajin berdakwah dan berziarah, tetapi disisi lain terlihat kurang serius dan kurang berdisiplin, padahal orang suci seharusnya berdisiplin. Ini merupakan bagian dari ketidakpedulian dirinya terhadap pendapat orang lain.

Tentang kharima yang dimiliki, ia menilai ada faktor keturunan, tetapi hal ini bukan penjelasan yang lengkap karena adik-adiknya tidak memiliki hal yang sama. 

“Gus Dur memiliki bakat untuk memberi inspirasi kepada orang lain dan sepanjang hidupnya menggunakan kemampuan itu untuk tujuan yang lebih besar. Gus Dur sangat rendah hati sekaligus percaya diri, yang bakatnya dipergunakan sejauh mungkin untuk tujuan yang lebih tinggi dan lebih serius,” tandasnya.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Khutbah, Internasional, Ulama ArrahmahMedia.Com

Jumat, 15 Desember 2017

MTs NU Wali Songo Sidoarjo Terendam Banjir

Sidoarjo, ArrahmahMedia.Com. Hujan deras yang mengguyur kawasan Sidoarjo, Jawa Timur, sejak Ahad (9/10) malam membuat sejumlah wilayah di Sidoarjo banjir. Akibatnya, banyak sejumlah sekolah yang harus meliburkan siswanya lantaran kondisi sekolah tersebut tergenang air setinggi lutut orang dewasa.

Seperti yang terjadi di salah satu sekolah Madrasah Tsanawiyah Nahdlatul Ulama (MTs ? NU) Wali Songo Sidoarjo, Jalan Raden Patah Sidoarjo. Pihak sekolah sengaja meliburkan siswanya karena akses jalan menuju sekolah banjir. Bahkan, kondisi air di dalam sekolah mencapai ketinggian sekitar 50 centimeter.

Salah satu guru MTs NU Wali Songo Sidoarjo, M Sobirin menyatakan, pihak sekolah sengaja meliburkan siswa karena kondisi sekolah saat ini sedang terendam banjir. Ia masih belum mengetahui sampai kapan sekolah akan diliburkan.

MTs NU Wali Songo Sidoarjo Terendam Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
MTs NU Wali Songo Sidoarjo Terendam Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

MTs NU Wali Songo Sidoarjo Terendam Banjir

"Kalau nanti sore tidak hujan lagi dan airnya sudah surut, kemungkinan besok sudah masuk seperti biasa. Namun, kalau nanti hujan ya tidak tahu lagi, Mas," kata Sobirin kepada ArrahmahMedia.Com, Senin (10/10).

Ia menjelaskan, selain di Jalan Raden Patah, akses jalan menuju sekolah (MTs NU Wali Songo) juga banjir di antaranya Jalan Malik Ibrahim, Jalan Pasar Ikan Lama, Jalan Kartini, Jalan Jasem, dan sekitarnya sehingga pihak sekolah meliburkan siswanya karena akses jalan terendam banjir.

ArrahmahMedia.Com

Sobirin berharap, pemerintah mau memperhatikan saluran air atau drainase yang ada di sekitar sekolah. Pasalnya, saluran air di sekitar sekolah dimungkinkan dangkal lantaran tidak pernah dikeruk. Padahal, saluran itu sudah ada beberapa tahun yang lalu yang seharusnya dibersihkan salurannya.

"Semoga Pemkab Sidoarjo memberikan bantuan agar sekolah kami bisa ditinggikan bangunannya. Sehingga ketika hujan lebat tidak banjir lagi," harap Sobirin.

ArrahmahMedia.Com

Perlu diketahui bahwa banjir saat ini juga melanda kawasan pasar Sono, Sidokepung, Sukorejo, Pagerwojo Kecamatan Buruduran, Sidoarjo kota, Kelurahan Sidokare dan beberapa kawasan lainnya. (Moh Kholidun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Ulama, Lomba, Jadwal Kajian ArrahmahMedia.Com

Kamis, 14 Desember 2017

PMII Sukoharjo Bedah Kitab Karya Hadratussyekh Hasyim Asyari

Sukoharjo, ArrahmahMedia.Com. PC PMII Kabupaten Sukoharjo mengadakan kegiatan bedah kitab Risalah Ahlussunah wal Jamaah karya Hadratussyekh KH Hasyim Asyari, Senin (16/10). Sekitar 100 jamaah ikut hadir dalam kegiatan yang diselenggarakan di Musholla Wahyu Pucangan, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah.

PMII Sukoharjo Bedah Kitab Karya Hadratussyekh Hasyim Asyari (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Sukoharjo Bedah Kitab Karya Hadratussyekh Hasyim Asyari (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Sukoharjo Bedah Kitab Karya Hadratussyekh Hasyim Asyari

Dalam sambutannya membuka acara, Ketua PC PMII Kabupaten Sukoharjo Thoha Ulil Albab mengatakan kegiatan bedah kitab ini penting bagi para kader PMII.

“Tujuan dari acara ini tidak lain untuk mengetahui, sekaligus menggali pemikiran pendiri Nahdlatul Ulama Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Sebagai intelektual muda NU haruslah mengetahui pemikiran pendiri Nahdlatul Ulama,” papar Ulil.

Dengan mempelajari kitab tersebut, lanjut dia, juga bertujuan untuk memperkuat pemahaman kader dan masyarakat Nahdliyyin di bidang ke-Aswajaan.

ArrahmahMedia.Com

KH Aminudin Ihsan yang menjadi narasumber, dalam awal penyampaian menceritakan kehidupan dan ketokohan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Diterangkan lahirnnya NU tidak semata-mata hanya menjadi organisasi yang biasa.

“Nahdlatul Ulama’ didirikan bukan sekedar membentuk sebuah organisasi biasa. Akan tetapi, salah satu tujuan utama berdirinya Nahdlatul Ulama ialah mengusir penjajah,” kata dia.

ArrahmahMedia.Com

Lebih lanjut disampaikan Kiai Aminudin, di dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jamaah berpesan agar semangat dalam membangun organisasi. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Lomba, Ulama, RMI NU ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 09 Desember 2017

7 Hal yang Harus Dihindari dalam Shalat

Dalam kitab? Bughyatul Mustarsyidin? karya Sayyid Abdurrahman bin Muhammad al-hadramy menyatakan bahwa ada tujuh hal yang dimakruhkan dalam shalat. Artinya ketujuh hal itu bila dilakukan tidak sampai mengakibatkan batalnya shalat, tetapi lebih baik dihindari karena dianggap tidak sopan.

Ketujuh hal tersebut dikumpulkan dalam sebuah nadham yang berbunyi:

? ? ? ? ? ? * ? ? ? ?.
7 Hal yang Harus Dihindari dalam Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
7 Hal yang Harus Dihindari dalam Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

7 Hal yang Harus Dihindari dalam Shalat

? ? ? ? * ? ? ? ? ? ?. ? Saudara hindarilah tujuh hal dalam shalat, mengantuk, menggaruk-garuk, menguap, iseng, ragu hati, mengupil, dan bertolah-toleh. Semua itu selalu ditinggalkan oleh Rasulullah saw.

Ketujuh hal tersebut memang tidak membatalkan shalat, tetapi dianggap tidak pantas dilakukan ketika shalat. Mengantuk jelas berbahaya, membahayakan diri sendiri dan juga orang lain. Karena dikhawatirkan akan terucap do’a mohon balak-kerusakan. Menguap, menggauk, mengupil, tolah-toleh, dan berbuat iseng, semua menunjukkan ketidak seriusan bahkan mengarah pada penghinaan lawan pihak yang diajak komunikasi.

ArrahmahMedia.Com

Sungguh hal ini akan menjauhkan seseorang pada kekhusyukan shalat. Apalagi jika masih ada keragu-raguan dalam hati, entah ragu tentang bilangan raka’at, atau ragu batalnya wudhu, atau ragu tentang makanan yang masih tertinggal di meja, ragu tentang keamanan motor yang diparkir di depan masjid dan lain sebagainya. (red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Ulama, Pendidikan, Ubudiyah ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com

Senin, 04 Desember 2017

Jihad Maritim Syeikh Abdushamad al-Palimbani

Oleh: Muhammad Idris Masudi* Hingga tulisan ini dikerjakan, mungkin sudah puluhan tulisan terkait tema Islam Nusantara bertebaran di berbagai media baik cetak maupun elektronik, baik pro maupun kontra. Melejitnya isu ini ditengarai disebabkan oleh sejumlah faktor. 

Konon, tema yang awalnya “adem-ayem” ini, menjadi buah bibir perbincangan masyarakat luas, terutama di dunia sosial-media, mencapai momentumnya pasca acara di Istana Presiden, setelah munculnya pembacaan al-Quran dengan menggunakan “langgam Jawa”. 

Jihad Maritim Syeikh Abdushamad al-Palimbani (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad Maritim Syeikh Abdushamad al-Palimbani (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad Maritim Syeikh Abdushamad al-Palimbani

Perlu ditegaskan di sini bahwa sebelum ramainya diskursus Islam Nusantara, pada tahun 2012, STAINU Jakarta telah mendapatkan izin dari kementerian Agama untuk membuka prodi Pascasarjana Sejarah Kebudayaan Islam dengan konsentrasi Islam Nusantara. Pembukaan prodi “baru” ini bahkan meminjam istilah Kiai Said, “jurusan Islam Nusantara ini merupakan jurusan satu-satunya di dunia dan akhirat”. 

Sejumlah kalangan akademisi “mencibir” dengan mengatakan bahwa Islam Nusantara terlalu “jawa sentris”. Karena perbincangan tentang Nusantara yang ditulis oleh sejumlah kalangan yang pro terhadap istilah ini lebih banyak membicarakan soal Islam Jawa.

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com

Tulisan pendek di bawah ini hendak mencoba menepis anggapan “miring” di atas dengan menyuguhkan sebuah ijtihad yang –sepanjang pembacaan penulis- hanya pernah dilakukan oleh ulama Nusantara. Yaitu ijtihad yang dilakukan oleh Syeikh Abdus Shamad al-Palimbani tentang keutamaan jihad di lautan dalam kitabnya berjudul “Nashihatul Muslimin wa Tadzkirat al-Mu’minin fi Fadhail Jihad wa Karamat al-Mujahidin fi Sabilillah.”

Sekilas tentang Syaikh Abdus Shamad al-Palimbani

Syeikh Abdusshamad al-Falimbani dilahirkan pada tahun 1116 H/ 1704 M,[1] di Palembang. Ayahnya, Syeikh Abdul Jalil bin Syeikh Abdul Wahab bin Syeikh Ahmad al-Mahdani adalah seorang ulama yang berasal dari Yaman dan dilantik menjadi Mufti di Kedah (sekarang daerah Malaysia) pada awal abad ke 18M. Sementara ibunya adalah wanita Palembang yang diperistri  oleh Syeikh Abdul Jalil setelah sebelumnya menikahi puteri Dato’ Sri Maharaja Dewa di Kedah.

Perjalanan Intelektual

Syaikh Abdushamad hidup dalam keluarga yang mencintai ilmu tasawuf.[2] Sebagai anak dari seorang mufti, Abdushamad kecil dididik langsung oleh ayahnya, Syeikh Abdul Jalil di Kedah. Kemudian Syeikh Abdushamad di bawah ayahnya untuk mendalami ilmu agama di negeri Patani; di antaranya adalah Pondok Bendang Gucil di Kerisik atau Pondok Kuala Berkah dan Pondok Semala yang kesemuanya berada di daerah Patani, Thailand. 

Pengembaraan intelektualnya tidak hanya berhenti di Patani, melainkan ke India[4], hingga sampai ke Madinah dan Makkah. Sebagaimana dijelaskan Azra dalam bukunya berjudul Jaringan Ulama Nusantara, Madinah dan Makkah (Haramayn) pada masa itu menjadi sebuah pusat intelektual dunia Islam. Sehingga wajar, bila Abdushamad memilih untuk singgah dan belajar di Haramayn.

Guru-Gurunya:

1. Muhammad bin Abdul Karim Al-Sammani

2. Muhammad bin Sulayman al-Kurdi

3. Abdul Mun’in al-Damanhuri

4. Ibrahim al-Rais, Muhammad Murad

5. Muhammad al-Mashri

6. Athaullah al-Mashri

Karya-Karyanya:

1. Zahratul Murid fi Bayani Kalimat al-Tauhid, 1178/1764 M.

2. Risalah Pada Menyatakan Sebab Yang Diharamkan Bagi Nikah, 1179 H/ 1765

3. Hidayat al-Salikin fi Suluk Maslak al-Muttaqin, 1192 H/1780

4. Siyar al-Salikin ila Ibadat Rabb al-Alamin, 1194 H/ 1780

5. al-Urwat al-Wutsqa wa Silsilat Waliyil Atqa

6. Ratib Syeikh Abdushamad al-Falimbani

7. Nashihat al-Muslimin wa Tadzkirat al-Mu’minin fi Fadhail Jihad wa Karamat al-Mujtahidin fi Sabilillah.

8. Al-Risalat fi Kayfiyat Ratib Laylat al-Jum’ah

9. Mulhiqun fi Bayan Fawaid al-Nafi’ah fi Jihad fi Sabilillah

10. Zadul Muttaqin fi Tawhid Rabbil ‘Alamin

11. Ilmu Tasawuf

12. Mulkhishut Tuhbat Mafdhah Min al-Rahmat al-Mahdhah ‘Alayhi al-Shalat wa al-Salam

13. Kitab Mi’raj

14. Anis Muttaqien

15. Puisi Kemenangan Kedah

Kontekstualisasi Keutamaan Hadis-Hadis Jihad Maritim

Bagi penulis, yang salah satu kontek menarik dalam karya Syeikh Abdus Shamad ini adalah bagaimana cara beliau mengkontekstualisasikan hadis-hadis nabi. Syaikh Abdus Shamad tentunya menyadari betul bahwa nusantara adalah Negara maritim yang memiliki luas lautan yang lebih besar ketimbang daratan (dua pertiga lautan dan sepertiga daratan). 

Hal ini menjadi salah satu poin penting untung menyerukan jihad di lautan. Melihat potensi ini, Syaikh Abdushamad mendasarkan seruan tersebut dengan mengutip sejumlah hadis tentang keutamaan jihad perang di laut yang di dalam teks hadisnya mencantumkan bahwa pahala perang di lautan lebih besar ketimbang jihad di daratan. Hemat penulis, apa yang dilakukan oleh Syaikh Abdushamad ini menjadi menarik karena dalam kitab-kitab fikih konvensional, jarang- untuk tidak menemukan tidak sama sekali- ditemukan pembahasan tentang jihad di lautan. Salah satu hadis yang dikutip oleh Syaikh Abdushamad dalam menjelaskan tentang keutamaan jihad di lautan adalah hadis riwayat  al-Thabrani:

? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?[3] 

Artinya: Keutamaan jihad di jalur lautan disbanding jihad di daratan sebagaimana keutamaan jihad di daratan dibandingkan orang yang tidak ikut berperang dan tidak menginfakkan hartanya untuk perang. 

Hadis lain (riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Hilyat al-Awliya’) yang cukup “kontroversial” (ditilik dalam cara penukilan hadis yang tidak menggunakan kitab-kitab hadis kanonik) dalam ranah hadis namun dikutip oleh Syaikh Abdushamad untuk memicu semangat jihad di jalur lautan adalah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? [4] 

Artinya: Semua dosa orang yang mati syahid yang bertempur di daratan diampuni oleh Allah kecuali dalam masalah hutang (materi) dan amanah, sementara semua dosa orang mati syahid, bahkan hutang (hutang yang bersifat haqqullah, bukan haq adami, pent) dan amanah sekalipun.

Penutup

Dari pemaparan singkat ini, kita bisa mengambil banyak faidah dan teladan dari Syaikh Abdus Shamad dalam upayanya membumikan hadis-hadis Nabi dengan melihat pada konteks kekinian dan kedisinian. Sebagaimana para sarjana klasik sering kali mengatakan bahwa “al-Nash mutanahi wal waqa’i’ la tatanaha”, teks-teks al-Quran dan hadis Nabi terbatas sementara realitas terus menerus berjalan sesuai perkembangan zaman. 

Oleh karena itu, ijtihad-ijtihad kreatif harus tetap dilakukan untuk merespon tantangan zaman. Di sisi lain, tulisan ini juga menegaskan bahwa yang dimaksud Islam Nusantara di sini bukan “jawa sentris”, melainkan meliputi seluruh wilayah nusantara. Dan Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani ini salah satu contoh terbaik dari deretan ulama nusantara yang non-Jawa.  

*) Staff bidang Akademik Pascasarjana Islam Nusantara di STAINU Jakarta 

Sumber Bacaan:

[1] Sejumah sumber sejarah yang mengulas biografi Syaikh Abdushamad tidak menyebutkan tahun kelahirannya, konon, kata Azyumardi Azra, hanya dalam buku Tarikh Salasilah Negri Kedah yang memberikan angka tahun kelahiran dan wafatnya. Lihat, Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVII (Jakarta; Kencana, 2007)cet.3, h.306 

[2] Ahmad Luthfi, Muqaddimah Tahqiq Nashihat al-Muslimin wa Tadzkirat al-Mu’minin fi Fadhail Jihad wa Karamat al-Mujahidin fi Sabilillah, (Jakarta; Wuzarat al-Syuun al-Diniyyah Lil Jumhuriyyah al-Indunisiyah, 2009) cet.1, h.8

[3] Sanad hadis ini oleh al-Munawi dalam Fayd al-Qadir dinilai hasan, lihat Ahmad Luthfi dalam catatan kaki kitab Nashihat al-Muslimin, h. 80. 

[4] Hadis ini menurut muhaqqiqnya, Ahmad Luthfi, terdapat dalam kitab silsilat al-ahadits al-dhaifah wa al-Mawdhu’atnya al-Albani

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Makam, Ulama ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 25 November 2017

Panggung Pidato Budaya Buat Gus Mus

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (PP GP Ansor) memberikan panggung pidato budaya bagi Wakil Rais Am PBNU KH A Musthofa Bisri yang kerap disapa Gus Mus. Pidato budaya digelar dalam rangka peringatan harlah ke-79 GP Ansor.



Panggung Pidato Budaya Buat Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)
Panggung Pidato Budaya Buat Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)

Panggung Pidato Budaya Buat Gus Mus

Pidato budaya yang akan disampaikan Wakil Rais Am PBNU bertajuk “Kepemimpinan Dalam Perspektif Budaya Pesantren”. Tajuk kepemimpinan diambil karena GP Ansor sebagai badan otonom Nahdlatul Ulama (NU) kini tengah menata sistem kepemimpinan.

Peringatan harlah ke-79 GP Ansor rencananya berlangsung di Gedung Balai Kartini, Jalan Jenderal Gatot Subroto Kavling 37, Kuningan Timur, Jakarta Selatan, Sabtu (20/4) malam.

ArrahmahMedia.Com

“Pidato budaya ini sedikitnya akan dihadiri oleh 1000 kader GP Ansor. Kami tengah mengundang semua pengurus PW GP Ansor se-Indonesia,” kata staf harian secretariat PP GP Ansor Faisal saat ditemui ArrahmahMedia.Com, di Gedung PP GP Ansor, Jalan Kramat Raya 65A, Jakarta Pusat, Selasa (16/4) malam.

ArrahmahMedia.Com

Pada malam itu, lanjut Faisal, pidato budaya Gus Mus termasuk satu agenda Festival Budaya Pesantren yang digelar PP GP Ansor. Festival Budaya Pesantren meliputi pembacaan puisi, pementasan monolog, dan penampilan Rampak Bedug dari Pandeglang, Banten.

Festival Budaya Pesantren ini rencananya diramaikan dengan pembacaan puisi oleh penyair Acep Zamzam Noor dari Pesantren Cipasung Tasikmalaya dan penyair KH Zawawi Imron dari Pesantren Miftahul Ulum Madura.

Sementara, tambah Faisal, dua orang mentri turut membaca puisi, Mentri Pendidikan M Nuh dan Mentri Perdagangan Gita Wirjawan. Dalam malam Festival Budaya Pesantren itu, PP GP Ansor juga menghadirkan bintang tamu aktor Butet Kertaredjasa yang akan menampilkan pertunjukkan monolog.

Malam Festival Budaya Pesantren itu juga akan dimeriahkan oleh grup Ki Ageng Ganjur, tutup Faisal yang tengah menghadapi sebuah laptop di atas meja kerjanya.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Ulama ArrahmahMedia.Com

Kamis, 23 November 2017

Mengupayakan Ongkos Berhaji?

Sebagai salah satu dari lima rukun Islam ibadah haji memiliki catatan tersendiri untuk kewajiban pengamalannya. Syahadat adalah pintu utama untuk mengamalkan kewajiban dan berbagai macam amalan lain dalam Islam. Siapapun belum dianggap berislam bila belum melewati pintu utama ini, tak bisa ditawar. Demikian pula dengan shalat. Dalam kondisi apapun seorang Muslim wajib melakukan shalat dengan cara apapun yang ia bisa. Bila ada satu dua shalat yang terlewatkan ia berkewajiban untuk mengqadla atau menggantinya. Demikian pula dengan puasa dan zakat. Keempatnya adalah rukun Islam yang mau tidak mau setiap Muslim harus mengamalkannya. Kalaupun ada kelonggaran untuk tidak mengamalkannya maka ada kompensasi tertentu yang mesti ia jalani.

Namun tidak demikian dengan haji. Rukun Islam yang satu ini memiliki catatan khusus dalam pengamalannya, yakni syarat adanya kemampuan.

Mengupayakan Ongkos Berhaji? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengupayakan Ongkos Berhaji? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengupayakan Ongkos Berhaji?

Dalam Al-Qur’an Surat Ali Imron ayat 97 Allah berfirman:

? ? ? ? ? ? ? ? ?

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com

Artinya, “Dan wajib atas manusia karena Allah berhaji ke Baitullah yakni bagi orang yang mampu menjalaninya.”

Tentang ayat ini para mufasir menjelaskan bahwa syarat melakukan ibadah haji adalah memiliki kemampuan dalam hal bekal, kendaraan, dan juga nafkah bagi keluarga yang ditinggalkan sampai dengan kembali lagi kepada mereka. Lebih lanjut, masih dalam hal kemampuan, Imam Baghawi juga mensyaratkan adanya keamanan dalam perjalanan, terbebas dari tanggungan hutang serta beberapa syarat lainnya (lihat Husain bin Mas’ud Al-Baghawi, Ma’alimut Tanzil (Kairo: Darul Alamiyah, 2015), jilid 1, hal. 463)

Secara ringkas kita sering menyebut ibadah haji sebagai ibadah yang wajib dilakukan bagi seorang Muslim yang mampu saja, yang tidak mampu tidak wajib berhaji. Hanya saja pada prakteknya batas kemampuan ini menjadi rancu ketika diterapkan di masyarakat.

Ada orang yang ditanya kapan ia akan beribadah haji lalu menjawab dengan kalimat “saya belum mampu”, “saya tidak punya uang sebanyak itu untuk mendaftar” dan jawaban semisalnya yang menunjukkan ketidakmampuannya. Padahal bila melihat harta yang dimiliki bisa jadi sesungguhnya ia telah memiliki kemampuan dan terkena beban kewajiban untuk berhaji. Ada semacam pemahaman di masyarakat bahwa seseorang dianggap mampu berhaji apabila pada satu waktu ia memiliki sejumlah uang yang cukup untuk mendaftar dan melunasi biaya ibadah haji serta untuk bekal selama di tanah suci. Meski ia mampu membeli sepeda motor dan bahkan mobil sekalipun, bila pada satu waktu ia tak memiliki uang yang cukup untuk berbagai macam biaya haji maka ia anggap dirinya belum mampu dan bebas dari kewajiban berhaji. Pemahaman seperti ini kiranya kurang pas.

Bila melihat kedudukan ibadah haji sebagai salah satu rukun Islam—dimana rukun bisa berarti sebagai tiang penyangga yang membuat kokoh bangunan Islam—semestinya setiap orang Muslim berkemauan untuk berusaha secara maksimal untuk mendapatkan kemampuan berhaji sehingga kelima rukun Islam dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Semestinya setiap Muslim memiliki niat dan usaha yang kuat untuk bisa melaksanakan ibadah haji dan tidak bersembunyi di balik alasan “Allah belum memanggil saya”. Karena kedudukannya sebagai rukun Islam semestinya setiap Muslim tidak menomorsekian kan ibadah haji lalu lebih memilih menggunakan hartanya untuk keperluan konsumtif yang lain.

Beranjak dari pemahaman di atas bisa diambil satu contoh bahwa seorang yang mampu membeli sepeda motor—umpamanya—secara kredit sesungguhnya ia juga dapat mengupayakan untuk mampu beribadah haji. Taruhlah seseorang membeli sepeda motor dengan uang muka lima juta rupiah. Ia terkena kewajiban melunasinya dengan mengangsur selama lima tahun atau enam puluh kali dengan besar angsuran lima ratus ribu rupiah per bulan. Maka ketika lunas ia telah mampu membayar sepeda motor itu seharga tiga puluh lima juta rupiah. Itu juga berarti ia mampu untuk menyisihkan uang sebanyak itu dalam waktu lima tahun. Bersamaan dengan itu ia juga bisa menjalani hidup secara layak, membiayai sekolah anak-anaknya, membayar beberapa tagihan rekening, dan memenuhi kebutuhan lainnya. Artinya pula, orang yang mampu membeli sepeda motor dengan pola seperti itu sesungguhnya ia juga mampu untuk mengusahakan kemampuan berhaji dari sisi biaya dengan cara menyisihkan penghasilan lima ratus ribu per bulan.

Namun yang terjadi di masyarakat tidaklah demikian. Banyak di antara mereka yang begitu mudah menyisihkan penghasilan demi membeli berbagai macam kebutuhan yang tak lagi primer, namun merasa berat untuk melakukan hal yang sama demi bisa melaksanakan rukun Islam kelima dengan alasan mulai dari “masih banyak kebutuhan ini dan itu” sampai alasan “belum dipanggil Allah”.

Bila dicermati lebih lanjut sesungguhnya upaya untuk mampu berhaji banyak dipengaruhi oleh seberapa besar niat dan kemauan untuk melaksanakannya. Setiap tahun di musim haji melalui media massa kita sering mendengar cerita seseorang yang dapat berhaji dari usahanya sebagai seorang pemulung, penjualan jajanan kecil di pinggir jalan, buruh cuci pakaian dan lain sebagainya. Karena kemauan yang kuat mereka sisihkan sebagian kecil pendapatannya yang memang tak besar. Dan setelah sekian tahun lamanya pada akhirnya mereka berkemampuan untuk berhaji dari uang tabungannya sebagai buah dari upaya memampukan diri.

Sebagai penutup, sekali lagi dari melihat bahwa haji adalah rukun Islam yang semestinya juga dipenuhi sebagaimana rukun Islam lainnya, kiranya tidak berlebihan bila pemahaman bahwa “haji adalah ibadah yang wajib bagi orang yang mampu” sedikit digeser menjadi bahwa “haji adalah ibadah yang wajib bagi semua umat Islam kecuali bagi yang tidak mampu”. Wallahu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pendidikan, Ulama ArrahmahMedia.Com

Selasa, 21 November 2017

Pentingnya Manajemen Perawatan Kader

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Nahdlatul Ulama memiliki banyak badan otonom yang menjadi lahan bagi pengkaderan. Tingkatan paling dasar pengkaderan berada ditangan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU).

Terdapat empat penjenjangan dalam pengkaderan di IPNU atau IPPNU untuk menghasilkan seorang kader yang militan. Satu hal penting adalah pentingnya manajemen perawatan kader, yaitu merawat kader setelah melewati tahapan-tahapan pelatihan agar tidak ‘lari’ dan dapat terus berkembang.

Pentingnya Manajemen Perawatan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
Pentingnya Manajemen Perawatan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

Pentingnya Manajemen Perawatan Kader

Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum IPPNU Margareth Aliyatul Maemunah dalam diskusi Kamisan yang diselenggarakan di kantor redaksi ArrahmahMedia.Com, Kamis, 25 November.

ArrahmahMedia.Com

Empat penjenjangan pengkaderan yang harus dilalui adalah Masa Kesetiaan Anggota (Makesta), Latihan Kader Muda (Lakmud), Latihan Kader Utama (Lakut) dan Latihan kader Pelatih (Lakpel).

“Yang tidak kalah penting adalah manajemen perawatan kader, mereka mau diapakan setelah Makesta, karena itu saja tak cukup, mereka perlu dirawat dengan skill dan materi ke IPPNU-an atau ke-NU-an. Para seniornya perlu mengalokasikan waktu dan fokus untuk itu,” katanya.

ArrahmahMedia.Com

Margareth menuturkan, situasi pengkadern di tiap daerah tidak seragam, terutama antara di Jawa dan di luar Jawa, ada daerah yang hanya bisa menyelenggarakan pelatihan sampai Makesta saja, tetapi ada yang bisa sampai tidak Lakpel. Beberapa daerah yang sudah cukup bagus dalam pengkaderan diantaranya Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Untuk mengatasi kendala ini, IPPNU sekarang membentuk zona-zona, khususnya untuk pelatihan Lakpel yang dipusatkan di pulau-pulau besar seperti Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.

Ia menuturkan, kondisi Pengurus Wilayah IPPNU-nya dalam satu pulau besar diasumsikan tak jauh berbeda, untuk Sumatra, Propinsi Lampung sebagai wilayah yang sudah berkembang bisa membantu dan mendukung wilayah lain yang ada disekitarnya. Di Sulawesi, Sulawesi Selatan juga dapat memback up Sulawesi Utara atau Gorontalo

“Kita tak bisa menyamakan Jawa dengan Sumatra dan menggabungkannya menjadi satu karena situasinya berbeda, makanya kita bagi per zona agar hasilnya lebih maksimal,” paparnya.

Dalam waktu dekat ini, yang Pelatihan Kader Pelatih akan diselenggarakan di pulau Kalimantan dan berpusat di Kalimatan Barat, selanjutnya akan diteruskan ke Sulawesi.

Pada setiap zona, nantinya akan ada koordinator wilayah yang akan bertanggung jawab atas proses kaderisasi selanjutnya.

Ia berharap dalam setiap tahapan pengkaderan, para pengurus mampu secara kreatif membuat pengkaderan menarik bagi remaja putri sehingga banyak yang ikut IPPNU tetapi tetap dalam koridor panduan yang sudah dibuat dalam buku Panduan. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Bahtsul Masail, Ulama, Nahdlatul Ulama ArrahmahMedia.Com

Hari Santri, 10 Ribu Warga Padati Masjid Al-Jabbar Cirebon

Cirebon, ArrahmahMedia.Com - Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2017 diadakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cirebon di halaman Masjid Al-Jabbar Plumbon Kabupaten Cirebon. dipadati sekitar 10 ribu warga dari berbagai pelosok.

Acara diawali dengan gemerlap pawai obor para santri dan berbagai partisipan seperti drumband, hadrah, angklung, dan lainnya dengan start dari samping jalan layang tol Plumbon menuju lokasi acara. Sesampainya di lokasi warga Nahdliyin disambut oleh rampak hadrah yang berjumlah 99 pemain mengumandangkan lagu Ya Lal Wathan yang berisi kecintaan kepada tanah air sebagai bagian dari keimanan.

Hari Santri, 10 Ribu Warga Padati Masjid Al-Jabbar Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri, 10 Ribu Warga Padati Masjid Al-Jabbar Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri, 10 Ribu Warga Padati Masjid Al-Jabbar Cirebon

Massa pawai pun bergabung dengan ribuan warga lainnya yang sudah ada di lokasi. Mereka pun khidmat mengikuti acara demi acara dalam kegiatan yang bertajuk Sholawat dan Silaturahmi Kebangsaan Hari Santri Nasional 2017.

ArrahmahMedia.Com

Selesai rampak hadrah, masyarakat disuguhkan dengan pementasan seni teater para santri Buntet Pesantren yang mengambil cerita tentang latar sejarah terbitnya Resolusi Jihad Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari, sebagai seruan jihad melawan penjajah pada perang besar 10 November 1945 di Surabaya. Meski berdurasi 30 menit, namun hadirin dapat dengan mudah mencernah penggalan-penggalan cerita yang ditampilkan.

Berikutnya masuk pada acara inti yang dipandu presenter keislaman Radar Cirebon Televisi (RCTV) Rieda Fairouz dan master ceremony (MC) kondang H Solehuddin Husni. Dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Ya Lal Wathan, pembacaan ayat-ayat Al-Quran, tawasul, pembacaan Shalawat Nariyah, istighotsah, dan ditutup tausiyah oleh Rois Syuriah PCNU Kabupaten Cirebon, KH Wawan Arwani Amin.

ArrahmahMedia.Com

Tampak hadir dalam kegiatan tersebut, para ulama seperti KH Hasanudin Kriyani, KH Bahrudin Yusuf, KH Affandi Mukhtar, KH Imron Rosyadi, dan lainnya. Dari unsur birokrasi hadir Sekda Provinsi Jawa Barat H Iwa Karniwa, Bupati Cirebon H Sunjaya Purwadisastra, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon Hj Yuningsih, Kepala Kemenag H Imron Rosyadi, serta perwakilan Polres dan Kodim.

Sejumlah politisi yang bakal maju dalam pemilihan bupati (pilbup) juga hadir. Mereka antara lain H Satori, H Tarmadi, H Mohamad Luthfi, dan H Mohamad Yatsawi.

Ketua Panitia HSN 2017, H Solihin Busyaeri mengatakan, Hari Santri diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Diadakan sehari sebelumnya, sebab di tanggal itu diperingati di semua pesantren, sekolah, masjid-masjid, dan lainnya.

“Ada banyak kegiatan rangkaian baik diadakan oleh lembaga-lembaga NU, banom, maupun MWCNU. Malam ini puncaknya untuk agenda PCNU Kabupaten Cirebon,” kata pengusaha asal Bode Lor, Plumbon ini.

Ketua PCNU Kabupaten Cirebon KH Aziz Hakim Syaerozi dalam sambutannya menyampaikan terima kasih tidak terhingga atas kekompakan warga NU dalam peringatan HSN 2017, terutama kaum santri. HSN yang diperingati sejak 2015 harus menjadi motivasi bagi para santri untuk terus memberikan yang terbaik bagi agama dan bangsa.

“Kata KH Mustofa Bisri (Gus Mus), santri itu bukan yang mondok saja, tapi siapapun yang berakhlak seperti santri. Artinya Hari Santri adalah milik seluruh umat Islam,” ujar Kang Aziz.

Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Cirebon KH Wawan Arwani Amin dalam tausiyahnya menyampaikan perjalanan sejarah perjuangan kemerdekaan yang dipelopori kaum santri, terutama kemenangan melawan penjajah dalam peperangan 10 November 1945. Pemantiknya adalah terbitnya seruan berjihad melalui Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.

“Karena itu setiap tanggal 22 Oktober kita peringati sebagai Hari Santri Nasional dan telah ditetapkan oleh pemerintah melalui Presiden Joko Widodo. Selamat Hari Santri, teruslah berkiprah untuk masyarakat dan bangsa,” tutur Kang Wawan. (Kalil Sadewo/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Amalan, Ulama ArrahmahMedia.Com

Minggu, 12 November 2017

Harlah Ke-67, Fatayat Bondowoso Gelar Lomba Menghias Tumpeng

Bondowoso, ArrahmahMedia.Com - Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Bondowoso mengadakan lomba menghias nasi tumpeng di Musholla PCNU Bondowoso, Jawa Timur, Ahad (30/4). Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati hari lahir ke-67 Fatayat NU.

Ketua Fatayat NU Bondowoso, Nurdiana Khalifah menjelaskan, selain untuk merayakan harlah Fatayat, lomba tersebut juga sekaligus untuk memperingati Hari Kartini yang jatuh pada 21 April lalu.

Harlah Ke-67, Fatayat Bondowoso Gelar Lomba Menghias Tumpeng (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah Ke-67, Fatayat Bondowoso Gelar Lomba Menghias Tumpeng (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah Ke-67, Fatayat Bondowoso Gelar Lomba Menghias Tumpeng

Nurdiana berharap kegiatan ini memberikan energi positif kepada seluruh kader Fatayat dari segala tingkatan, baik di ranting, anak cabang, maupun cabang. "Pulang ke rumah dengan semangat baru, (menjadi) ibu baik, produktif, dan berwawasan luas," katanya.

Ia mendorong seluruh perempuan Indonesia semakin kratif dan dapat memenuhi kebutuhan pendidikannya. Dengan demikian akan lahir generasi perempuan yang cerdas, sehat, dan mandiri.

ArrahmahMedia.Com

Lomba menghias nasi tumpeng berlanjut dengan berbagi pengalaman pengurus PC Fatayat NU, Heni dan Anisatul Hamidah, tentang hasil keikutsertaan mereka dalam acara Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) di Cirebon, Jawa Barat.

ArrahmahMedia.Com

Agenda tersebut diikuti jajaran Pimpinan Ranting dan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat se-Kabupaten Bondowoso. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Ulama, RMI NU, Internasional ArrahmahMedia.Com

Senin, 06 November 2017

Tradisi Lesehan Pesantren Warnai Bukber Menpora dengan IKA PMII

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora) Imam Nahrawi, menggelar buka puasa bersama Pengurus Besar Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII) di rumah dinasnya, Jalan Widya Chandra Jakarta, Selasa (14/6) petang.?

Tradisi Lesehan Pesantren Warnai Bukber Menpora dengan IKA PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Lesehan Pesantren Warnai Bukber Menpora dengan IKA PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Lesehan Pesantren Warnai Bukber Menpora dengan IKA PMII

Beberapa jam setelah acara, melalui akun twitter-nya @imam_nahrawi, Menpora menulis, “Terima Kasih kpd semua sahabat alumni PMII yg telah hadir di acara buka bersama di rumah saya. #IKAPMII.”

Nurul Finza, salah satu alumni PMII yang hadir menuturkan Rabu (15/6) pagi, ada yang unik pada acara yang sebelumnya dirangkai dengan taushiah dan khataman Al-Quran ini. Yakni tata cara makan yang dihamparkan di atas lantai dengan beralaskan daun pisang.?

Sambil duduk lesehan, semua peserta yang hadir menikmati bersama-sama makanan yang tersaji yang berupa nasi liwet dengan lauk teri asin, jengkol, tempe orek, sambal dan lalapan. Tradisi ini memang menjadi ciri khas di banyak pesantren.?

ArrahmahMedia.Com

Di PMII, Menpora antara lain menjabat sebagai Ketua PMII Rayon Tarbiyah UIN Sunan Ampel 1991-1992, Wakil Ketua PMII Komisariat UIN Sunan Ampel Surabaya 1992-1993, Ketua Umum PMII Cabang Surabaya 1995-1996, dan Ketua Umum PMII Koordinator Cabang Jawa Timur tahun 1997-1998.

Hadir juga dalam buka puasa bersama tersebut Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Hanif Dakiri, yang juga alumni PMII. Acara buka puasa Menpora dengan IKA PMII menjadi ajang silaturahmi dalam suasana sederhana, namun penuh kekeluargaan. (Kendi Setiawan/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Tokoh, Ulama, Kyai ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock