Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

Menag: Pulanglah WNI, Jangan Terlibat Perang di Negeri Orang

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berharap para pelajar, mahasiswa, dan warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Yaman agar mengikuti arahan Kedutaan Besar RI (KBRI) setempat dan Tim Evakuasi WNI untuk kembali ke Tanah Air.

"Berjihadlah di Tanah Air membangun peradaban, bukan di negeri orang dengan menumpahkan darah," serunya dalam siaran pers yang diterima ArrahmahMedia.Com, Ahad.

Menag: Pulanglah WNI, Jangan Terlibat Perang di Negeri Orang (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Pulanglah WNI, Jangan Terlibat Perang di Negeri Orang (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Pulanglah WNI, Jangan Terlibat Perang di Negeri Orang

Menurut Lukman, situasi keamanan di Yaman kian tak menentu, bahkan makin mencemaskan akibat konflik bersenjata yang terus memanas. Pemerintah RI bertanggungjawab atas keselamatan jiwa setiap WNI. Kewajiban negara menyelamatkan jiwa warga negara. Karenanya, WNI yang ada di Yaman diminta lebih utamakan keselamatan diri.

ArrahmahMedia.Com

WNI, lanjut Menag, tidak perlu ikut-ikutan berperang dengan niat jihad membela salah satu kelompok yang bertikai. Peperangan itu lebih karena perkara politik berebut pengaruh dan kuasa. Masih banyak medan jihad di Tanah Air yang lebih substansial yang lebih dibutuhkan bagi kemaslahatan sesama.

ArrahmahMedia.Com

"Berjihad bukan di negeri orang, apalagi dengan cara kekerasan menumpahkan darah. Berjihadlah di Tanah Air dengan membangun peradaban demi wujudkan kesejahteraan bagi sesama," tuturnya lagi. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com RMI NU, AlaNu ArrahmahMedia.Com

Selasa, 20 Februari 2018

Presiden Palestina Tegaskan Masjid al-Aqsa agar Kembali ke Status Quo

Ramallah, ArrahmahMedia.Com - Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada Selasa (25/7) menegaskan bahwa situasi di Masjid Al-Aqsha di Jerusalem Timur agar dikembalikan ke status quo sebelum 14 Juli 2017.

"Takkan ada perubahan dalam posisi Palestina," kata Abbas dalam pertemuan darurat di Ramallah, Tepi Barat Sungai Jordan, sebagaimana dikutip Xinhua, Rabu pagi.

Presiden Palestina Tegaskan Masjid al-Aqsa agar Kembali ke Status Quo (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Palestina Tegaskan Masjid al-Aqsa agar Kembali ke Status Quo (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Palestina Tegaskan Masjid al-Aqsa agar Kembali ke Status Quo



(Baca: Situasi Masjid al-Aqsa Memanas, PBB Keluarkan Kecaman)


ArrahmahMedia.Com

Pertemuan tersebut dihadiri oleh pejabat senior dari Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Partai Fatah dan unit keamanan Palestina, demikian laporan kantor berita resmi Palestina, WAFA.

"Semua tindakan yang dilakukan terhadap Masjid Al-Aqsha setelah 14 Juli mesti dibatalkan dan diakhiri," kata Abbas.

Ia menambahkan, "Situasi di Jerusalem harus kembali normal, lalu kami akan melanjutkan hubungan antara kami dan Israel."

ArrahmahMedia.Com

Abbas menyatakan rakyat Jerusalem telah bangkit sebagai kesatuan untuk menolak semua tindakan yang dilakukan oleh penguasa Yahudi dan Palestina akan mendukung mereka.

"Apa yang telah kami putuskan ialah membekukan kerja sama keamanan (dengan Israel) dan ini masih sah, untuk membela kesucian kami juga masih sah. Kami ingin mempelajari apa yang terjadi dari hari itu sampai sekarang, untuk melihat apa yang bisa kami lakukan," ia menambahkan.

Pada 14 Juli, tiga pria Arab-Israel yang bersenjata menembak hinggga tewas dua polisi Israel, kemudian pasukan polisi balas-menembak pria bersenjata itu dan menewaskan mereka. Serangan tersebut terjadi di halaman Masjid Al-Aqsha.

Setelah serangan itu, penguasa Israel menutup masjid tersebut dan belakangan memasang pintu elektronik serta kamera di pintu masuk masjid itu.

Tindakan tersebut memancing protes oleh umat Muslim, yang menolak memasuki masjid itu melalui gerbang tersebut. (Antara/Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaNu, Fragmen ArrahmahMedia.Com

Minggu, 18 Februari 2018

Terbukti Makar, Muskercab NU Jombang Rekomendasikan HTI Dibubarkan

Jombang, ArrahmahMedia.Com. Salah satu keputusan Sidang Pleno Musyawarah Kerja Cabang Nahdlatul Ulama (Muskercab NU) Kabupaten Jombang adalah merekomendasikan kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk mendesak kepada Pemerintah Republik Indonesia agar membubarkan organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Alasan yang dikemukakan oleh peserta Muskercab karena HTI telah jelas-jelas tidak mengakui Pancasila dan NKRI. Sikap HTI tersebut dinilai sebagai perbuatan makar terhadap negara.

Keputusan sidang Pleno yang dibacakan KH Junaidi Hidayat tersebut selanjutnya disahkan sebagai keputusan Muskercab PCNU Jombang secara resmi oleh Pimpinan Sidang, KH Dr. Isrofil Amar.

Terbukti Makar, Muskercab NU Jombang Rekomendasikan HTI Dibubarkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Terbukti Makar, Muskercab NU Jombang Rekomendasikan HTI Dibubarkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Terbukti Makar, Muskercab NU Jombang Rekomendasikan HTI Dibubarkan

PCNU Jombang juga merekomendasikan kepada Pemerintah Kabupaten Jombang untuk melarang seluruh aktifitas HTI. (Ma/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Humor Islam, AlaNu, Pesantren ArrahmahMedia.Com

Senin, 12 Februari 2018

LKNU Sumenep Layani Gratis 160 Penderita Katarak

Sumenep, ArrahmahMedia.Com - Roh organisasi sekelas Nahdlatul Ulama (NU) ialah memaksimalkan fungsi pengabdian dan pemberdayaan terhadap masyarakat. Itulah yang dicerminkan oleh para pendiri dan ulama NU sekaligus pejuang negeri ini. Karenanya sangat tepat kalau LKNU Sumenep membuka layanan cuma-cuma operasi katarak.

Demikian ditegaskan Ketua NU Sumenep KH Pandji Taufik saat sambutan aksi sosial operasi gratis di aula lantai II PCNU Sumenep di Jalan Trunojoyo, Sumenep, Sabtu (16/4).

LKNU Sumenep Layani Gratis 160 Penderita Katarak (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU Sumenep Layani Gratis 160 Penderita Katarak (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU Sumenep Layani Gratis 160 Penderita Katarak

Menurut Kiai Pandji, sejauh ini NU Sumenep berikhtiar mewujudkan misi pengabdian dan pemberdayaan di atas. Karenanya, program operasi katarak secara gratis merupakan salah satu wujud dari misi tersebut.

ArrahmahMedia.Com

Ketua LKNU Sumenep Taufikurrahman menyatakan, kegiatan tersebut menggandeng Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep dan RSUD Moh Anwar Sumenep.

Kepala Dinkes Sumenep dr Fathoni dan Direktur RSUD Moh Anwar Sumenep dr Fitril Akbar tampak hadir dalam acara tersebut. Sebanyak 160 penderita katarak dioperasi dalam aksi sosial ini.

ArrahmahMedia.Com

"Operasi katarak ini sudah 4 kali dilakukan oleh LKNU Sumenep. Ini khidmah NU kepada warganya. Inilah gerakan konkret yang dilakukan NU kepada warganya," tegas Wakil Sekretaris PCNU Sumenep M Muhri Zaen.

Sebelum aksi ini digelar, beberapa pekan sebelumnya panitia menyebar pamplet dan informasi melalui jejaring sosial. Dalam pengumuman ini disebutkan, warga yang hendak mengikuti operasi katarak harus terlebih dahulu mendaftar kepada panitia. Mereka cukup menyerahkan fotokopi selembar kartu tanda penduduk.

"Ada yang mendaftar langsung pada hari H. Kami tetap melayani mereka," tandas Ketua GP Ansor Sumenep Muhri itu. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaNu ArrahmahMedia.Com

Jumat, 02 Februari 2018

Pergunu Jabar Minta Pemerintah Masukkan Materi Anti-LGBT di Kurikulum

Bandung, ArrahmahMedia.Com - Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Barat berharap pemerintah mengambil langkah pencegahan melalui kurikulum berkaitan dengan propaganda Lesbi, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Pasalnya pendidikan cukup efektif dalam menangkal fenomena LGBT ini baik di dunia pendidikan maupun di masyarakat secara luas.

Demikian disampaikan Sekretaris Pergunu Jawa Barat H Saepuloh di Kantor PWNU Jawa Barat Jalan Terusan Galunggung Nomor 09 Bandung, Kamis (25/02).

Pergunu Jabar Minta Pemerintah Masukkan Materi Anti-LGBT di Kurikulum (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Jabar Minta Pemerintah Masukkan Materi Anti-LGBT di Kurikulum (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Jabar Minta Pemerintah Masukkan Materi Anti-LGBT di Kurikulum

Lebih lanjut H Saepuloh menyatakan bahwa Pergunuu Jawa Barat berharap pemerintah memasukkan masalah serius ini ke dalam kurikulum nasional untuk memberikan pemahaman yang benar tentang LGBT kepada siswa.

“Dengan demikian diharapkan pelajar dan mahasiswa bisa memahami dengan betul bahwa LGBT bukan merupakan perilaku yang normal melainkan perilaku yang menyimpang bahkan bertentangan dengan norma agama, sosial, dan budaya Indonesia,” tutur H Saepuloh

ArrahmahMedia.Com

Ia mengimbau guru-guru yang tergabung dalam Pergunu untuk terlibat aktif mengamati sikap dan perilaku peserta didik dalam proses pembelajaran.

ArrahmahMedia.Com

Jika ada indikasi penyimpangan terutama ke arah LGBT, peserta didik ini harus segera didampingi dengan memberikan layanan konseling yang berkesinambungan. (Awis Saepuloh/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Fragmen, AlaNu, Tegal ArrahmahMedia.Com

Kamis, 01 Februari 2018

Pesantren Haurkuning Dipadati Ratusan Santri Baru

Tasikmalaya, ArrahmahMedia.Com - Pesantren Baitul Hikmah yang bertempat di Kampung Haurkuning Desa Mandalagun, Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya ini menerima santri baru sebanyak 880 yang terdiri atas 550 santri putra dan 330 santri putri, Rabu (20/7). Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah di pengujung penerimaan santri baru pada Senin (25/7).

Ketika disowani alumni, Pimpinan Pesantren Baitul Hikmah KH Busyrol Karim akhir pekan menuturkan, dari tahun ke tahun sejak kepergian pendiri pesantren tahun 2013 secara kuantitas santri pondok ini terus meningkat.

Pesantren Haurkuning Dipadati Ratusan Santri Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Haurkuning Dipadati Ratusan Santri Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Haurkuning Dipadati Ratusan Santri Baru

“Ini tidak lepas dari peran alumni yang telah mendakwahkan dan mendukung keberlangsungan pondok tercinta ini, dan kami meminta doanya supaya bisa terus berjuang mengemban amanah mengurus pondok ini,” kata Kiai Busyrol Karim di kediaman pendiri pesantren almarhum KH Saepudin Zuhri.

ArrahmahMedia.Com

Untuk menanggapi membludaknya santri pada tahun ini, para pengurus khususnya diharapkan lebih cekatan mengatasi problem-problem santri baru sehingga para santri tetap betah mondok di pesantren ini. Pengurus juga harus serius dalam mendidik dan membimbing para santri khususnya santri baru.

Putra sulung pendiri Pesantren Haurkuning ini melanjutkan, santri baru ibarat bayi yang tidak tahu menahu tentang baik dan buruk di pesantren. Untuk itu santri lama diharapkan membimbing santri baru terhadap hal-hal yang positif di pondok ini.

ArrahmahMedia.Com

Ia meminta para kepala kamar memberikan penyuluhan untuk santri baru di kamar masing-masing.

Pesantren yang didirikan KH Saepudin Zuhri pada 18 Agustus 1964 ini membuka pendidikan formal tingkat menengah, Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Pihak pesantren mewajibkan para murid di sekolah menengah itu untuk mukim.

Pesantren yang berada di Puncak Haur ini dikenal sebagai pesantren yang mendalami ilmu nahwu dan sharaf secara mendalam dan melahirkan santri yang cerdas dan disiplin. (Husni Mubarok/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sejarah, Habib, AlaNu ArrahmahMedia.Com

Minggu, 28 Januari 2018

Ngaku Berpaham Aswaja, Tapi Praktek Tak Sesuai

Jakarta, ArrahmahMedia.Com

Warga nahdliyyin (sebutan untuk warga Nahdlatul Ulama/NU) diminta waspada atas munculnya kelompok-kelompok yang membawa paham keagamaan baru yang marak belakangan ini. Pasalnya, tidak sedikit dari kelompok tersebut mengaku menganut paham Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja), akan tetapi dalam praktek keagamaannya sama sekali tidak mencerminkan paham yang dikenal moderat tersebut.

Demikian diungkapkan Ketua Umum Pengurus Pusat Lembaga Nahdlatul Ulama (PP LDNU) KH Nuril Huda saat membuka acara Silaturrahim Pimpinan Majelis Taklim di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (30/8).

Ngaku Berpaham Aswaja, Tapi Praktek Tak Sesuai (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngaku Berpaham Aswaja, Tapi Praktek Tak Sesuai (Sumber Gambar : Nu Online)

Ngaku Berpaham Aswaja, Tapi Praktek Tak Sesuai

Acara bertajuk “Optimalisasi Peran Majelis Taklim dalam Memantapkan Paham Ahlussunnah Wal Jama’ah” itu digelar hasil kerja sama PP LDNU dengan PP Muslimat NU. Hadir sebagai narasumber tokoh muslimah yang juga Presiden Asosiasi Perempuan Muslim (WML) Amerika Serikat Tiye Multazim, Kepala Biro Perencanaan Departemen Agama Drs Ahmad Junaidi MBA dan Ketua PP Muslimat NU Mahfudloh Ali Ubaid.

Menurut Kiai Nuril, demikian panggilan akrabnya, kelompok-kelompok tersebut berkarakter mudah sekali menganggap bid’ah (mengada-ada), sesat, bahkan kafir terhadap nahdliyyin yang ritual keagamaannya dianggap berbeda. Padahal ritual keagamaan tersebut telah menjadi tradisi nahdliyyin yang selama ini.

“Ada yang ngaku Jama’ah Salafiyah, tetapi prakteknya keluar dari apa yang diajarkan oleh ulama-ulama salaf. Ulama-ulama salaf itu kan sangat menghargai perbedaan madzhab dalam bidang ubudiyah. Tapi golongan ini tidak mengakui (perbedaan madzhab) itu, sehingga mudah sekali mem-bid’ah-kan bahkan mengkafirkan orang lain,” terang Kiai Nuril kepada para pimpinan majelis taklim.

ArrahmahMedia.Com

Oleh karena itu, lanjut Kiai Nuril, NU harus segera dilakukan upaya peneguhan kembali pemahaman sekaligus implementasi dari paham Aswaja di masyarakat. Hal itu, katanya, sangat penting agar kelompok-kelompok tersebut tidak mengusik kelestarian pemikiran dan budaya yang dikembangkan nahdliyyin melalui ajaran Aswaja.

Dalam kesempatan itu, Kiai Nuril juga mengungkapkan, kelompok-kelompok yang mengaku berpaham Aswaja itu tidak hanya berupaya mengganti tradisi keagamaan nahdliyyin. Masjid-masjid yang didirikan dan selama ini dikelola serta takmir masjidnya diisi oleh nahdliyyin mulai diambilalih dengan alasan syarat dengan ajaran bid’ah.

“Kita harus membentengi simbol-simbol NU, seperti masjid-masjid serta tradisi keagamaan NU dari upaya kelompok-kelompok lain yang mau menggeser dan menggantinya,” ungkap Kiai Nuril.

Oleh karenanya, imbuh Kiai Nuril, acara tersebut diharapkan dapat menjadi media perekat dan komunikasi antar-majelis taklim yang berbasis pemikiran dan kultur NU. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com AlaNu, Budaya, Humor Islam ArrahmahMedia.Com

Selasa, 23 Januari 2018

Ini Cara Mudah Dapatkan Lailatul Qadar

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Pengasuh Bahtsul Masail ArrahmahMedia.Com yang terhormat. Di sepuluh akhir bulan Ramadhan ini banyak orang mengharapkan mendapatkan Lailatul Qadar. Biasanya mereka meningkatkan intensitas ibadah di sepuluh terakhir bulan Ramadhan dengan harapan mendapatkan Lailatul Qadar.

Ini Cara Mudah Dapatkan Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Mudah Dapatkan Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara Mudah Dapatkan Lailatul Qadar

Namun yang ingin kami tanyakan adalah amalan apa yang sekiranya dapat mempermudah atau mempercepat kita mendapatkan Lailatul Qadar. Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Wahyu/Bandung).

Jawaban

ArrahmahMedia.Com

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Dalam kesempatan ini kami akan menjawab pertanyaan kedua saudara Wahyu dari Bandung mengenai kiat-kiat atau cara bagaimana bisa mendapatkan Lailatul Qadar.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dikatakan bahwa kita dianjurkan untuk mencari Lailatul Qadar pada malam ganjil dalam sepuluh terakhir bulan Ramadhan.

ArrahmahMedia.Com

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil dalam sepuluh terakhir di bulan Ramadhan,” (HR Bukhari).

Untuk mendapatkan Lailatul Qadar memang tidak mudah. Karenanya tidak semua orang bisa mendapatkannya. Dibutuhkan usaha keras dan tidak kenal lelah untuk selalu meningkatkan intensitas ibadah terutama pada sepuluh akhir di bulan Ramadhan sebagaimana yang dipraktikan Rasulullah SAW. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan hadits riwayat Muslim.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dari Aswad dari Aisyah ra ia berkata bahwa Nabi saw meningkat amal-ibadah pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan melebihi di waktu yang lain,” (HR Muslim).

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Rasulullah SAW mengencangkan kain bawahnya, menghidupkan malamnya dan membangungnkan keluarganya.

? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?-?: ? ? ? ?- ? ? ? ? ? ? - ? ?

Artinya, “Dari Aisyah RA, ia berkata, bahwa Rasulullah SAW ketika masuk sepuluh terakhir bulan Ramadhan, mengencangkan kain bawahnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya,” (Muttafaq ‘alaih).

Lantas apa yang dimaksud dengan mengencangkan kain bawahnya dalam hadits di atas? Menurut Ibnu Baththal, maksudnya ialah Rasulullah SAW tidak menggauli istrinya. Sedangkan yang dimaksud dengan membangunkan keluarganya adalah beliau menganjurkan dan mendorong keluarganya untuk melakukan? mengingatkan keluarganya untuk melakukan amaliah sunah dan kebajikan lainya yang bukan fardhu.

? ? ? : ? : ( ? ? ) ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? : ( ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? .

Artinya, “Sufyan Ats-Tsauri berkata maksud ‘mengencangkan kain atasnya’ dalam hadits di atas adalah Rasulullah SAW tidak melakukan hubungan badan dengan istrinya. Sedangkan pernyataan ‘Beliau (Nabi saw) membangunkan keluarganya’ dapat dipahami bahwa suami dianjurkan mendorong keluarganya untuk mengerjakan amalan sunah dan amal kebajikan lainya selain yang wajib serta menekankan kepada mereka untuk melakukan hal tersebut,” (Lihat Ibnu Baththal, Syarhu Shahihil Bukhari, Riyadl-Maktabah Ar-Rusyd, cet ke-2, 1423 H/2003 M, juz IV, halaman 159).

Lantas bagaimana yang dimaksud dengan Rasulullah SAW menghidupkan malamnya? Apakah beribadah semalam suntuk sampai pagi? Jawaban yang tersedia adalah Rasulullah SAW tidak tidur tetapi disibukkan dengan ibadah pada sebagian besar malam, bukan semalam suntuk sampai pagi. Sebab, ada riwayat dari Aisyah RA yang menyatakan bahwa ia tidak pernah mengetahui Rasulullah SAW beribadah semalam penuh sampai pagi.

(? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(dan menghidupkan malamnya) maksudnya adalah Rasulullah SAW tidak tidur di mana tidur adalah saudara kematian, dan beribadah pada sebagian besar malam bukan seluruhnya sebab ada riwayat dari Aisyah ra yang menyatakan: ‘Aku tidak pernah mengetahui Rasulullah SAW melakukan ibadah satu malam penuh sampai pagi hari,’” (Lihat, Abdurrauf al-Munawi, Faidlul Qadir, Bairut-Darul Kutub al-Ilmiyyah, cet ke-1, 1415 H/1994 M, juz V, halaman 168).

Dengan mengacu kepada penjelasan di atas maka setidaknya ada tiga amaliah yang bisa dilakukan. Amaliah itu diharapkan dapat mempermudah kita untuk mendapatkan Lailatul Qadar, yaitu pada sepuluh akhir Ramadhan pertama, untuk sementara tidak melakukan hubungan suami-istri. Kedua, meningkatkan intensitas beribadah terutama pada malam hari. Ketiga, mendorong atau meminta keluarga untuk melakukan amaliah sunah dan amal kebajikan selain yang fardhu.

Bagi para pembaca, tingkatkan ibadah serta kebajikan, lebih-lebih pada sepuluh akhir pada bulan Ramadhan.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pondok Pesantren, Nahdlatul Ulama, AlaNu ArrahmahMedia.Com

Minggu, 21 Januari 2018

Kang Said Setuju Hukum Mati Bandar dan Pengedar Narkoba

Bogor, ArrahmahMedia.Com. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj secara gamblang menyatakan dukungan terhadap penetapan hukum vonis mati untuk terhadap para bandar dan pengedar narkoba. Menurut Kiai Said, pengedar dan bandar mesti dihukum jauh lebih dibanding sekadar penyalahguna narkoba.

Kang Said Setuju Hukum Mati Bandar dan Pengedar Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said Setuju Hukum Mati Bandar dan Pengedar Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said Setuju Hukum Mati Bandar dan Pengedar Narkoba

Demikian pernyataan kiai yang lazim disapa Kang Said dalam Tadarus NU yang berbarengan dengan pelantikan PCNU kabupaten Bogor, Selasa (6/1) lalu.

“Pada bandar dan pengedar narkoba harus dihukum mati, karena mereka merusak moral bangsa. Dan itu berarti telah mengancam NKRI. Bagi NU, segala yang mengancam NKRI merupakan hal yang harus diperangi,” tegas Kang Said.

ArrahmahMedia.Com

Untuk mereka yang terlanjur pengguna sebagai korban, pemerintah berkewajiban merehabilitasi mereka. 

ArrahmahMedia.Com

Dukungan ini juga dinyatakan Kang Said saat bertemu dengan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu di Kantor PBNU. (Akhsan Ustadhi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaNu ArrahmahMedia.Com

Kamis, 04 Januari 2018

PMII ITS Adakan Super Camp SBMPTN 2015 Gratis untuk Pelajar NU

Surabaya, ArrahmahMedia.Com. PMII Institut Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembali mengadakan program bimbingan belajar bagi pelajar NU untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri secara gratis. Dalam kegiatan ini, PMII ITS bekerjasama dengan PCNU Kota Surabaya dan Lembaga Amil Zakat dan Infaq al-Maun (Lazim).

PMII ITS Adakan Super Camp SBMPTN 2015 Gratis untuk Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII ITS Adakan Super Camp SBMPTN 2015 Gratis untuk Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII ITS Adakan Super Camp SBMPTN 2015 Gratis untuk Pelajar NU

Program tersebut dinamakan Super Camp SBMPTN 2015. Sebuah program bimbingan belajar intensif dengan sistem diasramakan ‘full service’ yang bertujuan untuk mempersiapkan pelajar NU sukses masuk ITS dan Fakultas Kedokteran.

"Alhamdulillah, program ini kami adakan lagi dengan mendapat dukungan penuh dari PCNU Kota Surabaya dan Lazim," ungkap Moh. Imam, Ketua PMII ITS, Ahad (1/3).

ArrahmahMedia.Com

Menurut ketua panitia, Ahmad Safaat, target program yang sudah berjalan selama 5 tahun ini adalah siswa-siswi SMA dari keluarga kurang mampu, namun memiliki kemampuan akademis yang memadai.?

"Program ini sudah berjalan mulai tahun 2010, dan pada tahun ini kami fokuskan pada pelajar NU terutama alumni-alumni pesantren," terangnya.

ArrahmahMedia.Com

Pada tahun ini, kata Safaat, pendaftaran sudah dibuka sejak tanggal 1 Mei 2015 dan bisa dilihat di www.beasiswasupercamp.com. "Dari semua pendaftar, panitia hanya memilih 35 peserta. Peserta yang dinyatakan lulus untuk mengikuti Super Camp SBMPTN 2015, akan difasillitasi asrama, makan, modul belajar, info PTN, psikotes, motivasi para pakar, try out mingguan, out bond, konsultasi pemilihan jurusan, dan masih banyak fasilitas gratis lainnya," ungkap kader PMII ITS ini. ?

Peserta program tahun ini, tambah dia, akan di training secara intensif selama 40 hari, dari tanggal 24 April hingga 4 Juni 2015. Untuk mengikuti program tersebut, peserta terlebih dahulu harus mengikuti beberapa langkah, yaitu mengikuti pendaftaran administrasi secara online dilaksanakan pada tanggal 1 Maret–10 April 2015. Kelulusan administrasi akan diumumkan di website Super Camp pada tanggal 10-13 April.?

“Peserta yang lulus seleksi administrasi berhak mengikuti try out pada tanggal 19 April 2015, hasilnya akan diumumkan pada tanggal 21 April 2015," ungkapnya.

Lebih lanjut Safa’at mengatakan, program ini merupakan bentuk kaderisasi awal pelajar NU supaya bisa mewarnai kampus ITS dan kampus favorit lainnya termasuk fakultas kedokteran dengan warna ke-NU-an.

"Ini langkah awal kita sebagai kader NU di kampus negeri supaya bisa bersaing dalam bidang akademik dan ilmu kedokteran," ungkapnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaNu, Hikmah, Nasional ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 30 Desember 2017

Nahdliyin Tulen

Seorang kawan berseloroh, “Seandainya tidak ada NU mungkin saya tidak beragama Islam.” Saya mengamini selorohannya itu. Dan bukan omong kosong bahwa penganut-penganun agama lain semisal selain Islam, juga Kejawen, Sunda Wiwitan, pada betah duduk dengan Nahdliyin, meski tentu saja, ada kekecualian.

Ya, saya memang lahir dari keluarga santri. Bapak saya menghabiskan hampir seluruh waktunya menjadi “cantrik” Mbah Kiai Asyhari Lempuyangan, menjadi kurir pengantar bekal nyantri putranya, yaitu Daliri muda, selama jadi santri di satu pesantren di Jawa timur. Bahkan ketika Daldiri muda Mbah Asyhari diganti, dan mulai disebut kiai haji, bapak saya masih menyempatkan waktu untuk mengabdi di Lempuyangan. Sederhana, sekedar menghadiri acara “Sewelasan” yang dihelat pesantren tiap tanggal sebelas dalam penanggalan Hijriyah.

Sejak kecil saya tinggal di ujung Bantul yang kental tradisi kenuannya, mulai dari tahlilan, kenduri, dziba’an dan nyadran. Mulanya saya biasa saja dengan sederat tradisi keagamaan tersebut. Biasa, karena memang begitu akrab, dan sepertinya tradisi-tradisi keagamaan itu pemberian yang tidak bisa ditolak.

Nahdliyin Tulen (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdliyin Tulen (Sumber Gambar : Nu Online)

Nahdliyin Tulen

Samun, saat saya ikut pindah ke kota Jogjakarta di mana ayah saya berdomisili, yang kental dengan Islam ala Modernis nan puritan, saya baru sadar, betapa pentingnya tradisi-tradisi keagamaan di dusun saya itu. Saat itu pula, saya mulai membayangkan bahwa tradisi Islam ala NU, Aswaja, Islam yang hidup di kampung saya, adalah bentuk yang penting dan sekaligus isi kabudayan yang amat dibutuhkan. Pada saat itulah, saya sadar, bahwa NU memang menjadi kebutuhan hidup keberagamaan dan kemasyrakatan saya, bahwa mencintai NU itu memang kebutuhan, bukan sekedar keturunan.

ArrahmahMedia.Com

Saat tinggal di kota Jogja, rasanya hidup harus terus memandang ke depan. Saya melihat tetangga-tetangga yang hidupnya tidak boleh belok kanan-kiri, tidak boleh ambil jalan lain, apalagi belok dan ambil jalan lain, nengok saja langsung dicap bidah kok. Saya tidak yakin, pikiran dan hati lurus selurus-lurusnya. Hati tak mungkin menerima kondisi yang demikian, juga pikiran.

Hidup dengan karunia alami menjadi kreatif adalah proses untuk melahirkan hal-hal baru, juga kreasi-kreasi baru yang tak sembarangan bisa dikungkung oleh aturan yang kemudian memunculkan wacana bid’ah, kurafat dan lain sebagainya.

ArrahmahMedia.Com

Menjadi kreatif, dalam eksistensinya bisa jadi menjelma sebagai seorang penyair, penulis, perupa, perajin dan hal-hal lain yang memaksimalkan kreativitas. Pilihan menjadi NU akhirnya betul-betul dengan kesadaran penuh. Sebab, NU mengakomodasi itu semua, menganjurkan kreativitas, termasuk dalam ibadah yang sakral itu dan pada saat yang sama, NU menjadikan kabudayan bukan hal yang main-main.

NU tanggap memberi ruang pada jamaahnya untuk kreatif dalam beribadah.

Saat sedekah menjadi hal yang utama dengan pahala utama pula, memberi “makan” lewat kenduri dalam ritual tahlilan adalah karya seni yg bernilai budaya tinggi. Bisa dibandingkan dengan apa yang marak saat ini dilakukan oleh anak-anak anarki, yaitu membagi makanan gratis dalam? event “food not bomb.” Kenduri atau “kenduren” lebih dulu hadir dengan kemasannya yang lebih merakyat dan bernilai ibadah. Jadi, kalau pilihannya pun ingin jadi anarki, Nahdliyin kurang anarki apa coba.

Lebih nyaman lagi, khusus buat saya, menjadi NU di jalanan itu, rasa-rasannya paling sempurna NU-nya. Menjadi NU secara jamaah di jalanan itu membuat saya merasa NU 100%, karena kreatifitasnya 100%. Saya lebih nyaman menjadi jamaah saja, yang lekat dalam suasana beragama yang berbudaya. Bahkan dalam keyakinan saya, agama itu ya, laku budaya.

?

Meskipun demikian, saya sangat setuju jika NU secara jamiyah (organisasi) memliki institusi-institusi yang diperlukan guna memperkuat nilai kebudayaan NU dari dalam. Dengan begitu, NU dapat menjadi saluran ekspresi para budayawan dan seniman yang kreatif. Ini amat penting dalam rangka menyediakan banyak ruang dan jalan menjadi NU. Dan di sinilah NU harus menjadi rumah yang nyaman buat para seniman-seniman yang beraneka ragam minat dan garis perjuangannya, bukan saja beraneka ragam model rambut, jenis pakaian, bahkan hingga tatonya. NU harus dapat menggaransi bahwa seni dan budaya harus memiliki ruang yang lapang untuk kreativitas, yang seringkali liar, liar seliar-liarnya. Coba, kurang apa liarnya tradisi tahlilan, tradisi uang shalawat, dan masih banyak lagi.

Dan contohnya sudah ada, dan lebih banyak dari yang kita tahu. Dalam NU tumbuh pemikir-pemikir ajaib, mulai dari Mahbub Djunaidi, Gus Dur, Gus Mik, sampai Gus Mus yang pernah menghentak dengan lukisan Dzkir Bersama Inul. Padahal mereka semua santri dan Nahdliyin tulen setulen-tulennya.

Penulis adalah Rahman Seblat. Ia berprofesi sebagai perupa, pernah nyantri di Pesantren Krapyak Jogjakarta, alumni ISI Jogjakarta, tinggal di Depok, Jawa Barat.

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaNu ArrahmahMedia.Com

Senin, 25 Desember 2017

Revolusi Mental, Khayalan atau Pelaksanaan?

Oleh Gatot Arifianto



Apalagi

Yang bisa kita lakukan

Revolusi Mental, Khayalan atau Pelaksanaan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Revolusi Mental, Khayalan atau Pelaksanaan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Revolusi Mental, Khayalan atau Pelaksanaan?

Bila kata kehilangan makna

Kehidupan kehilangan sukma

Manusia kehilangan kemanusiaannya

ArrahmahMedia.Com

Agama kehilangan Tuhannya



(Penggalan sajak KH A Mustofa Bisri atau Gus Mus, "Jadi Apa Lagi?")

ArrahmahMedia.Com

Hasil-hasil survei internasional sering menunjukkan bahwa dalam hal baik, angka untuk Indonesia cenderung rendah, tetapi dalam hal buruk cenderung tinggi. Hingga saat ini, Indonesia masih mempunyai sejumlah permasalahan perlu dirampungkan. Hal tersebut barangkali tapi pasti, melatarbelakangi adanya gagasan Revolusi Mental. Namun bagaimana mewujudkannya dan siapa terlibat? Ataukah hanya sebatas khayalan politik, yang artinya, kurang lebih akan bernasib sebagaimana mimpi yang tak mampu melepaskan diri dari ilusi?

Berawal dari pemilihan calon presiden RI ke-7, Revolusi Mental mengemuka. Calon presiden nomor urut 2, Joko Widodo didampingi calon Wakil Presiden Jusuf Kalla bertekad mengangkat kembali karakter bangsa yang telah mengalami kemerosotan dengan secepat-cepatnya dan bersama-sama (revolusioner). Gayung bersambut, tak hanya politisi, artis, seniman hingga masyarakat menyambut antusias.

Dengan dua padanan kata itu, ada harapan tercipta perubahan bagi Indonesia yang berdasarkan data Tranparency International menunjukkan persepsi tentang tingkat korupsi di sektor publik, dari 177 negara dan dengan 177 skor, berada di rangking 114 dengan skor 32. Dan pada 2008 dicatat dalam Guinness Book sebagai negara dengan tingkat kehancuran hutan tercepat di antara negara-negara yang memiliki 90 persen dari sisa hutan di dunia atau menghancurkan luas hutan setara dengan 300 lapangan sepakbola setiap jamnya.

Begitu pula dengan persoalan lain meski dirampungkan Indonesia, seperti kemiskinan, pengelolaan sumber daya belum optimal, lemahnya penegakan hukum, kesenjangan sosial, peringkat dua penyumbang sampah plastik di laut, keamanan, perilaku konsumstif, hubungan eksploitatif antara kapitalis dan buruh, hingga maraknya peredaran narkoba.

Revolusi Mental Versus Pembiaran



Perjuangan, ujar W.S Rendra, adalah pelaksanaan kata-kata. Terpilih sebagai pemimpin bangsa, Presiden Joko Widodo harus mampu mengajak, menyemangati dan meyakinkan masyarakat Indonesia merealisasikan Revolusi Mental yang berkemungkinan mewujudkan harapan Presiden Sukarno: "Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita", yang menjelang 71 tahun Indonesia merdeka, masih jauh panggang dari api.



Jika Revolusi Mental adalah pola baju, seserius apa upaya ditempuh untuk mewujudkannya menjadi pakaian siap dikenakan? Ada kecemasan Revolusi Mental tidak terealisasikan dengan baik. Ini bukan persoalan pesimis. Namun bagaimana kebijakan tegas diambil untuk menerjemahkannya! Sehingga Revolusi Mental bisa pula merealisasikan konsep tiga kekuatan yang berfungsi sebagai kesaktian bangsa atau Tri Sakti, yakni "berdaulat dalam politik", "berdikari dalam ekonomi" dan "berkepribadian dalam kebudayaan".

Adakah jalan menuju "nation building" dan "character building" yang menurut Putra Sang Fajar harus diteruskan sehebat-hebatnya demi menunjang kedaulatan politik Indonesia sudah dibangun? Dengan apa? Pendidikan yang salah kaprah dipandang sebagai tugas guru dan sekolah semata? Kebijakan tegas dan jalan mewujudkan cita-cita mulia tersebut sepertinya masih remang. Yang tampak jelas justru ketidakmungkinan terjadinya Revolusi Mental melalui pembiaran banyaknya tontonan sekaligus tuntunan murahan di televisi-televisi yang meragukan mampu membangun kreativitas dan karakter anak-anak bangsa.

Mungkinkah generasi yang melulu dijejali fiksi tanpa visi, mengabaikan "character building" akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang mampu menjawab beragam persoalan bangsa dan tantangan zaman yang akan semakin besar? Mungkinkah 1.000 guru melahirkan 1.000 murid bagus jika pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa sekolah kita kalah "memikat" dengan "guru-guru elektronik" yang rajin menjejali murid-murid di luar jam belajar dengan fiksi sampah? Adakah industri televisi yang tidak bervisi untuk kemajuan bangsa yang mengutamakan suplemen kapitalisme (iklan) mampu menopang tercapainya Revolusi Mental di negeri dengan jumlah pengguna narkoba mencapai 5,9 juta orang (BNN, November 2015)?

Kondisi lama itu kini ditambah lagi dengan masifnya generasi muda menjauh dari persoalan terjadi pada bangsa Indonesia. Persoalan ketahanan pangan seolah hanya tanggung jawab petani tanpa upaya tegas menyiapkan regenerasi. Generasi bangsa Indonesia hari ini lebih akrab dengan fantasi daripada sawah adalah fakta tidak dipungkiri. Mereka lebih karib dengan games, dan terkini, keranjingan berburu monster virtual.

Mengapa mereka rela menghabiskan waktu yang belum teruji bisa menempa mereka menjadi individu berkarakter sebagaimana Sukarno, Hatta, Habibi, Gus Dur atau Mbah Sadiman yang seorang diri menghijaukan 100 hektar lahan hutan Bukit Gendol dan Bukit Ampyangan sisi tenggara lereng Gunung Lawu? Mengapa pula generasi-masyarakat Republik Indonesia yang memiliki 28,59 juta penduduk miskin (BPS, Maret 2015) dengan ikhlas justru gotong-royong menyetorkan uang untuk asing? Kenapa demikian? Barangkali ada kejenuhan massal atas beragam persoalan bangsa tak kunjung rampung.

Merujuk fakta di atas, pemerintah harus bergegas menjawab persoalan itu mengingat bukan sesuatu yang remeh bagi keberlangsungan suatu bangsa di masa mendatang. 321.752 kasus kekerasan terhadap perempuan atau sekitar 881 kasus setiap hari (Komnas Perempuan, 2015) hingga riset sebanyak 68 persen siswa SD sudah pernah ikut-ikutan mengakses situs porno adalah persolan nyata dan membutuhkan penanganan serius.

Apakah pembiaran berlangsungnya hal-hal yang berlawanan dengan pembangunan karakter mampu menopang cita-cita diharapkan? Bukankah itu merupakan kemustahilan mewujudkan harapan dan gagasan baik tengah diupayakan? Apa yang akan terjadi seumpama finasial, waktu dan energi generasi bangsa tersebut dihimpun? Bukankah akan lebih bermakna dan menjadi potensi besar untuk mendukung tercapainya pembangunan nasional?

Implementasi Tepat Wujudkan Revolusi Mental



Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata "revolusi" mengacu pada kata "perubahan" yang berakar kata "ubah". Salah satu syarat mewujudkan perubahan adalah menggambarkan keuntungan masyarakat pada masa yang akan datang supaya tercapainya taraf kehidupan lebih baik. Sesuatu yang secara konsep pada mulanya diterima akal sehat. Adapun kata mental berasal dari bahasa Latin, mens atau metis yang memiliki arti jiwa, nyawa, sukma, roh, semangat. Singkatnya, mental ialah hal-hal yang berkaitan dengan psycho atau kejiwaan yang dapat mempengaruhi perilaku individu. Mental individu yang positif, tentu akan menopang terjadinya perubahan dibutuhkan masyarakat bangsa dengan baik sebagaiamana semangat Revolusi Mental. Sebaliknya?

Amerika Serikat membangun karakter masyarakatnya menggunakan waktu dengan baik, bertahap, sederhana, tapi serius dan realistis. Salah satu melalui tontonan-tuntunan (industri perfilman) yang selalu menyatakan mereka bangsa unggul, bangsa pemenang, bukan bangsa pecundang. Bukankah pertempuran Fire Base Ripcord sejatinya dimenangkan Vietnam? Namun dengan memproduksi puluhan film-film bertemakan perang Vietnam. Dari layar lebar seperti film Rambo hingga film seri "Tour of Duty", mereka mengubah fakta menjadi fiksi yang memotivasi dan menghipnotis psikologi-"mind set" masyarakatnya dengan menyatakan diri menang melawan gerilyawan Vietnam. Dalam konteks kreatif dan fiksi, hal itu bukan sesuatu yang salah karena memang bukan fakta. Dan dari upaya-upaya itu, jelas ada dampak maslahat hendak dicapai Amerika di masa mendatang.

Bagi Amerika, kreativitas tersebut adalah kesadaran pentingnya pembangunan karakter masyarakat bangsa sebagai investasi jangka panjang yang tidak mungkin selesai seperti membuat mie instans. Suatu upaya yang diam-diam mengingatkan dua hal. Pertama pemikiran Mohammad Hatta: Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekadar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Kedua QS. Ar-Raad : 11, "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri".

So, jika 90 persen produk industri televisi kita berikut pemerintah abai terhadap kemajuan bangsa melalui pembangunan karakter generasinya. Jika pemerintah tidak memiliki kebijakan tegas untuk membangun karakter generasi bangsa, barangkali tapi pasti, kita diam-diam sepakat merayakan dengan bangga kemunduran suatu bangsa.

Jalan raya panjang memang mustahil dirampungkan seorang pekerja. Tapi ribuan pekerja hanya akan menghasilkan jalan raya dengan kualitas buruk tanpa mengindahkan kesepakatan hingga tidak adanya kontrol serius, baik dan tegas dari pemimpin di lapangan. Untuk terwujud, harapan dan optimisme perlu implementasi tepat! Revolusi Mental tidak boleh kehilangan makna oleh tontonan-tuntunan murahan dan gempuran permainan asing yang mempunyai tingkat bahaya sebagaimana narkoba. Atau memang sebagai bangsa dengan penduduk Islam mayoritas di dunia, kita keberatan memahami Al-Ashr dan Ar-Raad:11? Jika demikian, mari sederhanakan, minum kopi, teh atau wedang jahe sembari membaca sajak Sebatang Lisong yang ditulis W.S Rendra 17 Agustus 1977.

Penulis adalah Nahdliyin, bergiat di Ansor, Pergunu, Lesbumi, Sarbumusi, Gusdurian, AJI dan SIEJ. Tinggal di Lampung. Twitter @sineasastra; Facebook BPUN Waykanan.Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaNu, Nahdlatul Ulama, Daerah ArrahmahMedia.Com

Rabu, 20 Desember 2017

Disaksikan Menteri Susi, Santri Jombang akan Pecahkan Rekor Makan Ikan Bersama

Jombang, ArrahmahMedia.Com. Dalam rangka mengkampanyekan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan), sekitar 6.000 santri di Kabupaten Jombang akan melakukan aksi makan ikan secara bersama-sama. Aksi yang ditargetkan bakal tercatat di Museum Rekor Indonesia (MURI) itu akan digelar di Terminal Kawasan Makam Gus Dur, Tebuireng, Jombang, Jumat (18/11) besok.

Disaksikan Menteri Susi, Santri Jombang akan Pecahkan Rekor Makan Ikan Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Disaksikan Menteri Susi, Santri Jombang akan Pecahkan Rekor Makan Ikan Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Disaksikan Menteri Susi, Santri Jombang akan Pecahkan Rekor Makan Ikan Bersama

Kegiatan pemecahan rekor dengan aksi makan ikan makarel secara serentak itu dijadwalkan akan dihadiri oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. "Selain menyaksikan aksi makan ikan serentak, Bu Susi juga akan menyerahkan bantuan ikan segar beku kepada masyarakat. Bantuan tersebut secara simbolis akan diserahkan kepada Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid," ujar Sekretaris Utama Pesantren Tebuireng Abdul Ghofar.

Aksi pemecahan rekor ini diharapkan menjadi bagian upaya meningkatkan peran santri dalam pembangunan kelautan dan perikanan. Pasalnya, sebagai negara maritim, tingkat konsumsi ikan masyarakat Indonesia tergolong rendah.

Mengutip data Kementerian Kelautan dan Perikanan, pria yang akrab dipanggil Gus Ghofar ini menyatakan bahwa konsumsi ikan masyarakat Indonesia hanya 41,11 kg per kapita per tahun pada 2015. Angka ini masih kalah jika dibandingkan konsumsi masyarakat Malaysia yang mencapai 70 kg per kapita per tahun.?

"Jika dibandingkan dengan kebiasaan warga Jepang yang makan ikan 110 kg per kapita setiap tahun, kondisi kita jauh lebih tertinggal lagi," imbuhnya.

ArrahmahMedia.Com

Yakin Tembus Rekor

Hingga Kamis (17/11) pagi, persiapan aksi pemecahan rekor ini sudah hampir matang. "Panitia melaporkan, sudah ada 7.445 santri yang berminat dalam kegiatan pemecahan rekor ini. Dan jumlah ini sepertinya masih akan terus bertambah," kata Gus Ghofar.

Jumlah tersebut baru berasal dari santri Tebuireng dan beberapa pesantren sekitar. Antara lain, Pesantren Al-Masruriyah dan Pesantren Al-Farros Tebuireng, Pesantren Khoiriyah Hasyim dan Al-Mahfudz Seblak, Pesantren Sains Tebuireng 2, serta Pesantren Al-Aqobah dan Mambaul Hikam. Juga Pesantren Walisongo, Pesantren Darul Falah Cukir dan Pesantren Al-Urwatul Wutsqo Bulurejo.?

"Semua pesantren tersebut berada di wilayah Kecamatan Diwek, Jombang," terangnya.

ArrahmahMedia.Com

Selain unsur santri, ada beberapa elemen masyarakat lain yang juga menyampaikan minatnya untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. "Ada teman-teman dari Koramil dan taruna Politeknik Perikanan di Sidoarjo yang juga ingin bergabung," ujarnya.

Selain aksi makan ikan serentak untuk memecahkan rekor MURI, ada juga kegiatan sosialisasi dan edukasi yang akan dilakukan oleh tim Kementerian Kelautan dan Perikanan. "Khusus untuk aksi makan serentak, Tim Jasa Boga Pesantren Tebuireng akan menyiapkan hidangan ikan makarel sebanyak 1,6 ton," terang Gus Ghofar.

"Aksi ini diharapkan dapat memicu peningkatan kesadaran maritim di kalangan santri. Jangan sampai kekayaan sumberdaya laut kita justru tidak bisa dinikmati oleh anak bangsa, karena kita sendiri yang mengabaikan potensi lautan kita," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaNu, Nasional ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 09 Desember 2017

Copot Spanduk Khilafah, Banser Jangan Bergerak Tanpa Komando

Pacitan, ArrahmahMedia.Com

Gerakan Pemuda Ansor dan organisasi semiotonomnya, Barisan Ansor Serbaguna (Banser)? harus menjadi garda terdepan dalam menbentengi NKRI dari rongrongan kelompok-kelompok anti-Pancasila.

Demikian seruan Katib Syuriyah PBNU KH Luqman Harits Dimyathi dalam acara peringatan hari lahir (harlah) ke-82 GP Ansor di Pacitan, Jawa Timur, Rabu (27/4) malam.

Copot Spanduk Khilafah, Banser Jangan Bergerak Tanpa Komando (Sumber Gambar : Nu Online)
Copot Spanduk Khilafah, Banser Jangan Bergerak Tanpa Komando (Sumber Gambar : Nu Online)

Copot Spanduk Khilafah, Banser Jangan Bergerak Tanpa Komando

Kiai Luqman menyampaikan hal tersebut setelah mencermati ancaman terhadap kedaulatan NKRI semakin hari semakin nyata. Salah satu di antarnya adalah maraknya poster atau spanduk yang berisi ajakan menegakkan negara khilafah di Indonesia.

ArrahmahMedia.Com

Pengasuh Pesantren Tremas ini mengatakan, bila di Pacitan benar-benar ditemukan spanduk tentang ajakan menegakkan negara khilafah, GP Ansor dan Banser diminta bergerak untuk menurunkannya. Namun usaha itu harus sepengetahuan alat negara, yakni kepolisian dan TNI. Hal ini sesuai dengan intruksi Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor H Yaqut Cholil Qoumas.

ArrahmahMedia.Com

“Ansor dan Banser jangan bergerak tanpa komando. Semua harus ada komando, tidak boleh berjalan dengan mengunakan tata cara sendiri. Dan itu pun harus komunikasi dengan alat negara,” imbuhnya mengingatkan.

Penurunan spanduk khilafah, lanjutnya, merupakan salah satu usaha menegakkan kebenaran dan tidak menyalahi Undang-undang. Sebab bila pemasangan spanduk ini dibiarkan begitu saja, maka akan sangat berbahaya bagi keutuhan negara Indonesia. “Bukanya kita arogan, justru yang memasang spanduk itu yang arogan. Memangnya ini negara siapa?” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Pacitan Khoirul Anam memohon arahan dan bimbingan dari para sesepuh dan pengurus NU di Pacitan agar dapat menjalankan roda organisasi dengan baik. Menurutnya, saran-saran yang diberikan akan bermanfaat untuk meningkatkan kapasitas dan kinerja pengurus Ansor ke depan.

“Kami mohon doa restu, bimbingan dan motivasinya. Semoga bisa menjalankan amanah yang diberikan kepada kami, untuk meneruskan estafet perjuangan para ulama,” katanya.

Selain puluhan pengurus dan anggota Banser, peringatan harlah Ansor juga dihadiri Mustasyar PCNU Pacitan KH Umar Syahid, Rais Syuriyah PCNU Pacitan KH Faqih Sujak, Sekretaris PCNU Pacitan M Nurul Huda, ketua organisasi kepemudaan dan undangan lainnya. (Zaenal Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaNu, IMNU ArrahmahMedia.Com

Minggu, 03 Desember 2017

Banyak Peminat, Kemenag Akan Tambah Akses ke Madrasah Aliyah

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Madrasah yang merupakan lembaga pendidikan yang dikelola oleh Kementerian Agama kini semakin diminati. Sayangnya, akses untuk masuk ke madrasah, terutama Madrasah Aliyah masih kurang.

Banyak Peminat, Kemenag Akan Tambah Akses ke Madrasah Aliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Banyak Peminat, Kemenag Akan Tambah Akses ke Madrasah Aliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Banyak Peminat, Kemenag Akan Tambah Akses ke Madrasah Aliyah

Direktur Madrasah Nur Kholis Setiawan menjelaskan, jumlah Madrasah Tsanawiyah sebanyak 17.000an dengan jumlah murid sekitar 3.4 juta sedangkan jumlah Madrasah Aliyah hanya sekitar 7600an, atau tidak ada separuh dari jumlah MTs dengan jumlah siswa sekitar 1.2 juta. 

Untuk mengatasi masalah ini, Direktorat Madrasah menggunakan tiga cara. Pertama adalah menambah akses ke madrasah melalui pendirian Madrasah Aliyah baru di sejumlah daerah. 

ArrahmahMedia.Com

“Maka PR kita di Aliyah adalah menambah akses karena jumlah lembaganya baru separuh dari jumlah MTs, termasuk jumlah siswanya,” jelasnya. 

ArrahmahMedia.Com

Cara kedua adalah dengan meningkatkan kualitas dan tata kelola. Kuantitas yang ditambah tanpa disertai dengan perbaikan tata kelola akan menimbulkan masalah di kemudian hari atau tidak akan menarik minat masyarakat mengirimkan anaknya belajar di madrasah. 

“Tidak mungkin akses kita tambah tetapi tidak kita tambah tata kelola dan kualitasnya,” tegasnya.

Aspek ketiga adalah, signifikansi, yaitu akan menjadi apa para lulusan aliyah nantinya. Dalam hal ini ada tiga jenis madrasah yang dikembangkan. Pertama adalah yang menonjolkan kualitas akademik dengan mengembangkan madrasah unggulan seperti Insan Cendikia di beberapa daerah.

Yang kedua adalah madrasah aliyah yang kuat dalam tafaqquh fiddien yang akan mempersiapkan calon ulama sehingga muatan pelajaran agamanya banyak. Disini terutama difokuskan pada madrasah yang sudah memiliki asrama. Untuk wilayah Jakarta, diantaranya adalah MAN 4 dan MAN 22. 

Terakhir adalah madrasah vokasi yang memfokuskan siswa dengan ketrampilan praktis yang bisa langsung dimanfaatkan di dunia kerja saat mereka lulus. Saat ini sudah terdapat 202 madrasah vokasi di seluruh Indonesia. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Syariah, Habib, AlaNu ArrahmahMedia.Com

Jumat, 24 November 2017

Jika Masuk NU, Niati untuk Perbaiki Diri

Jember, ArrahmahMedia.Com - Kalau mau menjadi anggota NU, niatilah? untuk? mencari ridlo Allah. Jangan berniat? mencari? sesuatu selain itu. Sebab, ketika berniat mencari sesuatu, pasti tidak akan didapat.? Hal tersebut dikemukakan Ketua PCNU Jember, KH Abdulah Syamsul Arifin dalam sebuah acara? pengajian Aswaja di Kaliwates,? belum lama ini.

Menurutnya, jika berniat mencari keuntungan duniawi lewat NU, biasanya tidak akan pernah tercapai. Sebab, NU bukan lembaga profit. "Tapi jangan khawatir jika bekerja untuk NU dengan ikhlas, keuntungan dunia pasti mengikuti. Itu namnya barokah. Ini fakta," terang Gus Aab, sapaan akrabnya Rabu (31/8).

Jika Masuk NU, Niati untuk Perbaiki Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jika Masuk NU, Niati untuk Perbaiki Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jika Masuk NU, Niati untuk Perbaiki Diri

Ia lalu menceritakan sisi barokah NU yang dia rasakan sebagai Ketua NU. Dikatakannya, dalam menghadiri undangan apa pun yang atas nama NU, ia mengaku tak pernah menggunakan kas NU, tapi uang pribadi.

Namun, lanjutnya, uang tersebut pasti diganti oleh Allah di tempat lain dengan cara yang lain pula. "Saya misalnya diundang ke kantor PWNU Jawa Timur, saya pakai uang sendiri untuk ongkos,? tapi pulangnya insyaallah saya dapat lebih banyak dari ongkos yang saya keluarkan, karena saya masih mampir di sekian tempat untuk mengisi pengajian," tukasnya sambil tersenyum.

ArrahmahMedia.Com

Dekan Fakultas Tarbiyah? IAIN Jember itu lalu menyinggung kata-kata bijak yang sering diucapkan almarhum KH Muchit Muzadi terhadap pengurus NU. Katanya, kalau masuk atau menjadi pengurus NU, jangan berkata ingin membesarkan NU. NU tidak perlu dibesarkan. Sebab,? NU sudah besar.

"Yang penting? kita masuk NU, niat? dandani awak. Ingin membenahi diri. Karena di NU kita berkumpul dengan ulama dan orang? saleh. Itu? kata Kiai Muchit.? Jadi, dengan masuk NU, niat utama kita memperbaiki diri dulu.? Lebih dari itu, NU menjadi kontrol sosial bagi kita. Kita jadi malu untuk berbuat yang tidak-tidak, apalagi pengurus," terangnya. (aryudi a razak/ abdullah alawi)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaNu, Fragmen ArrahmahMedia.Com

Rabu, 22 November 2017

Rumah Sakit NU Didorong Kikis Komersialisasi Berobat di RS

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Dewan Penasihat Asosiasi Rumah Sakit Nahldatul Ulama (ARSINU) Daeng M Faqih, mengatakan ada beberapa persoalan dalam penyelenggaraan layanan kesehatan melalui rumah sakit.?

Rumah Sakit NU Didorong Kikis Komersialisasi Berobat di RS (Sumber Gambar : Nu Online)
Rumah Sakit NU Didorong Kikis Komersialisasi Berobat di RS (Sumber Gambar : Nu Online)

Rumah Sakit NU Didorong Kikis Komersialisasi Berobat di RS

“Rumah sakit dapat dikatakan sebuah entitas yang padat modal karena memerlukan modal yang besar; padat tenaga karena memerlukan tenaga ahli seperti dokter, perawat, dan bidan,” kata Daeng dalam diskusi “Peluang Rumah Sakit Jejaring ARSINU sebagai Wahana Internship”.?

Diskusi tersebut digelar menjelang Pelantikan dan Rapat Kerja Asosiasi Rumah Sakit NU (ARSINU), di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (6/12) siang.

Hal itu menyebabkan tingkat kesulitan yang luar biasa, baik dalam membangun maupun membina rumah sakit. Daeng menambahkan tingkat kesulitan ditambah lagi oleh padatnya masalah.?

“Saya melihat adanya dua hal sebagai padat masalah. Pertama pengharapan masyarakat dan apa yang terjadi di rumah sakit tidak sama. Siapa pun orangnya dan di rumah sakit mana pun, pasti berharap kalau masuk rumah sakit bisa sembuh sempurna,” kata Daeng.

ArrahmahMedia.Com

Padahal, kata Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), kebanyakan di rumah sakit tidak sama dengan harapan masyarakat. Namun, tugas dokter dan rumah sakit memang memberikan pertolongan.

“Ada pasien yang selamat tapi tidak sembuh sempurna ataupun masih ada sisa-sisa dari perawatan,” ujar Daeng.

ArrahmahMedia.Com

Persoalan kedua adalah persespi rumah sakit dengan dengan masyarakat yang berbeda. Misalnya bila pihak rumah sakit ingin melakukan observasi terhadap pasien, masyarakat menganggap bahwa pasien tersebut dibiarkan saja. Juga bila ada dokter yang mengajak pasiennya mengobrol, dianggap hanya mengobrol saja.

Hal lainnya adalah adanya kekrtitisan masyarakat, karena rumah sakit yang ada banyak yang mementingkan komersial, sehingga untuk berobat ke rumah sakit harus mengeluarkan dana yang besar.

Persoalan-persoalan tersebut sesunggunya adalah peluang, termasuk bagi rumah sakit NU. Lembaga sosial keagamaan seperti NU, sebut Daeng, salah satunya berfungsi membina umat. Dengan jumlah warga NU yang banyak, maka peluang pendirian rumah sakit NU juga lebih banyak.?

“Tinggal bagaimana caranya. NU potensi banyak. Warganya juga banyak. Jangan sampai yang sakit kita (warga NU) yang membina justru orang lain. NU jangan kalah dengan yang lain,” tegas Daeng.

Ia pun mempertanyakan mengapa warga NU banyak yang memaanfaatkan rumah sakit non-NU yang didesain komersial dan lebih mahal.?

Daeng mengatakan, pihaknya melalui IDI dapat membantu penyediaan tenaga medis. Kehadiran rumah sakit NU diyakini akan berperan dalam mengatasi persoalan komersialiasi dan mahalnya biaya berobat di rumah sakit. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaNu, AlaSantri ArrahmahMedia.Com

Selasa, 14 November 2017

PBNU Dukung Tito Karnavian sebagai Kapolri

Surabaya, ArrahmahMedia.Com. Presiden Joko Widodo telah menunjuk Komjen Tito Karnavian sebagai calon tunggal Kapolri menggantikan Badrodin Haiti yang akan masuk massa pensiun bulan depan. Keputusan Jokowi ini dinilai berani oleh beberapa kalangan karena Tito melompati empat angkatan di atasnya.

Meski demikian dukungan kepada Tito untuk menjabat sebagai Kapolri terus mengalir, tak hanya dari kalangan seniornya di jajaran Kepolisian saja namun dukungan untuk Tito mengalir dari kalangan politikus maupun pimpinan ormas.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menilai penunjukkan kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ini sebagai Kapolri sudah tepat.

PBNU Dukung Tito Karnavian sebagai Kapolri (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Dukung Tito Karnavian sebagai Kapolri (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Dukung Tito Karnavian sebagai Kapolri

"Penunjukan Tito Karnavian sebagai Kapolri sangat tepat sekali. Sebagai Perwira Polisi Tito telah menunjukan kinerja yang baik sekali dan profesional di setiap jabatan yang diembannya. Terutama mampu mengatasi terorisme di Ibukota beberapa waktu lalu tak kurang dari lima jam," ungkap Kiai Said, Kamis (16/6) di Surabaya.

Kiai Said menambahkan, selain seorang pekerja keras Tito juga pribadi yang taat kepada agamanya, merakyat dan mudah bergaul dengan semua kalangan. "Usianya yang masih muda dan berpikiran cerdas tentu sangat potensial sekali untuk bisa membawa Kepolisian lebih baik lagi," tambahnya.

Kedepan, dengan jiwa kepemimpinannya, penegakan hukum di Indonesia diharapkan akan berjalan lebih baik lagi. Dan jika nanti sudah disahkan dan dilantik oleh Presiden Jokowi, Tito harus tetap melanjutkan penataan dan reformasi ditubuh Polri seperti yang diinginkan oleh Presiden.

ArrahmahMedia.Com

"Dan kami berharap kepada Kapolri yang baru bisa melanjutkan kerjasama yang apik dengan PBNU dalam rangka pencegahaan terorisme dan deradikalisasi serta pemberantasan Narkotika. Insyaallah kerjasama apik dengan Kapolri yang baru nanti semakin memberikan jaminan rasa aman kepada masyarakat Indonesia umumnya dan warga NU khususnya," pungkas Kiai Said. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com AlaNu, Makam ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 11 November 2017

Benarkah Nabi Marah Jika Agama Allah Dihina?

Oleh Nadirsyah Hosen

Beredar di media sosial (medsos) potongan gambar yang berisi keterangan sebagai berikut:

Benarkah Nabi Marah Jika Agama Allah Dihina? (Sumber Gambar : Nu Online)
Benarkah Nabi Marah Jika Agama Allah Dihina? (Sumber Gambar : Nu Online)

Benarkah Nabi Marah Jika Agama Allah Dihina?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

ArrahmahMedia.Com

Diberi penjelasan bahwa ini ucapan Sayyid Thantawi, yang disarikan dari Hadits riwayat Hindun bin Abi Halah, yang dikeluarkan oleh Imam al-Thabarani dan Imam al-Tirmidzi. Lantas teks Arabnya diberi terjemahan sebagai berikut:

"Nabi SAW tidak marah untuk kepentingan (pribadinya). Namun jika agama Allah dihina (ajaranNya dilanggar), maka tidak ada sesuatu apapun yang bisa tegak di hadapan kemarahan beliau."

Pernyataan lewat gambar dan video diviralkan untuk melegitimasi bahwa wajar orang Islam marah kalau ajaran agamanya dihina. Benarkah keterangan di atas? Mari kita ngaji bersama.

Pertama, terjemahan teks di atas cukup tendensius. Kalimat yang benar justru yang di dalam kurung "jika ajaranNya dilanggar", bukan "jika agama Allah dihina". Pengembangan makna (untuk tidak mengatakan terjemahan ini sudah dipelintir) ini yang bermasalah. Jadi terjemahan yang tepat adalah:

ArrahmahMedia.Com

"Nabi SAW tidak marah untuk kepentingan (pribadinya). Namun jika ajaranNya dilanggar, maka tidak ada sesuatu apapun yang bisa tegak di hadapan kemarahan beliau."

Apa maksudnya? Kita akan jelaskan di bawah ini setelah membahas soal sumber kutipan teks di atas.

Kedua, teks ini diriwayatkan dari Hindun bin Abi Halah. Siapa beliau? Abi Halah adalah suami Siti Khadijah sebelum menikah dengan Rasulullah SAW. Jadi Hindun itu adalah anak tiri Nabi Muhammad. Sewaktu Siti Khadijah menikah dengan Nabiyullah, Hindun ini berusia remaja dan tinggal bersama Nabi Muhammad dan ibunda Siti Khadijah.?

Itulah sebabnya Hindun tahu persis seluk-beluk perilaku keseharian Nabi. Dalam riwayat panjang yang dikutip Sayyid Thantawi, seperti yang saya akan jelaskan di bawah, Sayyidina Hasan bertanya kepada pamannya, yaitu Hindun bin Abi Halah mengenai sosok sang Datuk.

Ketiga, entah mengapa yang diedarkan di atas adalah teks ucapan Sayyid Thantawi, mantan Grand Syekh al-Azhar dan Mufti Mesir, kok bukan teks Haditsnya langsung? Apa karena khawatir ada pertanyaan mengenai kesahihan status hadits dari Imam al-Thabarani dan Imam al-Tirmidzi? Maklum ada kecenderungan untuk menganggap seolah hanya Hadits dari Bukhari-Muslim saja yang sahih. Tentu tidak demikian.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam at Tirmidzi dengan lengkap dalam kitab asy-Syamail. Saya tidak menemukannya dalam kitab Sunan al-Tirmidzi. Kitab Syamail ini berkisah tentang sosok Rasulullah SAW. Ini dalam konteks pembahasan mengenai adab atau etika, bukan berkenaan dengan hukum agama. Kita bisa bandingkan kitab Syamail ini dengan kitab Adab al-Mufrad yang ditulis oleh Imam Bukhari, selain beliau menulis kitab Sahih Bukhari yang terkenal itu.

Riwayat lengkap penuturan mengenai akhlak Nabi ini juga dicantumkan oleh Ibn Katsir dalam kitab al Bidayah wan Nihayah (6/33). Sanad hadits ini disebutkan oleh al-Hakim dalam kitab al Mustadrak (3/640). Hadits itu juga dikeluarkan oleh Imam Thabarani dan Ibnu Asakir seperti yang terdapat dalam kitab Kanzul Ummal (4/32) dan oleh Baghawi dalam kitab al-Ishabah (3/611).

Saya kutipkan teks terkait untuk memahami konteks pernyataan Hindun bin Abi Halah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.?

"Rasulullah SAW tidak berkata-kata kecuali seperlunya, beliau lebih sering diam. Beliau memulai dan menyudahi pembicaraan dengan sepenuhnya, dan tidak bicara dengan bibir saja. Perkataannya singkat tetapi mempunyai makna dan hikmah yang dalam. Tidak mencela dan tidak pula memuji dengan berlebihan. Tidak ada seorangpun yang bisa melawan kemarahannya jika kebenaran didustakan sehingga beliau memenangkan kebenaran itu."

? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dalam riwayat lain dikatakan, "Rasulullah SAW tidak marah disebabkan urusan duniawi, tetapi apabila kebenaran didustakan, beliau SAW akan marah tanpa ada seorangpun yang bisa tegak dihadapan kemarahan beliau, sehingga beliau memenangkan kebenaran itu baginya.?

Beliau tidak marah berkaitan dengan kepentingannya sendiri, dan tidak pernah memberikan hukuman karena dirinya sendiri. Apabila beliau menunjuk atau memberi isyarat ke arah sesuatu, beliau akan menunjuknya dengan seluruh telapak tangannya. Apabila beliau merasa takjub, beliau akan membalikan telapak tangannya."

Maka jelas konteks marahnya Rasul itu bukan karena soal dihina, tapi karena soal kebenaran yang dilanggar atau didustakan. Sebenarnya teks senada juga tercantum dalam kitab Sahih Bukhari (hadits no 6288), Sahih Muslim (4294) dan Sunan Abi Dawud (4153).

Saya cantumkan teks dari Sahih Bukhari:

?? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

"Rasul memilih perkara yg ringan jika ada dua pilihan selama tidak mengandung dosa. Jika mengandung dosa, Rasul akan menjauhinya. Demi Allah, beliau tidak pernah marah karena urusan pribadi, tapi jika ajaran Allah dilanggar maka beliau menjadi marah karena Allah (lillah)."

Jadi sekali lagi jelas bahwa ini konteksnya Rasulullah bukan marah karena agama Allah dihina. Tapi marah kalau kebenaran/ajaran Allah dinodai dengan cara melanggar atau mendustai ajaran Islam itu sendiri. Jadi marahnya Rasul itu semata karena Allah, bukan karena dendam pribadi apalagi karena urusan politik pilpres dan pilkada di TPS (tempat pemungutan suara).

Yang banyak terjadi sekarang ini lain lagi. Kita marah, terus kita --mengutip Gus Mus -- sok penting seakan-akan Allah juga ikutan marah. Emang siapa kita sih?!

Terus kita marah-marah dengan kutip sana-pelintir sini, biar disangka Allah ikutan marah juga. Kok teganya Nabi yang diutus untuk menyempurnakan akhlak dan Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang itu dianggap sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit terhina.

Bersabda Rasulullah SAW:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ?

Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.” (HR. Bukhari no. 7404 dan Muslim no. 2751)

Luar biasa kan, kasih sayang Allah itu melebihi murkaNya! Kalau kita terbalik: marahnya kita sampai ke ubun-ubun hingga lepas kontrol mengeluarkan kosa kata yang tidak pantas, dan marahnya terus berkepanjangan dari 2014 sampai 2019 --boro-boro kita mau belajar menahan amarah agar bisa menyayangi dan menebar rahmat untuk semesta. Duh, Gusti....

Penulis adalah Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia-New Zealand.

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaNu, Pondok Pesantren ArrahmahMedia.Com

Jumat, 10 November 2017

Pencak Silat NU Pagar Nusa Kian Semarak di Sekolah-madrasah NU

Jakarta, ArrahmahMedia.Com - Pengurus Pusat Pencak Silat NU Pagar Nusa memotret banyak perkembangan dunia persilatan NU di daerah-daerah terutama di lingkungan pendidikan NU. Pengurus Pagar Nusa melihat banyak sekolah dan madrasah di lingkungan LP Maarif NU menjadikan pencak silat NU Pagar Nusa sebagai kegiatan ekstrakulikuler para siswa baik putra maupun putri.

Demikian disampaikan Sekretaris Umum PP Pencak Silat NU Pagar Nusa H Nabil Haroen di hadapan ratusan pendekar pada pembukaan Kerjurnas II dan Festival Pencak Silat NU Pagar Nusa di Padepokan Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Ahad (21/8) sore.

Pencak Silat NU Pagar Nusa Kian Semarak di Sekolah-madrasah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pencak Silat NU Pagar Nusa Kian Semarak di Sekolah-madrasah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pencak Silat NU Pagar Nusa Kian Semarak di Sekolah-madrasah NU

“Ada begitu banyak perkembangan menggembirakan di daerah-daerah. Minat orang-orang, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama untuk menitipkan putra-putrinya pada gemblengan Pagar Nusa kian meningkat,” kata H Nabil pada upacara pembukaan Kejurnas II Pagar Nusa.

ArrahmahMedia.Com

Menurut Nabil, lembaga-lembaga pendidikan di lingkungan LP Maarif NU dan sekolah-madrasah yang dikelola warga NU banyak yang mulai peduli untuk merintis dan mengembangkan pencak silat di lembaga mereka.

Sejak diresmikan menjadi salah satu Badan Otonom NU tahun 2004 pada Muktamar Ke-31 NU di Boyolali, Pagar Nusa terus melakukan pembenahan. Pengurus Pagar Nusa hingga kini terus mengonsolidasi diri, terus menempa diri agar bisa menjadi organisasi pendekar pencak silat yang mumpuni.

“Semua itu membuat permintaan akan pelatih pencak silat juga meningkat.”

ArrahmahMedia.Com

Ia berharap Kejuaraan Nasional Kedua dan Festival Pencak Silat NU Pagar Nusa kali ini berlangsung lancar.

“Saya sampaikan selamat kepada pendekar sekalian yang telah menyedekahkan waktu untuk bisa menjalin tali kaasih di antara kita dalam perhelatan ini. Ahlan wa Sahlan. Selamat bertanding. Selamat beratraksi dalam festival,” tandas Nabil. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Hadits, Habib, AlaNu ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock