Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Februari 2018

Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa?

Jepara, ArrahmahMedia.Com. Santri dulu dan sekarang jelas berbeda. Karena zamannya sudah berbeda maka kiai selaku pengasuh di pesantren harus memiliki cara jitu untuk mendidik santri di zaman modern seperti saat ini. 

Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa?

Dalam hal ini, Hisyam Zamroni mengapresiasi apa yang dilakukan oleh H Taufiqul Hakim selaku pengasuh pesantren Darul Falah Bangsri Jepara, Jawa Tengah.

Apresiasi itu sampaikan usai menyimak 4 santri Darul Falah yang mempraktikkan kitab Bid’ah Hasanah dan Syiaful Ummah karya Kiai Taufiq.  M Najib Syamsuddin santri yang masih duduk di kelas 3 MI ditanyai oleh Kang Maman perihal sumber hukum Islam. “Agama atau syariat Islam mempunyai empat sumber hukum. Alquran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas,” jawab santri asal Bandung ini. 

Ketika dia diminta untuk menjelaskan dengan bahasa Jawa. “Sumbere syariat Islam-ono papat. Al-Quran lan – sunnahe Na- Bi Muhammad. Nomer telu – ijma lan papate qiyas – cekelono – kuat-kuat – kanti ikhlas,” lanjut Najib. 

Santri lain yang turut mempraktikkan ada Najwa (Garut), Syiaful (Semarang) dan Ivan (Madura). Santri-santri yang mempraktikkan kitab karya Kiai Taufiq merupakan garapan Ikatan Daiyah Muda Bangsri (Ikdamuba) yang bernaung di pesantren Darul Falah Bangsri Jepara. 

ArrahmahMedia.Com

Pembinaan santri-santri itu merupakan salah satu pembinaan bidang pendidikan yang dilakukan Ikdamuba. Dalam kegiatan Seminar Penanggulan Kenakalan Remaja yang digelar PC Lazisnu Jepara dan Ikdamuba berlangsung di Gedung NU Jepara, Kamis (21/4) ini, menurut Hisyam, Kiai Taufiq telah mereproduksi karya ulama masa silam. 

Karena objek santri saat ini berbeda sehingga kitab disertai dengan hadits atau ada dalilnya juga disertai dengan nadzam (syair). “Dengan secara tidak sadar siswa akan terbiasa jika sudah membacanya berkali-kali,” kata Wakil Ketua PCNU Jepara ini. 

Inilah yang kata Hisyam sebagai model taklim dan tikrar yang menjadikan santri akan mudah menghafalnya. Ia yang menjabat sebagai Kepala KUA Keling itu menambahkan buku bidah hasanah dan syifaul ummah yang dibagikan gratis untuk peserta seminar adalah buku saku. Buku itu, lanjutnya, bisa dengan mudah dibawa  dan dipelajari di mana saja. Ikut andilnya Kiai Taufiq dalam mengarang banyak kitab merupakan wahana untuk mengurangi dampak radikalisme dan kenakalan remaja. 

ArrahmahMedia.Com

Apalagi pihaknya sudah bekerja sama dengan LP Ma’arif NU Jepara untuk membagikan buku tentang bahaya radikalisme secara cuma-cuma. Lewat karya-karya seperti itu merupakan sebuah ciri khas dari kiai pesantren. Ia juga mendorong agar para orang tua mau memondokkan anaknya dan kiai juga harus produktif berkarya apalagi karya yang tematik sebagaimana yang dilakukan Kiai Taufiq. 

Orang tua yang mau memondokkan anaknya tegasnya bisa mengurangi dampak kenakalan remaja. Di samping itu kiai produktif menunjukkan identitasnya sebagai fail (produsen) bukan maful (konsumen). (Syaiful Mustaqim/Fathoni)   

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaSantri, Nahdlatul Ulama, RMI NU ArrahmahMedia.Com

Rabu, 31 Januari 2018

Berlangsung 3 Hari, Perkemahan Ma’arif NU Pringsewu Bertabur Lomba

Pringsewu, ArrahmahMedia.Com

Bertempat di Kompleks Gedung NU Kabupaten Pringsewu, Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Ma’arif NU menggelar Pekemahan Ma’arif Cabang (Permacab) ke-2 yang dibuka secara resmi oleh Bupati Pringsewu H. Sujadi. Pembukaan tersebut ditandai dengan upacara pembukaan dan penyematan tanda peserta perkemahan secara simbolis kepada perwakilan peserta.

Tampak hadir pada upacara pembukaan tersebut perwakilan dari Sako Pramuka Ma’arif NU Pusat, pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Provinsi dan beberapa Pengurus Ma’arif dari Kabupaten yang ada di Provinsi Lampung serta Ketua PCNU setempat beserta jajaran pengurus lainnya.

Berlangsung 3 Hari, Perkemahan Ma’arif NU Pringsewu Bertabur Lomba (Sumber Gambar : Nu Online)
Berlangsung 3 Hari, Perkemahan Ma’arif NU Pringsewu Bertabur Lomba (Sumber Gambar : Nu Online)

Berlangsung 3 Hari, Perkemahan Ma’arif NU Pringsewu Bertabur Lomba

Dalam sambutannya, H. Sujadi yang juga mustasyar PCNU Pringsewu menyampaikan ucapan selamat dan memberikan apresiasi kepada Sako Pramuka Ma’arif NU Kabupaten Pringsewu yang telah menggelar kegiatan untuk kedua kalinya ini. Ia berharap kegiatan Permacab II ini mampu menjawab tantangan perubahan zaman di mana saat ini banyak pemuda yang mengalami degradasi moral.

ArrahmahMedia.Com

Kegiatan ini akan berlangsung selama 3 hari mulai Jumat sampai dengan Ahad (7-8/10) dan diikuti oleh seluruh lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan LP Ma’arif NU Kabupaten Pringsewu. "Ada 72 sangga kerja yang masing-masing terdiri dari 8 anggota," kata Ketua Pelaksana H. Auladi Rosyad di sela-sela kegiatan pembukaan, Jumat (7/10).

ArrahmahMedia.Com

Selain berasal dari Kabupaten Pringsewu, Permacab ke-2 tahun ini juga diikuti oleh utusan Sako Pramuka Ma’arif NU dari Kabupaten Lampung Selatan dan Kota Bandarlampung.

Sementara itu menurut Ketua Sako Pramuka Ma’arif NU Kabupaten Pringsewu Mustangin, dalam kegiatan ini para peserta akan melaksanakan berbagai kegiatan seperti perlombaan di bidang kepramukaan, agama dan seni. "Perlombaan tersebut di antaranya PBB, MTQ, Syarhil Quran, Tahlil, Pionering, Pidato, Hasta Karya, Karnaval, Jelajah Alam, dan Lomba Pentas Budaya," jelasnya.

Selain perlombaan, para peserta juga mendapatkan beberapa materi ruang yang meliputi Ilmu Kepramukaan dan kesehatan. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Syariah, Nahdlatul Ulama ArrahmahMedia.Com

Senin, 29 Januari 2018

PB PMII Minta Pemerintah Lebih Serius Perhatikan Keamanan di Papua

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Penyerangan terhadap umat Islam dan pembakaran masjid di Kabupaten Tolikara Papua di saat Hari Raya Idul Fitri merupakan insiden yang sangat memprihatinkan.?

PB PMII Minta Pemerintah Lebih Serius Perhatikan Keamanan di Papua (Sumber Gambar : Nu Online)
PB PMII Minta Pemerintah Lebih Serius Perhatikan Keamanan di Papua (Sumber Gambar : Nu Online)

PB PMII Minta Pemerintah Lebih Serius Perhatikan Keamanan di Papua

PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) menilai penyerangan umat Islam dan pembakaran masjid di Kabupaten Tolikara menunjukkan bahwa pemerintah masih lemah dalam menangkal aksi-aksi intoleransi antar umat beragama.?

"Ini bukti, bahwa pemerintah tidak serius dalam menjaga keamanan dan mewujudkan toleransi antar umat beragama di Papua," ujar Ketua Umum PB PMII, Aminuddin Maruf di Jakarta, Sabtu (18/8).?

ArrahmahMedia.Com

Menurut Amin, kejadian pembakaran tersebut harus menjadi bahan evaluasi Presiden Jokowi dalam menilai kinerja kabinetnya nanti pasca lebaran.?

"Kejadian ini harusnya menjadi bahan evaluasi Presiden untuk menilai kinerja kabinetnya. Kenapa masih ada kecolongan aksi kekerasan atas nama agama di Papua," tandasnya.

ArrahmahMedia.Com

Kejadian pembakaran masjid di saat Hari Raya Idul Fitri, menurut Amin, menunjukkan bahwa keinginan pemerintah memberikan perhatian khusus kepada Papua dan daerah kawasan timur Indonesia masih belum terbukti.?

"Jaminan keamanan masyarakat dalam menjalankan ibadah itu adalah persoalan fundamental yang harus diberikan pemerintah," tandasnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Ubudiyah, Nahdlatul Ulama ArrahmahMedia.Com

Selasa, 23 Januari 2018

Ini Cara Mudah Dapatkan Lailatul Qadar

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Pengasuh Bahtsul Masail ArrahmahMedia.Com yang terhormat. Di sepuluh akhir bulan Ramadhan ini banyak orang mengharapkan mendapatkan Lailatul Qadar. Biasanya mereka meningkatkan intensitas ibadah di sepuluh terakhir bulan Ramadhan dengan harapan mendapatkan Lailatul Qadar.

Ini Cara Mudah Dapatkan Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Mudah Dapatkan Lailatul Qadar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara Mudah Dapatkan Lailatul Qadar

Namun yang ingin kami tanyakan adalah amalan apa yang sekiranya dapat mempermudah atau mempercepat kita mendapatkan Lailatul Qadar. Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Wahyu/Bandung).

Jawaban

ArrahmahMedia.Com

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Dalam kesempatan ini kami akan menjawab pertanyaan kedua saudara Wahyu dari Bandung mengenai kiat-kiat atau cara bagaimana bisa mendapatkan Lailatul Qadar.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dikatakan bahwa kita dianjurkan untuk mencari Lailatul Qadar pada malam ganjil dalam sepuluh terakhir bulan Ramadhan.

ArrahmahMedia.Com

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil dalam sepuluh terakhir di bulan Ramadhan,” (HR Bukhari).

Untuk mendapatkan Lailatul Qadar memang tidak mudah. Karenanya tidak semua orang bisa mendapatkannya. Dibutuhkan usaha keras dan tidak kenal lelah untuk selalu meningkatkan intensitas ibadah terutama pada sepuluh akhir di bulan Ramadhan sebagaimana yang dipraktikan Rasulullah SAW. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan hadits riwayat Muslim.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dari Aswad dari Aisyah ra ia berkata bahwa Nabi saw meningkat amal-ibadah pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan melebihi di waktu yang lain,” (HR Muslim).

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Rasulullah SAW mengencangkan kain bawahnya, menghidupkan malamnya dan membangungnkan keluarganya.

? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?-?: ? ? ? ?- ? ? ? ? ? ? - ? ?

Artinya, “Dari Aisyah RA, ia berkata, bahwa Rasulullah SAW ketika masuk sepuluh terakhir bulan Ramadhan, mengencangkan kain bawahnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya,” (Muttafaq ‘alaih).

Lantas apa yang dimaksud dengan mengencangkan kain bawahnya dalam hadits di atas? Menurut Ibnu Baththal, maksudnya ialah Rasulullah SAW tidak menggauli istrinya. Sedangkan yang dimaksud dengan membangunkan keluarganya adalah beliau menganjurkan dan mendorong keluarganya untuk melakukan? mengingatkan keluarganya untuk melakukan amaliah sunah dan kebajikan lainya yang bukan fardhu.

? ? ? : ? : ( ? ? ) ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? : ( ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? .

Artinya, “Sufyan Ats-Tsauri berkata maksud ‘mengencangkan kain atasnya’ dalam hadits di atas adalah Rasulullah SAW tidak melakukan hubungan badan dengan istrinya. Sedangkan pernyataan ‘Beliau (Nabi saw) membangunkan keluarganya’ dapat dipahami bahwa suami dianjurkan mendorong keluarganya untuk mengerjakan amalan sunah dan amal kebajikan lainya selain yang wajib serta menekankan kepada mereka untuk melakukan hal tersebut,” (Lihat Ibnu Baththal, Syarhu Shahihil Bukhari, Riyadl-Maktabah Ar-Rusyd, cet ke-2, 1423 H/2003 M, juz IV, halaman 159).

Lantas bagaimana yang dimaksud dengan Rasulullah SAW menghidupkan malamnya? Apakah beribadah semalam suntuk sampai pagi? Jawaban yang tersedia adalah Rasulullah SAW tidak tidur tetapi disibukkan dengan ibadah pada sebagian besar malam, bukan semalam suntuk sampai pagi. Sebab, ada riwayat dari Aisyah RA yang menyatakan bahwa ia tidak pernah mengetahui Rasulullah SAW beribadah semalam penuh sampai pagi.

(? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(dan menghidupkan malamnya) maksudnya adalah Rasulullah SAW tidak tidur di mana tidur adalah saudara kematian, dan beribadah pada sebagian besar malam bukan seluruhnya sebab ada riwayat dari Aisyah ra yang menyatakan: ‘Aku tidak pernah mengetahui Rasulullah SAW melakukan ibadah satu malam penuh sampai pagi hari,’” (Lihat, Abdurrauf al-Munawi, Faidlul Qadir, Bairut-Darul Kutub al-Ilmiyyah, cet ke-1, 1415 H/1994 M, juz V, halaman 168).

Dengan mengacu kepada penjelasan di atas maka setidaknya ada tiga amaliah yang bisa dilakukan. Amaliah itu diharapkan dapat mempermudah kita untuk mendapatkan Lailatul Qadar, yaitu pada sepuluh akhir Ramadhan pertama, untuk sementara tidak melakukan hubungan suami-istri. Kedua, meningkatkan intensitas beribadah terutama pada malam hari. Ketiga, mendorong atau meminta keluarga untuk melakukan amaliah sunah dan amal kebajikan selain yang fardhu.

Bagi para pembaca, tingkatkan ibadah serta kebajikan, lebih-lebih pada sepuluh akhir pada bulan Ramadhan.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pondok Pesantren, Nahdlatul Ulama, AlaNu ArrahmahMedia.Com

Senin, 22 Januari 2018

Radio Berideologi Aswaja di Jateng Sepakat Bentuk Wadah Gerakan

Semarang, ArrahmahMedia.Com. Pengurus radio swasta maupun komunitas yang selama ini sudah eksis menyapa pendengar di wilayah Jawa Tengah, berkumpul di Radio Fast FM Magelang Ahad (30/11). Mereka membahas berbagai hal termasuk menjajaki kemungkinan untuk membentuk wadah sebagai ajang komunikasi dan silaturahmi.

Radio Berideologi Aswaja di Jateng Sepakat Bentuk Wadah Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Radio Berideologi Aswaja di Jateng Sepakat Bentuk Wadah Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Radio Berideologi Aswaja di Jateng Sepakat Bentuk Wadah Gerakan

Pertemuan yang diprakarsai PWNU Jawa Tengah disambut sangat antusias oleh media radio maupun televisi yang selama ini telah eksis bersiaran secara santun beraqidah aswaja. Sedikitnya 34 pimpinan radio dari 37 undangan, hadir dalam pertemuan ini.

Sekretaris PWNU Jawa Tengah H Arja Imroni menyambut gembira atas kerelaan insan media radio dan televisi yang selama ini membantu NU menyiarkan ajaran aswaja. Karena, hingga kini PWNU Jawa Tengah belum mampu mendirikan media siaran radio maupun televisi seperti di NU Jawa Timur.

ArrahmahMedia.Com

"Mewakili jajaran PWNU Jawa Tengah, saya menyambut gembira dan ucapan terima kasih kepada insan radio yang dengan secara tulus membantu menyiarkan ajaran aswaja," ucap Arja yang juga pengajar UIN Walisongo Semarang.

ArrahmahMedia.Com

Mantan Anggota Komisioner KPID Jawa Tengah H Najahan Musyafa yang juga Wakil Ketua PWNU Jawa Tengah mencatat, hingga hari ini tidak kurang dari 37 radio yang terdiri dari 27 radio swasta dan 10 radio komunitas aktif bersiaran menyapa masyarakat Jawa Tengah.

Potensi besar ini, menurut Najahan, sudah seharusnya berhimpun dalam satu wadah untuk saling bersinergi baik dalam program, iklan, dan Sumber Daya Manusia (SDM).?

Pertemuan ini kemudian menyepakati sejumlah poin antara lain menyetujui pembentukan wadah jaringan radio aswaja, menugaskan tim formatur untuk menyusun pengurus dan membuat program. Mereka juga akan mengadakan pertemuan rutin di tempat masing-masing secara bergantian untuk saling mengenal radio anggota.

Hadir dalam pertemuan perdana Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah H Dian Nafi yang juga pemilik Radio Gesma FM Solo, pendiri radio Soutunna FM Purworejo KH Khalwani Nawawi, pemilik radio Fastabiq (Fast FM) Magelang KH Yusuf Chudlori dan anggota komisioner KPID Jawa Tengah Tazkiyatul Mutmainnah. (Abdul Muiz/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nahdlatul Ulama, Pahlawan, Khutbah ArrahmahMedia.Com

Senin, 25 Desember 2017

Revolusi Mental, Khayalan atau Pelaksanaan?

Oleh Gatot Arifianto



Apalagi

Yang bisa kita lakukan

Revolusi Mental, Khayalan atau Pelaksanaan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Revolusi Mental, Khayalan atau Pelaksanaan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Revolusi Mental, Khayalan atau Pelaksanaan?

Bila kata kehilangan makna

Kehidupan kehilangan sukma

Manusia kehilangan kemanusiaannya

ArrahmahMedia.Com

Agama kehilangan Tuhannya



(Penggalan sajak KH A Mustofa Bisri atau Gus Mus, "Jadi Apa Lagi?")

ArrahmahMedia.Com

Hasil-hasil survei internasional sering menunjukkan bahwa dalam hal baik, angka untuk Indonesia cenderung rendah, tetapi dalam hal buruk cenderung tinggi. Hingga saat ini, Indonesia masih mempunyai sejumlah permasalahan perlu dirampungkan. Hal tersebut barangkali tapi pasti, melatarbelakangi adanya gagasan Revolusi Mental. Namun bagaimana mewujudkannya dan siapa terlibat? Ataukah hanya sebatas khayalan politik, yang artinya, kurang lebih akan bernasib sebagaimana mimpi yang tak mampu melepaskan diri dari ilusi?

Berawal dari pemilihan calon presiden RI ke-7, Revolusi Mental mengemuka. Calon presiden nomor urut 2, Joko Widodo didampingi calon Wakil Presiden Jusuf Kalla bertekad mengangkat kembali karakter bangsa yang telah mengalami kemerosotan dengan secepat-cepatnya dan bersama-sama (revolusioner). Gayung bersambut, tak hanya politisi, artis, seniman hingga masyarakat menyambut antusias.

Dengan dua padanan kata itu, ada harapan tercipta perubahan bagi Indonesia yang berdasarkan data Tranparency International menunjukkan persepsi tentang tingkat korupsi di sektor publik, dari 177 negara dan dengan 177 skor, berada di rangking 114 dengan skor 32. Dan pada 2008 dicatat dalam Guinness Book sebagai negara dengan tingkat kehancuran hutan tercepat di antara negara-negara yang memiliki 90 persen dari sisa hutan di dunia atau menghancurkan luas hutan setara dengan 300 lapangan sepakbola setiap jamnya.

Begitu pula dengan persoalan lain meski dirampungkan Indonesia, seperti kemiskinan, pengelolaan sumber daya belum optimal, lemahnya penegakan hukum, kesenjangan sosial, peringkat dua penyumbang sampah plastik di laut, keamanan, perilaku konsumstif, hubungan eksploitatif antara kapitalis dan buruh, hingga maraknya peredaran narkoba.

Revolusi Mental Versus Pembiaran



Perjuangan, ujar W.S Rendra, adalah pelaksanaan kata-kata. Terpilih sebagai pemimpin bangsa, Presiden Joko Widodo harus mampu mengajak, menyemangati dan meyakinkan masyarakat Indonesia merealisasikan Revolusi Mental yang berkemungkinan mewujudkan harapan Presiden Sukarno: "Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita", yang menjelang 71 tahun Indonesia merdeka, masih jauh panggang dari api.



Jika Revolusi Mental adalah pola baju, seserius apa upaya ditempuh untuk mewujudkannya menjadi pakaian siap dikenakan? Ada kecemasan Revolusi Mental tidak terealisasikan dengan baik. Ini bukan persoalan pesimis. Namun bagaimana kebijakan tegas diambil untuk menerjemahkannya! Sehingga Revolusi Mental bisa pula merealisasikan konsep tiga kekuatan yang berfungsi sebagai kesaktian bangsa atau Tri Sakti, yakni "berdaulat dalam politik", "berdikari dalam ekonomi" dan "berkepribadian dalam kebudayaan".

Adakah jalan menuju "nation building" dan "character building" yang menurut Putra Sang Fajar harus diteruskan sehebat-hebatnya demi menunjang kedaulatan politik Indonesia sudah dibangun? Dengan apa? Pendidikan yang salah kaprah dipandang sebagai tugas guru dan sekolah semata? Kebijakan tegas dan jalan mewujudkan cita-cita mulia tersebut sepertinya masih remang. Yang tampak jelas justru ketidakmungkinan terjadinya Revolusi Mental melalui pembiaran banyaknya tontonan sekaligus tuntunan murahan di televisi-televisi yang meragukan mampu membangun kreativitas dan karakter anak-anak bangsa.

Mungkinkah generasi yang melulu dijejali fiksi tanpa visi, mengabaikan "character building" akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang mampu menjawab beragam persoalan bangsa dan tantangan zaman yang akan semakin besar? Mungkinkah 1.000 guru melahirkan 1.000 murid bagus jika pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa sekolah kita kalah "memikat" dengan "guru-guru elektronik" yang rajin menjejali murid-murid di luar jam belajar dengan fiksi sampah? Adakah industri televisi yang tidak bervisi untuk kemajuan bangsa yang mengutamakan suplemen kapitalisme (iklan) mampu menopang tercapainya Revolusi Mental di negeri dengan jumlah pengguna narkoba mencapai 5,9 juta orang (BNN, November 2015)?

Kondisi lama itu kini ditambah lagi dengan masifnya generasi muda menjauh dari persoalan terjadi pada bangsa Indonesia. Persoalan ketahanan pangan seolah hanya tanggung jawab petani tanpa upaya tegas menyiapkan regenerasi. Generasi bangsa Indonesia hari ini lebih akrab dengan fantasi daripada sawah adalah fakta tidak dipungkiri. Mereka lebih karib dengan games, dan terkini, keranjingan berburu monster virtual.

Mengapa mereka rela menghabiskan waktu yang belum teruji bisa menempa mereka menjadi individu berkarakter sebagaimana Sukarno, Hatta, Habibi, Gus Dur atau Mbah Sadiman yang seorang diri menghijaukan 100 hektar lahan hutan Bukit Gendol dan Bukit Ampyangan sisi tenggara lereng Gunung Lawu? Mengapa pula generasi-masyarakat Republik Indonesia yang memiliki 28,59 juta penduduk miskin (BPS, Maret 2015) dengan ikhlas justru gotong-royong menyetorkan uang untuk asing? Kenapa demikian? Barangkali ada kejenuhan massal atas beragam persoalan bangsa tak kunjung rampung.

Merujuk fakta di atas, pemerintah harus bergegas menjawab persoalan itu mengingat bukan sesuatu yang remeh bagi keberlangsungan suatu bangsa di masa mendatang. 321.752 kasus kekerasan terhadap perempuan atau sekitar 881 kasus setiap hari (Komnas Perempuan, 2015) hingga riset sebanyak 68 persen siswa SD sudah pernah ikut-ikutan mengakses situs porno adalah persolan nyata dan membutuhkan penanganan serius.

Apakah pembiaran berlangsungnya hal-hal yang berlawanan dengan pembangunan karakter mampu menopang cita-cita diharapkan? Bukankah itu merupakan kemustahilan mewujudkan harapan dan gagasan baik tengah diupayakan? Apa yang akan terjadi seumpama finasial, waktu dan energi generasi bangsa tersebut dihimpun? Bukankah akan lebih bermakna dan menjadi potensi besar untuk mendukung tercapainya pembangunan nasional?

Implementasi Tepat Wujudkan Revolusi Mental



Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata "revolusi" mengacu pada kata "perubahan" yang berakar kata "ubah". Salah satu syarat mewujudkan perubahan adalah menggambarkan keuntungan masyarakat pada masa yang akan datang supaya tercapainya taraf kehidupan lebih baik. Sesuatu yang secara konsep pada mulanya diterima akal sehat. Adapun kata mental berasal dari bahasa Latin, mens atau metis yang memiliki arti jiwa, nyawa, sukma, roh, semangat. Singkatnya, mental ialah hal-hal yang berkaitan dengan psycho atau kejiwaan yang dapat mempengaruhi perilaku individu. Mental individu yang positif, tentu akan menopang terjadinya perubahan dibutuhkan masyarakat bangsa dengan baik sebagaiamana semangat Revolusi Mental. Sebaliknya?

Amerika Serikat membangun karakter masyarakatnya menggunakan waktu dengan baik, bertahap, sederhana, tapi serius dan realistis. Salah satu melalui tontonan-tuntunan (industri perfilman) yang selalu menyatakan mereka bangsa unggul, bangsa pemenang, bukan bangsa pecundang. Bukankah pertempuran Fire Base Ripcord sejatinya dimenangkan Vietnam? Namun dengan memproduksi puluhan film-film bertemakan perang Vietnam. Dari layar lebar seperti film Rambo hingga film seri "Tour of Duty", mereka mengubah fakta menjadi fiksi yang memotivasi dan menghipnotis psikologi-"mind set" masyarakatnya dengan menyatakan diri menang melawan gerilyawan Vietnam. Dalam konteks kreatif dan fiksi, hal itu bukan sesuatu yang salah karena memang bukan fakta. Dan dari upaya-upaya itu, jelas ada dampak maslahat hendak dicapai Amerika di masa mendatang.

Bagi Amerika, kreativitas tersebut adalah kesadaran pentingnya pembangunan karakter masyarakat bangsa sebagai investasi jangka panjang yang tidak mungkin selesai seperti membuat mie instans. Suatu upaya yang diam-diam mengingatkan dua hal. Pertama pemikiran Mohammad Hatta: Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekadar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Kedua QS. Ar-Raad : 11, "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri".

So, jika 90 persen produk industri televisi kita berikut pemerintah abai terhadap kemajuan bangsa melalui pembangunan karakter generasinya. Jika pemerintah tidak memiliki kebijakan tegas untuk membangun karakter generasi bangsa, barangkali tapi pasti, kita diam-diam sepakat merayakan dengan bangga kemunduran suatu bangsa.

Jalan raya panjang memang mustahil dirampungkan seorang pekerja. Tapi ribuan pekerja hanya akan menghasilkan jalan raya dengan kualitas buruk tanpa mengindahkan kesepakatan hingga tidak adanya kontrol serius, baik dan tegas dari pemimpin di lapangan. Untuk terwujud, harapan dan optimisme perlu implementasi tepat! Revolusi Mental tidak boleh kehilangan makna oleh tontonan-tuntunan murahan dan gempuran permainan asing yang mempunyai tingkat bahaya sebagaimana narkoba. Atau memang sebagai bangsa dengan penduduk Islam mayoritas di dunia, kita keberatan memahami Al-Ashr dan Ar-Raad:11? Jika demikian, mari sederhanakan, minum kopi, teh atau wedang jahe sembari membaca sajak Sebatang Lisong yang ditulis W.S Rendra 17 Agustus 1977.

Penulis adalah Nahdliyin, bergiat di Ansor, Pergunu, Lesbumi, Sarbumusi, Gusdurian, AJI dan SIEJ. Tinggal di Lampung. Twitter @sineasastra; Facebook BPUN Waykanan.Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaNu, Nahdlatul Ulama, Daerah ArrahmahMedia.Com

Rabu, 20 Desember 2017

PPP Pecat Zarkasih Nur, Suryadharma Ali, dan Andi Ghalib

Jakarta, ArrahmahMedia.Com
Pengurus Harian Pusat DPP PPP berencana memecat atau memberhentikan sejumlah anggota PHP DPP PPP seperti Zarkasih Nur, Suryadharma Ali, Andi Ghalib, Lukman Hakim Saefuddin, dan Emron Pangkapi karena terlibat penyelenggaraan Silaturahmi Nasional (Silatnas) Kader PPP.

"Iya, rencananya begitu, dalam satu minggu ini akan ada keputusan resmi," kata Ketua Bidang Organisasi PHP DPP PPP Djuhad Mahja ketika dihubungi di Jakarta, Rabu.

Djuhad membenarkan bahwa rencana itu diambil setelah ada pertemuan bersama Ketua Umum PHP DPP PPP Hamzah Haz, wakil ketua umum Alimarwan Hanan, sekretaris umum Yunus Yosfiah, ketua bidang organisasi Djuhad Mahja, dan sekretaris bidang organisasi Rahman Syagaff di kantor DPP PPP Jalan Diponegoro 60 Jakarta Pusat, Selasa sore.

Djuhad mengatakan bahwa rencana itu akan dibahas dalam rapat pleno PHP DPP PPP untuk diambil keputusan resmi. Ia mengingatkan bahwa sebelumnya PHP DPP PPP memang akan memberikan sanksi kepada anggota PHP DPP PPP yang tetap menyelenggarakan Silatnas PPP di Jakarta 25-27 Februari lalu, karena mereka telah diingatkan untuk menghentikan atau tidak terlibat dalam penyelenggaraan Silatnas PPP. Namun, mereka yang terancam dipecat itu tetap menyelenggarakan Silatnas.

Zarkasih, Suryadharma Ali, Andi Ghalib, dan Lukman Hakim Saefuddin menduduki jabatan di jajaran Ketua PHP DPP PPP, sedangkan Emron menjabat Wakil Sekretaris.

PHP DPP PPP telah mengeluarkan edaran yang diambil dari hasil rapat pleno PHP DPP PPP bahwa Silatnas PPP tidak murni sebagai forum silaturahmi karena mempunyai agenda tersembunyi untuk menyelenggarakan muktamar.

Silatnas PPP yang juga diselenggarakan Mensos Bachtiar Chamsyah selaku Ketua Umum Parmusi (Persaudaraan Muslimin Indonesia), dan sejumlah sesepuh PPP seperti Buya Ismail Hasan Metareum, Aisyah Aminy, Barlianta Harahap, dan Tosari Wijaya, itu menghasilkan kesepakatan bersama antara lain minta kepada DPP PPP untuk mempercepat muktamar pada tahun 2005 ini, bukan 2007.

Dalam forum yang dihadiri sekitar 700 kader PPP di tingkat pusat dan daerah itu juga berkembang desakan agar Hamzah Haz mengundurkan diri dari jabatannya dan menyerahkan estafet kepemimpinan kepada generasi yang lebih muda.(ant/mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Khutbah, Nahdlatul Ulama, Pemurnian Aqidah ArrahmahMedia.Com

PPP Pecat Zarkasih Nur, Suryadharma Ali, dan Andi Ghalib (Sumber Gambar : Nu Online)
PPP Pecat Zarkasih Nur, Suryadharma Ali, dan Andi Ghalib (Sumber Gambar : Nu Online)

PPP Pecat Zarkasih Nur, Suryadharma Ali, dan Andi Ghalib

Selasa, 19 Desember 2017

Hidupkan Sejarah, Pagar Nusa Berlatih di Pesantren Sumber Anom

Pamekasan, ArrahmahMedia.Com - Pesantren Sumber Anom, Palengaan, Pamekasan sejauh ini dikenal sebagai pesantren yang meneguhkan diri berhaluan paham Ahlus Sunnah Waljamaah. Banyak santri yang kemudian tercetak aktif di struktural NU.

Untuk menguatkan sejarah pesantren berhaluan dengan NU, Pesantren Sumber Anom terbuka atas kehadiran Pencak Silat Pagar Nusa PCNU Pamekasan. Ahad (30/7) pagi, di pesantren tersebut dibentuk Rayon Pagar Nusa.

Hidupkan Sejarah, Pagar Nusa Berlatih di Pesantren Sumber Anom (Sumber Gambar : Nu Online)
Hidupkan Sejarah, Pagar Nusa Berlatih di Pesantren Sumber Anom (Sumber Gambar : Nu Online)

Hidupkan Sejarah, Pagar Nusa Berlatih di Pesantren Sumber Anom

"Alhamdulillah sudah terbentuk Rayon Pesantren Sumber Anom. Hari ini latihan perdana," tegas Ketua Pagar Nusa Pamekasan Salman Al-Farizi.

Diharapkan, dari pesantren tersebut nanti lahir pendekar-pendekar yang selalu setia pada kiai dan menjadi tembok pertahanan NKRI. Karena bagi pesantren dan NU, NKRI yang bernafaskan sudah final.

ArrahmahMedia.Com

"Kita terus sasar pesantren-pesantren untuk mencetak santri yang pendekar. Kami insya Allah selalu siap menghadirkan pelatih langsung dari kepengurusan Pagar Nusa PCNU Pamekasan," tukasnya. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Nahdlatul Ulama, Sejarah, Daerah ArrahmahMedia.Com

Kamis, 14 Desember 2017

PMII Unswagati Cirebon Gencar Kaderisasi

Cirebon, ArrahmahMedia.Com. Salah satu program Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon adalah gencar melakukan kaderisasi di antaranya melalui Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA).

Untuk itu, PK PMII Unswagati Cirebon mengadakan Mapaba pada Sabtu – Ahad (20-21/12) di Jepun Bistro Jl. Cipto Mangunkusumo, Kota Cirebon. Kegiatan tersebut diikuti oleh 20 peserta yang berasal dari berbagai fakultas, seperti fakultas Hukum, FKIP, dan Fakultas Kedokteran Unswagati yang rata-rata semester 1 dan 3.

PMII Unswagati Cirebon Gencar Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Unswagati Cirebon Gencar Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Unswagati Cirebon Gencar Kaderisasi

Menurut Nanang Fauzi, salah satu panitia Mapaba, Mapaba merupakan pengenalan sekaligus pelatihan pengkaderan awal di PMII. Ditambahkannya Mapaba adalah pelatihan yang menekankan pada doktrinasi, motivasi pengembangan diri dan rasa memiliki organisasi.

ArrahmahMedia.Com

“Melalui kegiatan ini, peserta Mapaba PMII dituntut untuk berkomitmen dan bertanggung jawab terhadap organisasi yaitu PMII,” terangnya

Hal serupa disampaikan Ketua PK PMII Unswagati Cirebon, Faiz Habibi yang menjelaskan para peserta Mapaba dilatih untuk memiliki pengetahuan dasar ke-PMII-an dan sikap loyalitas yang tinggi terhadap organisasi.

ArrahmahMedia.Com

“Dengan pembekalan materi-materi Mapaba seperti Aswaja, NDP, Paradigma PMII, Sejarah PMII, Antropologi kampus dan Keperempuanan/Gender diharapkan peserta Mapaba menjadi anggota PMII yang berideologi dan loyal terhadap organisasi,” ungkap Faiz.

Hal senada disampaikan Ketua PC PMII Cirebon, M. Yazidul Ulum, Unswagati merupakan kampus umum di Cirebon sehingga harus selalu melakukan kerja-kerja kaderisasi. “PK PMII Unswagati merupakan komisariat kampus umum sehingga penguatan kaderisasi harus lebih massif lagi. Mapaba minimal 2 bulan sekali,” tandas Yazid. (Ayub Al Ansori/Abdullah)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nahdlatul Ulama, RMI NU ArrahmahMedia.Com

Rabu, 13 Desember 2017

Gema Shalawat Hidupkan Kembali IPNU-IPPNU di Lereng Rahtawu

Kudus, ArrahmahMedia.Com. Sudah menjadi kesepakatan para pelajar Nahdlatu Ulama (NU) kecamatan Gebog bahwa setiap malam purnama adalah ajang silaturrahim sekaligus menggemakan shalawat nabi. Agenda yang terangkum dalam acara “Padang Bulan” ini telah genap mencapai putaran kesepuluh.

Gema Shalawat Hidupkan Kembali IPNU-IPPNU di Lereng Rahtawu (Sumber Gambar : Nu Online)
Gema Shalawat Hidupkan Kembali IPNU-IPPNU di Lereng Rahtawu (Sumber Gambar : Nu Online)

Gema Shalawat Hidupkan Kembali IPNU-IPPNU di Lereng Rahtawu

Kali ini Padang Bulan diadakan di Masjid Baitul Hidayah Dukuh Krajan Desa Menawan Rabu (4/2) malam, dan berlangsung meriah dengan kehadiran lebih dari 200 pelajar dari berbagai desa sekecamatan Gebog, Kudus, Jawa Tengah.

Agenda rutin Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) bersama Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) ini mengambil tema simpel, “Menawan Bershalawat”, sebagai tanda sekaligus harapan agar masyarakat Desa Menawan dapat kembali aktif menggeluti ke-NU-an, terutama kalangan pemudanya.

ArrahmahMedia.Com

Pasalnya, organisasi IPNU-IPPNU di desa yang berada di lereng Rahtawu itu baru saja merangkak kembali pasca mandek beberapa periode sebelumnya. Kerja sama PAC bersama Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU yang juga melibatkan kehadiran para sepuh NU setempat malam tadi diharapkan dapat memperkokoh semangat dan perjuangan.

Antusiasme masyarakat terbukti dengan penuhnya masjid sejak sehabis Maghrib. Masyarakat umum, pengurus Banom NU, hingga pihak pemerintah desa pun, hadir dalam majelis ini.

ArrahmahMedia.Com

“Antusias teman-teman Menawan semalam luar biasa. Sejak ba’da Maghrib mesjid sudah dipenuhi banyak anggota dan warga sekitar. Kami tidak menyana ternyata bisa sesemangat ini. Mungkin ini karena setelah sekian lama kegiatan IPNU-IPPNU redup di masyarakat,” papar Firi Amelia Rosmaya Mahmudah, Sekretaris PAC IPPNU Kecamatan Gebog.

Ia mengatakan, dukungan luar biasa juga pihaknya peroleh dari pengurus ranting NU dan badan otonomnya, bahkan pihak pemerintah desa.  Menurut Amelia, suksesi Padang Bulan bertajuk “Menawan Bershalawat” ini digadang sebagai awal dari bersinarnya kembali organisasi IPNU-IPPNU ranting Menawan.

“Terimakasih kepada PAC Kecamatan Gebog, Rekan dan Rekanita dari ranting lain, juga para pengurus Pimpinan Cabang Kudus yang tiba-tiba menyempatkan diri khusus untuk ikut serta hadir dalam acara. Desa Menawan, ranting dengan pemimpin serta kepengurusan baru, diharapkan dapat membawa semangat dan perubahan yang baru juga,” tutur Amelia dengan optimis penuh harap.(Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Makam, Ahlussunnah, Nahdlatul Ulama ArrahmahMedia.Com

Selasa, 05 Desember 2017

GP Ansor dan Etos Penataan Ekonomi Umat

Oleh Imam Hambali

Sudah berpuluh-puluh tahun Gerakan Pemuda Ansor menasarufkan jiwa dan raganya untuk kemajuan bangsa dan negara ini. Namun, rasanya ritme gerakan ini seperti mendapat banyak cobaan dan ujian. Euforia mempertahankan keutuhan bangsa ini dirasa membuat larut dan membuat lupa sehingga tidak sempat memikirkan kemajuan organisasinya sendiri. Meskipun, secara ideal semua tugas harus dijalankan dengan baik dan efektif.

GP Ansor dan Etos Penataan Ekonomi Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor dan Etos Penataan Ekonomi Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor dan Etos Penataan Ekonomi Umat

Ada dua masalah besar yang saat ini perlu dipikirkan bersama secara organisatoris supaya pemuda Nahdlatul Ulama ini tidak keropos dari dalam. Pertama, persoalan kaderisasi. Saat ini Ansor memang memiliki jutaan anggota dari tingkatan pusat hingga tingkatan ranting yang didominasi oleh pemuda-pemuda desa. Namun pertanyaan besarnya: apakah mereka mengerti nawacita perjuangan Ansor? Apakah mereka tahu apa yang menjadi tantangan Ansor? Saya yakin lebih dari setengahnya hanya pasukan penggembira yang puas di tataran ikut menjalankan amaliah yang sudah terbangun selama ini.

Tidak mudah memang memberikan pemahaman menyeluruh kepada semua anggota, apalagi untuk dipaksa paham dengan gerakan yang dilakukan Ansor. Terlebih dinamika yang terjadi akhir-akhir ini justru seringkali membuat kita melahirkan berbagai penyikapan atas peliknya persoalan bangsa dan perpolitikan indonesia yang terjadi. Terjadi kontroversi jelas. Contohnya, kasus “penistaan agama oleh Ahok”, kasus tuduhan kebohongan kepada Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, deklarasi khilafah, bahtsul masa’il kiai muda, dan lain sebagainya.

ArrahmahMedia.Com

Kontroversi atas penyikapan tersebut justru menjadi bumerang bagi internal Ansor sendiri, karena berbagai pendapat tentang pro dan kontra penyikapan malah melahirkan ketidakpercayaan pada pimpinan. Bayangkan, mayoritas kader yang mapan secara ideologi saja bisa terjadi ketidaksepahaman, apalagi yang sama sekali tidak pernah mendapatkan bekal dalam forum-forum ideologisasi. Lagi-lagi ini persoalan pengaderan.

ArrahmahMedia.Com

Hal ini harus disikapi serius untuk semua pimpinan Ansor di semua level, paling tidak harus mewajibkan semua pengurusnya untuk mengikuti Pelatihan Kader Dasar, Diklatsar, DKD, DTD ataupun jenjang pengaderan dasar lainnya. Sebab dari sinilah semangat harakah perjuangan terlahirkan. Kalau saja ada kader yang aktif namun belum mapan secara ideologi maka kemungkinan besar akan kehilangan ruh perjuangan karena tidak tahu dimana posisi Ansor dan siapa lawan dan nilai yang diperjuangkan.

Kedua, Masalah perekonomian. Dari dulu sektor ini memang menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi para pengurus Ansor, meskipun sudah diwajibkan semua level kepengurusan harus memiliki amal usaha untuk menopang kemandirian organisasi, namun karena berbagai keterbatasan dan wawasan terkadang hal ini hanya berhenti di tataran wacana.

Sebab, kalau wadah perjuangan belum mandiri secara organisasi maka untuk sekedar melaksanakan kegiatan saja kita akan terus meminta dan mengemis dari orang lain. Iya, kalau yang dimintai orang NU sendiri, la kalau sudah orang diluar NU yang ingin mendekte, atau yang memiliki hasrat politik yang tinggi dan berorientasi kekuasaan. Apa hal ini tidak justru membuat Ansor kerdil dan tidak bermartabat lagi.

Bayangkan, jika setiap level kepengurusan minimal sampai level Pengurus Anak Cabang (PAC) sudah tertata ekonominya, upaya untuk memaksimalkan pengaderan, dakwah dan amar makruf pun akan bisa lebih fokus dijalankan, sebab satu perrsoalan besarnya sudah teratasi.

Menyadarkan Pemerintah dan Swasta



Pemerintah yang sejatinya menjadi pihak yang berwenang mengelola dan mengatur kebijakan harus dipahamkan secara historis tentang perjuangan bangsa sebelum kemerdekaan, berapa ratus ribu santri yang rela melawan pasukan penjajah dengan senjata lengkap, siapa pemudanya. Harusnya mereka tahu bahwa Ansor dan kaum Nahdliyin punya andil besar dalam upaya merebut kemerdekaan dari penjajahan asing. Mereka pun juga harus mengetahui jika pada tahun 1965 negara berada dalam ancaman gerakan PKI, banyak ulama hilang, banyak tentara dibunuh. Siapa yang paling depan berteriak dan melakukan perlawanan? Ansor!

Apakah hal ini kurang cukup untuk membuat mata kita terbuka atas andil yang dilakukan pemuda Nahdliyin kala itu, apalagi yang kurang. Satu lagi, saat sebagian golongan berupaya membuat gerakan protes yang melahirkan upaya makar kekuasaan, kami Ansor lebih memilih untuk menyikapi secara dingin, justru kita bersepakat untuk berikrar di seluruh penjuru daerah untuk menyatakan secara jiwa dan raga siap untuk bela negara.

Bukan ingin pamrih atau apapun, tapi mestinya pemerintah harus memikirkan organisasi perjuangan yang punya tekad kuat untuk membela keutuhan bangsa dan negara, terlebih yang fokus untuk menjaga kedaulatan pancasila. Artinya, pemerintah harus membuat program tentang ekonomi berbasis kepemudaan yang menjangkau ranah organisasi seperti halnya mempermudah perijinan usaha dibidang tertentu, atau ada program stimulan untuk BMT seluruh penjuru, atau mungkin bermufakat untuk membuat undang-undang yang mengamanatkan pemerintah daerah untuk membantu mewujudkan kemandirian organisasi kepemudaan. Paling tidak, ada upaya yang dilakukan pemerintah untuk memperhatikan komponen-komponen organisasi perjuangan di tanah air.

Dari sisi swasta pun harus disadarkan atas kondisi ini, kalau bisa ada mandat terpusat dari pemerintah yang mewajibkan swasta untuk memaksimalkan pada sendi perekonomian yang ada dalam organisasi kepemudaan di wilayahnya beroperasi. Saya yakin, melalui Corporate Social Responsibility (CSR) atau dengan cara yang lainya yang diatur sedemikian rupa akan dapat meningkatkan pembangunan ekonomi kepemudaan secara masif. Kalau masih ada yang tanya kenapa pemuda, ya jelas dalilnya, maju tidaknya sebuah negara tergantung dari pemudanya. Semakin banyak pemuda yang mandiri maka akan semakin kuat sebuah bangsa. Hal ini selaras dengan pernyataan, kuatnya organisasi Ansor menunjukkan sebarapa kuat indonesia dimata dunia.



Mengonsolidasi Alumni


Selain kewajiban pemerintah, alumni sebagai senior perjuangan juga harus berfikit tentang keberlanjutan gerakan Ansor agar segala yang diperjuangkan di masanya tidak hilang begitu saja. Terlebih di semua organisasi pengaderan mengalami kesulitan dalam mentransisikan perjuangan dari periode sebelumnya ke periode berikutnya. Sehingga tak ayal apa yang diperjuangkan dengan kucuran keringat hilang dalam hitungan detik karena dikelola oleh orang yang berbeda dan tidak menguasainya.

Inilah salah satu tugas alumni, yakni menjadi kontrol bagi penerusnya dan mengambil peran perjuangan dengan melakukan dukungan baik materiil maupunn gagasan-gagasan. Secara kongkretnya, alumni bisa menginisiasi lahinrya usaha perekonomian di Ansor dan bisa masuk didalamnya sebagai penyeimbang, telebih bisa melakukan investasi demi kejayaan ekonomi organisasi. Kalau semua alumni melakukan gerakan dan peran terukur maka Ansor sekarang dan yang akan datang sudah tidak bicara kesulitan ekonomi atau kebingungan untuk menopang kegiatan namun bisa lebih fokus untuk urusan strategi perjuangan dan pemberdayaan pemuda demi tercapainya nawacita GP Ansor dan Nahdlatul Ulama khususnya.

Penulis adalah Ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan GAYAM Kabupaten Bojonegoro-Jawa Timur

?



Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nahdlatul Ulama ArrahmahMedia.Com

Selasa, 21 November 2017

Pentingnya Manajemen Perawatan Kader

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Nahdlatul Ulama memiliki banyak badan otonom yang menjadi lahan bagi pengkaderan. Tingkatan paling dasar pengkaderan berada ditangan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU).

Terdapat empat penjenjangan dalam pengkaderan di IPNU atau IPPNU untuk menghasilkan seorang kader yang militan. Satu hal penting adalah pentingnya manajemen perawatan kader, yaitu merawat kader setelah melewati tahapan-tahapan pelatihan agar tidak ‘lari’ dan dapat terus berkembang.

Pentingnya Manajemen Perawatan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
Pentingnya Manajemen Perawatan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

Pentingnya Manajemen Perawatan Kader

Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum IPPNU Margareth Aliyatul Maemunah dalam diskusi Kamisan yang diselenggarakan di kantor redaksi ArrahmahMedia.Com, Kamis, 25 November.

ArrahmahMedia.Com

Empat penjenjangan pengkaderan yang harus dilalui adalah Masa Kesetiaan Anggota (Makesta), Latihan Kader Muda (Lakmud), Latihan Kader Utama (Lakut) dan Latihan kader Pelatih (Lakpel).

“Yang tidak kalah penting adalah manajemen perawatan kader, mereka mau diapakan setelah Makesta, karena itu saja tak cukup, mereka perlu dirawat dengan skill dan materi ke IPPNU-an atau ke-NU-an. Para seniornya perlu mengalokasikan waktu dan fokus untuk itu,” katanya.

ArrahmahMedia.Com

Margareth menuturkan, situasi pengkadern di tiap daerah tidak seragam, terutama antara di Jawa dan di luar Jawa, ada daerah yang hanya bisa menyelenggarakan pelatihan sampai Makesta saja, tetapi ada yang bisa sampai tidak Lakpel. Beberapa daerah yang sudah cukup bagus dalam pengkaderan diantaranya Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Untuk mengatasi kendala ini, IPPNU sekarang membentuk zona-zona, khususnya untuk pelatihan Lakpel yang dipusatkan di pulau-pulau besar seperti Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.

Ia menuturkan, kondisi Pengurus Wilayah IPPNU-nya dalam satu pulau besar diasumsikan tak jauh berbeda, untuk Sumatra, Propinsi Lampung sebagai wilayah yang sudah berkembang bisa membantu dan mendukung wilayah lain yang ada disekitarnya. Di Sulawesi, Sulawesi Selatan juga dapat memback up Sulawesi Utara atau Gorontalo

“Kita tak bisa menyamakan Jawa dengan Sumatra dan menggabungkannya menjadi satu karena situasinya berbeda, makanya kita bagi per zona agar hasilnya lebih maksimal,” paparnya.

Dalam waktu dekat ini, yang Pelatihan Kader Pelatih akan diselenggarakan di pulau Kalimantan dan berpusat di Kalimatan Barat, selanjutnya akan diteruskan ke Sulawesi.

Pada setiap zona, nantinya akan ada koordinator wilayah yang akan bertanggung jawab atas proses kaderisasi selanjutnya.

Ia berharap dalam setiap tahapan pengkaderan, para pengurus mampu secara kreatif membuat pengkaderan menarik bagi remaja putri sehingga banyak yang ikut IPPNU tetapi tetap dalam koridor panduan yang sudah dibuat dalam buku Panduan. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Bahtsul Masail, Ulama, Nahdlatul Ulama ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 18 November 2017

Perayaan Sekaten sebagai Syiar Islam

Yogyakarta, ArrahmahMedia.Com

Kegiatan seni budaya dan religi berupa Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) sampai sekarang masih dilestarikan, karena ada yang peduli terhadap nilai tradisi dan syiar Islam yang diwariskan Sunan Kalijaga ini.

Demikian disampaikan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutan tertulis yang dibacakan Asisten Sekda Bidang Pemerintahan Prof Dr Dahlan Taib ketika membuka PMPS tahun Ehe 1940 atau 2007 Masehi yang berlangsung di Alun-alun Utara Yogyakarta, Jumat (23/2) petang.

Perayaan Sekaten sebagai Syiar Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Perayaan Sekaten sebagai Syiar Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Perayaan Sekaten sebagai Syiar Islam

"Jika tidak ada kepedulian, mungkin tradisi budaya ini akan punah, seiring dengan berkembangnya masyarakat di era globalisasi," katanya.

ArrahmahMedia.Com

PMPS merupakan kegiatan tahunan yang bermula dari syiar agama Islam yang dilakukan Sunan Kalijaga melalui kegiatan seni budaya. Sekaten sendiri berasal dari kata "syahadatain" atau dua kalimat sahadat, yakni bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad utusan Allah.

Walikota Yogyakarta Herry Zudianto dalam sambutannya mengatakan PMPS merupakan even budaya yang lahir sejak awal penyebaran agama Islam pada masa Kasultanan Demak.

ArrahmahMedia.Com

"Sekaten yang pada awalnya merupakan media syiar agama Islam, kini berkembang mejadi media pemberdayaan berbagai potensi daerah," kata dia.

Ia mengatakan, seiring perkembangan zaman, keinginan untuk terus memberi ruang dakwah sekaligus melestarikan sejarah dan nilai luhur budaya bangsa, diwujudkan dalam penyelenggaraan PMPS ini.

"Penyelenggaraan PMPS tahun ini dititikberatkan untuk pemberdayaan berbagai potensi daerah agar tetap mencerminkan nilai religi dan budaya lokal yang adiluhung. Maka, apa yang ditampilkan dalam PMPS diupayakan semaksimal mungkin dapat mencerminkan identitas dan keragaman masyarakat Yogyakarta," katanya.

Sejalan dengan itu, kata dia, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) diberi ruang yang lebih leluasa di arena PMPS, dengan harapan potensi lokal dapat terakomodasi dengan baik.

"Dengan kemampuan optimalisasi kekuatan dan keunggulan oleh pelaku ekonomi PMPS ini, dapat dijadikan sarana promosi untuk menggeliatkan roda ekonomi kerakyatan. Dengan demikian, tradisi sekaten dapat menjadi lokomotif kerakyatan," kata Walikota Yogyakarta.

(sam/ant)Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nasional, Nahdlatul Ulama ArrahmahMedia.Com

Jumat, 17 November 2017

Karya Monumental Misbach Diabaikan

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Ketua Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU DKI Jakarta Misbach Yusa Biran, sangat berjasa bagi bangsa ini, kata sejarawan senior Taufik Abdullah selepas tahlilan ke-40 hari wafatnya Misbach di Taman Ismail Marzuki, beberapa hari lalu.Tahlilan ala NU itu diselenggarakan Akademi Jakarta, Dewan Kesenian Jakarta, Institut Kesenian Jakarta dan BP. Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, dan Pusat Dokumentasi HB Jassin. 

“Yang konkret saja, setidaknya ada tiga hal jasa Pak Misbach. Pertama, itu Sinematek. Itu luar biasa, yang pertama di Asia. Sinematek itu ibarat sebuah candi Borobudur. Itu jasa yang monumental!” tegasnya.  

Karya Monumental Misbach Diabaikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Karya Monumental Misbach Diabaikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Karya Monumental Misbach Diabaikan

Kedua, sambung mantan Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ini, Misbach turut memperkaya cerpen-cerpen Indonesia. Ia salah seorang cerpenis terbaik dengan humor yang tinggi. 

ArrahmahMedia.Com

“Ketiga, Misbach adalah sutradara dan penulis skenario yang baik, yang punya komitmen apa itu paling baik,” tambah Ketua Akademi Jakarta ini.   

ArrahmahMedia.Com

Senada dengan Taufik, pengamat politik dan kritikus film Salim Said yang juga hadir pada tahlilan itu menyatakan hal yang sama tentang Misbach. 

“Kalau tidak ada Pak Misbah, belum tentu Sinematek itu ada. Luar biasa, dari nol saya lihat. Saya saksikan sendiri. Saya orang pertama yang memanfaatkan Sinematek itu untuk menulis skripsi, tesis, tahun 76. Misbach juga termasuk orang yang memelopori penulisan sejarah film Indonesia,” jelasnya. 

Salim Said menyesalkan, pemerintah sekarang tidak memperhatikan jasa Misbach tersebut. Seperti diketahui, Sinematek yang menyimpan ribuan koleksi film Indonesia nyaris hancur karena kekurangan dana.

Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri juga hadir pada kesempatan itu. Ia berpendapat, bahwa rusaknya Sinematek mengisyaratkan bahwa pemerintah dan masyarakat masih menganggap bahawa kesenian masih dianggap nomor dua. 

Memang, sambung Sutardji, bangsa ini sering lupa terhadap warisan yang telah diberi warga negaranya, misalnya Chairil Anwar, Amir Hamzah, Sutan Takdir Ali Syahbana, Rendra.

“Mungkin prioritas kita sekarang ini terlalu ke sosial politik dan ekonomi. Sibuk ngomongin korupsi-korupsi. Itu benar, itu bagus. Tapi janga dilupakan prioritas untuk mengolah secara kreatif yang diberikan warga negara terhadap bangsanya. Memberantas korupsi oke. Menegakkan kultur juga harus! Jadi, seimbang.” 

Kalau tidak memperhatikan kebudayaan, sambung penulis syair O, Amuk Kapak ini, kita akan menjadi bangsa yang kosong. Akan tetapi, kita juga harus tepat dalam memperlakukan warisan budaya. 

“Bukan hanya mengelap-elap warisannya, tapi memelihara dalam arti kreatif, memperbanyak lagi, mencari inspirasi,” ujarnya. 

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nahdlatul Ulama ArrahmahMedia.Com

Selasa, 14 November 2017

Kiai Said Aqil dan Khofifah Hadiri Haul Ke-45 Mbah Wahab

Jombang, ArrahmahMedia.Com. Peringatan haul KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab) yang ke-45 akan dihadiri sejumlah tokoh penting. Diantaranya yang sudah dapat dipastikan oleh panitia adalah Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj dan Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa.

Kepastian ini disampaikan panitia haul, KH Iid Wahiduddin Najib. "Insyaallah, baik Kiai Said Aqil Siroj dan Ibu Khofifah Indar Parawansa hadir," katanya, Sabtu (13/8). Bahkan Mensos berkenan memberikan bingkisan secara simbolis sebelum memberikan mauidhah hasanah, lanjutnya.

Kiai Said Aqil dan Khofifah Hadiri Haul Ke-45 Mbah Wahab (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Aqil dan Khofifah Hadiri Haul Ke-45 Mbah Wahab (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said Aqil dan Khofifah Hadiri Haul Ke-45 Mbah Wahab

Disampikan Gus Iid, sapaan akrabnya, bahwa khusus pagi ini diselenggarakan sejumlah kegiatan. "Pertama adalah khatmil Quran di dalem kasepuhan," ungkapnya. Kemudian diserahkan juga bantuan paket sembako kepada ratusan usia lanjut pra sejahtera yang berada di sekitar Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas Jombang.

Sedangkan sore hari akan dilakukan tahlilan dan nyekar ke pesarean (Mbah Wahab) yang berada di utara PPBU. "Kegiatan ini diikuti para dzsurriyah atau keluarga Mbah Wahab serta sejumlah santri," kata Wakil Ketua 1 di Yayasan PPBU ini.

ArrahmahMedia.Com

Dan puncaknya adalah pengajian umum yang akan dilangsungkan di halaman pesantren setempat. "Sebelum Ibu Khofifah menyampaikan mauidhah, beliau akan menyerahkan secara simbolis bantuan paket sembako dan dilanjutkan juga dengan ceramah oleh Kiai Said Aqil Siroj," katanya.

Lebih detil, Gus Iid menyampaikan bahwa untuk tema haul kali ini adalah memperkokoh hubbul wathan minal iman. "Kami rasa, saat ini rasa nasionalisme harus terus dikukuhkan di hati sanubari warga bangsa," ungkapnya.

"Di tengah ancaman ideologi dan berbagai tantangan bagi sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, juga bermasyarakat, maka meneguhkan rasa cinta tanah air sangat mendesak untuk terus didengungkan," terangnya.

Dengan tema tersebut diharapkan para hadirin dan siapa saja yang mendengarkan penjelasan ceramah dari Khofifah Indar Parawansa dan KH Said Aqil Siroj akan semakin memiliki semangat patriotisme. "Ini penting bagi kelangsungan kehidupan berbangsa kita," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nahdlatul Ulama, Pemurnian Aqidah ArrahmahMedia.Com

Anggota Formatur Pembentukan Pengurus NU Pertama

Banyuwangi sebagai salah satu basis masyarakat santri di Tapal Kuda (pesisir timur pulau Jawa) menyimpan berbagai kisah heroik yang belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Dan sebagai daerah yang cukup jauh dari pusat kekuasaan, Banyuwangi menyimpan kharismanya sendiri. Banyuwangi merupakan salah satu daerah yang terkenal dengan kesaktian para kyainya. Salah satu di antara kyai-kyai sakti tersebut adalah KH Saleh Lateng, salah seorang pendekar sakti keturunan raja-raja Palembang Sumatera.

Sejarah Keluarga. Pada kisaran perempat perteama abad ke-19, Kerajaan Palembang Darussalam telah kehilangan kendali atas wilayahnya sendiri. Sultan Najamuddin dibuang oleh Belanda ke Banda Aceh dan pemerintahan palembang dikendalikan oleh seorang Residen Belanda. Banyak para bangsawan menyingkir keluar daerah, salah satunya adalah Kiagus Abdurrakhman, kakek Kyai Saleh Lateng. Kiagus Abdurrakhman ini kemudian menetap di Sumenep dan menikah dengan seorang perempuan setempat bernama Najihah. Pernikahan ini dikaruniai tiga orang anak. Namun hanya seorang yang kemudian meneruskan silsilah keturuanan, yakni Kiagus Abdul Hadi –ayahanda Kyai Saleh, yang kemudian pindah dan menetap di Banyuwangi.

Anggota Formatur Pembentukan Pengurus NU Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)
Anggota Formatur Pembentukan Pengurus NU Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)

Anggota Formatur Pembentukan Pengurus NU Pertama

Terlahir di Kampung Mandar Kota Banyuwangi pada hari Ahad, 6 Ramadhan 1278 H. bertepatan dengan 07 Maret 1862 M. dengan nama Kiagus Muhammad Saleh. Ibunya berasal dari Panderejo Banyuwangi bernama Aisyah. Nama Kyai Saleh ini yang terkenal selama hidup hingga sepeninggalnya. Meski setelah berhaji, namanya berganti menjadi H Muhammad Syamsuddin, namun dalam keseharian Beliau selalu menuliskan namanya dengan Saleh saja. Dengan demikian ia tetap dikenal oleh masyarakat sebagai Kyai Saleh saja.

ArrahmahMedia.Com

Banyuwangi pada masa kecil Kiagus Muhammad Saleh berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, baik dari sisi material maupun secara spiritual. Rakyat miskin akibat penjajahan dan suasana pertengkaran antar kelompok masyarakat menjadikan suasana semakin menakutkan. Gank-gank yang terbukti tidak berdaya melawan kekuatan asing, saling terlibat permusuhan dan pertikaian untuk menaikkan gengsi pribadi dan golongan. Belum lagi hasutan politik adu domba Belanda yang menjadikan kondisi ini terus berlarut-larut.

ArrahmahMedia.Com

Kendati terlahir di tengah kemerosotan moral masyarakat, namun masa kecil Kiagus Muhammad Saleh dilalui dengan cara-cara sangat islami. Sedari kecil Muhammad Saleh belajar mengaji kepada ibu dan bapaknya, serta lingkungan keluarganya. Pada usia remaja Saleh mulai belajar mengaji ke luar daerah. Pada usia 15 tahun, Saleh mondok di Kyai Mas Ahmad, Kebon Dalem, Surabaya. Tak lama kemudian, ia meneruskan pelajarannya ke Bangkalan Madura, kepada Kyai Kholil. Di Bangkalan ini, Saleh menjadi khodim (pelayan) Kyai Kholil. Termasuk bersedia menemani anak Kyai kholil, Hasan mencari uang, untuk keperluan berangkat Haji.

Selama di bangkalan ini pula Saleh belajar berbagai ilmu, termasuk ilmu-ilmu kesaktian yang kelak akan digunakan secara langsung untuk memperbaiki masyarakatnya. Selain di Bangkalan, Saleh juga meneruskan pencarian ilmunya hingga ke Bali, yakni kepada Tuan Guru Muhammad Said Jembrana, Bali.?

Selepas menuntut ilmu di Bali, Saleh bertekad meneruskan pelajarannya ke Tanah Suci. Saleh menghabiskan masa belajarnya di Mekkah selama enam tahun sebelum diminta pulang oleh gurunya, Kyai Kholil Bangkalan. Kala itu, selain belajar, Saleh juga telah mengembangkan ilmunya kepada para pelajar lainnya di sana. Saleh telah membuka pengajian di Mekkah dengan menggunakan empat bahasa. Namun Saleh meminta waktu satu tahun lagi untuk Belajar di sana. Permintaan ini pun diijinkan oleh gurunya tersebut.

Setahun kemudian, kira-kira tahun 1900 M. sekitar umur 38 tahun, Kiagus Saleh kembali ke kampung halamannya di Banyuwangi. Kiagus Saleh kemudian menetap di kampung Lateng Banyuwangi, dan selanjutnya terkenal sebagai Kyai Saleh Lateng. Kyai Saleh secara resmi mendapatkan ijin mengajar di langgarnya di Lateng dari Bupati Banyuwangi, Koesoemonegoro pada 4 Maret 1909 M. Dari sinilah Beliau mulai mengabdikan dirinya untuk perbaikan kualitas masyarakat Banyuwangi. Sedikit-demi sedikit, wilayah dakwahnya semakin meluas hingga ke seluruh penjuru Banyuwangi.

Dalam pengajaran kepada murid-muridnya, Kyai Saleh Lateng sangat menjunjung sikap tegas terhadap penjajahan. Ia sering berpesan kepada santri-santrinya untuk berusaha keras menjadi orang pintar agar tidak terus dijajah oleh bangsa lain. Selain mengajarkan ilmu-ilmu agama, Kyai Saleh juga mengajarkan kesaktian-kesaktian yang dipelajarinya sejak mondok di Bangkalan. Dengan demikian, murid-murid Kyai Saleh bukan hanya terdiri dari kaum santri yang taat beribadah. Melainkan juga para jagoan dan bromocorah-bromocorah setempat yang ingin menambah kesaktian. Sehingga banyak sekali algojo dan tanjak seblang di seluruh wilayah Banyuwangi yang menjadi santrinya.

Dari sinilah kemudian Kyai Saleh lateng muncul sebagai tokoh pemersatu masyarakat Blambangan. Kelompok-kelompok yang tadinya bertikai, mulai disatukan dengan alasan sesama murid dari lateng dilarang saling bermusuhan. Lambat laun para jagoan lokal dan para penyamun jalanan mulai menghentikan operasinya, karena mematuhi perintah Kyai Saleh Lateng. Semboyan “satu guru jangan saling mengganggu” rupanya mampu meredam perpecahan di antara masyarakat Banyuwangi kala itu. Sebagai sesama murid Kyai Saleh Lateng, mereka mulai menghentikan pertikaian dan permusuhan.

Kepada masyarakatnya, Kyai Saleh sangat mengayomi dan membuka konsultasi seluas-luasnya. Mengedepankan saling silaturrahim dan mendamaikan mereka yang sedang terlibat pertengkaran. Dengan demikian berangsur-angsur terbangunlah persatuan dan kesatuan Banyuwangi.

Kehidupan Keorganisasian. Sebagai salah satu tokoh kunci persatuan masyarakat Banyuwangi, Kyai Saleh memegang peranan cukup penting dalam membidani kelahiran Nahdlatul Ulama (NU), terutama di Wilayah Blambangan. Demi menyambung perjuangan keagamaan dan perjuangan kemerdekaan pada taraf yang lebih luas, Kyai Saleh bergabung dengan para ulama dari daerah lain. Baik melalui jaringan pertemanan sewaktu masih menjadi santri di Surabaya dan Madura maupun jalinan persaudaraan dengan teman-temannya selama menuntut Ilmu di Tanah Suci.

Dalam berorganisasi, Kyai Saleh Lateng bergabung dengan Sarekat Islam. Pada tahun 1913 Beliau memimpin Rapat Umum Sarekat Islam yang diadakan di Kawedanan Glenmere Banyuwangi. Selanjutnya, pada 16 Rajab 1344 H. bertepatan dengan 31 Januari 1926 M. bersama dengan tokoh-tokoh ulama Nusantara lainnya, Kyai Saleh Lateng juga merupakan salah seorang yang naik di atas panggung (podium) untuk turut memberikan kontribusi dan dukungan pada pertemuan Komite Hijaz.

Pada hari yang kemudian dikenal sebagai hari kelahiran Nahdlatul Ulama ini, Kyai Saleh Lateng ditunjuk oleh KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah untuk menjadi anggota Muassis-Mukhtasar (formatur) pembentukan pengurus Nahdlatul Ulama yang pertama.?

Sikap Anti Penjajahan. Dalam mendidik para santri dan masyarakatnya untuk menentang penjajahan, Kyai Saleh Lateng bersikap keras. Beliau memilih sikap konfrontatif hingga melarang anak-anaknya belajar di sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah penjajahan. Kyai Saleh melarang keluarga dan para santrinya untuk memakai celana, melepas Kopyah dan mengikuti kebiasaan-kebiasaan Belanda. Kyai Saleh juga mengutus beberapa anaknya ke medan perang gerilya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Selama masa-masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Kyai Saleh aktif mengikuti perkembangan perjuangan rakyat Indonesia melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) dan surat kabar. Hal ini dilakukan untuk mengecek keberadaan santri-santrinya yang sedang dikirim ke garis depan pertempuran dan medan gerilya. Kyai Saleh menyokong perjuangan bersenjata melalui dukungan dana dan doa kepada santri-santrinya yang akan dikirim ke medan laga.

Karena tindakan-tindakannya membantu perjuangan kemerdekaan, Kyai Saleh juga sempat menghadapi kejaran Belanda dan harus menghindar keluar dari Lateng ke Pakistaji. Di sinilah, Beliau bertemu dengan salah seorang anggota pasukan yang pernah dipimpinnya. Anggota pasukan ini juga sedang di kejar-kejar oleh intel Belanda. Kyai Saleh pun kemudian menolongnya. Anggota inilah yang kemudian menceritakan bahwa sebenarnya, Kyai Saleh Lateng terlibat secara langsung di garis depan ketika memimpin sepasukan laskar rakyat dalam penyerbuan terbuka (saat berkumandangnya Resolusi Jihad) ke Surabaya.

Kyai Saleh lateng juga termasuk orang yang sangat tegas dalam menolak kompromi dengan pemerintah penjajah. Pernah pada masa-masa akhir penjajahan Belanda di Indonesia, Kyai Saleh ditawari oleh bantuan oleh Belanda untuk pembangunan pesantrennya. Bahkan konon, Van Der Plass sendiri yang datang menemui Beliau. Namun bantuan ini ditolak mentah-mentah oleh Kyai Saleh.?

Kyai Shaleh juga memiliki andil dalam pembentukan awal awal kementrian Republik Indonesia. Menurut cerita, suatu ketika, Menteri Agama Republik Indonesia pertama KHA Wahid Hasyim mencari kitab yang akan digunakan sebagai pedoman pembentukan organ kementrian. Konon menteri agama mencarinya ke seluruh pondok pesantren kenalannya, namun belum juga menemukannya.

Maka KHA Wahid Hasyim kemudian mengutus seorang kurir untuk menanyakannya kepada Kyai Saleh Lateng yang pada waktu itu masih berada di tempat persembunyian di Pakisaji Kabat. Kurir tersebut meminta dengan membeli atau mengganti harga atas kitab tersebut. Maka Kyai Saleh Lateng pun kemudian memberikan kitab bernama Mu’jamul Buldan tersebut dengan bersedia menerima separo harga dari harga semestinya. Kitab ini merupakan salah satu sumbangan Kyai Saleh Lateng dalam pembangunan organ Departemen Agama Republik Indonesia.?

Kehidupan Bermasyarakat. Sebagai seorang ulama yang telah dididik dalam norma-norma agama yang kuat, baik di lingkungan keluarga maupun di pesantren, Kyai Saleh selalu mengamalkan prinsip-prinsip pergaulan islami dalam bermasyarakat. Beliau memiliki sikap yang tegas dan berani dalam menyatakan kebenaran dan keadilan. Bahkan meski sering hal tersebut dianggap merugikan.

Sifat budi baik lainnya adalah, Kyai Saleh tidak memilih-milih dalam pergaulan kemasyarakatan. Beliau banyak memiliki santri dari berbagai kalangan, baik dari masyarakat santri yang taat maupun dari kelompok keluarga para bromocorah. Termasuk pula, Kyai Saleh tidak membeda-bedakan tingkat ekonomi para muridnya. Kyai Saleh tidak membedakan antara santri anak orang kaya, pejabat dan rakyat miskin kebanyakan.

Sebagaimana umumnya para ulama, Kyai Saleh sangat gemar membaca al-Qur’an ketika sedang sendirian dan sedang tidak mengajar santri. Kyai Saleh juga senantiasa mentradisikan pengadaan peringatan-peringatan hari besar Islam. Termasuk peringatan Haul gurunya, Kyai Kholil Bangkalan.



Kebiasaan-kebiasaan amar ma’ruf nahi mungkar dan disertai dengan keteladanan dalam mentradisikan kebajikan serta tolong-menolong antar sesama senantiasa melekat dalam diri Beliau, hingga akhir hayatnya.

Kyai Saleh Lateng berpulang ke Rahmatullah pada malam Rabu, tanggal 29 Dzulqo’dah 1371 H. bertepatan dengan 20 Agusrus 1952 dalam usia 93 tahun. Atas Izin bupati Banyuwangi, Usman, maka jenazahnya disemayamkan pada jarak kurang lebih sepuluh meter di sebelah selatan langgar, tempat Beliau biasa memberikan pengajian kepada santri-santrinya.

Dan untuk mengenang jasa-jasa beliau, maka pada tahun 1956 DPRD Kabupaten Banyuwangi menyepakati adanya seruas jalan dengan nama Jalan Kyai Saleh Lateng. Meski jasad Kyai Saleh Lateng telah tertimbun di tanah, namun jasa-jasanya senantiasa dikenang oleh seluruh masyarakat, dan perjuangannya akan senantiasa dilanjutkan oleh santri-santri penerusnya. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosanya dan melimpahkan rahmat untuk kemuliaan ruhnya. Amin Wallahu Alam bisshowab. (Disadur dari buku Biografi Kyai Saleh, karya H. Abd, Manan Syah). Syaifullah AminDari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nahdlatul Ulama, AlaSantri ArrahmahMedia.Com

Kamis, 09 November 2017

Sampaikan Cinta Tanah Air Lewat Puisi dan Bunga

Sampang, ArrahmahMedia.Com. Hari ulang tahun kemerdekaan ke-69 Republik Indonesia yang jatuh pada Ahad (17/8) menjadi spesial bagi Nahdlatun Nisak Center (NNC) Pengurus Cabang Lembaga Kajian dan Pengembagan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Sampang, Jawa Timur.

Sampaikan Cinta Tanah Air Lewat Puisi dan Bunga (Sumber Gambar : Nu Online)
Sampaikan Cinta Tanah Air Lewat Puisi dan Bunga (Sumber Gambar : Nu Online)

Sampaikan Cinta Tanah Air Lewat Puisi dan Bunga

Pasalnya, organisasi perempuan di bawah naungan PC Lakpesdam NU Sampang ini mengadakan aksi simpatik melalui pembacaan puisi kemerdekaan serta aksi bagi-bagi bunga kepada para pengguna jalan di depan Monumen Trunojoyo Sampang.

Aksi para kader muda perempuan NU tersebut mendapat perhatian dari masyarakat dan para pengguna jalan. Aminatur Rizqiyah, Ketua NNC PC Lakpesdam NU Sampang, saat membacakan puisi menggugah semangat nasionalisme masyarakat, khususnya para pemudi Sampang, agar selalu mengingat jasa-jasa para pahlawan bangsa dan tetap mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

ArrahmahMedia.Com

Ditemui wartawan di tengah aksi bagi-bagi bunga, Aminatur Rizqiyah mengatakan, bagi-bagi bunga kepada pengguna jalan bertujuan untuk membangkitkan rasa cinta masyarakat kepada Indonesia.

ArrahmahMedia.Com

“Semangat nasionalisme para pemudi sekarang sudah mulai luntur, kecintaan mereka terhadap bangsa ini sudah berkurang. Karena itu, kami gugah semangat nasionalismenya dengan membagikan bunga sebagai lambang kecintaan kita kepada tanah air. Bunga melambangkan cinta. Hari ini 17 Agustus 2014, kami membagikan bunga agar masyarakat cinta kepada tanah air Indonesia,” ucapnya. (Agus Wedi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nahdlatul Ulama, Doa, Ubudiyah ArrahmahMedia.Com

Jumat, 27 Oktober 2017

Gus Dur Deklarasikan Gatara

Jakarta, ArrahmahMedia.Com

Mantan presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Rabu (3/12), mendeklarasikan sebuah organisasi pergerakan dengan nama Gerakan Kebangkitan Rakyat atau disingkat Gatara.

Deklarasi dilakukan di kantor Wahid Institut yakni bekas rumah ayahanda Gus Dur, KH Wahid Hasyim, di Jl Taman Amir Hamzah 8 Matraman, Jakarta. Sejumlah sahabat dan para calon presiden hadir dalam deklarasi tersebut, antara lain Akbar Tanjung, Sutiyoso, Rizal Ramli, Hariman Siregar, dan Muchtar Pakpahan.

Gus Dur Deklarasikan Gatara (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Deklarasikan Gatara (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Deklarasikan Gatara

Deklarasi pendirian Gatara dibacakan oleh putri Gus Dur Yenny Wahid sementara visi-visi organisasi baru yang berlambang mirip Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu dibacakan oleh Lalu Misbah.

ArrahmahMedia.Com

”Pada saat warga PKB kebingungan mau kemana menyampaikan aspirasinya, Gus Dur mendeklarasikan Gatara,” kata Lalu Misbah sebelum membacakan visi misi Gatara.

ArrahmahMedia.Com

Dikatakan, organisasi baru ini berkomitmen untuk maju dan bangkit bersama elemen yang lain berdasarkan prinsip-prinsip keagamaan, kebangsaan dan kejuangan, yang terbuka dan demokratis.

Deklarasi ini juga ditandai dengan menekan sirine oleh Gus Dur sebagai Pemimpin Gatara dan pelepasan burung merpati sebagai simbol kebebasan dan keterbukaan.

Gus Dur mengatakan, Gatara didirikan untuk menampung berbagai aspirasi yang disampaikan kepadanya.

”Selama ini tidak ada gerakan penyambung. Banyak yang menyatakan begini dan begitu tapi tidak jelas tujuannya apa,” kata Gus Dur usai memencet sirine.

Rizal Ramli dalam orasinya menyatakan gerakan baru ini adalah salah satu bukti dukungan rakyat terhadap kepemimpinan Gus Dur.

”Pemerintah dan PKB boleh melupakan Gus Dur, tapi rakyat tidak akan melupakan Gus Dur. Bukan tidak mungkin gerakan ini nantinya akan tampil sebagai partai baru, Partai Kebangkitan Rakyat,” katanya.

Sementara itu Yenny Wahid menegaskan, Gatara bukanlah partai politik. Gatara, katanya, dibentuk atas usulan dari para pendukung Gus Dur di daerah-daerah. ”Kita akan mengukur seberapa besar gerakan ini di daerah-daerah,” tambahnya. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Khutbah, Nahdlatul Ulama, Olahraga ArrahmahMedia.Com

Selasa, 17 Oktober 2017

Kepengurusan Baru PCNU Malang Angkat Slogan “NU MUDA”

Malang, ArrahmahMedia.Com

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang bersiap akan menggelar pelantikan untuk para pengurus baru periode lima tahun mendatang. Rais syuriyah dan ketua tanfidziyah yang terpilih dalam konferensi cabang Oktober 2016 lalu berkomitmen memajukan organisasi NU setempat.

"NU Kota Malang memiliki tagline ‘NU MUDA’ yang merupakan kepanjangan NU Menjaga Marwah Ulama dan Aswaja. Pelantikan akan dilaksanakan di Gedung Pertamina Politeknik Negeri Malang, pada hari Sabtu (18/2)," kata Ketua PCNU Kota Malang terpilih, Isroqunnajah, Rabu (15/2).

Kepengurusan Baru PCNU Malang Angkat Slogan “NU MUDA” (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepengurusan Baru PCNU Malang Angkat Slogan “NU MUDA” (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepengurusan Baru PCNU Malang Angkat Slogan “NU MUDA”

Sebelum acara pelantikan, akan digelar apel kebangsaan. Isroqunnajah akan bertindak sebagai inspektur upacaranya di hadapan peserta yang terdiri dari jajaran polisi Polresta Malang, anggota tentara Kodim 0833, anggota Banser, para santri, ulama, anggota Kokam, satgas ormas dan partai politik di Kota Malang.

ArrahmahMedia.Com

Ketua SC acara pelantikan ini Mujab Masyhudi menjelaskan, tema besar pelantikan kali ini adalah "Revitalisasi Nilai-nilai Patriotisme dan Nasionalisme untuk Ketahanan Umat". Menurutnya, tema tersebut sangat relevan dengan perkembangan dinamika Indonesia dewasa ini.

"Indonesia sedang mengalami dinamika yang sangat kompleks dalam berbagai bidang. Diperlukan patriotisme sekaligus nasionalisme sebagaimana telah diteladankan oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asyari dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Semangat untuk menghidupkan kembali peran-peran NU dalam berbagai bidang agar Indonesia umumnya, dan Kota Malang khususnya, semakin sejuk, aman, dan damai," ujar doktor lulusan India yang juga Kaprodi PAI-BSI S3 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini.

ArrahmahMedia.Com

Pelantikan PCNU Kota Malang ini berdasarkan SK PBNU No 131/A.II.04.d/02/2017 yang ditetapkan pada tanggal 7 Februari 2017. Rais ‘Aam PBNU KH Maruf Amin direncanakan akan hadir dan menyampaikan taushiyah terkait perkembangaan NU dan Indonesia belakangan ini.

Acara kemudian akan dilanjutkan dengan rapat pimpinan dan lokakarya yang akan disampaikan oleh KH Cholil Nafis dari PBNU, Brigjen Wahyu Aprilianto (BAIS TNI), dan Dudi Herawadi (Kepala BI Kanwil Malang), dan diikuti oleh segenap pengurus NU Kota Malang dari berbagai tingkatan. Pada kesempatan itu juga disampaikan rencana pelaksanaan Musyawarah Kerja ke-1 yang akan dilangsungkan di Gedung DPRD Kota Malang, jalan Tugu no 1 Malang, pada Ahad (19/2). (Achmad Diny Hidayatullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nahdlatul Ulama, AlaSantri, Fragmen ArrahmahMedia.Com

Senin, 16 Oktober 2017

Benahi Diri, Ansor 50 Kota dan Payukumbuh Pilih Pemimpin Baru

Payakumbuh, ArrahmahMedia.Com. Kader GP Ansor di Kabupaten 50 Kota dan Kota Payakumbuh tengah berbenah diri. Melihat kompleksitas tantangan ke depan, Ketua baru GP Ansor 50 Kota dan Ketua GP Ansor Payakumbuh mengemban amanah meningkatkan kualitas internal di samping menebarkan benih Islam NU yang rahmatan lil alamin.

Benahi Diri, Ansor 50 Kota dan Payukumbuh Pilih Pemimpin Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Benahi Diri, Ansor 50 Kota dan Payukumbuh Pilih Pemimpin Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Benahi Diri, Ansor 50 Kota dan Payukumbuh Pilih Pemimpin Baru

Wakil Ketua GP Ansor Sumatera Barat Rahmat Tuanku Sulaiman mengungkapkan hal itu pada Konferensi Cabang GP Ansor kabupaten 50 Kota di Aula TPQ Masjid Nurul Falah Nagari Taeh Baruah, kecamatan Mungka, 50 Kota, Sabtu (7/2).

Menurut Rahmat, sudah saatnya kader Ansor harus bergerak cepat. Kader harus segera membenahi organisasi sehingga mampu berbuat untuk kepentingan umat. Mereka yang menghidupkan Ansor, Insya Allah hidupnya akan berkah.

ArrahmahMedia.Com

"Gencarnya gerakan Islam radikal di Tanah Air  saat ini harus dilawan dengan gerakan paham Aswaja yang mengajarkan kedamaian dalam beragama. Ansor harus menjadi garda terdepan dalam menghadapi Islam garis keras yang mencoreng Islam," kata Rahmat, mantan Ketua IPNU Padangpariaman ini.

ArrahmahMedia.Com

Pengurus terpilih harus fokus terhadap masalah-masalah yang dihadapi Ansor. Kader Ansor yang dominan di pedesaan dihadapkan pada masalah kedangkalan agama, terbatasnya akses ekonomi dan akses pendidikan. Kedangkalan agama ditingkatkan dengan program Rijalul Ansor, lemahnya ekonomi dengan program penguatan lembaga ekonomi syariah dan akses pendidikan ditingkatkan melalui program penguatan lembaga pendidikan, kata Rahmat.

Konfercab Ansor 50 Kota mengamanahkan Roziwan sebagai Ketua GP Ansor 50 Kota. Konfercab Ansor 50 Kota berlanjut dengan Konferensi Cabang GP Ansor Kota Payakumbuh   di aula Kantor Urusan Agama (KUA) Payakumbuh Timur. Ketua  terpilih Maulana yang sebelumnya diamanahkan sebagai Satkorcab Banser Kota Payakumbuh. (Armaidi Tanjung/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nahdlatul Ulama, Budaya ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock