Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Februari 2018

Prof Aom Karomani: Sekolah 5 Hari Perlu Dikaji Ulang

Bandarlampung, ArrahmahMedia.Com. Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Lampung, Prof Aom Karomani mengatakan bahwa rencana pemberlakuan sekolah 5 hari perlu di kaji ulang. Kajian itu tidak hanya dilihat dari sisi Peraturan Pemerintah maupun Undang-Undang ASN. Namun menurutnya perlu kajian dari banyak aspek terkait.

"Ya bukan hanya, mesti dikaji dari sisi UU ASN tapi dari sisi UU lain tentang sistem pendidikan Nasional misalnya. Belum lagi harus ditelaah dari sisi historis dan sosiologis masyarakat. Bagaimana dampak kebijakan tersebut pada institusi madrasah," katanya, Rabu (14/6).

Prof Aom Karomani: Sekolah 5 Hari Perlu Dikaji Ulang (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Aom Karomani: Sekolah 5 Hari Perlu Dikaji Ulang (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Aom Karomani: Sekolah 5 Hari Perlu Dikaji Ulang

Bagaimanapun menurutnya penerapan sistem 5 hari sekolah perlu dikaji ulang lagi dan pemerintah harus memperhatikan masukan dari berbagai pihak agar tidak terjadi gejolak dimasyarakat.

"Apalagi ada info yang mengatakan pelajaran agama akan dihilangkan, jika sistem ini nantinya diberlakukan. Ini sudah tidak benar lagi," tegasnya.

Sekedar diketahui, setelah mendapatkan penolakan dari berbagai kalangan, akhirnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan akan mengkaji ulang kebijakan sekolah 5 hari (Senin-Jumat) dengan sistem 8 jam belajar sehari pada tahun ajaran baru, Juli 2017.

ArrahmahMedia.Com

Pernyataan ini disampaikan Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) setelah dipanggil Presiden Joko Widodo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (14/6) sebagaimana dilansir beberpa media.

Kebijakan yang sudah diwujudkan dalam bentuk Peraturan Menteri Nomor 23 tahun 2017 tertanggal 12 Juni 2017 akan dibenahi termasuk Petunjuk Teknis (Juknis) yang belum dibuat.

ArrahmahMedia.Com

"Pasti akan kita benahi toh. Inikan juknis (petunjuk teknis) juga belum di susun," katanya.

Muhajir mengatakan bahwa sebetulnya kebijakan sekolah 5 hari dibuat untuk meringankan beban kerja para guru. Ia menilai upaya ini sejalan Peraturan Pemerintah No.53/2010 tentang Disiplin PNS. (Muhammad Faizin /Muslim Abdurrahman).

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pendidikan, Warta ArrahmahMedia.Com

Kamis, 08 Februari 2018

KH Masruri Abdul Mughni Figur Murabbi Sejati

Nama lengkapnya adalah KH Muhammad Masruri Abdul Mughni. Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikmah Benda Sirampog, yang lebih dikenal Al Hikmah Bumiayu.? Masyarakat memanggilnya Abah Yai Masruri Mughni. Lahir di Desa Benda pada 23 Juli 1943, putra pertama dari dua bersaudara buah hati pasangan H Abdul Mughni dan Hj Maryam, Abah adalah cucu KH Kholil bin Mahalli, salah satu muassis (pendiri) Pesantren Al Hikmah.

Abah hidup di lingkungan pesantren yang didirikan oleh sang kakek. Sehingga sejak kecil ia mulai belajar agama langsung di bawah asuhan kakek yang dibantu KH. Suhaemi bin Abdul Mughni (keponakan KH. Kholil) di pesantren tersebut hingga usia 13 tahun. Ketika menginjak usia 14 tahun, tepatnya pada tahun 1957 ia mulai mondok di Pesantren Tasik Agung Rembang, di bawah asuhan KH Sayuti dan KH Bisri Mushtofa. Ia belajar di pesantren tersebut hanya sekitar dua tahun, yakni sampai tahun 1959.

Setelah itu ia hijrah ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang, Jawa Timur, yang saat itu salah satu pengasuhnya adalah KH. Wahab Hasbullah tokoh penggerak Nahdlatul Ulama pada saat itu. Selain nyantri, ia juga aktif tabarukan atau mengaji di beberapa pesantren di Indonesia, seperti belajar pada Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari di Tebuireng Jombang.

Sejak muda, Abah dikenal telah memiliki jiwa kepemimpinan dan selalu dituakan oleh orang- orang di sekitarnya. Di pesantren Tambak Beras dalam usia yang relatif muda, ia telah didaulat oleh para masyakikh untuk menjadi qori’ (pembaca kitab kuning untuk santri).

KH Masruri Abdul Mughni Figur Murabbi Sejati (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Masruri Abdul Mughni Figur Murabbi Sejati (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Masruri Abdul Mughni Figur Murabbi Sejati

Menurut KH Mukhlas Hasyim, seorang guru penulis, pada saat itu Abah sebetulnya masih punya cita-cita ingin sekali melanjutkan nyantri di Pesantren di daerah Pacitan Jawa Timur dan Pesantren di daerah Magelang Jawa Timur. Hanya saja ketika itu, ia diminta kakeknya untuk segera pulang membantu mengajar di Pesantren Al Hikmah, karena pada saat itu sangat membutuhkan tenaga pengajar. Akhirnya keinginan tersebut tidak terlaksana, karena pada tahun tersebut juga, yakni tahun 1965 dalam usia 22 tahun ia dinikahkan dengan Adzkyah binti KH Kholil yang waktu itu masih berusia 18 tahun. Dan sejak saat itulah rutinitasnya adalah mengajar.

Figur Murobbi Sejati

ArrahmahMedia.Com

Sejak pulang dari nyantri di Tambak Beras Jombang, setiap hari Abah harus berjalan kaki cukup jauh untuk mengajar, karena pada saat itu letak asrama dan kelas untuk mengaji sekitar 2 km. Kadang dalam satu hari ia harus pulang pergi beberapa kali untuk mengajar. Sampai pada akhirnya ada wali santri yang datang khusus ke ndalem menitipkan putri-putri mereka untuk belajar atau nyantri di ndalem, karena saat itu ia belum memiliki kamar atau asrama untuk santri. Atas saran dari guru di Tambak Beras Jombang akhirnya ia mendirikan Asrama Pesantren Putri yang sekarang dikenal dengan Pesantren Al Hikmah 2.

Dengan adanya santri yang tinggal di rumahnya, aktifitas mengajar Abah bertambah. Di samping di asrama lama yakni di komplek Masjid Jami’ desa Benda – yang sekarang Al Hikmah 1 – serta di ndalem. Namun setelah mulai agak sepuh dan sibuk dengan amanah umat yang diberikan kepada Abah seperti di Nahdlatul Ulama (NU), Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan organisasi lainnya, pengajian dilaksanakan di ndalem dan masjid An Nur Komplek Putri.

ArrahmahMedia.Com

Dengan segudang kesibukan, Abah selalu istiqomah mengaji, walaupun dalam waktu yang cukup singkat. Ketika tidak ada kesibukan keluar, dari pagi sampai malam aktifitasnya diisi dengan kegiatan mengajar berbagai fan ilmu seperti tafsir, hadist, tasawuf, faraidl, mawaris, dan fan ilmu lainnya. Aktifitas tiap harinya ditutup dengan mengajar kitab tasawuf Ihya Ulumudin untuk santri senior sampai tengah malam. Dalam setiap pengajian, tak pernah terbersit sedikit pun kesan capek dan lelah dari seorang Abah. Meski baru sepulang dari bepergian sekalipun, Abah selalu terlihat bersemangat dalam membacakan kitab yang diajarkannya.

Dalam kesehariannya, Abah adalah seorang murabbi (pendidik) yang alim, murah senyum, pembawaanya luwes, memiliki tanggung jawab tinggi, dekat dengan semua orang dan penuh dengan keteladanan. Bagi Abah Yai, transformasi ilmu tak hanya sebatas teoritikal belaka, tapi setiap ilmu mesti diajarkan lewat keteladanan nyata. Para santri tiap hari menjadi saksi, bagaimana keteladanan sosok Abah dalam setiap sendi kehidupan. Abah selalu berupaya memberikan teladan pertama dalam setiap hal, besar ataupun kecil.

Abah adalah seorang yang tak pernah lelah berjuang untuk umat. Setiap detik waktu, ia gunakan untuk berjuang di jalan Allah. Di tengah padatnya jadwal, sebagai Rais Syuriah NU Jawa Tengah, pengurus Majelis Ulama Indonesia, Ketua MUI Brebes, dan ketua dewan pengawas Masjid Agung Jawa Tengah ( MAJT), Abah selalu mengedepankan keistiqomahan dalam mendidik para santrinya.

Abah seakan ingin memberikan teladan langsung bagi para santrinya tentang arti dan makna hidup yang sebenarrnya. Seperti yang sering disampaikan di depan ribuan para santrinya ”Innal Hayata ’Aqidatun Wajihadun”. Makna hidup adalah aqidah dan perjuangan. Aqidah Islam yang benar dan mesti diperjuangkan sepanjang hayat dengan mengisi kehidupan untuk mencari ridha Allah Subhanu Wata’ala semata.

Dalam tataran sosial kemasyarakatan, Abah adalah seorang yang memiliki pembawaan luwes, hangat, dan mampu dekat dengan semua orang. Setiap tamu yang datang di ndalem, jika Abah tidak sedang bepergian pasti ditemui. Abah menyambut para tamu dengan ramah dan penuh kehangatan pukul berapapun juga. Abah selalu berusaha bungahake (membuat senang) tamunya. Abah pun tak segan untuk mengajak setiap tamuanya bersantap bersama di meja makan, jika si tamu kebetulan datang di waktu Abah daharan (makan).

Dalam rangka mengawal keberadaan para alumni, setiap alumni yang sowan ke ndalem, termasuk penulis sering ditanya. Pertanyaan yang pertama disampaikan oleh Abah pasti “Dimana kamu sekarang? Mengajar dimana?” Bagi sebagian orang, pertanyaan ini mungkin sepele. Tapi, ibarat saripati, pertanyaan itu merupakan saripati kehidupan seorang Abah Kiai. Pertanyaan itu menunjukkan betapa ia tak menomorsatukan kesuksesan materi santrinya, ia justru mendorong santrinya untuk pertama-tama melakukan perubahan sosial dengan melakukan sesuatu yang paling mungkin dan paling dekat, yakni mengajar.

Sikap seperti inilah yang sejatinya dimiliki oleh para Kiai, ustadz, guru, dan para pengajar atau pendidik lainnya. Sehingga kalau penulis bisa istilahkan sosok Abah Yai Masruri adalah seorang figur murobbi atau pendidik sejati, yakni figur yang betul-betul mengabdikan hidup dan segala sesuatunya untuk ilmu, santri, dan umat. Sebagai salah satu contoh lagi karena keinginannya yang tinggi untuk terus mengembangkan pesantren, ia tidak pernah mengambil segala bentuk honor yang didapat. Semua dikumpulkan untuk dipergunakan pembangunan Pondok Pesantren. Subhanallah.

Sang Murabbi Sejati dipanggil ke haribaan Allah Swt, Ahad pagi 20 Nopember 2011 di Arab Saudi dalam usia 68 tahun. Setelah dishalati di Masjid Nabawi selepas shalat shubuh, atas permintaan Abah sendiri jenazah disemayamkan di komplek pemakaman Baqi’ di dekat masjid Nabawi bersama istri, para sahabat Rasulullah dan para masyayikh.

?

Ismail Ridlwan

Mahasiswa Pascasarjana IAIN Walisongo Semarang dan muqim di Pesantren Darul Falah Be-Songo Semarang

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Lomba, Nahdlatul, Pendidikan ArrahmahMedia.Com

Kamis, 11 Januari 2018

Haji Abu Bakar Aceh

Cendekiawan terkenal dari Aceh, dan juga penulis buku-buku keagamaan, filsafat dan kebudayaan. Di antaranya telah menghasilkan karya magnum opus berjudul Sedjarah H.H.A. Wachid Hasjim dan Karangan Tersiar, terdiri dari 975 halaman, terbit pada tahun 1957, khusus untuk memperingati empat tahun wafatnya Kiai Wahid Hasyim.?

Lahir dengan nama Abu Bakar pada 18 April 1909 di Peureumeu, Kabupaten Aceh Barat, dari pasangan ulama. Ayahnya adalah Teungku Haji Syekh Abdurahman. Ibunya bernama Teungku Hajjah Naim. Wafat pada 18 Desember 1979 di Jakarta, dan dimakamkan di Pemakaman Karet Jakarta.?

Haji Abu Bakar Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Haji Abu Bakar Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Haji Abu Bakar Aceh

Tambahan “Aceh” di belakang namanya merupakan pemberian Presiden Sukarno yang kagum akan keluasan ilmu putra Aceh ini. “Ensiklopedia Berjalan” adalah sebutan teman-temannya tentang hakikat ilmu pengetahuannya.

Sejak kecil belajar di beberapa dayah terkenal di Aceh. Di antaranya di dayah Teungku Haji Abdussalam Meuraxa, dan pada dayah Manyang Tuanku Raja Keumala di Peulanggahan di Kutaraja (Banda Aceh). Juga belajar di Volkschool di Meulaboh, dan di Kweekschool Islamiyah di Sumatera Barat. Kemudian pindah ke Yogyakarta, dan Jakarta. Menguasai sejumlah bahasa asing, seperti Jepang, Belanda, Inggris, Arab, dan sebagian Perancis dan Jerman.?

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com

Di masa-masa mudanya aktif di sjeumlah ormas dan partai. Pada 1923 aktif di Sarekat Islam di Aceh Barat, pada 1924 di Muhammadiyah, dan di Partai Masyumi sejak 1946. Di masa kepemimpinan Menteri Agama KH. Wahid Hasyim, Abu Bakar Aceh bekerja di Departemen Agama, membantu menteri dalam urusan penataan pelayanan haji.?

Selanjutnya, dipercaya oleh Kiai Wachid memimpin jamaah haji ke Mekah pada 1953. Karena keluasan ilmu dan kacakapannya dalam tulis-menulis, ia dipercaya mengomandani bidang publikasi Departemen Agama, sebelum kemudian menjadi staf ahli Menteri Agama.?

Setelah Pemilu 1955, ia yang dikenal tawadlu dan tidak suka menonjolkan diri itu masuk menjadi anggota Konstituante mewakili Partai NU.

Setelah Kiai Wahid wafat pada 18 April 1953, Abu Bakar Aceh langsung mengambil inisiatif untuk menulis biografi dan pemikiran Kiai Wahid, sebagai penghormatan kepada tokoh NU itu. Empat tahun kemudian, buku itu terbit di Jakarta (kini sudah dicetak ulang pada 2011 oleh Panitia 1 Abad KH Wahid Hasyim).

Pengalamannya dalam menulis buku tentang Kiai Wahid ini dimulai pada waktu Menteri Agama KH Masjkur, pengganti Kiai Wahid, menggelar acara peringatan setahun wafatnya Kiai Wahid dengan menyerahkan lukisan tentang Kiai Wahid kepada Nyonya Solehah, sang isteri dan juga ibu Abdurrahman Wahid. Kemudian dibentuklah panitia peringatan, yang salah satunya berbentuk penerbitan biografi beliau. Dan Abu Bakar, selaku Kepala bagian Penerbitan Kementerian Agama, ditunjuk sebagai penulis.

Abu Bakar dikenal tekun menggarap penulisan biografi tersebut. Ia bekerja siang dan malam, menghubungi para keluarag Kiai Wahid, hingga mengumpulkan foto-foto dan tulisan-tulisan yang pernah dimuat media. Salah seorang yang dihubungi untuk memperkaya bahan-bahan tersebut Kiai Abdul Karim Hasyim (dikenal Akarhanaf), adik Kiai Wahid.?

Setelah setahun mengumpulkan semuanya, ia mulai menulis, hingga menjadi buku seperti sekarang. Buku ini menunjukkan keluasan dan kedalaman pengetahuan Abu Bakar tentang pesantren dan dunia ulama.?

Kedekatan dan keakrabannya dengan kalangan reformis-modernis selama di Yogyakarta, tidak menghalanginya juga untuk membangun suasana harmonis dengan komunitas pesantren. Dalam sejumlah tulisannya, Abu Bakar menunjukkan kekagumannya dan bahkan menimba banyak dari tradisi keilmuan pesantren.?

Dalam satu tulisannya, “Kebangkitan Dunia Baru Islam di Indonesia”, untuk satu bab buku terjemahan Stoddard, Dunia Baru Islam (1966), ia menunjukkan kontribusi masing-masing, yang reformis-modernis-tradisi maupun Kaum Tua-Kaum Muda, bagi kemerdekaan Indonesia. Semua tulisan diarahkan pada pendekatan rekonsiliasi, titik temu dan pencarian sintesa-sintesa baru bagi kemajuan dan pengumpulan kekuatan bangsa ini. Isi tulisan macam ini tidak kita temukan pada sejumlah sarjana Indonesia didikan Amerika, Eropa maupun Australia, yang selalu mencari titik lemah pada komunitas pesantren, pengumpulan titik kelemahan bangsa ini, serta penonjolan titik-titik tengkar di antara berbagai komponen bangsa ini.?

Beberapa karya Abu Bakar Aceh lainnya: Sejarah Al-Quran, Tekhnik Khutbah, Sejarah Ka’bah, Perjuangan Wanita Islam, Kemerdekaan Beragama, Sejarah Mesjid, Pengantara Sejarah Sufi dan Tasawuf, Pengantar Ilmu Tharikat, Perbandingan Mazhab Ahlussunnah Waljamaah.?

Selain itu juga menerjemahkan beberapa karya para penulis Eropa dan orientalis tentang sejarah Aceh ke dalam bahasa Indonesia. Menulis dalam bahasa Aceh buku pelajaran untuk sekolah-sekolah Aceh masa kolonial, seperti Meutia dan Lhee Saboh Nang, dan juga membantu penyusunan kamus Aceh, Groot Atjehsch Woordenboek, yang dibuat oleh Husein Djajadiningrat. (Ahmad Baso)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pendidikan, Internasional ArrahmahMedia.Com

Selasa, 09 Januari 2018

Akihiro Shugo: Bisnis Kuliner Halal di Jepang Terus Meningkat

Tokyo, ArrahmahMedia.Com

Tantangan puasa 17 jam di tengah teriknya musim panas tahun ini tidak menyurutkan semangat umat Muslim Indonesia di Jepang untuk terus mengenalkan Islam pada masyarakat sekitar. Bertempat di Balai Indonesia, Sabtu (18/6) Keluarga Masyarakat Muslim Indonesia (KMII) kembali menyelenggarakan acara Pertukaran Kebudayaan Islam dengan mengangkat tema Halal untuk Semua.





Akihiro Shugo: Bisnis Kuliner Halal di Jepang Terus Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)
Akihiro Shugo: Bisnis Kuliner Halal di Jepang Terus Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)

Akihiro Shugo: Bisnis Kuliner Halal di Jepang Terus Meningkat

Industri halal yang semakin semarak di Negeri Sakura ini kian menarik perhatian masyarakat Jepang baik para penggiat bisnis kuliner maupun pariwisata.? Acara kali ini bertujuan untuk menjelaskan pengertian halal secara universal dan meluruskan beberapa pandangan masyarakat Jepang mengenai halal, bahwa halal bukan makanan yang hanya dapat dikonsumsi oleh Muslim tetapi juga makanan yang baik (thayyib) untuk dikonsumsi masyarakat umum tanpa memandang perbedaan agama dan budaya.

Pemilik Restoran Halal Ramen Ouka, Wachi Masyrik menceritakan awal mula mereka terjun ke dunia halal. “Sekitar 10 tahun lalu, teman saya (seorang Muslim) datang berkunjung ke Jepang, namun ia tidak bisa menikmati makanan tradisional Jepang. Dari situ saya tersadar, saya pun mulai mempelajari Islam enam tahun ke belakang ini dan kemudian berhasil membuka restoran halal,” ujar Wachi.

ArrahmahMedia.Com

Mengenai kondisi industri halal sekarang ini, CEO Halal Media Japan, Akihiro Shugo mengungkapkan, setiap bulan sekitar 20 restoran dan toko mendaftarkan diri di situs Halal Media Japan.

Restoran halal diprediksi akan semakin berkembang di seluruh Jepang. Beberapa pemilik restoran sempat mengutarakan kekhawatiran mereka ketika mereka memutuskan untuk tidak menjual sake (minuman berlakohol) dan daging babi.

ArrahmahMedia.Com

“Banyak yang takut omset penjualannya berkurang, namun pada kenyataannya tidak begitu berubah,” ujar Akihiro Shugo.

Lembaga pemberi sertifikat halal di Jepang juga sudah mulai bermunculan, namun masih terdapat perbedaan standar dalam penetapan halal di antara lembaga-lembaga tersebut. "Masih terus diperlukan diskusi antarlembaga halal, untuk menyamakan kriteria," ujar Said Akhtar, CEO lembaga sertifikasi halal di Jepang, Nippon Asia Halal Association (NAHA).

“Makanan halal merupakan makanan yang baik untuk semua kalangan, dari segi gizi, kebersihan dan khasiat untuk kesehatan. Saya harap banyak orang Jepang yang semakin mengerti tentang halal dan sama-sama memajukan industri halal di Jepang,” ujar pakar halal dan ketua Asosiasi Muslim Jepang yang juga pernah menjabat sebagai peneliti di Pusat Penelitian Syariah di Universitas Takushoku menutup diskusi panel.

Acara pertukaran budaya kali ini juga dimeriahkan oleh Muslim Fashion Corner, di mana masyarakat Jepang dapat mencoba mengenakan hijab, gamis, kopiah dan pakaian khas berbagai negara Muslim.

“Ternyata (mengenakan) hijab tidak panas, saya malah merasa tenang dana terjaga dengan mengenakan hijab,” ujar seorang perempuan Jepang yang mencoba mengenakan hijab untuk pertama kalinya.

Selain itu peserta juga dihibur dengan tarian tradisional yang dibawakan oleh para siswi Sekolah Republik Indonesia Tokyo. Acara kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama yang disponsori oleh perusahaan makanan dari berbagai komunitas Muslim, seperti komunitas Muslim Indonesia, Turki, Syiria, dan Pakistan yang menetap di Jepang. (Tsamara Tsani/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Syariah, Nusantara, Pendidikan ArrahmahMedia.Com

Senin, 18 Desember 2017

PM Turki Hadiahi Obama Kaligrafi Bertuliskan Namanya

Kairo, ArrahmahMedia.Com. PM Turki Recep Tayyip Erdogan menghadiahi Presiden Amerika Barack Obama sebuah cindera mata berupa lukisan kaligrafi yang bertuliskan namanya "Barack Hussein Obama".

Kantor berita Turki Cihan (17/5) melansir, Presiden Obama menggelar pertemuan khusus dengan PM Turki Erdogan sebelum digelarnya kongres umum Amerika-Turki di Gedung Putih, Washington DC.

PM Turki Hadiahi Obama Kaligrafi Bertuliskan Namanya (Sumber Gambar : Nu Online)
PM Turki Hadiahi Obama Kaligrafi Bertuliskan Namanya (Sumber Gambar : Nu Online)

PM Turki Hadiahi Obama Kaligrafi Bertuliskan Namanya

Sebelum pertemuan khusus itu, PM Erdogan terlebih dahulu memberikan cindera mata kepada Presiden Obama. Cindera mata tersebut berupa lukisan kaligrafi yang bertuliskan namanya "Barack Hussein Obama".

ArrahmahMedia.Com

Peristiwa pemberian cindera mata ini pun kini menjadi berita heboh di beberapa media Turki dan juga media-media Arab.

ArrahmahMedia.Com

Penulis: Ahmad Ginanjar Syaban

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Bahtsul Masail, Nasional, Pendidikan ArrahmahMedia.Com

Kamis, 14 Desember 2017

Ribuan Pendekar Pagar Nusa Ikuti Apel Setia NKRI

Semarang, ArrahmahMedia.Com. Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang penuh dengan para pendekar pencak silat Pagar Nusa dari Jawa Tengah dan perwakilan seluruh Indonesia. Dengan berseragam hitam mereka mengikuti kegiatan Apel Akbar Ikrar Setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ribuan Pendekar Pagar Nusa Ikuti Apel Setia NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Pendekar Pagar Nusa Ikuti Apel Setia NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Pendekar Pagar Nusa Ikuti Apel Setia NKRI

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Dr H As’ad Said Ali yang menjadi inspektur upacara dalam apel akbar itu memimpin pembacaan ikrar kesetiaan untuk NKRI di hadapan sekitar tiga ribu pendekar.

Di tengah terik panas, As’ad memberikan amanat singkat. “Kita harus berjuang meneruskan perjuangan alim ulama sehingga kita bisa menikmati seperti sekarang ini. Kita harus terus penjaga NKRI agar generasi penerus bisa melanjutkan,” ujarnya.

ArrahmahMedia.Com

“Kita wajib memperjuangkan Islam dan NKRI. Tidak hanya itu, melindungi kaum minoritas yang tertindas. Juga selalu menjaga ajaran tasamuh (toleran), tawasuth (moderat), tawazun (proporsional) dan i’tidal (konsisten) untuk menjaga NKRI,” tambahnya.

Apel Akbar itu merupakan puncak dari kegiatan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Pencak Silat NU Pagar Nusa yang mengambil tema “Pagar Nusa Menjadi Benteng NKRI dari Ancaman Radikalisme dan Terorisme”. Rapimnas diadakan sejak 26 Maret lalu di Pondok Pesantren Az zuhri Ketileng Semarang.

ArrahmahMedia.Com

Ketua Pengurus Pusat Pencak Silat NU Pagar Nusa H Aizzuddin Abdurrahman dalam apel akbar itu mengingatkan bahwa NKRI sedang berada dalam ancaman disintegrasi yang disulut oleh kelompok radikal terutama ISIS yang mulai menjalar ke Indonesia.

“Sebagai bagian dalam upaya pencegahan kita harus selalu awas dan waspada terhadap keadaan sekitar dan lingkungan tempat kita tinggal. ISIS juga telah merusak akidah dan nasionalisme yang telah tumbuh subur dalam jiwa warga kita,” kata Gus Aiz, panggilan akrab Aizzuddin Abdurrahman.

Ditambahkan, Pagar Nusa merupakan bagian pagarnya NU dan bangsa Indonesia. Pagar Nusa akan menjaga pesantren, kiai dan ulama, serta dengan segenap jiwa dan raga akan selalu menjaga dan mempertahankan keutuhan NKRI.

“Kita harus bermitra dengan pemerintah, karena ini menjadi tanggung jawab kita bersama TNI dan Polri. Kita mewarisi ajaran yang dibawa walisongo dalam mendakwahkan Islam dengan santun, amar ma’ruf bil ma’ruf mengajak kepada Islam dengan cara yang baik, tidak berbuat kekerasan dalam mengajak Islam,” katanya dalam apel akbar yang dihadiri petinggi TNI dan Polri. (M. Zulfa/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sholawat, Pendidikan ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 09 Desember 2017

7 Hal yang Harus Dihindari dalam Shalat

Dalam kitab? Bughyatul Mustarsyidin? karya Sayyid Abdurrahman bin Muhammad al-hadramy menyatakan bahwa ada tujuh hal yang dimakruhkan dalam shalat. Artinya ketujuh hal itu bila dilakukan tidak sampai mengakibatkan batalnya shalat, tetapi lebih baik dihindari karena dianggap tidak sopan.

Ketujuh hal tersebut dikumpulkan dalam sebuah nadham yang berbunyi:

? ? ? ? ? ? * ? ? ? ?.
7 Hal yang Harus Dihindari dalam Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
7 Hal yang Harus Dihindari dalam Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

7 Hal yang Harus Dihindari dalam Shalat

? ? ? ? * ? ? ? ? ? ?. ? Saudara hindarilah tujuh hal dalam shalat, mengantuk, menggaruk-garuk, menguap, iseng, ragu hati, mengupil, dan bertolah-toleh. Semua itu selalu ditinggalkan oleh Rasulullah saw.

Ketujuh hal tersebut memang tidak membatalkan shalat, tetapi dianggap tidak pantas dilakukan ketika shalat. Mengantuk jelas berbahaya, membahayakan diri sendiri dan juga orang lain. Karena dikhawatirkan akan terucap do’a mohon balak-kerusakan. Menguap, menggauk, mengupil, tolah-toleh, dan berbuat iseng, semua menunjukkan ketidak seriusan bahkan mengarah pada penghinaan lawan pihak yang diajak komunikasi.

ArrahmahMedia.Com

Sungguh hal ini akan menjauhkan seseorang pada kekhusyukan shalat. Apalagi jika masih ada keragu-raguan dalam hati, entah ragu tentang bilangan raka’at, atau ragu batalnya wudhu, atau ragu tentang makanan yang masih tertinggal di meja, ragu tentang keamanan motor yang diparkir di depan masjid dan lain sebagainya. (red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Ulama, Pendidikan, Ubudiyah ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com

Kamis, 07 Desember 2017

STAINU Jakarta Mantapkan Persiapan Wisuda III

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta memantapkan persiapan Wisuda Sarjana (S1) ke-3 yang kali ini akan digelar di Gedung Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada tanggal 7 Mei 2014 pukul 08.00 WIB.

“Diwajibkan kepada seluruh calon wisudawan dan wisudawati hadir sebelum waktunya di lokasi agar penyelenggaraan wisuda berjalan baik,” kata Ketua Panitia Wisuda Arif rahman di Aula Gedung PBNU Jl Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Rabu (30/4) sore.

STAINU Jakarta Mantapkan Persiapan Wisuda III (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Jakarta Mantapkan Persiapan Wisuda III (Sumber Gambar : Nu Online)

STAINU Jakarta Mantapkan Persiapan Wisuda III

Sementara itu, Ketua STAINU Jakarta HM Mujib Qulyubi mengingatkan kepada calon wisudawan dan wisudawati bahwa inti dari wisuda adalah bersyukur dan bertanggung jawab. “Bukan hanya dilihat sekadar seremoni saja, tapi kita bersyukur kepada Allah sekaligus bertanggung jawab untuk mengamalkan ilmu yang diperoleh untuk masyarakat luas,” tutur Kiai Mujib, panggilan akrabnya.

ArrahmahMedia.Com

Dalam proses wisuda nanti, lanjut Mujib, calon wisudawan dan wisudawati supaya mengikuti acara dengan khusyu dan khidmat. Dia juga mengingatkan bahwa sehari sebelum acara wisuda dimulai agar menggelar doa dan Istighotsah di tempat masing-masing secara berkelompok.

“Hal ini dalam rangka menjaga tradisi keislaman kita, dilakukan secara pribadi silakan, tapi lebih baik secara bersama-sama,” tandas Kiai yang juga Katib Syuriah PBNU ini. Dia juga menuturkan bahwa wisuda I berjalan dengan baik, begitu juga dengan wisuda II, dan wisuda III kali ini harus lebih baik lagi.

ArrahmahMedia.Com

Proses pemantapan ini dihadiri oleh seluruh calon wisudawan dan wisudawati STAINU Jakarta dari Prodi PAI dan Perbankan Syariah, Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam (Kaprodi PAI) STAINU Jakarta Imam Bukhori, dan Sekretaris Panitia Wisuda Dede Setiawan.

Dipastikan juga oleh panitia bahwa acara wisuda nanti akan dihadiri diantaranya oleh Ketua Umum  PBNU KH Said Aqil Siroj, Menperra H Djan Faridz, serta orasi ilmiah oleh Direktur Kelembagaan dan Kerjasama Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dit. Lemkerma Ditjen Dikti) Kemendikbud RI Prof H Hermawan Kresno Dipojono, Ph.D. (Fathoni/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Hadits, Pendidikan, Amalan ArrahmahMedia.Com

Senin, 04 Desember 2017

Fatayat NU Bondowoso Luncurkan Air Kemasan Fatayat Water

Bondowoso, ArrahmahMedia.Com - Pengurus harian Fatayat NU Bondowoso menggelar khataman Al-Quran yang diikuti sebagian pengurus anak cabang dan cabang Fatayat NU di Musholla Kantor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bondowoso, Kamis (16/6) pagi. Khataman ini mengawali pengemasan air mineral berlabel Fatayat NU.

Ketua Fatayat NU Bondowoso Nurdiana Khalidah mengatakan, hari ini kebetulan pengemasan perdana untuk air minum dalam kemasan yang berlabel Fatayat.

Fatayat NU Bondowoso Luncurkan Air Kemasan Fatayat Water (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Bondowoso Luncurkan Air Kemasan Fatayat Water (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Bondowoso Luncurkan Air Kemasan Fatayat Water

“Kita bekerja sama dengan Kantor PDAM. Kita terima jadi dari PDAM. Ini kita bayar kepada PDAM sesuai dengan kesepatan yang kita tanda tangani kemarin," jelas Nurdiana di depan Musholla.

ArrahmahMedia.Com

Pihaknya berharap dengan keberkahan Al-Quran semoga air ini juga menjadi sekedar air biasa, selain itu juga ada kandungan Al-Quran atau bacaan Al-Quran.

"Ini juga bisa dikatakan air khotmil Quran Fatayat NU," katanya.

Sekarang masih sekitar 150 kemasan karton. Pesanan sudah hampir 1000 untuk di kalangan internal kita. Hanya di kalangan Fatayat. Jadi belum keluar untuk pasaran masih belum, mungkin tanggal 22 bisa didistribusikan," kata Nurdiana. (Ade Nurwahyudi/Alhafiz K)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pendidikan, Fragmen ArrahmahMedia.Com

Minggu, 03 Desember 2017

PBNU Besok Lantik PCI NU Australia

Jakarta, ArrahmahMedia.Com
Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI-NU) kembali bertambah, kali ini giliran Australia dan New Zealand yang akan mendeklarasikan berdirinya wadah kader NU di luar negeri itu.

Pelantikan akan dilaksanakan Jumat (23/9) besok di Canberra oleh Ketua Umum PBNU, KH. Hasyim Muzadi yang akan didampingi oleh ketua PBNU yang membidangi urusan luar negri, H.M. Rozy Munir dan Bendahara PBNU, Siradjul Munir. Sesuai jadwal rombongan akan berangkat malam ini dan tiba nanti jam 9.00 WIB waktu sydney dalam kunjungan sekitar seminggu tersebut.

"NU Australia ini sudah lama dirintis, karena banyak kader potensial NU yang sudah menetap dan melakukan studi disana, jadi dengan dilantiknya PCI ini semakin menambah luas jaringan NU di belahan dunia," ujar Rozy Munir kepada NU. Online di ruang kerjanya.

Hal ini memang menjadi fokus PBNU untuk mengenalkan Islam yang rahmatan lil alamin kepada dunia internasional yang dilakukan kader-kader terbaiknya. Mantan Meneg BUMN jaman Gus Dur ini mencontohkan, ada jajaran akademisi ternama yang menjadi pengurus PCI ini seperti Kacung Marijan, MA. Dosen Unair Surabaya yang duduk di dewan Mustasyar, Muhammad Taufiq Prabowo, H. Umar Faruq Assegaf ada Dr. H.Nadirsyah Hoesen, LLM, MA, (Hons), PhD yang duduk di dewan Syuriah. Sedangkan yang duduk di dewan Tanfidziyah yakni, H. Arif Zamhari, Syuadi Asyari MA, Ghafar Karim MA dengan bendahara Ir. H. Tony Indranada.

Selain melantik pengurus cabang istimewa Australia dan New Zealand, rombongan PBNU juga sudah ditunggu rangkaian jadwal yang padat, antara lain bertemu dengan pejabat pemerintah Australia Acting Secretary Deplu Australia, Ms Gillian Bird, dari AusAID dan Robin Davis dari kepala Indonesia Program Australia. Selain itu rombongan PBNU juga akan bertemu dan berdialog dengan komunitas muslim Australia yang ada di Canberra. Pertemuan tersebut diadakan di Wisma Indonesia di Canberra.

Esoknya, Sabtu (24/9) rombongan akan bertolak ke Melbourne bertemu dan berdialog dengan komunitas Muslim dan Non-Muslim (Jews, Christian, Hindus and Budhas) Australia yang akan membahas masyarakat multikultural dan pengenalan paham NU yang toleran dan moderat. Pada kesempatan itu Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi juga diminta memberikan ceramah agama dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Usai mengunjungi Australia rombongan PBNU yang dipimpin KH. Hasyim Muzadi kemudian berpisah, ia kembali melanjutkan kunjungan ke Vatikan atas undangan KBRI Vatikan untuk bertemu dan berdialog dengan komunitas Muslim dan Non-Muslim di Vatikan. Belum diketahui apakah Hasyim akan bertemu dengan Paus Benedikus XVI, Kardinal Joseph Ratzinger yang terpilih menjadi pengganti Paus Yohannes Paulus II yang meninggal beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan itu mantan Cawapres PDIP ini akan menyampaikan makalah yang berjudul Moderate Islam In Indonesia In The Social Relegion Conflict Resolution di hadapan peserta seminar. Pertemuan ini ditujukan untuk mengenalkan paham-paham keNU-an kepada masyarakat Vatikan.

Sementara rombongan lainnya yang terdiri dari Rozy Munir, Siradjul Munir, Ir. Bina Suhendra, Prof. Masykuri Abdillah dan Dr. Sri Mulyani akan berkunjung ke Singapura untuk mengadakan serangkaian pembicaraan dengan Dekan Lee Kuan Yew School Of Public Policy (LKYSPP) dan National University Singapore.

Kunjungan selama dua hari ini akan dimanfaatkan untuk membahas rencana kerjasama PBNU dan LKYSPP dibidang pendidikan yang antara lain akan mengirimkan kader-kader NU untuk belajar di Singapura dalam bidang Master public Policy dan Public Administration, khususnya di LKYSPP. Selama di Singapura rombongan PBNU akan bertemu pimpinan LKYSPP, Prof. Hui Weng Tat, Vice Dean (Academic Affair), Dr. Suzaina Bte Kadir (Assisten Profesor) dan Hazel Tan (Senior Manager, Student Recruitmen).

"Selama ini memang program belajar ini banyak diikuti oleh pegawai negeri dari Indonesia dan kali ini akan dicoba untuk kalangan ormas dan LSM," ujar Rozy seraya menambahkan bahwa program ini adalah tawaran dari pihak LKYSPP kepada PBNU. (cih).

 

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nahdlatul, Pendidikan ArrahmahMedia.Com

PBNU Besok Lantik PCI NU Australia (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Besok Lantik PCI NU Australia (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Besok Lantik PCI NU Australia

Jumat, 01 Desember 2017

Cara Rasulullah Hormati Sahabatnya

Semakin tinggi derajat seseorang, semakin pula ia dihormati. Tapi Rasulullah punya nilai lebih. Sebagai manusia yang maksum dan pembawa risalah suci, sudah sepantasnya Baginda Nabi Muhamad shallallâhu ‘alaihi wasallam mendapat pemuliaan yang tinggi dari sahabat-sahabatnya. Namun nyatanya, justru Rasulullah-lah yang terdepan meneladankan sikap itu kepada mereka. Beliau yang enggan dihormati tampil sebagai sosok sangat menghormati orang lain.

Tentang hal ini ada sebuah kisah yang diriwayatkan Imam ath-Thabrani. Suatu kali Rasulullah menggelar sebuah pertemuan dengan para sahabatnya. Yang hadir cukup ramai, sehingga majelis itu terlihat sesak.

Cara Rasulullah Hormati Sahabatnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Rasulullah Hormati Sahabatnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Rasulullah Hormati Sahabatnya

Di tengah padatnya peserta forum, Jarir bin Abdullah datang terlambat. Tentu ia tak mendapat jatah tempat duduk. Rasulullah yang mengetahui kondisi Jarir segera menggelar jubahnya lalu menyuruh Jabir duduk di atasnya.

ArrahmahMedia.Com

Hati Jarir terenyuh menyaksikan akhlak luar biasa Rasulullah. Alih-laih mau duduk di atas pakaian Nabi, ia malah mengambil pakaian tersebut, mengangkatnya, lalu menciumnya sambil menangis tersedu-sedu. Batin Jarir, bisa-bisanya Rasulullah begitu menghormati dirinya di depan para sahabat yang lain padahal dia telat?

“Saya tak akan duduk di atas pakaianmu (ya Rasulullah). Semoga Allah memuliakanmu sebagaimana engkau memuliakan diriku,” kata Jarir yang haru campur kagum dengan sifat Rasulullah.

ArrahmahMedia.Com

Rasulullah adalah sosok yang tak gandrung dengan penghormatan. Beliau lebih sering melayani ketimbang dilayani. Nabi menjahit pakaiannya sendiri yang bolong. Menyelesaikan keperluannya tanpa merepotkan orang lain. Pribadinya yang tawaduk juga enggan bila tangannya dicium, meski bukan berarti mengharamkannya. Demikianlah Rasulullah, puncak kemuliaannya tampil sempurna justru dalam kerendahhatiannya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Khutbah, Pendidikan, Internasional ArrahmahMedia.Com

Panitia Konferwil NU Sulsel Terbentuk

Makassar, ArrahmahMedia.Com. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Sulawesi Selatan tengah mempersiapkan hajatan 5 tahun sekali yakni Konferensi Wilayah (Konferwil) NU Sulsel.

Panitia Konferwil NU Sulsel Terbentuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Panitia Konferwil NU Sulsel Terbentuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Panitia Konferwil NU Sulsel Terbentuk

Panitia Konferwil pun terbentuk dalam rapat lengkap Syuriyah dan Tanfidziyah PWNU Sulsel beserta para Ketua Lajnah-Lembaga dan Badan Otonom NU di kediaman Rais Syuriyah PWNU Sulsel DR. AGH. M. Sanusi Baco, Lc, Senin (11/3).

Sebelum diadakannya rapat, Pengurus Tanfidziyah meminta terlebih dahulu nasehat dan petunjuk Rais Syuriyah PWNU Sulsel demi kelancaran dan kemudahan proses konferwil 12 NU Sulsel. Rais Syuriyah menekankan perlunya sikap ikhlas mengurus NU dan meminta ketika panitia terbentuk bekerja sama-sama, agar pekerjaan berat bisa menjadi lebih mudah.

ArrahmahMedia.Com

Setelah diadakan diskusi antara pengurus tanfidziyah dan meminta persetujuan pengurus Syuriyah terpilihlah Drs. H. Abd. Rauf Assegaf, M.Pd sebagai Ketua Panitia dan Amiruddin Aminullah, SH.I, MH.I sebagai Sekretaris Panitia. Sebelumnya Prof. DR. H. Arfin Hamid, MH terpilih sebagai Ketua Steering Committee untuk mengawal jalannya persidangan Konferwil nanti. 

Pada hari itu pula diputuskan Konferwil ke-12 NU Sulsel akan diselenggarakan pada tanggal 29 – 31 Maret 2012 di Kab. Pangkep yg bertempat di Pondok Pesantren Padallampe Dahrul Mukhlisin. Pemilihan tempat ini didasarkan oleh kesepakatan pengurus melihat NU berasal dari Pesantren dan kembali juga mesti harus di Pesantren.

ArrahmahMedia.Com

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Andy Muhammad Idris 

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pesantren, Pendidikan, Hadits ArrahmahMedia.Com

Minggu, 26 November 2017

Hindari Merasa Lebih Hebat dan Suka Merendahkan Orang Lain!

Pringsewu, ArrahmahMedia.Com?

Bupati Pringsewu H Sujadi menyampaikan kajian Tafsir Surat Al Maun pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) di Gedung NU, Ahad (19/3). ? Ia menganjurkan untuk tidak merasa lebih dari yang lain, apalagi dibarengi dengan merendahkan mereka.?

"Rasa lebih hebat dari orang lain dan suka merendahkan orang lain termasuk bagian dari penjabaran makna hakiki dari perilaku menghardik para yatim," katanya menjelaskan surat Al Maun yang sebagian diturunkan di Makkah dan sebagian diturunkan di Madinah.

Hindari Merasa Lebih Hebat dan Suka Merendahkan Orang Lain! (Sumber Gambar : Nu Online)
Hindari Merasa Lebih Hebat dan Suka Merendahkan Orang Lain! (Sumber Gambar : Nu Online)

Hindari Merasa Lebih Hebat dan Suka Merendahkan Orang Lain!

Abah Sujadi, begitu ia biasa disapa, menjelaskan bahwa salah satu makna hakiki dari yatim berdasarkan kitab Tafsir Ibnu Katsir yang menjadi rujukan pada kajian tersebut adalah orang tidak mempunyai kapasitas dan memiliki kondisi yang memerlukan perhatian.

Jika seseorang suka merendahkan orang lain yang membutuhkan perhatian, maka menurutnya, orang tersebut termasuk golongan yang sudah mendustai agama sebagaimana ditegaskan dalam ayat pertama surat Al-Maun tersebut.

ArrahmahMedia.Com

"Orang yang mendustakan agama adalah yang menghardik yatim, tidak memberikan makan orang miskin, lalai dalam shalat, orang yang senang pamer atau riya dan orang yang mencegah dari perbuatan kebaikan," terangnya mengutip arti surat Al-Maun yang memiliki makna kebaikan ini.

Kiai alumnus Pesantren Kalibeber Wonosobo Jawa Tengah ini juga menjelaskan bahwa surat Al-Maun merupakan surat yang strategis dan mendapatkan perhatian lebih dari surat lain di Al-Quran.?

Hal ini, menurutnya, karena surat ini dimulai dengan kalimat pertanyaan yang memiliki makna bukan untuk dijawab, tspi untuk menekankan pentingnya memperhatikan apa isi dari yang disampaikan.

"Dalam surat ini tertulis juga kata “dzalika” yang berarti itu bukan bukan “hadza” yang berarti ini. Bahasa seperti ini menyiratkan bahwa orang yang suka merendahkan orang lain dan bangga dengan posisinya termasuk orang yang jauh dari Allah SWT," jelas kiai yang energik dan murah senyum ini.

ArrahmahMedia.Com

Oleh karenanya, ia mengajak untuk senantiasa menunjukkan perhatian kepada orang-orang yang memang memerlukan perhatian terutama anak-anak yatim.

"Perhatian kepada yatim juga mennunjukkan kesungguhan dalam beragama. Jangan sekali-kali mengurusi anak yatim untuk urusan dunia. Keberkahanan akan datang kepada yang ikhlas merawat anak-anak yatim," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pendidikan, Pondok Pesantren, Makam ArrahmahMedia.Com

Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah, Gus Mad Cabean Wafat

Pasuruan,? ArrahmahMedia.Com. KH Ahmad Ali Bahruddin, salah satu ulama thariqah, mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah, yang juga pengasuh PP At Taqwa Cabean, ? Kraton, ? Pasuruan meninggal dunia, pada Sabtu (13/5) pagi, sekitar 08.30 Wib di RS Saiful Anwar, Malang.?

Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah, Gus Mad Cabean Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah, Gus Mad Cabean Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah, Gus Mad Cabean Wafat

Kiai bersahaja yang biasa dipanggil Gus Mad Cabean ini membina ribuan jamaah thariqah dan santri pesantren di kawasan Desa Cabean, sekitar 15 km dari pusat Kota Pasuruan.?

"Beliau wafat karena sakit yang cukup lama dan sempat dirawat beberapa hari terakhir di rumah sakit," ungkap H Misbahul Munir, ? Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur yang masih kerabat almarhum.?

Terlahir dengan nama Ismail, ? Gus Mad yang juga Mustasyar PCNU Kabupaten Pasuruan ini tercatat ulama yang masih cucu keponakan ulama besar, ? waliyullah KH Ali Masud (Mbah Ud) Pagerwojo Sidoarjo.?

ArrahmahMedia.Com

Masa mudanya, dihabiskan untuk nyantri pada KH. Abdul Hamid alias Mbah Hamid Pasuruan yang dikenal sangat dekat dengan Mbah Ali Masud Pagerwojo. Nama Muhammad Ali Bahruddin adalah nama pemberian sang guru, KH Abdul Hamid saat Ismail muda masih mondok di Pesantren Kebonsari, ? Pasuruan.?

Mbah Hamid sangat menginspirasi almarhum dalam banyak hal, termasuk saat akan menikah, mengasuh pesantren hingga membina jamaah thariqah.

Pesantrennya dikenal dengan sebutan PESAT CAKAP, akronim dari Pesantren Attaqwa Cabean Kraton Pasuruan ini bahkan pernah menjadi tempat Muktamar Jamiyyah Ahli Thariqah Almutabarah Annahdliyah pada tahun 1990an saat jamiyyah ini masih dipimpin oleh Almarhum KH. Idham Cholid.?

Gus Mad menikah di usia 21 tahun, dan Allah memberi rejeki anak yang sangat berlimpah hingga 49 anak dari empat istri. Mereka semua kini menyebar di berbagai daerah untuk meneruskan perjuangan menyebar kedamaian Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah melalui pesantren, majelis talim, thariqah dan lembaga pendidikan.?

ArrahmahMedia.Com

Mautul Alim, mautul alam, ? satu orang berilmu mati, ? alam terasa gelap mati. Tugas kita menjaga keabadian cahaya ilmu para ulama, yang satu demi satu telah meninggalkan kita. (Ahj/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Bahtsul Masail, Pendidikan, Hikmah ArrahmahMedia.Com

Kamis, 23 November 2017

Harlah ke-61 Muslimat NU Berlangsung Meriah

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Perayaan hari lahir (harlah) ke-61 Muslimat Nahdlatul Ulama hari ini, Kamis (29/3), berlangsung sangat meriah. Lebih dari 15.000 anggota Muslimat memenuhi Istora Senayan sampai-sampai banyak yang tak kebagian tempat duduk dan harus berdiri atau duduk di lantai.

Ketua Umum PP Muslimat Khofifah Indar Parawansa menjelaskan selama 61 tahun, Muslimat NU berusaha turut membangun bangsa dengan memberdayakan kaum perempuan.

Program kesetaraan gender, menurut mantan menteri pemberdayaan perempuan ini tak hanya bisa dilakukan lewat wacana saja. “Muslimat terjun langsung pada masyarakat dengan turut memberantas buta huruf, baik huruf latin maupun huruf Arab,” tuturnya.

Harlah ke-61 Muslimat NU Berlangsung Meriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah ke-61 Muslimat NU Berlangsung Meriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah ke-61 Muslimat NU Berlangsung Meriah

Khofifah menuturkan bahwa ia baru saja datang dari NTT. Banyak ibu-ibu yang dimintai cap jempol oleh suaminya yang tak tahunya adalah untuk menikah lagi. Kondisi yang sama juga dialaminya di Sulsel. Ada diantara ibu-ibu yang tak bisa membantu anaknya belajar karena tak bisa membaca. Namun setelah mengikuti program muslimat kini mereka bisa membaca running teks di TV.

Alumni Universitas Airlangga Surabaya ini menjelaskan saat ini problematika yang dihadapi oleh bangsa Indonesia masih berat. Krisis multidimensional masih belum selesai dan membutuhkan dukungan bersama untuk mengentaskannya. Ia juga meminta pemerintah untuk tidak tebang pilih dalam meberantas korupsi.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh seperti Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, Gubernur DKI Sutiyoso, Menkokesra Abu Rizal Bakri, Menteri Percepatan Daerah Tertinggal Saifullah Yusuf, Menteri Koperasi dan UKM Surya Darma Ali, Wakil Ketua MPR Aksa Mahmud dan Wagub DKI Fauzi Bowo.

ArrahmahMedia.Com

Kegiatan yang sekaligus memperingati maulud nabi ini mengambil tema “Membangun Bangsa Berdasarkan Persatuan, Persaudaraan, Profesionalitas dan Akhlakul Karimah”. Beberapa wilayah secara simbolis menerima peralatan jahit yang diberikan oleh Menkokesra Abu Rizal Bakri  sebagai bagian dari program peningkatan life skill hasil kerjasama dengan Depdiknas.

Para ibu-ibu juga dihibur dengan alunan nada dari Opick serta ceramah agama oleh ustadz Jefry Al Buchori dan ustadz Ahmad al Habsy. Sutiyoso dalam sambutannya juga menawarkan para ibu-ibu Muslimat untuk melihat “Air Mancur Berjoget” di Monas yang biasanya hanya dibuka pada Sabtu dan Minggu malam.

ArrahmahMedia.Com

Saat ini Muslimat sudah mengelola lebih dari 9900 TK, 11.000 Raudhatul Atfal, 4223 pendidikan anak usia dini, 131 koperasi primer, 490 program keaksaraan dan 35.000 majelis taklim di seluruh Indonesia. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Meme Islam, Pendidikan ArrahmahMedia.Com

Mengupayakan Ongkos Berhaji?

Sebagai salah satu dari lima rukun Islam ibadah haji memiliki catatan tersendiri untuk kewajiban pengamalannya. Syahadat adalah pintu utama untuk mengamalkan kewajiban dan berbagai macam amalan lain dalam Islam. Siapapun belum dianggap berislam bila belum melewati pintu utama ini, tak bisa ditawar. Demikian pula dengan shalat. Dalam kondisi apapun seorang Muslim wajib melakukan shalat dengan cara apapun yang ia bisa. Bila ada satu dua shalat yang terlewatkan ia berkewajiban untuk mengqadla atau menggantinya. Demikian pula dengan puasa dan zakat. Keempatnya adalah rukun Islam yang mau tidak mau setiap Muslim harus mengamalkannya. Kalaupun ada kelonggaran untuk tidak mengamalkannya maka ada kompensasi tertentu yang mesti ia jalani.

Namun tidak demikian dengan haji. Rukun Islam yang satu ini memiliki catatan khusus dalam pengamalannya, yakni syarat adanya kemampuan.

Mengupayakan Ongkos Berhaji? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengupayakan Ongkos Berhaji? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengupayakan Ongkos Berhaji?

Dalam Al-Qur’an Surat Ali Imron ayat 97 Allah berfirman:

? ? ? ? ? ? ? ? ?

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com

Artinya, “Dan wajib atas manusia karena Allah berhaji ke Baitullah yakni bagi orang yang mampu menjalaninya.”

Tentang ayat ini para mufasir menjelaskan bahwa syarat melakukan ibadah haji adalah memiliki kemampuan dalam hal bekal, kendaraan, dan juga nafkah bagi keluarga yang ditinggalkan sampai dengan kembali lagi kepada mereka. Lebih lanjut, masih dalam hal kemampuan, Imam Baghawi juga mensyaratkan adanya keamanan dalam perjalanan, terbebas dari tanggungan hutang serta beberapa syarat lainnya (lihat Husain bin Mas’ud Al-Baghawi, Ma’alimut Tanzil (Kairo: Darul Alamiyah, 2015), jilid 1, hal. 463)

Secara ringkas kita sering menyebut ibadah haji sebagai ibadah yang wajib dilakukan bagi seorang Muslim yang mampu saja, yang tidak mampu tidak wajib berhaji. Hanya saja pada prakteknya batas kemampuan ini menjadi rancu ketika diterapkan di masyarakat.

Ada orang yang ditanya kapan ia akan beribadah haji lalu menjawab dengan kalimat “saya belum mampu”, “saya tidak punya uang sebanyak itu untuk mendaftar” dan jawaban semisalnya yang menunjukkan ketidakmampuannya. Padahal bila melihat harta yang dimiliki bisa jadi sesungguhnya ia telah memiliki kemampuan dan terkena beban kewajiban untuk berhaji. Ada semacam pemahaman di masyarakat bahwa seseorang dianggap mampu berhaji apabila pada satu waktu ia memiliki sejumlah uang yang cukup untuk mendaftar dan melunasi biaya ibadah haji serta untuk bekal selama di tanah suci. Meski ia mampu membeli sepeda motor dan bahkan mobil sekalipun, bila pada satu waktu ia tak memiliki uang yang cukup untuk berbagai macam biaya haji maka ia anggap dirinya belum mampu dan bebas dari kewajiban berhaji. Pemahaman seperti ini kiranya kurang pas.

Bila melihat kedudukan ibadah haji sebagai salah satu rukun Islam—dimana rukun bisa berarti sebagai tiang penyangga yang membuat kokoh bangunan Islam—semestinya setiap orang Muslim berkemauan untuk berusaha secara maksimal untuk mendapatkan kemampuan berhaji sehingga kelima rukun Islam dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. Semestinya setiap Muslim memiliki niat dan usaha yang kuat untuk bisa melaksanakan ibadah haji dan tidak bersembunyi di balik alasan “Allah belum memanggil saya”. Karena kedudukannya sebagai rukun Islam semestinya setiap Muslim tidak menomorsekian kan ibadah haji lalu lebih memilih menggunakan hartanya untuk keperluan konsumtif yang lain.

Beranjak dari pemahaman di atas bisa diambil satu contoh bahwa seorang yang mampu membeli sepeda motor—umpamanya—secara kredit sesungguhnya ia juga dapat mengupayakan untuk mampu beribadah haji. Taruhlah seseorang membeli sepeda motor dengan uang muka lima juta rupiah. Ia terkena kewajiban melunasinya dengan mengangsur selama lima tahun atau enam puluh kali dengan besar angsuran lima ratus ribu rupiah per bulan. Maka ketika lunas ia telah mampu membayar sepeda motor itu seharga tiga puluh lima juta rupiah. Itu juga berarti ia mampu untuk menyisihkan uang sebanyak itu dalam waktu lima tahun. Bersamaan dengan itu ia juga bisa menjalani hidup secara layak, membiayai sekolah anak-anaknya, membayar beberapa tagihan rekening, dan memenuhi kebutuhan lainnya. Artinya pula, orang yang mampu membeli sepeda motor dengan pola seperti itu sesungguhnya ia juga mampu untuk mengusahakan kemampuan berhaji dari sisi biaya dengan cara menyisihkan penghasilan lima ratus ribu per bulan.

Namun yang terjadi di masyarakat tidaklah demikian. Banyak di antara mereka yang begitu mudah menyisihkan penghasilan demi membeli berbagai macam kebutuhan yang tak lagi primer, namun merasa berat untuk melakukan hal yang sama demi bisa melaksanakan rukun Islam kelima dengan alasan mulai dari “masih banyak kebutuhan ini dan itu” sampai alasan “belum dipanggil Allah”.

Bila dicermati lebih lanjut sesungguhnya upaya untuk mampu berhaji banyak dipengaruhi oleh seberapa besar niat dan kemauan untuk melaksanakannya. Setiap tahun di musim haji melalui media massa kita sering mendengar cerita seseorang yang dapat berhaji dari usahanya sebagai seorang pemulung, penjualan jajanan kecil di pinggir jalan, buruh cuci pakaian dan lain sebagainya. Karena kemauan yang kuat mereka sisihkan sebagian kecil pendapatannya yang memang tak besar. Dan setelah sekian tahun lamanya pada akhirnya mereka berkemampuan untuk berhaji dari uang tabungannya sebagai buah dari upaya memampukan diri.

Sebagai penutup, sekali lagi dari melihat bahwa haji adalah rukun Islam yang semestinya juga dipenuhi sebagaimana rukun Islam lainnya, kiranya tidak berlebihan bila pemahaman bahwa “haji adalah ibadah yang wajib bagi orang yang mampu” sedikit digeser menjadi bahwa “haji adalah ibadah yang wajib bagi semua umat Islam kecuali bagi yang tidak mampu”. Wallahu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pendidikan, Ulama ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 11 November 2017

Inilah Keterangan Habib Syech Terkait Nama Ahbabul Musthofa

Solo, ArrahmahMedia.Com. Nama Majelis Ahbabul Musthofa yang diasuh oleh Habib Syech bin Abdul Qadir As-Segaf cukup populer bagi masyarakat Aswaja pecinta lantunan shalawat di Indonesia, bahkan dunia. Majelis dzikir dan shalawat yang sudah berdiri puluhan tahun lalu ini menginspirasi orang untuk semakin mencintai Nabi Muhammad saw. melalui pujian shalawat.

Ahbabul Musthofa sendiri bermakna para pecinta Al-Musthofa, Rasulullah saw. “Kenapa dinamakan Ahbabul Musthofa? Supaya kita diakui menjadi kekasihnya dan di akhirat bersama Rasulullah saw.” kata Habib Syech pada acara Harlah Ke-18 Ahbabul Mustofa di Masjid Agung Surakarta, Sabtu (9/1) malam.

Inilah Keterangan Habib Syech Terkait Nama Ahbabul Musthofa (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Keterangan Habib Syech Terkait Nama Ahbabul Musthofa (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Keterangan Habib Syech Terkait Nama Ahbabul Musthofa

Mustasyar PWNU Jateng itu menambahkan, majelis Ahbabul Musthofa dulu awalnya cuma lima sampai enam orang. “Sekarang alhamdulillah bertambah banyak,” ujarnya.

ArrahmahMedia.Com

Dalam kesempatan ini Habib Syech berpesan kepada ribuan jamaah yang hadir untuk senantiasa menguatkan keyakinan kepada Allah. “Kita kuatkan keyakinan kita, husnuzzhan kepada Allah. Insya Allah selamat di dunia dan akhirat,” ungkap dia.

ArrahmahMedia.Com

Ia juga berdoa agar Allah menghentikan pertikaian umat Islam di seluruh dunia. “Pertikaian umat Islam di Syiria, Yaman, dan di manapun semoga Allah menghentikan pertikaian yang ada di sana,” harap dia. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pendidikan, Warta, Ubudiyah ArrahmahMedia.Com

Kamis, 09 November 2017

Kiai Tarekat Bahas Proyek Arab Saudi

Malang, ArrahmahMedia.Com. Para kiai tarekat mulai merespon kebijakan-kebijakan pemerintah Arab Saudi terkait renovasi Masjidil Haram dan Masjid An-Nabawi serta perluasannya. Akibat dari renovasi yang dilakukan itu adalah digusurnya tempat-tempat bersejarah umat Islam dan berubahnya sanana ibadah haji dan umrah.

Kiai Tarekat Bahas Proyek Arab Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Tarekat Bahas Proyek Arab Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Tarekat Bahas Proyek Arab Saudi

Para kiai dan pengamal tarekat yang tergabung dalam Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah membahas mengenai kebijakan-kebijakan di negara Hejaz itu dalam rapat koordinasi persiapan bahan kajian Musyawarah Nasional, Senin (6/1) di Pondok Pesantren Al-Hidayah Donowarih Karangploso Malang.

Salah satu permasalahan yang berkaitan dengan kebijakan Arab Saudi yang dibahas dalam rapat Idaroh Aliyah adalah pelestarian situs-situs sejarah Islam yang berkaitan dengan Nabi dan Sahabatnya.

ArrahmahMedia.Com

Disinyalir situs-situs itu akan dimusnahkan. Juga masalah tempat thawaf (ma’thaf) dan sa’i (mas’a) yang rencannya akan diganti dengan lantai bergerak (eskalator). Sehingga meskipun harus mengelilingi Ka’bah dan berjalan dari Shafa-Marwa para peziarah haji tidak perlu berjalan. Jatman akan membahas hukumnya dalam Munas Kaltim nanti.

Isu lainnya mengenai rencana pembuatan Hidrolift untuk Maqam Ibarahim oleh pemerintah Saudi. Dimana dengan dipasangnya hidralif maka Maqam Ibrahim bisa disimpan di dalam tanah jika dikehendaki dan bisa dimunculkan kembali ke permukaan pada saat musim haji. Dalam masalah ini Jatman akan menentukan sikap.

ArrahmahMedia.Com

“Kalau mengenai tempat thawaf dan Sa’i selama ini kami hanya mendengar bahwa itu sekedar wacana. Akan tetapi masalah Maqam Ibrahim katanya dalam waktu dekat ini akan direalisasikan,” kata seorang Kiai utusan dari Probolinggo.

"Kami sudah meneliti masalah ini bersama Gus Yusuf kemarin lalu. Dan informasi yang kami dapatkan adalah bahwa ini adalah politik Pemerintah Saudi untuk menghilangkan Maqam Ibrahim supaya tidak ada orang ziarah kesana. Jangan-jangan setelah disimpan dalam tanah akan dikunci dan tidak akan dikembalikan,” tambah sang Kiai.

Oleh karen itu, rapat menghasilkan keputusan bahwa semua yang dihasilkan dalam Munas nanti yang berkaitan dengan Pemerintah Arab Saudi akan dikirim utusan untuk menyampaikannya.

“Kita yakin bahwa Raja Saudi akan mempertimbangkan aspirasi kita untuk menentukan kebijakannya,” kata Kiai Zaenal Pimpinan rapat. (Ahmad Nur Kholis/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nahdlatul, Pendidikan, Nasional ArrahmahMedia.Com

Rabu, 01 November 2017

Jaga Tradisi, Ansor Pacitan Gelar Sepak Bola Api Brojo Geni

Pacitan, ArrahmahMedia.Com. Ada banyak cara dilakukan untuk memeriahkan datangnya tahun baru Islam. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh keluarga besar GP Ansor Pacitan yang menggelar Gebyar 1 Muharram 1437 H dengan tema ‘Islam Nusantara: Agama yang berbudaya, budaya yang beragama’, Selasa malam (14/10) di kawasan wisata pantai selatan Pacitan, Jawa Timur.

Jaga Tradisi, Ansor Pacitan Gelar Sepak Bola Api Brojo Geni (Sumber Gambar : Nu Online)
Jaga Tradisi, Ansor Pacitan Gelar Sepak Bola Api Brojo Geni (Sumber Gambar : Nu Online)

Jaga Tradisi, Ansor Pacitan Gelar Sepak Bola Api Brojo Geni

Khoirul Anam, Ketua GP Ansor Pacitan mengatakan, pihaknya sengaja memperingati tahun baru hijriyah dengan menggelar pagelaran budaya karena didasari rasa keprihatinan atas banyaknya kebudayaan lokal yang mulai hilang tergeser kemajuan zaman.

"Kami ingin mengangkat dan menampilkan kembali kearifan lokal seperti sepak bola api Brojo Geni dan pembacaan Sholawat Khataman Nabi yang biasa dilakukan oleh para sesepuh terdahulu saat datangnya tahun baru hijriyah," katanya dihadapan ratusan anggota banser dan masyarakat.

ArrahmahMedia.Com

Dalam kesempatan itu, ditampilkan permainan sepak bola api brojo geni yang dilakukan oleh para santri dari Pondok Tremas Pacitan. Sebelumnya para santri telah melakukan tirakat dengan berpuasa selama seminggu dan telah melewati serangkaian proses latihan.?

Permainan sepak bola api brojo geni dilakukan layaknya pertandingan futsal. Tetapi mereka tidak menggunakan sepatu. Bola yang digunakan merupakan bola khusus yang terbuat dari sabut kelapa. Kemudian bola api itu direndam ke dalam minyak tanah dan disulut api hingga terbakar. Butuh kemampuan khusus untuk memainkan permain ala pesantren itu. Mereka yang pemberani yang sanggup berebut bola dan menendangnya ke gawang.

ArrahmahMedia.Com

Antusias pemain dan penonton sepak bola api cukup besar sehingga pertandingan berlangsung dengan semarak. Selama permainan berlangsung, dibacakanlah sholawat dan syi’iran Jawa yang dibawakan oleh jam’iyyah sholawat dari MWCNU Kecamatan Kebonagung Pacitan.

Menurut Agus Susanto salah satu panitia mengatakan, filosofi permainan bola api yang diajarkan oleh kiai kepada para santrinya mempunyai makna yang dalam. Ketakwaan dilambangkan dengan puasa sebelum memulai permainan, pengendalian nafsu dilambangkan dengan bola api yang selalu menyala dan berbuat baik kepada sesama yang dilambangkan kerjasama saling menghargai antar-pemain. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sejarah, Pahlawan, Pendidikan ArrahmahMedia.Com

Kamis, 26 Oktober 2017

Ratusan Anggota GP Ansor Subang Dibaiat di Pesantren

Subang, ArrahmahMedia.Com. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Subang, Jawa Barat, menggelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) dan Pendidikan Latihan Dasar (Diklatsar) Barisan Ansor Serbaguna (Banser).

Acara yang dipusatkan di Pondok Pesantren Nurul Anwar, Kelurahan Dangdeur, Subang tersebut diikuti oleh 150 delegasi dari sejumlah Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor di seluruh Kabupaten Subang. Mereka mengikuti kegiatan tersebut sejak hari Jumat-Ahad (20-22/11/2015). Bertindak sebagai pembaiat KH. Zezen Zainal, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Anwar Subang.

Ratusan Anggota GP Ansor Subang Dibaiat di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Anggota GP Ansor Subang Dibaiat di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Anggota GP Ansor Subang Dibaiat di Pesantren

Panitia Pelaksana Ade Mahmudin mengatakan, sejak kelahirannya, GP Ansor diwarnai oleh semangat perjuangan, nasionalisme, pembebasan, dan epos kepahlawanan.

ArrahmahMedia.Com

"GP Ansor terlahir dalam suasana keterpaduan antara kepeloporan pemuda pasca Sumpah Pemuda, semangat kebangsaan, kerakyatan, dan sekaligus spirit keagamaan," ujar Ade usai penutupan PKD dan Diklatsar Banser, Ahad (22/11/2015).

Dikatakan, dengan semangat perjuangan itulah kemudian mampu diaktualisasikan dalam bentuk pemikiran dan sikap GP Ansor dalam konteks kekinian, yakni semangat bela negara. "Jadi kalau bicara soal bela negara, GP Ansor sudah lama menjewantahkannya dalam bentuk kegiatan kaderisasi PKD dan Diklatsar," katanya.

ArrahmahMedia.Com

Sementara, Ketua PC GP Ansor Kabupaten Subang, Asep Alamsyah Heridinata menegaskan, kegiatan kaderisasi di GP Ansor ini rutin digelar setiap tahunnya. "Saat ini sudah memasuki tahun ke tiga kita laksanakan PKD dan Diklatsar. Artinya, kader-kader Ansor dan Banser sudah merumput di tingkatan grashroot hingga seluruh kecamatan di Kabupaten Subang," kata Asep.

Ia mengatakan, kendati saat ini menjelang pelaksanaan Kongres Ansor yang akan digelar pada Rabu (25/11/2015) di Jogjakarta mendatang, urusan kaderisasi menjadi hal yang sangat prioritas sebagai tanggungjawab pemimpinan organisasi.

"Tapi alhamdulillah, kita akhirnya bisa menggelar kaderisasi GP Ansor dengan lancar, kendati sebentar lagi GP Ansor akan menghelat hajat besar, yakni Kongres di Jogjakarta," ujarnya.

Dikatakannya, ratusan kader Ansor dan Banser ini akan diberikan kesempatan untuk mengembangkan sayap di tingkat kecamatan. "Karena persyaratan untuk menjadi anggota dan pengurus Ansor di tingkat kecamatan harus ikut PKD terlebih dahulu. Dan syarat untuk menjadi anggota Banser (Barisan Ansor Serbaguna) itu harus Diklatsar terlebih dahulu," pungkasnya. (Red: Mahbib)

Foto: Suasana saat pembaiatan

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Amalan, Pendidikan, Pesantren ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock