Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Pra-Munas di Manado Angkat NU dan Kebhinekaan

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Masyarakat Sulawesi Utara (Sulut) dikenal sebagai salah satu miniatur keberhasilan dari pelaksanaan toleransi kehidupan beragama dengan latar belakang budaya yang beragam. Saudara-saudara kita dari pemeluk Nasrani yang mayoritas punya sikap toleran dan empati yang tinggi terhadap masyarakat Muslim yang minoritas, dan begitu pula sebaliknya, masyarakat Muslim tahu duduk soal dirinya: bagaimana bertindak dan berprilaku sebagai masyarakat yang minoritas.

Karena saling mengerti dan saling berempati inilah, masyarakat di Sulut ini hidup dalam suasana damai. Tak terjadi gejolak seperti di tempat-tempat lain. Gambaran positif inilah yang, antara lain, menjadi latar belakang Pra-Musyawarah Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas dan Konbes NU 2017) ini dilaksanakan di Kota Manado. Artinya, PBNU ingin menyerap nilai-nilai positif dari kehidupan masyarakat Sulut untuk dijadikan nilai tambah bagi kehidupan masyarakat majemuk secara nasional. Karena itu pula PBNU sengaja mengambil tema, NU dan Kebhinekaan.



Pra-Munas di Manado Angkat NU dan Kebhinekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pra-Munas di Manado Angkat NU dan Kebhinekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pra-Munas di Manado Angkat NU dan Kebhinekaan



Kegiatan Pra-Munas Konbes di Manadao diisi dengan seminar yang akan dibuka oleh Gubernur Sulut, Olly Dondokambey di Hotel Aryaduta Manado, Sabtu 11 November. Seminar menghadirkan dua pembicara utama, yaitu: KH. Said Agil Siroj (Ketua Umum PBNU) serta Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri.

ArrahmahMedia.Com





Seminar juga akan menerima masukan KH. Yahya Cholil Staquf (Katib Aam Syuriyah PBNU), serta Pendeta AWB Sumakul (Ketua Sinode Gereja Injili Minahasa), dan Yong Ohoitimur (Rektor Universitas Delasale).

ArrahmahMedia.Com

Kegiatan tersebut rencananya diikuti para utusan dari pengurus wilayah NU se-Indonesia Timur yang meliputi Provinsi Papua, Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara, NTT, Bali, Gorontalo, Sulsel, Sulteng, Sulbar dan Sultra, di samping Ormas dan FKUB se-Provinsi Sulut sendiri. Khusus untuk Sulut Pra-Munas Alim Ulama dan Konbes NU juga melibatkan para utusan dari PCNU, Badan Otonom dan Lembaga NU se-Provinsi Sulut.

Menurut Ketua PBNU Robikin Emhas yang juga Ketua Panitia Pusat Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2017, rangkaian kegiatan Pra-Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Manado merupakan kegiatan yang keempat.

Sebelumnya telah berlangsung di Zona Indonesia Tengah di Palangkaraya Kalimantan Tengah pada 20 Oktober 2017. Kegiatan Pra-Munas Alim Ulama dan Konbes NU kedua di Zona Indonesia Barat berlangsung di Lampung 3-4 November 2017.





"Manado sengaja dipilih, karena daerah ini dikenal sebagai miniatur keragaman di Indonesia," kata Robikin, Jumat (10/11).

Ditegaskan pula bahwa, keragaman atau kebhinekaan adalah suatu keniscayaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.





"Itu adalah karunia Tuhan yang harus kita pelihara. Jangan sebaliknya, kebhinekaan dirusak dan dijadikan alat mendestruksi harmoni sosial dan kehidupan berbangsa dan bernegara," imbuh Robikin.

Amin Lasena, Ketua Panitia Lokal Pra-Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Manado menyatakan, ada dua hal hingga acara kegiatan ini terselenggara di Manado. Pertama, katanya, ini adalah bentuk kepercayaan PBNU pada PWNU Sulut. Kedua, tambah Amin Lasena, karena huhungan baik NU dengan para pimpinan di Sulut.

"PWNU dan Gubernur punya visi yang sama untuk terus mempertahankan Sulut sebagai miniatur kebhinekaan. Karena itu kami mendukung sepenuhnya kepemimpinan Gubernur," ujar Amin.

Pra-Munas Alim Ulama dan Konbes NU Zona Indonesia Timur di Manado ini secara bersamaan juga berlangsung di Jawa Barat, tepatnya Purwakarta, sebagai rangkaian kegiatan Pra-Munas Alim Ulama ketiga, yang secara khusus membahas Bahtsul Masail. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Ahlussunnah, Bahtsul Masail ArrahmahMedia.Com

Kamis, 08 Februari 2018

Gus Yusuf: Islam Gus Dur Tidak Boros Takbir

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Dalam perjuangannya membumikan Islam selama hidupnya, memanusiakan masyarakat, menegakkan keadilan hukum, kesejahteraan, demokratisasi dan pluralism di Indonesia, yang pantang menyerah diibaratkan Gus Yusuf (Magelang Jateng) sebagai perwujudan Islam yang tidak boros takbir atau terlalu sering mengucapkan Allahu Akbar.



Gus Yusuf: Islam Gus Dur Tidak Boros Takbir (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Yusuf: Islam Gus Dur Tidak Boros Takbir (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Yusuf: Islam Gus Dur Tidak Boros Takbir

“Kalau di kampus-kampus dan kota-kota di Indoensia makin marak dengan kumandang takbir dalam menjalankan ajaran agama, tapi tidak demikian dengan Gus Dur. Karena bagi santri itu sehari-semalam cukup lima kali takbir. Sebab, kalau sering disebut was-was, peragu dan itulah yang dekat dengan syetan,”tandas Gus Yusuf dalam acara haul Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, Kamis (30/12) malam.

Yang jelas kata Gus Yusuf, Gus Dur itu merupakan inspirasi bagi bangsa ini yang menempatkan sama antara satu dengan golongan masyarakat yang lain. Sehingga Gus Dur dan NU pun bisa diterima di mana-mana dan kapan saja. Sebagaimana keikhlasan dan ketulusannya dalam mengabdi kepada masyarakat, maka dalam kondisi sakit parah pun beliau masih sempat mengucapkan ‘Selamat Natal’ kepada teman-temannya

ArrahmahMedia.Com

Untuk itulah lanjut Gus Yusuf, kehadiran kita dalam haul ini sebegai generasi muda adalah sebagai komitmen untuk melanjutkan perjuangan Gus Dur, menegakkan niat dan meluruskan perjuangan. Dan, yang paling penting adalah sebagai ta’dzim, hormat kita kepad guru dan orangtua, yang kini mulai pudar di negeri ini.

ArrahmahMedia.Com

Apa artinya symbol-simbol agama yang megah dan mewah, jika kondisi masyarakatnya terpecah-belah dan memprihatinkan. Gus  Dur kata Gus Yusuf, Selalu menceritakan ketika di Pesantren Tegalrejo, Magelang asuhan KH Khudori. Dalam cerita itu terjadi tarik-menarik kepentingan masyarakat antara mendirikan masjid dan membeli gamelan.

“Mengingat tanpa masjid pun umat Islam bisa beribadah, sedangkan mereka juga perlu hiburan, maka KH Khudori memilih uang desa itu digunakan untuk membeli gamelan. Toh dengan kebersamaan, masjid pasti akan terbangun. Sedangkan gamelan bekas itu tidak mesti selalu ada, apalagi dengan harga murah,”katanya menirukan cerita Gus Dur.

Cerita lain lanjut Gus Yusuf,  sewaktu ingin makan ikan, Gus Dur mengajak keempat temannya untuk mengambil di kolam ikan pesantren miliki KH Khudori. Ketika malam itu ikannya sudah banyak dalam ember, KH Khudori keluar menggunakan sandal (bakiak). Mendengar itu Gus Dur menyuruh teman-temannya lari meninggalkan kolam ikan. Sedangkan Gus Dur duduk di samping ikan dalam ember tersebut.

Karuan saja ketika kepergok KH Khudori, beliau menanyakan,”Lagi ngapain Durrahman?”  Kata  Gus Dur, “Ini kiai, lagi menyelamatkan ikan yang mau diambil, tadi orangnya berlarian.” “Ya, sudah kamu goring saja?” jawab KH Khudori. Akhirnya Gus Dur kembali masuk kamar pesantren dan memanggil teman-temannya tadi. Teman-temannya pun menolak dituduh sebagai pencuri, karena semua itu atas inisiatif Gus Dur.

Lalu Gus Dur mengatakan, “Kamu kan tadi ingin ikan dan sekarang sudah ada ikannya, halal lagi. Jadi, ayo kita goreng.” Maka digorenglah semua ikan emas dalam ember tersebut. Artinya, seluruh liku-liku, hiruk-pikuk, pahit getirnya perjuangan Gus Dur selama ini adalah dilalui dengan jalan yang benar, halal dan untuk kepentingan rakyat, bangsa dan Negara. Oleh sebab itu, kita semua harus meneladani dan melanjutkan perjuangannya.(amf)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Bahtsul Masail, Anti Hoax ArrahmahMedia.Com

Rabu, 07 Februari 2018

Ngaji Istinbathul Ahkam, PBNU Siapkan Kader Bahtsul Masail Priangan Barat

Cianjur, ArrahmahMedia.Com - Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) mengadakan pendidikan istinbathul ahkam (proses pengambilan keputusan dalam hukum Islam) di Pondok Pesantren Ar-Riyadh, Kabupaten Cianjur. Selama dua hari, Sabtu-Ahad (11-12/3), pengurus harian LBM PBNU menjelaskan teknik-teknik musyawarah, teknik menghadapi masalah, dan juga cara membuat rekomendasi ala NU.

Tampak hadir sebagai narasumber Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Mas’udi, Sekretaris LBM PBNU KH Sarmidi Husna, dan Wakil Ketua LBM PBNU KH Mahbub Ma’afi.

Ngaji Istinbathul Ahkam, PBNU Siapkan Kader Bahtsul Masail Priangan Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngaji Istinbathul Ahkam, PBNU Siapkan Kader Bahtsul Masail Priangan Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ngaji Istinbathul Ahkam, PBNU Siapkan Kader Bahtsul Masail Priangan Barat

Peserta pendidikan istinbathul ahkam berjumlah sebanyak 150 orang. Peserta terdiri atas pengurus harian PCNU Bogor, PCNU Depok, PCNU Cianjur, PCNU Sukabumi, dan utusan pesantren di Priyangan Barat. Peserta terdiri atas kalangan pria dan wanita.

Menurut Sekretaris LBM PBNU Kiai Sarmidi, pendidikan ini berangkat dari keterbatasan SDM bahtsul masail yang ada sekarang ini. Sementara pesantren-pesantren yang memproduksi santri dengan kompetensi berbahtsul masail juga mulai berkurang.

ArrahmahMedia.Com

“Sangat urgen untuk melakukan pelatihan istinbathul ahkam dalam bahtsul masail di PCNU ataupun pesantren-pesantren yang kegiatan bahtsul masailnya kurang maksimal,” kata Kiai Sarmidi kepada ArrahmahMedia.Com di Cianjur, Sabtu (11/3) pagi.

ArrahmahMedia.Com

Pendidikan seperti ini, kata Kiai Sarmidi, merupakan upaya regenerasi dan kaderisasi pelaksanaan bahtsul masail guna menjaga eksistensi bahtsul masail. Kita juga mengakhiri pendidikan ini dengan praktik istinbathul ahkam yang mengangkat kasus kekinian.

“Pendidikan ini merupakan program utama LBM PBNU. LBM PBNU akan terus berkeliling daerah untuk menggelar pendidikan istinbathul ahkam ini,” katanya.

Kiai Sarmidi kemudian mengutip pernyataan Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudz tiga periode sejak Muktamar NU 1999 bahwa bahtsul masail adalah sebuah tradisi yang harus terus-menerus dijaga eksistensi dan kesinambungannya dari waktu ke waktu, bukan saja karena ia adalah salah satu batu asah intelektual NU, tetapi juga karena ia memegang fungsi dan peran penting sebagai media yang menciptakan, menjaga, dan memelihara kesinambungan hubungan antara wahyu yang absolut dengan realitas kehidupan yang kompleks dan riil. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Bahtsul Masail ArrahmahMedia.Com

Selasa, 06 Februari 2018

Fatayat NU Kanor Gelar Khotmil Quran Sampai Lomba Tumpeng

Bojonegoro, ArrahmahMedia.Com - Ratusan anggota Fatayat NU Kanor menghadiri peringatan Harlah Ke-66 Fatayat NU di Desa Simorejo, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Ahad (24/4). Mereka secara bersama-sama mengkhatamkan Al-Quran sebanyak 24 kali. Usai itu antarranting Fatayat NU se-Kecamatan Kanor menyuguhkan terbaik hiasan tumpengnya.

Para kader Fatayat dari berbagai desa di Kanor berdatangan. Mereka rata-rata diwakili 15 hingga 20 orang. Panitia membatasi peserta yang hadir. Jika semua kader datang, bisa dipastikan lokasi acara tidak memadai.

Fatayat NU Kanor Gelar Khotmil Quran Sampai Lomba Tumpeng (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Kanor Gelar Khotmil Quran Sampai Lomba Tumpeng (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Kanor Gelar Khotmil Quran Sampai Lomba Tumpeng

"Kegiatan pagi sampai siang hari sangat padat dimulai dari seremonial. Setelah itu pembinaan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bojonegoro dan ditutup lomba tumpeng," kata Sekretaris Fatayat NU Kanor Muslikah.

ArrahmahMedia.Com

Perempuan yang juga guru PAUD asal Desa Tejo ini menegaskan, setiap ranting akan bersama-sama mengkhatamkan Al-Quran sehingga total ada 24 khataman dari 26 desa di Kanor.

"Semangat kader di tingkatan ranting juga bagus. Kami sangat bangga, karena di tengah terik matahari mereka terus semangat," jelasnya.

ArrahmahMedia.Com

Selain itu pula, para pengurus Fatayat dari ranging juga mengikut lomba tumpeng. Dari penilaian juri, ranting Fatayat Desa Nglarangan keluar sebagai Juara 1 dan Desa Sarangan memperoleh Juara 2. Untuk Juara 3 dimenangkan ranting Desa Kedungarum, Harapan 1 Desa Bungur, Harapan 2 Desa Palembon dan Harapan 3 diraih ranting Desa Kedungprimpen.

Muslikah menambahkan, jika yang ikut lomba tumpeng hampir semua ranting se Kecamatan Kanor yang jumlahnya mencapai 24, dari 26 desa yang ada. Kriteria yang dinilai adalah jenis makanan sehat, desain dan kreatifitas, serta dana yang dikeluarkan untuk pembuatannya.

"Tim penilai langsung dari pengurus cabang Fatayat NU Bojonegoro. Jadi, kegiatan ini sangat profesional dan sajian peserta sangat bagus-bagus," sambungnya.

Ketua Fatayat NU Bojonegoro Hj Ifa Khoiria Ningrum menyatakan bangga atas kreativitas kader-kader Fatayat di Kanor terutama saat lomba tumpeng berlangsung. Sebab, Fatayat juga harus menjadi penopang keluarga yang berbudaya.

"Harus lebih ditingkatkan kembali kreativitasnya sehingga ke depan bertambah baik," harapnya.

Dosen IAI Sunan Giri Bojonegoro itu juga mengimbau seluruh kader untuk terus menjaga moral serta melestarikan budaya baik budaya lokal, regional hingga kelas nasional. (M Yazid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Bahtsul Masail, Pondok Pesantren, Sejarah ArrahmahMedia.Com

Jumat, 02 Februari 2018

Dayah, Sebutan Legendaris Pesantren di Aceh

Bireuen, ArrahmahMedia.Com. Sebagai wilayah pertama di Asia Tenggara yang menerima kehadiran Islam sejak abad pertama hijriyah, Aceh merupakan kawasan yang masyarakatnya memiliki karakteristik yang unik. Keunikan karakteristik ini disebabkan kuatnya pengaruh Islam dalam proses pembentukan rakyat Aceh. Bahkan, Islam menjadi asas pembinaan budaya itu sendiri.

“Benteng yang paling berjasa dalam proses pertahanan budaya masyarakat Aceh adalah lembaga pendidikan yang disebut Dayah,” ujar Teungku Haji Hasanoel Bashri HG, salah satu ulama kenamaan asal Samalanga Bireuen, saat ditemui belum lama ini.

Dayah, Sebutan Legendaris Pesantren di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Dayah, Sebutan Legendaris Pesantren di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Dayah, Sebutan Legendaris Pesantren di Aceh

Menurut tokoh yang akrab disapa Abu MUDI ini, kata “Dayah” merupakan kutipan dari bahasa Arab “Zawiyah” yang berarti majelis pengajian. Kata itu kemudian berubah sesuai dengan dialek bahasa Aceh menjadi dayah. Dalam perkembangan selanjutnya, lanjut Abu MUDI, dayah dalam terminologi orang Aceh menjelma sebuah lembaga pendidikan Islam yang berperan aktif membina keteguhan keimanan, akhlak, dan keilmuan masyarakat.

ArrahmahMedia.Com

“Selain sebagai pusat pendidikan Islam, Dayah juga tempat para ulama menetap, di mana dalam masyarakat aceh ulama merupakan tempat bertanya dan meminta kepastian hukum agama yang merupakan sendi-sendi kehidupan masyarakat,” ujar Abu MUDI.

ArrahmahMedia.Com

Pengasuh Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Ma’hadal Ulum Diniyyah Islamiyyah Mesjid Raya (MUDI Mesra) ini bercerita, di masa kejayaan Kerajaan Islam Aceh Darussalam, saat kesultanan dijabat Sultan Iskandar Muda, dayah menjadi lembaga pendidikan resmi yang mencetak aparatur pemerintahan kerajaan. Fakta ini terus berlanjut hingga masa invasi kolonial Belanda.

“Ulama lalu menjadikan dayah sebagai basis perjuangan melancarkan gerakan jihad melawan penjajah. Pada masa itu, peran ulama meluas hingga ranah politik. Masa-masa kolonial Belanda di Aceh merupakan masa berperan penuhnya ulama terutama setelah tertawannya sultan. Ulama tidak hanya berperan sebagai pemimpin agama, tapi juga pemimpin politik dan militer sekaligus,” tuturnya.

Setelah kemerdekaan, tambah Abu MUDI, peran dayah diganti oleh sekolah-sekolah yang didirikan pemerintah sesuai dengan perkembangan masa dan kebutuhan. Dalam kondisi ini, dayah sebagai lembaga pendidikan tertua tetap mampu eksis di bawah asuhan ulama. “Sistem pendidikan dayah yang tidak memungut biaya pendidikan menjadikannya lebih akrab dengan masyarakat kelas bawah,” ujarnya bangga.

Kini, dayah dihadapkan kepada tantangan modernisasi dan globalisasi yang sejak zaman penjajahan hingga sekarang tidak dapat dihindari. Fenomena ini,  bagi Abu MUDI, telah mengikis budaya islami masyarakat, terutama generasi muda. “Di sinilah peran dayah terbukti mampu memberikan basis moral islami yang kuat bagi generasi muda sehingga mereka memiliki filter dalam menghadapi arus modernisasi,” ujarnya.

Abu MUDI menyebut, kesadaran masyarakat akan fakta tersebut telah menguatkan komitmen para ulama untuk terus melestarikan eksistensi lembaga dayah. Komitmen tersebut diikuti masyarakat dengan menitipkan anak mereka agar turut mengecap pendidikan dayah. “Saya yakin, dayah sebagai satu warisan kebudayaan Islam yang melegenda di masa silam, terus berkembang pada masa kini hingga yang akan datang,” tegasnya. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Bahtsul Masail, Fragmen ArrahmahMedia.Com

Selasa, 30 Januari 2018

Pendeta Palti Panjaitan: Saya Termasuk Pendeta NU

Bantul, ArrahmahMedia.Com. Pendeta Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Palti Panjaitan memiliki kesan mendalam tentang sosok KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Bagi Palti, Ketua PBNU 1984-1999 ini banyak memberi pelajaran dalam sikap keberagamaannya.

Pendeta Palti Panjaitan: Saya Termasuk Pendeta NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendeta Palti Panjaitan: Saya Termasuk Pendeta NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendeta Palti Panjaitan: Saya Termasuk Pendeta NU

"Saya salah seorang pengagum Gus Dur. Saking kagumnya, semakin banyak buku-buku tentangnya. Istri saya sampai bilang, bapak pendeta atau ustadz? Saya pendeta ustadz. Saya termasuk pendeta NU," tutur Palti sedikit bercanda.

Ia menyampaikan hal itu saat dialog seputar kasus intoleransi dengan peserta Kelas Menulis Santri Yogyakarta, Kamis (22/01), di Lembaga Kajian Keislaman (LKiS) Jalan, Sorowajan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta.

ArrahmahMedia.Com

Palti mengungkapkan, ketika membaca buku-buku tentang Gus Dur atau keislaman, ia semakin kuat imannya. "Jadi bukan mengurangi keimanan saat saya membaca buku-buku Islami. Dulu saya tertutup, tapi saat mengalami proses akhirnya mengalami perkembangan," ungkapnya.

ArrahmahMedia.Com

Ia tidak mau menghakimi orang lain. Ketika suatu ketika ada keturunan memilih pindah agama lantaran menemukan kebenaran pada agama tersebut, maka hal itu tidak menjadi permasalahan baginya.? "Agama yang saya anut ini warisan. Ketika saya cari atau berproses, dan kebenaran misalnya ada di Islam, dan saya pindah ke Islam, maka tidak menjadi persoalan," ujarnya.

Agama baginya adalah sebuah kendaraan. Topangan baginya menuju tujuan. Namun, ini juga sering ditentang oleh beberapa temannya. Ia bahagia sekali ketika membuka diri.

"Saya harap teman-teman juga mau yakin, bahwa Allah yang kita sembah masing-masing ini, tidak menginginkan adanya kekerasan. Marilah kita menularkan budaya damai," tandasnya. (Nur Sholikhin/Mahbib)

Sumber foto: www.daserste.de

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Bahtsul Masail, Ahlussunnah ArrahmahMedia.Com

Rabu, 24 Januari 2018

Dalil dan Bacaan Wirid Bada Shalat

Ada sebuah maqalah yang mengatakan bahwa man laysa lahu wirdun fahuwa qirdun, barang siapa yang tidak wirid, maka dia seperti monyet. Memang jika diangan-angan salah satu kewajiban manusia adalah mengingat Sang Khaliq. Apabila seseorang tidak pernah mengingat (wiid) Sang Khaliq maka orang itu bagaikan seekor monyet yang tidak tahu diri dan tidak mengerti balas budi.

Begitulah perintah Allah swt dalam suarat an-Nisa’ ayat 103 diterangkan:

فإذا قضيتم الصلاة فاذكروا الله قياما وقعودا وعلى جنوبكم

Dalil dan Bacaan Wirid Bada Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Dalil dan Bacaan Wirid Bada Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Dalil dan Bacaan Wirid Bada Shalat

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.  

Secara praktis, melatih membiasakan wirid dapat dimulai dari hal yang paling kecil dan sederhana. Misalkan dengan meluangkan waktu setelah shalat fardhu membaca istighfar sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw dalam haditsnya

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ: “كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ”. قَالَ الْوَلِيدُ فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ.

Tsauban bercerita, “Jika Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam selesai shalat beliau beristighfar tiga kali, lalu membaca “Allahumma antas salam wa minkas salam tabarokta ya dzal jalali wal ikrom”. Al-Walid (salah satu perawi hadits) bertanya kepada al-Auza’i, “Bagaimanakah (redaksi) istighfar beliau?”. “Astaghfirullah, astaghfirullah” jawab al-Auza’i.

ArrahmahMedia.Com

Atau dengan keterangan lebih lengkap bacaan dzikir setelah shalat yang paling minimal adalah:

...اَسْتَغْفِرُاللهَ اْلعَظِيْمَ (Astaghfirullahal adhim) 3x ...لاَاِلٰهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهْ لَهُ اْلمُلْكُ وَلَهُ اْلحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ         (La ilaha illallah wahdahu lasyarikalah, lahul mulku walahul hamdu yuhyi wa yumit wa huwa ‘ala kulli syaiin qadir) 3x ...اَللّهُمَّ اَجِرْنَا مِنَ النَّارِ  (allahumma ajirna minannar) 3x اَللّهُمَّ اَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ وَاِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ وَاَدْخِلْنَا اْلجَنَّةَ دَارَالسَّلاَمِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَاذَاْلجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ        (Allahumma antas salam wa minkas salam wa ilaika ya’udus salam fahayyina rabbana bis salam wa adkhilnal jannata darassalam tabarakta rabbana wa ta’alaita ya dzal jalali wal ikram)  

Kemudian setelah terbiasa hendaknya ditingkaykan dengan menambah wirid sebagaimana anjuran Rasulullah saw

وروى أبو هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال :  من سبح الله في دبر كل صلاة ثلاثا وثلاثين ØŒ وحمد الله ثلاثا وثلاثين ØŒ وكبر الله ثلاثا وثلاثين ØŒ فتلك تسعة وتسعون ØŒ وقال تمام المائة : لا إله إلا الله وحده لا شريك له ØŒ له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير ØŒ غفرت خطاياه ولو كانت مثل زبد البحر  أخرجه مسلم في صحيحه

ArrahmahMedia.Com

Bahwa Rasulullah saw pernah berkata ‘barang siapa setelah shalat membaca tasbih 33 kali, hamdalah 33 kali, takbir 33 kali, sehingga jumlahnya 99 dan menyempurnakannya dengan bacaan La ilaha illallah wahdahu lasyarikalah, lahul mulku walahul hamdu yuhyi wa yumit wa huwa ‘ala kulli syaiin qadir, Allah akan mengampuni segala dosanya walau sebanyak buih di lautan.

Artinya alangkah sempurnanya jika wirid setelah shalat di atas ditambah dengan bacaan:

سُبْحَانَ الله  Subhanallah  33x اْلحَمْدُ لله    Alhamdulillah  33x اَللهُ اَكْبَرُ    Allahu Akbar  33x  Ø§ÙÙ„اَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمُلْكُ وَلَهُ اْلحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ       (La ilaha illallah wahdahu lasyarikalah, lahul mulku walahul hamdu yuhyi wa yumit wa huwa ‘ala kulli syaiin qadir)  

 

Redaktur: Ulil Hadrawy . Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Bahtsul Masail, Hadits, AlaSantri ArrahmahMedia.Com

Senin, 15 Januari 2018

MTs Al-Khoiriyah Terapkan Program PPDS

Probolinggo, ArrahmahMedia.Com. Lembaga Pendidikan Al-Khoiriyah Al-Islamiyah Desa Kerpangan Kecamatan Leces Kabupaten Probolinggo saat ini tengah mengembangkan peningkatan kualitas siswa madrasah melalui program Pembinaan Pengembangan Diri Siswa (PPDS). 

MTs Al-Khoiriyah Terapkan Program PPDS (Sumber Gambar : Nu Online)
MTs Al-Khoiriyah Terapkan Program PPDS (Sumber Gambar : Nu Online)

MTs Al-Khoiriyah Terapkan Program PPDS

Program tersebut awalnya dicetuskan oleh salah satu guru Bahasa Inggris di MTs Al-Khoiriyah yang dipimpin oleh KH Syaifullah.

ArrahmahMedia.Com

Gagasan ini selanjutnya disampaikan kepada Kepala Sentral di Lembaga Pendidikan Al-Khoiriyah Al-Islamiyah Moh. Farid Wajdi. Program PPDS ini sendiri diresmikan penggunaannya, Sabtu (2/3) dengan upacara pengukuhan siswa-siswi binaan.

ArrahmahMedia.Com

”Alhamdulillah, usul ini mendapatkan tanggapan yang positif dan mulai diterapkan di Lembaga Pendidikan Al-Khoiriyah. Semoga dengan adanya program PPDS ini kualitas siswa madrasah bisa lebih meningkat,” ungkap Ketua Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Probolinggo Maharani Sofia saat ditemui ArrahmahMedia.Com usai peresmian program PPDS di MTs Al-Khoiriyah.

Menurut Sofia, program PPDS ini merupakan salah satu program unggulan selain program-program lain yang sudah ada sebelumnya. Dalam program ini guru dituntut untuk benar-benar membina dan membimbing siswa binaannya.

”Untuk sementara ini ada 4 (empat) mata pelajaran yang dimasukkan dalam program PPDS yaitu Bahasa Inggris, Matematika, Bahasa Arab dan Kitab. Namun ke depan akan diupayakan semua mata pelajaran bisa dimasukkan dalam program ini. Tetapi tentunya terlebih dahulu akan melihat guru mata pelajaran yang menanganinya,” jelasnya.

Dikatakan Sofia, anggota PPDS dituntut untuk mahir dalam menangani bidang mata pelajarannya masing-masing baik itu Bahasa Inggris, Matematika, Bahasa Arab dan Kitab. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas siswa sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

”Sedikitnya ada sekitar 15 pembimbing/pembina yang diturunkan untuk membina siswa-siswi di lembaga ini. Setiap pembimbing nantinya akan mempertanggungjawabkan kemampuan siswa binaannya pada uji publik yang dilaksanakan pada kegiatan perpisahan siswa sekaligus silaturrahim keluarga besar Al-Khoiriyah bersama alumni,” terangnya.

Sementara Kepala Sentral Lembaga Pendidikan Al-Khoiriyah Al-Islamiyah Moh. Farid Wajdi menyambut baik diterapkannya program PPDS ini dengan harapan nantinya mampu meningkatkan kualitas siswa madrasah di lembaganya.

”Mudah-mudahan melalui program PPDS ini, kualitas siswa madrasah disini bisa lebih meningkat lagi. Dengan demikian, tentunya juga akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan dan lulusan siswa madrasah,” harapnya.

Redaktur       : Hamzah Sahal

Kontributor   : Syamsul Akbar  

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Bahtsul Masail ArrahmahMedia.Com

Bazar Murah Puan Amal Hayati Bantu Warga Penuhi Kebutuhan Sembako

Tasikmalaya, ArrahmahMedia.Com - Bazar rakyat berupa minyak murah diselenggarakan Puan Amal Hayati Cipasung pada Sabtu (11/6) bertempat di Kompleks SMK Kesehatan KH Mohammad Ilyas Ruchiat Jalan Muktamar NU XXIX Cipasung Tasikmalaya. Sedikitnya seribu warga Singaparna menyerbu bazar yang? dibuka mulai pukul 15.00-17.00.

Warga yang berdatangan dari berbagai desa di Singaparna ini rela antre mulai orang tua sampai kaum muda dan bahkan anak anak yang dibawa ibunya ikut mermaikan suasana bazar rakyat di sore itu. Selain bazar minyak murah ada juga pengecekan tensi darah dan cek golongan darah secara gratis oleh pelajar SMK Kesehatan KH Mohammad Ilyas Ruhiat Cipasung.

Bazar Murah Puan Amal Hayati Bantu Warga Penuhi Kebutuhan Sembako (Sumber Gambar : Nu Online)
Bazar Murah Puan Amal Hayati Bantu Warga Penuhi Kebutuhan Sembako (Sumber Gambar : Nu Online)

Bazar Murah Puan Amal Hayati Bantu Warga Penuhi Kebutuhan Sembako

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Ketua Puan Amal Hayati Hj Sinta Nuriyah.

Menurut salah seorang warga yang mengikuti Bazar Murah Otim Khotimah menyatakan bahwa dirinya merasa terbantu dengan kegiatan ini karena mengurangi beban biaya atas kebutuhan sembako. Yang biasanya harga minyak goreng di pasaran Rp.14.000 per liter di sini sampai Rp. 9.000, sekitar selisih 5000 dengan harga biasanya.

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com

Ia berharapan bazar seperti ini tidak hanya di bulan Ramadhan saja tapi bisa di Ramadhan yang lainnya dan tidak hanya minyak goreng tapi juga sembako lainnya mengingat kebutuhan sembako ini sangat dibutuhkan di bulan Ramadhan.

Sekretaris Puan Amal Hayati Cipasung Maryamah menyatakan, sebanyak 3000 liter minyak goreng dijual murah. Hasilnya sebanyak 3000 liter ini habis terjual dalam waktu dua jam.

Kami menyediakan 1000 kupon untuk 1000 keluarga? dan satu kupon? mendapatkan 3 liter minyak goring. Sasaran kami adalah warga Singaparna yang sekarang alhamdulillah 10 desa di Singaparna telah mengikuti dan membeli minyak goreng di bazar ini secara murah. (Husni Mubarok/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Bahtsul Masail, Hikmah, Syariah ArrahmahMedia.Com

Selasa, 09 Januari 2018

Perayaan HAORNAS 2017, Momentum Mengembalikan Kejayaan Prestasi Olahraga Nasional

Magelang, ArrahmahMedia.Com. Perjuangan bangsa Indonesia menghadirkan kembali kejayaannya di bidang olahraga masih harus melalui jalan panjang dan penuh tantangan. Hal ini disampaikan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi pada puncak Peringatan Hari Olahraga Nasional, di Alun-Alun Kota Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (9/9).

Namun menurutnya justru dengan momentum peringatan Hari Olahraga Nasional (HAORNAS) 2017 yang mengangkat tema “Olahraga Menyatukan Kita’’ akan menjadi langkah strategis mewujudkan tantangan itu dengan sinergi dan kerjasama dari semua pihak.

Perayaan HAORNAS 2017, Momentum Mengembalikan Kejayaan Prestasi Olahraga Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Perayaan HAORNAS 2017, Momentum Mengembalikan Kejayaan Prestasi Olahraga Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Perayaan HAORNAS 2017, Momentum Mengembalikan Kejayaan Prestasi Olahraga Nasional

“Momentum Hari Olahraga Nasional (HAORNAS) adalah momen sangat penting dimana kita memberikan penghargaan setinggi-tingginya atas dedikasi, pengorbanan serta perjuangan seluruh pihak yang berkontribusi dalam membangun kemajuan olahraga dari tingkat daerah hingga pusat, mulai dari atlet, pelatih, manajer, pemilik klub, pimpinan cabang olahraga, para pembuat kebijakan, kampus-kampus dan sekolah olahraga, media dan juga masyarakat yang mencintai olahraga,” ujar Menpora.

Menpora mengatakan dengan semangat olahraga yang mempersatukan ini, banyak kegiatan-kegiatan keolahragaan diarahkan untuk menumbuhkan kembali semangat cinta tanah air, dan penyatuan kembali semangat kebangsaan dan solidaritas di antara sesama warga masyarakat.

“Tidak hanya tentang persatuan, olahraga juga mengajarkan kita banyak hal tentang makna kejujuran, sportivitas, keadilan dan juga kebanggaan kita sebagai sebuah bangsa. Ketika semua bersatu dan berjuang untuk olahraga, maka serentak kita akan berkata inilah Indonesia, Indonesia Raya…!!! maka disitulah kebanggaan kita hadir dari olahraga,” tegas Menpora lagi.

ArrahmahMedia.Com

Menurutnya, semangat perayaan Hari Olahraga Nasional kali ini sedikit berbeda dari biasanya, karena dilakukan kurang lebih satu tahun jelang perhelatan olahraga paling bergengsi di Asia dimana Indonesia menjadi tuan rumahnya.

“Asian Games dan Asian Paragames 2018 harus menjadi momentum kebangkitan kembali kejayaan olahraga Indonesia. Keduanya harus meninggalkan warisan berharga bagi bangsa Indonesia, yakni meninggalkan infrastruktur olahraga yang lebih baik, lebih maju dan lebih modern, dan hal lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah mewariskan masyarakat Indonesia yang gemar berolahraga.” jelas Imam.

Lebih jauh ia mengatakan bahwa masyarakat yang gemar dan mencintai olahraga adalah dasar dari lahirnya prestasi olahraga, “Kita ingin membidik prestasi dari tingginya partisipasi masyarakat dalam kegiatan-kegiatan olahraga, Prestasi adalah sebuah proses panjang melahirkan dan menemukan atlet-atlet elit dari ribuan bahkan jutaan anak-anak Indonesia yang turun ke lapangan olahraga, yang berlari dan terus berlari, bergerak terus berolahraga, menempa dirinya dengan disiplin dan latihan keras untuk menjadi juara,’’ jelas Cak Imam, sapaan akrabnya di kalangan anak-anak muda dan para atlet.

ArrahmahMedia.Com

Gerakan #Ayo Olahraga Untuk Hadirkan Prestasi Olahraga

Di Tahun 2017, Kementerian Pemuda dan Olahraga telah mencanangkan Gerakan Ayo Olahraga. Gerakan Ayo Olahraga ini sudah berjalan sejak awal bulan Mei lalu dengan menggulirkan 3 program unggulan utama yaitu: Gowes Pesona Nusantara, Gala Desa dan Liga Sepakbola Pelajar (U-12, U-14, U-16 dan Liga Mahasiswa).

Kegiatan Gowes Pesona Nusantara telah melintasi 81 titik Kabupaten/Kota dari 90 Kabupaten/Kota, sementara itu Gala Desa telah berjalan dengan melibatkan 816 desa, 136 kabupaten/kota di 34 Provinsi. Untuk Liga Sepakbola Pelajar di berbagai level dan jenjang usia telah melibatkan ribuan pelajar dari seluruh Indonesia.

Semangat dari ratusan ribu masyarakat yang telah tersentuh oleh program ini diharapkan dapat terus meningkatkan kegemaran masyarakat berolahraga. 

Secara khusus Program Gowes Pesona Nusantara diarahkan untuk melahirkan sebuah konsensus bersama dari seluruh daerah di Indonesia untuk melahirkan Hari Bersepeda Nasional. Sementara pada kegiatan lainnya yakni Gala Desa dan Liga Sepakbola Pelajar bertujuan untuk menjadikan kedua ajang tersebut sebagai wadah pencarian bibit-bibit olahragawan handal dan penuh potensi dari seluruh pelosok nusantara.

Gerakan Ayo Olahraga ini sejatinya juga bisa dikatakan menjadi tindak lanjut Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang  bertujuan melibatkan seluruh komponen bangsa untuk hidup sehat dengan berolahraga, hidup aktif dan produktif dengan berolahraga secara rutin dan teratur apapun jenis olahraganya. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Bahtsul Masail, Kajian Sunnah, Budaya ArrahmahMedia.Com

Minggu, 07 Januari 2018

Menghormati Agama Lain Bukan Berarti Membenarkannya

Parepare, ArrahmahMedia.Com. Nahdlatul Ulama akan senenatiasa menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. Dengan menjunjung nilai-nilai toleransi, keamanan dan kedamaian bangsa Indonesia yang terdiri dari bermacam-macam agama dan budaya ini akan tercipta.

Menghormati Agama Lain Bukan Berarti Membenarkannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Menghormati Agama Lain Bukan Berarti Membenarkannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Menghormati Agama Lain Bukan Berarti Membenarkannya

Demikian dikemukakan Katib Syuriyah PBNU KH. Afifuddin Muhajir saat menyampaikan pemikirannya dalam acara Sarasehan Ulama Pesantren dan Cendikiawan di Pondok Pesantren Al-Badar Bilalang Parepare Sulawesi Selatan, Selasa (29/4).

Menurut Kiai Afifuddin, sikap tasamuh atau toleransi menjadi kunci bagi terciptanya kesejukan antar umat beragama. “Itu (tasamuh) ciri khas Islam dan juga sikap paten NU,” jelasnya.

ArrahmahMedia.Com

Salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo tersebut  menambahkan,  inti toleransi adalah menghormati eksistensi agama-agama lain dalam suatu negara, menghormati keberagaman pemikiran dan sebagainya.

“Menghormati bukan berarti membenarkan. Kalau soal kebenaran, kita harus yakin bahwa agama Islam yang paling benar,” ungkapnya.

ArrahmahMedia.Com

Kiai Aifuddin mengaku miris dengan krisis multi dimensi yang terjadi di beberapa negara Timur Tengah seperti Tunisia, Libya, Mesir, Syiria, Irak dan lain-lain. Menurutnya, salah satu pemicu krisis politik tersebut adalah hilangnya sikap toleransi di kalangan pemimpinnya. Dan hal itu dapat mencabik-cabik keutuhan umat Islam dan menghancurkan kekuatannya.

“Oleh karena itu, diperlukan upaya para ulama dan cendikiawan muslim untuk membimbing dan membina umat Islam dengan cara menyebarkan pemikiran Islam yang moderat. sehingga dapat menyelesaikan masalah perbedaan dengan cara dialog,” ungkapnya. (Aryudi A Razaq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Bahtsul Masail, Tokoh ArrahmahMedia.Com

Minggu, 31 Desember 2017

Madrasah NU Se-Kudus Serentak Peringati Harlah Ke-85 LP Maarif

Kudus, ArrahmahMedia.Com. Seluruh lembaga pendidikan tingkat dasar, menengah pertama, dan menengah atas milik Nahdlatul Ulama di Kudus, Jawa Tengah, secara serentak memperingati hari lahir (harlah) ke-85 Lembaga Pendidikan Ma’arif NU di masing-masing sekolah atau madrasah setempat, Sabtu (20/9).

Madrasah NU Se-Kudus Serentak Peringati Harlah Ke-85 LP Maarif (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah NU Se-Kudus Serentak Peringati Harlah Ke-85 LP Maarif (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah NU Se-Kudus Serentak Peringati Harlah Ke-85 LP Maarif

Menurut Wakil Sekretari LP Maarif NU Kudus Chudlori, harlah LP Maarif? yang jatuh pada 19 September selalu diperingati setiap tahun dengan ragam kegiatan. Namun, tahun ini, kegiatan yang diikuti seluruh dewan guru dan pelajar tingkat MI/SD, MTs/SMP, dan MA/SMA NU ini dilaksanakan secara sederhana dengan upacara bendera dan tahlil bersama.

"Biasanya peringatan harlah dilaksanakan tepat hari dan tanggal kelahirannya, namun karena 19 September hari Jumat yang semua madrasah libur sehingga pelaksanaannya diajukan hari Sabtu," terangnya pada ArrahmahMedia.Com, Sabtu (20/9).

ArrahmahMedia.Com

Ia mengatakan peringatan harlah ini bertujuan untuk mengingat sejarah kelahiran Maarif yang menjadi pilar perjuangan NU di bidang pendidikan dan mengenang sekaligus mendoakan para pejuang pendidikan NU dalam mencerdaskan generasi bangsa.

"Makanya, usai upacara bendera diintruksikan melakukan acara tahlil bersama yang diikuti semua siswa dan guru untuk arwah para pejuang Nahdlatul Ulama yang telah mendahului kita," ujar Chudlori.

ArrahmahMedia.Com

Dari pantauan ArrahmahMedia.Com, upacara harlah yang bertema memperkuat ukhuwah pelajar yang berkarakter Ahlussunah wal Jamaah ini berlangsung penuh keserasian nan khidmat. Seperti halnya upacara biasa, rangkaian acaranya berisi pengibaran bendera merah putih, dan Maarif, pembacaan Pancasila dan amanat pembina upacara yang diisi pembacaan sambutan tertulis dari ketua LP Maarif NU Kudus. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Bahtsul Masail, Lomba, Tegal ArrahmahMedia.Com

Selasa, 26 Desember 2017

PWNU Jatim Tak Akan Umumkan Calon

Surabaya, ArrahmahMedia.Com. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menerima aspirasi masyarakat agar kader NU memimpin wilayah ini dan agar PWNU memilih salah satu dari kader potensial yang ada. Namun PWNU tidak akan mengumumkan satu calon secara terbuka.

Demikian ditegaskan Ketua PWNU Jatim KH Mutawakkil Alallah di sela-sela pembukaan Pameran Haji dan Umrah 2012 yang digelar Majalah Aula PWNU Jatim, Rabu (5/12). Kegiatan ini dihadiri oleh Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Jawa Timur.

PWNU Jatim Tak Akan Umumkan Calon (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jatim Tak Akan Umumkan Calon (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jatim Tak Akan Umumkan Calon

KH Mutawakkil mengungkapkan, pihaknya diminta memilih salah satu dari kader potensial NU yakni Saifullah Yusuf (Gus Ipul) atau Khofifah Indar Parawansa.

ArrahmahMedia.Com

"Tapi, NU tidak akan memilih atau mengumumkan nama calon, karena NU tidak boleh berpolitik praktis. Politik NU adalah politik kebangsaan sesuai dengan Khittah NU 1926. Nama calon akan ditentukan tim yang melibatkan tokoh parpol berbasis Nahdliyyin dan para masyayikh," katanya.

Sementara itu DPW PPP menyatakan akan menunggu sikap PWNU Jatim sebelum memutuskan calon gubernur yang akan diusung dalam Pilgub Jatim 2013.

ArrahmahMedia.Com

"Kami akan menentukan nama calon dalam Rapim PPP se-Jatim pada pertengahan Januari mendatang, tapi kalau PWNU Jatim sudah bisa mengupayakan satu kader NU sebelum itu, maka kami akan menerimanya," kata Ketua DPW PPP Jatim HM Musyafak Noer.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Sumber   : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Bahtsul Masail, Habib, Lomba ArrahmahMedia.Com

Senin, 18 Desember 2017

PM Turki Hadiahi Obama Kaligrafi Bertuliskan Namanya

Kairo, ArrahmahMedia.Com. PM Turki Recep Tayyip Erdogan menghadiahi Presiden Amerika Barack Obama sebuah cindera mata berupa lukisan kaligrafi yang bertuliskan namanya "Barack Hussein Obama".

Kantor berita Turki Cihan (17/5) melansir, Presiden Obama menggelar pertemuan khusus dengan PM Turki Erdogan sebelum digelarnya kongres umum Amerika-Turki di Gedung Putih, Washington DC.

PM Turki Hadiahi Obama Kaligrafi Bertuliskan Namanya (Sumber Gambar : Nu Online)
PM Turki Hadiahi Obama Kaligrafi Bertuliskan Namanya (Sumber Gambar : Nu Online)

PM Turki Hadiahi Obama Kaligrafi Bertuliskan Namanya

Sebelum pertemuan khusus itu, PM Erdogan terlebih dahulu memberikan cindera mata kepada Presiden Obama. Cindera mata tersebut berupa lukisan kaligrafi yang bertuliskan namanya "Barack Hussein Obama".

ArrahmahMedia.Com

Peristiwa pemberian cindera mata ini pun kini menjadi berita heboh di beberapa media Turki dan juga media-media Arab.

ArrahmahMedia.Com

Penulis: Ahmad Ginanjar Syaban

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Bahtsul Masail, Nasional, Pendidikan ArrahmahMedia.Com

Selasa, 12 Desember 2017

Kader NU Pimpin Shalat Tentara di Laut Lebanon

Beirut,ArrahmahMedia.Com

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Lebanon dipercaya menjadi khatib dan imam Shalat Jumat di KRI Bung Tomo 357 Jumat (6/1) lalu.

Kader NU Pimpin Shalat Tentara di Laut Lebanon (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader NU Pimpin Shalat Tentara di Laut Lebanon (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader NU Pimpin Shalat Tentara di Laut Lebanon

Ustadz Dhiya’ Fakhri Abidin, Koordinator Lembaga Dakwah? dan M. Audy Prasetyawan, Lajnah Nasyr wat Ta’lif memimpin Shalat Jumat pasukan Garuda di atas kapal perang Indonesia di Lebanon. Pasukan tersebut tergabung dalam MTF UNIFIL yang bertugas menjaga wilayah perbatasan perairan Lebanon.

Cuaca dingin yang sedang menyelimuti kota Beirut sehingga tidak memungkinkan melaksanakan Shalat Jumat di bagian dek kapal. Akhirnya Shalat Jumat dilaksanakan di lorong-lorong kapal yang membentuk satu barisan memanjang.

ArrahmahMedia.Com

Ini kali pertama PCINU Lebanon mendapat kepercayaan untuk menyampaikan khutbah Jumat sekaligus mengimami pasukan garuda dibawah komando Kolonel Laut (P) Heri Triwibowo.

ArrahmahMedia.Com

Ketua PCINU Lebanon Ustadz Rahmat Ilahi bangga atas perhatian Komandan KRI pada pelaksanaan ibadah para prajurit. Rahmat juga merasa terhormat PCINU Lebanon dipercaya menjadi imam dan khatib tersebut.

"Ini merupakan kehormatan sekaligus kesempatan kami untuk mengamalkan ilmu yang diajarkan ulama dan kiai-kiai kita, untuk bekerja sama dengan TNI atau pasukan perdamaian Garuda menjaga keamanan dunia," ungkapnya.

Warga NU, kata dia, mendoakan agar tugas para pasukan TNI di kapal tersebut selalu sukses dan berkah. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Bahtsul Masail, Nahdlatul, Amalan ArrahmahMedia.Com

Senin, 11 Desember 2017

Suasana Haru Pelepasan Kirab Resolusi Jihad di Pesantren Krapyak

Bantul, ArrahmahMedia.Com. Wakil Bupati Bantul, H Abdul Halim Muslih mendadak seperti kehabisan suara. Matanya berkaca-kaca, dan segera menutup pidatonya. Tak lama kemudian, ia berjalan ke tempat duduknya. Sementara para hadirin yang menyaksikan, tampak gagal untuk tak terbawa pada suasana haru.

Kejadian tersebut berlangsung saat Wabup didaulat mengisi sambutan pada pemberangkatan Tim Kirab Resolusi Jihad NU 2016 di halaman Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, Selasa (18/10) pagi.

Suasana Haru Pelepasan Kirab Resolusi Jihad di Pesantren Krapyak (Sumber Gambar : Nu Online)
Suasana Haru Pelepasan Kirab Resolusi Jihad di Pesantren Krapyak (Sumber Gambar : Nu Online)

Suasana Haru Pelepasan Kirab Resolusi Jihad di Pesantren Krapyak

Wabup sebelumya menyampaikan kesan tentang sosok santri. Mengutip ungkapan kiainya yang masih ia ingat hingga kini, Wabup mengatakan bahwa santri ibarat sejenis makhluk yang bisa hidup di segala medan dan cuaca.

"Ketika terancam punah, santri punya jalan keluar yaitu senjata bernama tawakal. Saat dalam kondisi yang paling mengenaskan, santri punya senjata bernama sabar. Dan saat berada dalam paling menyakitkan santri punya senjata yaitu ridlo terhadap qodo dan qodar dengan begitu, santri adalah juga makhluk paling berdaya dalam menghadapi situasi dan kondisi apa pun," tutur Wabup.

ArrahmahMedia.Com

Wabup hadir bersama sejumlah tokoh, di antaranya Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini, Wakil Ketua Umum PBNU M. Maksoem Mahfoedz, Anggota DPR RI Agus Sulistiyono, jajaran PWNU DIY, Pengasuh Ponpes Al-Munawwir Krapyak, serta pengasuh beberapa pesantren lainnya di DI Yogyakarta.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Rais PWNU DIY, KH Asyhari Abta mengungkapkan harapannya agar kegiatan kirab dan Peringatan Hari Santri Nasional menjadikan syiar NU makin berkembang.

Kepada peserta kirab, ia berpesan agar memikirkan apa yang bisa ? diberikan untuk NU, bukan apa yang bisa didapatkan dari NU. Pengabdian melalui NU dapat dilakukan melalui bidang kemampuan masing-masing. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Pemurnian Aqidah, RMI NU, Bahtsul Masail ArrahmahMedia.Com

Minggu, 26 November 2017

Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah, Gus Mad Cabean Wafat

Pasuruan,? ArrahmahMedia.Com. KH Ahmad Ali Bahruddin, salah satu ulama thariqah, mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah, yang juga pengasuh PP At Taqwa Cabean, ? Kraton, ? Pasuruan meninggal dunia, pada Sabtu (13/5) pagi, sekitar 08.30 Wib di RS Saiful Anwar, Malang.?

Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah, Gus Mad Cabean Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah, Gus Mad Cabean Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah, Gus Mad Cabean Wafat

Kiai bersahaja yang biasa dipanggil Gus Mad Cabean ini membina ribuan jamaah thariqah dan santri pesantren di kawasan Desa Cabean, sekitar 15 km dari pusat Kota Pasuruan.?

"Beliau wafat karena sakit yang cukup lama dan sempat dirawat beberapa hari terakhir di rumah sakit," ungkap H Misbahul Munir, ? Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur yang masih kerabat almarhum.?

Terlahir dengan nama Ismail, ? Gus Mad yang juga Mustasyar PCNU Kabupaten Pasuruan ini tercatat ulama yang masih cucu keponakan ulama besar, ? waliyullah KH Ali Masud (Mbah Ud) Pagerwojo Sidoarjo.?

ArrahmahMedia.Com

Masa mudanya, dihabiskan untuk nyantri pada KH. Abdul Hamid alias Mbah Hamid Pasuruan yang dikenal sangat dekat dengan Mbah Ali Masud Pagerwojo. Nama Muhammad Ali Bahruddin adalah nama pemberian sang guru, KH Abdul Hamid saat Ismail muda masih mondok di Pesantren Kebonsari, ? Pasuruan.?

Mbah Hamid sangat menginspirasi almarhum dalam banyak hal, termasuk saat akan menikah, mengasuh pesantren hingga membina jamaah thariqah.

Pesantrennya dikenal dengan sebutan PESAT CAKAP, akronim dari Pesantren Attaqwa Cabean Kraton Pasuruan ini bahkan pernah menjadi tempat Muktamar Jamiyyah Ahli Thariqah Almutabarah Annahdliyah pada tahun 1990an saat jamiyyah ini masih dipimpin oleh Almarhum KH. Idham Cholid.?

Gus Mad menikah di usia 21 tahun, dan Allah memberi rejeki anak yang sangat berlimpah hingga 49 anak dari empat istri. Mereka semua kini menyebar di berbagai daerah untuk meneruskan perjuangan menyebar kedamaian Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah melalui pesantren, majelis talim, thariqah dan lembaga pendidikan.?

ArrahmahMedia.Com

Mautul Alim, mautul alam, ? satu orang berilmu mati, ? alam terasa gelap mati. Tugas kita menjaga keabadian cahaya ilmu para ulama, yang satu demi satu telah meninggalkan kita. (Ahj/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Bahtsul Masail, Pendidikan, Hikmah ArrahmahMedia.Com

Jumat, 24 November 2017

Pasca Musibah Jamaah Haji Harapkan Dukungan Doa dari Tanah Air

Makkah, ArrahmahMedia.Com. Kejadian jatuhnya alat berat proyek (crane) di Masjidil Haram, Makkah, Jumat (11/9) hendaknya menjadi spirit untuk terus pasrah dan hanya beribadah. Pada saat yang sama, doa dari tanah air juga sangat penting demi keselamatan seluruh jamaah.

Pasca Musibah Jamaah Haji Harapkan Dukungan Doa dari Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Pasca Musibah Jamaah Haji Harapkan Dukungan Doa dari Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Pasca Musibah Jamaah Haji Harapkan Dukungan Doa dari Tanah Air

Harapan ini disampaikan H Farmadi Hasyim saat dihubungi media ini, Sabtu (12/9) waktu setempat. "Saat itu saya dan rombongan masih berada di hotel," katanya. Namun demikian, meskipun dari kamar, dapat dilihat dengan jelas kedahsyatan badai pasir, ? disusul hujan deras serta kilat yang terus menyambar.

"Meski dari kamar hotel, mendengar cerita jamaah yang melihat langsung kejadian di Masjidil Haram, kami jadi merinding," kata Kasi Haji Kemenag Kota Surabaya ini.

ArrahmahMedia.Com

Apalagi setelah kejadian, masih terlihat sisa-sisa kejadian yang memilukan tersebut. Banyaknya korban berjatuhan, baik yang wafat, terluka parah dan ada juga yang tersesat karena berhamburan lari menyelamatkan diri. "Belum lagi sirine ambulans dan mobil polisi yang hilir mudik di jalan menuju Masjidil Haram untuk mengevakuasi korban wafat maupun luka," ungkapnya.

ArrahmahMedia.Com

"Kejadian ini menyadarkan kita bahwa pasrah sebagai jalan terbaik," kata Wakil Ketua 1 PW Lembaga Dakwah NU Jatim ini. Bagi korban yang sedang dalam perawatan semoga bisa segera sembuh sehingga bisa mengikuti seluruh rangkaian haji maupun umrah, lanjutnya.

"Dan kepada para korban meninggal, semoga husnul khatimah dan tercatat sebagai syuhada karena meninggal saat beribadah di Masjidil Haram," harapnya.

Ustadz Farmadi, sapaan akrabnya juga mendoakan agar keluarga korban di tanah nair diberikan ketabahan menerima kenyataan ini. "Rasanya tidak akan ada yang menginginkan kejadian seperti ini menimpa jamaah," ungkapnya. Namun inilah takdir dan ketentuan Allah SWT yang telah ditetapkan sejak zaman ajali, lanjutnya.

"Peristiwa ini kian menebalkan kepasrahan kita kepada Allah SWT untuk mengembalikan dan tawakkal kepada-Nya," katanya. Karenanya, Ustadz Farmadi berharap agar keluarga di tanah air berkenan terus mendoakan jamaah yang sedang menunaikan ibadah haji dan umrah agar bisa melaksanakan seluruh rangkaian ibadah dengan aman dan nyaman.

Seperti diberitakan sejumlah media, peristiwa itu terjadi pada sekitar pukul 17.30 waktu Makkah jelas. ? Dua jamaah haji Indonesia dikabarkan wafat dalam kecelakaan jatuhnya crane di Masjidil Haram. Sementara korban luka dari Indonesia berjumlah puluhan orang. (Ibnu Nawawi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Hadits, Bahtsul Masail ArrahmahMedia.Com

Selasa, 21 November 2017

Pentingnya Manajemen Perawatan Kader

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Nahdlatul Ulama memiliki banyak badan otonom yang menjadi lahan bagi pengkaderan. Tingkatan paling dasar pengkaderan berada ditangan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU).

Terdapat empat penjenjangan dalam pengkaderan di IPNU atau IPPNU untuk menghasilkan seorang kader yang militan. Satu hal penting adalah pentingnya manajemen perawatan kader, yaitu merawat kader setelah melewati tahapan-tahapan pelatihan agar tidak ‘lari’ dan dapat terus berkembang.

Pentingnya Manajemen Perawatan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
Pentingnya Manajemen Perawatan Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

Pentingnya Manajemen Perawatan Kader

Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum IPPNU Margareth Aliyatul Maemunah dalam diskusi Kamisan yang diselenggarakan di kantor redaksi ArrahmahMedia.Com, Kamis, 25 November.

ArrahmahMedia.Com

Empat penjenjangan pengkaderan yang harus dilalui adalah Masa Kesetiaan Anggota (Makesta), Latihan Kader Muda (Lakmud), Latihan Kader Utama (Lakut) dan Latihan kader Pelatih (Lakpel).

“Yang tidak kalah penting adalah manajemen perawatan kader, mereka mau diapakan setelah Makesta, karena itu saja tak cukup, mereka perlu dirawat dengan skill dan materi ke IPPNU-an atau ke-NU-an. Para seniornya perlu mengalokasikan waktu dan fokus untuk itu,” katanya.

ArrahmahMedia.Com

Margareth menuturkan, situasi pengkadern di tiap daerah tidak seragam, terutama antara di Jawa dan di luar Jawa, ada daerah yang hanya bisa menyelenggarakan pelatihan sampai Makesta saja, tetapi ada yang bisa sampai tidak Lakpel. Beberapa daerah yang sudah cukup bagus dalam pengkaderan diantaranya Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Untuk mengatasi kendala ini, IPPNU sekarang membentuk zona-zona, khususnya untuk pelatihan Lakpel yang dipusatkan di pulau-pulau besar seperti Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi.

Ia menuturkan, kondisi Pengurus Wilayah IPPNU-nya dalam satu pulau besar diasumsikan tak jauh berbeda, untuk Sumatra, Propinsi Lampung sebagai wilayah yang sudah berkembang bisa membantu dan mendukung wilayah lain yang ada disekitarnya. Di Sulawesi, Sulawesi Selatan juga dapat memback up Sulawesi Utara atau Gorontalo

“Kita tak bisa menyamakan Jawa dengan Sumatra dan menggabungkannya menjadi satu karena situasinya berbeda, makanya kita bagi per zona agar hasilnya lebih maksimal,” paparnya.

Dalam waktu dekat ini, yang Pelatihan Kader Pelatih akan diselenggarakan di pulau Kalimantan dan berpusat di Kalimatan Barat, selanjutnya akan diteruskan ke Sulawesi.

Pada setiap zona, nantinya akan ada koordinator wilayah yang akan bertanggung jawab atas proses kaderisasi selanjutnya.

Ia berharap dalam setiap tahapan pengkaderan, para pengurus mampu secara kreatif membuat pengkaderan menarik bagi remaja putri sehingga banyak yang ikut IPPNU tetapi tetap dalam koridor panduan yang sudah dibuat dalam buku Panduan. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Bahtsul Masail, Ulama, Nahdlatul Ulama ArrahmahMedia.Com

Kamis, 16 November 2017

Memahami Sikap PBNU

Oleh Syafiq Naqsyabandi



Sikap PBNU yang memilih kontra terhadap Aksi Bela Islam banyak membuat kalangan gagal paham. Rupanya tidak hanya kalangan Islam perkotaan yang gagal paham, tetapi juga kalangan Islam yang berasal dari lingkungan Nahdliyin (NU kultural). Umumnya mereka yang gagal paham ini merupakan kalangan Islam yang tidak dekat dengan NU struktural, meski tidak jauh dari kalangan NU kultural.

Memahami Sikap PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Memahami Sikap PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Memahami Sikap PBNU

Orang-orang yang meskipun berasal dari kalangan NU kultural, dapat terbawa isu-isu yang berembus di masyarakat jika tidak dekat dengan NU struktural. Kita semua mafhum, betapa liarnya isu (menjurus fitnah) yang berembus di masyarakat hari-hari ini. Hanya NU strukturallah yang dapat menangkis ataupun meluruskan kesimpangsiuran isu tersebut. Kedekatan seseorang dengan NU struktural, sedikit atau banyak akan mempengaruhi pemahaman seseorang dengan sikap-sikap PBNU.

Mengamini apa yang seringkali disampaikan Ahmad Baso dalam buku-bukunya, bahwa hari ini NU sedang digempur oleh wahabisme di satu sisi dan digempur oleh liberalisme di sisi lain. Isu-isu tertentu sengaja ditiupkan ke masyarakat Nahdliyin oleh kedua pihak tersebut, maupun pihak-pihak lain yang bersekutu dengan keduanya, demi menginfiltrasi NU. Nahdliyin yang awam dalam memahami prinsip-prinsip kemoderatan NU, dapat terinfiltrasi doktrin-doktrin di luar NU. Tidak heran jika kemudian Rais Aam KH Makruf Amin seringkali berpesan dalam berbagai kesempatan, “La radikaliyan wa la liberaliyan”.

ArrahmahMedia.Com

Kembali mengenai sikap PBNU terhadap Aksi Bela Islam yang terkesan melawan arus, barangkali perlu bagi kita untuk melihat kembali sikap PBNU dalam dinamika sejarah republik ini. Karena ternyata banyak juga sikap PBNU yang tidak mudah dipahami dalam berbagai peristiwa penting yang terjadi di republik ini. Contoh pertama dari sikap PBNU adalah keluarnya NU dari Masyumi pada tahun 1952. Saat itu Masyumi adalah satu-satunya partai politik bagi umat Islam, jumlah kursi Masyumi di parlemen pun termasuk yang paling banyak. Sikap PBNU yang memutuskan keluar dari Masyumi, membuat NU dituduh sebagai pemecah belah umat Islam.

ArrahmahMedia.Com

Setidaknya ada dua alasan yang membuat NU saat itu memutuskan keluar dari Masyumi. Pertama karena Masyumi mengurangi fungsi Dewan Syuro menjadi sekadar pemberi nasihat semata, padahal justru di Dewan Syuro lah duduk perwakilan NU, yakni KH Hasyim Asyari, KH Wahid Hasyim dan KH Wahab Hasbulloh. Pemangkasan fungsi Dewan Syuro ini membuat para ulama NU menjadi tidak dihargai dalam menentukan arah partai. Hal ini menimbulkan kekecewaan besar di kalangan NU. Alasan kedua adalah bergesernya posisi Menteri Agama yang sebelumnya adalah langganan KH Wahid Hasyim. Sikap NU yang memutuskan untuk keluar dari Masyumi tetaplah kontroversial sampai akhirnya sejarah membuktikan pada akhir medio 1950-an, pemimpin Masyumi melibatkan diri dalam gerakan makar PRRI/Permesta. NU membuktikan diri menjadi simbol kesetiaan umat Islam pada Republik Indonesia.

Contoh kedua dari sikap PBNU adalah bergabungnya NU dalam koalisi Nasakom di era demokrasi terpimpin. Sikap NU ini membuat para kiai NU dicerca karena bersedia duduk bersama PKI dalam pemerintahan. Saat itu kiai NU seringkali disebut-sebut sebagai kiai Nasakom. Padahal ijtihad NU untuk turut berada dalam pemerintahan adalah untuk mengawal kebijakan Presiden Soekarno supaya tidak didominasi oleh PKI. Keberadaan NU dalam pemerintahan saat itu juga untuk melindungi elemen-elemen umat Islam dari serangan PKI. Buktinya PKI pernah membujuk Presiden Soekarno untuk membubarkan HMI, tapi karena penolakan Menteri Agama yang juga Sekjend PBNU, KH Saifudin Zuhri, HMI tidak jadi dibubarkan. Pasca pecahnya peristiwa G30S, NU menjadi ormas yang paling depan dalam mengganyang PKI, kembali NU membuktikan kesetiaannya pada Republik Indonesia.

Contoh ketiga dari sikap PBNU adalah merapatnya Gus Dur sebagai Ketum Tanfidziyah PBNU kepada Jenderal LB Murdani. Seperti yang sudah diketahui, pada tahun 1984 pecah peristiwa Tanjung Priok dimana militer dibawah komando LB Murdani menembaki umat Islam dan menelan ratusan korban. Protes menyusul peristiwa tersebut terjadi di mana-mana bahkan hampir mengarah pada kerusuhan nasional. Latar belakang Jenderal LB Murdani yang bukan Islam membuat kerusuhan dipenuhi sentimen keagamaan. Ditengah-tengah susasana yang demikian, Gus Dur justru menggandeng Murdani mengunjungi pesantren-pesantren NU. Tak pelak Gus Dur mendapat hujatan dan cacian dari banyak pihak, bahkan dari warga NU sendiri. Lebih jauh Gus Dur dituduh telah murtad karena membela Murdani. Padahal, Gus Dur berpendapat langkah yang dilakukannya adalah upaya meredam represifitas aparat. Gus Dur khawatir jika tidak diredam, korban dari umat Islam akan bertambah besar.

Ketiga sikap yang sudah diuraikan di atas merupakan contoh, betapa seringkali sikap PBNU gagal dipahami oleh masyarakat. Masyarakat Nahdliyin sendiri saja bisa gagal paham, apalagi yang bukan Nahdliyin. Terlebih seringkali hanya sejarah yang bisa membuktikan kejelian sikap PBNU. Hal ini menjadi tidak mudah untuk menjelaskan mengapa PBNU justru sangat kontra terhadap aksi bela Islam, meskipun juga mendukung proses hukum terhadap terduga pelaku penista agama. Dalam seruan moral yang dikeluarkan pada 28 Oktober? 2016 yang lalu, tertangkap kesan yang sangat jelas bahwa PBNU khawatir jika arus yang ada tidak dibendung, maka kekuatan ekstrem kanan akan naik ke panggung politik nasional. Sikap PBNU tersebut bukan dalam rangka membela penista agama, tetapi lebih kepada menjaga supaya Islam moderat tetap menjadi arus utama umat Islam yang ada di Indonesia. Inilah originalitas dari beragam sikap PBNU terhadap dinamika perjalanan Republik Indonesia.

Kekhawatiran PBNU menjadi nyata tatkala tidak lama setelah sukses dan lancarnya rangkaian Aksi Bela Islam,terjadi pembubaran paksa peribadatan umat nasrani di Bandung. Kemudian merebaknya sweeping atribut natal di banyak kota. Terbaru adalah dilaporkannya Habib Rizieq oleh PMKRI. Sesama bangsa Indonesia menjadi mudah saling lapor, menjadi tiba-tiba saling berlawanan. Barangkali inilah yang disebut dengan bahaya naik panggungnya ekstrem kanan dalam perpoilitikan nasional. Naik panggungnya kalangan ekstrem bisa berujung pada konflik besar, seperti saat naik panggungnya ekstrem kiri pada awal 1965. Indonesia hanya bisa stabil jika berada di tengah-tengah, menjadi moderat, menjadi ummatan wasathan sesuai pesan Al-Baqarah ayat 143.

Penulis adalah warga NU, tinggal di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Aktif di Facebook dengan Akun Syafiq Naqsyabandi



Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kiai, Pertandingan, Bahtsul Masail ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock