Tampilkan postingan dengan label Quote. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Quote. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2018

Masih Banyak Laki-laki Tidak Jumatan di Aceh

Banda Aceh, ArrahmahMedia.Com. Warga minta kepada pihak Dinas Syariat Islam dan Wilayatul Hisbah (WH) Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) agar sosialisasi seputar salat Jumat lebih diperketat kembali, karena masih banyak umat Islam, khususnya laki-laki tidak melaksanakan ibadah wajib tersebut.

Lia, seorang warga Lamgugop di Banda Aceh, Sabtu, mengatakan, seharusnya pihak Dinas Syariat Islam dan WH Aceh lebih memperketat sosialisasi salat Jumat, karena selama ini lebih banyak sosialisasi untuk perempuan saja, baik masalah baju ketat maupun pacaran, sementara untuk laki-laki, khususnya salat Jumat sangat minim.

"Mereka lebih memperhatikan masalah khalwat dan minuman keras, padahal kita semua tahu bahwa hukum salat Jumat bagi laki-laki adalah wajib. Saya berharap agar Dinas Syariat Islam dan WH lebih memperhatikan hal itu," katanya.

Masih Banyak Laki-laki Tidak Jumatan di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Masih Banyak Laki-laki Tidak Jumatan di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Masih Banyak Laki-laki Tidak Jumatan di Aceh

Menanggapi hal tersebut Kepala Dinas Syariat Islam Aceh melalui Kabag Humasnya, Wirzaini Usman mengatakan, semua pihak harus bertanggung jawab dalam hal ini, misalnya pihak keluarga harus menjaga anaknya ketika waktu salat tiba dan ini bukan semata-mata tugas WH saja akan tetapi kewajiban bersama demi penegakan Syariat Islam.

Ia juga menyebutkan, selama ini pihaknya bukan menyepelekan masalah salat Jumat, akan tetapi perbuatan maksiat yang menjurus kepada zina atau pakaian ketat lebih banyak bahayanya daripada orang-orang yang tidak salat.

ArrahmahMedia.Com

Disebutkan, orang-orang yang tidak shalat tidak ada pengaruhnya bagi orang lain, akan tetapi jika ada seorang wanita yang memakai pakaian ketat maka akan menimbulkan fitnah dan bisa menimbulkan dosa bagi orang lain dan khususnya laki-laki dan dari itulah timbul perzinaan dan bisa jadi pemerkosaan.

"Sejauh ini pihak kami juga telah melakukan sosialisasi setiap Jumat dengan cara mengimbau masyarakat, khususnya laki-laki agar melaksanakan salat Jumat ketika sampai waktunya yaitu dengan patroli rutin yang disebut siaran keliling Jumat," katanya.

"Kalau seandainya ada masyarakat yang kedapatan meninggalkan salat Jumat tiga kali berturut-turut maka kita juga akan memberikan sanksi berupa cambuk atau dipenjara selama enam bulan. Untuk ke depan kita akan meningkatkan sosialisasi dan WH, khususnya personil perempuan akan bekerja sama dengan Polwan Poltabes untuk turun ke lapangan mengatasi masalah ini," ujarnya. (ant/ndi)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Quote, Nahdlatul ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 24 Februari 2018

Jombang Bertekad Miliki Madrasah Diniyah di Tiap Desa

Jombang, ArrahmahMedia.Com



Meskipun disebut sebagai Kota Santri, tingkat kejahatan dan tindakan kurang patut dan mengarah kriminalitas di Kabupaten Jombang Jawa Timur masih tinggi. Peredaran narkoba juga cukup memprihantinkan. Belum lagi kian bertambahnya jumlah anak jalanan. Sebagai solusi, harus ada usaha untuk mendirikan madrasah diniyah atau Madin di setiap desa.

Jombang Bertekad Miliki Madrasah Diniyah di Tiap Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Jombang Bertekad Miliki Madrasah Diniyah di Tiap Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Jombang Bertekad Miliki Madrasah Diniyah di Tiap Desa

Hal tersebut disampaikan Ny Hj Mundjidah Wahab pada kegiatan wisuda hafidh di Pondok Pesantren Nurul Quran yang berlokasi di Desa Bendungrejo, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, Sabtu (2/9) malam.

"Saya saksikan sejumlah anak muda lebih memilih mengisi aktifitas di kawasan lampu merah sambil ngamen daripada bersama keluarga," kata perempuan yang juga Ketua PC Muslimat NU Jombang tersebut.

Mereka adalah generasi muda yang harusnya mengisi hidup dengan kegiatan yang bermanfaat seperti belajar dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. "Tapi yang dilakukan mereka sangat memprihatinkan," ungkap Nyai Mundjidah.

ArrahmahMedia.Com

Bagi putri pahlawan nasional, KH Abdul Wahab Hasbullah tersebut, perbaikan karakter adalah solusi agar anak muda tidak terjerumus dengan hal negatif. "Salah satunya adalah mengenalkan mereka dengan pendidikan agama layaknya di pesantren," tandas Wakil Bupati Jombang ini.

Konsekuensi sebagai Kota Santri yang melekat pada Kabupaten Jombang, maka Nyai Mundjidah akan berupaya menghadirkan madrasah diniyah (madin) di setiap desa. "Ini sebagai jawaban agar sejumlah penyakit masyarakat khususnya yang menghinggapi generasi muda bisa segera ditemukan jalan keluarnya," katanya.

Karena itu dirinya sangat salut kepada para wisudawan penghafal Al-Qur’an yang justru mengisi hari dengan aktivitas bermanfaat. "Kalianlah yang akan memberikan pencerahan kepada masyarakat," katanya.

Diharapkan kehadiran para wisudawan penghafal kalamullah tersebut nantinya bisa menyemarakkan madin yang ada di setiap desa. "Saya yakin bila upaya pendirian madin di setiap desa nantinya akan mampu menekan angka kriminalitas, khususnya para generasi muda," tandasnya. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

 

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Santri, Quote ArrahmahMedia.Com

Senin, 12 Februari 2018

Gafatar Kelompok Eksklusif yang Berbahaya

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berpendapat bahwa Gerakan Fajar Nusantara atau yang lebih dikenal dengan akronim Gafatar adalah organisasi masyarakat (ormas) yang perlu untuk diwaspadai. Sebab sepak terjangnya yang bersifat eksklusif, tertutup dan cenderung mengisolasi diri.

Setiap ormas atau gerakan yang cenderung eksklusif dan tidak terbuka muaranya pasti bermisi untuk menyebarkan doktrin-doktrin yang menyimpang. Sebab parameter yang sahih untuk digunakan menilai gerakan sebauah ormas adalah keterbukaan dan sikap inklusifnya dalam menjalankan visi dan misi serta agenda organisasi massanya.

Kami menghimbau kepada masyarakat Indonesia untuk selalu waspada terhadap gerakan yang cenderung menutup diri dan diam-diam dalam menyebarkan paham dan ajarannya. Hidup di era sekarang ini kita harus jeli dan teliti untuk mengambil sebuah keputusan, termasuk memutuskan untuk bergabung dengan sebuah ormas.

Gafatar Kelompok Eksklusif yang Berbahaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Gafatar Kelompok Eksklusif yang Berbahaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Gafatar Kelompok Eksklusif yang Berbahaya

Di pihak lain, kami mendesak kepada pemerintah untuk segera melakukan investigasi yang valid dan mengabarkan kepada khalayak mengenai jati diri ormas Gafatar. Masyarakat berhak tahu seluk beluk dan sepak terjang ormas Gafatar ini.

Organisasi Gerakan Fajar Nusantara atau yang lebih karib di telinga belakangan dengan akronim Gafatar beberapa hari ini menjadi perbincangan yang instens. Banyak pihak mulai mencari tahu siapa, apa dan bagaimana ajaran, misi sekaligus sepak terjang organisasi massa ini.

Gafatar diakui oleh pihak Kesbangpol Kemendagri telah terdaftar sebagai ormas sejak tahun 2011 silam. Organisasi ini memiliki segala bentuk persyaratan mendidirkan ormas termasuk AD/ART yang disahkan oleh pihak Notaris.

ArrahmahMedia.Com

Pada perjalannya Gafatar sebagaimana ormas lain lebih banyak berkonsentrasi pada kegiatan-kegiatan berdimensi sosial. Sejumlah kegiatan semisal baksos, bantuan sekolah, bersih-bersih kawasan, hingga santunan untuk keluarga kurang mampu rutin dilakukannya. Namun, hilangnya sejumlah mahasiswa belakangan yang ditengarai menjadi anggota Gafatar membuat ormas ini menjadi buah bibir perbincangan masyarakat luas.

 

ArrahmahMedia.Com

Jakarta, 13 Januari 2016

 

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA            

Ketua Umum                                                

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Quote ArrahmahMedia.Com

Minggu, 11 Februari 2018

Kementerian Dalam Negeri Singapura Sambangi PBNU

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendapatkan kunjungan dari perwakilan Kementerian Dalam Negeri Singapura. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyambutnya langsung di ruangannya, di lantai tiga, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (16/1).

Pada pertemuan tersebut, Kiai Said didampingi Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghani, Ketua PBNU H Robikin Emhas, H Eman Suryaman, H Sulton Fatoni, H Hanief Saha Ghafur; Bendahara Umum PBNU H Ing Bina Suhendra; Wakil Sekjen PBNU H Masduki Baedowi, H Ulil Abshar, Isfah Abidal Azis, dan pengurus lainnya. 

Kementerian Dalam Negeri Singapura Sambangi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kementerian Dalam Negeri Singapura Sambangi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kementerian Dalam Negeri Singapura Sambangi PBNU

Sementara rombongan dari Kementerian Dalam Negeri Singapura yang berkunjung ialah Parliamentary Secretary, Ministry of Home Affairs and Ministry of Health Amrin Amin, Ambassador of Singapore to Indonesia Anil Nayar, Deputy Chief of Mission, Embassy of Singapura Jonathan Han, First Secretary (Political) Embassy of Singapore Cai Xihao, Assistant Director Singapore Civil Defence Force Tan Jee Piau, dan Senior Manager Ministry of Home Affairs Kristen Samivelu.

Dalam pertemuan tersebut, Kiai Said menyampaikan banyak hal, termasuk tentang keragaman di Indonesia. Kiai Said mengatakan, di Indonesia terdapat banyak bahasa, etnik, agama, bahkan organisasi keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, dan Perti. 

ArrahmahMedia.Com

Namun begitu, Kiai Said menyayangkan banyak warga Singapura tidak mengerti tentang keberagaman di Indonesia. Padahal, kata Kiai asal Cirebon, Jawa Barat tersebut, Singapura merupakan negara tetangga yang sangat dekat.

“Kadang orang Singapura yang tetangga dekat tidak ngerti, kalau orang jauh laik ya tidak ngerti,” katanya prihatin. 

Menurut Kia Said, ketidakmengertiannya karena hubungan budaya antara Indonesia dengan Singapura kurang kuat.



ArrahmahMedia.Com



Menanggapi hal itu, perwakilan dari Singapura Parlimentary Secretary Ministry of Home Affairs and Ministry of Health Amrin Amin berharap, ke depan hubungan dengan NU bisa diperkuat.

“Saya rasa mungkin boleh kita pergiatkan lagi,” katanya. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Lomba, Quote ArrahmahMedia.Com

Kamis, 08 Februari 2018

Apakah Kedua Orang Tua Nabi Muhammad SAW Golongan Penghuni Neraka?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Yang terhormat redaksi Bahtsul Masail ArrahmahMedia.Com. Kami memohon penjelasan tentang hadits riwayat Muslim yang menyatakan bahwa ayah dan ibu Nabi Muhammad SAW masuk neraka. Kami memohon penjelasan hadits ini. Apakah benar di Hari Kiamat ayah dan ibu Nabi Muhammad saw masuk neraka? Terima kasih atas penjelasannya. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Hilmi Qosim Mubah)

Jawaban

Apakah Kedua Orang Tua Nabi Muhammad SAW Golongan Penghuni Neraka? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apakah Kedua Orang Tua Nabi Muhammad SAW Golongan Penghuni Neraka? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apakah Kedua Orang Tua Nabi Muhammad SAW Golongan Penghuni Neraka?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya dan pembaca yang budiman di mana pun berada. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan petunjuk-Nya untuk kita semua. Sebelum berbicara lebih jauh kita terlebih dahulu menyebutkan hadits riwayat Imam Muslim yang menunjukkan bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW termasuk penduduk neraka kelak di akhirat.

ArrahmahMedia.Com

Kita setidaknya menemukan dua hadits yang diriwayatkan di dalam kitab Jamuis Shahih Muslim terkait masalah ini. Hadits pertama diriwayatkan oleh Sahabat Anas bin Malik. Hadits kedua diriwayatkan Sahabat Abu Hurairah RA.

Hadits riwayat Anas bin Malik RA menceritakan sebagai berikut.

ArrahmahMedia.Com

? ? ?: ? ? ? ? ? ?: ? ?. ? ? ? ?: ? ? ? ? ?

Artinya, "Salah seorang sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, di manakah kini ayahku?’ Nabi Muhammad SAW menjawab, ‘Di neraka.’ Ketika orang itu berpaling untuk pergi, Nabi Muhammad SAW memanggilnya lalu berkata, ‘Sungguh, ayahku dan ayahmu berada di dalam neraka,’” (HR Muslim).

Sementara hadits riwayat Abu Hurairah RA menyebutkan sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, "Nabi Muhammad SAW menziarahi makam ibunya. Di sana Beliau SAW menangis sehingga para sahabat di sekitarnya turut menangis. Rasulullah SAW mengatakan, ‘Kepada Allah Aku sudah meminta izin untuk memintakan ampun bagi ibuku, tetapi Allah tidak mengizinkanku. Lalu Aku meminta kepada-Nya agar Aku diizinkan menziarahi makam ibuku, alhamdulillah Dia mengizinkanku," (HR Muslim).

Secara harfiah pemahaman yang kita dapati dari keterangan dua hadits di atas menujukkan bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW termasuk ke dalam penghuni neraka. Tetapi sebenarnya ulama baik dari kalangan ahli hadits maupun kalangan ahli kalam berbeda pendapat perihal ini. Di antara ulama yang memaknai hadits ini secara harfiah adalah Imam An-Nawawi. Dalam kitab Syarah Muslim yang ditulisnya menunjukkan secara jelas posisinya seperti keterangan berikut ini.

? ( ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Pengertian hadits ‘Seorang lelaki bertanya, ‘Wahai Rasulullah, di manakah kini ayahku?’ dan seterusnya, menunjukkan bahwa orang yang meninggal dalam keadaan kufur bertempat di neraka. Kedekatan kerabat muslim tidak akan memberikan manfaat bagi mereka yang mati dalam keadaan kafir. Hadits ini juga menunjukkan bahwa mereka yang meninggal dunia di masa fatrah (masa kosong kehadiran rasul) dalam keadaan musyrik yakni menyembah berhala sebagaimana kondisi masyarakat Arab ketika itu, tergolong ahli neraka. Kondisi fatrah ini bukan berarti dakwah belum sampai kepada mereka. Karena sungguh dakwah Nabi Ibrahim AS, dan para nabi lainnya telah sampai kepada mereka. Sedangkan ungkapan ‘Sungguh, ayahku dan ayahmu berada di dalam neraka’ merupakan ungkapan solidaritas dan empati Rasulullah SAW yang sama-sama terkena musibah seperti yang dialami sahabatnya perihal nasib orang tua keduanya. Ungkapan Rasulullah SAW ‘Ketika orang itu berpaling untuk pergi’ bermakna beranjak meninggalkan Rasulullah SAW.” (lihat Imam An-Nawawi, Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim Ibnil Hajjaj, Dar Ihyait Turats Al-Arabi, Beirut, Cetakan Kedua, 1392 H).

Sementara ulama lain menilai hadits ini telah dimansukh (direvisi) oleh riwayat Sayidatina Aisyah RA. Dengan demikian kedua orang tua Rasulullah SAW terbebas sebagai penghuni neraka seperti keterangan hadits yang telah dimansukh. Salah satu ulama yang mengambil posisi ini adalah Syekh Jalaluddin As-Suyuthi dalam karyanya Ad-Dibaj Syarah Shahih Muslim Ibnil Hajjaj.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW menziarahi makam ibunya dan seterusnya. Menurut Imam An-Nawawi, ‘Hadits ini terdapat pada riwayat Abul Ala bin Mahan penduduk Maghrib, tetapi tidak terdapat pada riwayat orang-orang desa kami dari riwayat Abdul Ghafir Al-Farisi. Namun demikian hadits ini terdapat di kebanyakan ushul pada akhir Bab Jenazah dan disimpan. Tetapi terkadang ditulis di dalam catatan tambahan. Hadits ini diiwayatkan Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah.’ Hemat saya jelas, Ibnu Syahin menyebutkan di dalam kitab Nasikh dan Mansukh bahwa hadits ini dan hadits yang semakna dengannya telah dimansukh oleh hadits yang menerangkan bahwa Allah menghidupkan kembali ibu Rasulullah sehingga ia beriman kepada anaknya, lalu Allah mewafatkannya kembali. Ini terjadi pada Haji Wada’. Perihal masalah ini saya telah menulis tujuh kitab,” (Lihat Abdurrahman bin Abu Bakar, Abul Fadhl, Jalaluddin As-Suyuthi, Ad-Dibaj Syarah Shahih Muslim Ibnil Hajjaj).

Kalangan ahli kalam juga membicarakan perihal ahli fatrah. Menurut kalangan Muktazilah dan sebagian ulama Maturidiyah, orang-orang ahli fatrah yang wafat dalam keadaan musyrik termasuk penghuni neraka. Karena bagi mereka, manusia tanpa diutus seorang rasul sekalipun semestinya memilih tauhid melalui daya akal yang dianugerahkan Allah kepadanya.

Sementara kalangan Asy-ari menempatkan ahli fatrah sebagai kalangan yang terbebas dari tuntutan tauhid karena tidak ada rasul yang membimbing mereka. Berikut ini perbedaan pendapat yang bisa kami himpun.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Ulama berbeda pendapat perihal ahli fatrah. Apakah kehadiran rasul yang mana saja sekalipun Nabi Adam AS yang jauh sekali dianggap cukup bahwa dakwah telah sampai (bagi masyarakat musyrik Mekkah) atau mengharuskan rasul secara khusus yang berdakwah kepada kaum tertentu? Menurut kami, yang shahih adalah pendapat kedua. Atas dasar itu, ahli fatrah selamat dari siksa neraka meskipun mereka mengubah dan mengganti keyakinan mereka, lalu menyembah berhala. Kalau ahli fatrah itu terbebas dari siksa neraka, tentu kita yakin bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW selamat dari neraka karena keduanya termasuk ahli fatrah. Bahkan keduanya termasuk pemeluk Islam berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa Allah menghidupkan keduanya setelah Nabi Muhammad SAW diangkat sebagai rasul sehingga keduanya berkesempatan mengucapkan dua kalimat syahadat. Riwayat hadits ini shahih menurut sebagian ahli hakikat. Syekh Jalaluddin As-Suyuthi menulis sejumlah kitab terkait keselamatan kedua orang tua Rasulullah SAW di akhirat. Semoga Allah membalas kebaikan Syekh Jalaluddin atas karyanya,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Al-Baijuri ala Matnis Sanusiyyah, Dar Ihya’il Kutub Al-Arabiyyah, Indonesia, Halaman 14).

Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam karyanya Nuruz Zhalam Syarah Aqidatil Awam menegaskan sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Syekh Ibrahim Al-Baijuri mengatakan, ‘Yang benar adalah bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW selamat dari siksa neraka berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa Allah SWT menghidupkan kembali kedua orang tua Rasulullah SAW sehingga keduanya beriman kepada anaknya, lalu Allah SWT mewafatkan kembali keduanya. Sebuah riwayat hadits dari Urwah dari Sayidatina Aisyah RA menyebutkan bahwa Rasululah SAW memohon kepada Allah SWT untuk menghidupkan kedua orang tuanya sehingga keduanya beriman kepada anaknya, lalu Allah SWT mewafatkan kembali keduanya. As-Suhaili berkata bahwa Allah maha kuasa atas segala sesuatu, termasuk mengistimewakan karunia-Nya dan melimpahkan nikmat-Nya kepada kekasih-Nya Rasulullah SAW sesuai kehendak-Nya,” (Lihat Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani, Syarah Nuruzh Zhalam ala Aqidatil Awam, Karya Toha Putra, Semarang, Tanpa Tahun, Halaman 27).

Dari dua pandangan ulama di atas, Penulis lebih cenderung pada pendapat yang mengatakan bahwa kedua orang tua Rasulullah SAW termasuk kalangan muslim dan golongan orang-orang yang beriman. Karena sah menurut akal (ja’iz aqli) bahwa Allah SWT mengabulkan permintaan Rasulullah SAW memandang pangkat kekasih-Nya yang begitu agung dan mulia itu di sisi-Nya dan begitu luasnya kemurahan Allah itu sendiri. Wallahu a’lam bis shawab.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Saran kami jangan sampai perbedaan pendapat dalam masalah ini menyebabkan kita saling menyalahkan satu sama lain atau bahkan meremehkan ulama besar yang berbeda pendapat dengan kita. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Cerita, Kajian Sunnah, Quote ArrahmahMedia.Com

Senin, 29 Januari 2018

Sejak Belia Gus Dur Bergaul dengan Kelompok Berbeda

Jombang, ArrahmahMedia.Com. Adik kandung KH Abdurrahman Wahiid (Gus Dur), KH Salahuddin Wahid menjelaskan tentang kondisi lingkungan yang membuat kakanya menjadi sosok yang berani dan egaliter. Menurut dia, hal ini tak lepas dari cara mendidik orang tua mereka.

Sejak Belia Gus Dur Bergaul dengan Kelompok Berbeda (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejak Belia Gus Dur Bergaul dengan Kelompok Berbeda (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejak Belia Gus Dur Bergaul dengan Kelompok Berbeda

"Kami waktu kecil disekolahkan di sekolah yang muridnya kebanyakan beragama Kristen. Makanya kami sekeluarga selalu menghargai perbedaan," ujar pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang akrab disapa Gus Sholah ini.

Gus Sholah menyampaikan hal itu dalam acara bedah buku  “Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita” karya Menteri Negara Riset dan Teknologi era Gus Dur, AS Hikam, Kamis (26/12). Selain penulis buku, hadir pula sebagai narasumber Pendeta Simon Filantropa Bingki Irawan.

ArrahmahMedia.Com

Bingki Irawan dalam forum itu lebih banyak menceritakan pengalamannya selama dekat dengan Gus Dur. Yakni, ketika dirinya diajak berjunjung ke Tiongkok. Hanya saja waktu itu Bingki dimarahi oleh Gus Dur karena keluar dari acara tanpa pamit.

ArrahmahMedia.Com

Ia juga menceritakan pengalamannya ditangkap oleh Kodam V Brawijaya lantaran menggelar atraksi barongsai. Gus Dur mengecam aksi penangkapan tersebut dan membela warga Tionghoa. "Saat itu zaman orde baru, menggelar kesenian China masih tabu. Bahkan saya dianggap PKI," kenang Bingki.

Sementara itu AS Hikam mengupas tentang bukunya. Buku itu menurut As Hikam mengupas seluruh sosok Gus Dur. Adapula wawancara imajiner dengan mantan Ketua Umum PBNU itu. "Buku ini sangat ringan dan bisa dibaca oleh semua kalangan," pungkas Hikam.

Acara yang diselenggarakan di Klenteng Hok Liong Kiong Jombang ini juga menampilkan sejumlah kesenian tradisional, di antaranya tari remo dari Jombang, pembacaan puisi, atraksi bambu gila dari Ambon, serta vokal grup dari gereja.

"Acara ini untuk mendandai  empat tahun meninggalnya Gus Dur. Sekaligus untuk menggali pemikiran beliau," ujar Aan Anshori, salah satu panitia. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Makam, Quote, Pemurnian Aqidah ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 20 Januari 2018

PCNU Rembang Imbau Calhaj Jaga Akhlak Selama Bertamu di Tanah Suci

Rembang, ArrahmahMedia.Com - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Rembang berpesan kepada para jamaah calon haji untuk tetap menjaga ahlak selama berada di tanah suci. Pihak PCNU Rembang berdoa agar calon jamaah haji dari Rembang terus mengalir sepanjang tahun. Mereka berharap warga Kabupaten Rembang yang menunaikan haji selamat sampai tujuan, serta menjadi haji mabrur.

Demikian disampaikan oleh Ketua PCNU Rembang KH Ahmad Sunarto dalam sambutan doa bersama bagi calon jamaah haji di aula Pesantren TPI, Rembang, Sabtu (27/8).

PCNU Rembang Imbau Calhaj Jaga Akhlak Selama Bertamu di Tanah Suci (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Rembang Imbau Calhaj Jaga Akhlak Selama Bertamu di Tanah Suci (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Rembang Imbau Calhaj Jaga Akhlak Selama Bertamu di Tanah Suci

"Semoga ibadah para calon jamaah haji diterima oleh Allah SWT, dapat memenuhi syarat dalam berhaji, dan yang paling penting menjaga akhlak selama beribadah dan berada di tanah suci,” terang Kiai Sunarto.

Dalam doa bersama ini tampak tiga kiai besar di Kabupaten Rembang memberikan doa kepada ratusan jamaah haji yang mengikuti doa bersama. Mereka adalah KH Ahmad Taschin, KH Ridwan Muslih, KH Nasrullah Mutho Al-Khafid. Pertemuan ini ditutup oleh KH Ahmad Musthofa Bisri (Gus Mus).

ArrahmahMedia.Com

Calon haji yang tergabung dalam Kloter 48 yang berangkat dari kantor PCNU Rembang, setelah doa bersama di aula Pesantren Raudlatuttholibien Leteh Rembang.

ArrahmahMedia.Com

Menjelang keberangkatan jamaah haji, Gus Mus tampak menenangkan salah satu cucunya yang ditinggal kedua orang tuanya haji. Putra kedua dari pasangan Raabiatul Bisriah dan Wahyu Salvana menangis karena tahu akan ditinggal kedua orang tuanya dalam waktu yang agak lama.

Sementara itu, Kepala Seksi Penyelenggara Haji Dan Umroh Kementerian Agama Rembang Shalehuddin mengabarkan bahwa ada satu jamaaah haji asal Kabupaten Rembang yang tergabung dalam Kloter 38 yang berasal dari Desa Gegersimi Kecamatan Pamotan. Ia sudah lebih dulu berangkat pada 23 Agustus lalu, dikabarkan gagal berangkat ke tanah suci, diduga mengidap penyakit TBC.

Mengenai kelengkapan identitas calon jamaah yang gagal berangkat, Shalehudin mengaku belum mendapatkan konfirmasi secara jelas. Menurutnya, jamaah tersebut masih menjalani perawatan di RS Moewardi Solo. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Quote, Kajian Sunnah ArrahmahMedia.Com

Selasa, 09 Januari 2018

RSI Siti Hajar Sidoarjo Sosialisasi Kesehatan Gigi pada Anak

Sidoarjo, ArrahmahMedia.Com

Puluhan siswa Raudlatul Atfal (RA) Raden Patah Sidoarjo mengikuti sosialisasi dan pemeriksaan gigi secara gratis yang diadakan oleh Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo, di lantai 2, Kamis (28/1).

RSI Siti Hajar Sidoarjo Sosialisasi Kesehatan Gigi pada Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
RSI Siti Hajar Sidoarjo Sosialisasi Kesehatan Gigi pada Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

RSI Siti Hajar Sidoarjo Sosialisasi Kesehatan Gigi pada Anak

Dokter spesialis gigi anak, dr Dini Safitri mengatakan, menggosok gigi sangat penting untuk melindungi gigi agar menjadi kuat. Terutama pada anak usia dini, sebaiknya dilakukan selama tiga kali sehari.

"Menggosok gigi sebaiknya dilakukan rutin sehari tiga kali yakni sesudah sarapan, sore dan sebelum tidur," kata dr Dini.

Ia menegaskan bahwa minum susu sebaiknya jangan dilakukan dengan menggunakan dot. Lebih baik menggunakan gelas saja. Karena minum susu menggunakan dot dapat membuat gigi anak bagian atas bisa ke depan.

ArrahmahMedia.Com

"Minum susu menggunkan dot bisa mengakibatkan gigi anak bagian atas bisa ke depan. Jika minum susu sebelum tidur, sebaiknya langsung dilakukan gosok gigi agar tidak menimbukan kuman pada gigi. Karena pada saat tidur, sisa susu kental di dalam rongga mulut bisa menyebabkan gigi berlubang," saranya.

Lebih jauh dr Dini menyampaikan, anak pada usia 6 tahun, gigi geraham paling belakang sudah keluar. Walaupun tidak ada keluhan, sekitar 6 bulan sekali harus kontrol. Tanpa harus menunggu gigi anak goyang.

"Pada anak yang berusia 6 bulan sampai 2,5 tahun, mereka memiliki 10 gigi susu atas dan 10 gigi bawah. Terkadang ada juga yang sampai 12 atas dan bawah. Pada saat usia 6 tahun ke atas baru tumbuh gigi tetap," jelasnya.

Sementara itu di tempat yang sama, salah satu siswa RA Raden Patah Sidoarjo, Danang kelompok B mengaku senang bisa mengikuti sosialisasi dan pemeriksaan gigi yang dilakukan oleh RSI Siti Hajar Sidoarjo.

"Ketika diperiksa gigi saya tadi gak takut. Saya setiap hari gosok gigi, pagi, sore dan malam," ucapnya singkat. (Moh Kholidun/Fathoni)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com RMI NU, Ubudiyah, Quote ArrahmahMedia.Com

Jumat, 29 Desember 2017

Ini Doa Jelang Persalinan Ibu Hamil

Menjelang persalinan Sayidatina Fathimah RA, RAsulullah SAW memanggil Ummu Salamah dan Zainab binti Jahsyin. Nabi Muhammmad SAW meminta keduanya untuk mwmbaca ayat Kursi dan surat Al-A‘raf ayat 54 di dekat Sayidatina Fathimah RA. Kecuali itu, Rasulullah SAW meminta keduanya membaca Surat Al-Falaq dan An-Nas di dekat Fathimah.

Sebagaimana mana dimaklum, bunyi surat Al-A‘raf ayat 54 adalah sebagai berikut.

Ini Doa Jelang Persalinan Ibu Hamil (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Doa Jelang Persalinan Ibu Hamil (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Doa Jelang Persalinan Ibu Hamil

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

ArrahmahMedia.Com

Artinya, “Sungguh, Tuhanmu adalah Allah, yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutup malam dengan siang yang mengiringinya dengan segera. Dia menciptakan matahari, bulan dan bintang-bintang yang tunduk di bawah perintah-Nya. Ingatlah, hanya milik Allah segala penciptaan dan segala urusan. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam,” (QS Al-A‘raf ayat 54).

ArrahmahMedia.Com

Hadits ini diriwayatkan oleh Sayidatina Fathimah RA yang kemudian disebutkan Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar. Dalam karyanya itu, Imam An-Nawawi menganjurkan orang di sekitar ibu hamil yang akan bersalin untuk membaca banyak doa di saat genting (doa kurob).

Salah satu doa kurob yang diajarkan Rasulullah SAW adalah berikut ini.

?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ?

Lâ ilâha illallâhul ‘azhîmul halîm. Lâ ilâha illallâhu rabbul ‘arsyil ‘azhîm. Lâ ilâha illallâhu rabbus samâwâti wa rabbul ardhi rabbul ‘arsyil karîm. Yâ hayyu, yâ qayyûm, bi rahmatika astaghîts

Artinya, “Tiada tuhan selain Allah yang maha agung lagi maha santun. Tiada tuhan selain Allah, Tuhan arasy yang megah. Tiada tuhan selain Allah, Tuhan langit, bumi, dan arasy yang mulia. Wahai Tuhan Yang Maha Hidup, lagi Maha Jaga. Hanya kasih-sayang-Mu yang kuharapkan.”

Ada baiknya juga memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW seperti Shalawat Nariyah, dan shawalat lainnya. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Quote, Habib ArrahmahMedia.Com

Minggu, 17 Desember 2017

Gusdurian: Tindak Tegas Pelaku Kekerasan di Yogyakarta

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Kekerasan dengan dalih agama kembali terjadi. Kali ini menimpa? salah seorang aktivis Forum Lintas Iman, Aminuddin Azis, di Gunung Kidul, DI Yogyakarta, Jumat (2/05). Menurut sejumlah sumber, aksi kekerasan dilakukan oleh segerombolan orang dari? FJI (Front Jihad Islam).? Kekerasan ini ditengarai akibat pernyataan korban di sebuah media massa.

Koordinator Jaringan Gudurian Indonesia Alissa Wahid dalam rilis yang diterima ArrahmahMedia.Com, Ahad (4/5), menuntut aparat kepolisian bertindak tegas dan menangkap pelaku. Ia juga mendesak para penegak hukum, khususnya di DIY, untuk melindungi kebebasan berpendapat dan beragama sesuai amanat Undang-Undang Dasar Republik Indonesia.

Gusdurian: Tindak Tegas Pelaku Kekerasan di Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Gusdurian: Tindak Tegas Pelaku Kekerasan di Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Gusdurian: Tindak Tegas Pelaku Kekerasan di Yogyakarta

Menurut Alissa, kasus yang menimpa Aminuddin Azis ini mengikuti peristiwa-peristiwa kekerasan atas nama agama yang sebelumnya terjadi di wilayah DI Yogyakarta, seperti perusakan kantor Yayasan LkiS, ancaman terhadap Rausyan Fikr, ancaman penutupan Gereja dan lain-lain.

ArrahmahMedia.Com

"Selama ini berbagai kasus kekerasan atas nama agama tidak pernah diusut secara tuntas. Para pelaku tetap dibiarkan berkeliaran tanpa hukuman," kata putri sulung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)? ini.

ArrahmahMedia.Com

Hal tersebut, lanjut Alissa, menunjukkan bahwa penegak hukum di Indonesia, khususnya di DIY, gagap dan tidak mampu menjamin kebebasan berpendapat dan kebebasan beragama yang sebenarnya dijamin oleh konstitusi.

Jaringan Gusdurian juga meminta aparat hukum untuk tidak takut terhadap siapapun dan kelompok manapun yang melanggar hukum dengan dalih agama.? Para pecinta dan penerus perjuangan Gus Dur diseluruh Indonesia didorong untuk terus berjuang mewujudkan keadilan hukum dan melawan semua bentuk diskriminasi serta penindasan.

Komunitas yang berdiri pascawafatnya Gus Dur ini menyerukan kepada masyarakat luas untuk terus memantau dan mengawal penegakan hukum terhadap kasus-kasus kekerasan atas nama agama.? (Red: Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Hikmah, Quote, Khutbah ArrahmahMedia.Com

Senin, 11 Desember 2017

Ulama Nganjuk Harapkan Santri Hargai Para Pendahulu

Nganjuk, ArrahmahMedia.Com - Perjalanan hari ketiga Kirab Resolusi Jihad NU 2016 memasuki Kabupaten Nganjuk, Sabtu (15/10). Pondok Pesantren Miftahul Ula Nglawak Kertosono didatangi Tim Kirab. Tim kirab tiba di pesantren yang didirikan KH Abdul Kodir Al-Fatah dan telah berusia 92 tahun itu sekira pukul 22.00.

Wakil Bupati Nganjuk KH Abdul Wahid Badrus berkenan menyampaikan kata sambutan. Menurut Mustasyar PCNU Nganjuk ini, peringatan Hari Santri Nasional yang diisi salah satunya dengan Kirab Resolusi Jihad membuka mata pemerintah dan anak bangsa tentang semangat membela bangsa.

Ulama Nganjuk Harapkan Santri Hargai Para Pendahulu (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Nganjuk Harapkan Santri Hargai Para Pendahulu (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Nganjuk Harapkan Santri Hargai Para Pendahulu

Semangat yang melahirkan Resolusi Jihad pada dasarnya timbul karena suatu bangsa yang memasuki wilayah bangsa lain pasti menimbulkan kerusakan di wilayah negara yang dimasukinya.

ArrahmahMedia.Com

Kiai Wahid menyinggung hal tersebut seperti kisah Ratu Saba setelah menerima surat dari Nabi Sulaiman, di mana Ratu Saba bersabda “Masuknya suatu bangsa ke sebuah negeri akan berbuat kerusakan di dalam negeri.”

Kiai Wahid memandang resolusi tidak saja relevan pada masa perjuangan tahun 1945, tetapi kiranya menjadi semangat motivasi dan inspirator untuk menjadi manusia yang cinta kepada Indonesia, setia NKRI dan komitmen yang telah diputuskan dalam UUD 1945.

ArrahmahMedia.Com

Di Indonesia ini ada satu buku karangan KH Saifudin Zuhri berjudul Orang-orang dari Pesantren. Dalam buku tersebut, digambarkan betapa para ulama mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap negara, saat terjadi cengkraman penjajahan dari Jepang dan Belanda. Dalam buku itu disebut pula peran para ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Kiai Wahid memandang peringatan Hari Santri Nasional, pelaksanaannya perlu didukung oleh pemerintah pada waktu mendatang. Karena itu ia berpesan kepada PBNU untuk mendorong pemerintah agar setiap Pemda di Indonesia menyelenggarakan peringatan Hari Santri, bukan hanya NU yang bergerak sendiri.

Pesan kedua, pantas sekali bahwa para kiai dan ulama kebih dihargai oleh negara. Memang beberapa ulama telah diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Namun nyatanya masih banyak Kiai dan ulama yang dipandang sebelah mata oleh negara.

Kepada generasi muda dan santri, ia berpesan kepada mereka agar mempelajari sejarah. Sosok seperti Gus Dur atau KH Saifudin Zuhri dan tokoh lainnya dapat dijadikan inspirasi dan motivasi untuk berbuat bagi bangsa dan negara.

Selanjutnya generasi muda juga harus berjuang demi agama dan NU. Dalam rangka itu, NU struktural dan kultural harus bersatu.

"Melalui NU struktural kita rajut kerja sama dengan pemerintah. Melalui NU kultural kita rajut kerja sama dengan masyarakat. Mari kita rajut untuk kehidupan yang lebih baik," pungkas Kiai Wahid.

Mengakhiri upacara penyambutan, KH Jamaludin Abdullah memimpin doa sebelum akhirnya tim meneruskan perjalanan ke Pesantren Lirboyo Kediri. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sejarah, Nahdlatul, Quote ArrahmahMedia.Com

Jumat, 08 Desember 2017

Mengintip Suasana Ramadhan di Maroko

Kerajaan Maroko atau dikenal dalam bahasa Arab? “Mamlakah Maghribiyah” merupakan salah satu negara berpenduduk mayoritas Muslim. Seorang panglima pada kekhalifahan Bani Umayah bernama Uqbah bin Nafi’ membawa Islam ke tanah ini pada 680 M.

Negara yang terletak di sebelah barat Afrika yang memiliki garis pantai panjang dari Selat Giblartar hingga Laut Tengah ini memiliki tradisi dan budaya yang sedikit berbeda dari Indonesia, termasuk kala Ramadhan seperti sekarang ini.

Mengintip Suasana Ramadhan di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengintip Suasana Ramadhan di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengintip Suasana Ramadhan di Maroko

Selain kebanyakan penduduknya yang menganut madzhab Maliki, penetapan 1 Ramadhan warga di sana selalu menunggu keputusan dari Raja sehingga perbedaan waktu memulai puasa pun tidak terjadi. Raja atau amirul mukminin juga menyerukan kepada semua warganya untuk mengikuti satu madzhab.

ArrahmahMedia.Com

Lama puasa di Maghrib (Maroko) kurang lebih 16 jam,? dimulai dari pukul? 04.00 sampai dengan pukul 20.00 waktu setempat. Artinya, durasi tersebut dua jam lebih lama dibandingkan puasa di Indonesia. Tahun ini penduduk Muslim negara yang terkenal dengan negeri seribu benteng ini menjalani puasa bertepatan dengan musim panas.

Menu berbuka puasa yang disajikan juga tak kalah menarik. Saat berbuka mereka biasanya menghidangkan satapan khusus harirah, sup khas Maroko yang selalu disajikan dalam keadaan hangat.

ArrahmahMedia.Com

Harirah biasanya ditambah dengan telur, tepung, roti, daging, atau sayuran dengan variasi berlimpah ruah. Disusul dengan halawiyat (makanan manis-manis) seperti kurma, baghir (pancake Maroko), syabbakia (wafer yang dilapisi madu dan mentega), dan diakhiri dengan macam-macam minuman, seperti susu, kopi, atau teh mint khas Maroko.

Seperti umat Islam di Indonesia, setelah shalat isya mereka bergegas meninggalkan santapannya dan menunaikan shalat tarawih, mereka berbondong-bondong dengan menggunakan jallaba (pakaian khas) Maroko. Di Maghrib kita tidak akan menemukan seseorang mengenakan sarung ataupun mukena ketika shalat.

Hal lain yang membedakan secara umum adalah bacaan dalam shalat. Imam di sana membaca bacaan surat lebih panjang sekitar 1 juz. Imam Masjid di Maroko wajib seorang hafidz (penghafal al-Qur’an) dan telah mendapatkan SK (Surat Keputusan) dari Raja.

Shalat tarawih mereka berlangsung dalam dua putaran, yaitu 8 rakaat setelah shalat isya dan dilanjutkan menjelang adzan subuh. Karena setelah shalat tarawih kebanyakan dari mereka melanjutkan santapan buka puasa dengan menu-menu khas Maghrib yang lainnya.

Penduduk Maghrib sangat menghormati Bulan Ramadhan karena selama bulan suci ini jam kerja hanya dari pukul 09.00 sampai dengan pukul 12.00 dan dibuka kembali seusai shalat tarawih hingga pukul 00.00.

Kita juga akan menemukan sedikit restoran, toko atau supermarket? yang buka selama bulan Ramadhan. Hal yang unik pun terjadi ketika menjelang buka puasa sampai seusai shalat maghrib. kita tidak akan menemukan kendaraan apapun, sekalipun angkutan umum yang beroperasi. Jadi, pada waktu itu seluruh jalan diselimuti dengan ketenangan.

Pengirim:

Ummu Samhah Mufarrihah, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; sedang mengenyam pendidikan bahasa arab secara intensif selama 3 bulan di Qolam Wa Lawh, Rabat, Maroko.

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Quote, News, Internasional ArrahmahMedia.Com

Minggu, 03 Desember 2017

Makna Takwa dan Dua Bentuk Perintah Allah

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Makna Takwa dan Dua Bentuk Perintah Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Takwa dan Dua Bentuk Perintah Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Takwa dan Dua Bentuk Perintah Allah

? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Jamaah shalat Jumat hadâkumullâh,

ArrahmahMedia.Com

Kata takwa sudah tidak asing lagi di telinga kita. Kata ini merupakan istilah agama dan telah masuk dalam perbendaharaan bahasa nasional. Bahkan ketakwaan merupakan syarat pengangkatan pejabat-pejabat negara kita.

ArrahmahMedia.Com

Dari segi bahasa, kata taqwa berarti “memelihara” atau “menghindari”. Dalam konteks keagamaan, “pemeliharaan” tersebut berkaitan dengan “diri atau keluarga” sedangkan “penghindaran”-nya berkaitan dengan siksa Tuhan di dunia ini dan di akhirat kelak. Para ulama seringkali mendefisinikan takwa sebagai “melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya”. Sayang, definisi ini jarang dijabarkan pengertiannya sehingga menimbulkan kedangkalan pemahaman dan kegersangan penghayatan agama.

Jamaah shalat Jumat hadâkumullah,

Mari kita pertanyakan: “Apa saja isi dan bentuk perintah Allah?”

Jika Anda membuka Al-Qur’an, Anda pasti menemukan beragam gaya bahasa yang digunakan maksud itu dan beragam pula makhluk yang diperintah dan masalah yang diperintahkan-Nya. Ada perintah yang ditujukan kepada manusia, dan ada pula yang ditujukan kepada binatang dan alam raya. Ada perintah-Nya yang berkaitan dengan syariat (agama) dan ada pula yang berkaitan dengan hukum-hukum alam dan hukum-hukum kemasyarakatan (sunnatullah). Semua ini termasuk dalam jangkauan makna perintah Allah yang dikemukakan di atas.

Bagi yang taat melaksanakan perintah-Nya pastilah memperoleh ganjaran, demikian pula sebaliknya. Allah Mahaadil, Dia tidak memilih tapi memilah. Dia tidak lalai atau tidur hanya seringkali menunda dan mengulur.

Perintah yang berkaitan dengan syariat, seperti shalat, puasa, zakat, ditunda ganjaran dan sanksinya sampai hari kemudian. Kalaupun ganjaran atau sanksi itu ada yang dapat dirasakan di dunia, itu sekadar panjar.

Berbeda dengan sikap terhadap sunnatullah, yang sanksi dan ganjarannya dirasakan dalam kehidupan dunia ini. Siapa yang giat bekerja, belajar, akan kaya dan sukses dan itulah ganjaran-Nya. Siapa yang membiarkan diri terserang kuman, atau menganggur tidak bekerja, pasti menderita dan itulah siksa-Nya.

Bukankah hukum-hukum alam dan kemasyarakatan adalah ciptaan dan ketentuan Allah juga, dan penderitaan yang dialami akibat melanggarnya adalah ketetapan-Nya juga yang diberlakukan tanpa pilih kasih serta berdasarkan hukum-hukum itu? Jika demikian, mengapa ragu menyatakan bahwa kemiskinan dan penyakit serta keterbelakangan akibat pelanggaran adalah siksa-Nya di dunia ini? Tak perlu ragu selama kita menyadari firman-Nya ini:

? ? ? ? ? ?

"Allah tidak menganiaya mereka tetapi mereka menganiaya diri sendiri." (QS Ali Imran: 117).

Jamaah shalat Jumat hadâkumullah,

Setelah hal-hal yang diuraikan tersebut jelas, kiranya tidak perlu lagi kita mempertanyakan masalah, misalnya:

“Mengapa non-Muslim maju sedangkan mereka tidak melakukan shalat dan tidak juga puasa?” Bukankah kemajuan material mereka diraih dengan bertebarannya mereka di bumi dan cucuran keringat?

“Mengapa rizki tak kunjung datang sedangkan tahajjud dan i’tikaf telah melengkungkan punggung?” Bukankah ini ganjarannya ada di akhirat nanti? Tidak wajar pula diragukan siksa Tuhan terhadap yang melanggar syariat-Nya, karena tidak di sini tempatnya mereka disiksa.

Akhirnya, kita harus sadar bahwa kita baru mengamalkan setengah dari takwa kita, sementara setengah takwa lainnya dilaksanakan dengan baik oleh umat yang lain. Rupanya, tidak sedikit di antara kita yang bukan saja tidak menghayati, tetapi mengerti pun belum, mengenai makna bertakwa, kendati perintah ini wajib diperdengarkan, sedikitnya setiap hari Jumat



Khutbah II


? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Alif Budi Luhur



* Mayoritas isi materi khutbah ini mengutip tulisan M. Quraish Shihab, Lentera Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan, 2007 (Bandung: Mizan).

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Quote ArrahmahMedia.Com

Kamis, 23 November 2017

Sujiwo Tejo: Beragama dengan Tersenyum itu Hanya Orang Pesantren

Jakarta, ArrahmahMedia.Com - Menguatnya radikalisme dan intoleransi yang terjadi di Indonesia khususnya dan di dunia umumnya menjadi persoalan yang perlu penanganan serius oleh berbagai pihak termasuk Nahdlatul Ulama (NU). Indonesia sebagai negara yang sangat beragam, baik agama, suku, bahasa, budaya dan lainnya, patut bangga terhadap keberadaan NU yang mempunyai basis pesantren untuk terus menjaga Indonesia dari radikalisme dan intoleransi tersebut.

Hal itu disampaikan oleh Sujiwo Tedjo saat ditemui ArrahmahMedia.Com di Jakarta. Menurut pria yang akrab dipanggil Mbah Tejo ini, santri dan pesantren merupakan potensi dalam hal toleransi di Indonesia.

Sujiwo Tejo: Beragama dengan Tersenyum itu Hanya Orang Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Sujiwo Tejo: Beragama dengan Tersenyum itu Hanya Orang Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Sujiwo Tejo: Beragama dengan Tersenyum itu Hanya Orang Pesantren

“Kalau di pesantren atau NU diajarkan bahwa toleransi itu dari dulu sudah tinggi,” katanya seusai mengisi acara pembacaan puisi Gedung Graha Bakti Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (16/10) malam.

Oleh karena itu, pria yang berprofesi sebagai dalang ini pun menganggap bahwa keberadaan santri sangat dibutuhkan Indonesia.

ArrahmahMedia.Com

“Santri sangat dibutuhkan untuk kecenderungan global yang makin mengekstremkan (dalam hal) agama,” jelas pria kelahiran Jember, Jawa Timur ini.

Pria berumur 55 tahun ini menyebut bahwa cara beragama yang dijalankan pesantren itu luwes, dan menebar rahmat.

ArrahmahMedia.Com

“Beragama dengan tersenyum itu pesantren saja,” katanya.

Acara pembacaan puisi sendiri diselenggarakan Kementerian Agama dalam rangka memperingati hari santri yang ke-2 dengan tema Merawat Keberagaman dan Memantapkan Keberagamaan.

Turut menjadi pembaca puisi pada malam tersebut, Menteri Agama H Lukman Hakim Saifuddin, Kamaraudin Amin, Abidah El Kholiqie, Habiburrahman El Shirazy, Sosiawan Leak, KH Husein Muhammad, Jamal D. Ramah, Acpe Zam Zam Noor, Ahmad Tohari, Sutardji Calzoum Bachri, D. Zawawi Imron dan lain-lain. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Amalan, Quote ArrahmahMedia.Com

Rabu, 08 November 2017

NU Kotagajah Bersholawat

Kotagajah, ArrahmahMedia.Com. Bertempat di halaman Musholla Nurul Falah dusun Gajah Timur III, Kotagajah Timur, kecamatan Kotagajah, kabupaten Lampung Tengah, Ahad lalu, (23/6) bertepatan 14 Sya’ban 1434 H di selenggarakan Gebyar Shalawat Al Barzanji ke X.

NU Kotagajah Bersholawat (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kotagajah Bersholawat (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kotagajah Bersholawat

Aan Yudhi Hana, selaku ketua Forum Silaturahmi Grup Hadroh se-Kecamatan Kotagajah-Lampung Tengah kepada ArrahmahMedia.Com setempat mengatakan, Gebyar Shalawat Al Barzanji se-Kecamatan Kotagajah ini adalah putaran ke X. Kegiatan ini dilaksanakan tiga bulan sekali dan pada bulan Juni ini bertempat di Musholla Nurul Falah.

Alhamdulillah, gebyar shalawat al Barzanji mendapat respon yang cukup banyak dari masyarakat di kecamatan Kotagajah – Lampung Tengah. Bahkan di luar kabupaten Lampung Tengah-pun ikut berpartisipasi,” ujar Aan Yudhi Hana yang juga pengurus PAC GP Ansor Kotagajah-Lampung Tengah.

ArrahmahMedia.Com

“Bahkan masyarakat yang menjadi tuan rumah Gebyar Shalawat Al Barzanji rela urunan (iuran) untuk bersama-sama membawa nasi bungkus. Dan setiap rumah diharapkan membawa sepuluh nasi bungkus,” ujarnya yang alumni STO Metro – Lampung itu.

ArrahmahMedia.Com

Forum Gebyar Shalawat Al Barzanji di Kotagajah didirikan sejak tahun 2010, dan hingga hari ini masih terus melestarikan tradisi kebudayaan Nahdlatul Ulama.

“Gebyar Shalawat Al Barzanji se-Kecamatan Kotagajah ini di ikuti 20 kelompok hadrah dan didukung penuh oleh seluruh penuh keluarga besar Nahdlatul Ulama, mulai dari Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU, IPPNU,” tambah Miftakhul Izza selaku Sekretaris PAC GP Ansor Kotagajah – Lampung Tengah.   

Tema yang dibawa dalam Gebyar Sholawat Al Barzanji bulan ini adalah “Menyongsong Bulan Suci Ramadhan 1434 H dengan Memperbanyak Sholawat dan Kepedulian Sosial”.

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Akhmad Syarief Kurniawan 

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Berita, Quote, Cerita ArrahmahMedia.Com

Penguatan Peran Pesantren

Oleh Suwendi



Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Kelahirannya tidak dapat dipisahkan dari sejarah awal kedatangan Islam ke Indonesia, sejak abad ke-6 M, yakni dengan mengadopsi sistem pendidikan keagamaan yang telah berkembang sebelum kedatangan Islam itu sendiri. Dengan memainkan peran sebagai instrumen pengembangan ajaran agama Islam, pesantren lahir dari rahim budaya Indonesia yang genuin. Oleh karenanya, dalam amatan almarhum Prof. Dr. Nurcholis Madjid, pesantren tidak hanya menjadi lembaga yang identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous). Sebagai lembaga yang murni berkarakter keindonesiaan, pesantren muncul dan berkembang dari pengalaman sosiologis masyarakat lingkungannya, sehingga antara pesantren dengan komunitas lingkungannya memiliki keterkaitan erat yang tidak bisa terpisahkan.

Penguatan Peran Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Penguatan Peran Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Penguatan Peran Pesantren

Dalam beberapa dekade terakhir, pesantren mengalami perkembangan yang secara kuantitatif luar biasa dan menakjubkan, baik di wilayah pedesaan, pinggiran kota, maupun perkotaan. Data Kementerian Agama menyebutkan bahwa pada 1977 jumlah pesantren hanya sekitar 4.195 buah dengan jumlah santri sekitar 677.394 orang. Jumlah ini mengalami peningkatan berarti pada tahun 1985, di mana pesantren berjumlah sekitar 6.239 buah dengan jumlah santri mencapai sekitar 1.084.801 orang. Satu dasawarsa kemudian, 1997, Kementerian Agama mencatat jumlah pesantren sudah mengalami kenaikan mencapai 224 persen atau 9.388 buah, dan kenaikan jumlah santri mencapai 261 persen atau 1.770.768 orang. Data Kementerian Agama tahun 2001 menunjukkan jumlah pesantren seluruh Indonesia sudah mencapai 11.312 buah dengan santri sebanyak 2.737.805 orang. Pada tahun 2005 jumlah pesantren mencapai 14.798 lembaga dengan jumlah guru 243. 738 orang dan santri 3.464. 334. Data terakhir tahun 2016 menunjukkan pesantren sebanyak 28.961 lembaga dengan santri sebanyak 4.028.660 jiwa.

ArrahmahMedia.Com

Dengan melihat data kuantitatif di atas, kita semua hendaknya mendorong kepada masyarakat pesantren untuk meneguhkan dan konsisten pada khittahnya. Dalam konteks ini, setidaknya pesantren didorong untuk melakukan 3 (tiga) peran penting yang perlu dilakukan bersama.

Pertama, pesantren sebagai instrumen pengembangan pendidikan. Pondok pesantren berperan tidak hanya sebagai lembaga dakwah dalam pembinaan umat dan penyiaran ajaran Islam, tetapi juga sebagai institusi pendidikan. Ia telah berperan meningkatkan angka partisipasi masyarakat (APM) dan angka partisipasi kasar (APK) dalam pendidikan. Ia telah berperan aktif membangun kesadaran dan kecerdasan masyaraat Indonesia dengan penuh keikhlasan, tanggung jawab, dan layanan yang maksimal. Secara jujur, patut dikatakan bahwa kontribusi masyarakat dalam pengembangan layanan pesantren jauh lebih besar dibanding dengan kontribusi yang dilakukan pemerintah. Oleh karenanya, pesantren harus mendapatkan perlakuan dan penganggaran yang maksimal dari pemerintah. Pesantren sudah seharusnya mendapatkan perlakuan pemerintah secara adil antara institusi pesantren dengan institusi pendidikan lainnya.

ArrahmahMedia.Com

Sungguhpun demikian, pondok pesantren harus tetap mempertahankan kualitas kemandiriannya, baik kemandirian secara ekonomi maupun pengelolaannya yang tidak menergantungkan kepada pihak mana pun. Pesantren merupakan kekuatan civil society yang sangat kuat dalam memberdayakan masyarakat sekaligus mampu melakukan kritik-kiritik sosial.

Kedua, pesantren sebagai instrumen pengembangan keagamaan. Penduduk negeri ini sungguh sangat kompleks dan plural, baik keyakinan, budaya, bahasa wilayah, dan lainnya. Dalam kondisi yang kompleks dan plural itu, pondok pesantren telah memainkan peranan yang strategis. Ia mampu melakukan penyebaran agama dan pemahaman yang sangat damai, toleran, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Pesantren telah mampu merekatkan dari berbagai perbedaan di masyarakat. Oleh karenanya, pesantren didorong untuk menjadi garda terdepan dalam membangun pemahaman Islam yang rahmatan lil’alamin.

Ketiga, pesantren sebagai instrumen pengembangan pranata-sosial. Pesantren didudukkan sebagai lembaga sosial yang berperan untuk melakukan penjabaran dan aktualisasi pengetahuan dan pemahaman pendidikan dan keagamaannya itu bagi kemaslahatan masyarakat luas. Dengan peran ini, pesantren akan menjadi milik bersama, didukung dan dipelihara oleh lapisan masyarakat yang lebih luas. Oleh karenanya, pesantren harus membuka diri dan terlibat dalam upaya pemecahan atas problem umat dan kebangsaan, sebagaimana yang telah selama ini dibuktikan.

Melalui ketiga pilar di atas, yakni pendidikan, keagamaan, dan sosial-kemasyarakatan, pesantren perlu mendapatkan dorongan yang maksimal dari pemerintah, di antaranya dorongan kesetaraan regulasi, kesetaraan program maupun kesetaraan anggaran yang disediakan oleh pemerintah. Kesetaraan regulasi diupayakan untuk memberikan payung hukum dan legalitas formalitas layanan pesantren dengan tanpa mengurangi substansi atau kualitas pesantren. Kesetaraan program diupayakan untuk mendapatkan kepastian konkret berupa program atau kebijakan-kebijakan penguatan pesantren yang dilakukan negara. Sementara kesetaraan anggaran dipastikan untuk ketersediaan pembiayaan yang maksimal sehingga kita benar-benar memperlakukan secara adil antara institusi pesantren dengan institusi pendidikan lainnya.

Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon dan Pendiri Pondok Pesantren Nahdlah Bahriyah Indramayu



Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Quote, Meme Islam, Santri ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 04 November 2017

Menpora: Jangan Sampai Oknum yang Tidak Punya Sejarah Meminta Indonesia Diubah

Jember, ArrahmahMedia.Com. Bukan karena latah jika NU saat ini ikut berteriak soal pentingnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila. Sebab, pergerakan NU memang mempunyai benang  sejarah  yang cukup kuat dengan beridrinya NKRI. Demikian dikemukakan oleh Menpora RI, Imam Nahrawi saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional "Pancasila Final, NKRI Harga Mati, Khilafah No" di auditorium Universitas Islam Jember (UIJ), Sabtu (14/5). 

Menurut Menpora, NU sebagai salah satu ormas yang memiliki sejarah dan turut andil dalam pendirian NKRI, maka seharusnya mempertahankan NKRI. "Oleh karena itu, mari kita pertahankan sejarah itu dengan baik. Jangan sampai ada oknum yang tidak memiliki sejarah, lalu mengatakan Indonesia harus diubah," ujarnya.

Imam Nahrawi meminta agar NU tetap kuat dan solid  mengawal NKRI dan Pnacasila. NKRI, katanya, adalah harga mati, dan siapapun tidak boleh menentangnya. Ini bukan karena adanya gejala atau gerakan yang mengancam Pancasila dan NKRI belakangan ini, namun karena hal tersebut sudah menjadi sikap bangsa yang tidak bisa ditawar lagi. "Yang terpenting saat ini adalah eksekusinya seperti apa karena NKRI adalah memang sudah harga mati tidak boleh siapapun menantang. Apabila ada yang menantang maka harus keluar dari NKRI," ujar Menpora.

Menpora: Jangan Sampai Oknum yang Tidak Punya Sejarah Meminta Indonesia Diubah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora: Jangan Sampai Oknum yang Tidak Punya Sejarah Meminta Indonesia Diubah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora: Jangan Sampai Oknum yang Tidak Punya Sejarah Meminta Indonesia Diubah

Di tempat yang sama, Ketua Yayasan UIJ, Abdullah Syamsul Arifin (Gus A`ab) mengatakan bahwa NU sejak lama berkomitmen mengawal dan menjaga Republik Indonesia dan siap menghadapi siapapun yang akan mengotak-atik NKRI. Terkait dengan ormas yang menentang NKRI, PCNU Jember sudah mengambil langkah, diantaranya mendorong pemerintah pusat, Kemenkumham dan Kemendagri untuk membubarkan ormas-ormas penentang NKRI dan Pancasila.

"Pemkab Jember kami harap membuka forum untuk menutup kegiatan ormas penentang Pancasila dan merongrong NKRI," jelas Gus Aab yang juga Ketua PCNU Jember itu. (Aryudi A Razaq/Zunus)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Quote, Khutbah ArrahmahMedia.Com

Rabu, 01 November 2017

Wagub Minta STQ Dijadikan Ajang Pengamalan Al-Quran

Brebes, ArrahmahMedia.Com. Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) ke-23 Tingkat Provinsi Jawa Tengah di Brebes dibuka Wakil Gubernur Drs H Heru Sudjatmoko MSi, di Alun-alun Kota Brebes, Senin malam (17/11). Pada sambutannya, ia berharap kegiatan tersebut bukanlah seremonial belaka dan ajang mengejar kejuaraan.

Namun, kata dia, harus bisa dijadikan sarana untuk memupuk, memahami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Al Quran dalam kehidupan sehari-hari.

Wagub Minta STQ Dijadikan Ajang Pengamalan Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Wagub Minta STQ Dijadikan Ajang Pengamalan Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Wagub Minta STQ Dijadikan Ajang Pengamalan Al-Quran

Para kafilah STQ, kata dia, mencerminkan muslim yang menebarkan kerukunan dan kedamaian serta membawa perubahan pada semua aspek kehidupan, perubahan pada diri sendiri dan lingkungan. Sebab kafilah, diyakini mampu memberi suri tauladan, karena memiliki kemampuan memahami dan mengamalkan Al Quran yang lebih baik dibanding yang lainnya.

ArrahmahMedia.Com

“Pada diri kafilah, peganglah teguh prinsip rahmatan lil alamin guna memberi manfaat bagi seluruh alam,” tandasnya.

ArrahmahMedia.Com

Wakil Gubernur juga mengingatkan agar ajang STQ ini bisa menelorkan bibit unggul berprestasi dan meningkatakan kualitas SDM. Namun tidak hanya itu, yang lebih utama adalah kemampuan untuk membumikan dan memasyarakatkan Al Quran.

Kepada para peserta, dia juga berpesan agar menyikapi lomba ini dengan penuh semangat dan bertekad  menjadi yang terbaik. Meskipun kalah dan menang merupakan hal biasa dalam suatu event perlombaan. Yang menang agar meningkatkan kemampuannya mengukir prestasi. Sedang yang kalah untuk terus berjuang lebih keras lagi guna meraih kesempatan di masa datang.

Bupati Brebes Hj Idza Idza Priyanti SE mengaku sangat gembira karena penyelenggaran STQ ke-23 tingkat Jateng bisa digelar di Brebes. Atas nama pribadi dan warga masyarakat Idza menyampaikan perhomonan maaf kepada kafilah dari 35 Kabupaten/kota Se Jawa Tengah barangkali terdapat kekurangan. “Selamat datang di Kota Bawang dan Telor Asin, kami bangga dan gembira menjadi tuan rumah STQ ke-23 Jateng,” ungkap Idza dalam sambutannya.

Ketua panitia penyelenggara Narjo melaporkan, kalau STQ ke-23 diikuti seluruh kafilah dari 35 kabupaten kota se Jateng. Sebelum pembukaan telah dilaksanakan pawa taaruf dan bazaar islami serta penampilan produk local usaha kecil menengah.

Dalam Gelaran STQ, lanjutnya, diikuti 35 Kafilah Kabupaten/Kota Se Jateng. Tiap kafilah mengirimkan 16 peserta, 3 pelatih, 1 Ketua Kafilah dan 2 pendamping. Untuk penginapan, panitia telah menyiapkan 19 hotel di Brebes dan Tegal.

Menurut Narjo, dukungan dari Pemkab Brebes sangat besar terbukti dengan diglontorkannya dana penyelenggaraan STQ hingga Rp 1,8 Milyar. “Dana sebesar itu berasal dari APBD Pemkab Brebes Rp 1,3 Milyar dan sisanya dari LPTQ Jateng,” ungkap Narjo yang juga Wakil Bupati Brebes.

Pembukaan dimeriahkan juga dengan penampilan tari Saman, Rampak Rebana dan Kuntulan. Pembukaan ditandai dengan pemukulan bedug oleh Wakil Gubernur Jateng Drs H Heru Sudjatmoko MSi.

Selanjutnya Wakil Gubernur, Bupati Brebes, Ketua Panitia, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Prov Jateng Drs H Khaeruddin MA dan Kepala kantor Kantor kemenag kab Brebes Drs H Imam Hidayat MPd I melakukan penekanan tombol sirine kembang api.

Tropy bergilir juara umum yang pada STQ ke-22 lalu diraih kafilah Kabupaten Jepara diserahkan kembali ke Wakil Gubernur Jateng. Selanjutnya Wagub menyerahkan kepada Ketua

Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Jateng untuk diperebutkan kembali.

Ribuan masyarakat masyarakat terlihat antusias menyaksikan upacara pembukaan STQ. Apalagi setelah kembang api menebarkan warna-warni di atas langit. Semua pengunjung tampak gembira menyaksikan warna warni kembang api yang berlangsung selama 15 menit. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Internasional, Quote, Ulama ArrahmahMedia.Com

Senin, 23 Oktober 2017

Majalah AULA Buka Bersama Agen dan Anak Yatim

Surabaya, ArrahmahMedia.Com. Ruangan Salsabila kantor PWNU Jawa Timur tiba-tiba penuh sesak oleh ratusan anak yatin piatu. Mereka datang dari sejumlah panti asuhan wilayah di Surabaya dan Sidoarjo. Kehadiran anak-anak yang tidak memiliki ayah maupun ibu ini sebagai matarangkai kegiatan buka bersama yang diselengarakan Majalah PWNU Jatim AULA.

Sebelumnya, pagi hari kegiatan diawali dengan khatmil Qur’an. “Ada lima penghafal al-Qur’an dari PW Jam’iyatul Qurra wal Huffadz NU Jawa Timur,” kata Mohammad Rofi’e (28/7) yang didaulat untuk mensukseskan kegiatan tersebut.   

Majalah AULA Buka Bersama Agen dan Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah AULA Buka Bersama Agen dan Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah AULA Buka Bersama Agen dan Anak Yatim

Usai shalat Dhuhur, kegiatan dilanjutkan dialog pimpinan majalah AULA dengan sejumlah agen di Jawa Timur. Dalam pengantarnya, Afif Amrullah menandaskan bahwa pertemuan agen dengan perusahaan idealnya dilaksanakan secara ajeg. 

ArrahmahMedia.Com

“Ini penting agar semua pihak saling mengakui kekurangan maupun kelebihan yang dimiliki,” tandas Redaktur Pelaksana Majalah AULA ini.

Ada empat narasumber yang dihadirkan pada kesempatan tersebut. Pertama adalah H Abdul Wahid Asa selaku pimpinan umum, Habib Wijaya yang dalam keseharian sebagai pemimpin perusahaan serta Muhammad Subhan, pemimpin redaksi. Demikian juga pendiri majalah yakni H Sholeh Hayat SH.

ArrahmahMedia.Com

H Abdul Wahid Asa memaparkan secara singkat bagaimana awal majalah ini isa terbit dengan subsidi dari PWNU Jawa Timur. “Awalnya majalah ini mendapatkan suntikan dana berupa seluruh biaya cetak,” kenangnya.

Namun seiring dengan respon dari para pembaca dan pelangan akhirnya majalah mampu membiayai sendiri ongkos cetak dan distribusi. “Bahkan majalah AULA sudah bisa memberikan donasi untuk PWNU Jawa Timur,” terangnya.

Bagi Pak Wahid, sapaan akrabnya, berjibaku di media NU memang harus tahan banting, termasuk untuk ikhlash dengan bayaran yang tidak seberapa. “Memang bukan untuk mencari penghidupan,” katanya. “Di AULA malah harus mengabdi,” lanjutnya.

Demikian juga mantan Wakil Ketua PWNU Jatim ini menemukan mitra yang tangguh dan mukhlish di bagian pemasaran yakni agen. “Mereka sama seperti kami yang tidak terlalu mempersoalkan keuntungan saat mengedarkan maupun memasarkan AULA,” ungkapnya.

Karena itu, semangat seperti ini hendaknya terus digelorakan demi khidmat kepada NU. 

Tidak mudah memang memiliki media cetak yang mampu eksis dalam rentang waktu demikian lama. Tentu banyak faktor yang membuat bisa bertahan. Yang utama adalah peran para agen dan tentunya doa dari berbagai kalangan.

Pada kesempatan ini juga diserahkan sejumlah penghargaan dan souvenir kepada agen yang telah memiliki komitmen membesarkan majalah yang telah berusia 36 tahun ini.  Kegiatan ditutup dengan buka bersama dan shalat Magrib berjamaah.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Kyai, Quote, Bahtsul Masail ArrahmahMedia.Com

Rabu, 18 Oktober 2017

Wadah Pencetak Instruktur Banser itu Bernama Susbalan

Mojokerto, ArrahmahMedia.Com. 150 lebih anggota Banser (Barisan Ansor Serbaguna) dari berbagai Satkorcab di Jatim mengikuti Kursus Banser Lanjutan (Susbalan).Acara berlangsung di Vila Cemara Sajen Pacet Kabupaten Mojokerto, Jumat-Ahad (12-14/8).

Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, H Rudy Tri Wahid mengatakan Susbalan selain sebagai wahana pendidikan dan latihan Banser (tingkat lanjutan), juga diharapkan dapat ? melahirkan anggota Banser yang memiliki kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang dapat memimpin dan menggerakkan organisasi Banser di tingkat kelompok, rayon, cabang dan wilayah.

Wadah Pencetak Instruktur Banser itu Bernama Susbalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Wadah Pencetak Instruktur Banser itu Bernama Susbalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Wadah Pencetak Instruktur Banser itu Bernama Susbalan

Pernyataan mantan Ketua PC GP Ansor Kabupaten Ngawi ini disampaikan saat sambutan pembukaan acara Susbalan di Vila Cemara Sajen Pacet Mojokerto, Jumat (12/8).

Disamping itu juga diharapkan akan muncul calon-calon pendidik dan pelatih Banser yang dapat bergabung dalam Corp Instruktur Banser, yang pada saatnya tinggal dimantapkan dalam pelatihan pelatih atau sering disebut kursus pelatih (Suspelat).?

“Jadi pentingnya Susbalan ini sebagai pintu masuk mencetak instruktur di masing-masing cabang, rayon, dan kelompok. Tentunya setelah ini harus melanjutkan ke jenjang selanjutnya, yakni ikut Suspelat,” ungkap Rudy.

ArrahmahMedia.Com

Ikut hadir mendampingi Rudy Tri Wahid, diantaranya Kepala Satkorwil Banser Jawa Timur, H. Umar Usman, beserta para pengurus pimpinan PW GP Ansor Jawa Timur beserta para pimpinan Satkorwil Banser-nya. (Imam Kusnin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Tegal, Jadwal Kajian, Quote ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock