Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Belajar Toleransi Dari Gus Mus di "Pesantren BPUN" Way Kanan

Way Kanan, ArrahmahMedia.Com 

Peserta Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) yang digelar PC GP Ansor Way Kanan Lampung di Pesantren Assiddiqiyah 11 mulai 25 April 2016 mengaku bertambah wawasan dengan mengikuiti program utama Yayasan Mata Air tersebut, diantaranya memahami penghormatan akan keberagaman.

Belajar Toleransi Dari Gus Mus di Pesantren BPUN Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Toleransi Dari Gus Mus di Pesantren BPUN Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Toleransi Dari Gus Mus di "Pesantren BPUN" Way Kanan

"Setelah menyaksikan dokumentasi Gus Mus dari acara Mata Najwa yang ditonton bersama, saya semakin banyak sekali mendapat wawasan, bahkan dapat mengetahui apa itu toleransi antaragama," ujar Rio Irawan, di Gunung Labuhan, Ahad (1/5).

KH Mustofa Bisri yang akrab dipanggil Gus Mus adalah seorang ulama dan budayawan yang lahir di Rembang Jawa Tengah 10 Agustus 1944. "Dakwah yang dilakukan Gus Mus sangat baik," kata Rio lagi.

Dalam dokumentasi tersebut, Gus Mus menakutkan zaman sekarang akan kembali pada zaman Habil dan Qobil. "Semangat mengajar Gus Mus dengan dakwah memanusiakan manusia sangat luar biasa," paparnya.

ArrahmahMedia.Com

Rio menambahkan, dirinya saat ini dapat mengetahui jika Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi asli kiai-kiai dari pesantren yang memiliki semangat kebangsaan yang luas sebagaimana disampaikan Gus Mus.

Selain memberikan pelajaran ilmu akademik lima hari dalam seminggu, bimbingan ruhani istiqomah dan mengajarkan kecakapan hidup seperti ilmu jurnalistik dibimbing Ketua PC GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto. BPUN, juga mendiskusikan keteladanan dan inspirasi dari sejumlah tokoh, seperti Mooryati Soedibyo, Dian Sastrowardoyo, Jenderal Hoegeng, serta tokoh-tokoh internal NU seperti,  Hadratus Syekh Hasyim Asyari, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dan Gus Mus guna menambah wawasan dan memotivasi peserta yang dikarantina selama satu bulan penuh di pesantren asuhan Kiai Imam Murtadlo Sayuthi.

"Mars pertama GP Ansor jelas bunyinya, darah dan nyawa telah kuberikan. Apa yang kami lakukan dengan menggelar BPUN masih jauh dari larik pertama mars pemuda NU, tapi itu penegasan bahwa menjadi kader harus siap berbuat positif bagi organisasi dengan perbuatan," ujar Gatot menambahkan. (Firman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Sholawat, Meme Islam, Pesantren ArrahmahMedia.Com

Rabu, 07 Februari 2018

Sampaikan Permasalahan Papua, Forum Lintas Iman Papua Sambangi PBNU

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Rombongan dari Papua yang tergabung dalam Forum Lintas Agama menyambangi Kantor PBNU Kramat Raya, Jum’at (14/8) sore. Rombongan diterima langsung oleh Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj di kantornya lantai 3.

Dalam kunjungan rombongan yang terdiri dari sekitar 15 orang tersebut, mereka mengungkapkan berbagai persoalan yang terjadi di tanah Papua, terutama terkait dengan kesejahteraan, keadilan, dan kerukunan umat beragama menyusul insiden yang menurut mereka terparah selama 52 tahun, yakni insiden di Kabupaten Tolikara pada momen Idul Fitri Juli 2015 lalu.

Sampaikan Permasalahan Papua, Forum Lintas Iman Papua Sambangi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sampaikan Permasalahan Papua, Forum Lintas Iman Papua Sambangi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sampaikan Permasalahan Papua, Forum Lintas Iman Papua Sambangi PBNU

Imam Masjid Tolikara, KH Ali Mukhtar yang ikut mendampingi rombongan mengungkapkan, bahwa yang dibakar bukanlah masjid, tetapi ruko yang menyambar hingga ke masjid.?

ArrahmahMedia.Com

“Meski minoritas, hubungan kita sangat baik. Rumah saya yang menempel dengan masjid juga sempat diselamatkan oleh Ketua Adat setempat. Namun dia mendapat lemparan batu sehingga rumah saya pun akhirnya terbakar,” ungkapnya.

Rombongan yang terdiri dari perwakilan dari muslim Papua, Kristen Papua, Katolik Papua, dan masyarakat adat ini menyampaikan persoalan-persoalan yang sesungguhnya terjadi di tanah Papua.

ArrahmahMedia.Com

Ketua Suku dari mereka yang tidak terkonfirmasi namanya mengungkapkan, bahwa kerukunan antar-umat beragama di Papua sangatlah kuat. Karena pada dasarnya masyarakat Papua adalah masyarakat yang sangat menghargai adat dan budaya. “Karena menurut kami, adat dan budaya itu tidak terlepas dari agama,” ujarnya.

Mereka menuturkan, bangsa Papua tidak ada perpecahan. Yang membuat semuanya kacau itu karena orang-orang di luar Papua. “Setiap ada konflik, kita cukup menyelesaikannya dengan pembicaraan secara kekeluargaan, selesai, karena orang Papua semuanya bersaudara,” terangnya.

Papua damai, tambahnya, tetapi orang-orang di luar sana melalui media yang ada hantam sana-sini sehingga persoalannya jadi tidak jelas dan itu sangat merugikan bangsa Papua. “Jadi jelas, yang mengacaukan Papua itu orang-orang Non-Papua, seperti orang Kristen dari luar yang masuk ke tanah Papua, mereka menguasai Gereja dan mengajarkan paham radikal di Gereja tersebut,” ungkapnya.?

Sementara itu, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj yang mendengarkan dengan seksama penuturan mereka mengatakan, kekerasan atas nama apapun bisa terjadi di mana saja. “Tapi di Indonesia, kita bersyukur selalu bisa melokalisirnya sehingga tidak meluas secara nasional seperti yang terjadi di negara-negara Timur Tengah yang sekali terjadi konflik langsung meluas dan bertahan selama bertahun-tahun,” ujar Kang Said.

Kiai yang baru saja terpilih kembali menjadi Ketum PBNU ini menuturkan, Kanjeng Nabi Muhammad SAW sendiri jika ada seorang Muslim yang menyakiti dan membunuh Non-Muslim, maka Kata Nabi Muslim tersebut berhadapa dengan saya.

“Gus Dur sendiri yang mendapat gelar sebagai Bapak Papua oleh masyarakat Papua selalu menekankan, bahwa tidak boleh ada perpecahan dan permusuhan hanya karena alasan berbeda agama, suku, ras, pendapat maupun partai politik. Yang menjadi musuh kita bersama adalah mereka yang melanggar hukum,” tandas Kang Said. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pahlawan, Sholawat, AlaSantri ArrahmahMedia.Com

Kamis, 01 Februari 2018

Cyber Crime Meningkat, KPAI Desak Literasi Media Sosial Ditingkatkan

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Maraknya efek negatif di dunia maya membutuhkan keseriusan semua pihak untuk meningkatkan literasi media sosial. Dalam catatan akhir tahun 2016, KPAI mencatat kemeningkatan kasus kejahatan berbasis siber (cyber crime) mencapai 414 kasus. Angka tersebut menduduki kedudukan ketiga dalam kasus yg diadukan ke KPAI, setelah kasus Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) dan kasus keluarga dan pengasuhan alternatif. ? KPAI menegaskan ada potensi kerentanan anak dalam mengakses internet tanpa pengawasan orang tua.

Cyber Crime Meningkat, KPAI Desak Literasi Media Sosial Ditingkatkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Cyber Crime Meningkat, KPAI Desak Literasi Media Sosial Ditingkatkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Cyber Crime Meningkat, KPAI Desak Literasi Media Sosial Ditingkatkan

“Penting membangun kesadaran masyarakat untuk menggerakkan literasi media dan penggunaan media siberkata Ketua KPAI Asrorun Niam Sholeh saat menyampaikan ekspos akhir tahun 2016 di Kantor KPAI, Jakarta, Kamis (22/12).?

Ditambahkannya, orang tua diharapkan mengimbangi dengan membangun kesadaran anak dalam menggunakan telepon pintar/? Dengan adanya kesadaran anak, maka akses berbahaya di dunia siber bisa dihindarkan.

“Ketika IT menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan kita maka harus ada pengimbangan dengan literasi pemanfaatan IT secara bijak. KPAI juga mendorong Kominfo untuk memastikan daya jangkau dan kapasitas dalam memblock dan menutup situs yang tidak ramah anak, baik konten kekerasan, pornografi, ujaran kebencian, maupun terorisme,” tegasnya.

ArrahmahMedia.Com

Niam juga mendesak adanya pendekatan penindakan hukum untuk terapi kejut kepada pihak yang menjadikan sosial media tidak layak bagi anak.?

“Terlebih melakukan kejahatan yang menjadikan anak sebagai korban, contohnya kasus LGBT anak di Bogor yang mengagetkan kita semua. Perlu dilakukan pemberatan hukuman agar pelaku jera dan orang lain berpikir seribu kali untuk tindak mencontoh,” jelasnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Sholawat, Ahlussunnah, Kyai ArrahmahMedia.Com

Studi Komunitas, 50 Warga Puger Kunjungi NU Jombang

Jombang, ArrahmahMedia.Com. Indonesia kaya dengan budaya, adat istiadat, keyakinan, juga agama. Kendati beragam, suasana rukun menjadi hal penting di negeri ini. Hal tersebut terjadi karena antara warga memiliki solidaritas dan saling menghargai perbedaan yang ada.

Studi Komunitas, 50 Warga Puger Kunjungi NU Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Studi Komunitas, 50 Warga Puger Kunjungi NU Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Studi Komunitas, 50 Warga Puger Kunjungi NU Jombang

Ini juga yang ingin diraih dari acara anjangsana sejumlah warga Puger ke Jombang Jawa Timur. Ada tiga agenda yang dilakukan komunitas warga tersebut saat berkunjung ke kota santri ini. Yang pertama adalah ke Pengurus Cabang Lembaga Kajian dan Pengembangan Suber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Jombang, kemudian ke makam KH Abdurrahman Wahid dan diakhiri bertemu kelompok Gusdurian.

Hal ini sebagaimana disampaikan Yenny Lutfiana kepada ArrahmahMedia.Com, Sabtu (23/5). "Ke PC Lakpesdam NU Jombang rombongan belajar bagaimana mengelola dana di Credit Union (CU) yang dimiliki lembaga ini," kata Yenny, sapaan akrabnya.

ArrahmahMedia.Com

Ke makam KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, sejumlah peserta bertawassul dan mengunjungi tokoh perdamaian. "Sedangkan ke Gusdurian Jombang, kami ingin belajar bersama mengenai hidup dalam keberagaman," kata alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

ArrahmahMedia.Com

50 warga Puger Jember ini didampingi oleh PW Lakpesdam NU Jawa Timur  dalam melaksanakan program peduli. Misi program ini adalah untuk mengembangkan inklusi sosial. "Yaitu memberikan ruang dan penghargaan bagi kelompok minoritas di Indonesia termasuk minoritas agama dan kepercayaan," tandas Yenny.

Untuk di Jawa Timur, yang terpilih adalah Puger Jember. "Karena beberapa tahun terakhir ini di Puger terjadi konflik kelompok yakni antara Sunni dan Syiah," ungkap jebolan Pascasarjana Unair Surabaya ini.

Kegiatan program peduli ini atas kerja sama antara PP Lakpesdam NU dengan The Asian Foundation dan Pemerintah Australia. "Setidaknya ada 13 kota di Indonesia yang dipilih dalam program peduli ini," pungkasnya.

 

Foto: Rombongan saat mengunjungi PC Lakpesdam NU Jombang

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sholawat ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 27 Januari 2018

Tradisi Maulid Orang Indonesia di Malaysia

Ini catatan perjalanan Ustadz Fauzi Palestin yang beberapa hari lalu melakukan perjalanan ke Malaysia. Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini diundang komunitas masyarakat Indonesia yang berada di negeri Jiran tersebut. Bagaimana seru dan kekhasan yang dirasakan selama kegiatan maulid? Berikut uraiannya.

Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa bulan Rabiul awal merupakan bulan lahirnya Nabi Muhammad SAW. Mayoritas umat Islam merayakannya sebagai ekspresi bahagia dan syukur yang tak terhingga atas lahirnya Nabi yang mulia, tak terkecuali penduduk Indonesia yang berada di Malaysia bahkan tidak sedikit yang sudah menjadi warga Negara Malaysia.

Tradisi Maulid Orang Indonesia di Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Maulid Orang Indonesia di Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Maulid Orang Indonesia di Malaysia

Berdasarkan safari dakwah yang saya lakukan di beberapa tempat, seperti di kota Kemuning, Damansara, Sungai Buloh dan sebagainya, ada beberapa hal yang menjadi catatan saya:

Pertama, saya melihat warga Indonesia di negeri Jiran ini dalam merayakan maulid Nabi sangat antusias bahkan bisa dikatakan sebagai pelopor dzikra maulidir rasul. Hal ini bisa dilihat dari kekompakan dalam pelaksanaan maulid. Kalau di daerah perkotaan sebagian besar penyelenggaranya adalah orang Bawean Gresik yang sudah menjadi warga di sana.

Adapun di daerah perumahan yang masih dalam proses pembangunan, banyak digagas orang Madura. Dalam sebulan, orang Madura bisa menyelenggarakan dua bahkan tiga kali acara pengajian dalam rangka maulidir rasul.

ArrahmahMedia.Com

Kedua, orang Indonesia di Malaysia tidak sekedar menyelenggarakan seremonial yang hanya diikuti mereka yang berasal dari Indonesia, tapi juga ikut bergabung orang Melayu selaku penduduk asli. Mereka seakan dipersatukan, dan terlibat aktif dalam menyukseskan acara dan tentu saja bergabung dalam satu majlis.

Kala itu saya menceritakan betapa dahsyat ulama Indonesia hingga reputasinya yang mendunia. Ada  Syaikh Ihsan Jampes yang menyarahi kitab Minhajul Abidin menjadi Sirajut Thalibin, demikian pula Imam An-Nawawi al-Banteni yang juga mengarang kitab Al-Arbain Nawawi. Kala itu saya tidak lupa mengenalkan kewalian Syaichona Cholil Bangkalan yang dikenal umat Islam di Nusantara bahkan dunia.

Saat di Kota Damansara selepas pengajian, ternyata ada orang Melayu berkeinginan menguliahkan putranya yang sekarang sedang menghafal al-Quran di Indonesia. Yang bersangkutan sempat mencatat nomor hape saya.

Ketiga, teknis pelaksanaan maulid, demikian pula budaya yang digunakan layaknya di Indonesia, Sebagaimana di tanah air, dalam peringatan maulidir rasul yang dibaca adalah qasidah maulid al-Barzanji yang dikarang Sayyid Jakfar bin Abdul Karim. 

ArrahmahMedia.Com

Bahkan shalawat khas Indonesia seperti pembacaan Shalawat Badar karya Kiai Ali Mansur juga dikumandangkan. Dan lagu yang digunakan pun sesuai pola khas di Tanah Air yang disertai musik tradisional compang, yakni sejenis marawis.

Keempat, tidak kalah menarik pula, model berkat atau makanan untuk dibawa pulang yang mereka buat sangat unik dan bervariasi. Kalau orang Madura menggunakan buah sebagai menu pokoknya, mayoritas warga Bawean memanfaatkan aneka ragam jajan dan minuman, bahkan di dalamnya disertakan sarung, sajadah, termasuk sabun mandi. 

Menurut informasi yang saya dapat, untuk membuat satu buah berkat saja dibutuhkan biaya 500 ringgit. Dan waktu yang dibutuhkan untuk membungkus menjadi layak diberikan sampai seminggu lamanya. Itu dilakukan agar berkat terlihat menarik dan menyenangkan para tamu undangan.

Karena didesain sedemikian rupa dan ukurannya lumayan besar, untuk membawa berkat ke rumah harus memakai mobil khusus, termasuk petugas sampai dua hingga tiga orang. Berkat itupun diberikan kepada setiap undangan.

Walau berkat bukan menjadi tujuan, besarnya ukuran menjadi bukti rasa cinta mereka kepada Nabi Muhammad SAW. Kendati demikian, saat diberikan kesempatan memberikan mauidhah, saya katakana bahwa bila dikalkulasi, dana yang dikeluarkan untuk maulid tidaklah melebihi dari biaya para pecandu rokok dalam setahun. Dan para undanganpun yakni jamaah yang hadir tertawa renyah.

Kelima, khusus di Kota Kemuning Taman Wijaya, yang membuat maulid terasa berbeda adalah karena kekompakan anak muda. Saat ceramah, mereka berada di shaf paling depan. Tak hanya itu, secara khusus juga membuat berkat jumbo dengan varian isi yang sangat beragam.

Ketika saya bertanya kepada salah seorang pemuda terkait iuran yang dibutuhkan untuk membuat berkat jumbo tersebut, ternyata masing-masing dikenakan biaya 10 ringgit.

Melihat kekompakan anak-anak muda ini, saya mengurai kisah seorang pemuda di zaman Harun Al-Rasyid yang mendapatkan kenikmatan di alam kubur karena memuluskan bulan Rabiul Awal. Cerita tersebut sebagaimana ditulis Sayyid Satha dalam kitab Ianatul Thalibin.

Segala kisah ini menjadi catatan penting bahwa tradisi Indonesia bisa menjadi kegiatan keagamaan yang membahana di Malaysia. Semoga mereka tidak lupa akan tanah leluhur, terlebih dalam upaya menjaga hubungan antara kedua negara. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Tegal, Sholawat, Humor Islam ArrahmahMedia.Com

Minggu, 21 Januari 2018

IPNU-IPPNU Bener Deklarasi Perangi Narkoba

Purwrejo, NU online

Menggunakan momentum Masa Kesetian Anggota dan Kemah Pelajar, Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah menggelar deklarasi memerangi narkoba. Deklarasi tersebut diikuti oleh sekitar 250 pelajar NU se-Kecamatan Bener.

Ketua PC IPNU Kecamatan Bener Muhammad Shofiyudin mengatakan, deklarasi tersebut merupakan sebuah komitmen awal IPNU-IPPNU di tingkatan pelajar untuk melawan narkoba. “Pelajar NU jangan sampai pasif terhadap pelbagai persoalan di kalangan pelajar, harus menjadi yang terdepan,” ungkapnya.

IPNU-IPPNU Bener Deklarasi Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Bener Deklarasi Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Bener Deklarasi Perangi Narkoba

Setelah deklarasi yang berlangsung Sabtu (1/10) di Aula SMK Ma’arif NU Bener itu, diselenggarakan Seminar Anti Narkoba yang diisi oleh Kapolsek Bener AKP Kitfirul Aziz. “Kita kumpulkan semua perwakilan pelajar se-Kecamatan Bener baik dari sekolah negeri maupun swasta untuk bersama-sama menyatukan barisan,” imbuhnya.

ArrahmahMedia.Com

Menurut AKP Kitfirul Aziz, NU beserta banom-banomnya telah terbukti dalam berperan aktif dalam membangun masyarakat.

“Badan otonom NU selalu terlibat dalam membangun spiritual dan sosial masyarakat, termasuk narkoba. Maka saya harapkan, rekan-rekan dari IPNU-IPPNU meneruskan semangat positif tersebut,” pungkasnya. (Ahmad Nasuhan/Mahbib)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Budaya, Hikmah, Sholawat ArrahmahMedia.Com

Minggu, 14 Januari 2018

Matikan TV Usai Maghrib, Isi Ngaji bersama Keluarga!

Banyuwangi, ArrahmahMedia.Com

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwanyi KH Maskur Ali menyoroti fenomena kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini. Menurutnya, saat ini peran pendidikan dan keluarga untuk kelangsungan anak-anak sangat penting.

Matikan TV Usai Maghrib, Isi Ngaji bersama Keluarga! (Sumber Gambar : Nu Online)
Matikan TV Usai Maghrib, Isi Ngaji bersama Keluarga! (Sumber Gambar : Nu Online)

Matikan TV Usai Maghrib, Isi Ngaji bersama Keluarga!

Dalam beberapa bulan terakhir, angka kejahatan yang dilakukan dan melibatkan anak-anak sangat tinggi. Beberapa kasus seperti asusila di Surabaya, kata Maskur, karena dipicu renggangnya komunikasi anak dan orang tua. Untuk itu, dia berharap keluarga bisa mengambil peran di sini.

“Matikan TV usai maghrib sampai isya, isi pengajian bersama keluarga,” pinta pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Sina, Genteng itu di hadapan ribuan warga NU Banyuwangi pada puncak peringatan hari lahir NU ke -93 yang digelar PCNU Banyuwangi di Banyuwangi, akhir pekan kemarin (29/5).

ArrahmahMedia.Com

Masykur juga mengajak pengurus Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) se-Banyuwangi untuk turut serta mengdokumentasikan aset-aset NU agar tidak disalahfungsikan oleh oknum-oknum tertentu.

ArrahmahMedia.Com

“NU Banyuwangi masuk 10 besar NU Award, dan insyallah akan masuk seleksi 5 besar. Salah satu hal yang masih kurang dari NU Banyuwangi adalah pada bidang aset. NU kurang mendokumentasikan aset-asetnya. Lewat LWPNU (Lembaga Waqaf dan Pertanahan NU), silakan masjid-masjid disertifikasi atas nama lembaga NU,” ajaknya.

Peringatan harlah ke-93 NU berlangsung di Pondok Pesantren Tahfidzul Quran? Al Mubarok? asuhan H. Ahmad Hidayat yang? berlokasi di Jalan Nuri, Sawahan, Kampung Rambutan, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng. Acara kali ini mengambil tema “Menyebarkan Islam yang Damai dan Toleran”.? (Anang Lukman Afandi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sholawat, Doa ArrahmahMedia.Com

Jumat, 05 Januari 2018

22 Becak Kiai, 10 Bendera, 2015 Penabuh Rebana di Pacitan

Pacitan, ArrahmahMedia.Com. Peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober diperingati secara serentak dan meriah di seluruh penjuru Tanah Air. Di Pacitan, Jawa Timur, ribuan santri mengikuti Kirab Hari Santri Nasional di Komplek Masjid Agung Darul Falah dan Pendopo Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Kamis (22/10) siang.

22 Becak Kiai, 10 Bendera, 2015 Penabuh Rebana di Pacitan (Sumber Gambar : Nu Online)
22 Becak Kiai, 10 Bendera, 2015 Penabuh Rebana di Pacitan (Sumber Gambar : Nu Online)

22 Becak Kiai, 10 Bendera, 2015 Penabuh Rebana di Pacitan

Ribuan santri dari? seluruh? pesantren dan Madrasah Diniyah Takmiliyah se-Kabupaten Pacitan turut berpartisipasi dalam kirab ini. Sebanyak 22 Becak Kiai, 10 Bendera merah putih dan 2015 Penabuh Rebana mengiringi ribuan peserta kirab. “Angka tersebut digunakan untuk melambangkan tanggal diresmikanya Hari Santri Nasional yaitu tanggal 22 Oktober 2015,” kata Ketua Panitia Kirab Gus Mu’ad Harits Dimyathi kepada ArrahmahMedia.Com.

Rangkaian kirab digelar khidmah dan sangat meriah, diawali dengan melaksanakan shalat dhuhur secara berjamaah di Masjid Agung Darul Falah Pacitan. Lalu pembacaan kalimah toyyibah tahlil yang dipimpin oleh KH Abdullah Sadjad, dan diteruskan dengan pembacaan Nadham Asmaul Husna oleh ribuan santri. Selanjutnya acara “Doa Bersama” ditutup dengan pembacaan doa oleh KH Burhanudin HB.

ArrahmahMedia.Com

Pukul 13.00 WIB bertempat depan gerbang masjid Agung, Kirab secara resmi diberangkatkan oleh Kapolres Pacitan didampingi pengasuh Pondok Tremas KH Hammad Al Alim Harist dan Ketua Panitia Kirab Gus Mu’ad Harits Dimyathi. Ribuan Santri dengan tertib dan penuh semangat melakukan long march menempuh jarak 2 kilometer mengelilingi kota Pacitan.

ArrahmahMedia.Com

Pemberangkatan rombongan kirab diawali oleh pasukan Paskibra Pondok Tremas yang membawa 10 Bendera Merah Putih diikuti Barisan Banser, Disusul dengan barisan marching band dari Pesantren Al Fattah Kikil, Selanjutnya 22 unit Becak yang membawa para kiai dan seterusnya barisan ribuan santri dari 12 Kecamatan di Pacitan.

Aksi Sosial Bagi-bagi Tanaman

Bersamaan dengan itu, aksi sosial dilakukan oleh ribuan peserta kirab. Sambil berjalan mereka membagikan 22 bibit pohon jati, 10 bibit pohon cengkeh dan 2015 bibit pohon sengon kepada masyarakat yang menyaksikan jalanya kirab. Lagi-lagi angka tersebut sebagai kebanggan para santri atas diresmikanya hari santri Nasional tangal 22 Oktober 2015.

Kirab diakhiri dengan kegiatan apel santri di halaman Pendopo Kabupaten Pacitan sekaligus dilakukan peresmian Hari Santri Nasional oleh Pemerintah Daerah dalam hal ini dilakukan oleh Sekretaris Daerah ( Sekda) Kabupaten Pacitan Suko Wiyono.

Apel Peresmian Hari Santri Nasional diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia raya, dilanjutkan pembacaan Ikrar Santri oleh ketua panitia Kirab Gus Mu’ad Harits Dimyathi. Kemudian secara simbolis Sekda Suko Wiyono didampingi para kiai menekan tombol sirine dan penerbangan balon udara sebagai tanda diresmikanya Hari Santri Nasional 22 Oktober 2015.

Tampak hadir peresmian Hari santri nasional di Pendopo Kabupaten Pacitan, Para kiai seperti Pengasuh Pondok Tremas KH? Hammad Al Alim Harits, KH Mu’ad Harits, Pengasuh Pesantren Al Fattah KH Burhanudin HB, KH Umar Syahid Mustasyar PCNU, KH Mahmud Ketua Tanfdziah PCNU, Kapolres Pacitan, Ketua DPRD Roni Wahyono dan? puluhan kiai pengasuh pesantren. Kirab Peringatan hari santri nasional terselenggara atas kerjasama RMI NU, Forum Komunikasi Pesantren Pacitan dan Pemerintah Kabupaten Pacitan. (Zaenal Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Lomba, Doa, Sholawat ArrahmahMedia.Com

Selasa, 02 Januari 2018

Umat Islam Menapaki Tahun 1435 Hijriyah

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Terhitung mulai selepas matahari terbenam atau waktu maghrib, Senin (4/11) umat Islam telah memulai awal bulan Muharram atau pergantian tahun 1435 Hijriyah. Tanggal 1 Muharram 1425 H ditetapkan jatuh pada hari Selasa (5/11).

Rukyat awal bulan Muharram 1435 H yang dilakukan oleh Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama di berbagai titik strategis pada Ahad (3/11) kemarin atau bertepatan dengan tanggal 29 Dzulhijjah 1434 H tidak berhasil melihat hilal karena bulan masih berada di bawah ufuk.

Umat Islam Menapaki Tahun 1435 Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Umat Islam Menapaki Tahun 1435 Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Umat Islam Menapaki Tahun 1435 Hijriyah

Dalam almanak NU yang diterbitkan oleh Lajnah Falakiyah PBNU menyebutkan, peristiwa ijtima’ atau konjungsi baru terjadi pada Ahad (3/11) malam pukul 19.49 WIB. Sementara posisi bulan pada saat matahari terbenam di hari yang sama berada 2021’ di bawah ufuk sehingga hilal tidak mungkin terlihat.

ArrahmahMedia.Com

“Kami mengikhbarkan awal Muharram 1435 H Jatuh pada Selasa 5 November 2013 atau dimulai malam Selasa sebab rukyat Ahad kemarin tidak berhasil melihat hilal,” demikian disampaikan Ketua Lajnah Falakiyah PBNU, KH A. Ghazalie Masroeri dalam pesan singkatnya kepada ArrahmahMedia.Com.

ArrahmahMedia.Com

Awal bulan muharram dengan demikian ditetapkan berdasarkan kaidah istikmal atau penyempurnaan bulan Dzulhijjah menjadi 30 hari, atau sampai Senin, dan hari Selasa baru ditetapkan sebagai awal bulan Muharram. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Budaya, Sholawat, Nasional ArrahmahMedia.Com

Minggu, 31 Desember 2017

LKNU Dorong Warga NU Ikuti Pekan Imunisasi Nasional Polio

Jakarta, ArrahmahMedia.Com



Polio merupakan penyakit yang dapat menyebabkan pertumbuhan bayi terlambat, cacat permanen atau bahkan meninggal dunia dan belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini. 

LKNU Dorong Warga NU Ikuti Pekan Imunisasi Nasional Polio (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU Dorong Warga NU Ikuti Pekan Imunisasi Nasional Polio (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU Dorong Warga NU Ikuti Pekan Imunisasi Nasional Polio

Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama LKNU menghimbau kepada seluruh warga NU yang memiliki balita (usia 0-59 Bulan), untuk mendatangi POS Pekan Imunisasi Nasional Polio (PIN) terdekat pada tanggal 8-15 Maret 2016 agar mendapatkan imunisasi Polio secara gratis. 

"Vaksinasi polio dapat melindung balita dari penyakit yang mengakibatkan cacat fisik atau mental yang sulit disembuhkan," ungkap Hisyam Said Budairy, Ketua Lembaga Kesehatan PBNU.

Indonesia pada tanggal 27 Maret 2014 menerima sertifikat bebas polio dari organisasi kesehatan dunia, WHO. Untuk mendapatkan sertifikasi tersebut, persyaratan yang harus dipenuhi antara lain pemantauan yang ketat, dan tidak ditemukannya kasus baru polio yang disebabkan virus polio asli dari negara tersebut selama tiga tahun berturut-turut.

ArrahmahMedia.Com

Untuk turut mewujudkan dunia bebas polio pada 2020, direktur Surveilan dan Karantina Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, Jane Soepardi mengatakan pemerintah menargetkan minimal 95 persen anak di bawah 5 tahun (0–59 bulan) di seluruh Indonesia mendapat imunisasi polio melalui PIN Polio 2016. 

"Kegiatan imunisasi akan berlangsung pada 8–15 Maret 2016. PIN Polio ini bertujuan memberikan perlindungan optimal dari penyakit polio," ungkapnya.

Berkaitan dengan beredarnya gambar bungkus vaksin polio di media sosial yang bertuliskan "pada proses pembuatannya bersinggungan dengan bahan bersumber babi," Oscar Primadi, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan memastikan PIN Polio 2016 menggunakan vaksin tetes "Oral Polio Vaccine" produksi PT.Biofarma, dan tidak ada tulisan apapun terkait bahan bersumber babi.

Pada tahun 2011 lalu, PBNU melalui Lembaga Kesehatan dan Lembaga Bahtsul Masail telah melakukan kajian terhadap vaksin polio produksi Biofarma. Hasil kajian tersebut dikeluarkan dalam keputusan yang menyatakan bahwa Vaksin tetes OPV (Oral Polio Vaksin) yang diproduksi oleh PT.Biofarma hukumnya boleh digunakan untuk imunisasi. Red: Mukafi Niam

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pemurnian Aqidah, Sholawat, Aswaja ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 30 Desember 2017

Posko Mudik LTM PBNU di Masjid Al-Huda Rancabanteng, Wangon

Banyumas, ArrahmahMedia.Com. Pengurus Lembaga Takmir Masjid PBNU kembali melibatkan MWCNU Wangon kabupaten Banyumas dalam pendirian posko mudik lebaran, Rabu (23/7). LTM PBNU menempatkan posko mudik berbasis masjid ini di masjid Al-Huda Rancabanteng jalan Raya Timur Wangon, Banyumas.

Ketua MWCNU Wangon Muhtarom Baidlowy dalam pembukaan posko Rabu (23/7) mendukung program dakwah LTM PBNU bil harakah dan bil mal. “Salah satu dakwah bil mal, ya menyediakan layanan Bus Mudik Gratis dan Posko Lebaran Berbasis Masjid.”

Posko Mudik LTM PBNU di Masjid Al-Huda Rancabanteng, Wangon (Sumber Gambar : Nu Online)
Posko Mudik LTM PBNU di Masjid Al-Huda Rancabanteng, Wangon (Sumber Gambar : Nu Online)

Posko Mudik LTM PBNU di Masjid Al-Huda Rancabanteng, Wangon

Posko ini didukung oleh pengurus GP Ansor, Fatayat NU, IPNU, dan IPPNU Wangon. Posko mudik ini akan melayani warga hingga Ahad 3 Agustus 2014.

ArrahmahMedia.Com

Tampak hadir dalam pembukaan posko mudik lebaran ini Musytasyar MWCNU Wangon KH Mahfudz Sholeh, Sekretaris GP Ansor Banyumas Juanda, dan perwakilan banom NU di wilayah Wangon. (Rusmanto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sholawat, Hikmah, RMI NU ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com

PMII Desak Pemerintah Rombak Sistem Pendidikan di IPDN

Jakarta, ArrahmahMedia.Com

Pergerakan Mahasiwa Islam Indonesia (PMII) menilai, berulangnya kasus kekerasan fisik di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) merupakan kesalahan pada sistem pendidikannya. Karenanya, PMII mendesak pemerintah agar melakukan perombakan sistem secara total pada lembaga pendidikan pencetak aparatur pemerintahan tersebut.

“(IPDN, Red) tidak perlu dibubarkan. Tapi rombak secara total sistem pendidikannya, termasuk sistem pendidikan yang melestarikan tradisi kekerasan fisik,” kata Ketua Umum Pengurus Besar PMII Hery Haryanto Azumi dalam konferensi pers bersama sejumlah organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP), di Kafe Bakoel Kopi, Jakarta, Selasa (17/4)

PMII Desak Pemerintah Rombak Sistem Pendidikan di IPDN (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Desak Pemerintah Rombak Sistem Pendidikan di IPDN (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Desak Pemerintah Rombak Sistem Pendidikan di IPDN

Hery menambahkan, PMII bersama sejumlah OKP lainnya, seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), sependapat tentang tuntutan perombakan total sistem tersebut. Pasalnya, kampus yang sebelumnya bernama Sekolah Tinggi Pendidikan Dalam Negeri (STPDN) itu adalah lembaga pendidikan pencetak pelayan masyarakat.

Selain itu, menurut Hery, perombakan sistem itu juga merupakan sebuah upaya melakukan reformasi birokrasi dalam menegakkan hukum dan lembaga pendidikan serupa yang dimiliki instansi pemerintah. “Kita juga tahu, lembaga pendidikan kedinasan tidak saja IPDN. Tapi ada yang lain yang statusnya di bawah departemen. Departeman Pertanian punya, Departeman Perhubungan juga punya,” terangnya.

IPDN lebih terbuka bagi OKP

Dalam kesempatan yang sama, PMII bersama sejumlah OKP lainnya juga meminta agar IPDN lebih membuka diri bagi masuknya OKP, seperti HMI, GMNI, GMKI dan IMM. Mereka menilai, IPDN selama ini menjadi sebuah lembaga pendidikan yang tertutup dengan dunia luar.

ArrahmahMedia.Com

“IPDN ini masih memelihara semangat NKK BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) yang men-depolitisisasi kampus. Di mana mahasiswa harus bersih dan netral dari dunia politik. IPDN seakan menjadi penjara bagi mahasiswanya,” terang Hery.

ArrahmahMedia.Com

Hery menuturkan, sejumlah lembaga pendidikan kedinasan lainnya juga mengalami hal yang sama seperti IPDN. Selain tertutup, kampus semacam IPDN menjadi seakan terpisah dengan kampus lainnya. Sehingga mahasiswanya pun tiada ruang untuk berhubungan dengan mahasiswa lain pada umunya.

“Oleh karenanya, kami juga menuntut agar IPDN menjadi lembaga pendidikan yang lebih terbuka. Beri kesempatan bagi OKP seperti PMII, HMI, GMNI, GMKI dan IMM, untuk masuk ke dalamnya untuk melakukan pengkaderan,” papar Hery. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com IMNU, Sholawat ArrahmahMedia.Com

Selasa, 26 Desember 2017

Agama, Rohingya, dan Masa Depan Kemanusiaan

Oleh Aswab Mahasin

Sebagai sistem kepercayaan, agama hanya mempunyai kapasitas mengajak. Ada dua pilihan ketika seseorang diajak oleh agama “mempercayai” atau “mengingkari”. Secara personal, tidak ada konsekuensi logis bagi mereka yang mengingkarinya, namun bagi mereka yang meyakininya (telah sukarela menjadi penganutnya), maka ada tuntunan yang harus dijaga dan disemarakan, khususnya esensi dari nilai-nilai agama itu sendiri. Agama tidak memuat unsur paksaan, melainkan agama memuat batasan-batasan nilai, norma, aturan, dan konsep sebagai realisasi keimanan seseorang.

Agama, Rohingya, dan Masa Depan Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Agama, Rohingya, dan Masa Depan Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Agama, Rohingya, dan Masa Depan Kemanusiaan

Agama dalam catatan Karen Armstrong, “akhir abad ke-20, agama akan menjadi kekuatan yang harus dipertimbangkan. Dewasa ini, kita tengah dipertontonkan kebangkitan agama yang menyebar luas, padahal sebelumnya kisaran tahun 1950 dan 60-an oleh banyak orang, khususnya kaum sekuler cenderung menganggap agama sebagai takhayul primitif yang ditumbuh-kembangkan oleh manusia rasional dan beradab. Ada juga yang memprediksi kematian agama sudah di depan mata. Sedangkan prediksi terbaik pada saat itu, agama hanya akan menjadi aktifits privat dan marginal, yang tidak lagi dapat mempengaruhi peristiwa-peristiwa dunia.”

Sekarang ini, kembangkitan agama dipertanyakan kembali, agama yang seharusnya konsisten mengusung misi perdamaian, terlihat lebih lihai menebarkan konflik. Walaupun jumlah antara kedamaian dan konflik, lebih dominan situasi damai. Hanya saja, ketika konflik meletus atas nama agama sulit untuk dilerai, pasti berkepanjangan, dan efeknya menyebar kemana-mana.

Munculnya penganut paham radikal atau biasa dikenal juga dengan fundamentalisme merupakan salah satu bagian penyulut api konflik tersebut. Karen Amstrong berpendapat fundamentalisme adalah suatu bentuk keimanan yang bersifat sangat politis, dan sebagian orang melihatnya sebagai bahaya yang mengancam dunia dan kedamaian sipil.

Lanjutnya, fundamentalisme muncul ke permukaan di kebanyakan agama dan menjadi respon mendunia atas ketegangan kehidupan di akhir abad ke-20. Hindu radikal turun ke jalan-jalan untuk membela sistem kasta dan menentang Muslim India; kaum fundamentalisme Yahudi melakukan penghunian ilegal di Tepi barat dan Jalur Gaza serta bersumpah untuk mengusir semua orang Arab dari Tanah Suci mereka; Moral Majority yang dipimpin Jerry Falwell dan Chrsitian Right, yang menganggap Uni Soviet sebagai kerajaan setan, mencapai kekuatan yang hebat di Amerika Serikat selama tahun 1980-an. (Karen Armstrong: 2001). Selain itu, ada laskar ISIS yang mengusik kedamaian Aleppo.

ArrahmahMedia.Com

Baru-baru inikonflik atas nama agama muncul kembali, belum habis berita Israel dan Palestina, menyusul gejolak yang sedang terjadi di Myanmar, di manaumat Islam Rohingya diberangus oleh kelompok Budha Ortodok (katanya). Ini adalah tragedi kemanusiaan yang “parah”. Namun, situasi yang terjadi sekarang di Myanmar kalau kita kaji secara mendalam, seperti yang di tuliskan dalam pernyataan GP Ansor di ArrahmahMedia.Com (judul berita: Ini Pernyataan Sikap GP Ansor Terkait Nasib Rohingya, Arakan, Rakhine, Myanmar) sangat menarik.

GP Ansor dalam pernyataannya, atas dasar laporan UN Office of the High Commissioner for Human Rights (OHCHR) – 2017peristiwa kemanusiaan keji di Myanmar semenjak tahun 2013, 2016, dan menguat di tahun 2017 syarat dengan konflik geopolitik, ada tiga hal yang saya garis bawahi;

Pertama, konflik geopolitik di dasari atas pertarungan kuasa dan kekuasaan (yang tidak seimbang), di daerah Arakan-Rakhine, yang dihuni mayoritas etnis Rohingya, dengan dugaan kuat ada perebutan paksa tanah dan sumber daya, khususnya minyak dan gas (di wilayah-wilayah sekitar).

Kedua, daerah tersebut dilaporkan memiliki cadangan sebesar 1,774 triliun kaki kubik gas dan 1,569 Barel minyak, yang beberapa blok diantara jatuh tempo pada tahun 2017. GP Ansor menyatakan, fenomena minyak dan gas atau kutukan sumber daya, tidak hanya terjadi di Myanmar tetapi juga terjadi di belahan dunia yang lain. Di mana untuk menutup operasi apropriasi sumber daya. GP Ansor menyebutkan operator-operator di lapangan melakukan dengan cara menjijikan, dibungkus dengan konflik antar etnis, antar agama, antar kelompok masyarakat dengan tujuan agar akar masalahnya menjadi kabur.

ArrahmahMedia.Com

Ketiga, Menurut GP Ansor saudara-saudara kita di Rohingya sudah menjadi sasaran khusus dengan operasi terselubung (covered operation) apropriasi kapital dan sumber daya secara biadab dan terencana menyasar praktik serta simbol agama. Membenturkan antar umat beragama termasuk dengan cara membakar al-Qur’an, pemerkosaan di Masjid, mempersenjatai dan memprovokasi warga untuk juga melakukan persekusi terhadap minoritas Rohingya.

GP Ansor juga mencermati, tragedi kemanusian ini karena situaasi dimana pemeluk agama mayoritas yang sebenarnya moderat memilih diam dan bukan membantu melawan saat terjadi persekusi terhadap kaum minoritas. GP Ansor dengan tegas menyatakan, Aung San Suu Kyi, sang penerima Nobel Perdamaian, hanyalah contoh paling memuakan dari diamnya mayoritas. (untuk lebih jelas, bisa membacanya langsung link di atas).

Di lihat dari analisis panjang tersebut, pembantain keji di Rohingya memang layak untuk dikutuk sebagai bentuk kebiadan sejarah umat manusia. Logikanya, kita tidak harus memakai agama untuk mengutuk ini, sisi kemanusiaan kita pun sudah tergugah, bahwa ini adalah tindakan yang sangat tidak manusiawi.?

Khusus mengenai peristiwa Rohingya tersebut, dalam menanggapi hal ini, mungkin yang paling bijak adalah mencoba menyaring seluruh berita, dan menganalisis sebenarnya apa yang terjadi di Rohingya, karena ini bukanlah perseteruan antar kampung. Siapa saja mungkin bisa ikut campur secara lapangan.?

Tentu kita tidak bisa diam, karena ini adalah peristiwa kemanusiaan paling parah di Asia Tenggara. Namun, untuk menyelesaikan masalah konflik, hubungannya bukanlah kirim militer dan kemudian berperang, melainkan ada pendekatan yang dilakukan antar negara, berdiplomasi, mengurai konflik, dan Indonesia dalam hal ini telah melakukan tindakan tersebut, bekerja sama dengan 11 Ormas, salah satunya Nadhlatul Ulama (NU) untuk membentuk aliansi kemanusiaan, dengan fokus pada bantuan kesehatan, makanan dan perlindungan. Sekarang telah akan mengglontorkan bantuan senilai 24 Miliar untuk warga Rakhine di Myanmar dan Ormas NU dan 11 Ormas lainnya melakukan pemberdayaan terhadap warga di Rakhine.

Dengan demikian, memanjatkan doa, dan terus mendukung serta memberi masukan terhadap pemerintah atas peristiwa ini adalah hal yang paling bijak, tidak lantas melampiaskan kemarahan kita, khususnya dilatarbelakangi sentimen keagamaan, dengan menggugat salah satu agama di Indonesia, karena dianggap sebagai agama tertuduh dalam konflik di Myanmar. Mari kita urai sekarng, bagaimana agama-agama dunia, khususnya Islam dalam menyikapi berbagai perbedaannya.

Agama dan sikap kemanusiaan

Berpijak dari hal-hal di atas, agama dalam praksisnya (oleh oknum-oknum tertentu), menjadi alat pertentangan yang strategis, ia dijadikan sebagai alat penindasan. Apalagi jika agama sudah bercampur dengan aktivitas politik arogan. Rumusannya begini, begitu agama diformalkan, baik dalam bentuk pelembagaan doktrin ataupun lainnya, dengan tujuan kepentingan-kepentingan kelompok, baik kepentingan “suara Tuhan” sebagai suara kekuasaan, maupun berbagai kepentingan lain yang memanfaatkan agama, maka agama tidak lagi murni sebagai gerakan persaudaran, perdamaian, dan keselarasan. Melainkan sebagai topeng surgawi semata.?

Pada tataran berhubungan dengan Tuhan, antar semua agama tidaklah ada pertentangan, apalagi konflik yang mengakar, wilayah keTuhan hanya melahirkan perdebatan teologis semata. Konflik terlahir dari mulut manusia yang mengatasnamakan sebagai pembela Tuhan demi keteraturan dunia. Akhirnya, dunia ini seakan-akan menjadi tunggal, kalau tidak sesuai dengannya maka akan salah. Lebih parah lagi, jika agama ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan duniawi. Seperti yang dikatakan Sidney Hook, perbedaan antar-agama tidak terletak pada “nilainya”, tetapi lebih pada “kosmologinya”.

Seperti halnya ilustrasi, memakan daging anjing bagi umat agama tertentu adalah haram, bagi satu umat agama lainnya hal yang biasa. Ini sama saja kita dengan membandingan antara satu merek mobil A dengan mobil B, yang jelas-jelas pabrikan dan buku panduannya berbeda. Itu bukanlah substansi yang harus kita perdebatkan, karena kebenaran esensinya antara mobil A dan mobil B, mempunyai tujuan yang sama, yakni “keselamatan dalam berkendara”. Artinya, yang kita cari adalah keamanan dan perdamaian.

Bukan berarti dalam hal ini kita menyamaratakan agama, melainkan sebagai pijakan paradigma kita dalam berpikir, untuk meminimalisir konflik. bahwa sesungguhnya Tuhan menghendaki perbedaan, seperti halnya apa yang pernah di tuliskan oleh Muhammad Afiq Zahara dalam opininya di ArrahmahMedia.Com (Terorisme Jihad), “Diversitas, kemajemukan dan kebhinekaan merupakan ketetapan dan fitrah kehidupan. Tuhan sendiri tidak menghendaki menciptakan umat yang satu”, seperti firmanNya (Q.S. Hud [11]: 118: “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.”

Komarudin Hidayat, dalam tulisannya “Agama-agama Besar Dunia: Masalah Perkembangan dan Interelasi”, menyatakan, “Suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah (truism) bahwa bumi ini hanya satu, sementara penghuninya terkotak-kotak ke dalam berbagai suku, ras, bangsa, profesi, kultural dan agama. Membayangkan bahwa dalam kehidupan ini hanya terdapat satu agama, rasanya hanya ilusi belaka.”

Untuk menjaga masa depan kemanusiaan, yang perlu ditanamkan adalah sebuah paradigma berpikir yang utuh mengenai sebuah ajaran, kita tidak bisa larut dalam pemahaman segregatif, di mana klaim kebenaran menjadi mutlak dalam setiap agama. Padahal, esensi dari beragama bukanlah mencari “kebenaran” untuk “menyalahkan”, melainkan kebenaran itu difungsikan sebagai jalan perdamain dan menebarkan kasih sayang. Karena ketika orang merasa benar, maka di situlah ia menjadi salah.?

Agama jika dipahami secara mendalam dan komperhensif akan melahirkan sifat humanis, toleran dan menghormati orang lain. Dengan demikian, yang dibangun tidak hanya pemahaman kemajemukan semata, melainkan pemahaman yang sesuai dengan konteks kekinian, tentu diambil dari ajaran agama yang utuh. Dalam Islam sendiri kita diajarkan oleh Allah sebuah penghormatan yang besar untuk menghormati yang lain dari kita, “tidak ada paksaan dalam beragama...”, “untukmulah agammu, dan untukkulah agamaku..”, “kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu: Maka barangsiapa yang ingin beriman hendaklah berimanlah”.

Di lihat dari penggalan pesan-pesan Allah SWT tersebut, Allah mengajarkan kepada kita bahwa prinsip beragama harus merupakan sebuah pilihan bukan paksaan. Karena dasar dari keimanan selain keTuhanan adalah kemanusiaan. Dan agama menolak kekerasan sebagai prinsip sebuah tindakan. Kekerasan merupakan tindakan amoral. Moralitas agama adalah kesadaran, kesalehan, yang selalu mendorong pemeluknya untuk akrab satu sama lain.?

Dan jangan dipahami keliru, pluralisme, saling menghormati dan berdampingan dengan agama lain, lantas kita mencampuradukan ajaran-ajaran agama tersebut, saya katakan, “tidak”. Karena tentu takarannya tidak akan sama. Pastinya adalah, keyakinan kita (keimanan) terhadap Allah SWT harus terus disemarakan untuk membangun sebuah sistem berketuhanan yang mampu menajawab persoalan-persoalan kemanusiaan. Agar masa depan kemanusiaan, yang dilatarbelakangi oleh misi agama yaitu perdamaian bisa terselenggara dengan baik.

Saya tutup tulisan ini dari perkataan seorang atheis, Friedrich Nietzche, “Hidup ini hanya masalah selera”. Agama adalah pilihan selera makan, tujuan makan adalah rasa kenyang, pepatah Jawa mengatakan, “Weteng ngelih pikiran ngalih, weteng wareg pikiran jejeg”. Jadi, beragama dengan memahami segala aspeknya—mutlak sebagai gizi kehidupan kita, sehat jasmani dan rohani.

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Khutbah, Sholawat, Pertandingan ArrahmahMedia.Com

Kamis, 21 Desember 2017

Karomah Orang Shalih Lebih Terasa Kala Sudah Wafat

Subang, ArrahmahMedia.Com

Bagi hamba Allah yang rajin ibadah dan beramal shalih, ketika sudah meninggal dunia akan mendapat nikmat kubur dan berpotensi memiliki karomah, hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani yang dijelaskan dalam kitab Tanwirul Qulub.

Karomah Orang Shalih Lebih Terasa Kala Sudah Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Karomah Orang Shalih Lebih Terasa Kala Sudah Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Karomah Orang Shalih Lebih Terasa Kala Sudah Wafat

Demikian disampaikan pengasuh Pesantren Darussalam Buntet Pesantren Cirebon, KH Tb. Ahmad Rifqi Chowas, saat memberikan taushiyah dalam kegiatan walimayus safar haji di Pesantren Al-Huda Pungangan, Subang, akhir pekan lalu (31/7)

"Alam barzakh beda dengan alam dunia, kalau di dunia banyak salah dan khilaf dan macam-macam masalah hidup, kalau di alam barzakh ada nikmat kubur dan tidak ada masalah seperti orang hidup di dunia, maka pantas kalau karomah orang shalih lebih terasa ketika sudah meninggal dunia," ungkap Kiai yang biasa disapa Kang Entus itu

ArrahmahMedia.Com

Dalam kesempatan itu Kang Entus menguatkannya dengan firman Allah yang ada dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 124 dan Annisa ayat 69 yang menyatakan bahwa para syuhada, nabi, para pecinta kebenaran dan orang-orang shalih tidak mati dan akan selalu hidup serta akan mendapat nikmat kubur.

"Makanya salah satu tradisi kita adalah ziarah kubur kepada para wali, ulama, karena kita meyakini bahwa para penghuni kubur itu masih hidup," tuturnya.

ArrahmahMedia.Com

Mengenai hal ini, kata dia, ada sebuah kisah nyata yang dialami oleh putra bungsu Kiai Abbas Buntet, yaitu KH Nahdludin Abbas? yang melaksanakan ibadah haji saat berusia sekitar 5 tahun. Karena saat itu Kiai Nahdludin masih balita, ia hanya mengingat dua hal saja.

"Pertama yang diingat Kiai Nahdludin adalah ketika tawaf beliau digendong oleh abahnya (Kiai Abbas, red) dan yang kedua beliau menyaksikan abahnya bertemu dan mengobrol lama dengan ulama ahli hadits di Madinah yaitu Syaikh Ali Ath-Thoyyib Al-Madani Al-Hasani, beliau ini ulama Madinah yang membawa tarekat Tijaniyah ke Tanah Air," ungkap Pengasuh Pesantren Daarussalam Buntet itu.

Kiai Nahdludin, kata dia, saat itu merasa aneh sebab materi obrolan Abahnya dengan Syaikh Ali semuanya membahas tentang alam barzakh. Tidak lama kemudian Kiai Nahdludin baru mengetahui bahwa ternyata Syaikh Ali itu sudah wafat beberapa tahun sebelumnya. (Aiz Luthfi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Habib, Khutbah, Sholawat ArrahmahMedia.Com

Kamis, 14 Desember 2017

Ribuan Pendekar Pagar Nusa Ikuti Apel Setia NKRI

Semarang, ArrahmahMedia.Com. Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang penuh dengan para pendekar pencak silat Pagar Nusa dari Jawa Tengah dan perwakilan seluruh Indonesia. Dengan berseragam hitam mereka mengikuti kegiatan Apel Akbar Ikrar Setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ribuan Pendekar Pagar Nusa Ikuti Apel Setia NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Pendekar Pagar Nusa Ikuti Apel Setia NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Pendekar Pagar Nusa Ikuti Apel Setia NKRI

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Dr H As’ad Said Ali yang menjadi inspektur upacara dalam apel akbar itu memimpin pembacaan ikrar kesetiaan untuk NKRI di hadapan sekitar tiga ribu pendekar.

Di tengah terik panas, As’ad memberikan amanat singkat. “Kita harus berjuang meneruskan perjuangan alim ulama sehingga kita bisa menikmati seperti sekarang ini. Kita harus terus penjaga NKRI agar generasi penerus bisa melanjutkan,” ujarnya.

ArrahmahMedia.Com

“Kita wajib memperjuangkan Islam dan NKRI. Tidak hanya itu, melindungi kaum minoritas yang tertindas. Juga selalu menjaga ajaran tasamuh (toleran), tawasuth (moderat), tawazun (proporsional) dan i’tidal (konsisten) untuk menjaga NKRI,” tambahnya.

Apel Akbar itu merupakan puncak dari kegiatan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Pencak Silat NU Pagar Nusa yang mengambil tema “Pagar Nusa Menjadi Benteng NKRI dari Ancaman Radikalisme dan Terorisme”. Rapimnas diadakan sejak 26 Maret lalu di Pondok Pesantren Az zuhri Ketileng Semarang.

ArrahmahMedia.Com

Ketua Pengurus Pusat Pencak Silat NU Pagar Nusa H Aizzuddin Abdurrahman dalam apel akbar itu mengingatkan bahwa NKRI sedang berada dalam ancaman disintegrasi yang disulut oleh kelompok radikal terutama ISIS yang mulai menjalar ke Indonesia.

“Sebagai bagian dalam upaya pencegahan kita harus selalu awas dan waspada terhadap keadaan sekitar dan lingkungan tempat kita tinggal. ISIS juga telah merusak akidah dan nasionalisme yang telah tumbuh subur dalam jiwa warga kita,” kata Gus Aiz, panggilan akrab Aizzuddin Abdurrahman.

Ditambahkan, Pagar Nusa merupakan bagian pagarnya NU dan bangsa Indonesia. Pagar Nusa akan menjaga pesantren, kiai dan ulama, serta dengan segenap jiwa dan raga akan selalu menjaga dan mempertahankan keutuhan NKRI.

“Kita harus bermitra dengan pemerintah, karena ini menjadi tanggung jawab kita bersama TNI dan Polri. Kita mewarisi ajaran yang dibawa walisongo dalam mendakwahkan Islam dengan santun, amar ma’ruf bil ma’ruf mengajak kepada Islam dengan cara yang baik, tidak berbuat kekerasan dalam mengajak Islam,” katanya dalam apel akbar yang dihadiri petinggi TNI dan Polri. (M. Zulfa/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sholawat, Pendidikan ArrahmahMedia.Com

Rabu, 13 Desember 2017

Cara Bersuci Bagi Pengidap Beser dan Istihadhah

Fikih Islam amat memperhatikan aturan ibadah sehingga benar-benar dijelaskan secara detail menyangkut keadaan-keadaan seorang Muslim. Segala ibadah yang bersifat mahdlah, seperti shalat, membaca Al-Quran, puasa, tidak lepas dari syarat sahnya yaitu tidak berhadats.

Kita mengenal ada dua jenis hadats. Pertama, yang mewajiban seseorang berwudhu, yang disebut hadats kecil. Kedua adalah hadats yang mewajibkan seseorang mandi, yang disebut dengan hadats besar.

Cara Bersuci Bagi Pengidap Beser dan Istihadhah (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Bersuci Bagi Pengidap Beser dan Istihadhah (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Bersuci Bagi Pengidap Beser dan Istihadhah

Hal-hal yang menyebabkan wudhu, salah satunya adalah keluarnya sesuatu dari dua jalan kemaluan, yaitu qubul dan dubur. Terkecuali dari hal ini adalah keluarnya mani serta darah haid dan nifas, yang mewajibkan mandi janabat. Selain itu, jika seseorang buang air, kentut, atau keluar darah yang bukan dalam masa haid atau nifas, maka ia wajib berwudhu ketika akan melakukan shalat, thawaf, atau hendak memegang mushaf.

ArrahmahMedia.Com

Ternyata para fuqaha terdahulu sudah mengamati keadaan masyarakat yang memiliki permasalahan dalam ibadah. Masalah ini terjadi pada orang-orang yang mengidap salisul baul, yaitu terus menerus mudah keluar air seni atau beser, serta perempuan yang mengidap istihadhah.

ArrahmahMedia.Com

Masalah yang terjadi pada dua keadaan ini setidaknya adalah permasalahan hadats dan najis. Ketika keluar kencing maupun darah, maka otomatis ia berhadats. Sayangnya keadaan ini tak bisa ditahan-tahan sebagaimana orang lumrahnya yang sehat. Selain mudah berhadats, ketika shalat, darah dan air seni yang keluar tersebut akan membuat orang yang shalat membawa najis. Hal ini tentu membatalkan shalat. Maka dua golongan ini dikategorikan sebagai orang-orang yang senantiasa berhadats (dâimul hadats).

Ulama memberikan tatacaranya sebagai berikut, sebagaimana dikutip dari Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhabil Imamis Syafi‘.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Perempuan yang mengalami istihadhah membersihkan dahulu darahnya, kemudian membalut/menutup jalan keluar darah, dan berwudhu setiap kali hendak shalat fardhu.”

Rasulullah pernah menyebutkan hal ini dalam hadits, diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah RA.

? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? - ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? - "? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Suatu ketika Fatimah binti Abi Hubaisy mendatangi Nabi, kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku mengalami istihadhah, dan aku (selalu) tidak dalam keadaan suci. Apakah aku tinggalkan shalat?’ Rasul SAW menjawab, ‘Tidak, sungguh itu (darah yang keluar) adalah penyakit, bukan bagian dari haid. Ketika kamu mendapati haid, maka tinggalkanlah shalat. Tetapi jika masanya sudah selesai, maka basuhlah darah itu, kemudian shalatlah.’”

Kisah ini sebagaimana dalam Irsyadus Sari syarah Shahih Al-Bukhari karya Imam Al-Qasthalani menyebutkan bahwa Fatimah binti Abi Hubaisy ini menyangka bahwa darah yang keluar setelah masa haidnya tersebut adalah masih merupakan bagian dari haid, dan disangkanya bahwa ia tidak diwajibkan shalat. Nabi tetap menyuruhnya untuk shalat, tetapi dengan menyucikan dulu darah yang keluar dan selanjutnya melakukan wudlu sebagaimana hendak shalat.

Hal ini pun diserupakan bagi pengidap beser. Beser terjadi kebanyakan karena penurunan fungsi otot-otot yang mengendalikan pengeluaran air seni dari kandung kemih sehingga mudah berhasrat buang air kecil, dan air seni menetes dari qubul. Karena sering dan mudah sekali keluar air seni, maka setelah buang air kecil, alat kelamin ditutup atau ditahan agar tidak meneteskan air seni ke sarung, segera berganti sarung yang suci, kemudian bergegas berwudhu untuk setiap shalat fardhu.

Dalam perkembangannya, dikenal juga orang-orang yang mudah kentut dan keluar kotoran dari dubur. Cara bersuci dan berwudhu ketika hendak shalat juga sama. Kotoran yang ada di jalan belakang dibersihkan dahulu, kemudian segera berwudhu tiap shalat fardhu dan mengenakan pakaian yang suci saat hendak shalat.

Demikianlah tatacara yang bisa dilakukan agar seseorang tetap bisa melakukan ibadah dengan sah, suci dari hadats dan najis akibat air seni atau darah. Penting diperhatikan bahwa pengidap istihadhah dan beser ini tetap berkewajiban untuk shalat. Wallahu a‘lam. (M Iqbal Syauqi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sholawat, Ubudiyah, AlaSantri ArrahmahMedia.Com

Selasa, 12 Desember 2017

Fokus Kaderisasi IPNU-IPPNU Sumedang hingga ke Ranting

Sumedang, ArrahmahMedia.Com. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, periode ini dipadati banyak kegiatan. Yang teranyar, badan otonom NU ini menggelar kaderisasi melalui Masa Kesetiaaan Anggota (Makesta) dan pembentukan Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU se-Kecamatan Tanjungkerta, Sumedang.

Fokus Kaderisasi IPNU-IPPNU Sumedang hingga ke Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
Fokus Kaderisasi IPNU-IPPNU Sumedang hingga ke Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

Fokus Kaderisasi IPNU-IPPNU Sumedang hingga ke Ranting

Acara yang diadakan pada Sabtu-Ahad (8-9/2) ini bertempat di Desa Sukaregang dan Desa Sukawangi, Kecamatan Tanjungkerta. Makesta merupakan jenjang kaderisasi tahap awal untuk para pelajar yang ingin masuk menjadi anggota IPNU-IPPNU.

Kegiatan dilaksanakan di dua tempat dan diikuti lebih dari 150 pelajar, santri dan mahasiswa yang berada di Tanjungkerta, tepatnya di Madrasah Al-Jihad, Desa Sukaregang dan Pondok Pesantren Darul Hikmah, Desa Sukawangi. 

ArrahmahMedia.Com

Ketua Pimpinan Cabang IPNU Sumedang Salman Al-Farishi mengatakan, kegiatan ini difokuskan untuk memperbanyak kader dan memperluas jaringan IPNU-IPPNU hingga ke pelosok, khususnya di tingkat desa. 

ArrahmahMedia.Com

“Ini merupakan bukti komitmen saya dan rekan-rekan pengurus yang lain bahwa kepengurusan periode ini lebih menitikberakan dalam hal kaderisasi. Kaderisasi harga mati!” ungkap Salman.

Karena kegiatan kali ini diadakan di dua tempat, maka pengurus cabang pun dibagi menjadi dua kelompok. Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Kecamatan Tanjungkerta ikut dilibatkan dalam kegiatan ini karena bertindak sebagai tuan rumah.

Di akhir acara, pembentukan Pimpinan Ranting pun dilakukan dan tiap peserta yang mewakili desanya ditugaskan untuk membentuk kepengurusan dan segera membuat permintaan surat pengesahan kepada Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Sumedang untuk segera dilantik. (Red: Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Hikmah, Sholawat ArrahmahMedia.Com

Senin, 11 Desember 2017

Perwujudan Kalender Islam Terintegrasi melalui Hisab-Rukyat

Selama ini perhatian umat Islam tentang awal bulan kalender Islam lebih terfokus pada bulan Ramadhan, Syawal dan Zulhijah. Setiap tahun sering dikhawatirkan munculnya perbedaan dalam permulaan Ramadhan dan Idul Fitri. 

Perbedaan ini muncul sebetulnya bukan karena persoalan hisab dan rukyat semata. Tetapi ada persoalan fundamental yang tidak disadari oleh umat Islam, yaitu belum adanya ‘kalender Islam terintegrasi’. Oleh karena itu, perbedaan Lebaran akan senantiasa muncul. Sistem kalender Hijriah mengharuskan adanya kepastian (Muharram sampai Zulhijah) yang dikonstruksi dari hasil pemahaman terhadap nash dan sains dengan pendekatan interdisipliner. 

Perwujudan Kalender Islam Terintegrasi melalui Hisab-Rukyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Perwujudan Kalender Islam Terintegrasi melalui Hisab-Rukyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Perwujudan Kalender Islam Terintegrasi melalui Hisab-Rukyat

Buku ini menjelaskan mengenai penentuan awal bulan pada bulan Qamariah. Terdapat sembilan bab yang memiliki beberapa sub bab. Bab mengenai seluk beluk rukyat dan hisab. Diantaranya: hisab-rukyat menurut fukaha madzhab, ulama kontemporer dan ulama klasik. Buku ini juga membahas mengenai aspek astronomis penentuan awal bulan. Pada bab ini meliputi karakteristik hilal dan fase-fase bulan, data hisab Syawal 1428 H, kelemahan dan kelebihan dari rukyat, kelemahan dan kelebihan dari hisab. Selain itu, buku ini menjelaskan problematika hilal, meliputi terminologi hilal: hilal secara bahasa, hilal berdasarkan Al-Qur’an dan as-sunnah, hilal secara astronomi dan hilal dalam konteks negara. Hilal dalam konteks negara meliputi di berbagai negara, yaitu hilal Indonesia. Hilal di Indonesia memiliki tiga elemen, hilal NU, hilal Muhammadiyah, dan hilal pemerintah. Selain itu, dijelaskan juga hilal yang terdapat di Mesir, Arab Saudi, dan hilal di Libya. Tidak hanya sekedar menjelaskan teori, buku ini juga menjelaskan konsep dan metode hisab. 

Selain itu, terdapat bab yang membahas mengenai matlak, yaitu: definisi dari matlak, latar belakang munculnya istilah matlak, ukuran dan teritorial matlak, problem dan prospek penerapan matlak, dan matlak di Indonesia.

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com

Pembahasan dalam buku ini berkisar tentang hisab-rukyat yang merupakan persoalan klasik umat Islam di Indonesia dan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim. Pada buku ini penulis tidak menjustifikasi pilihan hisab atau rukyat, karena sejatinya keduanya ibarat dua sisi mata koin yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya tidak bertentangan selama dipahami dan diposisikan secara benar. Rukyat sebagai observasi empirik adalah proses yang telah teruji dan dipraktikkan dari zaman ke zaman dan terbukti melahirkan berbagai teori-teori sains. Sains pun mencakup hisab, dengan tata kerja dan sifatnya terus berkembang dengan temuan-temuan terkininya hingga mencapai ketepatan presisi sehingga tidak mungkin diabaikan begitu saja.

Buku ini ditulis oleh Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar. Ia adalah alumni S-1 jurusan Syariah Universitas Islam Sumatera Utara (lulus tahun 2003), alumni S-2 dan S-3 “Institute of Arab Research and Studies” Cairo, Mesir  (S-2 lulus tahun 2009-, S-3 lulus tahun 2012).   Data buku

Judul buku : Problematika Penentuan Awal Bulan: Diskursus antara Hisab dan Rukyat

Penulis : Dr. H. Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, MA. 

Penerbit : Madani

Tahun Terbit : 2014

Jumlah Halaman : 160 Hlm

ISBN : 978-602-14987-2-9

Peresensi :  Alvi Nurhayati, mahasiswa jurusan sastra Indonesia Universitas Negeri Malang

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sholawat, Habib ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 09 Desember 2017

Peradaban Hancur Bila Konflik Palestina-Israel Tidak Terselesaikan

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengatakan bila konflik Palestina-Israel tidak ada penyelasaian maka ancamannya adalah hancurnya peradaban.

“Konflik yang muncul hampir 100 tahun lebih dapat menghancurkan peradaban,” kata Gus Yahya kepada ArrahmahMedia.Com, Kamis (7/12).

Peradaban Hancur Bila Konflik Palestina-Israel Tidak Terselesaikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Peradaban Hancur Bila Konflik Palestina-Israel Tidak Terselesaikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Peradaban Hancur Bila Konflik Palestina-Israel Tidak Terselesaikan

Menurutnya bilapun terselesaikan dengan peperangan dan salah satu jadi pemenang dalam peperangan tersebut, sesungguhnya tidak ada yang menang.

“Juga tidak ada yang memang dalam pertarungan misalnya Islam dan non-Islam, ataupun Timur dan Barat,” lanjut pengasuh Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah.

ArrahmahMedia.Com

Gus Yahya mengajak warga NU mendoakan Palestina agar mendapatkan keadailan, dan konflik Israel-Palestina segera menemukan jalan keluar.

“Baik masalah Palestina maupun konflik lainnya kita harapkan akan menemukan jalan keluar,” tegas Gus Yahya. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com RMI NU, Makam, Sholawat ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com

Kamis, 07 Desember 2017

Menabung Haji dengan Jalan Kaki Sambil Baca Talbiyah

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Sebagaimana umumnya umat Islam di belahan mana pun, menggenapkan rukan Islam dengan berhaji adalah salah satu cita-cita dalam hidup. Banyak kisah dan jalan orang yang pergi haji. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dalam sebuah forum di Bandung pada tahun 1990-an, pernah menceritakan seorang ibu yang menabung? sampai 20 tahun, untuk berhaji.

Cita-cita berhaji juga menjadi bagian dari hidup Hj Masykuroh (50 tahun). Sebagaimana diceritakan suaminya, Ketua PBNU KH Abdul Manan A Ghani, Hj Masykuroh mulai menabung pada tahun 1999.

Menabung Haji dengan Jalan Kaki Sambil Baca Talbiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menabung Haji dengan Jalan Kaki Sambil Baca Talbiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menabung Haji dengan Jalan Kaki Sambil Baca Talbiyah

“Saya pernah berhaji, tapi istri saya belum, waktu itu,” kata Kiai Manan Kamis (8/9).

ArrahmahMedia.Com

Karena tidak cukup uang kontan, Kiai Manan menganjurkan untuk menabung. Istrinya pun melakukan itu.

Kiai Manan menganjurkan untuk menabung di sebuah bank. Jaraknya sekitar 1 km. Ia menganjurkan tiap kali menabung harus ditempuh dengan jalan kaki. Istrinya mengikuti saran tersebut.

ArrahmahMedia.Com

“Dan saya menganjurkan sambil jalan kaki membaca kalimat talbiyah,” katanya.

Bacaan talbiyah tersebut adalah, “Labbaikallaahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbarika, innal hamda wan-ni’mata laka wal-mulka laa syariika laka”.



Artinya: “Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memuhi panggilan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu, aku dating memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.”

Menurut Kiai Manan, kalimat tersebut dibacakan sejak berangkat dari rumah, di perjalanan, antre di bank, sampai kembali lagi ke rumah. Hal itu terus dilakukan istrinya. Nominal menabungnya tidak tentu, sesuai uang tersedia.

Alhamdulillah pada tahun 2002, Masykuroh akhirnya bisa berhaji. Tadinya dia menduga uang itu hanya cukup untuk sendirian. Tapi ternyata lebih dari cukup.

Menurut pengakuan Kiai Manan, tabungan istrinya itu ternyata cukup untuk berdua. Padahal ia sudah merelakan istrinya pergi sendirian. “Karena istri saya tidak mau sendirian, akhirnya berangkat berdua sehingga saya kembali berhaji,” kenangnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sholawat, Lomba ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock