Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Februari 2018

Shalawatan Bisa Jadi Gerakan Sosial

Solo, ArrahmahMedia.Com. Membincang tentang shalawat, pada umumnya tak lepas dari topik shalawat sebagai sebuah ibadah sekaligus wujud kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW. Namun, pernahkah kita membayangkan majelis shalawat yang ada di lingkungan kita menjadi sebuah gerakan sosial?

Shalawatan Bisa Jadi Gerakan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalawatan Bisa Jadi Gerakan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalawatan Bisa Jadi Gerakan Sosial

Hal ini pernah menjadi bahan diskusi sejumlah elemen pemuda di Solo, Jawa Tengah. Salah satu pembahasan dalam diskusi tersebut, mengkaji tentang bagaimana potensi majelis-majelis shalawat yang kini tengah menjamur di masyarakat.

Di wilayah Soloraya misalnya, kehadiran Habib Syech menjadi magnet bagi para jamaah untuk bergabung mengumandangkan shalawat. Dari waktu ke waktu, jumlah jamaah semakin meningkat. Dalam perkembangannya, lahir juga komunitas-komunitas shalawat baru di berbagai daerah. Umumnya mereka adalah masyarakat pinggiran dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah.

ArrahmahMedia.Com

Aktivis muda NU Solo, M Dalhar, menilai hal tersebut merupakan sebuah fenomena menarik. Fenomena Syecher, sebutan pecinta Habib Syech, merupakan potensi besar yang dimiliki Kota Solo.?

“Modal yang besar ini merupakan kesempatan bagi pemuda untuk menjadikan jamaah tidak sekadar menjadikan shalawat sebagai kegiatan ‘pelarian’ dari kesibukan kota, tetapi menjadi sebuah forum produktif,” terang Sekretaris Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Kota Surakarta itu, belum lama ini.

ArrahmahMedia.Com

Menurutnya, selain dibacakan pujian dan sejarah Rasulullah Saw, dalam kegiatan shalawatan dapat juga disampaikan permasalahan publik yang terjadi di sekitar. Selain itu, jamaah yang ada juga menjadi sebuah potensi untuk melakukan gerakan sosial dan pemberdayaan ekonomi.

Senada dengan Dalhar, Ketua Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Sukoharjo, Fitria Ayu, menambahkan kegiatan shalawatan selain menjadi ruang pengkaderan juga dapat dibuat sebagai sebuah gerakan sosial.

“Jadi secara kasarnya, shalawatan tidak hanya sekadar ibadah, tapi juga memiliki nilai sosial,” ujarnya kepada ArrahmahMedia.Com, Ahad (10/11) .

Fitria menjelaskan, saat ini majelis shalawat seperti Ahbabul Musthofa, Jamuro, dan sebagainya layak untuk dibentuk sebagai sebuah gerakan sosial. “Paling tidak majelis shalawatan yang sudah ada ini memiliki dua syarat untuk menjadi sebuah gerakan sosial. Yaitu figur dan massa,” pungkasnya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Doa ArrahmahMedia.Com

Seniman Tegal Gelar Tahlil Budaya

Tegal, ArrahmahMedia.Com. Sebagai penghormatan kepada tokoh budayawan ulung KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur para seniman Tegal menggelar Tahlil Budaya. Selain pembacaan Tahlil, para seniman juga mementaskan puisi, monolog, pentas musik dan dialog budaya.



Seniman Tegal Gelar Tahlil Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Seniman Tegal Gelar Tahlil Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Seniman Tegal Gelar Tahlil Budaya

“Kami punya kepentingan memperingati beliau sebagai seorang budayawan ulung,” tutur Ketua Dewan Kesenian Kota Tegal (DKT) Nur Ngudiyono dalam prakata sambutannya pada Tahlil Budaya Seniman Tegal di alun-alun Tegal Jumat (12/2) malam.

Menurut dia, Gus Dur semasa hidupnya telah membuktikan diri sebagai budayawan, seniman, sastrawan bahkan pelawak yang menggelitik. Ngudiyono bercerita, ketika jadi presiden, Gus Dur berkumpul dengan para pelawak, saat itu juga para pelawak terbahak-bahak mendengar penuturan gaya ‘guyonan’ Gus Dur. “Kalau pelawak saja bisa tertawa, apalagi kita yang bisanya cuma nonton pelawak,” ucapnya.

ArrahmahMedia.Com

Tahlil dipimpin Mutasyar PCNU Kota Tegal KH Abu Chaer Annur. Sementara pembacaan monolog oleh Penyair Asli Tegal Eko Tunas yang kini menetap di Semarang. Sedangkan pembacaan puisi oleh Dwi Eri Susanto dan Nana Eres.

Dwi Eri membaca puisi godong kembang plastik. Yang menceritakan persoalan pengekangan plurarisme. Betapa sulitnya membangun kebersamaan akibat banyaknya pengkotak-kotakan. Nana Eres lain lagi, dia bercerita tentang feminisme. Yang menceritakan betapa beratnya perjuangan menegakkan feminisme. Dan Nana pun meluapkan kegelisahannya dengan Kutulis Puisi di Pasirmu.

ArrahmahMedia.Com

Sedang Eko Tunas, memandang Gus Dur sebagai pelayan. Gus Dur menjadi pelayan publik bagi siapa saja. “Gus Dur bersahabat dengan siapa saja,” kata Eko.

Kebudayaan itu, lanjutnya, telah membangun panggung. Ekonomi adalah operanya dan Gus sebagai wali dalam kontek budaya. Eko mengingatkan, berkesenian jangan hanya sekadar jadi alat. Karena bila jadi alat, yang terjadi adalah ketika orde lama kesenian jadi alat politik, pada orde baru jadi alat ekonomi dan pada era reformasi malah jadi alat korupsi. “Jadikanlah puisi sebagai bintang kata-kata, tuk menegakan kebenaran,” tandas Eko dalam monolognya yang menggelitik.

Dalam dialog Budaya, tampil mantan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) era Presiden Gus Dur Bondan Gunawan, Ketua Majelis Agama Khonghucu Indonesia (Makin) Kota Tegal Gyong gyong dan Wali Kota Tegal H Ikmal Jaya. Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) yang dijadwalkan mengisi acara berhalangan hadir karena istrinya mengalami pendarahan.

Gyong gyong diberi kesempatan pertama oleh moderator Firdaus Muhtadi untuk menjadi kesaksian keagungan Gus Dur. Gyong gyong merasa diewongke oleh Gus Dur ketika meminta Gus Dur tanda tangan pada Grup Barongsainya. Setahun kemudian, Barongsai milik Gyong gyong menjadi juara nasional dua kali berturut-turut. “Pulpen Gus Dur, ternyata jimat juga,” seloroh Gyong gyong yang disambut dengan gerr.

Keberpihakan Gus Dur pada warga keturunan Tionghoa sangat menjadi momentum dengan penjabutan inpres nomor 14 tahun 1957. “Gus Dur berani membawa badannya untuk menjadi tameng pada hal-hal minoritas,” tandasnya.

Ikmal Jaya, yang saat itu masih menjadi Direktur PO Dewi Sri mengaku rela hati bolak-balik ke RSCM untuk sekadar mendorong kursi Roda Gus Dur. Dalam kesempatan tersebut dia senang berbincang tentang kepemimpinan. “Termasuk, untuk menjadi Wali Kota Tegal, saya meminta restu Gus Dur,” ungkapnya.

Yang menggelitik bagi Ikmal, ternyata dia dipertemukan dengan Gus Dur dalam mimpinya juga. Dalam mimpi tersebut, Ikmal disuruh ikut NU. “Gus, saya lagi nyalon Walikota Tegal bagaimana ini?” tanyanya dalam mimpi.

“Kamu harus NU,” kata Gus Dur dalam nasehat mimpinya.

Sehingga mulai saat itu, Ikmal berikrar menjadi NU. Kini, Ikmal tercatat juga sebagai Bendahara MWC NU Margadana Kota Tegal.

Dalam suatu kesempatan, lanjut Ikmal, juga mendapat nasehat Gus Dur yang hingga kini diingat dan dilaksanakan sebagai pemimpin. Gus Dur berkata ‘Le, dadio wong sing wani tur nekad lan iso ngedan. Artinya, dalam menjalankan kepemimpinan harus menjadi seorang yang berani karena benar, bertekad membaja, merealisasikan program dengan penuh kegigihan, kendati orang lain melihat kita sebagai orang gula. “Termasuk mencapai 2010 sebagai daerah yang sehat baik jasmani maupun rohani,” tandasnya.

Bondan Gunawan merasa senang bisa menghadiri undangan DKT untuk Tahlil Budaya. termasuk penataan panggung yang merakyat. “Yang namanya rakyat beneran ya… disini. Kalau digedung-gedung megah, itu rakyat-rakyatan yang hanya membicarakan rakyat,” ucapnya mengawali dialog.

Sebagai Mensesneg, dia sangat tidak mengerti alur pemikiran Gus Dur. Pasalnya, Gus Dur tidak pernah menjelaskan ucapan maupun tindakannya. “Ketika situasi dalam negeri saat itu carut marut, Gus Dur malah keliling dunia,” ceritanya.

Gus Dur saat itu, tidak menjelaskan apapun maksud perjalanannya keluar negeri. Gus Dur hanya berucap. “Siapa bilang saya mau jalan-jalan. Melihat saja gak!,” ucap Gus Dur sebagaimana diceritakan Bondan.

Setelah dipikir lebih jauh, ternyata perjalanannya membawa makna yang dalam. Ternyata Gus Dur sedang memasang strategi perang. “Gus Dur mau menunjukkan kalau situasi dalam negeri Indonesia aman dan terkendali. Wong pemimpinnya saja jalan-jalan, otomatis negaranya dalam keadaan damai,” ucap Bondan disambut gerr.

Bondan mengaku bekerja sama dengan Gus Dur lebih dari 30 tahun. Sehingga tahu sedikit tentang karakter Gus Dur kendati sulit dipahaminya. Dia mengungkapkan kalau Gus Dur lebih senang membangun lingkungan yang beraneka ragam. “Lingkungan yang beraneka ragam maka akan kuat, makanya Gus Dur terus memperjuangkan demokrasi, pluralisme,” terang Bondan.

Pembinaan tersebut, dengan jalan pendekatan kemanusiaan. Sehingga tidak ada satupun yang merasa dianaktirinkan.

Meskipun di era sekarang amat sulit untuk politik pendekantan kemanusiaan. Karena sekarang telah berkembang Plutokrasi. Yakni politik yang mengabdi karena uang. “Sangat langka politik yang mengabdi pada umat,” terangnya.

Bondan mengagumi Gus Dur karena kehebatannya yang tidak pernah marah. “Meludah didepannya saja, tidak marah,” cerita Bondan.

Kehebatan lainnya, sampai detikdetik terakhir Gus Dur Mikirin Negara. Kehebatan lainnya. Lainnya Gus Dir tidak melarang seseorang untuk berbuat apapun. “Bahkan Gus Dur rela ditabrak oleh tanaman yang ia tanam sendiri.

Termasuk perseteruan dengan Mohamin Iskandar, Gusdur menggelindingkan persoalan tersebut dengan sangat manis. Gus Dur hanya mengingatkan, “Jangan hanya tergantung pada pemimpin format. “Tapi kalau kepatusan pada ulama, mutlak hukumnya untuk dititahkan (diindahkan) (was.)Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Doa, Kajian ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 27 Januari 2018

LAZISNU Korsel Bantu Madrasah Diniyah di Boyolali

Boyolali, ArrahmahMedia.Com 

Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Korea Selatan melalui perwakilannya di Indonesia memberikan bantuan kepada Madrasah Diniyah yang berada di bawah naungan Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Salafiyah Assyafi’iyah (LP3SA) di Desa Karangpakel, Sumberagung Klego, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (25/3).

LAZISNU Korsel Bantu Madrasah Diniyah di Boyolali (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Korsel Bantu Madrasah Diniyah di Boyolali (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Korsel Bantu Madrasah Diniyah di Boyolali

“Bantuan itu diperuntukan untuk honor para asatidz yang berjumlah 20 orang di ponpes tersebut, yang tiap bulan hanya mendapatkan honor dibawah 100 ribu. Kondisi yang sangat memprihatinkan bagi dunia pendidikan agama,” ujar ‘Awan PCINU Korsel H Imam Sibaweh melalui rilis yang diterima ArrahmahMedia.Com.

Madrasah Diniyah yang mempunyai 200-an santri ini, lanjutnya, merupakan aset Desa Karangpakel yang kurang mendapat perhatian dari pemda dan masyarakat setempat. Diharapkan dengan adanya jalinan kerjasama dengan PCINU Korsel bisa menjadi donatur tetap untuk mengurus manajemen lembaga pendidikan ponpes tersebut.

ArrahmahMedia.Com

Bantuan diserahkan langsung oleh Ustadz Sukirno yang merupakan Rais Syuriah PCINU Korsel kepada Ketua LP3SA Muhammad Agus Luqman SPdI.

ArrahmahMedia.Com

Dalam Sambutannya, Ketua LP3SA mengucapkan terima kasih kepada LAZISNU Korsel yang telah menjadi donatur untuk membiayai para asatidz. “Kami berharap kerja sama dengan LAZISNU Korsel bisa berkelanjutan,” harapnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pahlawan, Doa, IMNU ArrahmahMedia.Com

Minggu, 14 Januari 2018

Matikan TV Usai Maghrib, Isi Ngaji bersama Keluarga!

Banyuwangi, ArrahmahMedia.Com

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwanyi KH Maskur Ali menyoroti fenomena kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini. Menurutnya, saat ini peran pendidikan dan keluarga untuk kelangsungan anak-anak sangat penting.

Matikan TV Usai Maghrib, Isi Ngaji bersama Keluarga! (Sumber Gambar : Nu Online)
Matikan TV Usai Maghrib, Isi Ngaji bersama Keluarga! (Sumber Gambar : Nu Online)

Matikan TV Usai Maghrib, Isi Ngaji bersama Keluarga!

Dalam beberapa bulan terakhir, angka kejahatan yang dilakukan dan melibatkan anak-anak sangat tinggi. Beberapa kasus seperti asusila di Surabaya, kata Maskur, karena dipicu renggangnya komunikasi anak dan orang tua. Untuk itu, dia berharap keluarga bisa mengambil peran di sini.

“Matikan TV usai maghrib sampai isya, isi pengajian bersama keluarga,” pinta pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Sina, Genteng itu di hadapan ribuan warga NU Banyuwangi pada puncak peringatan hari lahir NU ke -93 yang digelar PCNU Banyuwangi di Banyuwangi, akhir pekan kemarin (29/5).

ArrahmahMedia.Com

Masykur juga mengajak pengurus Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) se-Banyuwangi untuk turut serta mengdokumentasikan aset-aset NU agar tidak disalahfungsikan oleh oknum-oknum tertentu.

ArrahmahMedia.Com

“NU Banyuwangi masuk 10 besar NU Award, dan insyallah akan masuk seleksi 5 besar. Salah satu hal yang masih kurang dari NU Banyuwangi adalah pada bidang aset. NU kurang mendokumentasikan aset-asetnya. Lewat LWPNU (Lembaga Waqaf dan Pertanahan NU), silakan masjid-masjid disertifikasi atas nama lembaga NU,” ajaknya.

Peringatan harlah ke-93 NU berlangsung di Pondok Pesantren Tahfidzul Quran? Al Mubarok? asuhan H. Ahmad Hidayat yang? berlokasi di Jalan Nuri, Sawahan, Kampung Rambutan, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng. Acara kali ini mengambil tema “Menyebarkan Islam yang Damai dan Toleran”.? (Anang Lukman Afandi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sholawat, Doa ArrahmahMedia.Com

Minggu, 07 Januari 2018

Bulan Syaban, Perbanyak Baca Shalawat

Purworejo, ArrahmahMedia.Com. Barangsiapa yang ingin ditinggakan derajatnya, hendaknya memperbanyak membaca shalawat. Demikian pesan yang disampaikan KH Achmad Chalwani dalam acara "An-Nawawi Bershalawat" di komplek PP An-Nawawi Berjan, Purworejo, Ahad (13/5) malam.

Dalam kitab Madza Fi Syaban, kata Kiai Chalwani, disebutkan bahwa bulan Syaban adalah bulan shalawat. "Hal ini karena ayat Al-Quran yang berkaitan dengan shalawat diturunkan oleh Allah pada bulan Syaban, yaitu: innallaha wamalaikatahu yushalluna alan nabi ya ayyuhalladzina amanu shallu alahi wasallimu tasliema," terangnya.

"Ketika Allah perintah kita shalat, Allah sendiri tidak shalat. Ketika Allah perintah zakat, Allah tidak zakat, karena zakat untuk menyucikan, sedangkan Allah dzat yang paling suci. Ketika Allah perintah puasa, Allah tidak puasa, karena puasa itu benteng, sedangkan Allah lah benteng atau pelingdung itu sendiri. Ketika Allah perintah haji sowan baitullah, Allah tidak haji karena Allah lahtuan rumah. Akan tetapi ketika Allah perintah kita bershalawat, sebelum malaikat dan manusia bershalwatat, Allah sudah bershalwat, memberikan rahmat tadzim kepada Nabi Muhammad saw," terangnya di tengah ribuan hadirin.

Bulan Syaban, Perbanyak Baca Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bulan Syaban, Perbanyak Baca Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bulan Syaban, Perbanyak Baca Shalawat

Bahkan dalam berfirman terkait shalawat ini, lanjut Kiai Chalwani, Allah menggunakan "inna" dan dengan fiil mudzari, yushalluna. Dalam ilmu gramatika Arab, kata inna digunakan ketika orang belum percaya atau masih ragu. Ini artinya shalawat bukan hanya diwajibkan, tetapi sangat diwajibkan. Sedangkan fiil mudlari berupa yushalluna, berarti Allah senantiasa bershalawat, tak pernah berhenti bershalawat, hari ini, esok dan seterusnya.

"Adapun shalawat yang paling tua adalah Shalallah ala Muhammad. Maka, shalawat ini merupakan ummu shalawat, induk dari shalawat," terangnya.

Lebih lanjut mantan DPD RI Jateng ini menerangkan, ketika Nabi Adam hendak menikah dengan Hawa. "Allah meciptakan Hawa kemudian langsung memakaikan pakaian terturup, memakai jilbab. Meski Hawa telah memakai jilbab, Nabi Adam tetap mengamati. Mohon maaf untuk para ibu, ini memang naluri lelaki, meski sudah tertutup, lelaki tetap mengamati," terangnya, disambut riuh hadirin.

ArrahmahMedia.Com

Kemudian, lanjut Kiai Chalwani, Adam ingin memegang tangan Hawa dan ditegur oleh Allah, "Belum boleh memegang sebelum menikah. Kemudian Adam konsultasi kepada penasehat hukumnya, malaikat Jibril. Jibril melamarkan dan diterima Hawa dengan syarat, yaitu membaca shalawat kepada Nabi Muhammad. Nabi Adam belum bisa membaca shalawat, kemudian Jibril bilang: qul shalallah ala Muhammad. Menikahlan Nabi Adam dengan dewi Hawa dengan "mas kawin" shalawat."

Acara An-Nawawi Bershalawat merupakan salah satu rangkaian Akhirussanah Pondok Pesantren An-Nawawi. Disela-sela bershalawat, Kiai Chalwani menyisipkan ceramah dengan berbagai tema. Tampak hadir beberapa tokoh ulama dan dewan asatidz pesantren tersebut. (Ahmad Naufa/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Kajian Islam, Doa, Aswaja ArrahmahMedia.Com

Jumat, 05 Januari 2018

22 Becak Kiai, 10 Bendera, 2015 Penabuh Rebana di Pacitan

Pacitan, ArrahmahMedia.Com. Peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober diperingati secara serentak dan meriah di seluruh penjuru Tanah Air. Di Pacitan, Jawa Timur, ribuan santri mengikuti Kirab Hari Santri Nasional di Komplek Masjid Agung Darul Falah dan Pendopo Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Kamis (22/10) siang.

22 Becak Kiai, 10 Bendera, 2015 Penabuh Rebana di Pacitan (Sumber Gambar : Nu Online)
22 Becak Kiai, 10 Bendera, 2015 Penabuh Rebana di Pacitan (Sumber Gambar : Nu Online)

22 Becak Kiai, 10 Bendera, 2015 Penabuh Rebana di Pacitan

Ribuan santri dari? seluruh? pesantren dan Madrasah Diniyah Takmiliyah se-Kabupaten Pacitan turut berpartisipasi dalam kirab ini. Sebanyak 22 Becak Kiai, 10 Bendera merah putih dan 2015 Penabuh Rebana mengiringi ribuan peserta kirab. “Angka tersebut digunakan untuk melambangkan tanggal diresmikanya Hari Santri Nasional yaitu tanggal 22 Oktober 2015,” kata Ketua Panitia Kirab Gus Mu’ad Harits Dimyathi kepada ArrahmahMedia.Com.

Rangkaian kirab digelar khidmah dan sangat meriah, diawali dengan melaksanakan shalat dhuhur secara berjamaah di Masjid Agung Darul Falah Pacitan. Lalu pembacaan kalimah toyyibah tahlil yang dipimpin oleh KH Abdullah Sadjad, dan diteruskan dengan pembacaan Nadham Asmaul Husna oleh ribuan santri. Selanjutnya acara “Doa Bersama” ditutup dengan pembacaan doa oleh KH Burhanudin HB.

ArrahmahMedia.Com

Pukul 13.00 WIB bertempat depan gerbang masjid Agung, Kirab secara resmi diberangkatkan oleh Kapolres Pacitan didampingi pengasuh Pondok Tremas KH Hammad Al Alim Harist dan Ketua Panitia Kirab Gus Mu’ad Harits Dimyathi. Ribuan Santri dengan tertib dan penuh semangat melakukan long march menempuh jarak 2 kilometer mengelilingi kota Pacitan.

ArrahmahMedia.Com

Pemberangkatan rombongan kirab diawali oleh pasukan Paskibra Pondok Tremas yang membawa 10 Bendera Merah Putih diikuti Barisan Banser, Disusul dengan barisan marching band dari Pesantren Al Fattah Kikil, Selanjutnya 22 unit Becak yang membawa para kiai dan seterusnya barisan ribuan santri dari 12 Kecamatan di Pacitan.

Aksi Sosial Bagi-bagi Tanaman

Bersamaan dengan itu, aksi sosial dilakukan oleh ribuan peserta kirab. Sambil berjalan mereka membagikan 22 bibit pohon jati, 10 bibit pohon cengkeh dan 2015 bibit pohon sengon kepada masyarakat yang menyaksikan jalanya kirab. Lagi-lagi angka tersebut sebagai kebanggan para santri atas diresmikanya hari santri Nasional tangal 22 Oktober 2015.

Kirab diakhiri dengan kegiatan apel santri di halaman Pendopo Kabupaten Pacitan sekaligus dilakukan peresmian Hari Santri Nasional oleh Pemerintah Daerah dalam hal ini dilakukan oleh Sekretaris Daerah ( Sekda) Kabupaten Pacitan Suko Wiyono.

Apel Peresmian Hari Santri Nasional diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia raya, dilanjutkan pembacaan Ikrar Santri oleh ketua panitia Kirab Gus Mu’ad Harits Dimyathi. Kemudian secara simbolis Sekda Suko Wiyono didampingi para kiai menekan tombol sirine dan penerbangan balon udara sebagai tanda diresmikanya Hari Santri Nasional 22 Oktober 2015.

Tampak hadir peresmian Hari santri nasional di Pendopo Kabupaten Pacitan, Para kiai seperti Pengasuh Pondok Tremas KH? Hammad Al Alim Harits, KH Mu’ad Harits, Pengasuh Pesantren Al Fattah KH Burhanudin HB, KH Umar Syahid Mustasyar PCNU, KH Mahmud Ketua Tanfdziah PCNU, Kapolres Pacitan, Ketua DPRD Roni Wahyono dan? puluhan kiai pengasuh pesantren. Kirab Peringatan hari santri nasional terselenggara atas kerjasama RMI NU, Forum Komunikasi Pesantren Pacitan dan Pemerintah Kabupaten Pacitan. (Zaenal Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Lomba, Doa, Sholawat ArrahmahMedia.Com

Minggu, 31 Desember 2017

Konsep Masjid Ramah Anak dalam Islam

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Pengasuh rubrik Bahtsul Masail ArrahmahMedia.Com yang baik, saya punya anak kecil usia dua tahun. Ia sering ikut ke masjid. Terkadang ia berlari-lari di depan orang yang sedang shalat. Pertanyaan saya, apa hukumnya membawa anak kecil ke masjid? Terima kasih atas penjelasannya. Assalamu alaikum. wr. wb. (Viali).

Jawaban

Konsep Masjid Ramah Anak dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Konsep Masjid Ramah Anak dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Konsep Masjid Ramah Anak dalam Islam

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya kepada kita semua. Pendidikan anak melalui keteladanan memang baiknya dibangun sejak dini. Aktivitas ibadah orang tua memang baiknya dilihat agar ditiru anak sejak dini. Terlebih lagi mendekatkan anak-anak ke masjid akan menjadi memori yang patut ditanamkan sedini mungkin.

ArrahmahMedia.Com

Hanya saja para ulama memberikan rambu-rambu yang perlu diperhatikan orang tua. Pertimbangan ini dimaksudkan agar masjid sebagai tempat ibadah tidak terkurangi nilainya. Berikut ini kami kutipkan keterangan Syekh Abu Zakariya Al-Anshari.

ArrahmahMedia.Com

? : ? ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(Anak-anak dilarang...) Walid An-Nasyiri mengeluarkan fatwa bahwa pengajaran anak-anak di masjid adalah hal yang baik. Anak-anak bebas memasuki masjid sejak era Rasulullah SAW hidup hingga kini tanpa dipermasalahkan. Pendapat yang menyatakan makruh atas masuknya anak-anak ke dalam masjid tidak berlaku secara mutlak. Kemakruhan ini berlaku hanya untuk anak-anak yang belum mumayyiz yang belum terbebani ibadah dan hajat terhadapnya. Tetapi pahala pengajaran anak-anak melebihi pengurangan pahala karena hukum makruh anak-anak memasuki masjid,” (Syekh Zakariya Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarhu Raudhatit Thalib, Juz 3, halaman 108).

Keterangan di atas membagi anak kecil mejadi dua kategori. Pertama, mumayyiz (anak yang sudah membedakan baik dan buruk, serta telah mengerti bahasa atau aturan). Kedua belum mumayyiz, anak yang belum bisa menimbang baik dan buruk (biasanya anak di bawah usia lima tahun).

Hukum makruh hanya jatuh pada anak kecil yang belum mumayyiz karena dikhawatirkan mencemari masjid lantaran belum mengerti, khawatir mereka membuang kotoran tanpa diduga. Namun hal ini bisa diantisipasi dengan pembalut anak (pampers) yang rapat. Di samping itu anak-anak yang belum mumayyiz belum bisa menerima peringatan untuk tenang agar tidak mengganggu aktivitas shalat pengunjung lainnya. Ini yang repot. Karenanya ulama menyatakan makruh.

Baiknya memang ada ruangan masjid khusus orang tua yang membawa anak di bawah umur dengan jaminan pembalut yang rapat. Menciptakan “masjid ramah anak” memang membutuhkan kesiapan manajemen, tata ruang, dan kesadaran tinggi seluruh jamaah. Padahal anak di bawah umur juga memiliki hak guna terhadap masjid.

Saran kami, berilah keteladanan shalat untuk anak-anak di rumah atau di masjid bagian belakang agar si anak juga tidak mengganggu jamaah lainnya. Orang tua harus menjamin kesucian masjid dengan memberikan pengamanan anak-anak lewat pembalut yang rapat.

Demikian yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb.

(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com IMNU, Doa, Pahlawan ArrahmahMedia.Com

Minggu, 24 Desember 2017

LTN NU Lampung Tunggu Naskah Lomba Artikel hingga 16 Oktober

Bandar Lampung, ArrahmahMedia.Com - Pengiriman naskah? lomba artikel hari santri nasional yang digelar oleh Lembaga Talif wan Nasyr (LTN) NU Lampung masih ditunggu hingga 16 Oktober mendatang. Pengumuman pemenang akan dilansir pada website PWNU Lampung, bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2016.

"Kami masih menunggu artikel yang dikirimkan oleh peserta lomba. Sudah banyak yang konfirmasi, di antaranya menanyakan batas akhir pengiriman naskah," kata Rudi Santoso, salah seorang panitia lomba artikel LTN NU Lampung.

LTN NU Lampung Tunggu Naskah Lomba Artikel hingga 16 Oktober (Sumber Gambar : Nu Online)
LTN NU Lampung Tunggu Naskah Lomba Artikel hingga 16 Oktober (Sumber Gambar : Nu Online)

LTN NU Lampung Tunggu Naskah Lomba Artikel hingga 16 Oktober

Rudi menjelaskan, naskah dikirim cukup melalui email ke alamat email lombaartikelsantri@gmail.com. Peserta bisa memilih tiga subtema yang telah ditetapkan panitia, yaitu Peran Santri Dalam Membumikan Islam di Nusantara Dulu dan Sekarang, Pondok Pesantren Sebagai? Kancah Pengembangan Pendidikan, dan Santri Dalam Politik dan Pembangunan di Indonesia.

ArrahmahMedia.Com

Akademisi IAIN Raden Intan Lampung ini memaparkan, lomba ini terbagi menjadi dua kategori. Pertama, kategori mahasiswa, santri, dan pelajar dengan hadiah berupa uang Rp 1 juta rupiah, paket buku, dan sertifikat untuk juara pertama. Sementara untuk juara kedua dan ketiga akan mendapat uang senilai Rp 750 ribu dan Rp 500 ribu, berikut paket buku dan sertifikat.

ArrahmahMedia.Com

Kategori kedua, untuk umum seperti akademisi, jurnalis, dan sebagainya. Adapun hadiah uang senilai Rp 1,5 juta untuk juara pertama, Rp 1 juta untuk juara kedua, dan Rp 500 ribu untuk juara ketiga.

Sama seperti kategori pertama, untuk kategori umum ini juga akan mendapat paket buku dan sertifikat. "Naskah para pemenang masing-masing kategori, dan naskah 10 besar, akan kami terbitkan menjadi buku," kata Rudi.

Ketentuan lomba, tulisan harus orisinil dan belum pernah dipublikasikan, naskah minimal 1500 kata untuk mahasiswa/santri/pelajar/ dan minimal 3000 kata untuk umum. Peserta melampirkan riwayat hidup dan fotokopi KTP. Khusus mahasiswa/santri/pelajar/melampirkan identitas diri berupa kartu tanda mahasiswa/kartu tanda pelajar/santri, surat keterangan dari pesantren.

Dewan juri untuk lomba ini adalah Ketua MUI Lampung Dr KH Khairuddin Tahmid, Dosen FH Universitas Lampung? Dr Rudi, dan Ila Fadilasari. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Doa, Humor Islam, Jadwal Kajian ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 18 November 2017

Aksi Teror Hancurkan Reputasi Umat Beragama

Sumenep, ArrahmahMedia.Com - Di sela kesibukan melayani wali santri yang sowan dalam rangka Harlah Ke-75 Pondok Pesantren At-Taufiqiyah Aengbajaraja Bluto Sumenep, KH Imam Hasyim menyempatkan waktunya untuk memberikan pesan penting kepada umat Islam saat ini, khususnya warga NU agar tidak terpengaruh dengan perkembangan pemikiran yang tidak moderat yang kini semakin pesat.

"Kita sebagai umat Islam jangan sampai terkooptasi oleh pemikiran yang liberal. Karena, satu-satunya pemikiran yang moderat itu adalah Nahdlatul Ulama. Karena, NU selalu berpegang teguh pada Surat Ali Imran ayat 159 yang artinya, ‘Dengan sebab rahmat dari Allah, engkau (Muhammad SAW) menjadi lembut terhadap mereka. kalau engkau bengis dan keras hati, niscaya mereka lari dari sekitarmu.’”

Aksi Teror Hancurkan Reputasi Umat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)
Aksi Teror Hancurkan Reputasi Umat Beragama (Sumber Gambar : Nu Online)

Aksi Teror Hancurkan Reputasi Umat Beragama

Menurutnya, NU itu sejuk, tidak menampakkan kekerasan. Sebagaimana yang menjadi pegangan warga Nahdliyyin Tawasut, Tatsamuh. Itu semua semata-mata yang menjadi pegangan NU ala thariqati Ahlussunnah wal Jamaah.

Ia menolak keras aliran-aliran yang selalu menonjolkan kekerasan yang saat ini marak terjadi, bahkan sangat merugikan keberagaman Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

ArrahmahMedia.Com

"Saya sangat tidak setuju dengan adanya kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini. Kita justru harus keras melawan mereka yang saat ini gencar menyusup kepada generasi-generasi bangsa ini. Mereka bahkan tidak pernah menggunakan cara yang halus, dan target mereka adalah menghancurkan reputasi umat Islam," jelasnya. (Fauzi E/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Doa ArrahmahMedia.Com

Pelajar NU Harus Jadi Pelopor Organisatoris

Sidoarjo, ArrahmahMedia.Com. Sebanyak 30 mahasiswa Universitas Sunan Giri (Unsuri) di Waru Sidoarjo mengikuti Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) selama tiga hari mulai dari Jumat-Ahad (30 Oktober-1 November) 2015. Melalui kaderisasi awal ini, mereka diharapkan dapat menggerakkan organisasi pelajar NU di kampus setempat.

Pelajar NU Harus Jadi Pelopor Organisatoris (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Harus Jadi Pelopor Organisatoris (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Harus Jadi Pelopor Organisatoris

Ketua PKPT IPNU Unsuri Nur Muhammad Iskandar mengatakan, selama Makesta para peserta mendapatkan materi seputar analisa diri, ke-IPNU-IPPNUan, ASWAJA, ke-NUan, keorganisasian, kepemimpinan, dan komunikasi.

"Makesta merupakan pengkaderan pertama untuk merekrut anggota IPNU-IPPNU baru yang berintelektual tinggi. Dengan Makesta ini, para anggota baru diharapkan mampu meneruskan perjuangan para pengurus seperti pada masa sebelumnya," kata Iskandar, Ahad (1/11).

ArrahmahMedia.Com

Iskandar menjelaskan, saat ini banyak mahasiswa organisatoris yang melupakan kewajibannya sebagai mahasiswa yang sesungguhnya. Maka, dalam kesempatan itu diambil tema "Mengukuhkan jiwa sosial dan akademis generasi Nahdliyin".

ArrahmahMedia.Com

"Melalui tema itu, semoga IPNU-IPPNU Unsuri mampu menjadi pelopor mahasiswa yang organisatoris dan akademis di kampus Unsuri," tukas Iskandar. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Humor Islam, IMNU, Doa ArrahmahMedia.Com

Selasa, 14 November 2017

KPID Jatim Ajak LTN NU Awasi Mutu Siaran

Surabaya, ArrahmahMedia.Com

Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur secara khusus mengajak Pengurus Wilayah Lembaga Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama atau PW LTNNU untuk mengawasi mutu siaran televis dan radio. Hal tersebut penting untuk meningkatkan mutu siaran dan sebagai kontrol masyarakat.

KPID Jatim Ajak LTN NU Awasi Mutu Siaran (Sumber Gambar : Nu Online)
KPID Jatim Ajak LTN NU Awasi Mutu Siaran (Sumber Gambar : Nu Online)

KPID Jatim Ajak LTN NU Awasi Mutu Siaran

"LTN punya tugas untuk turut mengawasi sejumlah siaran yang ditayangkan media radio serta televisi," kata Komisioner KPID Jatim, Mohammad Dawud, Ahad (18/1). Apalagi pada saat yang bersamaan mulai digalakkan pencegahan situs dan organiasasi yang menyecarkan teror.

Dalam pandangan Mohammad Dawud, KPID sendiri sangat terbuka atas keluhan masyarakat yang melakukan protes bila ditemukan muatan yang menyebarkan kebencian, tidak menghargai perbedaan dan ajakan tidak pantas lainnya.

"Apalagi LTN memiliki jaringan komunikasi dengan kepengurusan serupa di tingkat kota dan kabupaten di Jawa Timur. Cukup sediakan kader dan waktu untuk bisa memantau siaran di berbagai daerah,” kata Sekretaris PW ISNU Jatim ini

M Dawud kemudian memberikan masukan bahwa cara yang bisa dilakukan bila ternyata menemukan siaran yang tidak pantas, maka cukup melayangkan surat ke KPID Jatim dengan menyertakan waktu dan tanggal serta dimana menangkap siaran yang meresahkan tersebut. "Selanjutnya kami dari KPID yang akan menindaklanjuti laporannya," ungkapnya.

ArrahmahMedia.Com

Ketua PW LTN NU Jatim, Ahmad Najib AR sangat mengapresiasi ajakan tersebut. "Kami memang memiliki jaringan sampai ke kabupaten dan kota di Jatim, meskipun harus terus dijalin," katanya. Bahkan keberadaan pemantau media memang telah direkomendasikan saat rapat koordinasi dengan kepengurusan LTN se-Jatim beberapa waktu berselang.

"Tinggal bagaimana mengintensifkan komunikasi dan memberikan informasi ini kepada kepengurusan di daerah," kata Gus Najib, sapaan akrabnya. Dengan semakin banyak pihak yang mengawasi mutu siaran, ia mengharapkan kian banyak tayangan yang mendidik masyarakat.

Salah seorang pimpinan di Pondok Pesantren Bayt al-Hikmah Pasuruan ini juga berharap agar frekwensi yang telah diberikan pemerintah dimaknai sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa. "Bukan malah menebar keburukan apalagi teror," katanya.

ArrahmahMedia.Com

Pada saat yang sama, alumnus pasca sarjana UIN Sunan Ampel Surabaya ini berharap agar pemerintah tegas. "Kami mendukung dan mendesak pemerintah untuk menutup gerakan penyebar terorisme baik di televisi dan radio, termasuk di dunia maya," tandasnya. Karena, lanjutnya, dari sejumlah media inilah gerakan teror akan merayu masyarakat untuk bertindak yang destruktif.

Bagi Gus Najib, tindakan pemerintah dengan menutup website, akun facebook dan media sosial lain dapat juga dilakukan kepada radio dan televisi. "Ini untuk menuutup gerak yang mengarah kepada terorisme," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sholawat, Doa ArrahmahMedia.Com

Kamis, 09 November 2017

Sampaikan Cinta Tanah Air Lewat Puisi dan Bunga

Sampang, ArrahmahMedia.Com. Hari ulang tahun kemerdekaan ke-69 Republik Indonesia yang jatuh pada Ahad (17/8) menjadi spesial bagi Nahdlatun Nisak Center (NNC) Pengurus Cabang Lembaga Kajian dan Pengembagan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Sampang, Jawa Timur.

Sampaikan Cinta Tanah Air Lewat Puisi dan Bunga (Sumber Gambar : Nu Online)
Sampaikan Cinta Tanah Air Lewat Puisi dan Bunga (Sumber Gambar : Nu Online)

Sampaikan Cinta Tanah Air Lewat Puisi dan Bunga

Pasalnya, organisasi perempuan di bawah naungan PC Lakpesdam NU Sampang ini mengadakan aksi simpatik melalui pembacaan puisi kemerdekaan serta aksi bagi-bagi bunga kepada para pengguna jalan di depan Monumen Trunojoyo Sampang.

Aksi para kader muda perempuan NU tersebut mendapat perhatian dari masyarakat dan para pengguna jalan. Aminatur Rizqiyah, Ketua NNC PC Lakpesdam NU Sampang, saat membacakan puisi menggugah semangat nasionalisme masyarakat, khususnya para pemudi Sampang, agar selalu mengingat jasa-jasa para pahlawan bangsa dan tetap mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

ArrahmahMedia.Com

Ditemui wartawan di tengah aksi bagi-bagi bunga, Aminatur Rizqiyah mengatakan, bagi-bagi bunga kepada pengguna jalan bertujuan untuk membangkitkan rasa cinta masyarakat kepada Indonesia.

ArrahmahMedia.Com

“Semangat nasionalisme para pemudi sekarang sudah mulai luntur, kecintaan mereka terhadap bangsa ini sudah berkurang. Karena itu, kami gugah semangat nasionalismenya dengan membagikan bunga sebagai lambang kecintaan kita kepada tanah air. Bunga melambangkan cinta. Hari ini 17 Agustus 2014, kami membagikan bunga agar masyarakat cinta kepada tanah air Indonesia,” ucapnya. (Agus Wedi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nahdlatul Ulama, Doa, Ubudiyah ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 04 November 2017

Hasil Zakat Infaq Shadaqah Tidak Boleh Mengendap

Pringsewu, ArrahmahMedia.Com

Ketua Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Pringsewu Khairuddin mengharapkan kepada para pengurus takmir masjid dan mushala agar mengelola dan menyalurkan perolehan zakat infaq shadaqah (ZIS) sesegera mungkin.

Hasil Zakat Infaq Shadaqah Tidak Boleh Mengendap (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasil Zakat Infaq Shadaqah Tidak Boleh Mengendap (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasil Zakat Infaq Shadaqah Tidak Boleh Mengendap

"Jangan sampai ZIS dari para muzakki mengendap sehingga tidak bermanfaat," katanya saat mengadakan Sosialisasi LAZISNU Kabupaten Pringsewu kepada Takmir Masjid dan Mushala di Kecamatan Pringsewu, Ahad (26/6).

Menurutnya, ketika ZIS tersebut tidak segera disalurkan maka manfaat dan pahalanya tidak dapat diperoleh oleh muzakkinya. "Mari segera salurkan, masih banyak yang membutuhkan dari ZIS tersebut," tuturnya.

ArrahmahMedia.Com

Jika kesulitan dalam penyalurannya, ia mengatakan bahwa LAZISNU Kabupaten Pringsewu siap bekerja sama dalam pengelolaan. "LAZISNU sudah memiliki 4 sektor sasaran dalam pemanfaatan ZIS yaitu di bidang pendidikan, sosial, ekonomi dan Kemandirian umat," jelasnya.

ArrahmahMedia.Com

Khairuddin menambahkan bahwa LAZISNU Kabupaten sudah memberikan kemudahan bagi yang akan menyetorkan zakat infaq dan shadaqahnya. "Ada 3 mekanisme penyetoran ZIS ke LAZISNU Kabupaten Pringsewu. Pertama, dengan menyetorkan langsung ke kantor LAZISNU Kabupaten Pringsewu yang berada di Lantai 3 Gedung PCNU Kabupaten Pringsewu," jelasnya.

Yang kedua lanjutnya melalui Rekening Lazisnu Kab Pringsewu pada BRI Cabang Pringsewu dengan nomor 035801016988536 untuk zakat dan di nomor 035801016989532 untuk infaq dan shadaqah.

"Mekanisme yang ketiga dengan menggunakan fasilitas layanan Jemput ZIS dengan menelpon atau SMS di nomor 081369718849," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Lomba, Doa, Pesantren ArrahmahMedia.Com

Minggu, 29 Oktober 2017

Kiai Said: Jika Ada Atribut NU, Saya Pastikan Itu Bukan Warga NU

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) konsisten melarang warga NU untuk ikut aksi 4 November. Imbauan ini sebelumnya dilontarkan PBNU pada demo pertama 14 Oktober 2016 lalu terkait isu Basuki Tjahaja Purnama yang telah mengarah pada potensi perpecahan umat.

Kiai Said: Jika Ada Atribut NU, Saya Pastikan Itu Bukan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Jika Ada Atribut NU, Saya Pastikan Itu Bukan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Jika Ada Atribut NU, Saya Pastikan Itu Bukan Warga NU

“PBNU melarang penggunaan simbol-simbol NU untuk tujuan-tujuan di luar kepentingan sebagaimana menjadi keputusan jamiyyah NU,” tegas Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat menyampaikan seruan moral terkait aksi 4 November, Jumat (28/10) lalu di PBNU Jakarta.

“Semua warga NU saya larang untuk mengikuti aksi 4 November. Jika ada yang membawa atribut NU, saya pastikan itu bukan NU. Karena NU sudah melarang,” tambah Pengasuh Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur Jakarta Selatan ini.

Namun, sebagai sebuah wadah aspirasi, Kiai Said sama sekali tidak melarang aksi tersebut asal dilaksanakan secara tidak anarkis dan mengumbar orasi-orasi yang dapat memicu perpecahan.?

ArrahmahMedia.Com

“Demonya tidak masalah, tetapi masyarakat dan pendemo jangan sampai terprovokasi,” jelasnya.

Terprovokasi yang Kiai Said maksud adalah umat Islam harus mewaspadai kelompok-kelompok yang berupaya memanfaatkan situasi ini untuk memecah belah keutuhan bangsa. Apalagi PBNU sendiri terus mendorong proses hukum dilaksanakan.

ArrahmahMedia.Com

Meskipun melarang seluruh warga NU untuk mengikuti aksi, PBNU menyeru kepada seluruh pengurus NU dan warga NU untuk secara pro-aktif turut menenangkan situasi, menjaga agar suasana yang aman, dan damai tetap terpelihara dan tidak ikut-ikutan memperkeruh suasana dengan provokasi dan hasutan.

“Kepada para pihak yang hendak menyalurkan aspirasi dengan berunjuk rasa, PBNU mengimbau agar tetap menjaga akhlakul karimah dengan tetap menjaga ketertiban, menjaga kenyamanan lalu lintas dan dapat menjaga keamanan masyarakat demi keutuhan NKRI,” seru Kiai Said. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Doa, Hikmah, Pemurnian Aqidah ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 28 Oktober 2017

Mengapa KHR As’ad Syamsul Arifin Layak Diberi Gelar Pahlawan Nasional?

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Momen yang ditunggu-tunggu para santri akhirnya datang juga. KH Raden Asad Syamsul Arifin (1890-1990 M) Asembagus Situbondo, Jawa Timur ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Pemberian anugerah Pahlawan Nasional tersebut berlangsung di Istana Negara Jakarta, Rabu (9/11) oleh Presiden RI Joko Widodo.

Mengapa KHR As’ad Syamsul Arifin Layak Diberi Gelar Pahlawan Nasional? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengapa KHR As’ad Syamsul Arifin Layak Diberi Gelar Pahlawan Nasional? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengapa KHR As’ad Syamsul Arifin Layak Diberi Gelar Pahlawan Nasional?

“Kami, para santri beliau ikut senang dan bangga dengan penganugerahan ini,” ujar KH Abdul Moqsith Ghazali, salah seorang santri Kiai As’ad lewat keterangan tertulisnya kepada ArrahmahMedia.Com, Rabu (9/11).

Menurutnya, Kiai Asad memang pantas mendapatkan gelar ini. Beliau berperang mengusir para penjajah dari tanah air. Memimpin pasukan, keluar masuk hutan, membangun kekuatan melawan para penjajah. Para penjajah yang menguasai daerah eks keresidenan Besuki seperti Jember, Lumajang, Bondowoso dan Situbondo akhirnya bisa dipukul mundur.

“Namun, pada hemat saya, Kiai Asad layak mendapatkan gelar pahlawan bukan hanya karena ikut berperang merebut kemerdekaan, tetapi ia juga berjuang melalui pendidikan. Pesantren yang didirikan bersama ayahandanya sejak tahun 1914 telah lama menjadi lembaga pendidikan murah bahkan gratis buat masyarakat tidak mampu,” urai Kiai Moqsith yang juga Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU.

ArrahmahMedia.Com

Kini di pesantrennya tak kurang dari lima belas ribu santri yang belajar di sana, dari paling bawah seperti TK hingga perguruan tinggi. Para santri tak hanya belajar ilmu-ilmu keislaman tradisional melainkan juga ilmu-ilmu umum seperti kelautan, informatika, dan pertanian.

Tak hanya itu, lanjut Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta ini, ketika banyak ulama ragu-ragu untuk menerima Pancasila, bersama sejumlah ulama lain Kiai Asad menegaskan pentingnya merujuk Pancasila terutama untuk mengatasi soal-soal kebangsaan dan kenegaraan.

“Suatu waktu Kiai Asad bercerita bahwa dirinya menerima surat kaleng dari orang-orang yang anti Pancasila. Tapi, Kiai Asad tak menghiraukannya. Bagi Kiai Asad, Pancasila tak bertentangan dengan Islam. Bahkan, menurutnya, sila pertama Pancasila merupakan cerminan dari ajaran tauhid dalam Islam,” ungkapnya.

ArrahmahMedia.Com

Semangat berjuang membela negara dan memperbaiki pendidikan umat itu terus diinjeksikan pada para santrinya. Empat tahun menjadi santrinya, Moqsith sering mendengar ceramah-ceramahnya terkait kebangsaan dan kenegaraan, di samping soal keislaman.

Mendengar ceramah-ceramah Kiai Asad seperti membaca buku-buku sejarah. Ini karena beliau salah seorang pelaku sejarah. Namun, di ujungnya pidatonya, Kiai Asad biasanya berpesan agar kisah perjuangannya tak dituliskan.?

“Bahkan, ketika salah seorang intelektual NU menawarkan diri untuk menulis biografinya, Kiai Asad marah. Ia merasa, perjuangannya tak pantas untuk dicatat,” terang kiai yang juga pengajar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Ia menandaskan, tentu gelar kepahlawanan ini bukanlah cita-citanya. Semua gerak langkahnya hanya diniatkan untuk memperoleh Ridha Allah SWT, bukan untuk memperoleh anugerah duniawi seperti ini. Tapi, seperti dikatakan banyak orang, negara besar adalah negara yang pandai menghargai para pejuangnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Doa, Habib, Kajian ArrahmahMedia.Com

Lima Ikrar Santri di Puncak Peringatan Hari Santri 2017

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Setelah pembacaan 1 miliar shalawat nariyah pada Sabtu tadi malam di Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, peringatan Hari Santri yang digelar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berpuncak dengan apel kebangsaan di Tugu Proklamasi, Jakarta, Ahad (22/10) pagi.

Lima Ikrar Santri di Puncak Peringatan Hari Santri 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Lima Ikrar Santri di Puncak Peringatan Hari Santri 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Lima Ikrar Santri di Puncak Peringatan Hari Santri 2017

Apel akbar dihadiri ribuan santri dan pelajar dari berbagai daerah di Jabodetabek. Usai pembacaan teks Pancasila yang dipimpin Ketua PBNU Robikin Emhas, deklarasi ikrar santri diteriakkan secara serentak yang dipandu oleh Sekjen PBNU Ishfah Abidal Aziz. 

Berikut lima ikrar santri yang dibaca bersama dengan awalan basmalah dan dua kalimat syahadat:

ArrahmahMedia.Com

Kami Santri NKRI Berikrar:

1. Berpegangn teguh pada akidah, ajaran, nilai, dan tradisi Islam Ahlussunnah wal Jama’ah

ArrahmahMedia.Com

2. Bertanah air satu, tanah air Indonesia; beriideologi negara satu, ideologi Pancasila; Berkonsitusi satu, Undang-Undang Dasar 1945; dan berkebudayaan satu, Bhinneka Tunggal Ika

3. Selalu bersedia dan siap siaga menyerahkan jiwa dan raga membela tanah air dan bangsa Indonesia, mempertahankan persatuan dan kesatuan nasional, serta mewujudan perdamaian dunia

4. Ikut berperan aktif dalam pembangunan nasional mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan, lahir dan batin untuk seluruh rakyat Indonesia

5. Pantang menyerah, pantang putus asa, serta siap berdiri di depan melawan pihak-pihak yang merongrong Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika, yang didasari semangat Proklamasi Kemerdekaan dan Resolusi Jihad Nahdlatul UlamaHari Santri 2017 kali ini mengangkat tema “Santri Mandiri, NKRI Hebat”. Peringatan hari santri di Tugu Proklamasi juga dimeriahkan dengan pembacaan shalawat, lagu Yalal Wathan, termasuk penampilan marching band dari Pondok Pesantren Nurul Mustofa, Jakarta Timur.

Hadir dalam apel kebangsaan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Dalam Negeri Tjahyo Kumolo, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, pengurus badan otonom NU, dan sejumlah pejabat tinggi negara.

Apel hari santri juga digelar di berbagai daerah. Selain upacara mereka juga menyelenggarakan serangkaian acara, mulai dari lomba-lomba, ziarah ulama Nusantara, diskusi, shalawat, dzikir, dan kegiatan lainnya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pertandingan, Doa, Anti Hoax ArrahmahMedia.Com

Minggu, 22 Oktober 2017

Pesantren Garda Depan Penjaga Keutuhan Bangsa

Makassar, ArrahmahMedia.Com. Sekretaris Gerakan Pemuda Ansor Kota Makassar, Sulawesi Selatan Ahmad Ahsanul Fadhil menegaskan Pesantren adalah instrumen startegis mencegah radikalisme di Indonesia. Karena Lembaga pendidikan Islam klasik dan tertua di Indonesia tersebut senantiasa mengajarkan Islam ramah.

"Pesantren adalah Lembaga yang sangat strategis untuk menebar ajaran Islam rahmatan lil alamin, mencegah munculnya paham radikal yang merongrong kedaulatan NKRI dan menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan bangsa," ujar Ahsanul dalam Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan oleh PMII STIE Tri Dharma Nusantara bekerjasama dengan IKA-MDIA Bontoala Makassar.

Pesantren Garda Depan Penjaga Keutuhan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Garda Depan Penjaga Keutuhan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Garda Depan Penjaga Keutuhan Bangsa

Senada dengan Ahsan, Sekretaris KNPI Kota Makassar, Irwan Ade Saputra mengamini apa disampaikan Ahsan dalam Forum Dialog tersebut. Dia menerangkan, posisi Santri sebagai bagian dari pemuda sangat strategis untuk melakukan gerakan mengawal keutuhan NKRI, dengan pemahaman keagamaan yang ramah.

“Paham Islam tersebut diharapkan mampu memberikan pencerahan terhadap pemuda yang tidak mengenyam pendidikan di Pesantren hingga paham bahwa Agama dan NKRI bukan hal yang harus dipertentangkan,” ungkap Ade dalam diskusi di ruang redaksi Tribun Timur, Ahad (30/10).

Pendiri Sekolah Kebangsaan, Arqam Azikin yang juga hadir sebagai Panelis meminta Pemuda dan Pesantren berbagi peran namun tetap saling mensupport dalam menjaga NKRI.

ArrahmahMedia.Com

Menurutnya, sejarah Pemuda dan Pesantren adalah sejarah yang tak terpisahkan dari Sejarah Bangsa. Keduanya memiliki peran penting dalam memerdekakan Indonesia.

"Saya berani mengatakan andai bukan KH Hasyim Asyari bersama kalangan pesantren lain dan bangsa Indonesia secara umum, maka tidak akan lahir gerakan yang mampu memerdekakan Indonesia,” tegas Arqam. (Rahman/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Doa, Daerah ArrahmahMedia.Com

Kamis, 19 Oktober 2017

Fatayat NU Probolinggo Diminta Pahami Landasan Amaliah NU

Probolinggo, ArrahmahMedia.Com - Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Probolinggo mengadakan Latihan Kader Dasar (LKD) bagi 35 orang pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) di 11 kecamatan se-Kabupaten Probolinggo, Ahad (26/2). Kegiatan yang dipusatkan di RM Rahayu Desa Banjarsari Kecamatan Sumberasih ini dibuka oleh Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi Saifullah.

Kiai Abdul Hadi menyampaikan, sebagai organisasi badan otonom NU, kader Fatayat NU harus mempunyai semangat yang tinggi dalam berjuang mengembangkan Fatayat NU di wilayah kerja masing-masing.

Fatayat NU Probolinggo Diminta Pahami Landasan Amaliah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Probolinggo Diminta Pahami Landasan Amaliah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Probolinggo Diminta Pahami Landasan Amaliah NU

“Kader Fatayat NU harus mempuyai jiwa militansi yang tinggi sehingga mampu mengembangkan Fatayat sampai ke tingkat paling bawah. Kader Fatayat juga harus mampu menguasai dasar-dasar amaliah di NU, seperti tahlil dan lain sebagainya sehingga tidak hanya melaksanakan tapi benar-benar tahu dasar dalil-dalilnya,” katanya.

ArrahmahMedia.Com

Sementara Ketua Fatayat NU Probolinggo Elysa Candra Maya mengatakan, LKD ini merupakan jenjang pengkaderan formal yang ada di Fatayat NU. Kegiatan ini dilakukan sebagai amanah organisasi untuk peningkatan SDM kader. “Tujuan utamanya adalah untuk mencetak kader Fatayat NU yang militan,” katanya.

Menurut Elysa, LKD ini dilakukan guna membentuk kader yang berwawasan Islam dan mempunyai loyalitas serta rasa memiliki dan tanggung jawab yang tinggi terhadap organisasi.

ArrahmahMedia.Com

“LKD ini adalah media pengenalan dan sarana penanaman nilai-nilai identitas, karakter dan ideologi yang menjadi cita-cita Fatayat NU. Melalui kegiatan ini diharapkan agar nantinya mampu merekrut kader Fatayat NU yang benar-benar memiliki keikhlasan dalam berjuang dan membesarkan organisasi demi nahdliyin yang ada di Kabupaten Probolinggo,” harapnya.

Selain materi ke-NUan oleh Kiai Abdul Hadi, para pengurus Fatayat NU ini juga mendapatkan materi tentang keorganisasian dari Ketua Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj Nurhayati dan ke-Aswajaan dari Ketua Aswaja NU Center Kabupaten Probolinggo Teguh Mahameru. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sholawat, Sejarah, Doa ArrahmahMedia.Com

Selasa, 10 Oktober 2017

Harga Kurudung Bordir Khas Sedan Terus Melambung

Rembang, ArrahmahMedia.Com. Baru memasuki empat hari di bulan Ramadhan, harga kerudung bordir produk Sedan kabupaten Rembang hingga kini terus mengalami kenaikan. Selain tren, kenaikan harga disinyalir karena permintaan kepada pengrajin terus mendapatkan lonjakan sejak bulan Rajab hingga kini.

Salah seorang perajin kerudung bordir dari desa Sulo kecamatan Sedan kabupaten Rembang Aan mengatakan, tingkat lonjakan mencapai 50 sampai 90 persen. Selain dari Jateng, permintaan datang juga dari sejumlah kota di Indonesia.

Harga Kurudung Bordir Khas Sedan Terus Melambung (Sumber Gambar : Nu Online)
Harga Kurudung Bordir Khas Sedan Terus Melambung (Sumber Gambar : Nu Online)

Harga Kurudung Bordir Khas Sedan Terus Melambung

“Tren fashion juga turut memicu lonjakan penjualan saat bulan Ramadhan,” kata A’an.

ArrahmahMedia.Com

Adanya tren kerudung baru yang memicu pembeli mengonsumsi produk baru, juga faktor lain yang meningkatkan jumlah permintaan. Guna mencukupi pasokan kebutuhan para konsumen, sejumlah perajin kerudung bordir memberlakukan kerja lembur bagi para pekerjanya.

ArrahmahMedia.Com

Kerja lembur dimulai setelah sholat Tarawih kadang sampai pukul dua dini hari. Jika dengan lembur belum terpenuhi, maka perajin menambah jumlah pekerja untuk mencapai jumlah pesanan.

Menurut Aan, sejumlah perajin bahkan sampai menambah jumlah pekerja hingga 20 persen dari luar daerah. Namun lonjakan pesanan konsumen, juga dibarengi dengan kenaikan harga bahan baku. Harga kain jenis lycra misalnya naik sebesar Rp 1.000 per kilogram dari Rp 55.000 menjadi Rp 56.000.Meskipun demikian, para perajin masih diuntungkan dengan stabilnya harga benang, ujar A’an.

Sejumlah perajin juga mengaku sedang dibayangi rencana Pemerintah yang akan menaikkan tarif dasar listrik non-rumah tangga. Pasalnya sebagian besar para perajin kerudung khas Sedan menggunakan tenaga listrik dalam produksi. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Doa ArrahmahMedia.Com

Minggu, 24 September 2017

Menristek: Tetap Sarungan, Tapi Pendidikan Doktor

Kendal, ArrahmahMedia.Com. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M Nasir mengharapkan santri tetap menjaga tradisi pesantren sekaligus terus meningkatkan kapasitas intelektualnya. Dua hal itu, menurutnya, dapat dilakukan secara bersamaan.

M Nasir menyampaikan hal itu ketika menghadiri akhiruhasanah Pondok Pesantren Al-Fadhlu Wal Fadhilah pimpinan KH Dimyati Rois di Jagalan, Kaliwungu, Kendal.

Menristek: Tetap Sarungan, Tapi Pendidikan Doktor (Sumber Gambar : Nu Online)
Menristek: Tetap Sarungan, Tapi Pendidikan Doktor (Sumber Gambar : Nu Online)

Menristek: Tetap Sarungan, Tapi Pendidikan Doktor

“Panjenengan semua, sarungan ya sarungan, tapi kalau bisa pendidikan sampai doktor lah,” katanya di hadapan belasan ribu hadirin di berbagai daerah.

ArrahmahMedia.Com

Menristekdikti hadir dalama cara tersebut bersama Menteri Tenaga Kerja Hanief Dhahiri, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof Fathur Rokhman, dan KH Masyhuri Malik dari PBNU.

ArrahmahMedia.Com

Sebagai menteri riset, Nasir mengungkapkan optimismenya meningkatkan kualitas kehidupan bangsa melalui kegiatan penelitian. Kepada jamaah akhiruhasanah Nasir mengungkapkan rencananya mendorong industry pesawat terbang nasional, mengembangankan produk kapal selam, dan meningkatkan produktivitas produk ternak dan tani.

“Kami targetkan tahun depan ada pesewat produksi dalam negeri yang terbang di langit Nusantara ini,” katanya.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fadhlu Wal Fadhilah H Alamudin Dimyati Rois mengungkapkan, dulu ada persepsi kurang baik terhadap pendidikan di pesantren. Namun, seiring perkembangan, masyarakat kian mengakui bahwa pesantran adalah salah satu model pendidikan paling baik.

“Buktinya, tiga menteri yang hadir di sini, semuanya adalah menteri. Ada pula santri yang presiden. Ini bukti,” kata anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu. (portalsemarang.com/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Doa, Pahlawan ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock