Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Kangen Banser yang Dulu, Banser yang Mana?

Oleh Alif Bareizy 



Sepulang dari harlah GP Ansor di Kutai Timur, teman saya mengirim screen capture lewat WhatsApp. Jagat Twitter lagi ramai soal Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Trending topic urutan satu dan dua milik Banser. Tagarnya #BanserJagaNKRI dan #Banserbubarinpengajianlagi.

Kangen Banser yang Dulu, Banser yang Mana? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kangen Banser yang Dulu, Banser yang Mana? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kangen Banser yang Dulu, Banser yang Mana?

Nama Banser memang sedang terkerek dengan berbagai aksinya. Awal mulanya, dari catatan saya, ketika Banser membubarkan pengajian Khalid Basalamah di Sidoarjo. Diikuti dengan penghalauan acara-acara HTI di banyak kota.

Ketika saya masuk ke tempat ngopi favorit saya, tiba-tiba banyak orang di ruangan yang bilang, "Wah ini, mau bubarin Felix Siauw ya?" Saya cuma bisa nyengir. Tapi belakangan orang itu baru paham, lalu mafhum.

Apa yang dilakukan Banser hanyalah ungkapan spontan atas kegelisahan jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU). Misalnya tentang peristiwa di Sidoarjo waktu itu. Penyebabnya adalah serangan agresif Ustadz Khalid Basalamah terhadap amalan Nahdliyin lewat video di Youtube. Kalangan Nahdliyin resah.

Kejadian di Sidoarjo sebenarnya bukan penolakan pertama oleh kalangan Nahdliyin. Ketika HTI ingin merongrong Pancasila dengan agenda khilafah, tentu saja NU meradang. Sudah sejak zaman baheula, NU menyatakan Pancasila adalah final dan NKRI harga mati.

ArrahmahMedia.Com

Setelah beberapa kasus pembubaran, mulailah ada yang nyeletuk kangen Banser yang dulu. Lha, Banser yang dulu itu, yang mana? Dari dulu, Banser ya begini.

Cuma belakangan sudah tidak bisa diam lagi melihat kondisi sekarang. Mulai dari gereja dibom, anti-nasionalisme, sampai tidak mau menyalatkan jenazah karena beda pilihan politik. Mosok, orang waras harus diam terus?

ArrahmahMedia.Com

Yah, walaupun banyak celotehan miring yang dialamatkan ke Banser, terutama oleh akun-akun anonim di media sosial yang entah siapa itu enggak jelas rupanya. Tapi sebenarnya ya, yang kayak gitu sudah ada sedari tahun kapan, semenjak Banser menjaga gereja, melindungi orang-orang yang ingin khusyuk beribadah.

Banser tidak bisa membayangkan kawan-kawan agama lain beribadah di bawah ancaman teror. Mungkin serupa tapi tak sama dengan kegelisahan muslim Amerika pasca terpilihnya Donald Trump sebagai presiden.

Banser mengupayakan tegaknya kebebasan beribadah di bumi pertiwi, karena ingin menyontohkan Islam yang rahmatan lil alamin dengan perbuatan. Bukan cuma ngejeplak seenteng komentar nyinyir. Itu semua demi agama dan kemanusiaan.

Dari kegiatan menjaga gereja pun sudah jatuh korban dari kalangan Banser. Tapi, seperti kata Dian Sastro, jangan kasih kendor. Sahabat Riyanto yang gugur akibat bom di Gereja Eben Haezar pada tahun 2000 menjadi inspirasi. Komentar negatif menjadi pelecut sekaligus evaluasi – kalau memang patut dijadikan bahan renungan.

Lalu, apakah simpati internal NU berkurang pada Banser dengan sikapnya tersebut? Tidak juga, malah tambah sayang. Nyatanya, rekrutmen anggota Banser terakhir di Samarinda melampaui 150 orang. Perlu diketahui, Samarinda bukanlah kantong NU seperti di Jawa.

Kalaupun ada yang kurang sreg dengan sikap Banser, ya perlu tabayun soal ini. Kalau perlu disiapkan dalil naqli dan aqli-nya. Sulit memang, karena saya sendiri mengalami kesulitan menjelaskan hal ini ketika bapak kos komplain soal gawean Banser.

Memang benar, citra Banser bagi kalangan luar NU terkesan sangar. Tapi Banser punya sisi lain yang jarang diketahui oleh kalangan luar NU. Banyak cerita, beberapa di antaranya, amat berkesan. Meski diulang beberapa kali, tetap saja bikin terpingkal sekaligus terenyuh.

Saya mengenal Banser jauh sebelum menjadi fungsionaris Ansor, malah sejak SD. Sebagai Nahdliyin sejak masih dalam rahim, saya bertemu mereka mulai dari pengajian sampai walimah pernikahan. Tugasnya sebagai pengamanan VVIP hingga parkiran.

Meski tampak gagah, tak pernah merasa ada hawa mencekam dari Banser. Justru merasa diayomi, dilindungi. Paling mentok saya plekiken, karena tak tahan asap rokok mereka.

Banser itu tidak dibayar sepeser pun. Jadi kurang pas, kalau ada adegan di film Tanda Tanya besutan Hanung Bramantyo yang tayang beberapa tahun lalu, yang mendeskripsikan Banser sebagai pekerjaan. Jangankan dibayar, sepatu lars saja beli kadang mencicil. Baju lengkap Banser pun seringkali menunggu jatah.

Apakah kegiatan Banser, misalnya pengamanan dan pengawalan, dibayar? Kalaupun ada konsumsi, malah seringnya dapat paling akhir. Tamu didahulukan. Jika yang punya hajat orang berpunya, baru mereka dapat amplopan, tapi itu tak sering.

Bahkan ada cerita, anggota Banser membawa amplop sendiri supaya istrinya tenang, karena biar dianggap bawa uang setelah bertugas. Padahal sih, tidak. Mirip-mirip kisah khalifah Umar bin Khattab bertemu ibu yang memasak batu di air mendidih untuk mengelabui anaknya yang kelaparan.

Lalu, darimana Banser mendapatkan biaya untuk penghidupan sehari-hari? Ada yang tukang panggul, buruh tani, buruh pabrik, guru, ustadz madrasah diniyah, dan lain-lainnya. Tapi ada juga yang dosen, pedagang, bahkan doktor di kalangan Banser – biasanya golongan ini yang menjadi penyumbang rokok dan jajanan.

Bayangkan saja, siang bekerja mencari nafkah, lalu malam melakukan tugasnya sebagai Banser. Bahkan kadang harus izin meninggalkan pekerjaan untuk menghadiri acara di luar kota atau diklat berhari-hari. Mereka rela berpayah-payah, padahal bisa jadi di rumahnya hanya ada beberapa liter beras.

Sampai-sampai ada guyonan dari almaghfurlah KH Hasyim Muzadi bahwa anggota Banser hanya mampu membeli rokok eceran. "Gagah begitu, rokoknya eceran."

Banyak hal lain yang menjadikan NU begitu sayang kepada Banser. Hal-hal di atas sedikit dari bejibun cerita, tak akan cukup 1.000 kata untuk menceritakannya.

Maka, saya mengaminkan doa dari Rais Syuriah PWNU Jateng KH Ubaidillah Shodaqoh, "Semoga amalmu diterima Gusti Allah dan rezekimu lancar, sehingga dapat memondokkan atau menyekolahkan anakmu sampai jadi profesor. Dan, yang jelas semoga rokokmu tidak dibeli dengan harga eceran."  

Penulis adalah alumnus DTD I PC GP Ansor Samarinda. Jajaran Satkorwil Kalimantan Timur

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaSantri, Fragmen, Cerita ArrahmahMedia.Com

Rabu, 07 Februari 2018

Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa?

Jepara, ArrahmahMedia.Com. Santri dulu dan sekarang jelas berbeda. Karena zamannya sudah berbeda maka kiai selaku pengasuh di pesantren harus memiliki cara jitu untuk mendidik santri di zaman modern seperti saat ini. 

Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendidik Santri di Era Modern, Seperti Apa?

Dalam hal ini, Hisyam Zamroni mengapresiasi apa yang dilakukan oleh H Taufiqul Hakim selaku pengasuh pesantren Darul Falah Bangsri Jepara, Jawa Tengah.

Apresiasi itu sampaikan usai menyimak 4 santri Darul Falah yang mempraktikkan kitab Bid’ah Hasanah dan Syiaful Ummah karya Kiai Taufiq.  M Najib Syamsuddin santri yang masih duduk di kelas 3 MI ditanyai oleh Kang Maman perihal sumber hukum Islam. “Agama atau syariat Islam mempunyai empat sumber hukum. Alquran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas,” jawab santri asal Bandung ini. 

Ketika dia diminta untuk menjelaskan dengan bahasa Jawa. “Sumbere syariat Islam-ono papat. Al-Quran lan – sunnahe Na- Bi Muhammad. Nomer telu – ijma lan papate qiyas – cekelono – kuat-kuat – kanti ikhlas,” lanjut Najib. 

Santri lain yang turut mempraktikkan ada Najwa (Garut), Syiaful (Semarang) dan Ivan (Madura). Santri-santri yang mempraktikkan kitab karya Kiai Taufiq merupakan garapan Ikatan Daiyah Muda Bangsri (Ikdamuba) yang bernaung di pesantren Darul Falah Bangsri Jepara. 

ArrahmahMedia.Com

Pembinaan santri-santri itu merupakan salah satu pembinaan bidang pendidikan yang dilakukan Ikdamuba. Dalam kegiatan Seminar Penanggulan Kenakalan Remaja yang digelar PC Lazisnu Jepara dan Ikdamuba berlangsung di Gedung NU Jepara, Kamis (21/4) ini, menurut Hisyam, Kiai Taufiq telah mereproduksi karya ulama masa silam. 

Karena objek santri saat ini berbeda sehingga kitab disertai dengan hadits atau ada dalilnya juga disertai dengan nadzam (syair). “Dengan secara tidak sadar siswa akan terbiasa jika sudah membacanya berkali-kali,” kata Wakil Ketua PCNU Jepara ini. 

Inilah yang kata Hisyam sebagai model taklim dan tikrar yang menjadikan santri akan mudah menghafalnya. Ia yang menjabat sebagai Kepala KUA Keling itu menambahkan buku bidah hasanah dan syifaul ummah yang dibagikan gratis untuk peserta seminar adalah buku saku. Buku itu, lanjutnya, bisa dengan mudah dibawa  dan dipelajari di mana saja. Ikut andilnya Kiai Taufiq dalam mengarang banyak kitab merupakan wahana untuk mengurangi dampak radikalisme dan kenakalan remaja. 

ArrahmahMedia.Com

Apalagi pihaknya sudah bekerja sama dengan LP Ma’arif NU Jepara untuk membagikan buku tentang bahaya radikalisme secara cuma-cuma. Lewat karya-karya seperti itu merupakan sebuah ciri khas dari kiai pesantren. Ia juga mendorong agar para orang tua mau memondokkan anaknya dan kiai juga harus produktif berkarya apalagi karya yang tematik sebagaimana yang dilakukan Kiai Taufiq. 

Orang tua yang mau memondokkan anaknya tegasnya bisa mengurangi dampak kenakalan remaja. Di samping itu kiai produktif menunjukkan identitasnya sebagai fail (produsen) bukan maful (konsumen). (Syaiful Mustaqim/Fathoni)   

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaSantri, Nahdlatul Ulama, RMI NU ArrahmahMedia.Com

Sampaikan Permasalahan Papua, Forum Lintas Iman Papua Sambangi PBNU

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Rombongan dari Papua yang tergabung dalam Forum Lintas Agama menyambangi Kantor PBNU Kramat Raya, Jum’at (14/8) sore. Rombongan diterima langsung oleh Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj di kantornya lantai 3.

Dalam kunjungan rombongan yang terdiri dari sekitar 15 orang tersebut, mereka mengungkapkan berbagai persoalan yang terjadi di tanah Papua, terutama terkait dengan kesejahteraan, keadilan, dan kerukunan umat beragama menyusul insiden yang menurut mereka terparah selama 52 tahun, yakni insiden di Kabupaten Tolikara pada momen Idul Fitri Juli 2015 lalu.

Sampaikan Permasalahan Papua, Forum Lintas Iman Papua Sambangi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sampaikan Permasalahan Papua, Forum Lintas Iman Papua Sambangi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sampaikan Permasalahan Papua, Forum Lintas Iman Papua Sambangi PBNU

Imam Masjid Tolikara, KH Ali Mukhtar yang ikut mendampingi rombongan mengungkapkan, bahwa yang dibakar bukanlah masjid, tetapi ruko yang menyambar hingga ke masjid.?

ArrahmahMedia.Com

“Meski minoritas, hubungan kita sangat baik. Rumah saya yang menempel dengan masjid juga sempat diselamatkan oleh Ketua Adat setempat. Namun dia mendapat lemparan batu sehingga rumah saya pun akhirnya terbakar,” ungkapnya.

Rombongan yang terdiri dari perwakilan dari muslim Papua, Kristen Papua, Katolik Papua, dan masyarakat adat ini menyampaikan persoalan-persoalan yang sesungguhnya terjadi di tanah Papua.

ArrahmahMedia.Com

Ketua Suku dari mereka yang tidak terkonfirmasi namanya mengungkapkan, bahwa kerukunan antar-umat beragama di Papua sangatlah kuat. Karena pada dasarnya masyarakat Papua adalah masyarakat yang sangat menghargai adat dan budaya. “Karena menurut kami, adat dan budaya itu tidak terlepas dari agama,” ujarnya.

Mereka menuturkan, bangsa Papua tidak ada perpecahan. Yang membuat semuanya kacau itu karena orang-orang di luar Papua. “Setiap ada konflik, kita cukup menyelesaikannya dengan pembicaraan secara kekeluargaan, selesai, karena orang Papua semuanya bersaudara,” terangnya.

Papua damai, tambahnya, tetapi orang-orang di luar sana melalui media yang ada hantam sana-sini sehingga persoalannya jadi tidak jelas dan itu sangat merugikan bangsa Papua. “Jadi jelas, yang mengacaukan Papua itu orang-orang Non-Papua, seperti orang Kristen dari luar yang masuk ke tanah Papua, mereka menguasai Gereja dan mengajarkan paham radikal di Gereja tersebut,” ungkapnya.?

Sementara itu, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj yang mendengarkan dengan seksama penuturan mereka mengatakan, kekerasan atas nama apapun bisa terjadi di mana saja. “Tapi di Indonesia, kita bersyukur selalu bisa melokalisirnya sehingga tidak meluas secara nasional seperti yang terjadi di negara-negara Timur Tengah yang sekali terjadi konflik langsung meluas dan bertahan selama bertahun-tahun,” ujar Kang Said.

Kiai yang baru saja terpilih kembali menjadi Ketum PBNU ini menuturkan, Kanjeng Nabi Muhammad SAW sendiri jika ada seorang Muslim yang menyakiti dan membunuh Non-Muslim, maka Kata Nabi Muslim tersebut berhadapa dengan saya.

“Gus Dur sendiri yang mendapat gelar sebagai Bapak Papua oleh masyarakat Papua selalu menekankan, bahwa tidak boleh ada perpecahan dan permusuhan hanya karena alasan berbeda agama, suku, ras, pendapat maupun partai politik. Yang menjadi musuh kita bersama adalah mereka yang melanggar hukum,” tandas Kang Said. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pahlawan, Sholawat, AlaSantri ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 03 Februari 2018

Kemenangan Ar-Rizki NTB III Lengkapi 32 Tim di Seri Nasional LSN

Dompu, ArrahmahMedia.Com. Setelah jauh sebelumnya ? 31 region memastikan wakilnya di seri nasional Liga Santri Nusantara (LSN), akhirnya Ahad (16/10) malam, region NTB III yang meliputi Bima, Dompu juga telah selesai melangsungkan laga final yang berlangsung di Lapangan Pantapaju, Dompu.

Pada laga final LSN Region NTB III ini mempertemukan Pesantren Ar-Rizki melawan Pesantren Al-Kautsar. Sejak peliut panjang berbunyi yang menjadi tanda dimulainya laga final, kedua tim saling menampilkan permainan terbaiknya.

Kemenangan Ar-Rizki NTB III Lengkapi 32 Tim di Seri Nasional LSN (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenangan Ar-Rizki NTB III Lengkapi 32 Tim di Seri Nasional LSN (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenangan Ar-Rizki NTB III Lengkapi 32 Tim di Seri Nasional LSN

Setelah menampilkan permainan yang terbaik dari masing-masing tim, jelang beberapa menit babak pertama tepatnya menit 10 Rahman gelandang serang Ar-Rizki dengan nomor punggung 10 berhasil merobek gawang Al-Kautsar, sehingga merubah skor menjadi 1-0.

Detik-detik babak pertama akan berakhir menit ke-30 Rahman kembali menyumbangkan gol yang kedua, dengan demikian skor berubah menjadi 2-0, hingga babak pertama selesai tim Al-Kautsar belum berhasil mengejar ketertinggal 2 gol.

Masuk babak kedua, skuad Al-Kautsar mencoba menyusun serangan guna mengejar ketertinggalan gol, beruntung usaha yang dibangun oleh skuad Al-Kautsar berhasil menciptakan gol melalui kaki kanan Irfan pada menit 40, ? memperkecil ketertinggalan skor menjadi 1-2.

ArrahmahMedia.Com

Tapi tak diduga sebelum mengakhiri babak kedua yang sekaligus menjadi tanda selesainya laga final LSN Regional NTB III, skuad Ar-Rizki Kasman nomor punggung 7 berhasil menambah koleksi gol yang ketiga, sekaligus menjadi gol penutup laga final tersebut.

Dengan demikian Ar-Rizki tampil sebagai juara LSN Regional NTB III dengan skor 3-1, dan berhak mewakili NTB III pada ? seri nasional yang akan berlangsung pada tanggal 22 Oktober di Yogyakarta.

ArrahmahMedia.Com

Dengan hasil laga final tersebut Rahmat Ismail Koordinator Regional NTB III merasa puas dan bersyukur atas suksesnya final LSN Regional NTB III meski cukup dekat waktu pelaksanaannya denga seri nasional.

"Saya sangat puas dengan laga final yang sangat luar biasa ini, juga saya sampaikan terimaksih banyak kepada semua pihak yang telah bekerja sama mensukseskan LSN Region NTB II ini", ungkapnya.

Hadir dalam acara penutupan LSN regional NTB III, Kadispora mewakili Bupati Dompu, Wakil Ketua DPRD Dompu, Ketua Fraksi PKB DPRD Dompu, ? dan tokoh agama berpengaruh KH. Asikin Ahmad. (Red: Fathoni)





Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaSantri, Olahraga, Hikmah ArrahmahMedia.Com

PP LPBINU Gelar Seminar Nasional Tata Kelola Air

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Pengurus Pusat Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (PP LPBINU) menggelar seminar nasional Tata Kelola Air bertajuk ‘Mencegah Mata Air Menjadi Air Mata, Rabu (20/5) di Aula lantai 8 Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta Pusat.

“Seminar ini juga sebagai rangkaian kegiatan Rakornas LPBINU di Bogor tanggal 20-23 Mei 2015. Ide-ide yang muncul dari kegiatan ini akan dijadikan rekomendasi pada saat Muktamar ke-33 NU mendatang,” ujar Ketua PP LPBINU, Avianto Muhtadi dalam sambutannya.

PP LPBINU Gelar Seminar Nasional Tata Kelola Air (Sumber Gambar : Nu Online)
PP LPBINU Gelar Seminar Nasional Tata Kelola Air (Sumber Gambar : Nu Online)

PP LPBINU Gelar Seminar Nasional Tata Kelola Air

Menurut Avianto, isu tata kelola air adalah persoalan yang penting dan krusial. Karena, lanjutnya, pengelolaan sumber daya air yang sejatinya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, ternyata menjadi air mata bagi masyarakat yang bermukim di sekitar mata air dan berdampak kapada masyarakat luas.

ArrahmahMedia.Com

“Persoalan ini membutuhkan solusi bersama antara pemangku kepentingan dalam tata kelola air, yaitu pemerintah dan perusahaan, serta masyarakat. Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) tahun 2015 mengingatkan pemangku kepentingan untuk kembali ke jalan yang benar secara konstitusidalam tata kelola air untuk kemakmuran rakyat banyak,” papar Avianto.

Hadir memberikan sambutan, Sekjen PBNU, H Marsudi Syuhud, Ketua MK RI, Prof Dr Arief Hidayat, dan para narasumber seminar sesi pertama, seperti KH Masdar Farid Mas’uadi (Rais Syuriyah PBNU), Rahmat Hidayat (Juru Bicara Lintas Asosiasi Pengguna Air/Wakil Ketua Umum GAPMMI), serta pejabat dari Kementerian PU dan PeRA, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, dan peserta seminar yang memadati lokasi.

ArrahmahMedia.Com

Pada sesi kedua, hadir juga para pembicara, antara lain, Ir Basah Hernowo, MA (Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumberdaya Air) dan Ir B Wisnu Widjaja, MSc ((Deputi Pencegahan dan Kesiap-siagaan BNPB).? (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pondok Pesantren, Santri, AlaSantri ArrahmahMedia.Com

Rabu, 24 Januari 2018

Dalil dan Bacaan Wirid Bada Shalat

Ada sebuah maqalah yang mengatakan bahwa man laysa lahu wirdun fahuwa qirdun, barang siapa yang tidak wirid, maka dia seperti monyet. Memang jika diangan-angan salah satu kewajiban manusia adalah mengingat Sang Khaliq. Apabila seseorang tidak pernah mengingat (wiid) Sang Khaliq maka orang itu bagaikan seekor monyet yang tidak tahu diri dan tidak mengerti balas budi.

Begitulah perintah Allah swt dalam suarat an-Nisa’ ayat 103 diterangkan:

فإذا قضيتم الصلاة فاذكروا الله قياما وقعودا وعلى جنوبكم

Dalil dan Bacaan Wirid Bada Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Dalil dan Bacaan Wirid Bada Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Dalil dan Bacaan Wirid Bada Shalat

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.  

Secara praktis, melatih membiasakan wirid dapat dimulai dari hal yang paling kecil dan sederhana. Misalkan dengan meluangkan waktu setelah shalat fardhu membaca istighfar sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw dalam haditsnya

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ: “كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ”. قَالَ الْوَلِيدُ فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ.

Tsauban bercerita, “Jika Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam selesai shalat beliau beristighfar tiga kali, lalu membaca “Allahumma antas salam wa minkas salam tabarokta ya dzal jalali wal ikrom”. Al-Walid (salah satu perawi hadits) bertanya kepada al-Auza’i, “Bagaimanakah (redaksi) istighfar beliau?”. “Astaghfirullah, astaghfirullah” jawab al-Auza’i.

ArrahmahMedia.Com

Atau dengan keterangan lebih lengkap bacaan dzikir setelah shalat yang paling minimal adalah:

...اَسْتَغْفِرُاللهَ اْلعَظِيْمَ (Astaghfirullahal adhim) 3x ...لاَاِلٰهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهْ لَهُ اْلمُلْكُ وَلَهُ اْلحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ         (La ilaha illallah wahdahu lasyarikalah, lahul mulku walahul hamdu yuhyi wa yumit wa huwa ‘ala kulli syaiin qadir) 3x ...اَللّهُمَّ اَجِرْنَا مِنَ النَّارِ  (allahumma ajirna minannar) 3x اَللّهُمَّ اَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ وَاِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ وَاَدْخِلْنَا اْلجَنَّةَ دَارَالسَّلاَمِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَاذَاْلجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ        (Allahumma antas salam wa minkas salam wa ilaika ya’udus salam fahayyina rabbana bis salam wa adkhilnal jannata darassalam tabarakta rabbana wa ta’alaita ya dzal jalali wal ikram)  

Kemudian setelah terbiasa hendaknya ditingkaykan dengan menambah wirid sebagaimana anjuran Rasulullah saw

وروى أبو هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال :  من سبح الله في دبر كل صلاة ثلاثا وثلاثين ØŒ وحمد الله ثلاثا وثلاثين ØŒ وكبر الله ثلاثا وثلاثين ØŒ فتلك تسعة وتسعون ØŒ وقال تمام المائة : لا إله إلا الله وحده لا شريك له ØŒ له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير ØŒ غفرت خطاياه ولو كانت مثل زبد البحر  أخرجه مسلم في صحيحه

ArrahmahMedia.Com

Bahwa Rasulullah saw pernah berkata ‘barang siapa setelah shalat membaca tasbih 33 kali, hamdalah 33 kali, takbir 33 kali, sehingga jumlahnya 99 dan menyempurnakannya dengan bacaan La ilaha illallah wahdahu lasyarikalah, lahul mulku walahul hamdu yuhyi wa yumit wa huwa ‘ala kulli syaiin qadir, Allah akan mengampuni segala dosanya walau sebanyak buih di lautan.

Artinya alangkah sempurnanya jika wirid setelah shalat di atas ditambah dengan bacaan:

سُبْحَانَ الله  Subhanallah  33x اْلحَمْدُ لله    Alhamdulillah  33x اَللهُ اَكْبَرُ    Allahu Akbar  33x  Ø§ÙÙ„اَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمُلْكُ وَلَهُ اْلحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ       (La ilaha illallah wahdahu lasyarikalah, lahul mulku walahul hamdu yuhyi wa yumit wa huwa ‘ala kulli syaiin qadir)  

 

Redaktur: Ulil Hadrawy . Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Bahtsul Masail, Hadits, AlaSantri ArrahmahMedia.Com

Rabu, 10 Januari 2018

Portal Islam Tentukan Wajah Islam Indonesia ke Depan

Jakarta, ArrahmahMedia.Com - Pengguna internet di Indonesia termasuk tertinggi di dunia. Tapi portal-portal media Islam yang banyak beredar berkonten radikal. Sebab itu, perlu adanya konter narasi oleh portal-portal moderat.

Demikian disampaikan Direktur ArrahmahMedia.Com Savic Ali dalam Workshop Pencegahan Propaganda Radikal Terorisme di Dunia Maya di Jakarta, Kamis (23/3) Pagi.

Portal Islam Tentukan Wajah Islam Indonesia ke Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
Portal Islam Tentukan Wajah Islam Indonesia ke Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

Portal Islam Tentukan Wajah Islam Indonesia ke Depan

Hasil penelitian Direktur ArrahmahMedia.Com Savic Ali atas portal-portal media Islam menyimpulkan sedikitnya dua puluh website Islam di Indonesia dengan trafik tertinggi.? Ia mengelompokkan menjadi empat kategori warna, yakni merah, kuning, abu-abu dan hijau. Pertama, kategori merah merupakan portal yang berbahaya, sering mengampanyekan kekerasan dan menolak Pancasila.

Sedangkan yang berwana kuning itu media yang kontra terorisme tapi sering menggunakan jihad. Kategori ini juga suka menyerang kelompok-kelompok di luar Islam. Warna abu-abu itu tidak membahayakan, hanya bersifat konservatif, seperti wahabi. Kategori berwarna hijau itu konten properdamaian dan Islam kebangsaan.

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com

"Dari empat kategori warna itu yang pertama justru yang berwarna kuning. Selama tahun 2016 website yang moderat hanya bisa mencapai posisi kelima, yaitu ArrahmahMedia.Com. Ini tantangan masyarakat Indonesia ke depan," tegasnya.

Menurutnya, website Islam akan menentukan wajah Islam Indonesia ke depan. Sebab itu perlu konter narasi oleh website moderat seperti ArrahmahMedia.Com meskipun portal-portal keras ini sekarang sudah melunak dibanding tahun lalu. “Ini efek dari pemblokiran konten-konten radikal oleh Kominfo.”

"Tantangan kita jauh lebih besar. Karena kelompok radikal dan ekstrem masih mendominasi portal-portal keislaman di Indonesia. Kalau website didominasi oleh yang anti-Pancasila, maka bisa potensi berbahaya. Potensi radikalisme besar," jelasnya.

Ia menambahkan, mereka menanamkan pemikiran seolah-olah orang Islam dizalimi di tengah mayoritas masyarakat umat Islam. Selain itu, dicarikan fakta-fakta seolah mendukung hal itu. Misalnya, ada beberapa portal Islam yang sering memberitakan NU secara negatif.

"Media-media Islam sedang melakukan kontestasi pengaruh terutama media-media yang sentimen terhadap NU. Mereka menginginkan NU ditinggalkan masyarakat. Ini menjadi problem besar dalam dunia maya," tegasnya.

Pertemuan ini mendiskusikan perilaku netizen terhadap isu radikalisme dan intoleransi. Tampak hadir sebagai pembicara lainnya Drs Brigjen Pol Hamidin dan dari Komunitas Masyarakat Anti-Hoax Septiaji Eko Nugroho. (Suhendra/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Amalan, AlaSantri, Humor Islam ArrahmahMedia.Com

Selasa, 09 Januari 2018

Rais ‘Aam Harap PCINU Belanda Kembangkan Sertifikasi Halal di Eropa

Wageningen, ArrahmahMedia.Com

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Belanda menyelenggarakan seminar tentang “Halal Certification: Promoting Sustainability and Fairness in Halal Concept” di Wageningen University & Research, 23 Agustus 2017.

Rais ‘Aam Harap PCINU Belanda Kembangkan Sertifikasi Halal di Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais ‘Aam Harap PCINU Belanda Kembangkan Sertifikasi Halal di Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais ‘Aam Harap PCINU Belanda Kembangkan Sertifikasi Halal di Eropa

Acara yang diselenggarakan atas kerja sama dengan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Wageningen, Wageningen University & Research, dan didukung oleh Atdikbud KBRI Den Haag ini menghadirkan Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin sebagai pembicara utama (keynote speaker).

“Seminar ini dimaksudkan untuk mendiskusikan perkembangan sertifikasi halal di Indonesia dan di dunia secara umum,” ujar Rais Syuriah PCINU Belanda KH Nur Hasyim. Karena itu, seminar ini mengahdirkan pembicara dari berbagai lintas disipilin ilmu, agama, pangan, hukum, dan praktisi halal di Eropa.

ArrahmahMedia.Com

KH Ma’ruf Amin dalam ceramahnya menyampaikan materi tentang “The root of halalan tayyiban concept in Islamic tradition and its contextualisation in the modern world.”

Ia memulai dengan penjelasan tentang sejarah berdirinya lembaga sertifikasi halal di Indonesia yang dimulai sejak 1985. Ketika itu, menurutnya, terjadi keresahan di kalangan Muslim atas isu tercampurnya lemak babi dalam susu. Atas dasar ini, MUI kemudian melakukan sertifikasi halal terhadap makanan obat-obatan, dan kosmetik.

ArrahmahMedia.Com

KH Ma’ruf Amin menambahkan bahwa sertifikasi halal MUI tidak hanya dilakukan di Indonesia, tetapi di beberapa negara di Asia, Eropa, Australia dan Amerika. Selain itu, MUI memberi pengakuan terhadap lembaga-lembaga halal di dunia. Tidak kurang dari 50 lembaga halal di dunia memperoleh pengakuan dari MUI.

Sistem halal yang diterapkan MUI mengikuti paham yang paling ketat. Hal ini, menurutnya, didasarkan pada kaidah “halal itu jelas, haram itu jelas. Di antara itu, ada yang abu-abu (syubhat). Ia mencontohkan tentang perbedaan pendapat tentang status kehalalan binatang yang disembelih oleh non-Muslim.

Dalam kasus seperti ini, maka jelas bahwa MUI menganut pendapat yang lebih ketat dan hati-hati, yaitu mengharamkan.

Ia juga mengapresiasi atas terselenggaranya seminar ini dan berharap agar PCINU Belanda dapat mengambil peran untuk mengembangkan kajian sertifikasi halal di Eropa.

Katib Syuriah PCINU Belanda, M. Latif Fauzi, menyatakan bahwa “penguatan integrasi halal dan thayyib merupakan aspek terpenting yang ingin ditekankan dalam seminar ini”.

Ketika dikonfirmasi, ketua panitia seminar, Ahmad Sahri, menegaskan, tidak hanya aspek kehalalan saja, tapi keberlanjutkan (sustainability) dan kepatuhan pada standar keamananan pangan (fairness), menjadi isu penting sertifikasi halal dalam konteks masyarakat Eropa.” (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaSantri, Warta, Nusantara ArrahmahMedia.Com

CBP-KPP Paciran Rekrut Anggota Baru

Lamongan, ArrahmahMedia.Com. Corp Brigade Pelajar dan Korp Pelajar Putri Paciran mengadakan Pendidikan dan Pelatihan Tahap Pertama (Diklatama) di bumi perkemahan Ngebrak Tunggul, Lamongan, Kamis-Jumat (24-25/10). Sayap kepanduan IPNU-IPPNU ini melatih sedikitnya 70 kader baru utusan ranting dan komisariat sekecamatan Paciran.

CBP-KPP Paciran Rekrut Anggota Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
CBP-KPP Paciran Rekrut Anggota Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

CBP-KPP Paciran Rekrut Anggota Baru

Pelatihan dasar ini dipandu DKW CBP KPP Jatim. DKW CBP Jatim Komandan Jay mengatakan, diklatama ini adalah sebagai tahap pertama rekan dan rekanita untuk menjadi anggota CBP-KPP.

“Jumlah peserta kali ini terbilang besar untuk tingkatan anak cabang,” kata Jay, rekan IPNU asal Jember.

ArrahmahMedia.Com

Sepakat dengan Jay, Ketua IPNU Paciran Ruri menegaskan bahwa belajar tidak hanya di dalam ruangan. Di luar ruangan juga bisa belajar.

“Pada Diklatama yang bertepatan dengan pergantian tahun Hijriyah, peserta membaca bersama doa akhir dan awal tahun. Kita menutup doa untuk Indonesia ke depan lebih baik,” kata Ruri.

ArrahmahMedia.Com

Sementara Ketua IPNU Jatim Imam Fadli kader asal Paciran mengingatkan, pelajar NU dan anggota kepanduan IPNU-IPPNU ini memberikan sumbangsih besar dalam rangka kaderisasi.

“Pengurus IPNU-IPPNU Paciran perlu terus meningkatkan kuantitas dan kualitas kaderisasi,” tutup Imam. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaSantri ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 30 Desember 2017

Amalan agar Anak Bebas dari Perbuatan Zina Sepanjang Hidup

Pergaulan bebas semakin menghantui orang tua. Berbagai macam upaya lahir batin harus dilakukan dalam rangka memproteksi anak-anak supaya tidak terjerumus ke dalam lembah nista berupa zina.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, dalam syariat Islam zina muhshon (zina yang dilakukan orang yang pernah menikah) mempunyai level deretan hukuman tertinggi, eksekusinya sangat berat.

Amalan agar Anak Bebas dari Perbuatan Zina Sepanjang Hidup (Sumber Gambar : Nu Online)
Amalan agar Anak Bebas dari Perbuatan Zina Sepanjang Hidup (Sumber Gambar : Nu Online)

Amalan agar Anak Bebas dari Perbuatan Zina Sepanjang Hidup

Hukuman berat untuk orang yang melakukan zina muhshon adalah dilempari batu hingga meninggal. Ini jauh lebih berat dari pada qishas orang membunuh. Bagi pembunuh, walaupun ia berhak untuk dibunuh setelah melalui proses pengadilan, proses eksekusinya adalah dengan cara dipancung. Dipenggal lehernya, ia akan mati seketika atau hanya dalam hitungan menit. Tingkat sakitnya tentu lebih ringan daripada hukuman zina muhshon dengan dilempari batu yang proses matinya perlahan dan berdarah-darah. Wal iyadz billah.

ArrahmahMedia.Com

Upaya-upaya yang perlu dilakukan oleh orang tua, selain menjaga anak secara fisik ragawi, juga harus diusahakan menjaga mereka secara batin, termasuk doa dan ritual khusus ketika berhubungan suami istri, hamil, proses persalinan sampai anak bertumbuh kembang hingga dewasa. Doa selalu dibutuhkan sebagai penguat ruhaniyah.

Dalam hal persalinan, Syaikh Ibrahim Al Bajuri mengatakan bahwa anak yang baru lahir disunahkan untuk dibacakan adzan pada telinga bagian kanan dan iqamah pada telinga kiri. Hal penting ini tidak mempedulikan entah anak tersebut dilahirkan dari rahim wanita Muslimah atau tidak, anaknya tetap sunnah diadzani.

 

ArrahmahMedia.Com

 (? ? ? ?) ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ?.

Artinya: “(Dan disunahkan adzan) maksudnya meskipun (dilahirkan) dari wanita atau orang kafir. Adapun perkataan pengarang (Fathul Qarib) dibacakan adzan pada telinga anak yang kanan maksudnya juga dibacakan iqamah pada telinga kiri. Sebagaimana hadits Ibnus Sunni "Barangsiapa diberikan anugerah anak kemudian ia membacakan adzan di telinganya bagian kanan dan iqamah bagian kiri, anaknya tidak akan diganggu ummus shibyan, maksudnya adalah wanita pengikut jin atau yang terkenal dengan nama qarinah. Dan karena Rasulullah SAW membacakan adzan pada telinga Sayyid Husain saat dia dilahirkan oleh Fathimah alaihimas salam. Hadits ini diceritakan oleh At Tirmidzi. Menurut dia, hadits ini kualitasnya hasan shahih. (Lihat Ibrahim, Al Bajuri [Beirut: Darul Kutub Al Ilmiyah], vol. 2, h: 572)

Adzan iqamah ini, menurut Imam Al Bajuri, selain dalam rangka menghindarkan mereka dari gangguan wanita pengikut jin (ummus shibyan) atau qarinah (qarin perempuan) juga menjadi media pengenalan mereka pada tauhid sejak dini.

Jadi suara pertama kali yang dikenalkan kepada anak adalah kalimat tauhid sebagaimana kalimat terakhir yang perlu ditalqinkan kepada orang yang akan meninggal adalah kalimat La ilaha illah.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya: “Adzan ini merupakan media mengenalkan anak kepada tauhid (pengesaan Tuhan) di saat pertama kalinya diketukkan  pada telinga anak ketika dia datang di dunia sebagaimana talqin yang diajarkan pada waktu dia akan meninggalkan dunia. Sebab ada hadits yang mengatakan ‘talqinkan orang mati kalian dengan La ilaha illallah."

Selain mengutip hadits Rasul, Syaikh Ibrahim juga mengijazahkan sebuah amalan yang beliau dapat dari Syaikh Ad Dairobiy yang didapatkan dari para masyayikh atau guru-guru beliau, supaya anak yang baru lahir dibacakan surat Al Qadar (Inna Anzalnahu). Anak yang dibacakan ini tidak akan ditakdirkan oleh Allah akan melakukan zina sepanjang hayatnya.

? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?.

Artinya : Dikutip dari Syaikh Ad Dairobiy bahwa sunah untuk dibacakan pada telinga anak, surat Inna Anzalnahu. Sebab orang yang melakukan ini, Allah tidak akan menakdirkan dia zina sepanjang hidupnya. Ad-Dairobi berkata, demikianlah yang kami dapat dari para guru kami. (Lihat Ibrahim, Al Bajuri, [Beirut: Darul Kutub Al Ilmiyah], v:2, h: 572).

Kesimpulannya, bagi anak yang baru lahir dari rahim ibunya, selain dibacakan adzan pada telinga kanan dan iqamah di telinga kiri juga perlu dibacakan surat al-Qadr pada telinga bagian kanan.

Adapun yang membacakan tidak harus ayahnya sendiri. Terbukti, ketika lahirnya Husain, bukan Sayyidina Ali sebagai ayahnya yang membacakan adzan namun justru orang paling mulia dari antara mereka, yaitu Rasulullah SAW yang tidak lain adalah kakeknya. Wallahu alam. (Ahmad Mundzir)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaSantri, Internasional ArrahmahMedia.Com

Jumat, 29 Desember 2017

Pesan Ketua PWNU di Kopdar Netizen NU Jawa Barat

Bandung, ArrahmahMedia.Com. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat, KH Hasan Nuri Hidayatullah mengatakan jika keberadaan media sosial hendaknya dijadikan sebagai wasilah atau perantara untuk mencerdaskan masyarakat, terutama masyarakat dunia maya (Netizen).

"Diakui atau tidak hari ini sudah mulai banyak sekali perkembangan media sosial yang justru menimbulkan keresahan. Untuk itu kita harus bisa menggunakan media sosial tersebut menjadi manfaat untuk masyarakat," ujar Kiai Hasan dalam kegiatan Kopi Darat (Kopdar) Netizen NU Jawa Barat di Aula Dakwah PWNU, Jalan Terusan Galunggung, Kota Bandung, Kamis (19/1).

Pesan Ketua PWNU di Kopdar Netizen NU Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Ketua PWNU di Kopdar Netizen NU Jawa Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Ketua PWNU di Kopdar Netizen NU Jawa Barat

Dengan perkembangan media sosial tersebut, dirinya berharap kepada warga NU khususnya di Jawa Barat agar bisa melek dan tidak ketinggalan terhadap perkembangan modernisasi tersebut.

"Karena pada prinsipnya, perkembangan modernisasi dengan memanfaatkan media sosial tersebut bisa dijadikan sebagai wahana edukasi dan transformasi ilmu pengetahuan," ujar Pengasuh Pondok Pesantren As-Shidqiyah 3 Cilamaya, Karawang tersebut.

Dirinya juga mengimbau kepada seluruh elemen NU agar tidak mudah terprovokasi dengan perkembangan medsos yang meresahkan dan maraknya pemberitaan hoax.

ArrahmahMedia.Com

"Maraknya pemberitaan hoax, fitnah, caci maki dan ujaran kebencian janganlah kita membalasnya dengan melakukan hal yang sama. Kita harusnya bisa mencerminkan sebagai kaum terdidik sehingga ketika medsos ada ditangan kita, maka akan menjadi baik," tandasnya.

Untuk mencapai penguasaan media informasi tersebut, saat ini pihaknya telah memiliki website resmi PWNU Jawa Barat sebagai wahana transformasi dan edukasi serta ajang shilaturahmi seluruh warga NU di laman www.nujabar.or.id.

"Ini terbuka untuk seluruh warga NU. Silakan kirim tulisan dan informasi yang bermanfaat untuk dibaca. Adanya website tersebut untuk menambah wawasan dan khazanah keilmuan," pungkasnya.?

Hadir dalam kesempatan tersebut Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini, salah satu Ketua PBNU Robikin Emhas, Ketua LD PBNU KH Maman Imanulhaq, dan sejumlah kader NU di Jawa Barat. (Ade Mahmudin/Fathoni)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Lomba, AlaSantri ArrahmahMedia.Com

Kamis, 28 Desember 2017

GP Ansor dan Bagana Bantu Korban Banjir Mojoagung

Jombang,ArrahmahMedia.Com. Gerakan Pemuda Ansor Jombang mengirim bantuan korban Mojoagung dan Sumobito Jombang. Bantuan berupa susu dan mie instan langsug diserahkan kepada korban akibat luapan sungai Gunting Mojoagung, Jombang.

GP Ansor dan Bagana Bantu Korban Banjir Mojoagung (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor dan Bagana Bantu Korban Banjir Mojoagung (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor dan Bagana Bantu Korban Banjir Mojoagung

Komandan Satuan Koordinasi Cabang Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Subandi pada Jumat ? (21/2) malam mengatakan, bantuan berupa susu formula untuk makanan bayi, mie instan serta air mineral langsung diserahkan kerumah rumah warga yang mendapatkan musibah.

"Kita datang ke rumah warga d Desa Sanan dan Desa Betek Mojaogung untuk menyerahkan bantuan berupa kebutuhan bayi dan juga mie instan serta air, yang itu memang menjadi kebutuhan mereka,” ujarnya kepada ArrahmahMedia.Com.

ArrahmahMedia.Com

Di samping mengirimkan bantuan, lanjut Subandi, juga mengirimkan relawan Banser Tanggap Bencana (Bagana) yang sejak musibah banjir terjadi Kamis malam. Mereka membantu para warga dan pengungsi yang ada di RTH mojoagung.

ArrahmahMedia.Com

"Ada 10 relawan Bagana yang kita terjunkan ke lokasi sejak hari pertama banjir. Dan memang Bagana ini sudah menyatu dengan BPPD kabupaten Jombang dan selalu stanby on call ketika menghadapi bencana," imbuhnya.

Seperti didiketahui, banjir melanda tiga kecamatan di kota santri tersebut sejak Jumat dini hari. Banjir akibat luapan sungai menerjang tiga kecamatan, yakni Mojowarno, Mojoagung dan Sumobito.?

Akibat luapan air sungai ini, 3 desa di Mojowarno, 8 desa di Mojoagung dan beberapa desa di Sumobito terendam hingga satu meter. "Ketinggian air rata rata 70 centi meter. Bahkan ada yang 2 meter lebih," ujar Kepala BPPD Nur Huda mengatakan.

Tak hanya itu, beberpa fasilitas pemerintah seperti sekolah, Kantor Pos, dan Polsek terendam dan sedikitnya 1000 warga mengungsi. Mereka menempati masjid-masjid dan sebagian berada di ruang terbuka hijau (RTH) depan masjid Jami’ Mojoagung. (Muslim Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaSantri, Makam ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 16 Desember 2017

Ikhtiar Mencari Sistem Lembaga Keuangan yang Sesuai Iklim NU

Oleh Muslimin Abdilla



Pada periode kepengurusan 2012-2017, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang menyusun program kerja lima tahunan. Salah satu kegiatan dalam program tersebut adalah mendirikan lembaga keuangan (moneter), yang secara teknis dilaksanakan oleh Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU), salah satu departemen dalam kepengurusan PCNU Jombang yang bergerak dalam kegiatan ekonomi.

Ikhtiar Mencari Sistem Lembaga Keuangan yang Sesuai Iklim NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikhtiar Mencari Sistem Lembaga Keuangan yang Sesuai Iklim NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikhtiar Mencari Sistem Lembaga Keuangan yang Sesuai Iklim NU

Program fasilitasi pendirian lembaga keuangan di lingkungan PCNU Jombang merupakan program yang sangat riskan, kalau tidak bisa dikatakan sebagai program yang cukup ambisius. Kenapa? Karena dalam sejarah fasilitasi pendirian lembaga keuangan oleh perangkat PCNU Jombang pernah mengalami kegagalan, dan defisit kepercayaan kepada lembaga keuangan yang didirikan dan dimiliki oleh warga NU secara organisasi cukup nyata. Hal ini dibuktikan dengan: jangankan warga NU, pengurus NU sendiri saja mayoritas tidak percaya kepada lembaga keuangan yang didirikan dan difasilitasi oleh NU.

ArrahmahMedia.Com

Ketidakpercayaan itu bisa dilihat dari masih ragu-ragunya pengurus NU untuk menyimpan dananya di lembaga keuangan yang diinisiasi oleh NU. Takut dana yang disimpan atau diinvestasikan akan sirna, dan tidak jelas ke mana larinya, dan lembaga keuangannya bubar tanpa pertanggungjawaban. Ketidakpercayaan ini pantas menghinggap di kalangan pengurus sendiri, karena mereka mungkin pernah mengalami atau menyaksikan sendiri bagaimana lembaga keuangan NU dikelola di masa lalu.

Dari defisit kepercayaan yang akut seperti inilah, program fasilitasi pendirian lembaga keuangan, yang selanjutnya berbentuk Baitul Mal wat Tamwil Nahdlatul Ulama (BMTNU) Jombang, mulai dijalankan. Pengurus Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Cabang Jombang direkrut dari orang-orang yang selama ini bergelut dalam bidang keuangan lembaga sosial dan bankir lembaga keuangan. Ditopang oleh dua perpaduan keahlian ini, BMTNU Jombang mulai menyusun visi, misi, tujuan dan program melalui perencanaan strategis, serta dilengkapi dengan aturan teknis standard operational procedures (SOP).

Berbekal perangkat-perangkat tersebut, BMTNU yang secara hukum berbentuk Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) mulai merekrut anggota dan dideklrasikan, selanjutnya melakukan rekruitmen staf: mulai dari direktur, bagian administrasi sampai bagian marketing dan collecting. Pada awal pendirian, direktur langsung dirangkap oleh sekretaris Pengurus LPNU Jombang, dengan pertimbangan dia memiliki pengalaman sebagai seorang bankir BPRS.

ArrahmahMedia.Com

Yang perlu ditegaskan di sini adalah, dalam pendirian lembaga keuangan yang berbentuk koperasi ini, LPNU sebagai pelaksana program PCNU hanyalah memfasilitasi pendirian. Karena koperasi merupakan lembaga/organisasi tersendiri yang berbeda dengan NU dan tidak di bawah kendali NU, tetapi berada dalam kekuasaan anggota, meskipun dalam klausul di aturannya bisa ditambahkan tentang hubungan (relasi) koperasi ini dengan NU.

Dalam menjalankan BMTNU, pengurus dan manajemen tidak mengambil referensi atau adopsi sistem dari manapun. Memang sedari awal diniati bahwa pendirian BMTNU ini adalah sebagai upaya pembelajaran bersama. Semua perencanaan, pelaksanaan, monitoring-evaluasi dan pengambilan keputusan dianggap sebagai proses pembelajaran. Karena proses pembelajaran, maka semua orang yang terlibat harus berniat belajar dan bisa menarik pelajaran dalam mengelola lembaga keuangan yang sesuai dengan iklim di Nahdlatul Ulama.

Hal ini juga didasari oleh pengetahuan yang ada bahwa, sampai saat ini Nahdlatul Ulama secara organisasi belum memiliki sistem lembaga keuangan yang sudah dijalankan secara nasional. Beberapa Pengurus Cabang atau Pengurus Wilayah sedang berikhtiar untuk menemukan sistem lembaga keuangan yang pas bagi Nahdlatul Ulama. Yang terpenting, dalam memfasilitasi pendirian BMTNU ini benar-benar diputuskan secara organisasi dan karena itu difasilitasi NU dalam pendiriannya, tidak diputuskan dan didirikan oleh orang per-orang pengurus NU, dan selanjutnya secara mayoritas sahamnya dikuasai oleh orang per-orang tersebut.

Dalam perjalanannya, pengelolaan BMTNU Jombang yang menghimpun warga Nahdlatul Ulama dalam upaya membangun kondisi ekonomi yang lebih baik mampu mengambil pelajaran-pelajaran yang dikumpulkan dalam analisis: Selama ini BMTNU Jombang sudah mampu memenuhi kebutuhan dasar anggota dalam menyediakan pemodalan. Sehingga akses kepada sumber permodalan bisa tercapai. Upaya ini mampu meningkatkan kebersamaan warga Nahdlatul Ulama dalam meningkatkan kapasitas dalam bidang ekonomi, yang selanjutnya mengarah pada upaya membangun perbaikan dan keadilan dalam bidang ekonomi.

Namun yang paling penting dalam menjalankan BMTNU ini adalah sebagai salah satu ikhtiar dari berbagai ikhtiar dalam mencari sistem lembaga keuangan yang sesuai dengan iklim Nahdlatul Ulama. Karena iklim yang ada di lingkungan Nahdlatul Ulama bisa berbeda dengan iklim yang ada di organisasi lain.

* Sekretaris PCNU Jombang

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaSantri ArrahmahMedia.Com

Rabu, 13 Desember 2017

Cara Bersuci Bagi Pengidap Beser dan Istihadhah

Fikih Islam amat memperhatikan aturan ibadah sehingga benar-benar dijelaskan secara detail menyangkut keadaan-keadaan seorang Muslim. Segala ibadah yang bersifat mahdlah, seperti shalat, membaca Al-Quran, puasa, tidak lepas dari syarat sahnya yaitu tidak berhadats.

Kita mengenal ada dua jenis hadats. Pertama, yang mewajiban seseorang berwudhu, yang disebut hadats kecil. Kedua adalah hadats yang mewajibkan seseorang mandi, yang disebut dengan hadats besar.

Cara Bersuci Bagi Pengidap Beser dan Istihadhah (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Bersuci Bagi Pengidap Beser dan Istihadhah (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Bersuci Bagi Pengidap Beser dan Istihadhah

Hal-hal yang menyebabkan wudhu, salah satunya adalah keluarnya sesuatu dari dua jalan kemaluan, yaitu qubul dan dubur. Terkecuali dari hal ini adalah keluarnya mani serta darah haid dan nifas, yang mewajibkan mandi janabat. Selain itu, jika seseorang buang air, kentut, atau keluar darah yang bukan dalam masa haid atau nifas, maka ia wajib berwudhu ketika akan melakukan shalat, thawaf, atau hendak memegang mushaf.

ArrahmahMedia.Com

Ternyata para fuqaha terdahulu sudah mengamati keadaan masyarakat yang memiliki permasalahan dalam ibadah. Masalah ini terjadi pada orang-orang yang mengidap salisul baul, yaitu terus menerus mudah keluar air seni atau beser, serta perempuan yang mengidap istihadhah.

ArrahmahMedia.Com

Masalah yang terjadi pada dua keadaan ini setidaknya adalah permasalahan hadats dan najis. Ketika keluar kencing maupun darah, maka otomatis ia berhadats. Sayangnya keadaan ini tak bisa ditahan-tahan sebagaimana orang lumrahnya yang sehat. Selain mudah berhadats, ketika shalat, darah dan air seni yang keluar tersebut akan membuat orang yang shalat membawa najis. Hal ini tentu membatalkan shalat. Maka dua golongan ini dikategorikan sebagai orang-orang yang senantiasa berhadats (dâimul hadats).

Ulama memberikan tatacaranya sebagai berikut, sebagaimana dikutip dari Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhabil Imamis Syafi‘.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Perempuan yang mengalami istihadhah membersihkan dahulu darahnya, kemudian membalut/menutup jalan keluar darah, dan berwudhu setiap kali hendak shalat fardhu.”

Rasulullah pernah menyebutkan hal ini dalam hadits, diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah RA.

? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? - ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? - "? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Suatu ketika Fatimah binti Abi Hubaisy mendatangi Nabi, kemudian berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku mengalami istihadhah, dan aku (selalu) tidak dalam keadaan suci. Apakah aku tinggalkan shalat?’ Rasul SAW menjawab, ‘Tidak, sungguh itu (darah yang keluar) adalah penyakit, bukan bagian dari haid. Ketika kamu mendapati haid, maka tinggalkanlah shalat. Tetapi jika masanya sudah selesai, maka basuhlah darah itu, kemudian shalatlah.’”

Kisah ini sebagaimana dalam Irsyadus Sari syarah Shahih Al-Bukhari karya Imam Al-Qasthalani menyebutkan bahwa Fatimah binti Abi Hubaisy ini menyangka bahwa darah yang keluar setelah masa haidnya tersebut adalah masih merupakan bagian dari haid, dan disangkanya bahwa ia tidak diwajibkan shalat. Nabi tetap menyuruhnya untuk shalat, tetapi dengan menyucikan dulu darah yang keluar dan selanjutnya melakukan wudlu sebagaimana hendak shalat.

Hal ini pun diserupakan bagi pengidap beser. Beser terjadi kebanyakan karena penurunan fungsi otot-otot yang mengendalikan pengeluaran air seni dari kandung kemih sehingga mudah berhasrat buang air kecil, dan air seni menetes dari qubul. Karena sering dan mudah sekali keluar air seni, maka setelah buang air kecil, alat kelamin ditutup atau ditahan agar tidak meneteskan air seni ke sarung, segera berganti sarung yang suci, kemudian bergegas berwudhu untuk setiap shalat fardhu.

Dalam perkembangannya, dikenal juga orang-orang yang mudah kentut dan keluar kotoran dari dubur. Cara bersuci dan berwudhu ketika hendak shalat juga sama. Kotoran yang ada di jalan belakang dibersihkan dahulu, kemudian segera berwudhu tiap shalat fardhu dan mengenakan pakaian yang suci saat hendak shalat.

Demikianlah tatacara yang bisa dilakukan agar seseorang tetap bisa melakukan ibadah dengan sah, suci dari hadats dan najis akibat air seni atau darah. Penting diperhatikan bahwa pengidap istihadhah dan beser ini tetap berkewajiban untuk shalat. Wallahu a‘lam. (M Iqbal Syauqi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sholawat, Ubudiyah, AlaSantri ArrahmahMedia.Com

Rapat Koordinasi, Sejumlah Kegiatan Disiapkan LTN Jatim

Surabaya, ArrahmahMedia.Com - Sejumlah program yang dapat direalisasikan Pengurus Wilayah Lembaga Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (PW LTN NU) Jawa Timur dibahas intensif pada Ahad (17/1). Diharapkan dari koordinasi ini banyak peluang dan kegiatan yang bisa menyapa warga serta manfaatnya dapat dirasakan khalayak.

"Ada 5 program yang telah disepakati pada rapat yang berlangsung sejak pagi hingga petang kemarin," kata Ahmad Najib AR kepada ArrahmahMedia.Com, Senin (18/1). Kelima program tersebut dari mulai menejemen organisasi, media informasi dan publikasi, pembinaan dan kepustakaan, penerbitan dan usaha, serta riset dan pengembangan, lanjutnya.

Rapat Koordinasi, Sejumlah Kegiatan Disiapkan LTN Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Rapat Koordinasi, Sejumlah Kegiatan Disiapkan LTN Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Rapat Koordinasi, Sejumlah Kegiatan Disiapkan LTN Jatim

Gus Najib, sapaan akrabnya juga menandaskan bahwa di menejemen organisasi bersifat konsolidasi internal, memanfaatkan jaringan dengan kepengurusan di kota dan kabupaten se Jawa Timur hingga memanfaatkan koordinasi dengan kepengurusan di tingkat PP LTN NU di Jakarta.

"Untuk media informasi dan publikasi ada dua pekerjaan besar yang dilakukan yakni mengoptimalkan keberadaan website kitabkuning.net serta workshop media sosial," kata alumnus pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

ArrahmahMedia.Com

Dalam waktu dekat, PW LTN NU Jatim yang dipandegani oleh program pembinaan dan kepustakaan akan melangsungkan lomba karya tulis ilmiah. "Temanya sedang kami persiapkan," katanya. Dari kegiatan ini diharapkan juga akan lahir buku sebagai bunga rampai gagasan peserta lomba, lanjutnya.

Pertengahan tahun depan juga sudah disiapkan usaha penerbitan sekaligus percetakan sebagai penopang kebutuhan keuangan lembaga. "Yang pasti, untuk penerbitan sudah disepakati," kata Gus Najib. Sedangkan untuk percetakan karena membutuhkan mesin yang memadai, masih menunggu kepastian dari sejumlah pihak yang telah menyediakan kesempatan tersebut, lanjutnya.

ArrahmahMedia.Com

Sedangkan terakhir adalah terkait dengan riset dan pengembangan yang mendapat sejumlah masukan dari peserta rapat. "Kegiatan ini memang penting sebagai sarana menghimpun dan mengkonsolidir intelektual dan peneliti NU yang berorientasi pada kemajuan jamiyah," terangnya. Devisi ini juga akan mengakomodir keinginan kuat para tenaga pendidik dan dosen yang membutuhkan jurnal sebagai media untuk menyampaikan gagasan demi memperbaiki kondisi yang lebih baik.

Yang membanggakan, pada rapat yang berlangsung di aula PWNU Jatim tersebut, sejumlah pengurus berkenan hadir. "Walau ada yang dari luar kota, antusias mereka sangat membanggakan," kata Gus Najid. Termasuk kehadiran mantan Ketua PW LTN NU periode sebelumnya yakni? Dr H Syahid yang juga Dekan Fakultas Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Santri, AlaSantri, Syariah ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 09 Desember 2017

Pesantren Al-Muayyad Bangun Gedung Tahfidz Al-Quran

Solo, ArrahmahMedia.Com. Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta yang merupakan pesantren Al-Qur’an tertua di Solo saat ini tengah membangun gedung baru, yang rencananya dipakai untuk madrasah tahfidzul Qur’an.

Pesantren Al-Muayyad Bangun Gedung Tahfidz Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Muayyad Bangun Gedung Tahfidz Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Muayyad Bangun Gedung Tahfidz Al-Quran

“Pembangunan gedung baru sudah sampai lantai tiga dan saat ini  tengah dilakukan pengecoran lantai  empat,” ujar Khoirudin salah satu pengurus Pesantren saat dihubungi, Kamis (9/1).

Gedung baru tersebut terletak di komplek Pesantren Al-Muayyad yang tepatnya berada di belakang gedung Madrasah Aliyah. “Dulunya tempat ini merupakan kediaman ustadz/ustadzah pesantren, namun karena tidak ada lahan lain untuk membangun gedung baru akhirnya kediaman ustadz/ustadzah dipindahkan,” imbuhnya.

ArrahmahMedia.Com

Senada dengan Khoirudin, salah seorang pengurus pesantren, Umi Hanifah, menjelaskan bahwa banyaknya santri yang minat untuk melanjutkan ke program tahfidz (hafalan al-Quran) menjadi salah satu latar belakang didirikannya gedung baru.

“Sekarang banyak santri baru maupun santri lama yang ketika jenjang Aliyah melanjutkan ke program tahfidz sehingga butuh gedung baru untuk memfasilitasinya” paparnya.

ArrahmahMedia.Com

Sedangkan dana untuk pembangunan diperoleh melalui program gerakan wakaf madrasah tahfidzul Qur’an yang dilakukan oleh alumni. Umi berharap agar pembangunan dapat berjalan lancar, sukses, dan berkah. (Ahmad Rosidi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Pertandingan, AlaSantri ArrahmahMedia.Com

Rabu, 06 Desember 2017

Fatayat NU Harus Mampu Bentengi Pemudi dari Aliran Radikal

Probolinggo, ArrahmahMedia.Com - Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi Saifullah menyatakan bahwa Fatayat NU sebagai organisasi basis pemudi NU harus bisa maju dan berkembang dalam membentengi kaum pemudi dari arus perkembangan zaman dan aliran-aliran radikal yang marak beredar akhir-akhir ini.

Hal tersebut disampaikan Kiai Abdul Hadi Saifullah dalam puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-67 Fatayat NU sekaligus peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang digelar Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Probolinggo di Gedung Djojolelono Kabupaten Probolinggo, Sabtu (29/4).

Fatayat NU Harus Mampu Bentengi Pemudi dari Aliran Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Harus Mampu Bentengi Pemudi dari Aliran Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Harus Mampu Bentengi Pemudi dari Aliran Radikal

“Saya sangat mengapresiasi pengurus Fatayat NU Kabupaten Probolinggo dengan melaksanakan Harlah Fatayat NU ke-67 yang sekaligus memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW sebagai hari ulang tahun sholat lima waktu. Insya Allah ada hikmah yang besar dibalik keduanya,” katanya.

ArrahmahMedia.Com

Lebih lanjut Kiai Abdul Hadi meminta kalau bisa PC Fatayat NU melakukan turba (turun ke bawah) ke Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan ranting secara bergiliran dengan tempat yang telah ditentukan namun harus diplanning dengan baik. ?

“Selain itu sebagai ajang belajar bersama untuk memperkuat keislaman dengan ngaji bareng penceramah. Semoga melalui kegiatan ini akan membangkitkan ghiroh para pengurus Fatayat NU untuk selalu berkiprah dalam khazanah ilmiyah, Islamiyah dan membangun peradaban,” tegasnya.

ArrahmahMedia.Com

Sementara Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Probolinggo Elysa Chandra Maya menyampaikan bahwa tujuan kegiatan ini untuk menjalin silaturrahim seluruh pengurus PC, PAC hingga Ranting Fatayat agar bisa bersambung dengan baik. “Karena hanya dengan sambungan itulah kemaslahatan ukhuwah bisa bermakna,” ungkapnya.

Lisa berharap melalui kegiatan-kegiatan Fatayat NUmampu membentuk pemimpin perempuan cerdas yang bisa mengaplikasikan Islam Nusantara dalam kehidupan bermasyarakat dengan tetap berpegang pada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

“Peningkatan ekonomi produktif melalui pelatihan-pelatihan kita bersinergi dengan instansi terkait yang harapannya dapat memberdayakan sahabat muda Fatayat NU berkreativitas dan mandiri berdaya saing sehat disegala sektor pembangunan,” tegasnya.

Kegiatan ini diikuti 700 undangan terdiri dari pengurus PC Fatayat NU mulai tingkat cabang, anak cabang hingga ranting. Serta perwakilan pengurus PCNU dan MWCNU baik pengurus lembaga dan badan otonom (banom) di Kabupaten Probolinggo.

Harlah dan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW ini diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dilanjutkan dengan pembacaan Sholawat Nahdiyyah dan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Fatayat serta Ya Ahlal Wathon. Lantunannya mampu membuat khidmat para undangan bahkan ada sebagian diantara mereka yang meneteskan air mata. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nusantara, Sunnah, AlaSantri ArrahmahMedia.Com

Senin, 04 Desember 2017

Raih Doktor Setelah Kupas Kepemimpinan Perempuan di Pesantren

Pamekasan, ArrahmahMedia.Com. Kualitas dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan, Jawa Timur, terus dipertajam. Saat ini, jumlah doktor yang mengabdi di dalamnya sudah 22 orang. Menyusul doktor ke-23, Dr. Hj. Mariatul Qibtiyah Harun AR.

Raih Doktor Setelah Kupas Kepemimpinan Perempuan di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Raih Doktor Setelah Kupas Kepemimpinan Perempuan di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Raih Doktor Setelah Kupas Kepemimpinan Perempuan di Pesantren

Dosen tetap program studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah STAIN Pamekasan tersebut, menjalani ujian terbuka disertasi, Kamis (4/12) di UIN Sunan Ampel Surabaya. Bu Maria, begitu ia akrab disapa, mampu mempertahankan disertasinya di hadapan tim penguji yang diketuai Prof. Dr. H. Abd. A’la Basyir.

Dalam disertasinya, Bu Maria mengupas tuntas seputar kepemimpinan perempuan. Ia menggali peran perempuan dalam jejaring kekuasaan di pondok pesantren Aqidah Usymuni Tarate, desa Pandian, kecamatan/kabupaten Sumenep.

ArrahmahMedia.Com

Dalam penelitiannya, Bu Maria menggunakan pendekatan kualitatif yang mengungkap dan menformulasikan data lapangan dalam bentuk narasi verbal yang utuh dan mendiskripsikan realitas aslinya untuk kemudian data tersebut dianalisis. Jenis penelitiannya, berkatagori penelitian kasus.

ArrahmahMedia.Com

Bu Maria, dalam disertasinya, mengetengahkan peran dua perempuan yang mampu memimpin serta memajukan pesantren secara baik, yaitu Aqidah Usymuni dan Dewi Kholifah. Keduanya dapat menunjukkan jejaring kuasa perempuan untuk menembus ruang yang didominasi laki-laki. Dua sosok perempuan tersebut mempunyai kekuatan (power) dan strategi atau taktik yang tidak banyak dimiliki perempuan lain.

Tak hanya itu, peran kepemimpinan Aqidah Usymuni dan Dewi Khalifah juga diungkap secara gamblang. Peran keduanya cukup inovatif: mengembangkan manajemen pesantren; mengembangkan pendidikan baik formal, informal, dan non formal; pemberdayaan perempuan melalui NGO; dan aktif dalam politik praktis.

Tipologi dan hasil kepemimpinan perempuan di pesantren Aqidah Usymuni, tidak luput dari bidikan Bu Maria. Diketahui, kepemimpinan Aqidah Usymuni dan Dewi Khalifah adalah kepemimpinan kharismatik dan kolektif.

Sedangkan hasil atau dampak kepemimpinan perempuan, dalam penelitian Bu Maria, mengarah pada tiga hal:? kesadaran masyarakat tentang keadilan gender, membentuk sikap dan perilaku mandiri, dan membentuk keharmonisan sosial masyarakat.

Penelitian yang kemudian diterjemahkan ke dalam wujud disertasi oleh Bu Maria tersebut, tampak sangat ‘matang’. Sebab, selain keasliannya sudah teruji, juga diperkuat dengan 228 referensi. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaSantri ArrahmahMedia.Com

Rabu, 22 November 2017

Rumah Sakit NU Didorong Kikis Komersialisasi Berobat di RS

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Dewan Penasihat Asosiasi Rumah Sakit Nahldatul Ulama (ARSINU) Daeng M Faqih, mengatakan ada beberapa persoalan dalam penyelenggaraan layanan kesehatan melalui rumah sakit.?

Rumah Sakit NU Didorong Kikis Komersialisasi Berobat di RS (Sumber Gambar : Nu Online)
Rumah Sakit NU Didorong Kikis Komersialisasi Berobat di RS (Sumber Gambar : Nu Online)

Rumah Sakit NU Didorong Kikis Komersialisasi Berobat di RS

“Rumah sakit dapat dikatakan sebuah entitas yang padat modal karena memerlukan modal yang besar; padat tenaga karena memerlukan tenaga ahli seperti dokter, perawat, dan bidan,” kata Daeng dalam diskusi “Peluang Rumah Sakit Jejaring ARSINU sebagai Wahana Internship”.?

Diskusi tersebut digelar menjelang Pelantikan dan Rapat Kerja Asosiasi Rumah Sakit NU (ARSINU), di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (6/12) siang.

Hal itu menyebabkan tingkat kesulitan yang luar biasa, baik dalam membangun maupun membina rumah sakit. Daeng menambahkan tingkat kesulitan ditambah lagi oleh padatnya masalah.?

“Saya melihat adanya dua hal sebagai padat masalah. Pertama pengharapan masyarakat dan apa yang terjadi di rumah sakit tidak sama. Siapa pun orangnya dan di rumah sakit mana pun, pasti berharap kalau masuk rumah sakit bisa sembuh sempurna,” kata Daeng.

ArrahmahMedia.Com

Padahal, kata Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), kebanyakan di rumah sakit tidak sama dengan harapan masyarakat. Namun, tugas dokter dan rumah sakit memang memberikan pertolongan.

“Ada pasien yang selamat tapi tidak sembuh sempurna ataupun masih ada sisa-sisa dari perawatan,” ujar Daeng.

ArrahmahMedia.Com

Persoalan kedua adalah persespi rumah sakit dengan dengan masyarakat yang berbeda. Misalnya bila pihak rumah sakit ingin melakukan observasi terhadap pasien, masyarakat menganggap bahwa pasien tersebut dibiarkan saja. Juga bila ada dokter yang mengajak pasiennya mengobrol, dianggap hanya mengobrol saja.

Hal lainnya adalah adanya kekrtitisan masyarakat, karena rumah sakit yang ada banyak yang mementingkan komersial, sehingga untuk berobat ke rumah sakit harus mengeluarkan dana yang besar.

Persoalan-persoalan tersebut sesunggunya adalah peluang, termasuk bagi rumah sakit NU. Lembaga sosial keagamaan seperti NU, sebut Daeng, salah satunya berfungsi membina umat. Dengan jumlah warga NU yang banyak, maka peluang pendirian rumah sakit NU juga lebih banyak.?

“Tinggal bagaimana caranya. NU potensi banyak. Warganya juga banyak. Jangan sampai yang sakit kita (warga NU) yang membina justru orang lain. NU jangan kalah dengan yang lain,” tegas Daeng.

Ia pun mempertanyakan mengapa warga NU banyak yang memaanfaatkan rumah sakit non-NU yang didesain komersial dan lebih mahal.?

Daeng mengatakan, pihaknya melalui IDI dapat membantu penyediaan tenaga medis. Kehadiran rumah sakit NU diyakini akan berperan dalam mengatasi persoalan komersialiasi dan mahalnya biaya berobat di rumah sakit. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com AlaNu, AlaSantri ArrahmahMedia.Com

Selasa, 14 November 2017

Anggota Formatur Pembentukan Pengurus NU Pertama

Banyuwangi sebagai salah satu basis masyarakat santri di Tapal Kuda (pesisir timur pulau Jawa) menyimpan berbagai kisah heroik yang belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Dan sebagai daerah yang cukup jauh dari pusat kekuasaan, Banyuwangi menyimpan kharismanya sendiri. Banyuwangi merupakan salah satu daerah yang terkenal dengan kesaktian para kyainya. Salah satu di antara kyai-kyai sakti tersebut adalah KH Saleh Lateng, salah seorang pendekar sakti keturunan raja-raja Palembang Sumatera.

Sejarah Keluarga. Pada kisaran perempat perteama abad ke-19, Kerajaan Palembang Darussalam telah kehilangan kendali atas wilayahnya sendiri. Sultan Najamuddin dibuang oleh Belanda ke Banda Aceh dan pemerintahan palembang dikendalikan oleh seorang Residen Belanda. Banyak para bangsawan menyingkir keluar daerah, salah satunya adalah Kiagus Abdurrakhman, kakek Kyai Saleh Lateng. Kiagus Abdurrakhman ini kemudian menetap di Sumenep dan menikah dengan seorang perempuan setempat bernama Najihah. Pernikahan ini dikaruniai tiga orang anak. Namun hanya seorang yang kemudian meneruskan silsilah keturuanan, yakni Kiagus Abdul Hadi –ayahanda Kyai Saleh, yang kemudian pindah dan menetap di Banyuwangi.

Anggota Formatur Pembentukan Pengurus NU Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)
Anggota Formatur Pembentukan Pengurus NU Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)

Anggota Formatur Pembentukan Pengurus NU Pertama

Terlahir di Kampung Mandar Kota Banyuwangi pada hari Ahad, 6 Ramadhan 1278 H. bertepatan dengan 07 Maret 1862 M. dengan nama Kiagus Muhammad Saleh. Ibunya berasal dari Panderejo Banyuwangi bernama Aisyah. Nama Kyai Saleh ini yang terkenal selama hidup hingga sepeninggalnya. Meski setelah berhaji, namanya berganti menjadi H Muhammad Syamsuddin, namun dalam keseharian Beliau selalu menuliskan namanya dengan Saleh saja. Dengan demikian ia tetap dikenal oleh masyarakat sebagai Kyai Saleh saja.

ArrahmahMedia.Com

Banyuwangi pada masa kecil Kiagus Muhammad Saleh berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, baik dari sisi material maupun secara spiritual. Rakyat miskin akibat penjajahan dan suasana pertengkaran antar kelompok masyarakat menjadikan suasana semakin menakutkan. Gank-gank yang terbukti tidak berdaya melawan kekuatan asing, saling terlibat permusuhan dan pertikaian untuk menaikkan gengsi pribadi dan golongan. Belum lagi hasutan politik adu domba Belanda yang menjadikan kondisi ini terus berlarut-larut.

ArrahmahMedia.Com

Kendati terlahir di tengah kemerosotan moral masyarakat, namun masa kecil Kiagus Muhammad Saleh dilalui dengan cara-cara sangat islami. Sedari kecil Muhammad Saleh belajar mengaji kepada ibu dan bapaknya, serta lingkungan keluarganya. Pada usia remaja Saleh mulai belajar mengaji ke luar daerah. Pada usia 15 tahun, Saleh mondok di Kyai Mas Ahmad, Kebon Dalem, Surabaya. Tak lama kemudian, ia meneruskan pelajarannya ke Bangkalan Madura, kepada Kyai Kholil. Di Bangkalan ini, Saleh menjadi khodim (pelayan) Kyai Kholil. Termasuk bersedia menemani anak Kyai kholil, Hasan mencari uang, untuk keperluan berangkat Haji.

Selama di bangkalan ini pula Saleh belajar berbagai ilmu, termasuk ilmu-ilmu kesaktian yang kelak akan digunakan secara langsung untuk memperbaiki masyarakatnya. Selain di Bangkalan, Saleh juga meneruskan pencarian ilmunya hingga ke Bali, yakni kepada Tuan Guru Muhammad Said Jembrana, Bali.?

Selepas menuntut ilmu di Bali, Saleh bertekad meneruskan pelajarannya ke Tanah Suci. Saleh menghabiskan masa belajarnya di Mekkah selama enam tahun sebelum diminta pulang oleh gurunya, Kyai Kholil Bangkalan. Kala itu, selain belajar, Saleh juga telah mengembangkan ilmunya kepada para pelajar lainnya di sana. Saleh telah membuka pengajian di Mekkah dengan menggunakan empat bahasa. Namun Saleh meminta waktu satu tahun lagi untuk Belajar di sana. Permintaan ini pun diijinkan oleh gurunya tersebut.

Setahun kemudian, kira-kira tahun 1900 M. sekitar umur 38 tahun, Kiagus Saleh kembali ke kampung halamannya di Banyuwangi. Kiagus Saleh kemudian menetap di kampung Lateng Banyuwangi, dan selanjutnya terkenal sebagai Kyai Saleh Lateng. Kyai Saleh secara resmi mendapatkan ijin mengajar di langgarnya di Lateng dari Bupati Banyuwangi, Koesoemonegoro pada 4 Maret 1909 M. Dari sinilah Beliau mulai mengabdikan dirinya untuk perbaikan kualitas masyarakat Banyuwangi. Sedikit-demi sedikit, wilayah dakwahnya semakin meluas hingga ke seluruh penjuru Banyuwangi.

Dalam pengajaran kepada murid-muridnya, Kyai Saleh Lateng sangat menjunjung sikap tegas terhadap penjajahan. Ia sering berpesan kepada santri-santrinya untuk berusaha keras menjadi orang pintar agar tidak terus dijajah oleh bangsa lain. Selain mengajarkan ilmu-ilmu agama, Kyai Saleh juga mengajarkan kesaktian-kesaktian yang dipelajarinya sejak mondok di Bangkalan. Dengan demikian, murid-murid Kyai Saleh bukan hanya terdiri dari kaum santri yang taat beribadah. Melainkan juga para jagoan dan bromocorah-bromocorah setempat yang ingin menambah kesaktian. Sehingga banyak sekali algojo dan tanjak seblang di seluruh wilayah Banyuwangi yang menjadi santrinya.

Dari sinilah kemudian Kyai Saleh lateng muncul sebagai tokoh pemersatu masyarakat Blambangan. Kelompok-kelompok yang tadinya bertikai, mulai disatukan dengan alasan sesama murid dari lateng dilarang saling bermusuhan. Lambat laun para jagoan lokal dan para penyamun jalanan mulai menghentikan operasinya, karena mematuhi perintah Kyai Saleh Lateng. Semboyan “satu guru jangan saling mengganggu” rupanya mampu meredam perpecahan di antara masyarakat Banyuwangi kala itu. Sebagai sesama murid Kyai Saleh Lateng, mereka mulai menghentikan pertikaian dan permusuhan.

Kepada masyarakatnya, Kyai Saleh sangat mengayomi dan membuka konsultasi seluas-luasnya. Mengedepankan saling silaturrahim dan mendamaikan mereka yang sedang terlibat pertengkaran. Dengan demikian berangsur-angsur terbangunlah persatuan dan kesatuan Banyuwangi.

Kehidupan Keorganisasian. Sebagai salah satu tokoh kunci persatuan masyarakat Banyuwangi, Kyai Saleh memegang peranan cukup penting dalam membidani kelahiran Nahdlatul Ulama (NU), terutama di Wilayah Blambangan. Demi menyambung perjuangan keagamaan dan perjuangan kemerdekaan pada taraf yang lebih luas, Kyai Saleh bergabung dengan para ulama dari daerah lain. Baik melalui jaringan pertemanan sewaktu masih menjadi santri di Surabaya dan Madura maupun jalinan persaudaraan dengan teman-temannya selama menuntut Ilmu di Tanah Suci.

Dalam berorganisasi, Kyai Saleh Lateng bergabung dengan Sarekat Islam. Pada tahun 1913 Beliau memimpin Rapat Umum Sarekat Islam yang diadakan di Kawedanan Glenmere Banyuwangi. Selanjutnya, pada 16 Rajab 1344 H. bertepatan dengan 31 Januari 1926 M. bersama dengan tokoh-tokoh ulama Nusantara lainnya, Kyai Saleh Lateng juga merupakan salah seorang yang naik di atas panggung (podium) untuk turut memberikan kontribusi dan dukungan pada pertemuan Komite Hijaz.

Pada hari yang kemudian dikenal sebagai hari kelahiran Nahdlatul Ulama ini, Kyai Saleh Lateng ditunjuk oleh KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah untuk menjadi anggota Muassis-Mukhtasar (formatur) pembentukan pengurus Nahdlatul Ulama yang pertama.?

Sikap Anti Penjajahan. Dalam mendidik para santri dan masyarakatnya untuk menentang penjajahan, Kyai Saleh Lateng bersikap keras. Beliau memilih sikap konfrontatif hingga melarang anak-anaknya belajar di sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah penjajahan. Kyai Saleh melarang keluarga dan para santrinya untuk memakai celana, melepas Kopyah dan mengikuti kebiasaan-kebiasaan Belanda. Kyai Saleh juga mengutus beberapa anaknya ke medan perang gerilya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Selama masa-masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Kyai Saleh aktif mengikuti perkembangan perjuangan rakyat Indonesia melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) dan surat kabar. Hal ini dilakukan untuk mengecek keberadaan santri-santrinya yang sedang dikirim ke garis depan pertempuran dan medan gerilya. Kyai Saleh menyokong perjuangan bersenjata melalui dukungan dana dan doa kepada santri-santrinya yang akan dikirim ke medan laga.

Karena tindakan-tindakannya membantu perjuangan kemerdekaan, Kyai Saleh juga sempat menghadapi kejaran Belanda dan harus menghindar keluar dari Lateng ke Pakistaji. Di sinilah, Beliau bertemu dengan salah seorang anggota pasukan yang pernah dipimpinnya. Anggota pasukan ini juga sedang di kejar-kejar oleh intel Belanda. Kyai Saleh pun kemudian menolongnya. Anggota inilah yang kemudian menceritakan bahwa sebenarnya, Kyai Saleh Lateng terlibat secara langsung di garis depan ketika memimpin sepasukan laskar rakyat dalam penyerbuan terbuka (saat berkumandangnya Resolusi Jihad) ke Surabaya.

Kyai Saleh lateng juga termasuk orang yang sangat tegas dalam menolak kompromi dengan pemerintah penjajah. Pernah pada masa-masa akhir penjajahan Belanda di Indonesia, Kyai Saleh ditawari oleh bantuan oleh Belanda untuk pembangunan pesantrennya. Bahkan konon, Van Der Plass sendiri yang datang menemui Beliau. Namun bantuan ini ditolak mentah-mentah oleh Kyai Saleh.?

Kyai Shaleh juga memiliki andil dalam pembentukan awal awal kementrian Republik Indonesia. Menurut cerita, suatu ketika, Menteri Agama Republik Indonesia pertama KHA Wahid Hasyim mencari kitab yang akan digunakan sebagai pedoman pembentukan organ kementrian. Konon menteri agama mencarinya ke seluruh pondok pesantren kenalannya, namun belum juga menemukannya.

Maka KHA Wahid Hasyim kemudian mengutus seorang kurir untuk menanyakannya kepada Kyai Saleh Lateng yang pada waktu itu masih berada di tempat persembunyian di Pakisaji Kabat. Kurir tersebut meminta dengan membeli atau mengganti harga atas kitab tersebut. Maka Kyai Saleh Lateng pun kemudian memberikan kitab bernama Mu’jamul Buldan tersebut dengan bersedia menerima separo harga dari harga semestinya. Kitab ini merupakan salah satu sumbangan Kyai Saleh Lateng dalam pembangunan organ Departemen Agama Republik Indonesia.?

Kehidupan Bermasyarakat. Sebagai seorang ulama yang telah dididik dalam norma-norma agama yang kuat, baik di lingkungan keluarga maupun di pesantren, Kyai Saleh selalu mengamalkan prinsip-prinsip pergaulan islami dalam bermasyarakat. Beliau memiliki sikap yang tegas dan berani dalam menyatakan kebenaran dan keadilan. Bahkan meski sering hal tersebut dianggap merugikan.

Sifat budi baik lainnya adalah, Kyai Saleh tidak memilih-milih dalam pergaulan kemasyarakatan. Beliau banyak memiliki santri dari berbagai kalangan, baik dari masyarakat santri yang taat maupun dari kelompok keluarga para bromocorah. Termasuk pula, Kyai Saleh tidak membeda-bedakan tingkat ekonomi para muridnya. Kyai Saleh tidak membedakan antara santri anak orang kaya, pejabat dan rakyat miskin kebanyakan.

Sebagaimana umumnya para ulama, Kyai Saleh sangat gemar membaca al-Qur’an ketika sedang sendirian dan sedang tidak mengajar santri. Kyai Saleh juga senantiasa mentradisikan pengadaan peringatan-peringatan hari besar Islam. Termasuk peringatan Haul gurunya, Kyai Kholil Bangkalan.



Kebiasaan-kebiasaan amar ma’ruf nahi mungkar dan disertai dengan keteladanan dalam mentradisikan kebajikan serta tolong-menolong antar sesama senantiasa melekat dalam diri Beliau, hingga akhir hayatnya.

Kyai Saleh Lateng berpulang ke Rahmatullah pada malam Rabu, tanggal 29 Dzulqo’dah 1371 H. bertepatan dengan 20 Agusrus 1952 dalam usia 93 tahun. Atas Izin bupati Banyuwangi, Usman, maka jenazahnya disemayamkan pada jarak kurang lebih sepuluh meter di sebelah selatan langgar, tempat Beliau biasa memberikan pengajian kepada santri-santrinya.

Dan untuk mengenang jasa-jasa beliau, maka pada tahun 1956 DPRD Kabupaten Banyuwangi menyepakati adanya seruas jalan dengan nama Jalan Kyai Saleh Lateng. Meski jasad Kyai Saleh Lateng telah tertimbun di tanah, namun jasa-jasanya senantiasa dikenang oleh seluruh masyarakat, dan perjuangannya akan senantiasa dilanjutkan oleh santri-santri penerusnya. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosanya dan melimpahkan rahmat untuk kemuliaan ruhnya. Amin Wallahu Alam bisshowab. (Disadur dari buku Biografi Kyai Saleh, karya H. Abd, Manan Syah). Syaifullah AminDari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nahdlatul Ulama, AlaSantri ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock