Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2018

Terbukti Makar, Muskercab NU Jombang Rekomendasikan HTI Dibubarkan

Jombang, ArrahmahMedia.Com. Salah satu keputusan Sidang Pleno Musyawarah Kerja Cabang Nahdlatul Ulama (Muskercab NU) Kabupaten Jombang adalah merekomendasikan kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk mendesak kepada Pemerintah Republik Indonesia agar membubarkan organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Alasan yang dikemukakan oleh peserta Muskercab karena HTI telah jelas-jelas tidak mengakui Pancasila dan NKRI. Sikap HTI tersebut dinilai sebagai perbuatan makar terhadap negara.

Keputusan sidang Pleno yang dibacakan KH Junaidi Hidayat tersebut selanjutnya disahkan sebagai keputusan Muskercab PCNU Jombang secara resmi oleh Pimpinan Sidang, KH Dr. Isrofil Amar.

Terbukti Makar, Muskercab NU Jombang Rekomendasikan HTI Dibubarkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Terbukti Makar, Muskercab NU Jombang Rekomendasikan HTI Dibubarkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Terbukti Makar, Muskercab NU Jombang Rekomendasikan HTI Dibubarkan

PCNU Jombang juga merekomendasikan kepada Pemerintah Kabupaten Jombang untuk melarang seluruh aktifitas HTI. (Ma/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Humor Islam, AlaNu, Pesantren ArrahmahMedia.Com

Kamis, 15 Februari 2018

Peristiwa Tsunami Bikin Romo Benny Akui Kewalian Gus Dur

Jakarta, ArrahmahMedia.Com. Tidak sedikit umat Islam yang menganggap kalau KH Abdurrahman Wahid sebagai wali. Manusia yang punya kemampuan spiritualitas di atas rata-rata, supranatural atau dalam bahasa pesantren populer dengan istilah khoriqul adah

Peristiwa Tsunami Bikin Romo Benny Akui Kewalian Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Peristiwa Tsunami Bikin Romo Benny Akui Kewalian Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Peristiwa Tsunami Bikin Romo Benny Akui Kewalian Gus Dur

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang merupakan guru besar ilmu tasawuf pun tak kalah menyakini terhadap kewalian kiai yang populer disapa Gus Dur tersebut. 

Namun, kehebatan Gus Dur dalam membaca peristiwa yang belum terjadi, tidak hanya diyakini dan diakui oleh umat Islam. Pasalnya, Antonius Benny Susetyo atau yang akrab disapa Romo Benny juga mengakui kemampuan spiritualitas Gus Dur. 

Saat ditemui ArrahmahMedia.Com usai mengisi Seminar Kebangsaan di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (14 /12), pria yang juga menjadi pastur ini mengatakan bahwa Gus Dur mampu membaca tanda-tanda zaman. 

Di antara yang Romo Benny ungkap, ialah tentang peristiwa tsunami yang terjadi di Provinsi Aceh. Sebuah peristiwa yang pernah mengguncang provinsi yang mempunyai julukan Serambi Mekkah dengan memakan ratusan ribu korban jiwa. 

ArrahmahMedia.Com

Menurut Romo Benny, sebelum terjadinya bencana tsunami, Gus Dur mengaku resah dan tidak bisa tidur. Keresahan itu pun disampaikan ke Romo Benny yang berisi sebuah mimpi tentang terjadinya bencana besar, namun tidak diketahui lokasi pastinya. 

ArrahmahMedia.Com

"Pulang dua hari, meletus Aceh. Itu waktu peristiwa Aceh. Artinya Gus Dur mempunyai kemampuan daya spiritual yang luar biasa," katanya bersemangat. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Humor Islam, Hikmah, Kiai ArrahmahMedia.Com

Selasa, 06 Februari 2018

Tiga Macam Puasa Muharram

Puasa muharram adalah puasa yang sangat dianjurkan setelah puasa di bulan Ramadhan. Hal ini merujuk kepada hadis riwayat Muslim yang bersumber dari Abu Hurairah.

? ? ? ? ? ? ?: «? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?»

Tiga Macam Puasa Muharram (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Macam Puasa Muharram (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Macam Puasa Muharram

Rasulullah SAW berkata, ‘Puasa paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yakni Muharram. Sementara sholat paling utama setelah sholat fardhu adalah sholat malam.”

Hadis ini menjelaskan bahwa puasa Muharram adalah puasa yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw. Karenanya, disunahkan melakukannya bagi yang mampu. Hadis di atas tidak secara spesifik kapan waktu puasa yang dianjurkan, apakah setiap hari atau pada hari tertentu saja di bulan Muharram.

ArrahmahMedia.Com

Terkait hal ini, Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi (syarah sunan Tirmidzi) menyebutkan:

ArrahmahMedia.Com

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Puasa Muharram ada tiga bentuk. Pertama, yang paling utama ialah puasa di hari kesepuluh beserta satu hari sebelum dan sesudahnya. Kedua, puasa di hari kesembilan dan kesepuluh. Ketiga, puasa di hari kesepuluh saja.

Tiga tawaran ini setidaknya menjadi opsi yang baik dalam mengamalkan puasa sunah di bulan Muharram. Kalaupun tidak begitu, bisa saja puasa Senin-Kamis atau puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 (ayyamul bidh) di bulan Muharram bagi mereka yang terbiasa mengamalkannya di bulan lain. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Ubudiyah, Nahdlatul, Humor Islam ArrahmahMedia.Com

Senin, 29 Januari 2018

Lomba Baca Kitab Kuning Diadakan di UIN Yogyakarta

Sleman, ArrahmahMedia.Com. Sebagai kelanjutan kegiatan pelatihan Qiro’atul Kutub atau baca kitab kuning yang diadakan Oktober lalu, Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan (BEM-J) Perbandingan Madzhab dan Hukum (PMH) Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan Lomba Qiro’atul Kutub (LQK).

LQK yang terbagi ke dalam kategori tingkat Ula dan Wushtha ini dilaksanakan selama dua hari, yaitu pada hari Rabu (12/12) untuk tingkat Wushtha dan Kamis (13/12) untuk tingkat Ula. 

Lomba Baca Kitab Kuning Diadakan di UIN Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Lomba Baca Kitab Kuning Diadakan di UIN Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Lomba Baca Kitab Kuning Diadakan di UIN Yogyakarta

Menurut keterangan Septi Karisyati, ketua panitia acara LQK, penentuan kategori dalam LQK kali ini berdasarkan pada usia serta jenjang pendidikan.

Tingkat Wushtha diperuntukkan bagi para peserta yang duduk di bangku Madrasah Aliyah ke bawah atau santri pondok pesantren yang berusia di bawah 19 tahun. Sedangkan untuk tingkat Ula ketentuan usianya adalah19-30 tahun dan berstatus sebagai mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com

Sebanyak 26 orang peserta berpartisipasi dalam LQK tingkat Ula, dari target awal sebanyak 20 orang mahasiswa di UIN. Sedangkan untuk tingkat Wushtha diikuti oleh 14 orang peserta dari berbagai Madrasah Aliyah dan pondok pesantren se Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 

Menurut Septi saat ditemui di tengah-tengah kesibukan pelaksanaan LQK, pemenang LQK dari masing-masing kategori akan diumumkan pada acara Seminar Nasional yang akan berlangsung pada Jum’at (14/12) ini. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Nur Hasanatul Hafshaniyah

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Nusantara, Hadits, Humor Islam ArrahmahMedia.Com

Minggu, 28 Januari 2018

Ngaku Berpaham Aswaja, Tapi Praktek Tak Sesuai

Jakarta, ArrahmahMedia.Com

Warga nahdliyyin (sebutan untuk warga Nahdlatul Ulama/NU) diminta waspada atas munculnya kelompok-kelompok yang membawa paham keagamaan baru yang marak belakangan ini. Pasalnya, tidak sedikit dari kelompok tersebut mengaku menganut paham Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja), akan tetapi dalam praktek keagamaannya sama sekali tidak mencerminkan paham yang dikenal moderat tersebut.

Demikian diungkapkan Ketua Umum Pengurus Pusat Lembaga Nahdlatul Ulama (PP LDNU) KH Nuril Huda saat membuka acara Silaturrahim Pimpinan Majelis Taklim di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Rabu (30/8).

Ngaku Berpaham Aswaja, Tapi Praktek Tak Sesuai (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngaku Berpaham Aswaja, Tapi Praktek Tak Sesuai (Sumber Gambar : Nu Online)

Ngaku Berpaham Aswaja, Tapi Praktek Tak Sesuai

Acara bertajuk “Optimalisasi Peran Majelis Taklim dalam Memantapkan Paham Ahlussunnah Wal Jama’ah” itu digelar hasil kerja sama PP LDNU dengan PP Muslimat NU. Hadir sebagai narasumber tokoh muslimah yang juga Presiden Asosiasi Perempuan Muslim (WML) Amerika Serikat Tiye Multazim, Kepala Biro Perencanaan Departemen Agama Drs Ahmad Junaidi MBA dan Ketua PP Muslimat NU Mahfudloh Ali Ubaid.

Menurut Kiai Nuril, demikian panggilan akrabnya, kelompok-kelompok tersebut berkarakter mudah sekali menganggap bid’ah (mengada-ada), sesat, bahkan kafir terhadap nahdliyyin yang ritual keagamaannya dianggap berbeda. Padahal ritual keagamaan tersebut telah menjadi tradisi nahdliyyin yang selama ini.

“Ada yang ngaku Jama’ah Salafiyah, tetapi prakteknya keluar dari apa yang diajarkan oleh ulama-ulama salaf. Ulama-ulama salaf itu kan sangat menghargai perbedaan madzhab dalam bidang ubudiyah. Tapi golongan ini tidak mengakui (perbedaan madzhab) itu, sehingga mudah sekali mem-bid’ah-kan bahkan mengkafirkan orang lain,” terang Kiai Nuril kepada para pimpinan majelis taklim.

ArrahmahMedia.Com

Oleh karena itu, lanjut Kiai Nuril, NU harus segera dilakukan upaya peneguhan kembali pemahaman sekaligus implementasi dari paham Aswaja di masyarakat. Hal itu, katanya, sangat penting agar kelompok-kelompok tersebut tidak mengusik kelestarian pemikiran dan budaya yang dikembangkan nahdliyyin melalui ajaran Aswaja.

Dalam kesempatan itu, Kiai Nuril juga mengungkapkan, kelompok-kelompok yang mengaku berpaham Aswaja itu tidak hanya berupaya mengganti tradisi keagamaan nahdliyyin. Masjid-masjid yang didirikan dan selama ini dikelola serta takmir masjidnya diisi oleh nahdliyyin mulai diambilalih dengan alasan syarat dengan ajaran bid’ah.

“Kita harus membentengi simbol-simbol NU, seperti masjid-masjid serta tradisi keagamaan NU dari upaya kelompok-kelompok lain yang mau menggeser dan menggantinya,” ungkap Kiai Nuril.

Oleh karenanya, imbuh Kiai Nuril, acara tersebut diharapkan dapat menjadi media perekat dan komunikasi antar-majelis taklim yang berbasis pemikiran dan kultur NU. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com AlaNu, Budaya, Humor Islam ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 27 Januari 2018

HIPSI Selenggarakan Turnamen Futsal Antar Pesantren se-Jatim

Jombang,ArrahmahMedia.Com. Himpunan Pengusaha Santri Indonesia atau Hipsi di Jombang melangsungkan turnamen fulsal antar pesantren se-Jawa Timur. Diharapkan muncul atlet berbakat dan pengusaha santri dari kegiatan yang diikuti 35 kontingen ini.

Kegiatan yang berlangsung di stadion Futsal Arena ini diberi nama Turnamen Futsal Santri se-Jawa Timur. "Kita berharap dari kegiatan ini akan muncul atlit futsal berbakat dari kalangan pesantren," kata Ahmad Azizinuddin yang mewakili Menteri Pemuda dan Olah Raga, Senin (23/11).

HIPSI Selenggarakan Turnamen Futsal Antar Pesantren se-Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
HIPSI Selenggarakan Turnamen Futsal Antar Pesantren se-Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

HIPSI Selenggarakan Turnamen Futsal Antar Pesantren se-Jatim

Menurutnya, Kemenpora akan selalu melakukan berbagai terobosan dengan menyelenggarakan sejumlah turnamen dari berbagai cabang olah raga. "Hari ini futsal, dan pada kesempatan lain bisa juga diselenggarakan bulu tangkis, dan sebagainya," katanya saat memberikan sambutan.

ArrahmahMedia.Com

Di hadapan sejumlah santri yang juga peserta turnamen futsal serta para gus, ia menandaskan bahwa lomba futsal tersebut tidak semata dilangsungkan di Jawa Timur. "Di sejumlah propinsi juga diadakan turnamen serupa," katanya. Bahkan sudah ada agenda untuk mempertandingkan para juara futsal di setiap propinsi, lanjutnya.

Ketua Hipsi Jatim, H Sulaeman mengemukakan hendaknya turnamen menjadi ajang bagi para santri untuk saling mengenal. "Silaturahim adalah di antara anjuran agama yang perlu kita lestarikan," kata Pak Leman, sapaan akrabnya. Dan dari silaturahim inilah maka akan terjalin saling komunikasi untuk memperkuat jaringan santri yang memiliki latarbelakang sebagai pengusaha.

ArrahmahMedia.Com

"Kalau bisa jangan ada di benak kalian untuk menjadi karyawan," sergahnya. Karena sekali menjadi karyawan, maka waktu yang dimiliki akan habis untuk bekerja. "Kalian harus jadi pengusaha, karena dengan demikian waktu yang dimiliki akan lebih banyak untuk melakukan silaturahim," terangnya.

Zahrul Jihad Asad atas nama panitia mengemukakan turnamen ini hendaknya tidak semata ingin mendapatkan juara dan hadiah. "Yang lebih ditekankan adalah komunikasi dan karakter santri dalam pertandingan," kata salah satu pimpinan di Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang ini. Sehingga saat pertandingan berlangsung, tidak ada saling membenci dan menghujat antar kontingen. "Malah kalau terjadi perselisihan, bisa diredam dengan shalawat," pungkasnya.

Disaksikan para pengurus Hipsi dan perwakilan pengasuh pesantren se-Jatim, Ahmad Azizinuddin melakukan tendangan di tengah arena futsal sebagai pertanda turnamen ini dibuka secara resmi. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Humor Islam ArrahmahMedia.Com

Tradisi Maulid Orang Indonesia di Malaysia

Ini catatan perjalanan Ustadz Fauzi Palestin yang beberapa hari lalu melakukan perjalanan ke Malaysia. Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini diundang komunitas masyarakat Indonesia yang berada di negeri Jiran tersebut. Bagaimana seru dan kekhasan yang dirasakan selama kegiatan maulid? Berikut uraiannya.

Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa bulan Rabiul awal merupakan bulan lahirnya Nabi Muhammad SAW. Mayoritas umat Islam merayakannya sebagai ekspresi bahagia dan syukur yang tak terhingga atas lahirnya Nabi yang mulia, tak terkecuali penduduk Indonesia yang berada di Malaysia bahkan tidak sedikit yang sudah menjadi warga Negara Malaysia.

Tradisi Maulid Orang Indonesia di Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Maulid Orang Indonesia di Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Maulid Orang Indonesia di Malaysia

Berdasarkan safari dakwah yang saya lakukan di beberapa tempat, seperti di kota Kemuning, Damansara, Sungai Buloh dan sebagainya, ada beberapa hal yang menjadi catatan saya:

Pertama, saya melihat warga Indonesia di negeri Jiran ini dalam merayakan maulid Nabi sangat antusias bahkan bisa dikatakan sebagai pelopor dzikra maulidir rasul. Hal ini bisa dilihat dari kekompakan dalam pelaksanaan maulid. Kalau di daerah perkotaan sebagian besar penyelenggaranya adalah orang Bawean Gresik yang sudah menjadi warga di sana.

Adapun di daerah perumahan yang masih dalam proses pembangunan, banyak digagas orang Madura. Dalam sebulan, orang Madura bisa menyelenggarakan dua bahkan tiga kali acara pengajian dalam rangka maulidir rasul.

ArrahmahMedia.Com

Kedua, orang Indonesia di Malaysia tidak sekedar menyelenggarakan seremonial yang hanya diikuti mereka yang berasal dari Indonesia, tapi juga ikut bergabung orang Melayu selaku penduduk asli. Mereka seakan dipersatukan, dan terlibat aktif dalam menyukseskan acara dan tentu saja bergabung dalam satu majlis.

Kala itu saya menceritakan betapa dahsyat ulama Indonesia hingga reputasinya yang mendunia. Ada  Syaikh Ihsan Jampes yang menyarahi kitab Minhajul Abidin menjadi Sirajut Thalibin, demikian pula Imam An-Nawawi al-Banteni yang juga mengarang kitab Al-Arbain Nawawi. Kala itu saya tidak lupa mengenalkan kewalian Syaichona Cholil Bangkalan yang dikenal umat Islam di Nusantara bahkan dunia.

Saat di Kota Damansara selepas pengajian, ternyata ada orang Melayu berkeinginan menguliahkan putranya yang sekarang sedang menghafal al-Quran di Indonesia. Yang bersangkutan sempat mencatat nomor hape saya.

Ketiga, teknis pelaksanaan maulid, demikian pula budaya yang digunakan layaknya di Indonesia, Sebagaimana di tanah air, dalam peringatan maulidir rasul yang dibaca adalah qasidah maulid al-Barzanji yang dikarang Sayyid Jakfar bin Abdul Karim. 

ArrahmahMedia.Com

Bahkan shalawat khas Indonesia seperti pembacaan Shalawat Badar karya Kiai Ali Mansur juga dikumandangkan. Dan lagu yang digunakan pun sesuai pola khas di Tanah Air yang disertai musik tradisional compang, yakni sejenis marawis.

Keempat, tidak kalah menarik pula, model berkat atau makanan untuk dibawa pulang yang mereka buat sangat unik dan bervariasi. Kalau orang Madura menggunakan buah sebagai menu pokoknya, mayoritas warga Bawean memanfaatkan aneka ragam jajan dan minuman, bahkan di dalamnya disertakan sarung, sajadah, termasuk sabun mandi. 

Menurut informasi yang saya dapat, untuk membuat satu buah berkat saja dibutuhkan biaya 500 ringgit. Dan waktu yang dibutuhkan untuk membungkus menjadi layak diberikan sampai seminggu lamanya. Itu dilakukan agar berkat terlihat menarik dan menyenangkan para tamu undangan.

Karena didesain sedemikian rupa dan ukurannya lumayan besar, untuk membawa berkat ke rumah harus memakai mobil khusus, termasuk petugas sampai dua hingga tiga orang. Berkat itupun diberikan kepada setiap undangan.

Walau berkat bukan menjadi tujuan, besarnya ukuran menjadi bukti rasa cinta mereka kepada Nabi Muhammad SAW. Kendati demikian, saat diberikan kesempatan memberikan mauidhah, saya katakana bahwa bila dikalkulasi, dana yang dikeluarkan untuk maulid tidaklah melebihi dari biaya para pecandu rokok dalam setahun. Dan para undanganpun yakni jamaah yang hadir tertawa renyah.

Kelima, khusus di Kota Kemuning Taman Wijaya, yang membuat maulid terasa berbeda adalah karena kekompakan anak muda. Saat ceramah, mereka berada di shaf paling depan. Tak hanya itu, secara khusus juga membuat berkat jumbo dengan varian isi yang sangat beragam.

Ketika saya bertanya kepada salah seorang pemuda terkait iuran yang dibutuhkan untuk membuat berkat jumbo tersebut, ternyata masing-masing dikenakan biaya 10 ringgit.

Melihat kekompakan anak-anak muda ini, saya mengurai kisah seorang pemuda di zaman Harun Al-Rasyid yang mendapatkan kenikmatan di alam kubur karena memuluskan bulan Rabiul Awal. Cerita tersebut sebagaimana ditulis Sayyid Satha dalam kitab Ianatul Thalibin.

Segala kisah ini menjadi catatan penting bahwa tradisi Indonesia bisa menjadi kegiatan keagamaan yang membahana di Malaysia. Semoga mereka tidak lupa akan tanah leluhur, terlebih dalam upaya menjaga hubungan antara kedua negara. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Tegal, Sholawat, Humor Islam ArrahmahMedia.Com

Kamis, 25 Januari 2018

Muslimat NU Karangrejo Bersyukur Jumlah Anggota Meningkat

Banyuwangi, ArrahmahMedia.Com?

Pengurus Ranting Muslimat NU Desa Karangrejo mengadakan pengajian "khotmil Quran" sebulan sekali. Bulan ini dilaksanakan di masjid Darul Falah, lingkungan Karang Anom, kelurahan Karangrejo, kabupaten Banyuwangi pada Jumat (2/12) siang.?

Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran setiap orang satu juz, dilanjutkan dengan acara tahlil, pencerahan rohani dan program muslimat yang disampaikan ketua.

Muslimat NU Karangrejo Bersyukur Jumlah Anggota Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Karangrejo Bersyukur Jumlah Anggota Meningkat (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Karangrejo Bersyukur Jumlah Anggota Meningkat

Menurut Ketua Ranting Muslimat NU karangrejo, Hj. Un Istianah, kegiatan ini penting dilakukan sebagai wadah silaturahmi dan memanjatkan doa bersama.

"Jujur merasa bangga atas kegiatan rutinan ini. Tiap bulan mengalami peningkatan anggota. Awalnya anggota kita berjumlah 90 dan saat ini kehadiran peserta mencapai 110 orang. Ini wadah bagi kita untuk silaturahmi," ungkapnya.

Dia menambahkan, selain wadah silaturahmi di sini juga sebagai peningkatan kualitas dan kuantitas amal sholeh. Selain adanya pembacaan yasin tahlil juga ada siraman rohani setiap bulan.

ArrahmahMedia.Com

Dalam pebutup sambutannya, ia mengajak kepada seluruh jamaah untuk membaca surat Al-Fatihah guna keselamatan saudara dan bangsa.

Salah seorang anggota Muslimat, Saimah, merasa bahagia mengikuti rutinan tiap bulan sekali. Menurut warga Karangrejo, kegiatan tersebut sebagai ranah menambah amal dan ilmu di dalamnya. (M. Sholeh kurniawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com Humor Islam, Makam ArrahmahMedia.Com

Jumat, 19 Januari 2018

Kapolri Minta BNPT Jalin Kemitraan dengan Mantan Teroris

Jakarta, ArrahmahMedia.Com - Selang beberapa hari setelah dilantik sebagai kepala baru Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI, Komjen Pol Suhardi Alius mengelar acara pisah sambut Kepala BNPT di Gedung Manggala Winabakti Restoran Nelayan, Jakarta.

Acara tersebut dihadiri langsung oleh mantan Kepala BNPT Jendral Pol M. Tito Karnavian yang kini menjabat sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia. Selain itu, juga turut hadir para pejabat eselon I, II, III BNPT RI, Imam Besar Masjid Istiqlal, para tim ahli BNPT, dan para staf BNPT, Sabtu (23/7).

Kapolri Minta BNPT Jalin Kemitraan dengan Mantan Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolri Minta BNPT Jalin Kemitraan dengan Mantan Teroris (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolri Minta BNPT Jalin Kemitraan dengan Mantan Teroris

"Ke depannya BNPT harus terus meningkatkan kewaspadaan dalam pencegahan teroris. Meningkatkan komunikasi terhadap semua lini guna mendeteksi dini paham radikal," kata Tito Karnavian.

ArrahmahMedia.Com

Tito juga memberi pujian kepada para pejabat BNPT. "BNPT memiliki personel yang sangat kuat dan memiliki pengalaman yang cukup tinggi dalam meng-counter terorisme. Mulai dari kedeputian satu sampai kedeputian tiga BNPT RI," jelasnya.

Tito tak lupa menyinggung soal perkembangan ISIS. Menurutnya, "ISIS merupakan gelombang kedua kelompok teroris global yang harus terus kita waspadai. Kemunculan ISIS mendatangkan ‘kebaikan’, karena menguatkan ikatan internasional antarsesama negara dalam bekerja sama menumpas aksi kekekrasan yang sudah menghantui dunia global," sambung Tito yang juga berpendapat bahwa teroris muncul ketika Barat memaksakan hegemoninya terhadap negara Timur.

ArrahmahMedia.Com

Ia juga menjelaskan, kegiatan monitor terhadap jaringan teroris bisa dilakukan dengan membangun komunikasi dengan para intelejen untuk deteksi dini. “(Juga) melakukan langkah-langkah deradikalisasi dan kontra radikalisasi, serta kontranarasi dengan bantuan para ulama moderat, tokoh moderat, dan mantan teroris yang telah berpihak dengan kita seperti yang dilakukan di Mesir," paparnya.

Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius juga menyampaikan bahwa soliditas dalam tubuh BNPT saja tidak cukup untuk menumpas kejahatan global ini. “Ke depannya saya akan meningkatkan koordinasi dengan para menteri terkait guna penanggulangan terorisme secara massif. Saat ini saya telah komunikasi dengan Menteri Pendidikan dan Menteri Agama soal kerja sama pencegahan paham radikal-terorisme di Indonesia," tutupnya. (Muhammad Aras Prabowo/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Humor Islam, Habib ArrahmahMedia.Com

Rabu, 17 Januari 2018

GP Ansor Sumenep Ingatkan KH Raden Asnawi Kudus

Sumenep, ArrahmahMedia.Com. Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Sumenep, Jawa Timur meneguhkan wasiat salah seorang pendiri yang juga mustasyar pertama NU, KH Raden Asnawi Kudus.

GP Ansor Sumenep Ingatkan KH Raden Asnawi Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Sumenep Ingatkan KH Raden Asnawi Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Sumenep Ingatkan KH Raden Asnawi Kudus

Demikian ditegaskan Ketua PC GP Ansor Sumenep M Muhri Zaen pada pelantikan PAC GP Ansor Kecamatan Kota di Masjid Raudlatur Rahman, Desa Kacongan, Kecamatan Kota, Sumenep, Selasa (5/1) malam. Pelantikan ini juga dikemas dengan tasyakuran Maulid Nabi.

"Bercerminlah pada kaca benggala, wajahmu bagus atau tidak. Ketika kamu melihat ada orang salah, kamu menyalahkan (dan) menjelekkan. (seharusnya) kamu malu mengaku jempolan, (padahal) mengajimu kurang fasih dan amburadul," kata M Muhri Zaen menirukan wasiat KH Raden Asnawi Kudus.

ArrahmahMedia.Com

Ketua Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Kecamatan Sumenep Hanto Sudarto menyatakan sangat berterima kasih kepada PC GP Ansor Sumenep. Menurutnya, wasiat KH Raden Asnawi Kudus menjadi cambuk baginya untuk selalu berbenah diri sebelum membenahi orang lain.

"Wasiat tersebut bisa dianalogikan supaya kita tidak seperti lilin, menerangi sekitar tapi dirinya terbakar," terangnya. (Hairul Anam/Mahbib)

ArrahmahMedia.Com

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Humor Islam, Ulama, Warta ArrahmahMedia.Com

Urgensi Ilmu Nahwu dalam Penurunan Wacana Publik Keislaman

PENGANTAR REDAKSI: ArrahmahMedia.Com akan memuat pemikiran-pemikiran tentang ilmu nahwu yang dikupas oleh Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Jerman, Syafiq Hasyim. Tulisan yang direncanakan bersambung ini akan dimuat setiap hari Senin. Selamat membaca.

Nahwu, biasa dikenal oleh kalangan santri sebagai bagian ilmu alat, adalah ilmu yang sangat fundamental untuk dikuasai jika kita ingin mempelajari Islam dari literatur-literatur yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya, baik klasik maupun modern.

Urgensi Ilmu Nahwu dalam Penurunan Wacana Publik Keislaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Urgensi Ilmu Nahwu dalam Penurunan Wacana Publik Keislaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Urgensi Ilmu Nahwu dalam Penurunan Wacana Publik Keislaman

Dikatakan sebagai alat karena kegunaan ilmu adalah sebagai perangkat membaca, memahami dan memaknai dari bahasa nativenya, bahasa Arab, ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing lainnya. Kalangan antropolog menyebutkan jika penguasaan bahasa asli adalah hal sangat penting dalam memperkuat kredibilitas sebuah hasil ilmu atau hasil riset. Mereka memasukkan masalah ini sebagai bagian dari the politics of nativeness. Dengan kata lain, ilmu Nahwu adalah was?’il menuju pengetahuan yang mendekati kepada kebenaran. Kenapa saya sebut sebagai “mendekati kebenaran,” karena kebenaran Nahwiyyah adalah kebenaran pengetahuan yang bersifat aturan kebahasaan, sementara masih ada jenis kebenaran lain yang didapatkan oleh ilmu atau cara lain juga.

ArrahmahMedia.Com

Namun, jika kita beri peringkat, kebenaran yang dihasilkan oleh Nahwu adalah kebenaran yang sangat tinggi derajatnya karena dengan ilmu ini pemaknaan pertama atas sumber-sumber Islam –al-Qur’an dan Sunnah—bisa didapatkan. Meskipun sekolah-sekolah Islam juga mengajarkan

Nahwu, namun ilmu ini diajarkan secara lebih mendalam di dalam lingkungan pesantren. Itupun masing-masing pesantren melakukannya secara berbeda-beda pula. Pesantren-pesantren tradisional (salaf) biasanya mengajarkan kitab-kitab Nahwu yang tingkatannya lebih rumit dan sulit dibandingkan dengan pesantren-pesantren modern (khalaf). Kitab-kitab nahwu yang diajarkan di pesantren tradisional misalnya mulai dari al-Jur?miyyah, Imri?, lalu Alfiyyah Ibn M?lik. Sementara pesantren modern biasanya mengajarkan kitab-kitab seperti Nahwu al-W?i?, J?mi?u al-Dur?s f? al-Lughat al-?Arabiyya, dan lain-lainnya.

ArrahmahMedia.Com

Dengan kata lain, referensi-referensi Nahwu yang diajarkan di pesantren salaf –biasanya dimiliki dan diasuh oleh kyai-kyai Nahdlatul Ulama-- biasanya adalah kitab-kitab lama (klasik), sementara pesantren khalaf lebih memilih kitab-kitab Nahwa baru, atau yang terkini.

Tapi baik belajar dengan kitab lama maupun baru sejatinya yang paling penting di sini adalah kemauan untuk belajar dan berusaha menguasai ilmu ini. Jika tidak menguasai seluruhnnya, sebagianlah yang perlu dikuasasi. Meskipun ilmu Nahwu sangat penting, banyak dari kalangan kita yang sudah mendedikasikan hidupnya menjadi santri, ustadz, pendakwah dan lain sebagainya, tidak memiliki pemahaman yang cukup akan ilmu ini.

Hal yang paling menyedihkan banyak pengajar Islam publik kita, di Mushalla dan TV-TV, yang awam dengan teori-teori Nahwu. Untuk berdakwah memang tidak diwajibkan untuk menguasai Nahwu, namun dalam dakwah diwajibkan untuk menyampaikan kebenaran meskipun pahit. Menyampaikan kebenaran dengan benar adalah jika sang penyampai mengerti alatnya. Perlu diingat di sini bahwa tidak semua orang yang bisa membaca aksara Arab seperti membaca al-Qur’an menguasai ilmu ini. Mampu dan tidaknya penguasaan ilmu Nahwu ini bisa dilihat dari bagaimana dia atau mereka mampu membaca dan memaknai kitab-kitab yang dalam bahasa keseharian kaum santri disebut kitab kuning.

***

Harus diakui bahwa ilmu Nahwu memang merupakan cabang yang susah selain ilmu-ilmu lain yang sejenis seperti ?araf, Balaghah, dan Mantiq. Untuk tahu ilmu ini, butuh kejelian, hafalan yang kuat, dan analisa yang mendalam. Masih ingat bahwa kita –saya dan teman-teman—di madrasah dulu sering menghindari dan berkeluh kesah tentang betapa sulitnya memahami apalagi menerapkan ilmu Nahwu untuk membaca kitab-kitab berbahasa Arab. Ada yang hafal di luar kepala teori-teori Nahwu, namun untuk menerapkan terkadang masih sulit. Bahkan ada yang bisa menghafal kitab Nahwu Alfiyah Ibn M?lik secara sungsang (dari belakang ke depan) namun tetap saja terkadang masih memiliki kesulitan untuk menggunakannya dalam membaca teks Arab terutama yang klasik.

Sebagaimana perlu diketahui bahwa menghafal sungsang adalah salah satu cara pamer kebolehan dalam mempelajari ilmu Nahwu. Namun, belajar Nahwu tidak cukup dengan menghafal, tapi harus memahami. Kalau boleh melakukan kritik, kelemahan pembelajaran Nahwu di pesantren adalah penitikberatannya pada model hafalan, bukan pemahaman. Meskipun tujuan pertama dalam penghafalan adalah untuk menuju pemahaman, namun seringkali karena terlalu banyak “load” menghafalnya sehingga aspek memahinya terkurangi bahkan terabaikan.

Hal ini terutama terjadi pada pesantren-pesantren yang sudah mengadopsi banyak mata pelajaran di dalam sistem kurikulum mereka. Namun kesulitan menguasai ilmu Nahwu tersebut sangat sepadan dengan fungsi dan manfaat ilmu ini sendiri dimana tanpa penguasaan atasnya hampir mustahil seseorang bisa memahami al-Qur’an, Sunnah dan sumber-sumber Islam secara keseluruhan dan mendalam. Penguasaan teori-teori rumit dalam kitab-kitab Nahwu yang diajarkan di pesantren tradisional memiliki garis sejajar dengan penguasaan masalah-masalah agama yang tercantum di dalam kitab Suci dan Sunnah Nabi serta peninggalan ulama-ulama masa lalu.

Kita tahu bahwa struktur gramatik bahasa Arab yang dipakai oleh al-Qur’an tidak akan cukup dibaca dengan kitab-kitab Nahwu yang simpel seperti al-Jur?miyyah ataupun Nahw al-W?i?. Penguasaan Nahwu juga menjadi parameter kadar keulamaan seseorang. Karenanya, jangankan ketahuan membaca kitab-kitab terjemahan, karena ini tindakan pemalas, seorang santri atau bahkan ustadz kredibilitasnya bisa runtuh gara-gara hanya salah membaca harakat (tanda baca) di akhir kata (i?rab) misalnya bagaimana misalnya membaca isim alam (nama-nama benda/alam) seperti kata Ibr?him atau isim taf?l (bentuk lebih atau paling) setelah huruf jer il? (huruf yang bisa menyebabkan bacaan kasrah pada Isim) dan kasus-kasus lain.

Hal seperti ini cukup bisa dipahami karena memang memahami al-Qur’an dan Sunnah Nabi harus dilakukan bukan dengan cara main-main (hawa nafsu), tanpa ilmu, namun harus secara ilmiah. Salah satu cara yang ilmiah itu adalah jika pemahaman akan sumber-sumber utama Islam tersebut didasarkan pada tradisi keilmuan (tur?th) yang mapan yang sudah dibangun secara panjang oleh kalangan ulama masa lalu.

***

Selain ilmu Nahwu, kedudukan ilmu lain juga penting dalam mengkaji Islam, namun jika seseorang ingin menjadikan atau mengaku dirinya sebagai ahli atau ?alim dalam Islam, mau tidak mau harus mau belajar, mengenal dan menguasai ilmu Nahwu supaya pemahamannya tidak separuh-separuh dan juga tidak sesat menyesatkan. Pemahaman teks-teks agama tanpa ilmu-ilmu yang memadai bisa menjerumuskan dirinya sendiri dan juga orang lain. Bahkan menafsirkan hal-hal penting dalam Islam seperti syariah, fiqih, akidah, dengan modal bahasa Arab yang pas-pasan atau apalagi modal terjemahan dan ilmu rungon (mendengarkan) bisa menyebabkan seseorang tersebut, meskipun itu ustadz atau pun pendakwah, jatuh pada sikap liberalisme (asal-asalan) pada satu sisi dan sikap fanatisme yang berlebihan pada sisi lainnya.

Hal yang menyedihkan, dalam konteks public sphere kita, adalah kenyataan dimana tidak hanya orang awam, namun ustadz, pendakwah, dan juga para aktivis Islam masa kini tidak tahu sama sekali apalagi memahami ilmu ini. Pengetahuan Islam mereka lebih banyak tergantung pada buku-buku terjemahan yang kualitas pengalihbahasaannya seringkali sangat rendah daripada pada sumber Islam yang asli yang berbahasa Arab. Fenomena yang lebih aneh lagi yang akhir-akhir ini menggejala adalah jika ada orang yang berusaha menjelaskan Qur’an atau wacana keagamaan Islam lainnya lewat pendekatan Nahwiyyah atau keilmuan lain yang memang sangat memungkinkan terciptanya tafsir-tafsir yang berbeda-beda, mereka atau aktivis-aktivis Islam yang masih awam tersebut sering menganggap penjelasan yang njelimet, rumit dan penuh perdebatan dari pelbagai analisis kebahasaan Nahwiyyah tersebut sebagai bentuk pemahamanan liberalisme Islam.

Padahal yang terjadi adalah mereka tidak mampu atau tidak memiliki alat untuk bisa sampai pada penjelasan-penjelasan Nahwiyyah tersebut. Gejala beragama cepet saji dan ingin simplenya saja ini sudah barang tentu sangat menyedihkan untuk masa depan pengembangan Islam sebagai ilmu. Islam itu bisa bertahan, jika agama ini tidak hanya ditopang oleh praktik keagamaan umatnya, namun juga oleh argumentasi yang rasional. Bahkan bisa dikatakan, tantangan Islam terbesar pada abad ini dan mendatang adalah kemampuan umatnya untuk menyediakan argument bahwa agama ini memang ?li? li kulli zam?n wa mak?n.

Berargumen dengan Nahwu adalah salah satu upaya untuk mempertahankan keislaman. Apa yang ingin saya tekan di sini adalah secara umum, fenomena pemahaman keagamaan yang instans dan simplistik tersebut itu terkait erat dengan krisis akan tingkat pengetahuan masyarakat Islam awam dan juga aktivis-aktivisnya secara khusus atas ilmu Nahwu pada satu sisi dan juga penurunan kualitas pewacanaan Islam di ruang publik secara umum pada sisi yang lainnya. Lihat saja bagaimana media kita yang cenderung simplistik dalam dalam menyajikan program agama dengan dalih apa saja misalnya “pemurnian.”

Padahal apa yang terjadi adalah mereka lebih senang mencari penceramah agama di TV-TV mereka yang berorientasi budaya cepat saji untuk memenuhi rasa dahaga atau lapar sementara yang menghinggapi kalangan sebagaian kalangan Muslim, terutama kalangan kota. Agama hanya dibicarakan pada sisi kepentingan peningkatan “piety,” tapi melupakan sisi keilmuan.

Hasil dari model pewacanaan keagamaan Islam yang demikian adalah keluaran masyarakat yang suka menyederhanakan dan memposisikan agama laksana obat gosok (panacea). Mereka ini tidak tahu atau pura-pura tidak tahyu bahwa di dalam wacana agama ada juga ada perdebatan-perdebatan yang rumit dan sekaligus scientific yang perlu diketahui oleh masyarakat kebanyakan karena perdebatan inilah yang menjadi bagian penting dalam argumentasi agama.

Dengan mengetahui perdebatan-perdebatan Nahwiyyah, proses demokratisasi pemahaman agama juga akan terjadi di dalam masyarakat. Karenanya, apa yang bisa kita lakukan pada tradisi keagamaan Islam yang terlanju demikian seperti ini tidak ada kata lain kecuali melakukan perubahan. Intinya, jika ingin mendalam dalam penguasaan Islam, maka alatnya harus cukup dan ilmu Nahwu menduduki posisi utama dalam masalah ini. Salam.

SYAFIQ HASYIM, Rais Syuriah PCINU Jerman, Meraih Gelar Dr. Phil dari BGSMCS, FU, Berlin.

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com News, Jadwal Kajian, Humor Islam ArrahmahMedia.Com

Rabu, 10 Januari 2018

Portal Islam Tentukan Wajah Islam Indonesia ke Depan

Jakarta, ArrahmahMedia.Com - Pengguna internet di Indonesia termasuk tertinggi di dunia. Tapi portal-portal media Islam yang banyak beredar berkonten radikal. Sebab itu, perlu adanya konter narasi oleh portal-portal moderat.

Demikian disampaikan Direktur ArrahmahMedia.Com Savic Ali dalam Workshop Pencegahan Propaganda Radikal Terorisme di Dunia Maya di Jakarta, Kamis (23/3) Pagi.

Portal Islam Tentukan Wajah Islam Indonesia ke Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
Portal Islam Tentukan Wajah Islam Indonesia ke Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

Portal Islam Tentukan Wajah Islam Indonesia ke Depan

Hasil penelitian Direktur ArrahmahMedia.Com Savic Ali atas portal-portal media Islam menyimpulkan sedikitnya dua puluh website Islam di Indonesia dengan trafik tertinggi.? Ia mengelompokkan menjadi empat kategori warna, yakni merah, kuning, abu-abu dan hijau. Pertama, kategori merah merupakan portal yang berbahaya, sering mengampanyekan kekerasan dan menolak Pancasila.

Sedangkan yang berwana kuning itu media yang kontra terorisme tapi sering menggunakan jihad. Kategori ini juga suka menyerang kelompok-kelompok di luar Islam. Warna abu-abu itu tidak membahayakan, hanya bersifat konservatif, seperti wahabi. Kategori berwarna hijau itu konten properdamaian dan Islam kebangsaan.

ArrahmahMedia.Com

ArrahmahMedia.Com

"Dari empat kategori warna itu yang pertama justru yang berwarna kuning. Selama tahun 2016 website yang moderat hanya bisa mencapai posisi kelima, yaitu ArrahmahMedia.Com. Ini tantangan masyarakat Indonesia ke depan," tegasnya.

Menurutnya, website Islam akan menentukan wajah Islam Indonesia ke depan. Sebab itu perlu konter narasi oleh website moderat seperti ArrahmahMedia.Com meskipun portal-portal keras ini sekarang sudah melunak dibanding tahun lalu. “Ini efek dari pemblokiran konten-konten radikal oleh Kominfo.”

"Tantangan kita jauh lebih besar. Karena kelompok radikal dan ekstrem masih mendominasi portal-portal keislaman di Indonesia. Kalau website didominasi oleh yang anti-Pancasila, maka bisa potensi berbahaya. Potensi radikalisme besar," jelasnya.

Ia menambahkan, mereka menanamkan pemikiran seolah-olah orang Islam dizalimi di tengah mayoritas masyarakat umat Islam. Selain itu, dicarikan fakta-fakta seolah mendukung hal itu. Misalnya, ada beberapa portal Islam yang sering memberitakan NU secara negatif.

"Media-media Islam sedang melakukan kontestasi pengaruh terutama media-media yang sentimen terhadap NU. Mereka menginginkan NU ditinggalkan masyarakat. Ini menjadi problem besar dalam dunia maya," tegasnya.

Pertemuan ini mendiskusikan perilaku netizen terhadap isu radikalisme dan intoleransi. Tampak hadir sebagai pembicara lainnya Drs Brigjen Pol Hamidin dan dari Komunitas Masyarakat Anti-Hoax Septiaji Eko Nugroho. (Suhendra/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Amalan, AlaSantri, Humor Islam ArrahmahMedia.Com

Minggu, 24 Desember 2017

LTN NU Lampung Tunggu Naskah Lomba Artikel hingga 16 Oktober

Bandar Lampung, ArrahmahMedia.Com - Pengiriman naskah? lomba artikel hari santri nasional yang digelar oleh Lembaga Talif wan Nasyr (LTN) NU Lampung masih ditunggu hingga 16 Oktober mendatang. Pengumuman pemenang akan dilansir pada website PWNU Lampung, bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2016.

"Kami masih menunggu artikel yang dikirimkan oleh peserta lomba. Sudah banyak yang konfirmasi, di antaranya menanyakan batas akhir pengiriman naskah," kata Rudi Santoso, salah seorang panitia lomba artikel LTN NU Lampung.

LTN NU Lampung Tunggu Naskah Lomba Artikel hingga 16 Oktober (Sumber Gambar : Nu Online)
LTN NU Lampung Tunggu Naskah Lomba Artikel hingga 16 Oktober (Sumber Gambar : Nu Online)

LTN NU Lampung Tunggu Naskah Lomba Artikel hingga 16 Oktober

Rudi menjelaskan, naskah dikirim cukup melalui email ke alamat email lombaartikelsantri@gmail.com. Peserta bisa memilih tiga subtema yang telah ditetapkan panitia, yaitu Peran Santri Dalam Membumikan Islam di Nusantara Dulu dan Sekarang, Pondok Pesantren Sebagai? Kancah Pengembangan Pendidikan, dan Santri Dalam Politik dan Pembangunan di Indonesia.

ArrahmahMedia.Com

Akademisi IAIN Raden Intan Lampung ini memaparkan, lomba ini terbagi menjadi dua kategori. Pertama, kategori mahasiswa, santri, dan pelajar dengan hadiah berupa uang Rp 1 juta rupiah, paket buku, dan sertifikat untuk juara pertama. Sementara untuk juara kedua dan ketiga akan mendapat uang senilai Rp 750 ribu dan Rp 500 ribu, berikut paket buku dan sertifikat.

ArrahmahMedia.Com

Kategori kedua, untuk umum seperti akademisi, jurnalis, dan sebagainya. Adapun hadiah uang senilai Rp 1,5 juta untuk juara pertama, Rp 1 juta untuk juara kedua, dan Rp 500 ribu untuk juara ketiga.

Sama seperti kategori pertama, untuk kategori umum ini juga akan mendapat paket buku dan sertifikat. "Naskah para pemenang masing-masing kategori, dan naskah 10 besar, akan kami terbitkan menjadi buku," kata Rudi.

Ketentuan lomba, tulisan harus orisinil dan belum pernah dipublikasikan, naskah minimal 1500 kata untuk mahasiswa/santri/pelajar/ dan minimal 3000 kata untuk umum. Peserta melampirkan riwayat hidup dan fotokopi KTP. Khusus mahasiswa/santri/pelajar/melampirkan identitas diri berupa kartu tanda mahasiswa/kartu tanda pelajar/santri, surat keterangan dari pesantren.

Dewan juri untuk lomba ini adalah Ketua MUI Lampung Dr KH Khairuddin Tahmid, Dosen FH Universitas Lampung? Dr Rudi, dan Ila Fadilasari. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Doa, Humor Islam, Jadwal Kajian ArrahmahMedia.Com

Minggu, 17 Desember 2017

IPNU-IPPNU Sidoarjo Terima Bantuan Mobil Operasional

Sidoarjo, ArrahmahMedia.Com. Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PC IPNU IPPNU) Sidoarjo mendapatkan bantuan mobil operasional organisasi, Suzuki APV dari Pemprov Jawa Timur melalui Hj Anik Maslachah.

Menurut Ketua IPNU Sidoarjo M Syaikhul Maarif mengatakan, mobil tersebut akan digunakan untuk operasional organisasi seperti menghadiri acara, mendatangi undangan sekaligus melaksanakan tugas PC IPNU-IPPNU Sidoarjo.

IPNU-IPPNU Sidoarjo Terima Bantuan Mobil Operasional (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Sidoarjo Terima Bantuan Mobil Operasional (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Sidoarjo Terima Bantuan Mobil Operasional

"Mobil itu diberikan oleh Hj Anik karena beliau merupakan pembina IPNU-IPPNU Sidoarjo dan sekaligus anggota DPRD provinsi Jawa Timur dari fraksi PKB," terang Syaikhul saat ditemui ArrahmahMedia.Com di Kantor IPNU-IPPNU Perum Griya Karya Magersari A-6 Sidoarjo, Rabu (21/10).

ArrahmahMedia.Com

Syaikhul menjelaskan, mobil tersebut sudah datang di kantor IPNU-IPPNU sejak seminggu yang lalu dan diserahkan secara langsung oleh Hj Anik Maslachah. Dirinya mengucapkan terima kasih kepada Pemprov Jatim dan Hj Anik Maslachah atas pemberian/bantuan berupa mobil operasional organisasi itu.

Senada juga diucapkan oleh Ketua IPPNU Sidoarjo Nuryanti Afidah, dirinya juga berharap semoga mobil tersebut dapat digunakan dengan baik serta mampu membangkitkan semangat kinerja IPNU-IPPNU Sidoarjo kedepannya.

ArrahmahMedia.Com

"Kami berharap dengan adanya mobil ini dapat membantu kinerja pengurus dalam melaksanakan tugas keorganisasian dan bisa bermanfaat bagi PC IPNU-IPPNU Sidoarjo kedepannya," harap Afidah. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Humor Islam, Cerita ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 25 November 2017

GP Ansor Bondowoso Gelar Diklatsar Banser

Bondowoso, ArrahmahMedia.Com. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Bondowoso menggelar Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Barisan Serbaguna (Banser) Ansor dengan tema “Meneguhkan kesetian benteng ulama sebagai minifestasi cinta Nabi Muhammad SAW dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)”.

GP Ansor Bondowoso Gelar Diklatsar Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Bondowoso Gelar Diklatsar Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Bondowoso Gelar Diklatsar Banser

Kegiatan yang berlanngsung di Lahan Hutan Perhutani Jl. Gunung Purnama Desa Tanggulangan, Kecamatan Tegalampel, Sabtu-Minggu (9-10/1) tersebut diikuti 46 orang dari 20 Pimpinan Anak Cabang (PAC) se-Kabupaten Bondowoso.

Ketua GP Ansor Bondowoso muzammil menyampaikan, pendidikan dan pelatihan dasar (Diklatsar) Banser pertama kali pada kepengurusan 2014-2018 tersebut khusus untuk peserta yang baru masuk Banser.

ArrahmahMedia.Com

"Allamdulillah berkat kerja keras kebersamaan Pimpinan Cabang dan Satuan Koordinator Cabang Banser (Satkorcab) Banser, akhirnya kegiatan diklatsar pertama ini? bisa terselenggara," kata dia.

Menjadi anggota Banser, kata dia, ada yang semangat, ada yang paling semangat, terlalu semangat sampai umurnya 50-60 tahun tidak mau pensiun karena itu ia bangga menjadi Banser.

ArrahmahMedia.Com

Ia juga mengimbau bagi Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor yang telah habis SK-nya pada 2015 lalu, untuk segara malaksanakan konferancab. Menurutnya, masih ada 7 PAC belum melaksanakannya.

Pada kegiatan tersebut perserta pendidikan dan pelatihan dasar mendapatkan kaos, sepasang sepatu PDL dan sertifikat.

Hadir pada pembukaan, Sekeretaris PCNU Bondowoso H. Sainudin, Dandim 0822 Bondowoso Letnan Kolonel Arh. Sudrajat, Ketua Majelis Zikir Shalawat Rijalul Ansor Bondowoso Junaidi, Kasat (Satkorcab) Banser Susilo. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Humor Islam, Fragmen ArrahmahMedia.Com

Sabtu, 18 November 2017

Pelajar NU Harus Jadi Pelopor Organisatoris

Sidoarjo, ArrahmahMedia.Com. Sebanyak 30 mahasiswa Universitas Sunan Giri (Unsuri) di Waru Sidoarjo mengikuti Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) selama tiga hari mulai dari Jumat-Ahad (30 Oktober-1 November) 2015. Melalui kaderisasi awal ini, mereka diharapkan dapat menggerakkan organisasi pelajar NU di kampus setempat.

Pelajar NU Harus Jadi Pelopor Organisatoris (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Harus Jadi Pelopor Organisatoris (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Harus Jadi Pelopor Organisatoris

Ketua PKPT IPNU Unsuri Nur Muhammad Iskandar mengatakan, selama Makesta para peserta mendapatkan materi seputar analisa diri, ke-IPNU-IPPNUan, ASWAJA, ke-NUan, keorganisasian, kepemimpinan, dan komunikasi.

"Makesta merupakan pengkaderan pertama untuk merekrut anggota IPNU-IPPNU baru yang berintelektual tinggi. Dengan Makesta ini, para anggota baru diharapkan mampu meneruskan perjuangan para pengurus seperti pada masa sebelumnya," kata Iskandar, Ahad (1/11).

ArrahmahMedia.Com

Iskandar menjelaskan, saat ini banyak mahasiswa organisatoris yang melupakan kewajibannya sebagai mahasiswa yang sesungguhnya. Maka, dalam kesempatan itu diambil tema "Mengukuhkan jiwa sosial dan akademis generasi Nahdliyin".

ArrahmahMedia.Com

"Melalui tema itu, semoga IPNU-IPPNU Unsuri mampu menjadi pelopor mahasiswa yang organisatoris dan akademis di kampus Unsuri," tukas Iskandar. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Humor Islam, IMNU, Doa ArrahmahMedia.Com

Jelang Pilkada, Ansor Way Kanan: Kami Bukan Partai Politik

Way Kanan, ArrahmahMedia.Com . Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Way Kanan Provinsi Lampung menegaskan, dirinya bukan underbow partai politik apalagi partai politik. Karena itu, berkaitan dengan pemilihan kepala daerah di wilayah tersebut pada 9 Desember 2015, organisasi pemuda Nahdlatul Ulama (NU) tersebut bersikap netral.

Jelang Pilkada, Ansor Way Kanan: Kami Bukan Partai Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Pilkada, Ansor Way Kanan: Kami Bukan Partai Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Pilkada, Ansor Way Kanan: Kami Bukan Partai Politik

"Ansor harus dan memang akan netral, tidak berpihak kepada salah satu pasangan calon bupati dan wakil bupati. Kami bukan partai politik," ujar Provost Satkorcab Banser Way Kanan Hudi Rahman di Blambangan Umpu yang berada sekitar 220 klm sebelah utara kota Bandarlampung, Jumat (11/9).

Pilkada di Way Kanan diikuti dua pasangan calon, Bustami Zainudin dan Adinata (Adin Bustami) diusung PDI Perjuangan, Gerindra, PKB, Nasdem dan Golkar, serta Raden Adipati Surya dan Edward Anthony (Berani) diusung Demokrat, PAN, Hanura dan PKS.

ArrahmahMedia.Com

"Memilih adalah hak setiap orang, termasuk kader Ansor. Karena itu, jika ada kader berpihak itu pilihan individu, namun dilarang membawa atau mengatasnamakan organisasi," ujar Hudi lagi.

ArrahmahMedia.Com

Untuk diketahui, sejumlah politisi Way Kanan dari sejumlah partai seperti Hanura, Demokrat, PKB dan PDI Perjuangan tercatat sebagai Dewan Pembina GP Ansor Way Kanan periode 2014-2018. Namun demikian, kata Hudi lagi, di wadah tersebut para politisi tersebut tidak berpolitik.

"Kader Ansor boleh belajar politik. Tapi Ansor sebagai badan otonom NU yang mengelola Barisan Ansor Serbaguna atau Banser bukan wadah politik. Ansor adalah wadah untuk beribadah, berkhidmat pada negeri bernama Indonesia melalui gerakan sosial, keagamaan dan pendidikan. Orang yang memandang apalagi menginginkan Ansor sebagai wadah politik jelas sesat berpikir, gagal paham dengan organisasi kami," ujar alumni Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) II PW GPAnsor Lampung itu menegaskan.

Sejak Way Kanan menjadi kabupaten berpisah dari Lampung Utara mulai tahun 1999, jumlah anggota Ansor berikut Banser hingga 2014 yang telah mengikuti Pendidikan Kader Dasar (PKD) dan Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) tercatat kurang lebih 2.000 jiwa. 70 persen diantara mereka telah menikah, sebagian besar telah mempunyai anak hingga cucu yang selanjutnya mengikuti jejak ayah atau kakeknya bergabung dengan Ansor.

"Sebagaimana kepemimpinan GP Ansor sebelumnya pada Pilkada Way Kanan 2010 yang netral, kepemimpinan periode sekarang juga akan netral," demikian Hudi Rahman. (Syuhud Tsaqafi/Mahbib)



Foto: Hudi Rahman (kiri) memberi aba-aba pada Diklatsar Banser di Pondok Pesantren Roudhotul Muttaqin asuhan KH Rofiul Bashori Anashih Kampung Runyai Kecamatan Bumiagung 2014. Dok GP Ansor Way Kanan.

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Sholawat, Budaya, Humor Islam ArrahmahMedia.Com

Jumat, 03 November 2017

Kala "Septic Tank" Berkahi Dua Ulama Besar

Grobogan, ArrahmahMedia.Com. Saat Kiai Hasyim Asy’ari nyantri di Bangkalan, Madura, suatu ketika ia melihat ada hal yang sedikit tampak aneh di wajah kiainya, Syaikuna Kholil. Kiai Hasyim kemudian bertanya, “maaf kiai, bolehkah kami tahu, ada masalah apa dengan kiai?”

“Oh...ini, cincin ibumu terjatuh di WC,” jawab Kiai Kholil datar.

Tanpa pikir panjang, masih dengan baju rapi, Kiai Hasyim langsung terjun ke pembuangan tinja mencari cincin bu nyai, sampai akhirnya ketemu. Demikian cerita Habib Muhammad bin Husain al Habsyi pada acara Khatmil Qur’an Pesantren At Taufiiqiyyah, Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah, Senin, (25/4).

Kala Septic Tank Berkahi Dua Ulama Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kala Septic Tank Berkahi Dua Ulama Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kala "Septic Tank" Berkahi Dua Ulama Besar





Dengan modal keyakinan yang mantap, lanjut Habib Muhammad, menjadikan Kiai Hasyim mendapat berkah yang luar biasa. Ia adalah pendiri organisasi Islam yang diikuti banyak orang dengan jumlah terbesar di dunia.?

ArrahmahMedia.Com

“Santri semakin mengerjakan hal yang tidak wajar dilakukan oleh banyak santri lain, maka semakin besar pula ia akan mendapatkan keberkahan,” kata Habib Muhammad mengutip nasehat KH Umar Abdul Mannan, Al Muayyad, Solo.

ArrahmahMedia.Com

Habib Muhammad mencontohkan, “nguras WC, tempat kotor, itu tidak banyak santri yang mau menjalankan, maka khidmah di situlah berkah akan semakin banyak dan besar.”

Sebagaimana Kiai Hasyim, ada cerita lain yang dialami KH Arwani Amin, Kudus. Sepulang Jum’atan, ia bersama dua sahabatnya bertemu kiai mereka. Kala itu, Mbah Arwani mondok kepada Kiai Manshur, Popongan, Klaten.

Tiba-tiba Mbah Manshur dawuh untuk menguras septictank. Sikap Kiai Arwani sebagai santri tidak seperti dua kawan lainnya. Tanpa ganti baju, Kiai Arwani langsung terjun mengerjakan tugas gurunya, sedangkan kedua temannya tidak langsung menjalankan.

“Akhirnya, kita bisa membuktikan bagaimana hasilnya. Kiai Arwani menjadi kiai besar dan mempunyai sanad Al-Qur’an yang digunakan oleh mayoritas pelajar Al-Qur’an di Indonesia. Ini berkah khidmah (pelayanan) murid kepada guru dengan kemantapan yang sangat tinggi,” tutup Habib Muhammad. (HM Shofi Al Mubarok Baedlowie, Mundzir/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Bahtsul Masail, Humor Islam, News ArrahmahMedia.Com

Senin, 23 Oktober 2017

Kiai Syaroni Terangkan Amalan Rabu Wekasan

Kudus, ArrahmahMedia.Com. Tanggal 17 Desember nanti merupakan hari Rabu terakhir bulan Shafar 1436 H atau lazim disebut "Rabu Wekasan”. Pada hari itu, umat Islam perlu melaksanakan amalan-amalan kebaikan seperti berdoa, bersedekah, ataupun shalat sunnah untuk meminta keselamatan kepada Allah SWT.

Demikian yang disampaikan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH.Syaroni dalam acara pengajian rutin Tafsir Al-Quran di Masjid Al Aqsha Menara Kudus, Jumat pagi  (5/12).

Kiai Syaroni Terangkan Amalan Rabu Wekasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Syaroni Terangkan Amalan Rabu Wekasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Syaroni Terangkan Amalan Rabu Wekasan

Kiai Syaroni mengutip penjelasan dalam kitab al-Jawahir al-Khams bahwa Allah akan menurunkan 320.000 musibah setiap tahun dalam hari Rabu wekasan. Karenanya, para ulama selalu mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah dengan meminta keselamatan kepada-Nya.

 

ArrahmahMedia.Com

"Yang mendatangkan balak (musibah) itu yang mendatangkan Allah, maka kita harus mendekat meminta kawelasan (kasih sayang) dari Allah," terangnya.

ArrahmahMedia.Com

Jangan Ngawur

Dalam menjalankan amalan Rabu Wekasan, ulama kharismatik asal Kudus ini mengingatkan supaya tidak melenceng jauh dari ajaran agama Islam. Di antara yang lazim dilakukan, kata Kiai Syaroni, adalah membaca doa Rabu Wekasan, melaksanakan shalat sunnah dan banyak sedekah.

 

"Jangan sampai amalannya ngawur, harus berdasarkan tuntunan agama. Semua amalan ini bertujuan untuk tolak balak," ujar Kiai Syaroni.

Pada Rabu Wekasan, umat Islam disunnahkan mandi tolak balak dan shalat empat rakaat dengan dua salam. Dalilnya shalat, terang Kiai Syaroni, ayat Al-Quran yang artinya wahai orang Islam minta pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat.

 

"Tetapi harus ingat, istilah shalat Rabu Wekasan itu tidak ada. Jadi kita semua bisa shalat sunnah seperti shalat hajat, tahajud, maupun lainnya,"tandas Kiai Syaroni.

 

Dalam berdoa, jelas Kiai Syaroni, terdapat etika atau cara lain yakni menulis kalimat berbahasa Arab yang berisi beberapa ayat al-Quran mengandung doa  dengan awalan kata "salamun". Seperti, ayat salamun qoulan min rabbir rahim, salamun ala nuuhin fil alamin, salamun ala ibrohim, salaamun ala musa waharuun dan seterusnya.

 

"Kalimat itu di tulis di atas kertas dengan niat berdoa meminta keselamatan dan kawelasan Allah. Lalu dicampur air dan dibacakan doa Rabu Wekasan sehingga airnya disebut ‘air salamun’. Amalan semacam ini diperbolehkan," imbuh Kiai Syaroni di hadapan ribuan jamaah yang memenuhi Masjid al-Aqsha Menara Kudus. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Humor Islam ArrahmahMedia.Com

Minggu, 24 September 2017

Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat

Brebes, ArrahmahMedia.Com. Meski mengalami keterlambatan akibat delay pesawat di Bandara King Abdul Azis Mekah, jamaah haji dari Kabupaten Brebes pulang ke kampung halamannya dengan selamat. Mereka tiba di Islamic Center Brebes terlambat lima jam dari waktu yang dijadwalkan semula.

Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Brebes Minta Haji Jadi Teladan Masyarakat

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE menyambut kedatangan haji kelompok terbang (Kloter) pertama di Islamic Center Sabtu dinihari (11/10). Idza mengaku sangat gembira karena tidak ada permasalahan yang menimpa jamaah haji Brebes. Sehingga semuanya dalam keadaan sehat walafiat. Dia berharap, para jamaah haji menjadi haji yang mabrur dan mabrurah.

Selain itu, ia meminta mereka agar mampu menjadi contoh tauladan di masyarakat. “Gelar haji menjadi barometer akhlak dan tabiat di masyarakat,” katanya. Dengan tauladan yang telah dicontohkan para jamaah haji Brebes, mudah-mudahan Brebes semakin maju dan sejahtera dibawah naungan dan ridlo dari Allah SWT.

ArrahmahMedia.Com

Bupati juga menyambut kedatangan kloter 2 dan 3 di dampingi Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah (Kasi Garahaju) Kementerian Agama (Kemenag) Kab Brebes Drs H Syauqi Wijaya. Kloter 1 sejumlah 363 jamaah tiba di Islamic Center Brebes Sabtu (11/10) pukul 00.30 dini hari dengan menggunakan 9 bus dan 1 bus cadangan.

ArrahmahMedia.Com

Sementara kloter kedua yang berjumlah 366 calon haji tiba di Islamic Sabtu (11/10) pukul 08.00 dengan menggunakan 9 bus dan 1 bus cadangan. Sedangkan kloter ketiga yang berjumlah 167 tiba di Islamic Sabtu (11/10) pukul 12.30 mengendarai 4 bus.

Terpisah, Kepala Kantor Kemenag Brebes Drs H Imam Hidayat yang melakukan penjemputan di Asrama Haji Donohudan Solo melaporkan jamaah yang berangkat sejak 30-31 Agustus lalu sudah menunaikan ritual haji dan kembali tiba di Donohudan dengan selamat. Mereka pulang ke Brebes dengan mengendarai 22 bus dan 2 bus cadangan.

Menurut Imam, secara umum kondisi jamaah haji Indonesia asal Brebes dalam keadaan baik, sehat walafiat. Namun demikian ada 2 orang suami istri dari Salem yang tertinggal tidak mengikuti jamaah asal Brebes, tetapi mengikuti kloter 16.

Sehingga, kata dia, yang sudah pulang saat ini baru 896 jamaah. Pada saat pemberangkatan, istrinya mengalami sakit maka suaminya turut mendampingi dan diberangkatkan mengikuti kloter 16, maka kepulangannya pun ikut juga kloter 16. “Yang bersangkutan memilih pulang tunda untuk menyempurnakan ibadahnya,” tandas Imam.

Salah seorang jamaah haji dari Kloter 1 H Moh Aqso MAg menjelaskan, jumlah jamaah haji dunia saat ini mengalami peningkatan yang luar biasa bila dibandingkan tahun lalu. Namun demikian jamaah haji Brebes yang berangkat lebih awal terasa diuntungkan karena telah melakukan ibadah masih dalam kondisi lengang.

“Meski padat, tapi pemberangkatan awal bagi jamaah Brebes sangat diuntungkan,” kata Aqso ketika di tanya Bupati sesampainya di Brebes. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

ArrahmahMedia.Com Humor Islam, Nahdlatul Ulama, Pertandingan ArrahmahMedia.Com

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs ArrahmahMedia.Com sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik ArrahmahMedia.Com. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan ArrahmahMedia.Com dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock